Facebook Badge

Kamis, 12 Juli 2012

"Good Morning, MR.Simple" #Part4 (END)

Tampa memerdulikan tatapan orang orang,Anna berjalan tak tentu arah menyusuri kolidor rum ah sakit. ia lantas terduduk dikursi didepan ruang Bernomor (23),sebenarnya ia ingin masuk dan mengunjungi Ilham,tapi ia takut Ilham akan membencinya.Anna benar benar merasa bersalah dengan keadaan Ilham sekarang,walaupun keadaan Ilham telah membaik, tapi tetap saja perasaan Anna masih galau, "apa setelah ini, Ilham akan membenciku dan tak ingin menjadi sahabatku lagi?"

Tiba tiba Anna dikejutkan dengan suara lembut seseorang,"Menagapa kau tidak masuk,bukankah kau ingin menemuinya?"Katanya berkata sambil duduk disamping Anna yang menatapnya heran.

"Rangga,bagaimana bisa kau ada disini?"

"Aku kesini ingin menyenguk Ilham, begitupun kau bukan?"

Anna mengangguk pelan mengiyakan pertamnyaan cowo berponi itu.

"Lalu mengapa kau masih disini, masuklah denganku,"Rangga berdiri sambil menggenggam tangan Anna tapi anna menepisnya.Rangga menatap Anna yang masih terduduk.

"Kau masuk saja dulu, aku masih ingin mengatur perasaanku sebelum bertemu dengannya,"Kata kata Anna itu membuat Rangga kembali terduduk, diusapnya lembut rambut Anna yang hitam.

"Apa yang terjadi?"Tanya Rangga sambil terus mengusap rambut cewe mungil itu.

"Aku takut Ilham tak ingin menemuiku, aku takut 9Ilham membenciku,"Jawaban Anna membuat Rangga tersenyum sembari berganti bengacak ngacak rambut Anna yang terurai.

"HAHA,kau sangat polos Anna, tak heran banyak yang mencintaimu karena itu."

Anna menatap tajam Rangga yang kini memandang kedepan, dilihatnya beberapa orang perlalu lalang dihadapan keduanya.

"Lebih banyak lagi yang mencintai Angel,"Anna menundukkan wajahnya membuat Rangga mengalihkan pandangannya menatap anna tajam.

Batin Rangga: "yah kau benar Anna, begitu banyak yang mencintai Angel, tapi apakah tidak kau sadari berapa banyak yang peduli padamu, seperti aku,ilham,morgan dan mungkin saja seseorang yang tak pernah kau sadari, kau terlalu indah untuk disakiti, Anna,"



Rangga menarik tangan Anna dan kembali berdiri,"Ayolah ikut denganku masuk, aku tak begitu mengenal Ilham, rasanya Sangat aneh jika aku masuk seorang diri, kumohon temani aku,"Mohon Rangga membuat Anna tak dapat menolaknya.

"Baiklah,"Anna berdiri membuat Rangga tersenyum senang.



Batin Rangga (again): "Lo tau Anna, apa yang membuat Gue saat ini ada disini, bukan karena gue ingin menemui Ilham, gue ada disini karena hati gue yang menyuruh gue kesini, hati gue mengatakan seseorang yang sangat gue cinta akan merasa sedih dan butuh seseorang untuk menghiburnya, gue gak pernah berpikir bahwa orang itu adalah lo, karena gue berharap gue gak pernah jatuh cinta sama lo, tapi apa, cinta itu mistery tak ada seorangpun yang bisa menerkanya, harapan gue untuk tidak mencintai lo, sepertinya punah, karena sejujurnya gue sangat sangat mencintai lo,Anna."



Batin Anna:"Kau tau Rangga, kau itu seperti Dicky, selalu hadir disaat yang tak menemtu seperti ini, aku jadi curiga apa kalian selalu mengikuti sehingga kalian tau dimana dan kapan saat aku membutuhkan seseorang, kau baik Rangga, bahkan sangat terlalu baik, walau baru beberapa lama aku mengenalmu, tapi aku yakin kau akan selalu membuatku bahagia, kau akan selalu menjadi "Mr.bakpao"KU Rangga, terimakasih untuk semuanya, tapi tunggu apa kau juga mencintaiku??, kalau iya, maaf tolong lupakan Aku,Sudah cukup Ilham yang terluka karenaku."







*****

Ilham menatap Rangga dan Anna yang berdiri didepan pintu ruangan rumah sakit,sementara Bisma dan Reza masih setia disamping Ilham.

"Anna,"Bisma berkata sambil berdiri dari duduknya yang diikuti dengan Reza yang juga berdiri.

Anna menatap Ilham yang terduduk lemas diranjang rumah sakit sambil menatapnya tajam.

"Bagaimana keadaanmu, aku harap kau sudah membaik,"Rangga berkata sambil berjalan kearah ilham yang mengangguk, tapi pandangan Ilham tak pernah lepas dari Anna yang masih berdiri didepan pintu.

"Gue lupa, ada janji sama vera,"Reza berkata memecahkan keheningan ruangan putih itu.

"Gue juga, ada janji ama seseorang,"Rangga berkata sambil melangkahkan kakinya keluar ruangan,"Gue pergi dulu anna,"Ranggapun mengangguk setelah mendapati Anna yang mengangguk.

"see you soon,"Rezapun keluar ruangan bersamaan dengan Rangga, kini hanya tampak Bisma,Anna dan Ilham disana.

Bisma menatap Anna yang mulai melangkahkan kakinya mendekati Ilham yang masih mengenakan seragam rumah sakit.

"Ada yang ingin aku bicarakan sama Ilham, bisa kamu tinggalin kami berdua sebentar,"Anna berkata sambil menatap Bisma yang mengangguk, seketika itupun bisma melangkahkan kakinya menjauhi keduanya.

Anna terduduk disamping Ilham yang menatapnya tajam.

"Maaf,"Anna menatap Ilham penuh rasa bersalah.

"Tak perlu, seharusnya aku yang minta maaf padamu, karena aku kau jadi khawatir seperti ini."

"Kau terlalu baik untukku Ilham, aku memilihnya bukan karena ia lebih tampan darimu atau ia lebih sempurna darimu, kau tetap yang terbaik untukku,kau tau pertama kali aku melihatmu aku telah merasakan persahabatan yang kental denganmu, saat kau menawarkan persahabatan itu, aku senang dan bahagia, terlebih saat kau mulai hadir dalam hari2ku,kau yang selalu membuatku tersenyum,kau yang selalu menghiburku disaat aku gundah dan terluka, walau sebagai sahabat, tapi aku sangat menyayangimu lebih dari apapun,"

dengan setia Ilham terus mendengarkan kata kata yang keluar dari bibir merah Anna.

"Tapi sejak pertama kali aku memandangnya, hatiku seketika berbunga bunga,walau dia tak pernah memperdulika keberadaanku, dia yang dulu selalu mengacuhkanku, dan selalu membuatku cemburu dan menangis, walau sakit tapi tak dapat aku pungkiri aku sangat mencintainya, katakan padaku, apa aku salah bila terlalu mencintainya?"

Anna menunduk sambil menggigit bibir bawahnya agar tak menangis, seketika ilham meraih dagu anna hinggaa menatapnya.

"Tidak, kau tak pernah salah anna bila mencintainya,"

Ilham menjauhkan tangannya dari dagu anna dan pandangannya kini lurus kedepan.

"Jika suatu saat nanti kau diharuskan untuk memilih antara cinta dan sahabat, manakah yang akan kau utamakan?"pertanyaan Ilham yang tiba2 membuat anna menatapnya tajam.

"Apa itu maksudmu antara kau sahabatku dan Rafa cintaku?"Tanya anna balik sambil menatap Ilham yang mengangguk.

Anna terdiuam sesaat sebelum menjawabnya, jawaban yang membuat Ilham terdiam tak percaya.

"aku tak akan memilih keduanya, tidak kau ataupun Rafa,"

Anna menatap Ilham yang terdiam dan menunduk, anna tau Ilham pasti kecewa dengan jawaban anna barusan, tapi itu yang akan ia lakukan jika ia diharuskan untuk memilih antara Ilham dan Rafa.

"Kau sahabatku ilham, sekarang dan selamanya, dan dia cintaku saat ini dan aku harap selamanya, jika aku diharuskan untuk memilih satu diantara kalian, aku tak akan memilih siapa2, karena aku tak ingin menyakiti salah satu diantara kalian dengan pilihan aku, sahabat adalah segalanya,tapi cinta dapat merubah segalanya menjadi lebih baik, cinta dan sahabat keduanya sangat berarti untukku,begitupula kau dan Rafa."





Anna berjalan keluar ruangan,saat ini jam telah menujukkan pukul setengah lima sore,dengan langkah menas Anna terus menjauhi ruangan 23 itu, tapi langkahnya terhenti saat ia menatap Bisma yang tertidur dibangku tunggu.

Anna segera terduduk disamping Bisma yang masih memejamkan matanya.Annapun menatap Bisma lekat.

"Sebenarnya dia cukup tampan dan manis, apalagi saat tertidur seperti ini, wajahnya begitu polos, tapi sayang, saat dia terbangun dia akan menjadi cowo terjahil yang selalu membuatku kesal,"Anna berkata dalam hati sambil tersenyum tipis.

Annapun menjadi salah tingkah saat mendapati Bisma terbangun dari tidurnya.

"LO,"Bisma terkejut saat mendapati Anna didepannya.Anna hanya tersenyum tipis sambil menatap Bisma yg sedang mengucak2 matanya.

"Kamu belum pulang?"Tanya Anna pada Bisma yang membenarkan duduknya.

"Tidak, aku menunggumu."

"Kau menungguku?"Tanya Anna lagi sambil menatap Bisma yang mengangguk.

"Sepertinya gue lapar, makan yukk,"Ajak bisma sambil berdiri dan menarik tangan kanan Anna membuat Anna tak dapat menolaknya.



"Kita mau kemana?"Tanya Anna sambil terus berjalan disamping bisma yang masih menggenggam tangannya.

"Cafe,"jawab Bisma singkat membuat Anna mengkrucutkan bibirnya.



Merekapun tiba disebuah taman yang dipenuhi pasangan kekasih yang sedang bercengkrama dan berbagi, anna menatap sekeliling heran, mengapa Bisma mengajakku ketaman, bukankah tadi ia bilang akan mengajakku kecafe??"

"Kenapa kau mengajakku kesini?"Tanya anna heran pada bisma yang berdiri disampingnya.

"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,duduk,"Bisma mempersilahkan anna duduk disampingnya yg lebih dulu duduk. tanpa banyak kata anna[pun duduk disamping cowo tampan itu.

Bisma menggenggam tangan Anna membuat anna terkejut,apa yang akan dilakukan bisma padaku??apa ia ingin menembakku.

sesuatu yang telah anna dugapun ternyata benar terjadi, jantungnya seakan berhenti saat mendengar pernyataan dari Bisma untuknya..





"Jadi pacar gue Na, satu jam ajah!PLEASE,"Bisma memohon sambil membungkuk didepan Anna yang terduduk dan itu membuat Anna menatapnya penuh haru.

"Kenapa harus gue Bis?"Pertanyaan Anna itu membuat Bisma menggeleng.

"Gue gak tau, please Na, satu jam ajah,"Melihat wajah Bisma yang memelas Annapun tak dapat menolaknya.

seketika senyumpun terpancar dari bibir cowo berbehel itu.

Bisma berdiri dan menghampiri pengamen yang kebetulan berada tak jauh dari mereka, tak beberapa lama sebuah gitar telah ada ditangan cowo jail itu.

Anna menatap bisma tajam yang kini duduk disampingnya, dengan lincah bisma memulai mendendangkan lagu bersama alunan gitar ditangannya.



"This song just for you,"



Ada cinta yang kurasakan saat bertatap dalam canda
ada cinta yang kau getarkan saat kuresah dalam harap
oh indahnya...
pernah kuragu akan sikapmu
tapi mengapa kini semuanya indah
oooo resahnya..

pernah kumalu pada hatiku
tapi mengapa kini seolah cinta telah ku genggam

tuhan kuinginkan semoga semua ini
bukan hanya rasa,rasaku saja
rasaku sendiri..




bersamaan dengan alunan gitarnya, bait perbait melodi itu bisma sampaikan secara dalam, tanpa bisma dan anna sadari beberapa pasangan mengelilingi mereka dan menatap kagum bisma yang pandai memainkan alat petik itu, tepuk tanganpun seketika terulai saat melodi itu selesai bisma sampaikan,dengan suara seraknya bisma telah memikat hati banyak wanita disana, apakah perasaan anna akan berubah setelah ini??





"Wahh indah banget, makasih yah,"Anna seraya bertepuk tangan membuat bisma tersenyum senang.



Setelah itu bisma mengajak Anna berkeliling taman, sepanjang perjalanan bisma tak pernah lepas menggenggam tangan mulus Anna, Bismapun menghentikan langkahnya ketika mereka tiba didepan sebuah mawar merah indah yang bermekaran, tanpa ragu bisma memetik bunga mawar itu dan meletakkannya diselasela telinga kanan anna, Anna hanya terdiam tak percaya.

lalu Bisma membelikan Anna Ice krim coklat favorite Anna, dan ice krim vanilla untuk dirinya sendiri.

dengan lahapnya bisma menyantap ice krim ditangannya membuat anna tersenyum tipis.

satu jam suidah mereka bersama, Bisma masih setia menggenggam jemari tangan anna yang tiba tiba dingin, Bisma yang saat itu mengenakan jaket hitam segera melepasnya dan mendekatkan jaket itu pada tubuh kecil anna yang menggigil.

"PAKAILAH,"Bisma berkata sambil menatap Anna yang tersenyum.

"terimakasih telah bersedia menjadi pacar gue walaupun cuma satu jam,"Kata kata bisma itu membuat Anna mengangguk sambil menunjukkan senyum manisnya.

"Aku harus pergi,"Anna berkata sambil melangkahkan kakinya menjauh, tapi tiba tiba langkahnya terhenti karena bisma memeluknya erat, anna berusaha menepisnya tapi pelukan itu begitu keras sehingga ia tak dapat bergerak sedikitpun, Anna terdiam beberapa saat dalam pelukan erat bisma.

"Kalau gue pergi, apa lo bakal kangen sama gue?"pertanyaan bisma itu membuat anna terdiam dalam pelukan bisma.

"jawab gue na, kalau gue pergi apa lo bakal kangen sama gue?"

"Kenapa kamu bicara seperti itu, kamu gak akan pergi kemana2 bukan?"

Tak ada jawaban dari bibir sexy bisma.

"Bisma jawab aku, kenapa kamu diam ajah, kamu gak akan pergi kemana2 bukan?"

masih tak ada jawaban dari bibir bisma, berlahan pelukan erat itu sedikit demi sedikit terlepas,bisma pun terjatuh lemas dalam pelukan anna.

"Bisma bangun, kamu kenapa?"Anna mendaratkan kepala bisma pada pangkuannya, wajah bisma seketika pucat.

"Ma..afin..gue..na.."

"Bisma, lo sakit, gue panggilin ambulance yah?"tanya anna cemas tapi bisma mencegahnya.

"jangan.. percuma se..mu..a...udah...ter...lam...bat.."

"Bisma.."

"Di..ja..ket..yang...lo...pa..ke...ada...su...rat...da..ri..gue.."bisma berkata terbata bata sambil menahan sakit dikepalanya.

"Lo...ba...ca...yah.."

Tanpa terasa anna mulai meneteskan air matanya. dengan resah anna meraih surat pink dari saku jaket bisma yang ia kenakan. annapun membaca apa yang tertulis disana.



untuk anna my princess..
mungkin saat lo baca surat ini gue udah pergi jauh,
gue gak tau apa nanti setelah ini lo bakal kangen sama gue??
tapi yang pasti gue pasti kangen banget sama lo,Na..
Gue kangen ngejahilin lo setiap jam pelajaran, gue kangen nyontek ulangan sama lo
gue kangen main bareng sama lo waktu istirahat dan gue kangen semua yang kita lakuin bersama.
mungkin bagi lo gue hanya sebatas sahabat,
tapi ada satu hal yang perlu lo tau,
kalau sesungguhnya gue cinta lo anna.. tapi mengingat lo adalah sahabat gue dan ilham yang mencintai lo, gue terpaksa mundur..
kepergian gue emang tiba tiba,
dua bulan yang lalu, kepala gue sakit banget dan papa nyaranin gue pergi kerumah sakit awalnya gue menolak
tapi dengan terpaksa gue menjalani TRAPI.
lo tau na, gue terkena kanker otak setadium akhir, penyakit yang sangat parah dan mustahil untuk sembuh.
mulanya gue frustasi, gue gak mau mati sekarang, gue masih muda, jalan gue masih panjang,
gue masih mau lanjutin kuliah bareng lo, ilham dan reza, gue masih mau lihat lo kawin dan jadi ibu2, gue masih mau mewujudkan cita cita gue jadi dancer terkenal.
gue gak mau mati sekarang na, gue gak mau...
tapi dokter memutuskan usia gue gak akan lama lagi dan hari ini adalah hari terakhir gue.
Gue kadang menyesali hidup gue yang singkat ini, tapi gue sadar dibalik semua ini pasti akan ada hikmahnya buat gue.
kenapa diantara banyaknya manusia didunia ini harus gue yang terkena penykait itu, apa karena gue ini nakal dan bandel makanya tuhan menghukum gue..
bukan, tapi karena ini adalah hidupu gue..
WALAU pun sekilas tapi gue senang, pernah berada disekeliling orang yang sabar tabah dan asik seperti lo, ilham dan reza,sahabat gue.
kalau gue pergi gue gak mau lihat lo nangis atau sedih, tetaplah tersenyum dan ceria walaupun gue jauh dari lo,
lo hanya kehilangan gue,tapi lo masih punya banyak orang disekeliling lo yang sayang sama lo.
satu pesan gue untuk lo, my princess..
Jika kau kesulitan untuk memilih cintamu,janganlah ragu untuk memilihku, yang setia menunggumu disurga..


ur MR.JAIL
BISMA KARISMA




"terimakasih lo udah mau jadi sahabat gue, walaupun gue selalu ngejailin lo, lo gak pernah membenci gue.justru lo selalu ada saat gue butuh,dan terimakasih untuk kencan satu jamnya,"katakata bisma itu membuat air mata anna semakin deras mengalir.

"Lo gak boleh tinggalin gue bis, lo harus tetap disini,bareng gue, ilham dan reza,"

"Salamin..sa..ma..reza...dan...ilham..dan...maaf..kalau...gue... mengingkari janji kita yang selalu bersama sampai nanti.."

"Loe pasti kuat, lo bisma, yang selalu kuat dan tegar,"Semangat anna membuat Bisma tersenyum lepas. mungkin inilah senyum terakhir sang cowo jail itu.

"sahabat selamanya,"

Bismapun tertidur setelah kata kata itu ia ucapkan..

"Bisma bangun.. bisma.. gue janji gue gak akan marah lagi kalau lo ngejahilin gue, gue gak akan ngambek lagi kalau lo nyontek ulangan gue, bangun bisma, lo harus bangun.."

Dalam pelukan Anna, bisma menghembuskan nafas terakhirnya,kini sang cowo jahil itu telah pergi untuk selama lamanya.

"BISMAAAA"


semua manusia didunia ini pasti akan mengalami yang namanya kematian, jika hari ini bukan waktu kita, siapa yang tau bahwa besok lusa atau dua minggu kemudian orang yang sangat berarti dalam hidup kita pergi untuk selamanya.



***

Dear BISMA my mr.jail...

Diary, ini seperti mimpi, kamu pergi begitu saja secepat ini, padahal tadi pagi kita masih belajar bareng dan bercanda, tapi kini semuanya tinggal kenangan.
kamu emang selalu buat aku kesal dan marah, kejahilan yang selalu kamu lakukan selalu buat aku kesal, tapi aku tak pernah menyangka bahwa semuanya akan berakhir.
Sebelum pergi kamu sempat menanyakan apakah nanti aku akan merindukan kamu jikalau kamu pergi nanti??

Jawabannya adalah ya...

Tentu aku akan merindukan kamu, kamu sahabat aku dan teman sebangku aku, setiap saat kita selalu bersama, waktu yang aku lalui bersama kamupun lebih banyak dibanding waktuku dengan Morgan.
Bagaimana bisa aku tak akan merindukanmu, MR,Jahilku...
Aku tau semuanya udah terlambat,tapi yang pasti kamu harus tau..
Bahwa kamu adalah sahabat terindah yang pernah aku miliki.


Kau adalah Bisma..
Seorang pria dengan senyum menawan yang menawarkan persahabatan olehku.
Orang pertama yang ku kenal saat aku berada disekeliling sekolah baruku.
Jabatan tangan yang kau ulurkan membuatku terharu dan tersenyum.
Walau kau selalu menjahiliku dan membuatku kesal..
Kau tetap sahabat terbaikku.

Kau adalah Bisma..
Seseorang yang selalu aku panggil MR,Jahil
Seseorang yang selalu menyontek saat ulangan berlangsung..
Sahabat yang tak pernah lelah menghiburku dan menemaniku..
Bersama ilham reza dan kamu, kita berjanji...
Kita akan selalu bersama sampai kapanpun..
Tapi kepergianmu yang tiba2 membuat semuanya musnah..
Tak ada lagi sang cowo jahil diantara aku ilham dan reza
Tak ada lagi sang cowo rese yang selalu mengirimi sahabat sahabatnya ucapan selamat pagi dan selamat tidur..
Tak ada lagi senyum ceria yang selalu menghiasi barisan gigimu yang berbehel..
Dan tak akan ada lagi sahabat yang sangat kita cinta..
BISMA KARISMA..
Nama itu akan selalu menjadi nama yang penuh kenangan.
Selamat tinggal sahabat, we alwayz missing you..




Tanpa terasa air mata annapun menetes hingga membasahi satu titik surat pink yang ditulisnya..

Surat yang Anna tulis khusus untuk Bisma sahabatnya..

Annapun menghapus air matanya ketika ia mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya, dengan sigap anna berdiri dan berusaha tegar.

“Masuklah,”anna berkata dengan suara pelannya.

Seseorang membuka pintu dan ternyata orang itu adalah Morgan.

“Apa kau baik-baik saja?”Morgan berkata cemas sambil berjalan kearah Anna yang mengangguk. Morgan menatap Meja belajar Anna, dan ia mendapati dua surat pink disana. Satu surat anna untuk Bisma dan satu lagi surat dari Bisma untuk Anna.

“Aku turut berduka,jika kau menangis aku yakin Bisma tak akan pernah tenang disana,”

Morgan menjatuhkan kepala Anna dalam bahunya. Seketika Anna merasakan belaian hangat yang selama ini ia rindukan.Annapun menangis dalam dekapan Morgan.

“Menangislah jika itu bisa membuatmu lebih baik,”Dengan lembut Morgan terus membelai rambut hitam anna.Annapun merasakan kehengatan dalam dekapan cowo putih itu.







***

“Kenapa harus Bisma, kenapa bukan gue yang udah melakukan bunuh diri,”Ilham berkata sambil menatap keluar jendela Rumah sakit. Reza setia disampingnya.

“Ini kuasa illahi tak ada satu orangpun yang mampu menerkanya,”jelas Reza sambil mengelus bahu Ilham.

“Padahal selama ini Bisma gak pernah ngeluh atau ngerasa sakit, Bisma selalu ceria dan tertawa,gak mungkin Bisma terkena penyakit yang begitu parah,”

“Kesabarannya yang membuatnya mampu menyembunyikan segalanya,”Reza meraih sebuah surat dari saku celananya membuat Ilham menatapnya heran.

“Apa itu?”

“Surat dari Bisma untuk kita,”



FLASHBACK ONN



“Ilham..ilham... gak seharusnya lo mencoba bunuh diri hanya karena cinta, apa lo gak mikir masih banyak orang yang berjuang demi hidup, kalau lo emang mau mati, lo tukar jiwa lo sama gue yang umurnya udah diujung jari,”kata kata bisma itu membuat Reza yang duduk didepannya menatapnya heran.Bisma terus menatap Ilham yang terbaring lemas dirumah sakit.

“Lo ngomong apaan sih, usia lo itu masih panjang, jangan asal ngomong bis, gak baik,”Bisma tersenyum tipis mendengar perkataan Reza.

“usia gue emang gak lama lagi za,”

Bisma berdiri dari duduknya dan membelakangi reza menghadap keluar jendela.

“maksud lo?”

“Lo sahabat gue za, Gue rasa udah gak perlu ada rahasia lagi diantara kita,”

“Lo ngomong apa, gue gak ngerti,”Reza berdiri dari duduknya dan menghampiri Bisma yang masih setia memandangi beberapa pasien diluar taman.

“gue terkena kanker otak stadium akhir,”

Seketika tubuh Reza melemas mendengar pernyataan Bisma.

“Lo becandakan Bis, gak lucu,”Reza kembali terduduk disamping Ilham yang masih tak sadarkan diri, sementara Bisma hanya tersenyum tipis.

“Terserah lo mau percaya apa gak, tapi yang pasti hari ini adalah hari terakhir gue hidup,”Bisma membalikkan badannya dan menatap reza yang menunduk, bisma melangkahkan kakinya mendekati reza dan tersenyum sambil mengambil sesuatu dari saku jaket yang ia kenakan,”Ini surat Dari gue, buat lo dan ilham, surat ini akan membuat lo percaya kalau gue emang sakit, kalau dalam satu hari gue gak menghubungi lo berarti gue emang benar benar pergi, dan lo boleh baca surat itu ”Bisma menaruh surat biru diatas pangkuan Reza yang masih terdiam.

“Lo sahabat gue za, maaf kalau gue harus pergi secepat ini.”Bisma melangkahkan kakinya mencoba menjauh tapi Reza menarik tangan kanan bisma membuat bisma terhenti.

Bisma menatap Reza yang berdiri sambil memegang surat biru pemberian Bisma, seketika itupula Reza memeluk erat tubuh sahabat karibnya.

Pelukan terakhir reza dan Bisma, sahabat tak terpisahkan.


FLASHBACK OFF



Reza segera menghapus air mata yang segera jatuh dipipinya, dan mulai membaca isi surat biru itu.



Hey dude...my best friends forevah....

Ilham dan reza...

Mungkin saat kalian baca surat ini gue emang udah pergi dari dunia ini...

Untuk reza...
Gimana za, apa lo masih gak percaya kalau gue terkena kanker otak???
Gue tau gue salah, udah ngerahasiain semua ini dari kalian sahabat gue, tapi inilah yang terbaik menurut gue..
Gue gak mau kalain sedih karena penyakit gue,
Gue Cuma mau dihari terakhir gue, gue ngeliat snyum bahagia kalian..

Dear, reza.. si ganteng hidup hehhehe
Lo sahabat gue dari kita SD, lo inget, kita pernah sama-sama nyolong rambutan tetangga sampai sang empunya marah marah dan nebang pohon rambutannya garagara takut kita colongin lagi tuh rambutan..padahal kita nyolongnya Cuma sekali duang..

Cuma lo yang ngajakin gue ngamen dikereta, hanya untuk tambahan uang jajan,yang akhirnya ketahuan orang tua kita dan uang jajanpun dipotong...
Dan masih banyak lagi hal terindah yg kita lalui bersama..
Saat2 yang pasti akan sangat gue rindukan.

Dear ilham, si romantis yg lugu..
Lo sahabat gue sewaktu SMP, kalau bukan karena lo nolongin gue waktu gue dikeroyok ama kakak kekas yg kesel pacarnya gue kerjain,mungkin sampai saat inipun lo dan gue bukan siapa2..
Lo inget IL.. waktu gue ngajarin lo lompat pagar sekolah buat kabur,perlu waktu satu tahun sampai akhirnya lo bener2 bisa,dan waktu gue ngejahilin Anna, Cuma lo satu satunya orang yang ngerasa risih dan gak pernah lelah ngasih tau gue kalau kerjain orang itu gak baik..
Pokoknya lo is the bestlah Ilham...lo yang sering nasihatin gue ketimbang orang tua gue di rumah... lo adalah sahabat sejati gue..
Gue pasti kangen dinasihatin sama lo...walaupun gak pernah gue dengerin tapi makasih dech..



Untuk all of you two..

Maaf kalau gue pergi dan mengingkari janji kita yang akan selalu bersama sampai kuliah nanti..
Maaf kalau gue selalu buat kalian kesal dan bete dengan ulah jahil gue selama ini...
Maaf kalau gue pernah atau sering nyakitin hati kalian dengan atau tampa sadar...
Mungkin diantara banyaknya sahabat didunia ini, Cuma gue satu satunya sahabat yang gak tau diri..
Tapi yang pasti thank you for everythink.







“Lo adalah sahabat terbaik yang ada didunia ini Bis..”Ilham berkata sambil menatap Reza yang sedang melipat surat biru ditangannya.

“Kita pasti akan merindukan lo bis,”Reza berKata diiringi dengan anggukan Ilham.



***

Disebuah cafe dipinggir jakarta...

Melihat Anna yang sedang bersedih, Morganpun berinisiatif mengajaknya makan malam disalah satu cafe terkenal dijakarta.

“Makanlah,”Morgan berkata sambil menatap Anna yang terus mengaduk aduk nasi goreng dipiring putih itu.

“Aku tak berselera,”Kata Anna singkat.

Morgan berdiri dan meraih tangan Anna membuat Anna menatapnya heran.

“Ikut gue,”Morgan berkata sambil menarik tangan Anna keluar dari cafe pemuda itu.



Ternyata Morgan mengajak anna pergi kesebuah panti asuhan yang tak jauh dari rumah mereka, Anna sempat tak percaya Morgan membawanya kesana, Sepanjang kolidor panti Morgan terus menggengam tangan anna yang dingin, saat ini Anna masih mengenakan jaket milik Bisma, rasanya Anna enggan melepas jaket hitam itu.

"Mengapa kau mengajakku kesini,"Anna memulai pembicaraan setelah lama diam diaman.

"Aku hanya ingin menghiburmu,"jawab morgan tanpa menatap anna, keduanya terus berjalan bergandengan tangan hingga seorang anak kecil memanggil nama Morgan.

"KAK MORGAN,"terial anak kecil itu histeris membuat morgan dan anna menghentikan langkahnya, ditatapnya anak lakilaki 6thn berdiri didepan keduanya.

"Dimas,"sapa Morgan ramah sambil menatap dimas yang sedang menatap kagum Anna.

"Wahh cantik banget, pacar kakak yah?"Tanya polos membuat wajah Morgan dan Anna seketika memerah.

"Oh bukan namaNYA Anna, dia ini...." Morgan menghentikan perkataannya sambil berpikir tentang status anna, tapi belum sempat morgan melanjutkan perkataannya Anna memotongnya.

"Adik ipar kak Morgan,"Sambung anna membuat Morgan menatapnya tajam.

"Adik ipar itu maksudnya apa kak, dimas gak ngerti?"pertanyaan Dimas itu membuat anna tersenyum sambil mencubit pipi temben Dimas.

"Kamu lucu, Adik ipar itu berarti kak Morgan akan menikah dengan kakak, kak anna, mengerti?"

Dimas menggeleng mendengar penjelasan anna sambil mengaruk kepalanya yang tak gatal membuat anna tersenyum geli, dan senyuman anna itu membuat morgan sedikit lega, setidaknya sedikit kesedihan anna akan terlupakan disini, itulah alasan Morgan mengajaknya kepanti asuhan bunda.



Morgan membawa anna masuk bersama Dimas menemani mereka, setibanya disana Morgan mengenalkan Anna dengan Bunda dan seluruh anak panti asuhan bunda dgn terbuka mereka menyambut kedatangan anna, dalam sekejab semuanya dapat membuat Anna kembali tersenyum.Sepanjang malam mereka saling berbagi dan bercerita,sejenak Anna melupakan kesedihannya atas Bisma.



"Terimakasih untuk hari ini," Anna berkata pada morgan yang mengangguk ketika mereka telah sampai didepan rumah anna.

"Aku tau apa yang kau rasakan, tapi jangan biarkan kesedihan itu menghapus semua keceriannmu selama ini,"Morgan mengacak acak rambut anna yang tersenyum.

"kau memang sahabat terbaikku morgan."

"Aku tau, ada satu hal yang perlu kau ingat, walaupun suatu saat nanti sahabat sahabatmu pergi meninggalkanmu sendiri, hanya aku yang akan selalu ada disampingmu,"perkataan morgan itu membuat Anna terharu sambil menundukkan wajahnya.

melihat Anna menunduk,Morgan tau saat ini Anna sedang sedih dan menangis,karena itu dengan segap Morgan memmeluk tubuh Anna yang dingin.

"Kau janji bukan kau tak akan meninggalkanku seperti Bisma,"dalam pelukan Morgan anna meneteskan air matanya.

entah mengapa disaat sedih dan terluka seperti ini, anna hanya ingin berada disamping Morgan seperti ini.

"Gue janji Na, gue adalah orang terakhir yang menemani hari terakhir lo,"Morgan mengelus rambut anna pelan membuat tangis anna semakin kecang.



Tiba2 dari arah tak jauh dari keduanya, tampak seseorang dengan jaket dan topi yang menutupi sebagian wajahya berdiri tak jauh dari mereka,dengan cepat ia memotret anna dan Morgan yang sedang berpelukan.





*******

Pagi ini langit tampak sedikit mendung, dengan jaket pinknya Anna berjalan terus menuju kelas tapi kedatangan ilham dan reza yang menghampirinya membuayt anna menghentikan langkahnya.

"Gue kira hari ini lo gak masuk Na,"Reza berkata sambil menatap anna yang mengenakan bandana pink.

"yah gak mungkinlah gue gak masuk, sebentar lagi kitakan ujian akhir,"Ucap anna diiringi dengan anggukan Ilham.

akhirnya mereka memutuskan untuk bersama2 menuju kelas, sepanjang perjalanan ketiganya hanya saling terdiam, mereka memang seperti itu setiap harinya, tak ada satupun yang berniat memulai pembicaraan, hanya bismalah yang selalu membuat keheningan itu berakhir.



Flashback ONN

"hello, katanya sahabat, masa diam diaman kayak orang asing gini,"kata Bisma yang baru tiba membuat Anna,reza dan ilham saling menatap.

"habisnya gue bingung harus ngomong apaan?"Kata ilham polos membuat Bisma menggeleng gelengkan kepalanya.

"Sepertinya kalian membutuhkan gue disini, kalau semisal gue pergi, gue pastiin persahabat ini akan menjadi sahabat dalam diam, yang sulit untuk berkomunikasi satu sama lain,"Kata bisma itu membuat anna menatapnya tajam.

"Lo gak akan ninggalin kita kan bisma?"Pertanyaan Anna itu membuat bisma tertawa lepas.

"Bisma gue serius,"Anna berkata kesal sambil memukul keras lengan Bisma yang duduk disampingnya, sementara ilham dan reza hanya tersenyum tipis.

"Gimana kalau kita berjanji, kita akan selalu bersama sama sampai kita kuliah Nanti, kalau bisa sampai kakek nenek sekalipun,"Ilham berkata sambil meletakkan tangannya didepan membuat Anna Ilham dan bisma terdiam aneh, sebelum ketiganya menyetujuinya.

"Gue janji kita akan selalu bersama2 sampai kuliah nanti,"Ilham berkata sambil meletakkan telapak tangannya diatas punggung tangan ilham.

"Gue juga,"Timbal anna sambil melakukan hal yang sama seperti ilham, anna meletakkan telapak tangannya diatas punggung tangan ilham.

"Gue ogah,"cannda Bisma membuat anna menatapnya jengkel.

"BISMAA,"Teriak anna sambil mengkrucutkan bibirnya membuat Bisma kembali tertawa lepas.

"OKE OKE, gue juga janji,"Bisma berkata sambil meletakkan telapak tangannya diatas punggung tangan Anna, membuat bibir anna seketika mengembangkan senyum senang.

"SAHABAT SELAMANYA,"merekapun melemparkan tangan mereka keudara setelah kata kata itu mereka serukan.

FLASHBACK OFF




Akhirnya mereka telah tiba dikelas, Ilham dan reza langsung duduk dibangku mereka yang disusul anna, anna terduduk sambil menatap bangku disampingnya yang kosong tampa sang MR.Jail.

tak sengaja Anna mendapati sebuah buku bersampul coklat disela laci meja Bisma.

anna mencoba meraihnya dan membaca nama yang tertera disana "BISMA KARISMA", dengan berlahan anna membukanya berlahan, tulisan yang tertata rapi dengan tinta hitam menghiasi sebagian buku tugas itu.

Anna menutup buku itu dengan cepat tulisan Bisma membuatnya semakin sulit menerima kepergian bisma, seketika anna menatap sebuah goresan di sisi meja bisma, sebuah ukiran tangan bisma.

"Lo ngapain bis?"tanya anna sambil menatap Bisma yang sedang mengukir sesuatu di kirimejanya dengan silet yang baru dipinjamnya pada Ilham.

"Rahasiia, mau tau ajah lo,"jawab bisma membuat Anna cemberut.


Anna mencoba membaca ukiran yang ditulis Bisma waktu itu, betapa terkejutnya ANNA membaca apa yang diukir sang cowo jail itu.


"Bisma Cinta Anna Selamanya"
SKIIIPPPPPSSS
Seminggu kemudiannnn...


Setelah sepeninggal Bisma, anna Ilham dan Reza memulai semuanya kembali seperti awal,Morganpun semakin membuka hatinya pada Angel, hubungan Anna dan Rafapun semakin dekat, setiap pulang sekolah Rafa selalu mengantar Anna hingga depan rumahnya dan merekapun sudah beberapa kali dinner bareng, Annapun mulai menetapkan hatinya pada Rafa, terlihat dengan keseriusan rafa mencintai anna membuat Anna yakin bahwa Rafa adalah jodohnya. tapi Lia selalu saja mencari cara untuk memisahkan keduanya, ia ingin Rafa menjadi miliknya, jika ia tak bisa memiliki Rafa tak akan ada seorangpun yang bisa memilikinya.



"Nanti pulang sekolah kita kecafe biasa, gimana?"Tanya Rafa sambil menataP Anna yang mengangguk,dengan berpegangan tangan mereka mengintari koridor sekolah.

"Tapi hari ini aku ada les bahasa inggris, mungkin pulangnya sedikit sore,"Anna berkata sambil terus berjalan disamping Rafa.

"tak masalah aku bisa menunggumu, jangankan satu jam satu abadpun aku bersedia menunggu cewe semanis kamu,"Gombal rafa membuat wajah anna seketika memerah.

"Aku bisa ajah akukan jadi malu,"kata anna pelan membuat Rafa tersenyum lebar.

Tapi suara seseorang membuat keindahan itu lenyap.

"Dasar cewe muna,"Lia berkata kasar sambil mendorong tubuh mungil anna, seketika itu pegangan tangan anna dan rafa terlepas, annapun terjatuh kelantai sekolah.

"LIA, apa apan lo,"Bentak Rafa keras sambil membantu Anna berdiri, anna mengelus pelan lututnya yang kesakitan.

"nih lo lihat sendiri,"Lia memberikan Rafa sebuah Foto dan rafa segera mengambilnya, mata rafa terbelalak tak percaya mendapati isi foto itu.

anna dan morgan yang sedang berpelukan...

"Baru seminggu jadian, tapi udah berani pelukan sama cowo lain, dasar cewe muna,"Kata kata kasar Lia itu membuat mata anna berkaca kaca.Rafa masih terdiam tak percaya.

"Ada apaan nih?"Tanya rangga yang baru tiba sambil menatap ketiganya secara bergantian.

"Ini cewe yang dicintai Rafa ternyata selingkuh,"Kata kata Lia membuat Rangga menatap anna tak percaya.

"Anna selingkuh, gak mungkin."

"Kalau lo gak percaya lo bisa liat sendiri foto ini,"Lia merebut paksa foto ditangan rafa dan memberikannya pada Rangga, rangga yang mengambilnya langsung menatap foto itu, rangga tak terkejut ia justru tersenyum menatapnya.

"Lo liatkan kalau cewe ini selingkuh,"Lia berkata keras sambil menunjuk anna yang menunduk.

Ranga tersenyum mendengarnya,"Lia, Lia, Morgan dan Anna sahabatan sejak kecil, jadi gak ada salahnya jika mereka berpelukan seperti ini,"Jelas Rangga sambil menatap Lia yang tersenyum sinis.

"bagi gue sama ajah, Dia selingkuh, lo harus putusin dia Raf,"

"Rafa, lo gak akan ngelakuin itukan, gue tau lo cinta sama Anna, jangan pernah dengerin ocehan nenek sihir ini,"Rangga berkata pada Rafa yang terdiam tak bersuara. sementara Lia masih dengan senyum sinisnya,

Rafa benar benar bingung, ia tau anna dan morgan adalah sahabat, tapi ia tak tau apa yang ada dihati keduanya. apa benar keduanya hanya sebatas sahabat tak lebih.

Rafa tau ia mencinta Anna tapi ia ragu apakan anna juga mencintainya seperti dulu.

Rafa menututp kedua matanya berharap sebuah keputusan akan datang saat ini, ia pun membuka matanya dan yakin dengan keputusan yang akan diambilnya.

keputusan yang tak pernah ada yang menyangkanya...keputusan yang mungkin membuat semua orang tak percaya mendengarnya...

"Kita putus,"


***
Sekarang aku tersadar, cinta yang kutunggu tak kunjung datang

apalah arti aku menunggu, bila kamu tak cinta lagi ..



Anna merebahkan tubuhnya dibedcover pink kamarnya, perasaannya saat ini benar2 hancur,rapi ia tak ingin menangis, keputusan Rafa untuk mengakhiri hubungan mereka tak pernah anna bayangkan, Ternyata Rafa lebih mempercayai Lia ketimbang Anna.

anna menarik Nafas panjang, mneutup kedua matanya, berharap ia dapat melupakan semuanya...

Rafa adalah cowo pertama yang memasuki kehidupan seorang Anna, hidupnyapun seolah olah berubah bersamaan dengan Rafa disampingnya, anna menemukan sebuah kebahagiaan berada disamping cowo berwajah oriental itu.

tapi harapannya sirna, saat Rafa memutuskan hubungan mereka, hubungan yang baru berjalan satu minggu, hari ini adalah hari yang paling ingin Anna lupakan untuk selamanya.





FLASHBACK ONN..



"kITA PUTUS,"keputusan Rafa itu membuat Anna menatapnya tak percaya, sementara Lia hanya tersenyum puas.
"Rafa, Lo gak seriuskan dengan kata2 lo barusan,huh?"Rangga berkata kesal sambil terus menatap Rafael geram.
"Gue serius, gue gak mau menjalin hubungan dengan cewe yang selingkuh dibelakang gue,"
"Tapi Raf, Anna gak pernah selingkuh, seharusnya lo percaya itu,"Basntah Rangga.
 Rafa menatap Anna yang menunduk,"Gue percaya sama anna tapi tidak dengan Morgan,"Tegas rafa dengan suara khasnya.
Rangga menatap anna yang menunduk, dilihatnya anna yang mulai meneteskan air matanya.
Anna tak kuasa menahan semuanya, katakata Rafa begitu menusuk hati dan perasaannnya, dengan cepat Annapun berlalri meninggalkan ketiganya yang masih asik berdebat.
"Gue kecewa sama lo Raf, apa lo gak tau seberapa besar Anna mencintai lo, cuma lo satu2nya cowo yang ada dihatinya," Rangga menatap Rafa yang tak menatapnya.
"Yah gue emang satusatunya cowo dihati anna, tapi itu bukan menutup kemungkinan bahwa akan ada cinta lain dihatinya,"
Lia tersenyum puas mendengar perkataan rafa itu, kesempatan untuknya untuk dekat dengan Rafa akan semakin terbuka.
"Udahlah ga,Lo gak denger apa, kalau rafa udah memutuskan hubungannya dengan anna, seharusnya lo senang dung, bukannya itu berarti ada kesempatan buat lo untuk dekat dgn Anna,"Lia menaik turunkan kedua alisnya sambil menatap rangga yang mulai menampakkan wajah kesalnya.

"Gue emang suka sama Anna, tapi gue gak pernah menggunakan cara licik untuk mendapatkannya,"Bela rangga keras.

"Udah, kenapa jadi kalian yang bertengkar, terserah kalian mau main bunuh-bunhan sekalipun gue gak peduli,"Teriak rafa dan berlalu pergi meninggalkan keduanya dengan kekesalan yang mendalam.





FLASHBACK OFF





Anna terbangun dari tiudrnya dan menatap jam didinding kamarnya..." jam 3 sore"keluhnya dan berdiri, anna melangkahkan kakinya terduduk disamping jendela kamarnya,ia tak ingin selalu terlarut dalam kesedihan, ketika ia menerima cinta Rafa, saat itu pula anna telah menguatkan hatinya kalau kalau ia terluka seperti sekarang, Rafa memang palyboy dan keras karena itu anna tidak kaget jika hubungan mereka akan berakhir seperti ini.

Anna menatap langit sore itu, panas dan sangat terang, tapi ada satu yang membuatnya mempertajam penglihatannya, sebuah layang2 mengudara didepan kamarnya, seketika anna menatap tulisan yang tertera pada layang2 biru itu..

"Keep smiling anna"

Anna berdiri dan menatap seseorang yang berdiri tepat dibawah jendela kamarnya,"Dicky,"sapa anna sambil menatap dicky yang tersenyum, dicky terlihat asik dengan layangan ditangannya.

"Turun Na, kita main layang2 bareng,"Katanya sambil mendongkakkan kepalanya menatap anna yang berdiri dilantai dua, dengan cepat Anna mengangguk.

mungkin memang ini yang ia butuhkan sekarang, menghibur dirinya dengan bermain layang layang.







***

Morgan menatap Angel yang terduduk diam didepannya dengan sebuah foto ditangannya, yahh foto dirinya dengan anna, morgan mengahmpiri Angel dan duduk disampingnya, dipegangnya kedua jemari tangan mulus Angel pelan.

"Kamu harus percaya sama aku, aku gak mungkin selingkuh dengan Anna, adik kandung kamu,"Jelas Morgan.

tak ada jawaban dari bibir munggil Angel, cewe tinggi itu hanya terdiam dan menunduk.

"Angel tolong katakan sesuatu, apapun keputusan lo gue terima dengan lapang dada,"

" Apa kamu mencintai Anna?"pertanyaan Angel yang tiba-tiba itu membuat Mrogan menatapnya tajam.ia tak pernah menyangka Angel akan menanyakan itu padanya.

melihat morgan yang tak menjawab pertanyaannya, sedikit demi sedikit Angel melepaskan pegangan tangan Morgan,"Kalau kamu diam, berati kamu memang mencintainya,"

"Angel,Kau harus percaya padaku, aku mencintai Anna seperti aku mencintai adikku sendiri, tak lebih,"

Angel terdiam, morgan mencoba memegang kembali tangan Angel,"Aku Cinta kamu, Angel,"Morgan meyakinkan Angel dengan memeluk tubuh langsing Angel, dalam beberapa detik Angel terdiam dalaam pelukan Morgan.

Tuhan, jika dia memang jodohku, biarkan selamanya ia disisiku, memmelukku seperti ini, tapi jika dia bukan jodohku, berikan aku kekuatan untuk melepasnya.

"Aku juga cinta kamu,Morgan,"





****

"Jadi Anna putus sama Rafa?"tanya Ilham sambil menatap Reza yang mengangguk.

saat ini mereka berada dirumah Ilham tepatnya dikamar Ilham, Reza menatap Ilham yang berdiri disamping jendela dengan wajah kecewa, dengan tegas Reza menjelaskan semua yang terjadi antara Anna dan Rafa tadi pagi.

"itu emang yang terbaik buat Anna,"kata2 Ilham membuat Reza menatapnya terkejut.

"Maksud lo?"

"Dari dulu gue emang gak suka Anna jadian sama Rafa, sebenarnya anna bisa dapatin cowo yang lebih baik dari playboyz itu."

Reza m,endekat ke arah Ilham dan berdiri disampingnya,"Lo masih mencintai Anna?"Reza menatap Ilham yang terdiam, pandangannya lurus kedepan.

"ya,tapi cinta sebagai sahabat,"Jawaban Ilham membuat Reza tersenyum puas.

Gue tau lo, masih mencintai anna, tapi lo salut ternyata lo lebih mementingkan persahabatan kita dibanding cinta.

batin ilham:"di dunia ini memang gak ada yang abadi, tapi persahabatan akan selamanya saling melengkapi, persahabatanlah yang membuat keabadian itu akhirnya ada."





****

Sepanjang sore anna tak lepas memancarkan senyum bahagia diwajahnya, dan itu membuat Dicky ikut tersenyum, dicky mengajak anna bermain layang2 dilapangan yang tak jauh dari rumah anna,dengan layang2 ditangannya anna mengudarakannya dengan sangat gesit,dicky tak pernah menyangka anna sepandai itu memainkan layang2 itu.pandangan dickypun tak pernah lepas dari cewe mungil itu.Tampak beberapa pasangan ikut bermain bersama mereka.



tak terasa hari telah menjelang magrib, merekapun memutuskan untuk mengakhiri permainan, sesaat mereka terduduk direrumputan taman.

"Ternyata kamu hebat juga,"Dicky memain-mainkan layang2 ditangannya sambil menatap anna yang tersenyum.

"Biasa ajah, waktu kecil, aku sering bermain layang2 dengan Morgan."

"tetaplah tersenyum sepahit apapun hatimu terluka,"kata2 dicky membuat anna menatapnya tajam.

"Aku baik baik saja, percayalah,"

Dicky meraba saku kemejanya dan meraih yuppy merah dari sakunya,"makanlah,"dicky menyodorkan yuppy kearah Anna yang langsung meraihnya.

"Terimakasih,MR,Sweet."

anggukan pelan dicky mengiringi perkataan anna..merekapun akhirnya berbincang bincang ringan.







"ANNAAA.."teriak Ilham dan Reza bersamaan sambil berlari kearah Anna dan Dicky.

"Gue cariin dirumah lo, ternyata lo disini,"Reza menatap Anna yang tersenyum dan beralih menatap Dicky yang asik mengunyah yuppy favoritenya.

"Sorry, tadi gue yang ngajak anna ke sini,"Jelas Dicky pada Reza yang duduk idsampingnya dan Ilham yang duduk disamping Anna.

"Kalian ngapain kerumah gue, tumben,?"anna menatap Ilham yang sore itu mengunakan topi biru.

"kita udah denger kabar putus lo sama Rafa, si MR.Laundry itu,"Ilham angkat bicara yang sedari tadi hanya diam.

Anna tersenyum tipis,"Kalian mau hibur gue yang lagi patah hati?"Tanya anna lagi membuat Ilham dan Reza mengangguk bersamaan, dicky hanya tersenyum melihatnya.

"Lo baik-baik ajah kan Na?"reza menampakkan wajah sedikit khawatir. ia tau benar seberapa besar Anna mencintai Rafa, ia tau saat ini perasaan Anna pasti sangat kacau.

"Gue baik-baik ajah kok, percayalah,"Anna berdiri dari duduknya dan merentangkan kedua tangannya seolah olah ia sedanag terbang diudara. Ketika coow imut itu menatap anna heran.

"kalau Rafa jodoh gue, dia akan kembali lagi sama gue kan, guyz?" anna terus memain-mainkan tangannya diudara.

dicky berdiri diiringi dengan Ilham dan Reza.

"Pastinya, kalaupun dia bukan jodoh lo, gue yakin, siapapun jodoh lo itu dia adalah yang terbaik buat lo,"Dicky berkata sambil menatap Anna yang tersenyum.

"Terimakasih yah, kalian adalah sahabat terbaik gue,"anna bahagia ternyata ia memiliki saHabat yang sangat mengerti dirinya, adakah yang lebih penting selain ini???

Ia tak membutuhkan cinta untuk tetap hidup, tapi ia membutuhkan sahabat untuk tetap tersenyum dan tertawa, satu hal yang menyadarkan anna saat ini, sahabat ternyata lebih penting dalam hidup kita daripada cinta yang kita tak tau akhirnya.

Anna tak ingin terus2an menangis karena Rafa, tapi ia akan tetap tersenyum karena sahabat-sahabatnya.







SEBULAN KEMUDIAN



"Asikkk gue lulus,"Teriak Reza senang sambil melipat surat pemberitahuan kelulusan miliknya, Anna dan Ilham masih terdiam menatap surat pemberitahuan kelulusan ditangan masing2.

"Lo lulus Na?"Tanya Ilham pada Anna yang duduk disampingnya.

"Gak tau belum berani gue buka nih,"kata anna ragu sambil menatap Ilham balik,"kalo lo il?"

"Sama, gue takut gak lulus,"Ilham tak berani menatao surat putih itu.

Melihat tingkah kedua sahabatnya,Reza menghampiri keduanya dan mengambil paksa surat ditangan Anna dan Ilham.

"Ya udah kalau kalian takut, biar gue yang liat,"Reza mulai membuka surat pemberitahuan milik anna, reza menatap anna sambil tersenyum dan berganti membaca surat pemberitahuan miliki Ilham, sesaat Reza tersenyum tipis.

"Kalian berdua lulus,"Kata Reza sambil merangkul pundak kedua sahabatnya anna dan Ilham, mendengar perkataan Reza, keduanya tersenyum senang.

"syukurlah..."





" ANNA"teriak Rangga sambil berlari kearah anna yang menatapnya tajam.

"Lo lulus, selamat yah,"Rangga mengulurkan tangan kanannya sambil tersenyum yang langsung dibalas oleh anna.

"Terimakasih, selamat juga yah, denger2 lo juara tiga,"Anna berkata sambil melepas pegangan tangannya, rangga hanya mengangguk pelan.

"Na, kita ke kantin dulu yah,"Kata Reza diiringi dengan anggukan ilham, dan anna hanya mengangguk pelan.

Ilham dan rezapun berlalu pergi.

"Oh yah ada sesuatu buat lo,"Rangga meraba saku celananya dan mengambil surat pink lalu diberikannya pada Anna.

"ini apa?"tanya anna sambil meraih surat pink itu.

"Surat dari Rafa,"Ranggapun berlalu setelah mengucapkan katakata itu.

tanpa perlu waktu lama Anna segera membukanya dan membacanya.





Dear Anna...
Pertama-tama, gue mau minta maaf karena gue udah mutusin hubungan kita secara sepihak,
bukan berarti gue gak percaya sama lo, tapi itu adalah yang terbaik buat kita.
mungkin suatu saat nanti akan ada seseorang yg benar2 mencintai lo dan menjadi pelengkap hidup lo.

kedua, gue ingin berterimakasi karena semua yang udah lo lakuin selam ini buat gue,
senyuman kebagian cemburu dan pastinya cinta tulus lo untuk gue.
walaupun seminggu, tapi kebahagian bersama lo gak akan pernah gue lupain,selamanya..

oh yach, gue tetap ur MR.Laundry kan???

your MR.Laundry
Rafa





Anna tersenyum tipis, membaca katakata terakhir yang tertulis disurat pink itu.
"pastinya, kau akan selalu menjadi my MR.Laundry, rafa,"



anna melipat surat pink pemberian Rafa, dan ditaruhnya ditas pinggangnya bersamaan dengan surat pemberitahuan, anna mempercepat langkahnya, tak sabar ingin bertemu dengan sahabat2nya yang telah menunggunya dikantin, dengan cepat dan tergesa2 anna berlalri mengintari kolidor sekolah tapi sesaat langkahnya terhenti ketika ia menatap morgan dan Angel yang sedang berbincang2 sambil sesekali tertawa, sepertinya mereka semakin akrab, anna tak ingin terlarut dalan kesedihan, ia memalingkan wajahnya dan kembali melangkah cepat tapi lagi lagi langkahnya terhenti ketika ia mendapati tulisan besar didepan lapangan, beberapa anna berkerumunan disana, rasa penasaranpun membawa anna ketengah lapangan, langkahnya menjadi kaku saat ia menatap Dicky dengan bunga mawar merahnya berjalan kearahnya, dengan senyum langkah dicky semakin mendekat.

" Gue cinta Lo, ANNA,"Kata dicky keras membuat seisi lapangan menyerukan mereka berdua..

anna tak dapat berbuat Apa2, selain terdiam dan terdiam..

Sesaat anna mengingat kebersamaan mereka selama ini, yah dicky selalu hadir disaat anna membutuhkan seseorang, dickylah yang seolah olah tau tentang apa yang ia rasakan, mungkin memang Dickylah jodohnya.

"TERIMA.. TERIMA.."Seru anak2 satu lapangan serentak membuat dicky tersenyum tipis, dicky tak dapat menatap anna, ia menundukkan wajahnya dari tatan lembut anna.

Anna menatap sekeliling lapangan, seketika dilihatnya Morgan dan angel yang berpegangan tangan disisi lapangan, Morgan seraya mengangguk pada anna yang menatapnya ragu.

pandangannya langsung beralih pada Ilham dan Reza yang berdiri dipinggir lapangan, keduanya tersenyum pada Anna yang masih terdiam.

Anna meraih bunga mawar ditangan dicky membuat dicky menutup matanya takut.

"Aku gak mau mawar, berduri, aku hanya ingin yuppy, manis, seperti kau MR.Sweet,"Kata2 ana membuat dicky menaikkan wajahnya menatap anna yang tersenyum.

"Maksudnya??" tanya dicky bingung.

Reza menghampiri Dicky dan menoyor kepala cowo berbehel itu gemas,"dia nerima lo cumi,"

"Benarkah?"Dicky memastika sambil menatap Anna yang mengangguk, seketika dickypun jejingrakan senang, membuat satu lapangan bertepuk menyorakinnya.

Anna meraih tangan Dicky membuat dicky terdiam,"jangan pernah membuat aku menagis yah,"Kata anna pelan membuat dicky mengangguk pelan.

"Kalau anna sampai nangis karena lo, lo berhadapan sama gue,"Ilham berkata lantang sesampainya disamping dicky.

"SIAP BOS,"



The End ^^

Selasa, 10 Juli 2012

Dead and Gone #Cerpen

"Lepasin gue, Br*ngs*k!"

Pagi-pagi buta, suara teriakan itu nyaris membuat telinga Kevandra hampir saja putus.

Kevandra yang saat ini berada diujung gang sekolahnya, perbatasan antara ruang murid dengan ruang guru tepatnya.

Kevandra merebahkan tubuhnya tertidur, dikursi kayu yang sudah lumayan kusam dengan menutup wajahnya dengan buku, telinga memang mengenakan hadseat yang bersambung dengan MP3 milik Chokie, yang dipinjamnya kemarin, tapi ia tak menyalakannya, Kevandra tak begitu suka mendengarkan musik, jadi ia membiarkan Mp3 itu mati tapi digunakan seolah-olah menyala.

Kepalanya masih terasa pusing, akibat mabuk, Kevandra pun memilih tempat itu, untuk menenangkan diri sejenak.



"Lepasin, gue BRENGSEK!"

Lagi-lagi ia mendengar teriakan itu.

Malah semakin kencang menggema ditelinganya.



"Setapak lo mendekat, GUE BUNUH!"

Suara kencang yang berasal dari mulut sang gadis itupun, membuat kesabaran Kevandra hilang.

Dijauhkannya buku dari wajah menawannya, dibuangnya kelantai,terduduk sebentar sambil melepas hedseat dikedua telinganya dan memasukkannya kedalam saku seragamnya, kemudian berdiri dan menatap samar2 dua remaja yang berdiri tak jauh darinya.

Ia menyipitkan matanya, mencoba memperjelas penglihatannya, seorang pemuda yang sedang menggoda seorang gadis.

Pemuda itu berkali-kali mencoba meraih tangan sang gadis, tapi gadis itu selalu menepisnya dengan kasar.



"Sekali lagi,Lo nyentuh gue, Gue bunuh!"

Ancam gadis berseragam putih abu-abu dgn rambut panjangnya yang terikat satu dan sebuah penjepit bintang kecil yang menghiasi rambut hitam kecoklatannya.

Kevandra tersenyum tipis, pandangannya masih mengarah pada dua sosok itu.

"Alah, jangan sok suci Lo, gue tau siapa Lo!" pemuda itu menunjuk sang gadis dengan penuh amarah.

"P*L*C*R, ajah Belagu!"

Plak..!

Sebuah tamparanpun mendarat tepat dipipi kanan sang pemuda.

Pemuda itu mengelus pipinya pelan, tersenyum tipis sambil menatap Gladys yang mulai emosi.

"Udah berapa Om-om yang nidurin lo, Huh?"

Pemuda bernama Zava itu, meraih paksa lengan Gladys, gadis itu berusaha menepis tapi ia tak mampu, pegangan tangan Zava begitu kencang mencengkram lengannya.

"Udahlah, Gue bisa muasin Lo, lebih dari mereka!" Zava berkata lagi dengan senyum menggoda.

Pandangan Gladys langsung tertuju pada Kevandra yang berdiri tak jauh dari kedua, dgn kedua tangan dilipat didada, dengan santainya Cowo itu berdiri memandangnya.

Gladys menatapnya penuh harap, semoga pemuda itu dapat melepasnya dari cengkraman Zava seperti diFilm-film yang pernah ditontonnya.

Tapi sial, pemuda itu hanya menatapnya tanpa berniat menolongnya, justru Kevandra melontarkan sebuah kalimat yang membuat Gladys berjanji akan membenci cowo itu selamanya.



"Udah, nunggu apa lagi, perkosa ajah langsung, BEGO!"

Kevandra tersenyum singkat pada Gladys yang menatapnya penuh kebencian, kemudian berlalu meninggalkan keduanya.



***

"Hey Lo, cowo Gila!" Gladys berteriak kencang sambil melangkahkan kakinya mendekati Kevandra yang sedang berbincang-bincang dengan Chokie.

Chokie tersenyum manis pada Gladys yang tlah tiba didepannya, sementara Kevandra menatapnya sesaat lalu fokus pada MP3 ditangannya.

"Cowo Gila, atau hampir mirip iblis, gak ada bedanya ama binatang, gak punya perasaan." Gladys yang berdiri didepan Kevandra menatap kesal Kevandra yang terduduk.

Kevandra mendongkakkan wajahnya menatap Gladys yang telah bertolak pinggang, cowok itu tersenyum tipis.

"Sorry, lo ngomong sama gue?" Kevandra menunjuk dirinya sendiri sambil berdiri.

Gladys menatap Kevandra kesal yang kini tlah berdiri didepannya.

"Bukan Lo, tapi Iblis!" serunya geram, Cowok itu semakin melebarkan senyumnya.

"Iblis itu lebih suci loh dari Pe..la..cur..!

Kevandra sengaja menekan suaranyd saat menyebutkan kata terakhir.

Gladys geram dan berniat menampar Kevandra, tapi sayang sebelum jemari lentiknya menyapu pipi Kevandra, tangan pemuda itu terlebih dulu menyanggahnya.

Semakin keras Kevandra meremas tangan mulus Gladys, dalam hitungan detik, pemuda itu menarik lengan Gladys hingga tubuh gadis itu menempel pada dada bidangnya.

Wajah keduanya begitu dekat, seketika jantung Gladys berdetak kencang.

Kevandra menatap bibir tipis kemerah-merahan Gladys, "bibir Lo, boleh juga!" Kevandra menaikkan sebelah alisnya menantang.



Gladys mendorong tubuh tegap Kevandra kebelakang, menjauh darinya.

Pemuda itu hanya tersenyum tipis, MP3 ditangannyapun seketika terlepas.

Prang..



"MP3, gue!" Chokie yang sedaritadi berdiri disana, menyaksikan keduanya, tiba-tiba memelas menatap MP3 Yang baru dibelinya pecah.

Chokie melangkahkan kakinya mendekat pada MP3 yang terjatuh tepat dibawah kaki kanan Kevandra, Chokie berjongkok dan meraih Mp3nya pelan.

"Gue bunuh Lo, KEVANDRA!"

Kesal Chokie pada Kevandra yang menundukkan wajahnya memandang Chokie yang masih berjongkok disampingnya.

"Lo tentuin ajah, harinya!" ucap Pemuda itu enteng.



"Cowok Gila, Gak punya perasaan, bajingan, berengsek!"

Kevandra kembali menatap Gladys yang terus-terusan mengoceh atau lebih tepatnya membentak.

"Gue sumpahin, lo mati kelindas kereta!"

Gadis itupun berlalu pergi setelah mengancam Kevandra, pemuda itu menggelengkan kepalanya, menatap sang gadis yang mencoba menjauh.

Tapi langkah gadis itu terhenti saat mendengar Kevandra berteriak.



"Gue jadi pingin ngerasain mati kelindas kereta, udah benci gue, ama hidup yang penuh kemunafikan gini,didepan kita senyum sok bersahabat, tapi dibelakang, borok-borok kita jadi trending topik mereka, bullshit semua..!" Kevandra mengatur nafasnya sejenak, sebelum kembali bicara.

"Neraka lebih baiklah!"





***

‎"Kevandra, pokoknya, lo harus gantiin Mp3 gue!" Chokie berkata pada Kevandra yang berdiri disampingnya.

Keduanya menyender di dinding belakang perpustakaan, Kevandra hanya mengangguk-angguk kepalanya malas.

"Ngerti gue!" jawabnya enteng, Kevandra meraih sebatang rokok dari saku celananya dan menghisapnya setelah ujung rokok itu bersentuhan dengan korek api milik Chokie.

Chokie balik tersenyum, "Ngerti apaan, Ngerti cara melorotin boxer orang!" Ledek cowok berambut sedikit ikal itu yang begitu hafal kebiasaan Kevandra, memeloroti boxer orang.

Kevandra menoyor kepala Chokie kesal, "Setan!" geram Kevandra sambil kembali menghisap buntung rokok dimulutnya.

Chokie menatap langit-langit yang sedikit mendung, mendongakkan wajahnya menatap langit siang itu.

"Tadi gue ketemu dia lagi!" Katanya pelan.

Kevandra menatap Chokie dan membuang batang rokok yang telah habis ketanah, menggesek-gesekkan dengan kakinya hingga api rokok itu benar-benar padam.

Kevandra kembali menatap sahabatnya, "Nyokab lo?" tanya hati-hati, Chokie mengangguk.

"Yah, dia minta gue untuk tinggal bareng dia," Chokie maju satu langkah berdiri membelakangi Kevandra yang setia menatapnya.

"Lucu yah, setelah dia ninggalin gue, sekarang dengan mudahnya dia minta gue tinggal bareng dia!" Chokie tersenyum terpaksakan, ia kembali bicara, "F*uk, dimana dia waktu gue habis digebukin bokap gue yang pemabuk dan pembunuh, seharusnya dia disana, jadi satu-satunya orang yang peduli sama gue, tapi apa justru dia ninggalin gue demi ketenaran!"

Kevandra terdiam mendengar curahan sahabatnya itu.

"Gue gak butuh dia saat kaya dan bahagia seperti sekarang, tapi gue butuh dia saat gue sedih dan terluka!"

Chokie menunduk, wajahnya tanpak teramat sedih.

Dengan pelan Kevandra mendekatinya, dan mengelus pelan pundak sahabatnya, ia begitu mengenal Chokie, seseorang yang ditemukannya beberapa tahun yang lalu disamping tong sampah, saat itu tubuh Chokie berlumuran darah, kaos yang dikenakannyapun sobek disegala celah.

Kevandra menghampirinya dan mencoba menenangkan, Kevandra memanglah seorang iblis tapi hatinya masih bisa merasakan iba, terlebih pada seseorang yang lebih menderita darinya.

Sejak itulah, Chokie selalu menceritakan segala hidupnya pada Kevandra, walau tak pernah didengar atau justru selalu dianggap enteng, tapi Chokie percaya, Kevandra mampu menjadi penampung gundahnya.

"Si Setan Berkumis itu, masih sering gebukin Lo?"

Pertanyaan Kevandra membuat Chokie menatapnya dan mengangguk.

'Setan berkumis' panggilan sayang Kevandra untuk papa Chokie, yang pemabuk berat.

"Lo bunuh ajah dia!"

Chokie menatap Kevandra tajam yang mengangkat sebelah alisnya.

"Racunin makanannya biar terkapar-kapar didepan lo kaya, Binatang!"

Chokie mengkernitkan keningnya. "tapi dia bokap gue, Kev!"

"Setan berkumis kayak gitu, gak pantas dipanggil ayah, Neraka tempatnya!"

Kevandra menatap Chokie yang mengangguk, "lalu, nyokap gue?"

Tanyanya pada Kevandra yang kembali menyender pada dinding, sebelah kakinya ia tekuk.

Chokie memutar tubuhnya agar menghadap Kevandra.

"Lo bunuh juga, biar kedua setan itu dipertemukan dineraka!"

Jawabnya enteng pada Chokie yang lagi-lagi mengangguk.



Hingga sebuah teriakan menggema dikedua telinga remaja itu.

"Apa lagi mau lo, hah?" Gladys berkata kasar pada Zava yang lagi-lagi berusaha menggodanya.

"Tubuh lo," Zava menyolek dagu Gladys, membuat amarah gadis itu semakin memuncak.



Dari jarak yang tak begitu jauh, Kevandra dan Chokie menatap keduanya tajam.

"Cewek itu, bukannya Gladys?" Chokie menengok pada sebentar pada Kevandra yang mengangguk, dan kembali fokus menatap kedepan.



Zava mulai emosi, didorongnya tubuh sexy Gladys hingga menempel pada tembok, kedua tangannya terangkat hingga berdampingan dengan kedua telinga Gladys menempel pada tembok putih itu, gadis itu berusaha mengelak, tapi tangan Zava begitu kuat menyanggah tangannya.

Zava mulai mendekatkan wajah dan bibirnya pada leher Gladys, gadis itu kembali berontak saat Zava mulai membasuh lidahnya pada leher Gladys.



"Bajingan!" Chokie mengepalkan tangannya penuh emosi, ia berniat menghampiri zava dan Gladys, tapi Kevandra mencegahnya.

"lo mau ngapain?" Tanya Kevandra pada Chokie yang menepis pegangan tangannya.

"Ngebunuh keparat Zava!"

Jawaban Chokie cukup membuat Kevandra tersenyum.

"Mau jadi pahlawan nih ceritanya!" ledek Kevandra.

"Gue gak becanda!" ucapan lantang Chokie membuat Kevandra seketika terdiam.



Zava semakin nafsu menciumi leher Gladys, hingga Richi meraih kerah seragam putih Zava menjauh dari Gladys yang menggigit bibir bawahnya agar tak menangis.



"Bangsat!"

Bugh.. Bugh.. Bugh

Satu dua dan tiga tonjokan melayang tepat diwajah mesum Zava, zava tak tinggal diam, ia meneris kaki Chokie hingga cowok itu tersungkur ketanah.

Zava membungkukkan badannya, menarik kerah Chokie dan berganti memukulinya.

seketika tubuh Gladys gemetar menyaksikan keduanya yang saling adu tinju.

Gladys menepikan dirinya diujung tembok.



"Ayo Ky, bunuh bajingan itu, lo jangan mau kalah sama dia!" suara keras Kevandra membuat Gladys seketika menatapnya.

Cowok itu tetap stay cool, melipat tangannya didadanya yang bidang, dan bersikap biasa saja, menyaksikan sahabatnya sedang bertaruh nyawa seperti itu.



"Tendang juniornya,Ky, biar mandul seumur hidup!"

Teriaknya lagi, Kevandra menatap Gladys yang berjalan kearahnya.

Ditatapnya leher gadis itu yang memerah akibat ulah zava tadi.



"Ternyata lo emang benar-benar iblis yah!" Gladys berseru setibanya didepan Kevandra.

"Emang!" jawab pemuda itu santai.

Sikap seperti inilah yang membuat Gladys makin membencinya.



"Sahabat lo lagi diujung nyawa dan bisa-bisanya lo tetap santai berdiri disini, ternyata hati lo benar2 udah mati!"



Kevandra tersenyum tipis mendengar perkataan Gladys.

"Bibir lo sexy juga, pantesan Bajingan sekelas Zava penasaran banget pingin ngerasain!"

Kevandra menyapu bibir sexynya dengan lidahnya, matanya menatap serius pada bibir gadis itu.

"Lo benar2 gila!"

Gadis itupun berlalu menjauh dari Kevandra dengan wajah penuh kekesalan.



"Gue bakal nolongin Chokie, asal lo nyium gue, dibibir!"

Pernyataan Kevandra itu membuat Gladys berbalik dan menatapnya, dilihatnya Kevandra yang terus menyapukan lidah pada bibirnya.

"Di bibir!"katanya lagi.

Gladys tersenyum sinis sambil menggelengkan kepalanya.

"Mimpi!"



Zava terus menindih tubuh Chokie yang mulai melemas, Gladys berdiri disamping Zava yang terus-terusan melayangkan pukulannya pada Wajah Chokie yang penuh darah.

"Cukup Zav, hentikan, gue mohon!" Minta gadis itu pada zava yang menggeleng.

"Siapapun yang udah ikut campur urusan gue harus MATI, termasuk Dia!" tonjokan kembali zava layangkan untuk Chokie.

Gladys putus asa, ia berbalik menatap Kevandra yang berdiri menatapnya dengan senyum menggoda. "Bibir gue masih terbuka buat Lo,"

Kevandra berkata pada Gladys yang menatapnya geram.

Pemuda itu kembali bicara, "Satu ciuman, satu nyawa terselamatkan!"



Gladys menatap Chokie yang mulai kehabisan tenaga, ia tak ingin Chokie kehilangan nyawanya demi menyelamatkannya.

Tak ada cara lain, hanya Kevandra yang memiliki tenaga super untuk menyelamatkan Richi, walaupun Gladys harus merelakan ciuman pertamanya untuk iblis itu.



Kevandra tersenyum tipis ketika mendapati Skype berjalan kearahnya.

"Gimana tawaran gue, gak bejat-bejat amatlah!"

Kevandra menaikkan sebelah alisnya saat Gladys tlah berdiri didepannya.

"Lo emang bajingan, Kevandra, i Hate You!"

Gadis itu mengatur nafasnya pelan, menutup matanya sebentar, kemudian berjinjit untuk meraih tengkuk Kevandra, dan menciumnya.

Kevandra tak tinggal diam, pemuda itu membalas ciuman Gladys dengan mesrah, tangannya meremas tengkuk gadis itu yang dihiasi rambut panjangnya.

Gladys mencoba melepas ciuman itu, tapi Kevandra tak membiarkannya, hingga hitungan kelima Kevandra menjauhkan bibirnya dari bibir Gladys.

Kevandra tersenyum menatap Gladys yang terus2an membasuh bibirnya dengan keduatangannya, mencoba menghilangkan ciuman menjijikan itu.



"I Hate You!" seru Gladys kesal pada Kevandra yang tersenyum, pemuda itu beralih mengelus rambutnya pelan.

"But I love You!"

Katanya dan beralih pergi.

Sesaat hati dingin Gladys terasa begitu hangat, pandangannyapun tak lepas penatap Kevandra yang memulai aksikan.



Kevandra meraih balok kayu disampingnya, berjalan kearah Zava yang terus meninju Chokie.



Bugh..

Kevandra melayangkan balok kayu ditanganny tepat kebelakang kepala zava, satu kali, dua kali, tiga kali, hingga Zava tersungkur ketanah.

Kevandra membuang kayu ditangannya berganti menindih Zava, terus menghantam wajah mesum cowok itu tanpa ampun, apa yang dilakukan Zava pada Chokie, dibalasnya.

"Bangsat, F*ck lo Kevandra!" teriak Zava keras, sekeras itupula Kevandra menghantamnya.



Zava akhirnya tak sadarkan diri, begitupun Chokie.

Kevandra berdiri dari atas tubuh Zava, dan berlahan menghampiri tubuh sahabatnya yang lemah.

Ditatapnya wajah Chokie yang tadinya putih dan tanpan kini menjadi merah penuh darah dan lembam.

Gladys meletakkan kepala Chokie pada pangkuannya, airmatanya pun mulai menetes.



"Chokie bangun, lo gak boleh pergi, lo harus kuat ky, harus!" Gladys berkata sambil terus membelai lembut rambut hitam Chokie, Kevandra yang terduduk disamping Chokie menatap tajam kearah Gladys. Ia merasakan ada sesuatu dalam tatapan Gladys untuk Chokie.

"Bangun KY, Gue cinta Lo!"



Degh..

Pengakuan singkat Gladys membuat hati Kevandra seketika pupus.

Memang sudah sejak lama, Kevandra jatuh hati pada Gladys, itu alasan Kevandra selalu mengajak Chokie untuk pergi ketempat nista itu setiap malam, tidak lain karne ia ingin memantau Gladys dari jauh.

Tapi ia tak pernah menyangka bahwa cewek yang dicintainya justru mencintai Cokie, sahabatnya.



"Gue cinta Lo,Chokie!" Gladys berkata lagi dengan suaranya yang bergetar.



Kevandra berdiri dan berlahan mundur, ia tak menyadari bahwa Zava tlah berdiri dibelakangnya dengan pisau lipat ditangannya.

Secepat kilat pisau itupun menusuk belakang tubuh Kevandra..

Ia masih bisa berdiri, walau darah mengalir deras dipunggungnya.

Berkali-kali pisau itu menusuknya, "Lo harus Mati, keparat!"

Teriakan Zava membuat Gladys menatap Kevandra dan terkejut.



"Kevandra!"

Ia menjatuhkan pelan wajah Chokie kembali ketanah, lalu menghampiri Kevandra yang mulai terduduk lemah.



"Kevandra, lo harus kuat!" Gladys berjongkok didepan Kevandra yang berlutut.



"Lo gak apa-apa?" tanya Gladys pada Kevandra yang kini tlah berdiri.

Cewek itu ikut berdiri, ditatapnya Kevandra yang tersenyum tipis.



"Lo pikir, gue akan baik2 ajah, setelah orang yang gue cintai, mengatakan cintanya ama sahabat gue didepan gue!" suara Kevandra bergetar, seiring ia menahan sakitnya.

Gladys terdiam mendengar Kevandra yang masih bicara.



"Gladys, gue.. Cinta.. lo.." kata yang tersimpan akhirnya terucap sudah.

Gladys menunduk, berlahan Kevandra berjalan mundur.



"Kevandra, gue.."

"Cukup, gue tau Elo dan semua cewek disana akan jatuh hati pada Chokie sang malaikat bukan gue.. IBLIS!"



Kevandra mengatur nafasnya sesaat, ia kembali bicara. "Gue bakalan pergi dan gue gak akan ganggu hidup lo lagi, Chokie baik dan dia pantas buat Lo!"

Darah itu semakin deras mengalir, baju seragam putihnyapun telah berubah warna.

Gladys maju dan mencoba meraih lengan Kevandra, tapi ditepisnya.

"Kevandra..."

"biarkan gue pergi, gue titip Chokie.."

Cowok itupun berlalu dari hadapan Gladys yang tiba-tiba menitikkan airmatanya.



Kevandra berjalan sempoyongan, menusuri kejamnya dunia.

Beberapa orang menatapnya, ia tak peduli, ia terus melangkah mencari tempat dimana ia bisa menghembuskan nafas terakhirnya.

Sakit dibadannya tak seberapa bila dibandingkan dengan sakit hatinya.

Ini kali pertama ia jatuh cinta dan wuish sakit hatilah yang didapat.

Ia tertawa pada penderitaannya.



Ia tau bagaimana ia harus mati sekarang.

"Terimakasih buat ide Lo, Gladys!"



Satu jam kemudian, sekumpulan manusia berkerumunan, disamping rel kereta.

Mereka melingkari, seseorang yang beberapa detik yang lalu terlindas kereta ekspres.

Cowo SMA Terkapar tak berdaya, darah disekujur tubuhnya, beberapa badan dan wajahnya hancur nyaris tak terkenali.

Seorang pengamen yang berdiri tepat disamping korban mengamati kartu pelajar ditangannya dan ia berusaha mengeja nama yang tercetak disana milik sang korban.



"K..E...V....A...N....D...R...A.."



"Gue sumpahin, lo mati kelindas kereta!"



I turn my head to the east, I don't see nobody by my side

I turn my head to the west, still nobody in sight

So I turn my head to the north, swallow that pill that they call pride

That old me's dead and gone but the new me will be alright



Oh hey, I've been travelin' on this road too long

Just tryin' to find my way back home

But the old me's dead and gone

Dead and gone





THE END ^^

Online Now Icons