Facebook Badge

Selasa, 12 Juni 2012

"Karena Gue Suka Lo" #CERPEN

jam masih menunjukkan pukul 6 pagi, dengan mengenakan seragam sekolah, cinta mendekati cermin di samping meja belajarnya, sambil terus merapikan rambutnya yang tak begitu panjang. hari ini adalah hari pertama cinta menginjakkan kaki di sma terfavorite di jakarta, cinta ikut sang ayah yang di tugaskan di jakarta dan itu membuatnya harus pindah sekolah. di tengah semester seperti sekarang tak banyak sekolah yang bersedia menerima siswi baru tapi beruntung salah satu sekolah swasta di jakarta masih bersedia menerima cinta. dengan sedikit resah cinta melangkahkan kakinya menjauhi kamar dan berjalan menuju ruang tengah, nampak ayahnya yang sedang bersiap2 berangkat.



akhirnya cinta sampai juga di sma barunya, di tatapnya sekeliling semuanya tampak begitu asing.

beberapa murid berlalu lalang di depannya tapi tak ada satu pun yang menyapanya. dan pandangan cintapun tertuju pada seorang cowo berseragam sekolah yang sedang duduk di pojok lapangan sambil membaca sebuah buku di tangannya.

langkahnya pun terhenti ketika ia tiba di depan cowo cool itu.

"hai...." sapa cinta diiringi dengan senyum manisnya, tpi tak ada respon dari cowo bernama raymond itu.

"sorry, kantor kepala sekolah di mana yach?"tanya cinta sambil menatap raymond yang asik dengan buku di tangannya.

"di sana" jawab raymond singkat.

"di sana itu di mana yach?"

"di samping ruang guru"raymond berkata tanpa menatap cinta

"trus ruang guru itu di mana?"

pertanyaan cinta itupun membuat raymond menutup buku yang di bacanya dan menaruhnya di atas bangku panjang dan raymond pun berdiri tepat di depan cinta.

terlihat jelas seketika berbandingan antara tubuh cinta yang mungil setara dengan dada bidang raymond sang kapten basket sekolah itu.raymond segera mendekatkan wajahnya ke telinga kanan cinta sambil menundukkan badannya tercium jelas aroma harum tubuh raymond saat itu, dan raymondpun seraya berkata

"kamu lurus ajach nanti di samping tangga ada perpustakaan dan di samping perpustakaan ada ruang guru nah kantor kepala sekolah itu tepat di samping kiri ruang guru"

pandangan cinta ke raymond membuatnya tak menghiraukan apa yang di bicarakan raymond. dan sepertinya cinta telah jatuh cinta pada cowo atletis itu.

"faham" raymond berkata sambil menaikan bahunya dan kembali duduk di bangku panjang dan cintapun hanya mengangguk cepat.

"aduh... tadi dia ngomong apa???" tanya cinta dalam hati sambil mengaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tak gatal.



"thx yah" kata itupun keluar dari bibir cinta setelah seseorang mengantarnya tepat ke depan kantor kepala sekolah.dan tanpa perlu waktu lama cintapun mengetuk pintu itu, terdengar suara dari dalam yang menyuruhnya masuk dan cintapun segera melangkahkan kakinya memasuki ruang percat putih itu.



~~~~****~~~~



"what up's dude?" sapa kevin sambil duduk di samping kiri raymond dan raymod hanya membalasnya dengan senyuman tipis.

kevin menatap sekeliling seolah olah menandakan bahwa ia sedang mencari seseorang. dan pertanyaanpun terlontar dari bibir raymond ketika melihat sahabatnya salah tinggah seperti itu.

"knp loe?" pertanyaan raymond itu membuat kevin menatapnya.

"gw lagi nyari seseorang mon"

"siapa??"

"tetangga gw hari ini jadi murid baru di sini, tpi dari tadi kenapa gw belum ketemu dia" kevin berkata sambil mengalihkan pandangannya ke depan.

"cewe?"tanya raymond singkat

"iya"

"rambutnya sebahu?"

"yepz"

"kulitnya putih?"

"betul"

"dan suka banget warna pink?"

" rite.. wait the minute.." kata kevin sedikit bingung sambil menatap sahabatnya yang juga menatapnya.

"kamu tau semua itu dari mana?".."oh.. don't say kamu punya indra ke enam"

raymond hanya tersenyum tipis sambil terus mendengarkan sahabatnya yang masih bicara.

"aku udah kenal sama kamu lebih dari 10 thn, tpi kenapa baru sekarang aku tau klw kamu punya indra ke enam" tanpak kekecewaan di wajah kevin saat itu.

"aku ga punya indra ke enam kevin, tdi ada cewe yang nanya sama aku di mana kantor kepala sekolah,dan sepertinya dia baru di sekolah ini"

"ohhh" perkataan raymond tadipun membuat kevin sedikit lega.

raymond dan kevin adalah dua sahabat sejati tak terpisahkan. mereka selalu melakukan segalanya berdua. kevin adalah tipe cowo yang energic dan playboy sementara raymond adalah tipe cowo cool yang hobi maen basket dan selalu canggung dengan yang namanya "cewe". kesendirian raymond membuat kevin selalu berusaha mengenalkan raymon dgn semua cewe yang di kenalnya agar raymond jatuhcinta tp semua usaha kevin sia2.. tetap saja hati raymond masih belum bisa menerima kehadiran seorang prempuan. dan kevin pun berencana mengenalkan raymond dengan cinta sahabat kecilnya.



~~~~****~~~~

jam istirahat telah tiba, beberapa muridpun berhamburan keluar kelas, tak terkecuali kevin dan cinta.

"kamu mau bawa aku ke mana vin?" tanya cinta sambill menatap kevin yang terus menggenggam tangannya sepanjang perjalanan.

"aku mau kenalin kamu sama seseorang" jawab kevin diiringi dengan senyum manisnya.

dan merekapun tiba di kantin sekolah. langkah merekapun terhenti tepat di depan raymond yang sedang menikmati just favoritenya.

"cinta, raymon"..."raymond,cinta" kevin berkata mengenalkan keduanya yang saling menatap.

"hai"sapa cinta singkat dan seperti biasa raymond menjawabnya dengan senyuman tipis.

kevin duduk di samping raymond sementara cinta duduk di depan raymond dan kevin tp belum sampai lima menit kevin berdiri dari duduknya.

"sorry, gw lupa ada janji ma anak futsall, kalian gw tinggal bentar yach"kevinpun melangkahkan kakinya menjauhi keduanya setelah kata2 itu ia lontarkan dan kini hanya tanpak raymond dan di cinta di meja itu.



10 menit telah berlalu tapi keduanya masih terlihat cangguh, sikap raymond yang acuh tak mudah baginya untuk bertanya dengan seseorang terlebih dengan seorang cewe seperti cinta. dan cintapun tak mungkin bicara sebelum raymond memulai pembicaraan.

tak beberapa lama terdengar bunyi sms dari hp raymond, raymondpun mengambil hp dari saku seragamnya dan membaca sms yang tertera di hp miliknya



dasar cowo angkuh... cinta jangan loe diamin ajach.. say someting >,

kevin



raymond menutup hpnya setelah ia membaca sms dari kevin yang ternyata berdiri tak jauh dari mereka.

raymond menarik nafas panjang2 sebelum sebuah kata terlontar dari bibir sexynya.

"kamu udah lama kenal kevin?" pertanyaan raymond itu membuat cinta yang tadi sedang mengutak ngatik hp menatap raymond seketika.

"iya, klw kamu?"tanya cinta balik

"aku dan kevin bersahabat lebih dari sepuluh tahun"

cinta terus menatap raymon y masih bicara.....

"kevin adalah sahabat terbaik y pernah aku miliki"

"aku tau, kevin banyak cerita tentang kamu sama aku, dan kevin sangat mengagumi kamu"

kata cinta di iringi dengan senyum manisnya.

dan tak beberapa lama untuk kedua kalinya hp raymon berdering menandakan sms masuk.



dasar cowo angkuh... kuping gw panas loe omongin terus.. cari topik lain selain ngobrolin gw..

kevin



wajah raymonpun berubah bingung setelah membaca sms kevin.

"kamu kenapa?"naya cinta ketika melihat raymon salah tingkah.

"ga apa2 kok, maaf aku ke kamar kecil dulu" raymon berkata sambil berdiri dan melangkahkan kakinya menjauhi cinta setelah cinta menganggukan kepala.



ternyata langkah raymon tidak mengarah ke kamar kecil melainkan ke arah kevin yang berdiri tak jauh dari kantin.dan langkahnya pun terhenti tepat di depan kevin yang berdiri.

"wha't u want???" ray bertanya sambil menatap kevin yang kali ini mencoba duduk di bangku kosong sampingnya. dan tak ada jawaban dari cowo cancer itu.

"sampai kapan kamu akan ngelakuin semua ini??" lagi lagi pertanyaan raymon tak di jawabnya,dan sekarang ia sibuk dengan hp di tangannya.

"kevin"kata raymon kesal sambil menarik hp dari tangan kevin.

"mon, aku cuma mau kamu......"belum selesai kevin bicara raymon memotong perkataannya

"jatuh cinta dan punya pacar"

kevin mengangguk sambil menatap raymond yang masih berdiri di depannya.

"tapi kamu taukan klw semua usaha kamu ga akan pernah berhasil"

"memang sekarang masih gagal, tapi aku yakin cinta bisa buat kamu jatuh cinta" kevin berkata PD diiringi dengan senyuman khasnya.

"cinta cantik,manis, gaul, energik dan penyayang,serta idaman para cowo, dia akan serasi kalau bersanding sama kamu, raymon"

"kamu selalu kenalin aku dgn beribu cewe, tp kamu ga pernah bertanya sama aku tipe cewe aku seperti apa?" kata 2 raymond membuat kevin memasukan hp ke saku celananya sambil berfikir "bener jg yah"

raymon mencoba duduk di samping kevin dan berkata

"aku ga suka cewe cantik,aku ga suka cewe manis, aku ga suka cewe gaul, aku ga suka cewe energic, dan aku ga suka cewe penyayang, karena gw suka......." belum selesai raymond bicara tibatiba bel masuk berdering. dan kevin masih menunggu lanjutan perkataan raymond tadi.

"karena loe suka??"tanya kevin penasaran.

raymond menarik nafas panjang-panjang lalu berkta: "karena gw suka loe''



**********`````('ب')v`````*********

maaf baru pertama bikin jadi agak sedikit tidak nyambung emang :))

"Gue mirip kakak kelas" #CurCol

Curcol dikit ah..
aku melangkahkan kakiku mendekati gerbang sekolah. Yah mulai saat ini aku akan menjadi murid baru salah satu sma di jakarta. Ku tatap sekelilingku semua tampak asing, begitu banyak siswa siswi berlalu lalang di depanku tp tak ada satu orangpun yg menyapaku.
Aku terus memandang gedung pendidikan itu tapi seketika pandanganku tertuju pada siswa berseragam sekolah y sedang berbincang2 dgn kedua sahabatnya. Ia begitu tanpan dan berwibawa dan sepertinya aku tlah di buatnya jatuh cinta..
Dan Suara bel pun membuyarkan lamunanku..

Singkat cerita..
Sejak pandangan p'tama itu akupun tak lepas menatapnya..
Seminggu sudah aku satu sekolah dgnnya tp hingga saat ini aku tak tau siapa namanya..
Tapi tak apa akupun berusaha untuk mencari tau nama cowo berkulit putih itu.. Dan t'nyata ia b'nama Rio... Dan ia adalah kakak kelasku..


Singkat cerita (lagi)

Saat aku hendak melangkahkan kakiku memasuki kelas, tiba2 kakak kelas (cewe) menghampiriku,,
Ada apakah gerangan...?

"loe adiknya rio yah?"tanya salah satu dari 3 cewe centil itu.
Dan akupun hanya menggeleng.
Lalu salah satu dari merekapun berkata
"kok wajah kalian mirip"

Jrenggg.. Dan akupun pingsan hehehe kidding.
Dan akupun t'senyum lepas :D
Karena ini bukan kali pertama aku mendengarnya. Mungkin sudah ada ribuan org y mengatakan bhw wajahku mirip dgn Rio..


Ga penting emang tapi ini adalah kisah nyata waktu aku smp... Nama di samarkan hehehe.

Senin, 11 Juni 2012

"Good Morning, MR.Simple" #PART3

Dengan langkah tergesa gesa, Bisma menghampiri kedua sahabatnya yg sedang berdiri didepan madding sekolah.

"Huffh” desah Bisma sesampainya didepan Ilham dan Reza yg sedang asik berbincang bincang.

“Pasti begadang lagi,” Reza berkata sambil merangkul lengan Bisma yg masih mengatur nafasnya akibat berlari tadi, Bisma hanya terdiam sementara Ilham hanya tersenyum tipis.

"biasalah anak muda bro,"Bisma berkata sambil membalas rangkulan lengan Reza membuat reza menggeleng gelengkan kepalanya.

Tak beberapa lama tiba Anna dengan langkah goyahnya melewati Bisma,Reza dan Ilham yg menatapnya heran, karena tak biasanya Anna tak menghiraukan mereka.

Rezapun berinisiatif untuk mengikuti langkah Anna yg diikuti oleh Bisma dan Ilham.

Ketiganyapun berjalan disamping anna yg masih diam tak bersuara.

“Anna,lo baik baik ajah kan?”Tanya reza khawatir sambil menatap wajah pucat Anna. Anna hanya mengangguk dan terus berjalan.

“Wajah kamu pucat,apa kamu sakit?” Tanya Ilham yg berjalan disebelah kiri Anna.

“Klw lo sakit,biar kita ijinin sama bu nani,gmn?” Kata bisma membuat Anna menghentikan langkahnya.

Ditatapnya ketiga sahabatnya itu secara bergantian “aku baik baik saja,percayalah,” dengan senyum anna melanjutkan kembali angkahnya meninggalkan Bisma,ilham dan reza yg terdiam.

"dia bak baik ajah bukan,?"tanya Ilham cemas pada Reza yang mengangkat kedua lengannya keatas.





“Aduh,kenapa kepala aku sakit banget,udah beberapa hari terakhir ini kepala aku jadi sering pusing seperti ini” sepanjang koridor sekolah anna terus memijat2 keningnya yg ia rasa sakit. Entah mengapa akhir akhir ini anna merasakan kepalanya sering sakit, tak ada seorangpun yg tau penyakit apa yg ada dlm diri cewe imut itu. AnnA terus melangkahkan kakinya gontai hingga seseorang memanggil namanya.

“Anna,” Anna menghentikan langkahnya dan menatap rafael yg berjalan menghampirinya. Anna dapat melihat jelas senyum yg diberikan rafa untuknya sampai akhirnya Anna merasakan pusing dikepalanya semakin terasa,seketika pandangannya buram dan Annapun terjatuh pingsan dalam pelukan Rafa.

“Anna bangun,”rafa terus menepuk pipi anna dengan cemas, melihat tak ada respon Rafapun langsung menggendong tubuh mungil anna hingga ruang UKS.

"aduh, kecil kecil berat juga lo,An,"





*dikantin sekolah tampak Morgan dan angel yg sedang menikmati sarapan mereka.

“Kenapa gak dimakan?” Tanya Angel sambil menatap Morgn yg terus mengaduk-aduk nasi goreng didepannya.

“Tidak berselera,” kata morgan singkat.

"Ada apa?"Angel menggenggam tangan Morgan yang sedang mengaduk nasi goreng dipring puti itu,membuat morgan terdiam.

"tidak ada,"

"Apa kau masih marah padaku?"

"Tidak, aku telah melupakan semuanya,tenang saja." Morgan mulai menyuapkan sesendok nasi goreng pada Angel yg duduk didepannya, "makanlah."

Tiba tiba Dicky menghampiri Angel dan Morgan dgn nafas tak beraturan.

“Dicky ada apa?” Tanya Angel ketika Dicky tiba didepan mereka.

“Anna pingsan,”perkataan dicky itu membuat Morgan dan Angel terkejut.

“Apa? Lalu dimana anna sekarang?” Tanya angel cemas sambil berdiri dari duduknya.

Dicky mengatur nafasnya sebentar sebelum menjawab pertanyaan Angel “di UKS”





Dengan dicky disampingnya Angel berjalan cepat menuju ruang UKS, Morgan beralasan ada sedikit urusan dan membiarkan Angel lebih dulu melihat keadaan Anna,walau tenang sifatnya tapi dalam hatinya morgan sangat mengkhawatirkan keadaan Anna.

"apa lo benar benar ingin menjauh dari gue An, kalau emang itu bisa membuat kamu bahagia, aku rela menjauh dari kamu, walau berat dan sulit untuk aku lakukan,jujur gue masih bingung tentang prasaan gue sama lo anna, gue sayang sama lo tapi jujur gue gak mau jauh dari lo, didekat lo gue menemukan arti cinta sesungguhnya yg gue masih ragu menemukan jawabanya dalam diri Angel," Morgan melangkahkan kakinya memasuki ruang kesenian, langkahnya langsung tertuju pada gitar dipojokan ruang bercat hijau itu. Morgan mengambilnya dan mulai memainkannya.Sebuah lagupun terlantun indah dar bibir sexynya itu.



bersamamu kulewati lebih dari seribu malam

bersamamu yang kumau, namun kenyataannya tak sejalan

Tuhan bila masih kudiberi kesempatan, ijinkan aku untuk mencintanya

namun bila akuku telah habis dengannya, biar cinta hidup untuk sekali ini saja.



prokk prokk prokk,

Rangga berjalan mendekati morgan yg terduduk dikursi panjang dengan gitar ditangan morgan, morgan menatap rangga tajam yg masih bertepuk tangan.

"Udah, tembak ajah, sebelum semuanya terlambat,"Rangga merangkul lengan Morgan sambil duduk disampingnya, Morgan hanya terdiam tak bersuara.

"jujur gan tentang perasaan lo, bilang kalau lo cinta sama Anna,lebih dari sekedar sahabat, gue tau seberapa besar lo mencintai Anna,"

"bagaimana dengan angel?"

"tenang saja, Angel pasti akan mengerti, terlebih Anna itu adalah adik kandungnya,gue tau Angel sangat mencintai Anna,jika Angel adalah kakak yg baik, ia akan merelakan Anna bahagia dgn lo. "

Morgan terdiam mendengar perkataan angga itu,tapi ada benarnya juga rangga,bagaimanapun morgan harus jujur tentang perasaannya pada Anna sebelum smuanya terlambat.

"Gue cinta lo Anna, gue cinta lo," Morgan berdiri dari duduknya dan memberikan gitar ditangannya pada rangga yg tersenyum.

"Good luck."





Angel dan dicky tiba di Uks, ternyata disana sudah ada Rafa,Bisma,Reza dan ilham yg sama2 mengkhawatirkan keadaan Anna.

“Apa yg terjadi?” Tanya Angel cemas sambil berdiri disamping anna yg tertidur tak sadarkan diri.

“Entahlah,apa anna memiliki suatu penyakit?” Tanya rafa balik pada Angel yg menggeleng.

“Aku gak tau, anna terlalu tertutup denganku,”angel berkata dengan nada sedihnya.

Walaupun Angel tak begitu dekat dgn Anna, tapi dlm hatinya ia tak ingin kehilangan anna, adik yg sangat ia sayangi.

“Anna memang pandai menyimpan rahasia, semua masalah selalu ia tutupi dengan sifatnya yg ceria,tak ada satupun yg tau ada sebuah air mata dibalik senyum cerianya itu”kata2 ilham membuat bisma yg berdiri disampingnya mengangguk.



Suara bel masukpun terdengar.

“Kalian masuk saja biar aku yg menjaga anna di sini,”perkataan rafa membuat Angel menatapnya tajam.

“Percaya sama gue, anna akan baik baik ajah,” rafa menyakinkan membuat Angel tersenyum tipis.

Angel dan semuapun berlalu meninggalkan rafa yg masih setia disamping anna.



Rafa meraih tangan anna dan menggenggamnya erat2, ditatapnya wajah wajah anna yg tertidur pucat. “ Bangun Na, gue tau lo kuat, mana anna yg selalu ceria setiap kali didekat gue dan anna yg selalu manggil gue MR.Laundry,”tanpa disadari mata rafa telah berkaca2.

“Lo harus bangun na, gue janji klw lo bangun gue akan selalu ada disisi lo dan gue akan selalu ngejagain lo, dan gue rela lo panggil gue mr.laundry setiap hari,tapi lo harus bangun gue sayang lo anna, gue cinta lo.”

Genggaman tangann rafa semakin kencang,seketika rafa merasakan tangan anna yg bergetar,ditatapnya Anna yg mulai membuka matanya berlahan. “Anna kamu sudah sadar,” kata rafa senang sambil membantu anna terduduk.

“Mr.laundry,apa yg terjadi,mengapa aku bisa ada disini,apa aku pingsan atau...” Perkataan annapun terhenti karena tiba2 rafa memeluknya erat, dalam diam anna merasakan pelukan rafa yg begitu hangat.



Morgan melangkahkan kakinya menuju UKS tp langkah morgan terhenti tepat didepan pintu ruang bercat putih itu, pandangannya langsung tertuju pada rafa yg memeluk tubuh mungil anna, seketika itupula morgan merasakan sesak didadanya, terlebih lg saat ia mendengar kata2 yg keluar dari bibir rafa untuk anna.

“Gue cinta lo anna, please be mine,” rafa berkata dengan posisi masih memeluk anna yg terdiam, untuk kedua kalinya rafa menembak anna.

Morgan masih berdiri didepan pintu hanya bisa menatap keduanya dalam diam.Ternyata Morgan kalah cepat dengan Rafa.





"you're precious, you deserve the best man at the right time, if today is not your time,tomorror will be your"

--gouw ivan siswanto.


Anna masih terdiam dalam dekapan hangat pelukan Rafa, sementara Morgan masih terdiam didepan ruang putih itu.

“Gue cinta lo Na, please be mine,”Rafa mengulang perkataannya sambil melepas pelukannya beralih menggenggam tangan anna erat.” Percaya gue an, gue benar benar cinta dan sayang sama lo, lo maukan jadi pacar gue?”

Anna yang terduduk menghadap pintu UKS tiba tiba tersentak mendapati Morgan yang berdiri didepan pintu, Morgan menatap Anna yang menatapnya penuh tanda tanya, untuk beberapa saat mata mereka beradu, sementara Rafa yang menghadap tembok tak menyadari keberadaan Morgan.

Anna menepis pegangan tangan Rafa,”Maaf aku gak bisa,”Anna berkata pelan sambil menundukkan kepalanya.

“Kenapa, apa kamu tidak mencintai aku?”Rafa mengangkat dagu anna hingga menatapnya pelan.

“Karena aku gak mau jadi orang ketiga diantara kamu dan Lia,”

“Lia??”

Anna mengangguk sambil menatap kedepan pintu, ternyata Anna tak mendapati Morgan disana,

Kemana perginya, mr.simpleku???

Anna kembali menatap Rafa yang terduduk didepnnya,”Lia itu tunangan kamu bukan?”

“Bukan, orang tua aku dan dia bersahabat, kita Cuma dijodohkan, dan aku tidak pernah mencintainya.”

Anna terdiam menatap Rafa yang masih bicara, dalam mata coklat rafa seolah olah Anna menemukan suatu kejujuran seorang playboy.

“Gue cinta lo NA, Please percaya sama gue, gue emang playboy yang hobi gonta ganti pacar, tapi gue Cuma manusia biasa yang hanya memiliki satu cinta, dan gue percaya cinta gue itu lo, ANNA.”

“sejujurnya aku juga cinta sama kamu Rafa,”Anna berkata pelan sambil mengalihkan pandangannya kekiri membuat Rafa tersenyum tipis.

“Aku tau itu, jadi kita resmi jadian?”

Rafa menatap Anna tajam yang masih terdiam, “iya bilang iya”hati kecil rafa berkata.

Anna mengangguk sambil tersenyum malu”Iya.”

Seketika itupula rafa mendekatkan wajahnya kewajah oval Anna yang mulai meronah, “apa yang akan Rafa lakukan padaku?”

“Kalau gue nyium lo, lo bakal marah apa senang?”Pertanyaan rafa membuat Anna membelakkan matanya kaget.

“Rafa akan menciumku,apa ini mimpi??”

“Dari pada lo marah lebih baik lo diam ajah,”Ledek rafa sambil menurun naikkan alisnya membuat Anna salah tingkah.

“Tidak, aku akan membunuhmu kalau kau berani menciumku”Ancam Anna membuat Rafa tertawa keras.

“HAHA, bukankah aku telah lama terbunuh oleh cintamu,”ledek rafa lagi membuat anna semakin salah tingkah.

“Aku serius Rafa,”Anna menampar pelan pipi Rafa yang masih tertawa.

Anna berdiri dari duduknya dan berniat pergi, tapi rafa menggenggam tangan Anna membuat Anna tak dapat berkutik. Anna menatap rafa yang kini berdiri didepannya.

Rafa mendekatkan bibirnya ketelinga kanan anna yg terdiam “I love you,” kata Rafa pelan sambil mencium pipi kanan anna,membuat cewe mungil itu terkejut.

Rafapun berlalu pergi meninggalkan anna yang masih terdiam.

“Apa aku mimpi, rafa baru saja menciumku?”Anna terus saja mengelus pipi kanannya tak percaya.







Morgan melewati koridor sekolah dengan langkah tak bersemangat, pikirannya benar benar kacau, baru kali ini ia merasakan sesak didadanya yang semakin terasa, padahal dulu saat ia memergoki angel berciuman dengan Rafa, ia tak merasakan sesak didadanya seperti ini, ini kali pertama sang mister simple itu patah hati karena cinta.

Morgan tak pernah menyangka bahwa ia akan jatuh cinta dan patah hati pada Anna sahabatnya sendiri, ternyata kebersamaan mereka selama inilah yang menimbulkan rasa diantara keduanya.

Anna yang selalu ceria saat disampingnya, anna yang selalu menemaninya ngobrol saat menunggu angel yang sibuk berdandan,Anna yang selalu menghibur dan menyakinkan morgan saat morgan patah hati karena angel dan Rafa atau Anna yang selalu menyapanya setiap pagi dengan “good morning,MR.Simple”, semua yang dilakukan anna selalu spesial dihati morgan,tapi morgan sadar bahwa hanya Rafa yang Anna cintai.

Morgan menghentikan langkahnya tepat didepan beberapa siswi yang sedang bergosip ria didepan kelasnya.

“Eh, udah dengar kabar terHOT belum?”siswi dengan bandana merahnya dikepalanya berkata sambil menatap kedua temannya bergantian.

“Gosip apaan?”Tanya siswi dengan BB dikalungkan dilehernya bertanya dengan nada penasaran.

“SiRafa jadian sama Anna,”Siswi dengan bandana itu menyelaskan membuat cewe gendut disampingnya yang sedang asik menikmati hamburger tersentak kaget.

“Apa, serius lo?”Cewe gendut itu membelakkan matanya menatap siswi dengan bandana pink yang mengangguk.



Morgan melangkahkan kembali kakinya menjauh dari gosip yang mungkin dapat membuatnya semakin terpuruk. “Apa gue harus ngelupain Anna dan kembali mencintai Angel?”









Seperti Morgan yang perasaannya tak menentu,annapun merasakan hal yang sama saat ini.

Entah mengapa Anna merasakan ada yang mengganjal dalam hatinya, ia baru saja jadian dengan Rafa pangerannya tapi mengapa sepertinya ada seseatu yang menganjal dihati Anna.Anna senang impiannya untuk selalu disamping Rafa terpenuhi tapi ia sedih bila mengingat Morgan sahabatnya.

"DORR"Bisma berteriak mengejutkan Anna yang sedang melamun dikelas yang sepi karena jam istirahat telah tiba.

"Bisma, ngagetin aku ajah," Anna menatap Bisma kesal yang tersenyum menampakkan barisan behennya.

" Ngelamun ajah ntar kesambet loh."

"siapa juga yang ngelamun."

Bisma menatap Anna tajam yang sibuk menyalin pelajaran dibuku bersampul coklat itu,"gue cinta lo,Na,"Kata kata bisma yang tiba tiba itu membuat anna berhenti menyalin dan terdiam.

"Lo gak pernah taukan kalau sebenarnya gue cinta sama lo, selama ini gue selalu ngejahilin lo karena gue suka ngeliat lo cemberut dan gue pingin selalu disamping lo,"Bisma berkata sambil menggenggam jemari lentik Anna yang terdiam.

"Gue benar benar mencintai lo Na, lo mau jadi pacar gue?"

Jantung anna tiba tiba berhenti mendengar perkataan Bisma itu, baru saja ia jadian dengan rafa dan sekarang Bisma menyatakan perasaannya.

Bisma menatap anna tajam yang mulai tampak kebingungan, Anna menepis pegangan tangan Bisma.

"Sorry, bisma, aku gak bisa,"Anna menundukkan kepalanya tak ingin menatap wajah bisma yang kecewa.

Tiba tiba saja anna mendengar Bisma yang tertawa lepas membuat Anna bingung.

"Anna,Anna kamu pikir aku beneran suka sama kamu, nyadar dong aku gak mungkin suka sama cewe jelek seperti kamu,"Kata kata bisma itu membuat Anna kesal dan mencubit pinggang bisma keras yang duduk disampingnya.

"Bisma kamu ngerjain aku,"Anna mengkrucutkan bibirnya kesal membuat Bisma tertawa lepas.

"Lo jelek na, gue sukanya sama cewe cantik,"Bisma berdiri dariu duduknya dan mengelus pelan rambut anna yang masih terduduk,"but selamat atas jadian lo sama rafa,"Bismapun berlalu pergi setelah kata kata itu ia ucapkan, sementara anna menarik nafasnya panjang panjang dan membuangnya lega, ternyata bisma hanya bercanda, syukurlah.



Bisma menyenderkan tubuhnya didinding sekolah sambil menutup kedua matanya,"gue bohonG Na kalau gue bilang gue gak cinta sama lo, karena sesungguhnya Gue cinta lo Na, tapi gue tau gue gak mungkin pernah jadi milik lo, gue tau lo cuma nganggap gue sahabat, tapi gue gak salahkan kalau gue jatuh cinta sama lo, sahabat gue sendiri, kalau perih dan sakit, gue akan tetap tersenyum demi lo,"







"ANNA"teriak Reza sambil berlari menghampiri Anna yang sedang terduduk ditaman seorang diri.

"Ada apa za?"Tanya anna heran sambil menatap reza yang mencoba mengatur nafasnya akibat berlari.

"Ilham udah denger lo jadian sama rafa, dan sekarang ilham ada ditoliet."

"Ilham mau buang air kecil?"Tanya Anna sambil berdiri mensejajarkan tubuh Reza.

"bukan, ilham patah hati,dia ngurung diri ditoilet, gue takut terjadi apa apa sama dia, lo taukan Na, kalau ilham cinta mati sama Lo,"Kata kata Reza membuat Anna terdiam.

"Sekarang lebih baik lo ikut gue,"Reza menarik tangan Anna dan membawanya menjauh dari taman.







Reza membawa Anna ketoliet cowo, ternyata disana sudah ada bisma dan beberapa anak yang berkerumunan didepan pintu toilet.

"Ilham, ini aku, sekarang kamu keluar, aku bisa jelasin semuanya sama kamu,"Anna berkata sambil mencoba menggenggam gagang pintu berusaha membukanya, tapi sayang pintu terkunci dari dalam.

Tak beberapa lama terdengar suara Ilham dari dalam toilet.

"Gue cinta lo Na, Gue yang pertama mencintai lo, gue yang selalu bantuin lo piket setiap hari senin, gue yang bantuin lo ngerjain PR yang menurut lo susah, gue yang selalu ngasih lo semangat kalau lo lagi terpuruk,gue yang selalu ngasih lo kertas bertuliskan i love you anna setiap hari,tapi kenapa harus dia yang lo cintai?"

"Ilham,"mata anna mulai berkaca kaca.

"Kenapa harus rafa yang jadian sama kamu Na, kenapa bukan aku?, apa karena rafa lebih ganteng dari aku, apa karena Rafa lebih kaya dari aku atau karena rafa lebih poluler dari aku?"

"Ilham, aku..."

" apa dia tau apa makanan kesukaan lo, ada hal yang paling lo benci, jam berapa biasanya lo tidur, gak kan?, tapi gue tau semuanya tentang lo, gue tau lo suka banget warna pink, rider favorite lo jorge lorenzo, lo suka coklat apalagi ice krim coklat, lo gak bisa tidur kalau belum ngucapin good morning mr,simple sama morgan, lo dulu punya peliharaan kucing yang namanya manis, dan lo paling benci pelajaran bhs,sunda"

Anna meneteskan air matanya seketika mendengar perkataan Ilham itu, ia tak pernah menyangka bahwa Ilham begitu mengenal sosoknya sangat dalam, morgan saja tak mungkin mengenali anna sedalam itu.

"Ilham aku minta maaf, tapi cinta tidak dapat dipaksakan,"

"Gue cinta lo Na, sekarang dan selamanya,gue yang tulus mencintai lo,"Ilham yang masih didalam berkata kemudian terdengar suara ilham yang bernyanyi,"Aku memang manusia biasa, yang tak sempurna dan kadang salah,namun dihatiku hanya satu, cinta untukmu luar biasa..i love you Anna," tak ada kata kata yang terdengar dari dalam toilet itu, seketika hening dan sepi.

"ILHAM,ILHAM,"teriak bisma dan reza sambil mencoba mendobrak pintu kayu itu, tapi semuanya terhanyut saat pintu itu berhasil terbuka, ilham terkapar tak berdaya dengan sekujur darah dipergelangan tangannya dan hatipun anna semakin terhanyut saat ia mendapati dinding yang bertuliskan darah segar Ilham "I LOVE YOU,ANNA,"

"Kita bawa dia kerumah sakit,"Reza berkata sambil membokong tubuh ilham bersama beberapa anak lainnya.

***

Anna berlari tak tentu arah, pikirannya kacau, ia tak pernah menyangka bahwa ilham akan melakukan semua itu. Ilham telah dilarikan kerumah sakit. saat Anna hendak berbelok tiba tiba ia menabrak seseorang..

"Sorry,"Anna berkata sambil menunduk kebawah, ia tak ingin ada seorangpun yang tau bahwa ia sedang menangis.

"Kamu kenapa, kamu nangis?"Tanya seseorang yang bertabrakan dengan Anna tadi, yg ternyata adalah dicky.

"Gak kok,"Anna mencoba menghapus air matanya.

Dicky menarik tangan Anna dan membawanya duduk dipinggir lapangan.

"Ada apa, kalau kau ingin berbagi, ceritakanlah padaku, aku siap menjadi pendengarmu,"Kata kata Dicky itu membuat Anna menatapnya terharu.

"Kau tak mencintaiku bukan?" Pertanyaan Anna membuat Dicky terdiam.

Dengan setia Anna menatap dicky yang tak mengeluarkan sepatah katapun.

"Kau selalu baik padaku sama halnya dengan Ilham, kau tak menyukaiku seperti ilham bukan?"

"Tidak, tak semua orang yang baik padamu itu berarti bahwa ia menyukaimu,seperti aku, aku tak menyukaimu aku hanya peduli padamu."

Anna terdiam mendengar perkataan dicky itu, tiba tiba anna menjatuhkan kepalanya pada bahu dicky, annapun tak kuasa meneteskan air matanya.

"Menanngislah jika kau ingin menangis,"Dengan lembut dicky mengelus rambut hitam anna, suara tangis annapun semakin keras terdengar.



Anna tak tau mengapa Dicky selalu ada disaat ia membutuhkan seseorang seperti sekarang ini,Annapun seketika mengingat perkataan Rangga padanya, "jika tuhan menciptakan kamu itu artinya tuhan telah menciptakan pasanganmu,mungkin saja saat ini dia ada disini,didekatmu, tapi kau tak pernah menyadari kehadirannya," Apa orang yang dimaksud itu adalah Dicky??? entahlah kita tak akan pernah tau kemana dan pada siapa hati Anna kan berlabuh.



Anna menjauhkan wajahnya dari bahu Dicky, anna menatap dicky yang tersenyum sambil menghapus air mata yang mengalir dipipi Anna.

"Bagaimana apa sudah sedikit lebih baik sekarang??" Anna mengangguk pelan menjawab pertanyaan dicky.

Dicky mengeluarkan sebutir yuppy dan memberikannya pada Anna yg duduk disampingnya.

"Untukmu,semoga yuppy itu bisa sedikit menghilangkan kegundahan dan keresahanmu,"

"terimakasih, MR.SWEET"Anna meraih yuppy dari tangan dicky dan membukanya lalu memakannya.

"MR.Sweet, seharusnya kau memanggilku,MR.Yuppy,"berontak dicky pelan membuat Anna tersenyum kecil.

"Tidak aku ingin menggilmu MR,Sweet, karena yuppy itu manis seperti kau," Kini dicky yang tersenyum mendengar perkataan anna itu.



batin dicky"gue senang Na, akhirnya senyum ceria lo kembali lagi, apapun itu akan gue lakukan untuk sekedar melihat senyum ceriamu, dan jujur saat ini gue tidak mencintai lo, tapi gue gak salahkan jika suatu saat nanti hati gue berpihak sama lo."



Batin Anna"Terimakasi untuk semuanya MR.Sweet, mungkin saat ini kau hanya sahabat bagiku, tapi jika nanti kau akan menjadi sesuatu dalam hatiku, aku tak akan menyesal, karena aku tau, jikalau nanti aku bersamamu, aku akan menemukan sebuah kebahagia.sekali lagi terimasih MR.Sweet."







****

BRUUUKKKK

Sebuah kamus mendarat tepat diatas meja rafa yang sedang mengerjakan tugas sekolah dan itu membuat cowo playboy itu tersentak kaget.

"Apa apaan ini?"Tanyanya keras sambil menatap Lia yang telah berdiri didepan mejanya dengan bertolak pinggang.

"Ada hubungan apa lo sama cewe rese itu?" Lia mencoba meraih tangan Rafa yang sedang menyingkirkan kamus kekiri mejanya.

Rafa menepis pegangan tangan Lia, "itu bukan urusan lo."

"Rafa,aku ini tunangan kamu jadi aku berhak tau, apa hubungan kamu dengan cewe sialan itu."

" cukup lia,"Rafa berdiri dan menatap tajam lia yang saat itu mengenakan baju cheers dengan rambut terkuncir,"namanya Anna dan lo bukan tunangan gue, inget itu," Rafapun berlalu pergi setelah mengucapkan kata kata itu, tapi lia menghalangi langkah rafa,Lia menggenggam tangan Rafa tapi rafa menepisnya.

situasi kelas saat itu sedang sepi hanya ada lia dan Rafa disana.

"kenapa kamu begitu membenci aku, dan apa yang udah buat kamu tergila gila sama cewe sialan itu."

"Dia punya nama dan dia itu lebih baik dari lo, dan lo mau tau kenapa gue benci banget sama lo?"pertanyaan rafa membuat Lia menatapnya tajam.

"Karena gue gak pernah tertarik sama cewe egois seperti lo,"jawaban rafa itu membuat mata lia berkaca kaca.

"tapi aku cinta kamu."lia kembali mengenggam tangan rafa dan untuk kesekian kalinya rafa menepisnya.

"Sorry, gue gak bisa." rafapun pergi setelah kata kata itu ia ucapkan,Rafa terus menjauyh dari Lia yg menatapnya kesal.

Lia mengepalkan kedua tangannya "kalau gue gak bisa miliki rafa, tak ada seorangpun yang bisa memiliknya, terutama lo, ANNA."





***

Morgan menghampiri Angel yang sedang berbincang bincang dengan sahabatnya dikantin sekolah.

"Bisa kita bicara,"Morgan berkata ketika tiba didepan Angel, angelpun segera mengangguk cepat.

Morgan menggenggam tangan Angel membuat Angel terdiam, selama ini morgan selalu saja angkuh padanya, tapi hari ini Angel merasakan ada sesuatu yang beda pada diri morgan pacarnya. entah itu apa???

"Pulang sekolah nanti kau ada acara?"pertanyaan tiba tiba morgan membuat Angel terkegut. Apa morgan ingin mengajakku ngedate???

"Tidak, mengapa?"

Mereka mengehentikan langkahnya tepat didepan perpustakaan sekolah.

"Aku ingin mengajakmu jalan."

lagi lagi Angel dibuat terkejut oleh jawaban singkat Morgan.

selama ini morgan tak pernah mengajaknya jalan, kalau bukan angel yg memaksa morgan tak akan pernah mau jalan dengannya.

Morgan menatap Angel yg terdiam, tangannya masih menggenggam jemari lentik angel" kenapa kau diam, jawablah?"

"Kenapa kau seperti ini morgan?"Tanya angel balik membuat Morgan menatapnya tajam.

"AKU??"

"dulu kau sangat susah untuk mengajakku jalan, kalau bukan aku yang memintamu, tapi sekarang, tanpa aku meminta kau mengajakku jalan, apa ini tidak aneh."

Morgan menggenggam jemari tangan Angel semakin keras,"MAAF,aku hanya ingin menjadi kekasih yang baik untukmu."

"Hanya karena itu, bukan yang lainnya??"Morgan mengangguk menjawab pertanyaan ANGEL.



Walaupun sebenarnya itu bukanlah satu satunya alasan Morgan bersikap seperti itu pada Angel, Morgan ingin menjadi kekasih terbaik untuk angel, karena Morgan berharap Angellah yang dapat membuatnya melupakan Anna. Mungkin dengan disisi angel sedikit demi sedikit cinta Morgan untuk anna berkurang dan mungkin saja itu akan membuat cinta Morgan untuk angel semakin bertambah.







***** Di rumah sakit ******



Ilham telah sadar, disampingnya duduk Bisma dan Reza yang setia menemaninya.

" Lo baik baik ajah kan?"tanya Reza pada Ilham yang terduduk diatas ranjang rumah sakit. Ilham hanya mengangguk pelan.

"Gue tau lo cinta sama anna, tapi bukan gini juga caranya Ilham, lo pikir dengan bunuh diri lo akan bahagia, lo salah,"

Ilham hanya terdiam mendengar Bisma yang masih bicara.

"Gue tau lo patah hati, tapi cewe didunia ini masih banyak, lo bisa dapatin yang lebih baik dari anna."

"Tapi gue cuma cinta sama anna,Bis,"Ilham menunduk sambil menatap pergelangan tangannya yang diperban.

"lo pikir gue gak."

degghh kata kata bisma itu membuat Ilham dan Reza menatapnya kaget.

"Lo juga cinta sama anna?"Tanya Reza penasaran sambil menatap bisma yang mengangguk.

"Iya, tapi gue cuma bisa nyimpen perasaan gue ini hanya dalam hati, gak ada satu orangpun yang tau kalau sebenarnya dibalik sifat jail gue ini, gue sangat mencintai anna yang selalu menjadi korban kejailan gue."

"Kenapa lo pernah jujur sama kita sahabat lo?"Kata kata Ilham membuay Bisma menatapnya sambil tersenyum kecil.

"Lo pikir gue akan cerita sama kalian sahabat gue, saat gue tau salah satu diantara kalian mencintai anna, gue gak mau bersaing dengan lo Ilham sahabat gue sendiri, karena itu gue lebih baik mundur dan biarlah ini menjadi cinta dalam hati."

Reza mengelus pelan lengan Bisma, reza tak pernah menyangka dibalik sifat ceria seorang Bisma sebenarnya hatinya benar benar hancur, jika saja Reza menjadi bisma ia yakin, ia tak akan bisa setegar bisma sekarang.

"Lo emang sahabat terbaik gue bis,"Ilham berkata sambil memeluk bisma yang terduduk, dengan cepat bismapun membalas pelukan Ilham sahabatnya.



Jika suatu saat kalian dihadapkan pada satu pilihan, antara cinta dan sahabat, manakah yang akan menjadi jawaban terakhir kalian??? sahabat??? atau justru cinta??
jawaban manusia berbeda, tapi jika pertanyaan itu dijatuhkan pada Bisma, maka ia akan lebih memilih sahabat, karena hanya sahabatlah yang paling mengerti apa ingin kita, dipelukkan seseorang yang kita cintai kita menemukan keindahan dunia, tapi dalam genggaman seorang sahabat kita akan menemukan suatu kekbahagian. apa lagi yang kita inginkan didunia ini selain kebahagiaan, dan kebahagiaan kita ada pada sahabat kita.
jangan pernah sia siakan sahabat kalian hanya demi cinta yang kalian tak tau akhirnya.




continue ^^

"Kevan, Si Cowo Barbie" #CERPEN


Cowo tinggi itu berjalan keutara, dgn tas ransel dipundaknya, ia terus mengintari kolidor gedung bertingkat itu, sesekali ia mengunyah permen karet dalam mulutnya cepat dan mengembungkannya menjadi lingkaran balon..
Kedua tangannya ia biarkan bermain didalam saku celana abu2nya.
Matanya tiba2 menatap kesekeliling lapangan, beberapa siswa berlatih basket dan cheers pengiringnya terlihat jelas pagi itu.
Tiba2 tangan kanannya ia keluarkan dari saku seragamnya dan melambaikannya keudara.
Menyapa seseorang diseberang lapangan..
"Rambutan," teriak cowo itu keras pada seorang cewe berambut kribo yg menatapnya geram.
"Tiang listrik," teriak gadis itu tak kalah keras, membuat pemuda itu menurunkan lambaian tangannya.
Dgn langkah cepat, pemuda itu menghampiri gadis kribo yg sedang asik mengemut permen lolipop.
"Rese lo, masa' cowo seganteng gue dipanggil tiang listrik," cowo itu berkata seiring dgn bibir cemberutnya.
Gadis berambut kribo itu hanya tersenyum menatapnya.. "siapa suruh manggil gue rambutan, emang lo pikir gue buah berjalan apa," kini berganti cowo tinggi itu yg tersenyum.
"Satu sama," pemuda itu berkata sambil kembali mengunyah permen karet favoritenya.
Cowo tinggi itu bernama kevan drifandra Afredo, cowo berambut hitam pekat yg memiliki hobi bermain billiard dgn teman2nya itu, yg selalu dipanggil tiang listrik oleh gadis disampingnya, karena tubuh tingginya.
Sedangkan cewe berambut kribo itu bernama margaretta viona andrianna, cewe yg hobi mengemut permen lolipop, yang mempunyai bola mata y bulat dan kecoklatan, y slalu dipanggil rambutan oleh kevan karena rambut kribonya.


"cie yg baru jadian'..ehem,ehem.." cowo berkulit hitam itu berkata mengejek pada kedua pelajar itu.
Seketika wajah keduanya berubah kaget.
"gue jadian sama dia, iyyuhh.."
Keduanya berkata bersamaan dengan paras jijik.
Cowo berkulit hitam itu hanya tersenyum mengejek, "deh, yg pura2, diluar bilang gak, tapi didalam.. Beuh cinta mati," Dimas berkata sambil merangkul lengan Kevan yg menggeleng.
"haha,gue ga bakal tertarik sama rambutan, ga tau dech si rambutan ini," kevan menaik turunkan alisnya sambil menatap Margaretta yg menatapnya sinis.
"asal kalian berdua tau, gue margaretta.."
"rambutan," potong kevan.
"ga akan pernah jatuh cinta sama tiang listrik songong ini, titik.." Margaretta pun berlalu pergi setelah mengatakan kata2 itu.
Kevan dan Dimaspun hanya mengangguk angguk pelan.

Margaretta atau margy berjalan santai mendekati kelas bertuliskan xipa5, ia melangkah masuk dan duduk dibangku kedua sebelah kiri, tak ada banyak manusia didalam ruang bercat krem itu.
"Tiang listrik sialan, gue harap gue gak pernah ketemu lo lagi slamanya," Margaretta menutup matanya penuh harap, tak beberapa lama terdengar suara seseorang menyahuti membuatnya membuka matanya kaget.
"Sepertinya harapan lo sirna, karena mulai hari ini dan seterusnya, lo bakal sering ketemu," Kevan berkata sambil terduduk disamping Margy y mulai menampakkan wajah kesalnya.
"Sialan," gerutu Margy dalam hati.
"Oh yah, mulai sekarang gue saranin lo jangan pernah menguntit gue lagi,karena gue ga mau lo sakit karena terlalu mengkhawatirkan gue yg tampan dan dermawan ini," Kevan berkata dgn segudang pedenya membuat margy tertawa lepas.
"Oh pahlawanku, tiang listrik, bagaimana bisa kau tau bahwa aku selalu mengikutimu," margy berkata dgn suara keras membuat beberapa anak seisi kelas menatap keduanya tajam.
Sementara kevan menatapnya bingung.
Margy melanjutkan perkataannya, "dan gue juga tau CD apa yg loe pake sekarang," Margy tersenyum sinis pada Kevan yg tiba2 membelakkan matanya kaget.
Beberapa anak menatap keduanya penuh penasaran.
"Gue tau sekarang CD y loe pake dibalik celana panjang loe itu adalah, Barbie dgn motif pink dibagian pinggir, benarkan TIANG LISTRIK?" Margy berdiri dari duduknya dgn senyum penuh kemenangan.
"Barbie? Pink? Kevan?" tanya beberapa anak serentak membuat kevan wajah kevan seketika memerah karena malu.
Kevan berdiri dan menatap geram margy y tak henti2nya tersenyum senang.
"kalian jangan percaya,undewear gue bukan barbie, percaya," kevan menaikkan kedua tangannya menyakinkan seisi kelas y menertawainya pelan.
"gue gak boong.. Suer.." kevan menyakinkan lagi,kali ini ia menaikkan jari kelingking dan tengahnya membentuk huruf V.
"kalau begitu coba buktiin,kalau lo ga mau berarti benar kata2, gue tadi" margy berkata diiringi dgn anggukan beberapa siswi genit.
"Lo gila, gak mungkin juga gue buktiin disini," tegas kevan pada margy y kembali terduduk.
Margy mengangkat kedua bahunya bersamaan dgn senyum sinisnya.
"ayo man buktikan kalau lo emang cowo Normal," teriak seseorang dari arah utara membuat beberapa anak cowo mengangguk cepat.
Kevan menarik nafasnya panjang dan menutup kedua matanya pelan," oh Tuhan, maafkan hambamu yg penuh dosa ini."
Margy tertawa tak tertahankan menatap tingkah Kevan yg berdiri tepat didepannya, hingga sesuatu yg tak pernah Margy bayangkan terjadi, membuat tawanya seketika terhenti.
Kevan menurunkan celana seragam abu2nya, seketika itu pula semua mata tertuju pada undewear y kevan kenakan, undewear hitam dgn beberapa lapisan berwarna krem.
"Gimana, apa kalian masih ga percaya sama gue, huh?" kevan menatap sekeliling penuh kekesalan.
"Wow.." beberapa cewe menatap undewear kevan tanpa kedip, tak terkecuali Margy yg terduduk mematung.
Jono sang ketua kelas y sedari tadi terdiam, akhirnya berjalan mendekati kevan dan langsung menaikkan kembali celana abu2 kevan.
"gue rasa penjelasannya udah cukup," Jono berkata sambil mengisyaratkan sesuatu pada Kevan.
"sorry gue lupa," kevan mencoba mengancingkan kembali resleting celananya.
Pandangan kevan langsung tertuju pada margy y masih diam mematung.
"HOI" teriak Kevan kencang sambil menepukkan tangannya didepan wajah putih kemerah-merahan Margy.
Seketika Margy membuyarkan lamunannya, "KEREN," Teriak margy kencang membuat Kevan membelakkan matanya.

                "Lo yakin ini sepedanya Margy?" tanya Dimas memastikan sambil berjongkok disamping Kevan y mengangguk cepat.
Kevan mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya,"ini balasan buat Lo rambutan, yg udah buat gue malu hari ini,untungnya hari gue ga pake undewear berbie gue, kalau gak reputasi gue bisa turun," kata2 kevan membuat Dimas menatapnya tajam.
"Lo punya undewear Barbie Pan?" pertanyaan Dimas dijawab anggukan oleh Kevan.
"YOA, gue punya sepuluh semuanya warna pink.."
Jawaban kevan itu membuat Dimas berdiri cepat, "Iyuhh," kata Dimas dgn wajah jijiknya.
"Lo cowo Normal kan Pan,?" tanyanya lagi pada kevan y sibuk mengempesi ban sepeda Margaretta, kevan hanya mengangguk pelan.
"uh, akhirnya selesai," Kevan berdiri sejajar dgn Dimas, kevan menghapus peluh yg membasahi keningnya.
Pandangan kevan langsung tertuju pada Dimas y menampakkan wajah anehnya, sebuah pertanyaanpun Kevan lontarkan untuk sahabatnya itu, "kenapa Lo?"
Kevan mengambil permen karet dari saku seragamnya,membuka dan memakannya dgn pandangan mata masih tertuju pada Dimas yg terdiam.
"Gue tau nih, pasti tentang undewear barbie gue?" Dimas mengangguk cepat mengiyakan.
Seketika kevan tertawa pelan sambil merangkul lengan Dimas," Dimas, dimas, emang ada yg salah kalau gue punya semua itu?"
"Ga, tapi aneh ajah, cowo macam Lo, punya undewear b..b..b.." kevan menatap dimas geli yg sulit mengucapkan kata terakhir.
"B..berbie," wajah jijik Dimas pun kembali terlihat membuat Kevan tertawa tak tertahankan.
"lo bisa dikira banci, sama mereka," Dimas berkata lagi sambil menjauhkan rangkulan tangan Kevan.
Kevan tersenyum tipis, "Persetanlah sama mereka semua, gue ga peduli mereka mau menilai apa tentang gue, gue gak akan pernah membuang semua barang kesayangan gue cuma karena ingin orang lain peduli sama gue, this is me dgn segala kekurangan, kalau lo gak suka mending lo jauh2 dari gue,"
Dimas tersenyum kecil mendengar perkataan kevan barusan.
"jadi beneran, cowo sekeren Kevan, suka barbie?" Kevan mengangguk cepat mengiyakan.
"Rambutan," Teriak kevan yg masih berdiri disamping sepeda Margarreta, lambaian tangan kevan mengarah pada Margarreta y berjalan kearahnya.
Ditatapnya kevan y tersenyum tipis, "lo tega ngerjain gue didepan anak2, rambutan," kevan berkata pada Margy ketika tiba didepannya.
Margy menatapnya acuh, "lo jual gue beli," katanya sambil mencoba menaiki sepeda putihnya, tapi tiba2 mata margy mengarah pada salah satu ban sepedanya yg kempes.
"kenapa kempes yah?" tanya kevan sok manis membuat margy menatapnya kesal.
"ini semua pasti ulah lo, iya kan?"
"seperti perkataan lo tadi, lo jual gue beli," Kevan menaikkan kedua alisnya penuh kemenangan.
"ARRGGHH" geram Margy kesal sambil memukul lengan kanan Kevan, "gue benci lo, tiang listrik."
Kevan tersenyum sinis," thank you."
"apa?"
"Terimakasih telah membenciku, karena itu berarti kau telah siap untuk mencintaiku," kevan mengelus lembut rambut kribo Margarreta yg tiba2 terdiam.
Kevan melangkahkan kaki kanannya maju satu langkah dan mendekatkan bibirnya membisikkan sesuatu pada Margy, "lo pake sepeda gue dulu," kevan meletakkan kunci sepedanya y baru diambilnya dari tangan Dimas di atas telapak tangan kanan Margy, "sebesar apapun lo membenci seseorang, sebesar itupula suatu saat nanti lo mencintainya, jadi berhati2lah dalam membenci seseorang," Kevanpun berlalu setelah mengucapkan itu.
Margy mengepalkan kunci Kevan ditangannya kesal, "ARRGGHH.."

                Pagi yg cerah secerah perasaan Kevan hari ini, ntah mengapa perasaannya akan selalu senang dan gembira setiap kali ia berhasil membuat Rambutan kesal.
Mungkin memang kevan tlah dibuatnya jatuh cinta..
Keduanya akan slalu seperti itu, menjaili satu sama lain hingga salah satuny mengalah, tapi sampai saat inipun baik Rambutan ataupun Tiang listrik masih enggan untuk mengaku kalah.
Hari ini Kevan berangkat sekolah dgn menggunakan taxi karena sepeda miliknya,ia pinjamkan pada Margy kemarin..
Kevan terus mengintari kolidor sekolah, beberapa cowo menatapnya aneh membuatnya risih, Kevan menghampiri Dimas yg sedang berbincang2 dgn beberapa cewe disamping lapangan, diraihnya tangan cowo hitam manis itu menjauh.
"Dim, kenapa perasaan gue gak enak yah?" Kevan berkata aneh membuat Dimas mengangkat bahunya cepat.
"perasaan Lo doang kali,Pan," kevan menatap Dimas kesal yg tak sulit mengucapkan huruf V, menyebabkan Dimas slalu memanggil kevan dgn kepan atau bila disingkat Pan.
Kevan menoyor kepala Dimas gemas, "nama gue Kevan bukan Pan, loe pikir gue panci, pan pan pan,"
Dimas hanya tersenyum mendengarnya.
Kevan membalikkan badannya kekanan karena tangan kirinya masih menggenggam tangan Dimas. "dipunggung gue ada sesuatu?" pertanyaan Kevan membuat Dimas menatap punggung tegap Kevan.
"Gak," jawaban singkat Dimas membuat Kevan kembali membalikkan badannya menghadap Dimas.
"Gue yakin, ini ada hubungannya dgn Rambutan," Kekeh Kevan pada Dimas yg manggut-manggut.
"Keisengan apa lagi yg Rambutan buat hari ini," kini Dimas menggeleng gelengkan kepalanya mendengar perkataan Kevan.

"Kalian jadian?, jadi benar kalau lo gay, kevan?" suara seseorang pada kevan yg menatapnya tajam.
"Berani banget kalian memamerkan kemespaan kalian disekolah," serbu seseorang lagi yg mengenakan ikat kepala.
Kevan dan Dimas sempat dibuat bingung, sebelum akhirnya Dimas sadar, tangan mereka masih bergandengan.
Dgn cepat Dimas melepas pegangan tangan Kevan, "Kita ga pacaran kok, iya kan Pan?" Dimas memasang kedua matanya tajam kearah Kevan yg tersenyum tipis.
"Kepan.." mata Dimas memaksa kevan untuk bicara.
"kita cuma sahabatan, dan kita cowo Normal," penjelasan Kevan membuat Dimas bernafas lega sambil menganggukkan kepala.
Sementara kedua siswa yg berdiri didepan mereka hanya tersenyum sinis.
Cowo dgn ikat kepala itu kembali bicara, "mana ada Cowo normal yg hobi mengoleksi berbie," katanya dgn suara mengejek, kevan membelakkan matanya kaget, sementara Dimas tertawa geli mendengarnya.
Kevan menatap Dimas geram membuat senyum Dimas memudar sejenak, "sumpah bukan gue," Dimas menyakinkan Kevan yg menuduhnya membocorkan rahasianya lewat mata.

"kevan manis, kenapa lo gak jujur tentang hobi lo yg suka ngoleksi barbie," cewe dgn BB Bergelantung dilehernya itu berkata sambil merangkul lengan kevan y menatapnya bingung. "kalau lo mau, pulang sekolah nanti lo kerumah gue, kita main barbie bareng," ajak cewe bernama ross membuat Dimas lagi2 tersenyum geli.
Kevan menggigit pelan bibir bawahnya kesal pada Dimas yg terus menertawainya.
"bukan gue, sumpah," Bela Dimas lagi.

"kevan, foto lo buat gue yah?" kata cewe berambut pendek setibanya didepan kevan.
Kevan melepas pelukan tangan Ross dan menatap cewe berambut pendek itu bingung.
"foto apaan?"
"Ini, gila lo cute banget," cewe bernama Wifha itu berkata sambil menunjukkan sebuah foto pada Kevan.
Kevan mengambilnya dan segera menatap foto yg kini berpindah ketangannya.
Matanya terbelalak tak percaya mendapati foto apa yg dilihatnya kini.
Foto dirinya berpose duduk dgn baju birunya dan senyum menggoda, bukan itu yg menarik perhatiannya, justru sesuatu yg tertera dalam foto itu, sebuah boneka barbie bukan sebuah tapi hampir dua puluh lebih boneka barbie tertata rapi disampingnya yg terduduk dgn kaos birunya.
Foto dirinya berpose dgn koleksi barbie miliknya, yg membuat kevan seketika terduduk lemas.

*Kevan si Cowo Barbie*
Terlebih dibawah foto itu tertera sebuah tulisan tangan seseorang yg begitu ia kenal.


"RAMBUTAN.."

***
                BRUUKK
Kevan mendobrak meja Margarreta dgn penuh amarah.
Margarreta y saat itu sedang membacapun tersentak kaget.
"Tiang listrik." margy y masih terduduk menatap Kevan y berdiri didepannya.
"Apa maksud lo nyebarin foto2 gue huh?" tanyanya geram pada Margy yang tersenyum sinis.
Kevan meletakkan foto ditangannya keatas meja, "Lo mau buat reputasi gue ancur, huh?" tanya kevan lagi.
Margy mengambil foto itu dan mengamatinya dalam2, "gue gak nyangka ternyata lo cantik juga," sindir margy.
Kevan menarik paksa foto ditangan Margy, seketika ia mendengar suara beberapa anak menyindirnya.
"Gue ga nyangka ternyata Kapten basket kita gay."
"Jangan2 dia naksir salah satu dari kita lagi."
"wajah boleh ganteng, sixpack, tapi kalau gay, gue sebagai cowo juga ogah."
"Aish kagak mau gue punya kapten banci kayak dia."
Dan masih banyak lagi sindiran sindiran yg mereka keluarkan untuk kevan sang kapten basket sekolah itu.
Margy menatap kevan y terdiam, apa ia telah terlalu kelewatan kali ini..
"hey banci mendingan lo pake rok sekalian, jangan buat kaum adam malu karena lo," suara keras itu membuat kesabaran kevan habis.
Untuk kedua kalinya ia mendobrak meja didepannya,"Cukup," teriaknya membuat semua terdiam. "emang salah kalau gue yg statusnya Cowo suka barbie, Y BANCI GUE, Y HOMO GUE, YANG GAY GUE, KENAPA KALIAN Y RIBUT, Y MALUPUN GUE,"
Margy menatap tajam kevan yg masih bicara, "Kalau gue boleh jujur, sebenarnya gue menderita dgn keadaan ini, gue pengin normal seperti cowo lainnya, dan asal kalian tau barbie adalah boneka y paling gue benci, sampai pada akhirnya seorang gadis datang dan memberikan gue boneka barbie kesayangannya, sebagai hadiah perpisahan kita," kevan menundukkan wajahnya sedih, Dimas y sedari tadi berdiri disampingnya berusaha menenangkan.
"Gadis itu bilang kalau dia sangat menyukai barbie, dia ingin gue mengingat dia setiap kali gue melihat boneka barbie, hingga akhirnya gue dapat kabar kalau gadis itu kecelakaan dan meninggal, gue datang kerumahnya untuk ngeliat dia y terakhir kalinya, saat itu dia masih terbaring tak bernyawa dikamarnya yg penuh dgn boneka Barbie, gue baru tau arti boneka barbie bagi gadis itu, awalnya keluarganya berencana untuk membuang semua boneka barbie itu tapi gue mengajukan untuk merawat boneka barbie itu, tanpa penolakan mereka menyetujui permintaan gue ngerawat boneka barbie gadis itu, dan gadis itu adalah Kevany Bianka atau Vany, adik kembar gue."
Semua mata yg tadinya menatap kevan penuh bully kini menjadi tatapan iba.
"sekarang kalian taukan apa arti boneka Barbie itu bagi gue?" Margy menunduk mendengar pertanyaan Kevan.
"Sekarang gue gak peduli apa penilaian kalian tentang gue, gay homo banci atau apalah, gue cuma mau kalian tau kalau gue Cowo Normal, dan buat Lo," kevan menunjuk Margy y tiba2 menatapnya takut, "jangan harap kalau lo y paling perfect margy, gue tau semua rahasia buruk lo y bisa bikin lo malu, dan sekarang juga gue bisa beberin semuanya sama mereka,"
Margy kembali menunduk mendengar ancaman Kevan.
"tapi gue masih punya hati, gue ga mau ngebuat orang lain malu seperti yg gue rasain sekarang, terlebih orang itu Lo, Margarretta."
Margy terdiam.
Kevan menarik nafas panjang dan membuangnya berlahan, "dan sekarang lo udah berhasil buat gue malu, lo menang dan gue ngaku kalah, mulai sekarang semuanya berakhir," dgn berat kevan melangkahkan kakinya keluar kelas y masih terfokus padanya.
Margy menjatuhkan kepalanya kemeja dan menutup kedua matanya penuh penyesalan.


                Setelah kejadian itu, tak ada lagi perdebatan diantara keduanya, Kevan lebih memilih diam saat kebetulan berpapasan dgn Margy, begitu pula margy y membuang muka saat berhadapan dgn Kevan.
Hari ini, Margy tak mendapati Kevan dikelasnya, Margy y berniat mengembalikan Kunci sepeda Kevan terpaksa menghampiri Dimas dipintu gerbang saat pulang sekolah.
"Dimas, Kevan mana?" tanya Margy sambil berdiri disamping Dimas.
Dimas menatapnya tajam, "kenapa, Lo mau bikin malu kepan lagi?"
"gue tau gue salah, karena itu gue mau minta maaf sama kevan," Margy menampakkan wajah melasnya pada Dimas y terus menatapnya.
"Asal lo tau, sekarang kevan benar2 kehilangan segalanya, harga diri, kepercayaan, dan yg paling menyakitkan kepan udah kehilangan mimpinya jadi pemain Basket internasional."
Margy menunduk sambil mendengar Dimas y masih bicara.
"Kevan dipecat jadi kapten basket sekolah dan dikeluarkan dari tim, cuma karena dia suka barbie, luchu bgd,"
"Itu semua karena gue," Margy berkata dgn nada cukup pelan, Dimas mengangguk setuju.
"Gue gak tau, kenapa kalian saling membenci, bukankah kalian tau saling menyayangi itu lebih berguna seratus persen ketimbang kalian saling benci," ceramah cowo berkulit gelap itu pada Margy yg terdiam.
"Maaf,"
Margy berkata dgn nada sedihnya.
"Lo ga punya salah sama gue, kesalahan lo sama Kepan, dan seharusnya kata maaf lo itu untuk kepan."
"sekarang please kasih tau gue dimana, Kevan sekarang?" Margy menatap Dimas menunggu jawaban cowo berlesung pipi itu.
"Makam Vina."


***
Didepan makam sang adik kevan terduduk lemas, hanya disinilah tempatnya mencurahkan sgala perasaannya.
"Vin, apa gue salah kalau menyimpan semua Barbie milik lo, apa karena gue cowo jadi mereka mengira gue banci?" kevan menatap batu nisan sang adik, matanya mulai berkaca2.
"gue cuma mau selalu mengingat lo dgn memandang semua barbie kesayangan lo, gue gak peduli Vin mereka akan menilai gue apa, gue cuma mau lo tau, kalau gue akan slalu menganggap lo ada."

Margy melangkah pelan menghampiri Kevan, margy menghentikan langkahnya tepat dibelakang kevan, air matanyapun tak kuasa ia teteskan.
Margy mendengarkan setiap kata y terucap dari cowo tinggi itu.

"Gue dipecat jadi kapten dan dikeluarkan dari tim karena gue ngoleksi barbie, sekarang impian gue udah ancur, apa y harus gue lakukan untuk mengembalikan semuanya Vin, gue gak mungkinkan ngebuang semua boneka barbie milik lo cuma demi mereka percaya kalau gue bukan gay.." kevan menunduk sedih, ia benar2 putus asa, hanya karena boneka cantik itu, semua impiannya hilang dan musnah.

"Tetap jadi diri lo sendiri, tiang listrik," kata2 Margy membuat kevan terkejut, didongakkannya wajahnya menatap Margy y tlah berdiri disampingnya.
Kevan berdiri dan menghapus air matanya yg terjatuh, "Lo ngapain disini?"
Margy tersenyum tipis, "lo nangis?" tanya Margy balik membuat Kevan mengucek matanya cepat.
"gak." bentak kevan membuat Margy mengeluarkan sebuah sapu tangan barbie dari saku seragamnya, "nih."
Kevan menatap saputangan pink pemberian Margy ditangannya, ditatapnya Margy y tersenyum.
"Maaf," Suara pelan Margy membuat Kevan menatapnya tajam.
"karena?"
"karena gue lo jadi kehilangan segalanya, termasuk mimpi lo y pingin jadi pemain basket," Kevan tersenyum mendengar perkataan cewe kribo itu.
"Gue gak bermaksud buat semuanya jadi seperti ini, gue benar2 nyesel, gue janji gue gak akan.."
"Lo cinta gue?" pertanyaan kevan memotong pembicaraan panjang Margy.
Dalam beberapa detik Margy terdiam, tak percaya bahwa kevan akan menanyakan itu padanya.
"Rambutan, lo cinta gue?" tanya kevan ulang membuat Margy menggeleng cepat.
"gak, siapa juga y suka sama tiang listrik macam lo," jawab margy ketus khasnya.
Tiba2 kevan meraih kedua tangan Margy, seketika itupula hati margy berhenti berdetak.
"Mungkin lo emang ga suka sama gue, tapi gue cinta lo,Rambutan,"
Kevan berkata sambil berlutut didepan Margy yg terdiam.
Celana abu2 kevan menyentuh dgn tanah makam sore itu, "Gue cinta Lo, Margaretta, lo maukan jadi pacar gue?" tanya kevan pada Margy y bingung resah dan gelisah.
Sedetik kemudian Margy menggelengkan kepala, membuat kevan berdiri.
"kenapa, apa lo bener2 ga pernah suka sama gue?"
Margy menggeleng lagi.
"Lalu?"
"Apa ga ada tempat lain buat nembak gue yg lebih oke dari kuburan, gue takut Tiang listrik,"
Kata2 margy itu seketika membuat kevan tertawa lepas.
Kevan sendiri baru sadar bahwa ia masih didalam kuburan,bagaimana bisa ia menembak margy dikuburan seperti ini, kevan mengaruk2kan belakang kepalanya y tak gatal sementara Margy mulai menampakkan wajah takutnya.
"udah terima ajah yah?" paksa kevan membuat Margy kekeh menggeleng.
"Ogah."

                Suara adzan magrib mulai terdengar oleh kedua remaja itu, dgn beriringan mereka melangkah menjauhi makam, kevan menghentikan langkahnya tepat didepan gerbang, "Lo kesini Naik apa?" tanyanya pada Margy y berdiri disampingnya.
Dgn cepat Margy menunjuk sepeda biru kevan yg diparkirnya diseberang jalan, kevan tersenyum tipis.
"Gue kesini cuma mau ngembaliin ini sama Lo," Margy meraih kunci sepeda kevan disaku seragamnya dan memberikan kunci itu pada sang pemilik.
"Lalu Lo pulang naik apa?" kevan mengambil kunci dari tangan Margy y terdiam.
"Gimana kalau gue antar?" tanya Kevan lagi, Margy menggeleng membuat Kevan menatapnya kecewa.
"Gue pulang naik taxi ajah, bye.." margy melambaikan tangannya bersamaan dgn langkah kakinya menjauhi Kevan.
"Rambutan. Lo siapin diri Lo besok, karena Besok gue akan nembak lo lagi disekolah," Teriak Kevan sambil menatap Margy y berbelok kekiri.
Kevan tersenyum yakin sambil melangkahkan kakinya menghampiri sepeda miliknya diseberang.



***
Semalam suntuk, secara tiba2 Margy sulit untuk memejamkan matanya, kata2 kevanpun tak pernah lepas dalam lamunan cewe putih itu.
"Besok gue akan nembak lo lagi disekolah,"
Margy mengacak2 rambutnya kesal setiap kali kata2 itu berkelimang dalam jiwanya.
"ARRGGHH, gue benci lo tiang listrik.."


Dan ternyata kevan serius dgn perkataannya, istirahat pertama Kevan memasuki kelas Rambutan dan menarik tangan Margy hingga mereka tiba didepan kantin.
Istirahat pertama keadaan kantin cukup padat, inilah saatnya Kevan membuktikan cinta tulusnya.
Genggaman tangan Kevan begitu dingin membuat jantung Margy berhenti seketika.
Ia tak peduli pandangan sinis seisi kantin, ia hanya ingin semua tau bahwa ia sangat mencintai Margy, rambutan kecilnya.
"Gue cinta Lo Margy, maukah kau menjadi kekasihku?" kevan menatap tajam Margy y juga menatapnya, untuk beberapa saat mata keduanya saling memandang.
Margy mengalihkan pandangannya cepat pada tatapan tajam kevan yg tlah membuatnya jatuh cinta, "Gue.."
"Rambutan Lo maukan jadi pacar gue, Kevan si cowo barbie,?" margy tertawa pelan mendengar pertanyaan konyol Kevan, tanpa Ragupun Margy mengangguk cepat.
tampak wajah Gembira Kevan, "jadi kita resmi jadian?" tanya kevan memastikan membuat Margy mengangguk gemas.
"Iya Tiang listrik."
Dan kevanpun memeluk tubuh mungil Margy seketika, seisi Kantinpun menyelamati keduanya.
Siapa y menyangka Pada akhirnya Rambutan dan tiang Listrik akan bersatu. kevan sangat mencintai Margy, begitupun sebaliknya margy yg slalu merindukan kevan disetiap malamnya.
Permusuhan itu akhirnya berbuah Cinta ^^


"Kepan," teriak Dimas membuat kevan dan Margy menatap Dimas tajam y tlah tiba didepan keduanya.
Tampak sebuah kertas putih ditangan Dimas.
"gue punya kabar gembira Pan," dimas berkata sambil mengatur nafasnya pelan akibat lari.
"Kabar gembira apaan?" tanya Kevan penasaran.
Dimas segera memberikan kertas putih ditangannya pd kevan yg langsung meraihnya, "Pan, Lo masuk dalam daftar sepuluh calon wakil pemain basket kita."
"yg benar Dim?" tanya kevan tak percaya pada Dimas y mengangguk.
"selamat yah, berarti lo gak jadi dikeluarin dari tim," ucap Margy sambil mengacak2 rambut hitam kevan yg tersenyum.
Dimas menatap keduanya yg masih berpegangan tangan, "kalian jadian?" keduanya mengangguk bersamaan.
"wah akhirnya Rambutan dan tiang listrik bersatu, terimakasih tuhan," Dimas menaikkan kedua tangannya keudara seraya bersyukur membuat Kevan menjitak kepala Dimas kesal.
Pletak.. "Lebay lo."

Margy hanya tertawa pelan menatap kedua sahabat itu.

Kevan tiba2 dikejutkan oleh uluran tangan seseorang padanya, "Welcome back," Billy teman satu tim kevan yg pernah membullynya berkata pada kevan yg tersenyum sambil membalas uluran tangan cowo Maco itu. Beberapa anak dibelakang Billypun ikut menyalami kevan turut senang.
"thank, terus kapten kalian siapa?" kevan bertanya sambil menatap Billy yg tersenyum lebar.
"Kapten kita.." Billy menatap beberapa temannya sambil mengisyaratkan sesuatu, kevan Margy dan Dimas menatap mereka bingung.
"Kevan si cowo Barbie," mereka berkata serempak membuat kevan salah tingkah.
"ah kalian bisa ajah jadi pingin terbang gue," margy hanya menggeleng pelan menyaksikan tingkah konyol kevan y kini tlah menjadi kekasihnya.
"eh eh tanyain gue juga dung," Dimas berkata pada Billy y berdiri didepannya.
"Dimas, siapa sahabat terbaik lo selama ini?" pertanyaan Billy membuat Dimas berpura2 berfikir.
"sahabat gue, Kepan si Cowo barbie.." tawa merekapun seketika menggema diseisi ruangan kantin.
Sementara Kevan hanya terdiam mendengar mereka mengolok2 dirinya.
"Jamil, siapa cowo senga disekolah ini?"
"Kevan, si cowo barbie."
"wiftha, siapa cowo terimut dikelas lo?"
"ya pastilah, kevan si cowo barbie."
"Mutiara, siapa cowo yg nembak lo pulang sekolah diterminal?"
"itumah kevan si cowo Barbie." dan masih banyak lagi pertanyaan yg menggema ditelinga Kevan yg jawabannya tetap sama, "kevan si cowo Barbie."

Margy menatap kevan y mulai menampakkan wajah kesalnya, seketika itupula margy membisikkan sesuatu pada telinga kanan Kevan, " i love you."
"i love you more rambutan,"
Kevan mencium pipi kiri Margy membuat margy terdiam tak percaya. Seisi kantinpun menatap keduanya dalam diam,
Sebelum sebuah pertanyaan terlontar dari bibir sexy Billy, "hey semua, siapa cowo yg berani nyium Margy dikantin sekolah?"
Dan dgn serempak merekapun menjawab, "Kevan si cowo barbie."
Merekapun kembali tertawa membuat kevan menarik tangan Margy menjauh dari kegilaan satu sekolah.


Keduanya terduduk direrumputan taman, dgn saling berpegangan tangan.
Mulai saat ini dan seterusnya mereka akan slalu melengkapi satu sama lain.
Jika Margy diberi pertanyaan tentang siapa yg slalu hadir dalam mimpinya setiap malam, dan jawabannya pasti kalian tau..
Yah orang itu hanya kevan, kevan si cowo Barbie.
Dan inilah akhir kisah Rambutan dan Tiang listrik..



THE END ^^

Kamis, 07 Juni 2012

"When The Smile's Gone" CERPEN



“Sudah berapa kali aku katakan, bawa jauh-jauh anak cacat itu dari hadapanku,” Seorang lelaki berkata kasar pada seorang perempuan dan anak kecil yang menangis dalam pelukannya, Perempuan itu memeluk erat anak semata wayangnya yg ketakutan.
“Cukup Ray, kau tak perlu berkata kasar seperti itu,”Perempuan itu berkata tak kalah keras membuat lelaki yg terduduk dikursi ruang tengah itu menatapnya tajam, kemudian perempuan itu melanjutkan perkataannya,”biar bagaimanapun juga, ingatlah dia anakmu.”
“Haha, jangan bermimpi aku tak sudi memiliki anak cacat sepertinya,”Lelaki itu menghisap rokok yang baru dinyalakannya dan mengacuhkan keduanya.
“Kau benar-benar tak berhati,”Perempuan itu berkata sambil membawa anaknya menjauh dari suaminya. Nampak wajah kecewa sang istri akan sikap suaminya itu.
Ray dan Ria adalah pasangan suami istri yang hidup berkecukupan yang menetap dijakarta, dua tahun menjalani rumah tangga, akhirnya hadir buah hati mereka ditengah kesunyian mereka, Andika Muhammad Navaro, atau Dika, ia lahir secara premature, dan saat lahirpun suatu keanehan terjadi, bayi mungil itu lahir tampa tangis, dan itu membuat Ria khawatir setelah melalui pemeriksaan ternyata anak mereka dinyatakan Bisu, sejak mengetahui bahwa Dika bisu, sikap Ray seketika berubah, entah malu atau apalah ia sama sekali tidak ingin mengakui Dika sebagai anaknya, walau begiitu Ria sangat menyangi Dika, baginya dika adalah Senyum untuknya.
Dika kini telah tumbuh menjadi anak yang tegar, usianya kini beranjak delapan tahun, walau bisu tapi ia tak pernah mengeluh, justru ia sangat ramah pada semua orang, hanya senyum yang selalu ia berikan pada mereka, senyumnya lebih dari sebuah kata yg terucap,Karena itu Dika sangat disayangi oleh para tetangga dan ia memiliki banyak teman.
Dengan berat hati Ria membawa Dika menjauh dari ayahnya,digenggmanya erat tangan dika yang kedinginan,Ria menuntun Dika berjalan kekamarnya dan membantunya berbaring diranjang, dengan cinta Ria mencium kening Dika yang mulai memejamkan matanya.
“Maafin mama Dika,apapun yang terjadi Dika harus selalu ingat, bahwa mama akan selalu ada disamping Dika,menjadi seseorang yg selamanya menyayangi Dika,” Ria meneteskan air matanya sambil terus mengelus rambut hitam Dika yang mulai tertidur.



***
Dika berjalan seorang diri menuju Ruang tengah, malam ini seperti malam sebelumnya ia tak bisa tidur cepat,padahal waktu telah menujukkan pukul setengah sepuluh malam, tapi matanya masih sulit ia pejamkan, karena itu ia lebih memilih untuk menuntun televiisi saja diruang tengah.
Seketika langkahnya terhenti ketika melihat ayahnya tertidur pulas di depan televisi, Dika mengampirinya dan menatapnya dalam-dalam, seketika senyum terurai dari bibir tipisnya.
“Ayah Dika ganteng yah Tuhan,” hati kecil Dika berkata sambil menatap ayahnya yang tertidur pulus diruang tengah.
Dika menatap sekeliling mencari sesuatu,tapi Dika berjalan balik kearah kamarnya dan kembali lagi keruang tengah dengan selimut ditangannya.
Pelan-pelan Dika menyelimuti sang Ayah yg masih tertidur, lalu dika membersihkan beberapa bedu rokok yang terjatuh dilantai dan membuangnya keasbak dimeja samping.
Sudah beberapa minggu terakhir ini, Ray lebih memilih untuk tidur diruang tengah ketimbang dikamarnya bersama Ria, sepertinya keduanya masih saling marahan dan enggan meminta maaf. Dika tak tau mengapa sang ayah selallu tidur diruang tengah, saat ia mencoba menanyakan itu pada ibunya, dengan lembut ibunya menjawab,”Ayahmu harus mengerjakan beberapa pekerjaan, dan ia tak ingin mengganggu tidur ibu, karena itu ia selalu tertidur diruang tengah, karena kelelahan.”


Diary Dika (8thn)
Tuhan,mengapa tuhan menciptakan dika jika dika tak sempurna seperti mereka??
Dika tau Dika tak boleh menyesali apa yang telah dika miliki,bunda selalu ngajarin Dika agar selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki,walaupun itu tak seindah milik orang lain.
Dika gak sedih kok tuhan, Tuhan bisa lihat dika tersenyum sekarang, ini tulus loh J
Kalau dika sedih, bunda pasti sedih, karena itu dika akan selalu tersenyum didepan Bunda.
Tapi tuhan, apa suatu saat nanti ayah akan mencintai Dika,?
Kalau iya, kapan?
Dika udah gak sabar pingin ngerasain dipeluk ayah,dianterin ayah sekolah, dan main bola bareng ayah seperti anak lainnya.
Suatu saat nanti itu semua akan terwujudkan Tuhan??
Walaupun ayah benci Dika, sampai kapanpun Dika akan selalu mencintai ayah.

Dika sayang ayah..

***



Diary Dika (9THN)
Tuhan apa segitu bencinya ayah sama Dika,?
Lalu kenapa ayah begitu membenci Dika??
Apa Dika punya salah sama ayah, kalau iya Dika akan tulus minta maaf kok,Kalau memang kehadiran Dika buat ayah susah, Dika rela kok tinggal bareng tuhan,ambil ajah nyawa Dika, asal ayah gak benci lagi sama Dika.
Dika mau sekali ajah ayah peluk Dika saat dika ketakutan dan bantuin Dika ngerjain PR yang menurut Dika susah.
Tuhan apa mimpi Dika akan terwujud??


“Dika, kamu butuh uang untuk beli sesuatu?”Tanya Ria sambil menatap Dika yang mengangguk.
Ria menghentikan memotong sayur dan menatap Dika yang berdiri disampingnya.
“Memang uang itu untuk apa?”Tanya Ria lembut membuat Dika terdiam sejenak.
“A..A..A..” Dika mencoba menjawab pertanyaan sang bunda membuat Ria menatapnya gemas.
Ria tersenyum tipis mencoba mengerti apa yang ingin diutaran Dika,”Kamu butuh berapa?”Ria menatap Dika yang mulai berhitung dengan jemari tangannya.
Dika mengangkat lima jari tangan kanannya keatas dada dan bulatan dijari tangan kirinya,” i..aa.. a...us..”
Ria mencoba menerka angka yg tercipta dijemari keduatangan Dika,”Lima ratus ribu?” Tanya Ria membuat Dika mengangguk cepat.



Ray mencari sepatu hitamnya dideretan sepatu yang terpanpang disudut ruangan..
“Ria, sepatu kerjaku Mana?” Tanya Ray setengah berteriak pada Ria yg sedang memasak didapur,
Terdengar samar2 sahutan dari dapur,” Bukannya sepatu kerja kamu udah rusak,”
Jawaban Ria itu membuat Ray menarik nafas panjang.. bagaimana ia bisa lupa, untuk membeli sepatu kerja yang baru, kalau begini bagaimana bisa ia berangkat kekantor.
“U..at.. a..yah...” Dika menyodorkan sebuah kotak sepatu ke arah Ray yg menatapnya tajam.
Ditatapnya kardus sepatu hitam yg kini berpindah ketangannya.
“nyuri dimana kamu?” Pertanyaan Ray membuat Dika mengelengkan wajahnya cepat.
“I..KA.. A..U..LI..” Kata2 Dika membuat Ray menatapnya tajam.
Seketika sebuah tamparan mendarat tepat dipipi putih Dika,” sejak kapan, kamu belajar jadi pencuri huh?” teriak Ray keras membuat Dika menunduk.
“Ray, apa-apan kamu,” Ria menghampiri keduanya dan menatap dika yg menunduk.
“Liat anak kamu, masih kecil udah belajar jadi pencuri,” Ray mendorong tubuh kecil dika hingga terjatuh.
“Cukup Ray, jaga kata2 kamu, Dika gak mungkin mencuri.”
“Kalau begitu dari mana, dia bisa dapat uang sebanyak itu buat beli sepatu, huh?”
Ria menahan amarahnya dan membantu Dika berdiri,”asal kamu tau, uang itu aku yang kasih, dan aku gak pernah menyangka kalau uang yg aku kasih itu dika gunakan untuk membeli sepatu kerja untuk kamu,”
Ray menatap Ria tajam yg masih bicara.
“Dan kamu tau berapa harga sepatu itu, lima ratus Ribu, aku hanya memberi dika tiga ratus ribu dan sisanya Dika ambil dari uang tabungan dia, dika rela gak jadi beli robot-robotan demi beliin sepatu kerja baru buat kamu, dan kamu masih bisa-bisanya bilang kalau dika itu pencuri.”
Ray mengembalika kardus sepatu ketangan Ria,” hari ini aku bolos kerja, dan bilang sama anakmu, berhenti bersikap baik padaku, karena aku tak butuh semua itu,” Ray berkata sambil berlalu dari hadapan Ria dan Dika. Ria mengelus pelan pipi Dika yg seketika memerah akibat tamparan Ray.
“Maafin ayah kamu yah?”
Dika hanya mengangguk dan lagi-lagi ia tersenyum. Dika adalah senyum kebahagian Ria, sekarang dan selamanya.

***
Diary Dika (10thn)
Tuhan, hari ini Dika kenaikan kelas,Dika senang banget karena dika juara kelas,makasih yah tuhan, karena tuhan dika jadi semakin disayang sama bunda. Walaupun ayah gak datang waktu pembagian rapot,tapi Dika cukup senang kok, setidaknya nanti dirumah Dika bisa kasih tunjuk ayah nilai rapot Dika. Biar ayah bangga dan gak benci lagi sama Dika.

“Bunda bangga sama kamu Dika,”Ria berkata sambil menciumi rambut hitam Dika. Dika tersenyum senang.
Mereka telah tiba dirumah, tak sabar rasanya Dika ingin memberitaukan ayahnya bahwa ia juara kelas.
Dika mencari ayahnya disemua ruangan tapi ia tak mendapati Ray dimanapun, Dika terduduk sedih diruang tengah.
“Tuhan ayah Dika dimana?, kenapa ayah pergi padahalkan Dika mau ngasih tunjuk ayah hasil rapot Dika..” Dika menatap sedih rapot merah ditangannya.
Tak beberapa lama, Ray tiba dari arah timur, Dika tersenyum menyamut kedatagan sang ayah yang telah dinantinya sedari tadi.
Dika berdiri dari duduknya, ditaruhnya rapotnya dimeja samping, Dika menyalami tangan sang ayah yang menatapnya tajam, dituntunnya sang ayah higga tepat didepan kursi panjang.
Ray terduduk, espresi wajahnya masih datar, Dika membantunya membukakan sepatu dan juga jas yang Ray kenakan.
Dika berlalu dengan memegang sepasang sepatu ditangan kanannya dan jas hitam ditangan kirinya, mencoba menaruh jas dan sepatu itu ditempat biasa.
Sepergian Dika, Ray menatap Rapot merah disampignya. Ia raihnya rapot itu dan mulai memperhatikan setiap nilai yang tertera disana.
Tak ada nilai merah satupun, tapi tetap saja espresinya tak berubah.
Dika kembali degan secagkir kopi ditangannya, cangkir itu seraya ia letakkan diatas meja. Dika menatap sang ayah yang sedang memeperhatikan nilai Rapotnya, iapun tersenyum senang.
Tuha, sebentar lagi pasti ayah Dika bakal bangga sama Dika,” hati kecilnya berkata riang, tak sabar ia menunggu sang ayah mengatakan sesuatu untuknya.
Ray menutup Rapot ditangannya dan menatap Dika yang telah anteng duduk disampingnya.
“Kamu  nyontek lagi?” pertanyaan Rya itupun seketika membuat Dika menggeleng.
Ria tiba menghampiri sang suami dan anaknya, “Ray, kamu gak ucapin selamat buat Dika?” Ria berdiri didepan Ray yang masih terduduk, sebetika Ray menatapnya tajam.
“Untuk apa, tak ada yang perlu dibanggakan dari hasil sebuah contekan.” Ray meraih sebutung rokok dari kemeja putihnya. Ria menatapnya geram.
“Dika tidak menyontek, ilai itu hasil kerja keras dia sendiri,” Bela Ria keras.
Dika menunduk, harapannya untuk membuat ayahnya bangga ternyata gagal lagi.
Setiap tahun memang selalu itu yang ray katakan, saat Dika mendapat nilai plus.
Mencontek??? Ray selalu bertanggapan bahwa hasil plus yang didapatka Dika adalah hasil contekan,
“Dia itu Bisu, gak mungkin dapat ilai plus kalau tidak hasil contekan,” Timbal Ray lagi,


***
Dika terduduk dibangku panjang lapangan sekolahnya.. ditatapya sekeliling, diriya yag tak sempurna dalam berucap, membuat sang bunda menyekolahkannya disekolah khusus anak-anak tak sempurna sepertinya atau lebih dikenal dengan sebutan sekolah luar biasa.
Anak-anak itu sama sepertinya, sebagian ada yang bisu, atau mungkin keterbelakangan mental, tapi satu yang membuat Dika sedih, megapa mereka masih bisa tersenyumm riang dan bercada gurau bersama sang ayah, sementara dirinya tidak??
Sebuah bola bundar dipeluknya erat, sesekali ia megkrucutkan bibirnya, ia ingin seperti mereka bermain bersama sang ayah dan tertawa riang..
            “Ayah, wahyu gak bisa,” Seorang anak dengan tongkat ditangannya sebagai penyaggah kakinya yag tak sepurna atau lumpuh berkata pada sang ayah yang sedang mengajarinya menendang bola degan kaki kirinya.
            “Kalau wahyu berusaha pasti wahyu bisa,ayah selalu disini untuk Wahyu,” sang ayah tak henti-hentinya menyemagati sang anak yang mengangguk.
Wahyu berusaha mecoba, menendag bola didepannya dengan kaki kirinya, tapi bola itu tak bergerak dan justru Wahyu yang terjatuh.
            “Wahyu!!” Sang ayah menghampiri sang anak cemas, diraihnya tangan mungilnya dibantunya berdiri, kemudian sang ayah mengobati luka dilutut kaki wahyu yag kesakitan.
Dika mengalihkan padangannya, menengok kekiri, pemadangan itu hanya mebuatnya iri.
            “Cinta ingin ice Krim.”
Lagi-lagi kemesraann ayah dan anak terlihat jelas didepan matanya.
Anak perepuan seusianya yang tak dapat melihat hanya megangguk pelan mendengar pertayaan sag ayah yag meggenggam tangannya.
            “Dua yah, stawberry dan vanila,” Cinta berkata Riang pada sang ayah yang tersenyum.
Lagi-lagi Dika membuang nafasnya berlahan, setiap hari memang inilah yang selalu dilihatnya setiap kali tiba disekolah.
Tuhan, kapa Dika bisa seperti ,mereka, bermain bola bersama ayah dan ayah membelikan Dika ice krim??
Apa Dika dosa tuhan, jika Dika iri sama mereka???


Dika melangkahkan kakinya medekati pintu kamar orangtuanya, bola bundar itu masih dalam dekapannya, rencananya Dika ingin mengajak sang ayah bermain bola, siapa tau kali ini ayahnya tak meolak seperti kemarin-kemarin.
Dika telah tiba didepan pintu kamar, menatap kedalam ruangan yag kebetulan terbuka, dilihatnya sang bunda dan ayahnya yang sedang berdebat. Dika terdiam dan medengarkan setiap kkata yang mereka debatkan.
            “Sampai kapan kau akan sekejam itu pada Dika, ingatlah Ray dia itu anakmu,” Ria erkata keras, ia menatap Suaminya yag berdiri memebelakanginya.
Kedua tangan Ray ia tekuk da letakka didada, “Sudah berapa kali aku katakan, anak bisu itu bukan anakku.”
Mata Dika berkaca-kaca saat pendengar perkataan Ray itu, Bola dalam genggamannyapun terjatuh seketika.
            “Tapi Dika sangat mencintaimu, aku mohon  jangan lukai Dika lagi Ray,” Suara Ria mulai bergetar, tapi Ray tak peduli, hati da perasaannya tetap enggan mengakui Dika sebagai anaknya.
            “Aku tak butuh semua perhatiannya, Dia itu bisu, apa yang bisa kubaggakan dari anak isu sepertinya, dia hanya membuatku susah.”
            “Ray, kau sungguh tak berhati.” Ria mengepalkan tangannya kesal, ingin sekali ia meampar wajah suaminya itu, tapi ia tak mampu.
            “Katakan padanya untuk berhenti bersikap baik padaku, aku tak akan mencintainya sebelum ia benar-benar bisa berbicara.”


Diary Dika
Tuhan, sekarang Dika sadar kenapa ayah benci Dika, karena Dika bisu, enarkan Tuhan??
Ayah malu punya anak bisu macam Dika, ayah akan mencintai Dika jika dika udah bisa berbicara.
Dika bisu da dika sadar selamanya Dika tak akan pernah isa bicara.
Itu berarti selamanya ayah tak akan sayang sama Dika.
Tapi tunggu, bukankah keajaiban itu ada??
Tuhan, Dika pingin banget bisa bicara, dan bilang kalau Dika sayang ayah dan bunda.
Sehari ajah tuhan, Dika mohon.setelah itu dika bisu lagi juga gak apa2
Asal ayah bisa dengar kalau dika sayang ayah..
Dika percaya keajaiban  karena Dika percaya Tuhan itu ada..


***

            “Bagaimana keadaan putra saya Dok?” Tanya Ria pada seorang Doktor yang menangani Dika.
Satu jam setelah Dika mencurahkan perasaannya pada Tuhan, ia merasakan sakit dikepalanya, karena tak ingin membuat sang bunda cemas, Dika meilih untuk tak menceritakan semuanya.
Dika membaringkan tubuhnya diranjang, sakit dikepalanya semakin terasa, ia menutup matanya berlahan, sebelum semuanya hitam dan gelap, Dika pingsan.

            “Kondisi putra ibu sangat mengkawatirkan, putra ibu terkena tumor otak, dan kemungkinan sembuh sangatlah minim,”
Seketika tubuh Ria melemas mendengar pengakuan sang doktor, bagaimana bisa anaknya yang masih sangat kecil terserang penyakit mematikan seperti ini.

Ria terduduk disamping ranjang Dika, ditatapya Dika yang tertidur pulas, mungkin ia sangat lelah.
Ria mengelus lembut rambut hitam Dika, air matanyapun tak kuasa ia teteskan.
            “Dika jangan takut, semuanya akan baik-baik saja, Bunda akan selalu disamping Dika sampai kapanpun, kalaupun nanti Dika pergi, Dika gak usah cemas, disana Tuhan pasti akan menjaga Dika, apapun yang dika minta pasti Tuhan beri,tapi  Dika harus tetap kuat dan tersenyum.” Ria menghapus air matanya yang terjatuh, dengan lembut diciumnya kening Dika yang dingin.
            “Bunda sayang Dika.”
Matanya  memang terpejam tapi dengan jelas Dika mendengar setiap kata yag diucapkan sang bunda.


Diary Dika
Tuhan tumor otak itu apa?
Apa penyakit itu sangat parah??
Kalau tidak, kenapa bunda nangis waktu cerita tentang penyakit Dika?
Kenapa Doktor bilang sama bunda, umur Dika gak akan lama lagi??
Apa itu berarti Dika akan pergi??
Pokoknya Dika gak mau pergi, sebelum ayah sayang sama Dika.
Titik...


***
            Dengan perasaan tak menentu, Ray melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah Dika, matanya menatap sekeliling, menyaksikan eberapa orangtua yang menunggu anaknya pulang sekolah.
Ini kali pertama ray menyembut Dika sepulag sekolah, kalau saja Ria tak meohon padanya da menangis mungkin selamanya ia tak akan pernah menginjakkan kakinya disekolahh yang penuj dengan ketidaksempurnaan.
            “Kamu pasti ayahnya Dika?” seorang perempuan seusia Ria berdiri didepannya, Ray mengangguk pelan.
            “Tau dari mana?” tanyanya bingung.
Wanita itu tersenyum tipis, “Saya Lisa, gurunya Dika, dika cerita banyak tentang ayahnya yang tampan dan baik hati.”
Ray menghernitkan keningnya bingung, tampan dan baik hati, bagaimana bisa dika berkata seperti itu, mengingat dirinya yang selalu kasar pada Dika.
            “Dika Bisu, dia gak mungkin mengatakan saya aik dan tampan.”
            “Dika memang bisu, tapi dia tidak buta,” Lisa meraih sesuatu dari tas hitamnya, secarik kertas putih yang langsung ia sodorkan pada Ray.
            “Dika selalu menulis dikekrtas itu, saat ingin berkomunikasi dengan saya.”
Berlahan Ray membacanya.

Bu guru ayah Dika tampan Loh, gak kalah dech ama david bekam (David beckham maksudnya),,
Selain itu ayah dika juga baik loh bu, walaupun ayah gak pernah ngater Dikka sekolah, tapi Dika tau suatu saat nanti pasti ayah mau jemput Dika pulang sekolah, terus main bola bareng Dika dan beliin Dika es krim...
Bu guru nanti kalau ketemu sama ayah Dika, bu guru gak boleh naksir yahh, Dika tau bu guru pasti jatuh cinta ama ayah dika yang ganteng dan baik, tapi ayah Dika udah punya bunda, bunda dan ayah akan selalu selamanya,,,
Bu guru, Dika sayang banget sama mereka... Dika pingin selamanya disisi mereka..
Disisi bunda Dika yang cantik dan ayah Dika yang baik dan ganteng...
Oh yah, Dika mau ucapin makasih ama bu guru, yag udah setia degeri setiap cerita Dika..
Dika juga sayang bu guru, nanti kalau Dika pergi,  bu guru jangan lupain Dika yah, dan maaf kalau Dika punya banyak salah sama ibu.
bu guru, nanti kalaiu Dika benar-benar pergi, bu guru jangan cerita sama ayah yah, kalau Dika sering cerita tentang ayah, Dika gak mau ayah marah dan benci Dika,
Ini cukup jadi rahasia kita yah bu, Dika percaya sama bu guru.
Bu guru percayakan ayah Dika ganteng dan baik???


Entah mengapa setelah membaca semua yang dituliskan Dika diselembar kertas putih itu, air mata Ray seketika terjatuh.
Ini kali pertama Ray menangis, dan ia menangis karena Dika, mungkinkah ia telah menyadari kesalahan besar yang selama ini ia lakukan pada Dika??
Ia mengkapus air matanya, melipat kertas putih itu dan mengembalikannya pada Lisa yang langsung menerimanya.
            “Saya tau, anda selalu kasar pada Dika, tapi saya salut, sebesar apapun anda membencinya, sedikitpun Dika tak pernah membenci anda, seharusnya anda bangga pada Dika, Dia adalah malaikat kecil yang tak berdosa,” Lisa menatap kearah Dika yang berlari kearah keduanya, dika tersenyum senang mendapati ayahnya menjemputnya.
Dika segera memeluk Ray senang sesampainya disana, Ray terdiam tak bersuara.
Dika memang sering memeluknya seperti ini, tapi kali ini pelukan itu begitu hangat dan  nyaman, berlahan Dika melepaskan pelukannya.
Dika menatap Lisa yang buru-buru measukka kertas ditangannya kembali ketas hitamnya, ia tersenyum tipis pada Dika yang mencoba menuliska sesuatu pada kertas kecil yang diraihnya dari saku seragamnya. Tak beberapa lama kertas itu telah berpindah ketangan putih Lisa.

Bu guru, ayah Dika ganteng kan??

Lisa tersenyum lebar saat mendapati apa yag dituliskan murid kesayangannya itu. Lisa mengembalikan kertas itu kembali pada Dika, setelah ia menulis balasan untuk Dika dikertas putih itu. Ray menatap keduanya yang masih berkomunikasi lewat kertas.
Iya, ayah Dika tampan.. sangat tampan...

Iya sangat tampan dan baik, Dika bangga jadi anak ayah, sekarang teman-teman Dika pasti iri sama Dika , karena Dika punya ayah yang tampan dan baik.

Mereka yang sehharusnya bangga memiliki anak sepertimu Dika, ibu bangga padamu.

Terimakasih, Dika sayang BU GURU.

Ibu juga sayang Dika.



***
Sepajang perjalanan pulang, Rey terus menatap Dika yang berjalan disampingnya, senyuman senang tak pernah lepas dari bibirnya.
Dika melompat-lompat kecil, menendang pelan setiap krikil didepan kakinya, sesekali ia tersenyum pada sang ayah yang menatapnya tajam.
            “Kamu kenapa?” Tanya Ray sembari berhenti dipinggir trotoar yang diikuti langsung oleh Dika.
Dika tersenyum tipis, ia menggelengkan kepalanya, senyum manis masih menghiasi bibirnya.
Beberapa mobil dan kendaraan lainnya berlalu lalang didepan mereka, hingga lampu lalu lintas itu  berubah warna merah, semua kedaraanpun terhenti..
Dika meyebrang santai disamping kiri Ray, Ray menatapnya sejenak,  beberapa manusia ikut menyebrang bersama mereka, setibanya ditengah Ray mencoba meraih tangan Dika dan menggenggamnya.
Dika terdiam tak percaya, ini kali pertama sang ayah menggenggam tangannya, hahti kecilnyapun berlonjak-lonjak kegirangan.
Hingga akhirnnya mereka sampai diseberang, sepanjang perjalanan tangan Ray tak pernah lepas dari jemari kurus Dika, merekapun tiba disebuah taman yang cukup besar, dan berhenti.
Taman ini memang selalu Dika lalu setiap kali pulang sekolah bersama bunda, dan taman inilah tepat Dika melepas kegundahan hatinya.
            “Kamu mau ice krim?”Tanya Ray saat mendapati tukang Ice krim yang tak jauh dari tempat erdiri mereka, dengan cepat Dika mengangguk.
Ray melepas pegangan tangannya, “Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana!” seru Ray lagi pada Dika yang kembali mengangguk, Raypun segera berlalu menghampiri sang penjual ice krim.
Tak beberapa lama Ray tiba dengan ice krim coklat ditangannya,  disodorkannya ice krim itu pada Dika sesampainya disamping anaknya. Dika meraihnya dan langsung menyantapnya. Untuk kali pertama Ray tersenyum tipis melihat Dika yang dengan lahapnya meyantap ICE Krim pemberiannya.
Merekapun sempat bermain bola, sebelum kembali kerumah.
Entah mengapa hari ini sikap ray, sangat jauh berbeda, iapun tak malu megenalkan dirinya sebagai ayah Dika pd beberapa orang yang menanyakan mereka.
Dika tak menyangka apa yang ia impikan selama ini ternyata terwujud.


Dika terduduk dimeja belajarnya, kepalaya embali terasa sakit, tapi ia tak peduli, ia berusaha menulis, mungkin itulah tulisan terakhirnya..

Tuhan, tadi ayah jeput Dika disekolah, Dika bahagia banget, teman-teman Dika pada iri kaarena ayah dikka ganteng.
Ayah juga bersedia main bola bareng Dika dan beliin Dika ice krim,
Pokoknya hari ini adalah hari terindah Dika.
Terimakasih tuhan, karena sekarang ayah Dika udah gakk benci lagi sama Dika.
Sekarang Dika udah siap pergi.

Dika berhenti meNulis sejenak, mengurut kepalanya pelan dengan kedua tangan kecilnya.
Tuhan, kenapa kepala dika sakit banget, apa sekarang Dika benar-benar harus pergi??
Walaupun berat tapi dika terima kok, ini pasti yang terbaik untuk Dika.
Eh tapi tunggu, Dika mau nyampein dulu sesuatu.
Buat bunda, bunda adalah bunda terbaik diseluruh dunia,terimakasih untuk seMuanya.
Dika sayang sayang sayang banget sama bunda.
Dan untukk ayah, ayah taukan kalau dika sayang-sayang banget sama ayah,
Ayah janji yah gak akan ngelupain Dika.
Dika harus pergi karena ayah nunggu Dika disurga, apapun itu ayah harus tetap tersenyum dan jangan buat buda Dika sedih yah..
DIKA SAYANG AYAH DAN BUNDA.
Permintaan terakhir Dika Cuma satu ya Tuhan...
Dika pingin banget punya adik, biar bisa nemenin bunda sama ayah dirumah.


Dika memang tak dapat bicara, cara inilah yang ia lakukan untuk dapat berkomunikasi dengan Tuhan-Nya,dan pada usia 11tahun2bulan10hari, Dika menghembuskan nafas terakhirnya. Dengan senyum yang menghiasi wajah pucatnya.
Ray membaca semua yang ditulis oleh Dika pada diary biru itu,hatinya seketika tersentuh dan menyesali semua perbuatan kasarnya pada Dika.
Ray melihat gambar buatan tangan Dika dibagian akhir buku, lukisa seorang anak laki-laki yang bergandengan tangan dengan seorang lelaki bertubuh tinggi, dibawah gamar itu terdapat sebuah tulisan kecil...
Dika dan ayah...!!
Dika akan selalu menggenggam tangan ayah, sampai ayah tua nanti.

Ray tak kuasa meneteskan air matanya,bagaimanabisa ia menyia-nyiakan anak sebaik Dika.
Ditatapnya sekeliling kamar Dika yang kini seakan sepi, padahal biasanya setiap Ray pulang kerja ia selalu saja mendengar Dika yang sibuk menghafal kunci gitar, bayangan Dika tersenyum, tertawa berlari kecil megelilingi Ray, terliang jelas dimatanya.
Semuanya telah terlambat, dika telah pergi dan ia tak akan kembali lagi.
Ditaruhnya bbuku itu diatas meja belajar Dika, lalu Ray meraih kkotak sepatu yg sepat ia tolah dari Dika, ray terduduk dipinggir ranjang Dika, dan mecoba menjajalkan sepatu hitam  itu, sedikit kebesaran memang, tapi Ray sangat menyukainya.

“terimakkasih Dika untuk semuanya, dan maaf bila selama ini ayah selalu kasar sama kamu, ayah eyesal telah melakukan semua itu, mungkin ayah adalah orangtua terkejam didunia ini, seharusnya ayah yang menggandeng tangan Dika dan nganterin dika sekolah, tapi justru ayahlah yanag selalu ebuat Dika menangis, seharusnya ayah saja yang pergi, bukan kamu dika, jalan kamu masih panjang, asih banyak ,mimpi yang harus kamu raih, Ayah sama Dika.kamu dengar itu Dika, AYAH SAYANG DIKA.”
Air matanya mengalir bersama dengan suaranya yang bergetar.
Walaupun terlambat,tapi Dika cukup bajagia, karena sekarag ia tau, bahwa ayahnya sangat menyayanginya.
Kini senyuman yg selalu menghiasi keluarga kecil itu telah pergi, hanya tinggal kenangan manis disana.

5THN Kemudian..

Doa terakhir dika untuk memiliki adik akhirnya terkabulkan, setengah tahun setelah kepergian Dika, Ria dinyatakan hamil, Sembilan bulan kemudian, Ria melahirka bayi prempuan yang sangat manis, yang selalu mereka panggil Diana.
Kini diana tubuh menjadi anak yang cukup lincah, wajahnya tak jauh beda dengan Dika, ia selalu benampakkan senyu dibibir tipisnya.
5tahun berlalu sudah, walau sulit, kenangan tentang Dika sedikit terlupakan dengan kehadiran Diana.

THE END


Online Now Icons