My first Gifs :P
Facebook Badge
Jumat, 01 Februari 2013
"The One I Love!" #PART10
LIHAT AKU DISINI, KAU LUKAI HATI DAN PERASAAN INI
TAPI ENTAH MENGAPA, KUBISA MEMBERIKAN MAAF PADAMU
MUNGKIN KARENA..AKU.... BERHARAP KAU DAPAT MENGERTI
CINTAKU
MUNGKIN KARENA..CINTA....PADAMU TULUS DARI DASAR HATIKU
MESKI KAU TERUS SAKITI AKU...CINTA INI AKAN SELALU
MEMEAAFKAN
DAN AKU PERCAYA NANTI ENGKAU... MENGERTI BILA CINTAKU TAK
AKAN MATI..
"KALAU BEGITU, MENIKAHLAH DENGANYA"
kata kata Dyland selalu terliang dipikiran Sassya. jika
saja Sassya bisa ia pasti akan bahagia bila menikah dengan dhariel tp
kenyataannya ia tak bisa berpaling dari Dyland.hanya Dyland, Dyland dan selalu
saja Dyland yg Sassya inginkan.
Sassya membuka pintu mobil silver itu dan berlalu keluar,
Sassya terus saja berjalan tanpa arah menjauhi mobil silver itu. tak beberapa
lama Dyland tiba, dilihatnya Sassya yg tak ada didalam mobil, Dylandpun menatap
sekeliling, ia tak mendapati Sassya diantara beberapa manusia yg berlalu lalang
didepannya.
"dimana dia???" tanya Dyland bingung.
Dyland mengambil hp disaku kemejanya dan segera menelpon Sassya,
tapi beberapa kali ia mencobanya tetap saja tak ada jawaban dari Sassya. ini
kali pertama Sassya tak mengangkat panggilan dari Dyland. apa dia benar benar
marah???
"Gue benci loe Dyland"Sassya berkata pelan
sambil terduduk disebuah cafe dipinggir jakarta. Saaya terus saja menggigit bibir
bawahnya agar ia tak menangis.
"kalau loe ngomongnya pelan, gimana Dyland bisa
dengar, jangankan Dyland angin ajah ga akan bisa dengar apa yg loe katakan
tadi" kata dhariel yg tiba tiba membuat Sassya terkejut.
"kamu tau dari mana aku disini??" dhariel
tersenyum sambil menarik bangku didepan Sassya dan duduk.
"kamu ga sadar kalau dari tadi aku ikutin kamu, aku
tau kamu pasti bertengkar dengan Dyland"
dhariel mengelus rambut hitam Sassya penuh cinta,
ditatapnya Sassya yg kedinginan, dhariel membuka jas hitam yg ia kenakan dan ia
pakaian pada Sassya untuk menutupi gaun pink yg Sassya kenakan. Sassya
tersenyum pada dhariel yg duduk didepannya.
"terimakasih untuk semuanya, kau sangat baik
padaku" dhariel tersenyum mendengar perkataan Sassya.
"tak perlu, aku akan melakukan apapun untuk
kebahagianmu" kata kata dhariel membuat Sassya terharu.
"ikutlah denganku" dhariel berdiri dari
duduknya dan menarik tangan kanan Sassya.
"kemana?"tanya Sassya bingung sambil berdiri
disamping dhariel.
"nanti juga kau akan tau"
dharielpun mengandeng tangan sassa berlalu menjauhi
cafe...
Ternyata dhariel membawa Sassya keatas gedung tertinggi
dijakarta.. dhariel berdiri diatas gedung sambil menatap kebawah, mobil mobil
dan segalanya dibawah sana terlihat bagaikan semut... sangat kecil dan banyak.
Dhariel menatap Sassya yg berdiri disampingnya dengan
wajah sedikit takut membuat dhariel tersenyum tipis.
"kenapa?takut?" tanya dhariel pada Sassya yg
menatapnya.
"ti...tidak" kata Sassya sedikit terbata
membuat dhariel mencubit pelan pipi kanan Sassya.
"kenapa kau mengajakku kesini??"tanya Sassya
pada dhariel y merentangkan kedua tangannya.
"karena aku ingin mengajakmu kesurga" Sassya
tersentak mendengar perkataan dhariel.
"apa??" Sassya menatap dhariel penuh tanda
tanya??
dhariel masih merentangkan tangannya seolah olah ia ingin
terbang.
"ikut gue terjun sya, biar kita mati bareng"
kata dhariel pelan membuat Sassya semakin bingung.
Sassya terus menatap dhariel yg kini menatapnya tajam..
mata coklat itu seolah olah menyimpan sebuah mistery membuat Sassya menundukkan
wajahnya.
dhariel tiba tiba tersenyum tipis sambil mengusap pelan
rambut Sassya.
"kamu benar benar manis jika kebingungan seperti
ini" kata kata dhariel membuat pipi Sassya seketika memerah.
"kamu pikir aku beneran ngajak kamu terjun?, ya
enggaklah sya, aku cuma becanda kenapa kamu anggap serius,
sekarang loe teriak dan bilang kalau loe benci Dyland"
Sassya menatap tak mengerti apa yg dhariel bicarakan.
"bukankah loe ingin Dyland dengar kalau loe benci
dia?" pertanyaan dhariel membuat Sassya mengangguk.
"kalau begitu teriaklah" perintah dhariel
sambil melonggarkan dasi yg ia kenakan.
"apa Dyland akan mendengarnya??" dhariel
mengangguk pengiyakan.
satu dua tiga detik berlalu suara nyaring teriakan Sassyapun
terdengar jelas ditelinga dhariel..
"GUE BENCI LOE, DYLAND, GUE BENCI LOE"
Sassyapun terduduk setelah meneriakkan kata kata itu
diikuti dengan dhariel yg duduk disampingnya.
"much better" kata dhariel sambil kembali
mencubit pipi kanan Sassya membuat Sassya tersenyum lepas.
" gimana, apa sekarang lebih baik?"tanya
dhariel sambil menatap Sassya yg sedang menggenggam hp ditangannya. dan Sassyapun
mengangguk pelan.
"terimakasih, untuk semuanya dhariel"
"mengapa kau mengulangi kata kata itu lagi, aku tak
mau mendengarnya lagi" dhariel berkata sambil menatap keatas langit
langit, tampak beberapa bintang berhampuran indah diatas sana...
Sassya menatap dhariel y asik menatap bintang sesekali
dhariel mengulurkan tangannya keatas untuk sekedar mencoba menggapainya.
"seandainya bintang itu dekat, gue udah ambilin
seratus bintang buat menemani hari hari sepi loe, dan menyuruh mereka untuk
menjadi bodyguard loe jadi kalau Dyland macam macam sama loe, bintang itu yg
akan menyerbu Dyland" kata kata dhariel membuat Sassya tertawa lepas.
"nah gitu dung ketawa, kan cantiknya tambah
kelihatan" kata kata Dyland membuat Sassya salah tingkah.
"dhariel kau sangat baik padaku, seandainya aku
memiliki dua hati aku janji kau yg akan menempati hatiku yg satu lagi" Sassya
berkata pelan pada dhariel yg menatap lurus kedepan.
"tapi sayang hati loe cuma satu dan itu hanya untuk Dyland
seorang" dhariel berkata tanpa menatap Sassya yg mengangguk.
tiba tiba Sassya berdiri dari duduknya" dhariel, aku
ingin ke toilet sebentar, kau akan tetap menungguku disini bukan??"
pertanyaan Sassya membuat dhariel mengangguk.
"apa perlu aku antar??" dhariel menatap Sassya
yg berdiri, dilihatnya Sassya yg menggeleng.
"tak usah, kau tetap saja disini" Sassyapun
berlalu pergi setelah mengucapkan kata kata itu.
Dhariel menatap kesamping, tempat dimana Sassya duduk,
dilihatnya hp Sassya yg tertinggal atau mungkin memang Sassya sengaja
meninggalkan hp itu disana.
Tiba tiba hp Sassya berbunyi, ternyata seseorang
menelponnya, Dhariel mengambil hp disampingnya danmencoba membaca tulisan pada
layar sentuh itu..
"MY B.O.Y, apa dia Dyland??" tanya dhariel
dalam hati..
dhariel menekan tombol hijau yg berarti ia menggangkat
telepon dari Dyland terdengar jelas suara Dyland diseberang telepon.
"Dasar bodoh, mengapa kau meninggalkanku sendiri dan
tak mengangkat telepon dariku, apa kau benar benar marah padaku" dharile
terus saja mendengarkan Dyland yg masih bicara.Dyland tak tau bahwa yg
mengangkat tlp adalah dhariel bukan Sassya.
"sekarang katakan kau dimana, biar aku
menyemputmu?"
"gue dhariel,
Sassya bersama gue sekarang, loe tenang ajah" dharielpun segera menutup
pembicaraan. dhariel menaruh kembali hp Sassya disampingnya, Dhariel menatap Sassya
yg tersenyum sambil berjalan kearahnya.
kini cewe manis itu telah duduk disampingnya dengan dua
botol minuman ditangannya.
"minumlah"Sassya menyodorkan Dhariel minuman
kaleng ditangan kanannya membuat Dhariel tersenyum meraihnya.
"terimakasih" dhariel membuka minuman
ditangannya dan meminumnya tp dhariel berhenti minum dan menatap Sassya yg
kesulitan membuka minuman miliknya. Dhariel menaruh minuman miliknya
disampingnya dan mengambil minuman dari tangan Sassya dan membukanya.
"terimakasih" kata Sassya pada dhariel yg
mengembalikan minuman dalan keadaan terbuka pd Sassya dan dhariel tersenyum
tipis.
"suatu saat nanti akan ada seseorang yg mencintai gue
dengan tulus kan, sya??" pertanyaan dhariel membuat Sassya menatapnya.
"iya, percayalah suatu saat nanti kamu pasti akan
bertemu dengan jodoh kamu, kamu baik dhariel banyak wanita disana yg ingin
menjadi pendampingmu" dhariel tersenyum mendengar perkataan Sassya.
dhariel meraih minuman kaleng disampingnya dan meminumnya.
"apa dia cantik?"tanya Dhariel pada Sassya.
"sangat cantik"
"apa dia pintar??"
Sassya mengangguk.
"apa dia kaya?" kata kata Dhariel membuat Sassya
tersenyum sejenak sebelum kembali menjawab.
"pastinya, yg terpenting dia sangat mencintai kamu
dhariel"
tampak senyum senang diwajah dhariel.. walau hatinya
masih belum bisa menerima prempuan lain selain Sassya... ia mencoba untuk mulai
membuka hatinya.
Dyland terduduk lesu dipinggir mobil silver
miliknya,perasaannya saat ini benar benar hancur.
ia tak menyangka Sassya
meninggalkannya hanya untuk bersama dhariel.. Dyland membuka dasi yg sedaritadi
melekat dilehernya dan membuangnya dengan kesal ke aspal. Dyland menggaruk
garukkan belakang telinga kanannya menandakan ia bingung.. "apa yang harus
gue lakuin sekarang???" pertanyaan itulah yg selalu terliang dipikirannya.
ini kali pertama ia merasakan hatinya benar benar
sakit... sakit ini begitu menusuk hingga ingin sekali rasanya Dyland pergi dari
dunia ini, melupakan segalanya yg telah terjadi
yg hanya membuatnya terluka.
gue kenapa??? bukankah gue Dyland... everything gonna be
ok's???
gue ga boleh lemah hanya karena seorang cewe.. gue hidup
bukan untuk mikirin cewe gue hidup untuk bersenang senang dan menjauh dari yg
namanya patah hati...
gue pasti bisa dan harus bisa ngelupain Sassya, dia bukan
satu satunya alasan gue hidup karena gue hidup, tanpa diapun gue masih bisa
berjalan berlari dan bernafas..
Gue bukan patah hati gue cuma belum bisa nerima Sassya jauh
dari gue, gue bukan lemah gue cuma perlu waktu untuk tegar menghadapi
semuanya...!
hahahaha gue emang bego benar benar bego... gue selalu
ngatain Sassya bodoh padahal gue lebih ga punya otak, sadarlah Dyland, lupakan
segalanya dan kembali pada diri loe yg sesungguhnya, Dyland yg ga pernah peduli
tentang perasaan seseorang, Dyland yg lebih mengutamakan dirinya sendiri, Dyland
yang tak pernah percaya akan cinta dan kasih sayang yg semuanya bullshit....
itu dunia loe yg sesungguhnya bukan yg sekarang loe jalanin... sekarang adalah
lembaran yg dapat dengan mudahnya sobek dan hilang..
bughhhh...
lamunan Dyland bubar saat sebuah mobil hitam menabrak
belakang mobilnya. Dylandpun berdiri dan berjalan kearah mobil yg menabraknya.
"keluar loe, sebelum gue main kekerasan" ancam Dyland
kesal membuat sang pemilik mobil keluar. betapa terkejutnya Dyland mendapati
Mario turun dari mobil hitam itu.
"loe mau mati" ancam Dyland lagi membuat Mario
tersenyum mengejek.
"gue nyariin loe dipesta ternyata loe disini!"
mario berkata sambil menatap Dyland yg menatapnya kesal.
Dyland menatap beberapa anak keluar dari dalam mobil yg
sama dengan Mario.
"urusan kita belum selesai man" mario berkata
lagi pada Dyland yg tersenyum sinis.
"sorry, hari ini gue lagi gak minat bunuh
orang"Dyland menatap plat belakang mobilnya yg sedikit tergores..
tergores????
tiba tiba tampak
sepengetahuan Dyland,Mario mendorong tubuh Dyland hingga terjatuh..
Dyland menatap KESAL mario yg tersenyum sinis dan mencoba
berdiri.
"gimana apa loe masih ga minat bunuh
orang??"pancing rio pada Dyland yg sedang membersihkan noda pada
kemejanya.
"kalu loe mau ribut jangan disini rame,banyak orang,
ikut gue" Dyland berkata sambil melangkahkan kakinya menjauhi jalan besar
yg diikuti mario CS.
Ternyata Dyland menghentikan langkahnya disebuah gang
kecil.. mario dan ketiga temannya menatap sekekliling, tak ada seorangpun
melewati gang sempit itu. Dyland berdiri tepat didepan Mario sementara ketiga
teman mario berdiri melingkari Dyland, membuat Dyland berada ditengah tengah
mereka.
"sekarang lo dan semua curut curut loe boleh mukulin
gue" Dyland berkata sambil membuka kancing kemeja yg ia kenakan.
tanpa perlu waktu lama, Mario dan ketiga temannya
memukuli Dyland..
satu detik, dua detik, tiga detik.... Dyland masih bisa
berdiri, Dyland masih kuat seperti biasanya,tapi dalam hitungan ke delapan Dyland
terjatuh, tubuhnya melemas dan semua organ tubuhnya sulit ia gerakan. Dyland
menutup kedua matanya dan mengepalkan jari jari tangannya mencari tenaga,
biasanya cara itu ampuh untuk melawan saingannya, tapi enath mengapa saat ini
semuanya sia sia, Dyland berusaha dengan kuat mengumpulkan tenaga tapi tetap
saja ia tak mampu.. "Dyland tak mungkin lemah"
seketika Dyland teringat Sassya yg selalu tersenyum
padanya, senyuman manis itu akankah ia temukan lagi setelah ini, kata kata Sassyapun
membuatnya berusaha bertahan.
*suara Sassya dalam pikiran Dyland*
"kau tau bukan kalau
wajahmu sangatlah tampan, tapi seketika
wajahmu akan menjadi sangat jelek jika kau membiarkan wajahmu terluka"
"jika kau terus
seperti ini kau hanya membuat seseorang yg mencintaimu cemas"
"apa kau tak tau aku
menunggumu berjam jam dengan mudahnya kau menyuruhku masuk dan tidur,bagaimana
mungkin aku bisa tertidur pulas jika sampai jam12 malampun kau belum
kembali,kau tak tau betapa aku mencemaskanmu"
"mengapa kau selalu
memanggilku bodoh, aku tidak bodoh justru kau yg bodoh, kau adalah cowo
terbodoh yg pernah aku temui, kau bodoh, bodoh,bodoh,bodoh"
"kau bodoh karena
meninggalkan aku begitu saja disekolah setelah kau bilang cinta padaku,apa kau
tak tau betapa sakitnya aku saat kau berlalu begitu saja dan tak menghiraukan
aku yg terus memanggilmu"
"kau bdodoh
seharusnya kau tetap disana dan menunggu jawaban dariku, jika kau mencintaiku
kau tak akan pernah meninggalkanku"
"kau egois jika kau
menyuruhku untuk menjauhi dhariel,karena dengan bersama dhariel aku menemukan
sebuah kebahagiaan, kau egois jika kau tak memboiarkan aku bahagia"
"kau tau bukan kau
selalu saja mekmbuatku kesal, kau selalu saja memanggilku bodoh, jelek dan
kurus, apa kau pikir aku akan bahagia dengan semua itu"
"tapi dhariel, entah
mengapa saat disisinya aku menemukan sebuah kedamaian, dhariel selalu
mengatakan padaku bahwa aku cantik,aku tau itu hanya sebuah rayuan tapi
setidaknya itu dapat membuatku tersenyum"
Semua kata kata Sassya itu membuat Dyland tak mampu
melawan mario CS Yg terus menghajarnya.
Dyland terdiam lemah seolah kekuatan dalam dirinya hiland
bersama perginya Sassya dari sisinya.
Mario memerintah temannya untuk berhenti memukuli Dyland
karena menurut mario itu telah cukup.
mario beserta ketiga temannya berlalu meninggalkan Dyland
yg terpapar lemah diaspal jalanan.
ini kali pertama seorang troublemaker sekelas Dyland lemah
dan kalah.. sekujur tubuhnya berdarah tapi ia tak peduli, ia mencoba bangun
tapi tak bisa, seluruh organ tubuhnya seolah olah tak lagi bernyawa..
"GUE DYLAND, EVERYTHING GONNA BE OK'S!" kata Dyland
tegar sambil mencoba berdiri, tapi saat ia mampu berdiri kepalanya terasa
sangat pusing, semua yg dilihatnya menjadi kabur dan tiba tiba semuany menjadi
gelap...
Dyland kembali terjatuh, tubuhnya lemas dan tak berdaya..
"G..W...cin..ta...lo..e...bo...doh"
itu kata terakhir yg sempat terucap dari bibir Dyland
sebelum semuanya benar benar gelap.
batin Dyland, setidaknya jika ia benar benar berakhir
hari ini setidaknya kata terakhir yg ia ucapkan adalah Dyland mencintai Sassya,
bukankah itu sudah cukup untuk membuktikan betapa besar cinta Dyland untuk Sassya???
tak akan selamanya tanganku mendekapmu
tak akan selamanya raga ini menjagamu
seperti alunan
detak jantungku tak bertahan melawan waktu
dan semua keindahan yg memudar atau cinta yang telah
hilang...
tak ada yg abadi...tak ada yg abadi...tak ada yg abadi..
biarkan aku bernafas sejenak...
sebelum...hilaaaang.....
tak akan selamanya tanganku mendekapmu
tak akan selamanya raga ini menjagamu
jiwa yg lama segera pergi... bersiaplah para
pengganti...
"The One I Love!" #PART9
Malampun tiba,
dengan gaun pink pemberian Dyland Sassya terus menatap dirinya dicermin panjang
dikamarnya.ia tak sabar menunggu Dyland menjemputnya.
"Dyland pasti terlihat sangat tanpan dengan jas pink
itu!" Sassya mengambil bandana pink diatas meja dan memakaianya, saat ini Sassya
membiarkan rambutnya terurai dengan bandana pink menghiasinya, Sassya juga
mengenakan beberapa aksessoris gelang dan kalung untuk menghiasi tangan dan
lehernya, semua seolah serasi dengan gaun pink panjang tanpa lengan dengan
berapa ukuran dan hiasan kecil dibagian pinggang.
"wahhh kamu cantik banget sya" dari luar kamar
kak sissy menghampiri Sassya sambil menatap Sassya yang tersenyum.
"terimakasih"
"Dyland pasti akan mengatakan hal yang sama dengan
kakak"
Sassya tersenyum, Sassya tak sabar ingin segera bertemu Dyland
dan mendengar Dyland mengatakan cantik padanya bukan bodoh seperti selama ini,
tapi melihat sifat Dyland Sassya tak yakin Dyland akan mengatakan itu.
"oh yach, Dyland udah nunggu kamu dibawah" kak
sissy merapikan sedikit poni Sassya.
"kenapa Dyland tak menelponku?" tanya Sassya
binggung sambil menatap kak sissy yang mengangkat bahunya.
"udah, cepat kamu temui dia, sebelum dia lelah
menunggumu" kak sissy mengambil tas pink dihadapannya dan memberikannya
pada Sassya dan Sassya pun segera berlalu.
Dyland menunggu Sassya disamping pintu pagar rumah Sassya.
saat ini Dyland mengenakan jas pink dengan dalaman kemeja berwarna krem dengan
dasi hitam bergaris krem y menghiasi lehernya yang serasi dengan celana
hitamnya. Dengan cukup gerah Dyland menunggu Sassya yang tak kunjung tiba.
beberapa orang yang lewat memandang Dyland tajam dan ada beberapa orang yang
tersenyum padanya.
Dyland tak begitu suka memakai kemeja ataupun jas, ia
lebih suka memakai pakaian santai seperti kaos dengan celana jins dan jaket
yang menutupi tubuh kekarnya, tapi hari ini Dyland rela mengenakan jas yang
selama ini tak pernah ia kenakan hanya demi Sassya seorang..
"Sassya harus ngebayar semua yang udah gue lakuin
buat dia,ahhhhh jas pink ini udah buat image gue sebagai troublemaker hancur,
liat ajah selesai pesta jas ini bakalan gue bakar!"Dyland melonggarkan
dasinya dengan wajah penuh kekesalan.
tak beberapa lama dengan septu kaca pemberian dhariel Sassya
keluar dari pintu rumahnya, pandangannya langsung tertuju pada Dyland yang
berdiri membelakanginya menghadap jalan. Sassya terus mendekatkan langkahnya
pada Dyland yang sepertinya tak menyadari kedatangannya. Terbesit sebuah
kejailanpun dibenak Sassya saat ini...
"DORRRR" Sassya berkata keras tepat dibelakang
telinga kanan Dyland membuat Dyland terkejut.
Dyland melompat dari tempatnya berdiri kesebelah kanan, Dyland
menatap tajam Sassya yang tertawa lebar.
"apa kau
ingin membunuhku?"Dyland berkata sambil mengelus dadanya, wajahnya tampak
sedikit pucat.
"maaf" Sassya berkata sambil mecoba
menghentikan tawanya tapi ia tak bisa, Sassya terus saja tertawa dihadapan Dyland
yang menatapnya sinis.
"teruslah tertawa dan aku akan menciummu," kata
kata Dyland membuat Sassya seketika menghentikan tawanya. Sassya menatap Dyland
yang berdiri disampingnya.
"mengapa berhenti, aku belum menciummu," Dyland
berkata pada Sassya y menyenggol lengan Dyland membuat Dyland menggeser
tubuhnya sedikit kekiri.
"aku akan membunuhmu jika kau mencoba menciumku!"
Dyland tersenyum mendengar perkataan Sassya.
Dyland menatap Sassya dari bawah hingga atas, untuk
beberapa saat Dyland terhanyut, rambut Sassya yang terurai indah dan make up
tipis yang menghiasi wajahnya membuat hati Dyland benar benar berhenti, ini
kali pertama ia merasakan getaran getaran aneh dalam dirinya... dia benar benar....????
menyadari dirinya ditatap, Sassyapun menjadi salah
tingkah..
"mengapa kau menatapku seperti itu? apa kau juga
ingin mengatakan bahwa aku sangat cantik?" Sassya berkata dengan nada pede
membuat Dyland tertawa lepas.
"mengapa kau tertawa??" tanya Sassya heran
sambil terus menatap Dyland yang tertawa sambil memegangi perutnya.
Sassya yang kesal dengan tawa Dyland yang menurut Sassya
sangat berlebihan mencubit pelan pinggang Dyland membuat tawa Dyland seketika
berhenti.
Dyland menatap Sassya yang cemberut dengan senyum
mengejek.
"siapa yang mengatakan kau cantik??? mereka semua
bohong padamu" Dyland berkata sambil
membenarkan letak jas yang ia kenakan.
"mama, kakak dan adikku yang mengatakan semua itu,
tak mungkin mereka bohong padaku"
"sudah kuduga, kau terlihat sangat jelek dengan gaun
pink ini, tubuh kurusmu semakin terlihat jelas"
Sassya terdiam sambil terus mendengarkan Dyland yang
masih bicara.
"apa keluargamu tak pernah memberimu makan, sehingga
tubuhmu begitu kurus, atau jangan jangan kau menjadi kurus karena memikirkan
ketampananku"
"aku tak terlalu kurus, aku hanya ingin menjaga
tubuhku agar tak gendut" bantah Sassya dengan wajah cemberutnya,Dyland
mendekatkan wajahnya pada wajah Sassya yang tiba tiba memerah.
"walaupun kau kurus, jelek dan bodoh, aku tetap
mecintaimu" Dyland berkata sambil menjauhkan wajahnya dan membelai rambut
hitam Sassya.
seandainya Sassya dapat terbang mungkin saat ini ia
sedang menari nari diudara tapi sayang Sassya membiarkan sayapnya tertinggal
dikamar :P
mereka telah tiba disebuah rumah yang cukup besar. mega
adalah salah satu anak pemilik perusahaan terbesar dijakarta jadi wajar jika
pesta yang diadakanpun cukup meriah..suasana megahnya terlihat jelas dari luar
rumah.... dengan alunan music dan beberapa lilin yang menghiasinya beserta
lampu warna warni yang menggantikan posisi bintang malam ini.
mobil silver Dyland berhenti disudut kanan rumah mega,
beberapa mobil tlah terpakir penuh menghiasi jalan.
"turunlah" Dyland berkata pada Sassya yang mengangguk.
Sassya membuka pintu mobil dan berlalu turun, langkahnya
langsung berjalan ke arah kanan dimana posisi dyand duduk menyetir. Sassya
mengetuk pelan kaca mobil Dyland membuat Dyland segera menurunkan kaca
mobilnya.
"kau tak turun?" tanya Sassya pada Dyland yang
masih terduduk didalam mobil.
"tidak, aku sangat membenci pesta" kata Dyland
dengan nada sedikit pelan.
"masuklah dan akan kujemput kau nanti" kata Dyland
lagi membuat Sassya menunduk.
tanpa banyak kata dan perbuatan ataupun tindakan Dyland
kembali menjalankan mobilnya menjauhi Sassya yang masih berdiri mematung. Sassya
menatap beberapa pasangan berlalu lalang dihadapannya, bergandengan tangan dan
saling bercengkrama terlihat jelas diwajah mereka senyum bahagia.
"kapan Dyland akan bersikap manis dan bersikap
romantis seperti mereka??" batin Sassya.
"Sassya" suara seseorang membuat Sassya
mengalihkan pandangannya kearah suara itu berasal.
"dhariel" kata Sassya mendapati dhariel telah
berdiri dibelakangnya.
Sassya membalikkan badannya agar berpapasan dengan Dyland
ditatapnya viona yg berdiri disamping dhariel.
"mengapa kau tak masuk?"tanya dhariel pada Sassya
yg terdiam. dhariel tersenyum senang mendapati Sassya mengenakan sepatu kaca
pemberiannya.
saat ini dhariel terlihat sangat tampan dengan kemeja
kuning dan jas hitam yg ia kenakan sangatlah serasi dengan viona yg cantik
dengan gaun kuningnya.
viona menatap dhariel yg menatap Sassya penuh arti,
"apa dhariel menyukainya??" batin vionapun bertanya tanya.
"hari ini kau benar benar cantik" kata kata
dhariel membuat Sassya salah tingkah.
dhariel benar benar mengerti apa yang Sassya inginkan,
sebuah rayuan yg akan membuat Sassya terbang bukan seperti Dyland yang selalu
membuatnya kesal. :D
"terima kasih, kau juga sangat tampan dhariel"
balas Sassya membuat dhariel tersenyum riang.
viona menatap tajam keduanya yg saling pandang.
"dhariel sebaiknya kita masuk" viona memulai
bicara membuat dhariel mengangguk.
dhariel menatap Sassya yg tersenyum.
"sebaiknya kau masuk, aku menunggu Dyland
kembali" Sassya berkata menyakinkan dhariel.
walaupun Sassya sendiri tak yakin apakah Dyland akan
kembali padanya??
"baiklah" viona berkata sambil mengandeng
lengan dhariel dan membawa dhariel pergi dari hadapan Sassya.
sesaat dhariel menengok kebelakang menatap Sassya yang
tersenyum sambil mengatakan sesuatu.
"aku akan baik baik saja, percayalah" kata Sassya
sambil menatap dhariel yg kembali menatap kedepan.
Dyland melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi,
beberapa klakson mobil memperingatinya membuatnya menurunkan kecepatan. lampu
merah membuatnya berhenti, Dyland menatap beberapa anak kecil yg sedang
mengamen dipinggir lampu merah,Dyland menyalakan ipod yg ia letakkan sampingnya
dan sebuah lagupun mengiringi perjalanannya.
baby i'm a troublemaker, i heard that you are
heartbereaker 3x
baby i'm a troublemaker..
see i'm that type of guy you won't love
i'm that type of guy you won't cuff
i'm that type of guy you daddy won't let go out
cause he think
i sell drugs
i'm that type of guy that will save yah
i'm that type guy that will call you later
wont be
around to give you that time
gotta get on the grind and
get to that paper that i can do
Dyland kembali menjalankan laju mobilnya yg terhenti
karena lampu merah.. dan kembali ngebut...!!!
dhariel menatap sekeliling pesta, mengapa ia tak melihat Sassya???
apa dia masih diluar???
dhariel melanglkahkan kakinya keluar dilihatnya Sassya
yang masih berdiri ditempat semula. tanpa pikir panjang dharielpun langsung
menghampirinya.
Sassya menghadap kearah jalan sehingga tak menyadari
dhariel dibelakangnya.
"tak seharusnya kau menunggu sesuatu yang kau tau
tak akan kembali" kata kata dhariel yg tiba tiba membuat Sassya terkejut. Sassya
membalikkan badannya dan mendapati dhariel berdiri didepannya.
"dhariel, mengapa kau disini, apa pestanya telah
usai??" Sassya bertanya, yg sebenarnya ia tanyakan untuk mengalihkan
pembicaraan.
"mengapa kau masih disini, masuklah" perintah
dhariel tapi Sassya menggeleng.
"kau saja yang masuk aku akan tetap disini"
"masuklah denganku, Dyland tak akan datang dan kau
tau itu" kata kata dhariel membuat Sassya terdiam.
yah, sebenarnya Sassya tau dan sangat sadar bahwa Dyland
tak akan kembali untuk menemaninya masuk, tapi tak ada salahnya Sassya
berharap.
"masuklah, dan gue yang akan jadi pasangan loe untuk
malam ini" dhariel berkata sambil mengandeng tangan Sassya.
"tapi bagaimana dengan viona?"
"tenanglah, viona cantik bahkan terlalu cantik,
banyak cowo yg bersedia menjadi pasangannya, jadi tenang saja"
Sassya terdiam sejenak sambil menatap wajah tampan
dhariel.
"apa aku harus ikut dengannya??? bagaimana jika
nanti Dyland datang???? tidak!! Dyland tak akan datang, bukankah dia benci
dengan pesta"
"bagaimana??" pertanyaan dhariel membuyarkan
lamunan Sassya.
"baiklah" kata Sassya sambil menatap dhariel
yang tersenyum senang.
dhariel mengandeng Sassya hingga mereka tiba didepan
gerbang, tapi tanpa diduga Dyland datang menghampiri mereka.
"tunggu" teriak Dyland membuat Sassya dan
dhariel menghentikan langkahnya. mereka menatap Dyland y kini telah berada
didepan keduanya.
"selama gue hidup, hanya gue yang pantas menjadi
pasangan Sassya" Dyland berkata sambil melepaskan tangan dhariel yg
memegang tangan Sassya. dhariel menggenggam erat tangan Sassya membuat Dyland
kewalahan memisahkannya.
Dyland terus berusaha menjauhkan tangan dhariel dari
tangan mungil Sassya tapi tetap saja ia tak bisa.
Sassyapun menatap dhariel heran.
"Lepasin tangan loe kalau loe masih ingin
hidup" ancam Dyland berharap dhariel melepas pegangan tangannya pada Sassya
tapi ternyata dhariel malah membawa Sassya pergi dari hadapan Dyland.
"apa kamu mau aku lepasin tangan aku dari kamu
sya??" pertanyaan dhariel membuat Sassya menatapnya yg terus berjalan.
beberapa pengunjung pesta menatap Sassya dan dhariel heran termasuk viona.
Dyland yg saat itu hanya mengenakan kemeja tanpa jas pink yg ia lepaskan saat perjalan
tadi terus menatap Sassya dan dhariel yg semakin menjauh.
"dasar bego, kenapa loe diam ajah Sassya dibawah
pergi dhariel dan membiarkan dhariel menggenggam tangan Sassya, apa loe mau Sassya
jatuh cinta sama dhariel dan berpalih dari loe??. sekarang rebut Sassya dan
bawa dia menjauh dari dhariel sebelum semuanya terlambat" batin Dyland
terus berkata membuat Dyland terdiam.
"kalau loe keberatan, gue bisa anterin loe balik
sama Dyland" dhariel berkata sambil melepaskan pegangan tangannya.
Sassya terdiam untuk beberapa saat, ia benar benar
bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang??? apa ia harus kembali pada Dyland
ataukah tetap bersama dhariel???
"loe ikut gue sya" Dyland berkata sambil
menarik tangan Sassya dan membawanya menjauh dari dhariel yg terdiam.
Dyland menghentikan langkahnya ketika mereka tiba
disamping mobil Dyland.
"dasar bodoh, mengapa kau diam saja saat dhariel
membawamu pergi dariku, bukankah pangeranmu itu aku" Sassya terdiam dan
menunduk sementara Dyland masih saja bicara.
"seharusnya kau menjauhkan tanganmu darinya bukan
hanya diam seperti itu, kau benar benar bodoh"
Sassya masih saja terdiam tak ada satu katapun yg terucap
dari bibir merah mudanya.
Dyland yg masih memegang tangan Sassya menuntun Sassya
masuk kedalam mobil, Dyland membukakan pintu untuk Sassya dan menyuruh Sassya
masuk.
"masuklah" perintah Dyland dan Sassyapun masuk.
Dyland membuka pintu mobil dan duduk disamping Sassya yg masih terdiam,
terdengar suara Dyland menutup pintu mobil. dan merekapun segera berlalu..
sepanjang perjalanan mereka hanya diam diaman... sebelum
sebuah kalimat terlontar dari bibir Dyland.
"sudah berapa kali aku katakan, jauhi dhariel jika
kau masih ingin aku bersamamu,tapi jika kau tak ingin lagi disisiku katakanlah
aku akan pergi dari hidupmu" Dyland berkata tanpa menoleh keSassya yg
menatapnya tajam.
Dyland terus saja fokus pada setir didepannya.
"aku dan dhariel hanya bersahabat tidak lebih, apa
itu salah??"
"tidak, tapi kau tau bukan bahwa dia
menyukaimu??"
"aku tau, tapi aku tak pernah mencintainya"
kata kata Sassya membuat dylan meminggirkan mobilnya dan berhenti.
"kau egois Dyland"kata Sassya pelan membuat Dyland
menatapnya tajam.
"apa?"
"kau egois jika kau menyuruhku untuk menjauhi
dhariel, kau tau mengapa??"
Dyland menggeleng.
"karena dengan bersama dhariel aku menemukan
kebahagiaan, kau egois jika kau tak membiarkan aku bahagia"
" jadi selama bersamaku, kau tak pernah
bahagia??" tanya Dyland kesal.
"kau tau bukan, kau selalu saja membuatku kesal, kau
selalu memanggilku bodoh, jelek dan kurus apa kau pikir aku akan bahagia dengan
semua itu??" Dyland terdiam mendengar setiap kata yg Sassya ucapkan.
"tapi dhariel, entah mengapa saat aku disisinya aku
menemukan sebuahkedamaian, dhariel selalu mengatakan padaku bahwa aku
cantik,aku tau itu hanya sebuah rayuan tp setidaknya itu dapat membuatku
tersenyum"
"KALAU BEGITU MENIKAHLAH DENGANNYA!" teriak Dyland
keras sambil membuka pintu mobil dan berlalu keluar.
Sassya yg masih terduduk didalam mobil hanya bisa terdiam
dan terdiam...
"The One,I Love!" #PART8
Mereka pun tiba dimall, satu jam sudah mereka memutari
mall tapi tak ada satu gaunpun yang menarik perhatian Sasya, dan itu membuat Dyland
sedikit kesal.
Tiba2 Sasya menghentikan langkahnya sambil menatap gaun
pink didepannya.
"Dyland gaun ini bagus banget!" kata Sasya
sumringah sambil memegang sisi pinggang gaun pink itu.
"akhirnya,ayo bayar!"
Dyland berkata sambil menarik tangan Sasya tp Sasya tak
bergerak masih menatap gaun pink didepannya.
"ada apa lagi?" tanya Dyland sambil berdiri
disamping Sasya.
"aku beli gaun ini tapi kamu beli jas ini juga."
Kali ini Sasya berkata sambil memegang jas pink disamping
gaun pink didepannya.
"tidak, aku tak akan membelinya"
Perkataan Dyland membuat Sasya kecewa.
"kau tau aku tak mungkin mengenakan jas pink itu
untuk pesta besok malam, apa kata mereka jika seorang troublemaker sepertiku
mengenakan jas berwarna pink, apa kau ingin membuatku malu?"
Dyland berkata sambil menatap Sasya yg terdiam.
"mengapa kau tak mengatakan sesuatu?"
Pertanyaan Dyland membuat Sasya menatapnya.
"ya sudah, kalau memang kau tak mau membelinya, aku
tak akan pergi kepesta dgnmu"
Kata Sasya kesal sambil melepas pegangan tangan Dyland.
"baiklah, kalau itu maumu, tak ada pesta besok
malam"
Dyland berkata dan berlalu pergi.
"dasar cowo egois, sampai kapan kamu seperti ini
padaku?" kata Sasya kesal dalam hati sambil terus menatap gaun pink
didepannya.
Dyland menghentikan langkahnya dan menatap tangan
kanannya yg ternyata tak lagi menggandeng Sasya, dylanpun membalikkan tubuhnya
dan menatap Sasya yg masih berdiri memandang gaun mahal itu.
"apa kau benar2 menginginkannya?" tanya Dyland
dalam hati sambil melangkahkan kakinya mendekati Sasya.
"aku lapar, temani aku makan" Dyland berkata
sambil meraih tangan Sasya membuat Sasya terkejut...
"tuhan,mengapa saat dia menggenggam tanganku seperti
ini, semua kesal dihatiku hilang? Apa itu pertanda bahwa aku tak mampu
membencinya?"
Akhirnya mereka tiba disebuah tempat makan didalam mall, Sasya
duduk didepan Dyland y lebih dulu duduk.
"mengapa kau duduk, berdiri dan belikan aku sesuatu
untuk kumakan"
Kata2 Dyland membuat Sasya cemberut.
"biasanya cowo yg melakukan itu, berdiri dan belikan
aku bakso"
Kata Sasya sambil menatap Dyland yg mengeluarkan HP dari
saku seragamnya.
"kau menyuruhku?" tanya Dyland sambil menatap Sasya
yg mengangguk.
Sasya menatap meja didepannya, dimana seorang cowo
membawakan makanan dan minuman untuk pacarnya, dan mereka tampak sangat
serasi..
Dyland menatap kearah yg sama dgn Sasya.
"kau ingin aku melakukan itu?"
Sasya mengangguk.
"ga akan pernah" kata Dyland membuat Sasya
cemberut..
"Dyland"panggil Sasya pada Dyland yg asik dgn
hp ditangannya.
"apa?"
"jadilah pangeran untukku selamanya"
Kata2 Sasya membuat Dyland menatapnya.
"apa kau berkata seperti itu, agar aku berbaik hati
dan mau mengambilkan makanan untukmu, tidak akan, kau bi..."
Belum selesai Dyland bicara telunjuk Sasya menyentuh
bibirnya seketika itupun Dyland terdiam.
"i love you, Dyland"
Kata Sasya sambil menatap mata elang Dyland.
Dyland menjauhkan tangan Sasya dari bibirnya.
"i love you too, bodoh"
Perkataan Dyland membuat Sasya tersenyum.
Kini Sasya sadar betapa Dyland sangat berarti untuknya
walaupun Dyland tak pernah bisa bersikap romantis seperti ingin Sasya.
Tpi bagi Sasya Dyland adalah segalanya.
Akhirnya Dyland dan Sasya tiba didepan rumah Sasya.
"masuklah" perintah Dyland pada Sasya yg
berdiri didepannya.
Dan Sasya hanyamengangguk.
"aku akan pergi sebentar"
Perkataan Dyland membuat Sasya menatapnya.
"kemana? Apa kau ingin berkelahi lagi dgn rio"
Kata Sasya dgn wajah sedikit cemas.
"apa kau mencemaskanku, bodoh?"
Tanya Dyland pada Sasya yg menggeleng.
"tidak, aku tak mencemaskanmu, untuk apa? Kau bukan
pacarku"
Kata2 Sasya membuat Dyland tersenyum.
"dasar bodoh, aku memang bukan pacarmu, tapi
bukankah aku pangeran untukmu"
Sasya terdiam sambil terus menatap Dyland yg masih
bicara.
Kini Dyland mencoba membungkukkan sedikit tubuhnya hingga
sejajar dgn Sasya.
Dyland mendekatkan wajahnya pada wajah Sasya yg memerah.
"dengarkan aku, sudah berapa kali aku bilang tau
usah kau mencemaskanku, karena itu hanya membuat tubuhmu semakin kurus" Dyland
berkata sambil menaikkan kembali tubuhnya.
"cepatlah masuk, akan kuhubungi kau jika aku
kembali"
Kata Dyland sambil menatap Sasya yg mengangguk.
"Dyland"
"apa?"
"hati-hati"
Kata Sasya pelan membuat Dyland tersenyum.
"i'm Dyland everything is gonna be ok's"
Kini Sasya yg tersenyum mendengar perkataan Dyland.
"tapi tunggu kau tak ingin menciumku, kurasa pipiku
ini pantas menerimanya"
Dyland berkata sambil mengelus pipi kanannya.
"apa? Aku tak akan menciummu sebelum kau resmi
menjadi suamiku"
"tapi aku pangeranmu bukan?"
"iya kau pangeranku, tp aku tak akan menciummu
sekarang"
"lalu kapan?"
"nanti, setelah kau berubah menjadi pawor rangers
hahaha"
Sasya berkata sambil tertawa tapi kembali terdiam
mendapati Dyland menatapnya aneh sambil menggeleng2kan kepalanya.
"sudah,pergilah aku lelah"
Sasya berkata mencoba menghilangkan kebekuan.
"kau benar2 tak sopan mengusir pangeran setampan
aku"
Kata Dyland PD membuat Sasya tertawa lepas.
Tapi tawa Sasya terhenti seketika ketika Dyland mencium
pipi kanan Sasya.
"selamat sore permaisuriku"
Dylandpun menjauhkan bibirnya dari pipi mulus Sasya
membuat Sasya terdiam.
Sasya menjatuhkan badanNya duduk dibangku panjang diruang
keluarga.
Dgn wajah ceria Sasya terus membelai pipi kanannya.
Ciuman Dyland membuat Sasya tersenyum2 sendiri, beruntung
tak ada orang dirumahnya kalau tidak ia bisa disangka gila..
Suara tlp rumah membuyarkan lamunan Sasya.
"hallo" sapa Sasya sambil mendekatkan gagang
tlp ketelinga kirinya.
Kebetulan letak tlp tepat disamping Sasya.
"hallo, bisa bicara dgn Sasya" tanya seseorang
dari balik tlp.
"aku Sasya, kamu.."
"aku dhariel"
"dari mana kau dapatkan no tlp rumahku?"
"itu tak penting, aku hanya ingin memastikan kau
datang kepesta besok''
"maaf dhariel sepertinya aku tak bisa datang"
"mengapa apakah ada masalah yg cukup serius sehingga
membuatmu tak bisa hadir besok?"
"tidak, ini hanya masalah gaun, aku tak mungkin
pergi tanpa gaun pink itu"
"gaun pink?"
Sasyapun menceritakan semuanya pada dhariel, entah
mengapa Sasya benar2 menginginkan gaun pink itu??
*dhariel
"kau benar2 bodoh Dyland, apa susahnya berkorban
sedikit demi cinta, bukankah kebahagian Sasya adalah segalanya"
Dhariel berkata sambil menatap langit2 kamarnya.
"kalau kau tak mau membelikan gaun itu untuk Sasya
aku yg akan membelikanya dan aku akan menjadi pangeran untuk Sasya"
Dhariel berkata sambil meraih jaket disampingnya dan
berlalu pergi.
Malam tlah tiba, Sasya yg berada dikamar terus menatap hp
ditangannya.
"mengapa Dyland tak menghubungiku, apa dia belum
kembali?" Sasya berkata sambil menatap keluar jendela.
Hari tlah menjelang malam tapi mengapa Dyland belum juga
kembali?
Suara seseorang mengetuk pintu membuyarkan lamunan Sasya.
"kakak" Sasya berkata sambil menatap kak sisyi
y berdiri didepan pintu kamarnya.
Kak sisy membawa sebuah kotak besar ditangannya dan
diberikan pada Sasya.
"tadi ada seseorang y memberikan ini, katanya
pangeran kamu y mengirimi ini untuk kamu"
Kak sissy berkata sambil menaruh kotak besar itu diatas
ranjang milik Sassya dan pergi.
"pangeranku? Apa dia Dyland?" tanya Sasya
sambil membuka kotak besar itu.
Betapa terkejutnya ia mendapati sebuah gaun indah pink y
ia inginkan didalamnya.
"gauN ini"
Kata Sasya sambil mengambil sebuah kartu disela2 gaun
pink itu.
Sasyapun membuka kartu itu dan membacanya.
"datanglah kepesta dgnku besok"
"Pangeranmu *D*"
Sasya terus menatap gaun pink ditangannya... ia bener
bener belum percaya bahwa ia akan memiliki gaun seindah itu.
pandangan Sasya langsung beralih pada tirai kamar Dyland
yang terbuka tapi Sasya tak mendapati Dyland disana.
ditaruhnya gaun pink di atas ranjang dan Sasya beralih
keluar kamar.
"dimana dia, seharusnya Dyland menelponku, apa dia
belum kembali??" tanya Sasya dalam hati sambil berjalan keruang tamu
dilantai bawah. Sasya menuruni tangga tapi langkahnya terhenti ketika kak sissy
memanggilnya dari kamar.
"sa, ada
telpon buat kamu" katanya sambil menampakkan kepala keluar pintu kamar.
"baiklah, aku
akan mengangkatnya di bawah" kata Sasya dan berlalu pergi ke ruang tengah.
Sasya menarik gagang telpon dan mendekatkannya ketelinga
kanannya.
"hallo"
kata Sasya sambil menunggu suara sahutan dari seberang telepon.
"hii"
"dhariel?"
"yepz, ini
aku, apa kamu udah terima hadiah dari aku??"
pertanyaan dhariel membuat Sasya berpikir sejenak
"hadiah??? apa gaun pink itu dari dhariel???"
"hallo, apa hadiah aku telah sampai
dirumahmu??"tanyanya lagi.
"iya,
terimakasih"
"apa kau
menyukainya??"
"tentu"
"maaf jika
ukurannya tak pas dengan kakimu?"
"kakiku???"
tanya Sasya heran sambil membawa gagang telepon
kekamarnya dilantai dua.
"ya, aku tak
tau berapa ukuran kakimu, jd aku hanya mengira ngira, jadi maaf jika
kekecilan"
Sasya benar benar tak mengerti apa yang sedang
dibicarakan dhariel, apa hubungannya gaun dengan ukuran kaki???
Sasya telah tiba
dikamarnya dengan telepon masih ditangannya.
"kak ada hadiah lagi" kali ini sammy adik Sasya
berkata sambil membawa sebuah kotak ditangannya dan ditaruhnya di atas ranjang
disamping gaun pink. dan sammy berlalu pergi.
"sebentar" Sasya berkata sambil
menaruh telepon diatas ranjang dan meraih hadiah dan membukanya.
"sepatu
kaca??"
Sasyapun langsung mengangkat kembali gagang telpon dan
didekatkan ketelinganya.
"kau
mengirimiku sepatu??" tanya Sasya.
"iya, apa kau
menyukainya??? aku harap sepatu kaca itu akan kau pakai kepesta besok beserta
gaun pink favoritemu"
katakata dhariel membuat Sasya menatap sepatu kaca
ditangan kirinya. sepatu ini sangat indah, pasti harganya sangat mahal, mengapa
dhariel memberiku hadiah semahal ini??
akhirnya Sasya dan dhariel menutup pembicaraan mereka di
telepon. Sassya menatap gaun pink ditangan kanannya dan sepatu kaca ditangan
kirinya bergantian.
"jika sepatu kaca ini dari dhariel, lalu siapa yang
mengirimiku gaun pink ini??"
tibatiba Sasya mendengar ponselnya berdering. dan
ternyata Dyland yang menelponnya.
pembicaraan Sassya dan Dyland lewat telepon.
"Dyland??"
"apa kau
sudah menerima gaun yang kukirim untukmu?"
"jadi gaun
ini darimu??"
"dasar bodoh,
apa kau tidak membaca, jelas jelas dikartu itu tertulis dari pangeranmu, apa
kau memiliki pangeran selain aku, huh?"
"tidak, hanya
kau pangeranku"
"lalu mengapa
kau menanyakan hal itu padaku?"
"...."
"sudahlah,
pergilah kepesta denganku besok"
"tapi.."
"tenang, aku
akan mengenakan jas pink seperti inginmu"
"tapi..."
tuuuttttt tuuuuttttt tuuuutttt sambungan terputus....
Sasya tersenyum senang sambil terus menatap gaun pink
didepannya.. dan ia tak sabar ingin cepat hari berlalu.
* Dyland*
Dyland menutup tirai kamarnya tapi ia terdiam sejenak
sambil memperhatikan Sassya yang sedang tersenyum senang sambil memegang gaun
pink darinya.
"kau benar2 bodoh, mengapa kau sebahagia itu hanya
karena sebuah gaun bagaimana jika aku memberimu sebuah bintang nanti??" Dyland
berkata sambil menutup tirai kamarnya.
Dyland merebahkan badannya di ranjang sambil menatap
langit langit kamarnya, tiba tiba Dyland teringat sesuatu yang terjadi tadi
sore..
flashback onn
"mbak, maaf gaun yang disini mana yach?"
tanya Dyland ketika sampai didepan gaun pink yg Sasya inginkan. tapi Dyland tak
mendapati gaun dan jas itu disana.
"maaf dek,
gaun sama jasnya baru ajah dibeli orang"
prempuan penjaga toko itu berkata sambil berdiri disamping dylaand.
"apa tidak
ada lagi gaun yang seperti itu??" pertanyaan Dyland membuat penjaga toko itu
menggeleng.
hmmmm sekarang
apa yang harus gue lakukan????
"Dyland"
sapa seseorang membuat Dyland mengalihkan pandangannya kearah suara itu.
dilihatnya dhariel yang sedang berdiri di depannya sambil memegang gaun pink
yang Sassya inginkan.
"dhariel"
"gue yakin
loe pasti kesini"
"maksud
loe?"
"nih,
kalau gue kurang cepat gaun ini udah dibeli orang " dhariel berkata sambil
memberikan Dyland gaun pink yang dipegangnya.
" gue tau Sasya
sangat menginginkan gaun ini, sebenarnya gue mau kasih gaun ini langsung sama Sasya
tapi gue sadar Sasya hanya ingin loe yang kasih gaun ini kedia"
dhariel berkata sambil terus mengulurkan gaun pink
kearah Dyland yang enggan mengambilnya.
"ambillah,
dan loe kesini rencananya mau membeli gaun ini bukan??"
tanya dhariel pada Dyland yang menatapnya tajam.
"gaun itu udah loe beli, jadi gaun itu sekarang
milik loe"
'kata siapa gue
udah membelinya, gue hanya megang gaun ini dan menunggu loe datang untuk
membelinya"
dhariel berkata sambil meletakkan gaun pink ditangan
kanan Dyland.
"ambillah,
dan bayarlah sebelum aku memberikannya untuk orang lain yang ingin
membelinya"
kata kata dhariel membuat Dyland menatap gaun pink
ditangannya.
"kenapa
loe melakukan ini untuk gue??" pertanyaan Dyland membuat dhariel
tersenyum.
"gue
melakukan semua ini bukan karena loe tapi karena Sassya, gue ga' bisa
melihatnya sedih"
kata kata dhariel membuat Dyland terdiam.
" cepatlah
bayar, aku juga ingin membelikan sesuatu
untuk Sassya" dhariel berkata sambil menggeser sedikit tubuhnya
karena ada beberapa orang yang melewati mereka.
"tapi loe
harus janji gak akan membuang atau merusak hadiah yang akan gue berikan padanya
nanti"
kata kata dhariel membuat Dyland tersenyum sinis.
"jelas aja
gue akan merusak hadiah yg loe kasih, cuma gue yang pantas memberikan Sassya
hadiah, bukan loe playboy"
"jadi loe
masih menganggap gue playboy??"
"bukankah
dari dulu loe emang gak pernah serius tentang cinta?"
Dyland berkata pada dhariel yang tersenyum.
"sudahlah,
gue pergi, Sassya nunggu gue menelponnya" Dyland berkata sambil berlalu
meninggalkan dhariel yang masih menatapnya.
tak beberapa lama Dyland telah selesai mengantri
membayar gaun plus jas pink dan
melangkahkan kakinya mendekakti kios sepatu. dilhatnya dhariel yang sedang
mencari sepatu.sepertinya dhariel kesulitan mencari sepatu ukuran Sassya dgn
langkah pelan Dyland menggampiri dhariel dan berdiri tepat dibelakang dhariel
yg tak menyadari kehadirannya. Dyland mendekatkan wajahnya pada kuping kanan
dhariel dan membisikkan sesuatu.
"38" Dyland
pun berlalu pergi setelah ia mengucapkan itu. dhariel tersenyum sambil terus
memperhatikan Dyland yang telah hilang dari pandangannya.
flashback OFF
***
keesokan paginya.... matahari telah menampakkan sinarnya,
cahayanya masuk melalui celah celah kamar Sassya. hari ini adalah hari libur
jds Sassya tak perlu khawatir telat berangkat sekolah. Sassya membuka matanya
berlahan sambil menatap jam disampingnya...
Sassya segera bangun daN berlalu masuk kamar mandi tak
beberapa lama Sassya keluar sambil menyusapkan handuk diwajahnya.
"sebaiknya, aku menelpon Dyland" Sassya berkata
sambil berjalan lurus kekamarnya.
diraihnya hp disamping tempat tidurnya dan menekan tombol
pada layar sentuh itu.. tak beberapa lama terdengar suara seseorang dari
seberang telpon.
"ada apa?
mengapa kau menelponku, apa kau tak tau jam berapa sekarang?" Dyland
berkata kesal dari seberang telepon.
"maaf, apa
aku mengganggu tidurmu??" Sassya terduduk disamping jendela kamarnya
dilihatnya tirai kamar Dyland yang masih tertutup.
"jelas saja
kau mengganggu tidurku, bodoh"
"maaf, kalau
begitu kembalilah tidur aku tak akan mengganggumu lagi"
"dasar bodoh,
apa kau pikir aku bisa tertidur setelah kau membangunkanku"
Sassya terdiam,
dilihatnya Dyland yang sedang membuka tirai kamarnya, Sassya tersenyum sambil
terus memperhatikan Dyland yang berdiri didepan jendela. sesekali Dyland
menggaruk garuk kepalanya sambil menatap kearahnya.
"sejak kapan
kau disana?" tanya Dyland sambil duduk disamping jendela.
"baru saja,
bagaimana tidurmu, apa nyenyak?" tanya Sassya masih dengan tlp
ditanggannya.
"nyenyak pada
awalnya sebelum seorang nenek sihir membangunkan tidurku"
Dyland berkata sambil menatap Sassya yang cemberut.
"kau,memanggilku nenek sihir??"
tanya Sassya pada Dyland yang berdiri.
"kau lebih
jelek dari seorang nenek sihir yang pernah kutemui"
"lalu mengapa
kau menyukaiku??"
"entahlah,
aku curiga kau menyihirku agar aku menyukaimu"
kata kata Dyland membuat Sassya berdiri, Sassya menatap Dyland
yang tersenyum tipis. hatinyapun langsung bertanya2 "tuhan, mengapa aku
begitu mencintainya? padahal ia selalu saja menghinaku?"
Langganan:
Postingan (Atom)


