Facebook Badge

Selasa, 16 Juli 2013

"Ketika Dira, Jatuh Cinta!" #EPILOG

[Tentang Dira]

Kali ini aku pake POV Dira yah 

**
"Jadi siapa??"
Evan menatapku tajam sammbil menjatuhkan tubuhnya berbaring di bedcover milikku.

Aku menatapnya yang saat itu masih mengenakan seragam putih abu-abu,wajahnya terlihat begitu penasaran menanti jawaban atas pertanyaannya barusan. "Siapa siapa??" Tanyaku balik sambil melebarkan senyum termanisku.

sebenarnya aku tau tentang apa yang sedang ia pertanyakan, tapi, untuk saat ini aku sedang tak berniat membahasnya.

Evan mulai kesal akan pertanyaan balik yang aku lontarkan.ia terduduk diujung ranjang dan menatapku yang asik dengan adroind ditanganku. "Siapa yang telah menyumbangkan jantungnya untukmu, Divario?" ia sengaja menekan suaaranya saat menyebutkan namaku membuatku tersenyum geli.

"Itu tidak penting, lagipula aku tak ingin membahasnya sekarang!" Aku menaruh Adroid diatas meja belajar dan berjalan menuju almari pakkaian.

"Ayolah!" ia berdiri mendekat. "Katakan padaku sekarang atau kau ingin melihatku mati penasaran karena hal ini, huh?" ia menyenggol lenganku yang saat itu sedang meraih kemeja biru favoriteku.

"Sudahlah!" Aku menepisnya cepat. "Yang pasti ia adalah seseorang yang pernah memasuki kehidupanku." Aku berlalu mendekat pada pintu kamar mandi yang memang terletak didalam kamar bercat biru ini,

Ia mengerutkan keningnya, wajahnya masih menampakkan espresi bingung. "Siapa?? Ibumu??"

Aku berbalik sebentar dan tersenyum padanya yang saat itu mulai menampakkan wajah tak percaya, terlebih dengan satu anggukkankku. "Ya ibuku, wanitaaa yang pernah melahirkanku kemudian meningggalkanku."

Yah... saat kalian mulai bertanya-tanya tentang seseorang yang telah berbaik hati untuk mendonorkan jantungnya untukku, jawabannya hanya satu orang, dia Ibuku.
saat itu, aku tak menyangka ia akan datang padaku dan menangis.

"Maafkan ibu karena telaah meninggalkanmu, Rio." Ia menangis.
panggilan sayang itu kembali kudengar, terasaa sesak didada saat wnita itu kembali memanggilku Rio, seperti sepuluhtahun yang lalu.

"Bunda punya alasan kuat mengapa bunda meninggalkanmu Rio," ia menggenggam jemaritanganku yang bergetar, Tuhan! inikah tangan yang dulu selalu menuntunku saat aku masih kanak-kanak??

"Ibu mengidap cancer otak stadium akhir Rio!" ia menunduk, suaranya terdengar sangat rapuh.

Jantungku kembali sakit saat kalimat itu terucap dari bbibir tipisnya yang berlapiskan lipstik merahmuda. Apalagi ini, setelah aku yang memiliki penyakit jantung, kini Ibuku yang memiliki penyakit yang lebih memilukan.

"KaU..kau.. bercanda bukan?" aku menatapnya tajam. kuakui setelah sekian lama ia meninggalkanku, terasa sulit untukku memanggilnya ibu ataupun bunda.

Ia menggeleng dengan airmata yang membasahi pipiputihnya. "Tidak Rio, mana mungkin ibu berbohong padamu disaat seperti ini, Dokter memutuskan bahwa usia ibu tak akan lama lagi."

Aku melepas pegangan tangannya yang begitu kuat, berbalik tak mampu menatap tangisan memilukan itu.
Ia masih bicaradisela-sela tangisnya.

"Karena itu, ibu memiliki satu permintaan untukmu, Maukah kau membiarkan jantung ibu untuk singgah dalam dirimu?"

Mataku membesar, nafasku seketika terasa begitu sulit untuk dihembaskan. "Tidak!!"
aku kembali menatapnya, kutatap matanya yang penuh bermohonan.

"Tolong, jangan pernah menolaknya, ibu hanya ingin membalas semua kesalahann ibu karena meninggalkanmu!"
Ia mengapus airmatanya sendiri,ingin rasanya aaku yang menghapusnya dan memeluknya tapi jemariku terlalu sulit untuk menjamahnya.

"Rio!"Serunya pelan.

"Tidak, aku tak akan pernah menerima jantung itu, lagipula masih banyak cara untuk membalas semua kesalahan... IBU!" Akhirnya satu kata itu terucap juga dari bibirku.

sekilas aku menatapnya yang tersenyum. "Setelah sekian lama, akhirnya Kamu kembali memanggilku ibu." ia membelai rambutku lembut, ia kembali bersuara. "Kau sangat tampan, sangat mirip dengan ayahmu saat pertama ibu bertemu dengannya."

Kini aku yang tersenyum tipis, ayah pernah bercerita padaku tentang awal pertemuannya dengan bunda, saat itu usianya masih enambelas tahun sama seperti usiaku saat ini.

Ia masih membelai rambutku lembut, saat akumasih kecilpun kembali terulang,saat ia sering membelai rambutku saat akau ingin tidur ataupun terbangun dari tudurku.Saat seperti itu, akankah terulang lagi tuhan??

"Rio! bunda mohon, jangan menolak ini!" ia meraih jemariku dan meletakkannya tepat pada jantungnya yang berdetak perlahann.
"Jantung inilah yang kelak akan menyatukan kita."

Aku tak mampu berkata-kkata, semua organ tubuhku terasa membekku seketika, terlebih saat wanita itu memelukku begitu erat.

"Bunda mencintaimu Rio, Maafkan untuk kesalahanbunda yang telah meninggalkanmu hingga membuatmu menderita."

Jadi begitulah ceritanya, jadi pertanyaan kalian sudah terjawabkan sekarang.. walaupun berasa sedikit sinetron, tapi itulah kenyataannya..
Dan tentang keberadaan bunda sekarang bagaimana?? ia telah menghadap sang pencipta sehari setelah ia mendonorkan jantungnya untukku.
Walaupun ia pernah meninggalkanku dan mungkin takpernah mengannggapku ada, tapi selamanya ia tetap seseorang yang telah berjasa untukku, ia yang telah melahirkanku dengan segenap tenaganya dan karena jantungnyalah aku masih berada didunia ini,dapat menyapa kalian seperti sekarang hahaha..

"Rio sayang Bunda, selamanya!!"

***
Setelah berganti pakaian, aku dan Evann menuruni tangga menuju dapur,sepertinya tante Sovia, eh bukan tapi bunda, telah menyiapkkan hidangan lezat untuk kami santap. Wanita cantik itu memang pandai memasak, walaupun dulu aku selalu menolak untuk menyantap masakan buatannya tapi setelah itu pasti seluruh cacing ditubuhku berdemo ria..

Oh hey.. sekarang aku sudah berubah.. aku bukan lagi Dira yang selalu sakit-sakitan dan tergantung pada obat-obatan, aku bukan lagi Dira yang dulu bbegitu membenci tante Sovi dan anaknya, Sekarang aku malah menganggap Dava seperti kakak kandungku sendiri, Dan hubunganku dengan ayah, sedikit membaiklah, walaupun aku masih sering membantahnya dan menghambur-hamburkan banyak uang, tapi kali ini aku bisa sedikit mengongrtol... bukan maksudnya mengontrol emosiku.
hidupku benar-benar berubah sekarang, dan aku tak akan pernah berhennti untu bersyukur padaNya.

Aku terduduk disamping Evan yang lebih dulu terduduk dan langsung menyantap puding tanpa pamit, sangat sopan bukan??sahabatku yang satu ini!

"Enak!" ia berseru setelah memasukkan beberapa puding yang ditusuknya pada garpu dalam mulutnya. "Rugi, lo selalu nolak masakan seenak ini dulu."

pletak!!
Aku menjitak kepalanya dengan garpu ditangannkku. "Jangan diungkit lagi, lagipula aku sudah menyadari kesalahhanku itu."

"YAH! YAH!" Masih dengan menyantap puding didepannya, ia mengangguk pelan.

"Dira, bisa tolong bunda sebentar?"
suara bunda membuatku berdiri dan menatapnya yang telah berdiri disamping pintu dapur, pintu taman kecil tepatnya.

"Apa ada bu?" aku berdiri disampingnya yang terlihat sedang memegaang selang air, sepertinya bunda sedang menyiram tanaman. Saat ini aku lebih suka memanggilnya bunda,dan aku akui hanya bunda Davalah yang mampu menggantikan posisi ibu dihatiku..
Tapi ingat! Selamanya ibuku tetap satu.. wanita yang telah melahirkanku.

"Tolong sirami semua tanaman ini,bunda masih harus membenahi ruang kerja ayahmu!"

aku menunduk mengiyakan, setelah mendapati aku yang mengangguk Bundapun menyerahkanselang air ditangannyapadaku kemudian berlalu pergi
kutatap Evan yang tersenyum lebar, "Ada apa?"aku menaikkan daguku pada Evan yang menggeleng.

"Tidak,aku pikir kau akan menolaknya, ternyata Dira benar-benar berubah!" ia berdiri, setelah menghabiskan separuh dari puding bikinan bunda, dan berjalan menghampiriku.

ia menyenderkan salahsatu kakinya pada pintu taman belakang,masih dengan senyuman menggoda. “Setan dalam dirimu ternyata telah benar-benar pergi, aku bangga padamu!”

Sial!sepertinya si cincau ini harus dikasih pelajaran!!!
aku tersenyum sinis menatap selang air ditanganku, sepertinya aku tau, harus berbuat apa untuk cincau ini!!

"Eh lihat! ada kupu-kupu!" aku menunjuk salahsatu tanaman didepanku.

"Mana?" dengan sigap, Evan menghampiri tanaman itu dan menatapna tajam, menari kupu-kkkupu yang baru saja kusebutkan.

Byur!!!
tanpa banyak kata, akupun langsung mengarahkan selang air ditanganku pada punggung pemuda itu..
seluruh tubuh yang berlapiskan seragampun seketikka basah kuyup.
Kena kau! cincau!!

Ia menatapku tajam yang tertawa devil penuh kemenangan. "Emang enak!"

"Sialan!!"

***
"Bajumu kenapa?" Ve yang saat itu bermain,singgah, bertamu kerumahku menatap heran seragam sepupunya Evan yang mulai sedikit mengering. "Apa disini hujan?" tanyanya sambil mengalihkan pandangannya kearahku yang tersenyum tipis.

"Pacarmu benar-benar minta dibunuh!" Geram Evan dengan kepalan tangannya. "Aku kekamar Dava dulu!" ia berdiri dari duduknnya.

"Mau ngapain?" tanyaku.

"Minjam baju ganti, tidak mungkinkan aku pulang dengan seragam basahh seperti ini!"

"Kenapa tidak meminjam bajuku saja?" aku protes, terang saja sahabat Evan itu aku bukan Dava, walaupun sekarang aku tak lagi membenci Dava seperti dulu, tapi tetap saja aku tak terima jika sahabat terbaikku berpaling seperti itu.

Evan menarik nafasnya panjang. "Baju Dava lebih wangi dari semua baju dalam lemarimu." jawaban enteng Evan mampu membuatku mendengus pelan.
Sialan! memang aku akui, Dava adalah tipe pemuda bersih dan wangi, tidakk sepertiku, yang mandipun terkadang malas, tapi tunggu.. aku tak sebau itu, keringat ditubuhku ini cukup wangi untuk tidak menerima asupan air satu atau dua minggupun, Tidak percaya?? silahkan dicoba! ‪#‎eh‬..

Sedangkan Dava.. cowok itu..bisa mandi sehari mungkin tiga kali.. aku tak mengerti kenapa ia begitu menyukai air, hanya karena ingin wangi dan menjaga kebersihan, tak harusberlebihan seperti itu juga kali.. minimal mandi sehari sekali itu sudah cukup.
Oke, berhenti membandingkan aku dengan Dava.

"Sini duduk!" Ve menarik lenganku ketika Evan telah memasuki rumah.

Gadis ini, telah merubah bidupku, aku yang dulu kerapkali gonta-ganti pasangan, tapi entah kenapa setelah bersamanya, seketika mataku seolah telah terkunci dan terfokus hanya untuk memandangnya. mungkin memang ia tak cantik, lihatlah wajahnya yang tak ada kesan cantik samasekali, terlebih tubuh kurusnya itu, ahhh... bukan tipeku sama sekali, tapi ia memiliki sesuatu yang spesial yang dapat membuatku takk maampu perpaling darinya.

Akupun terduduk disampingnya. "Gimana bisa kamu punya sepupu kayakk gitu?" Aku menatapnya yang tersenyum, Gila manis banget,lebih manis dari gulali yang selalu aku curi dari kantin bu Ijah waktu SD dulu..

"Gue bau yah?" ia tersenyum lagi, tapi kali ini lebih lebar, gigi putihnya seketika terlihhat jelas dalam pndanganku.. Klingg!! sampai silau keduamataku dibuatnya!

"Kalaupun kamu Bau, atau dekil sekalipun, aku tetap sayang sama kamu!" ia memanjakan suaranya sambil mencubit keduapipiku gemas.

Gak kebalik nih??
seharusnyakan aku yang mencubit pipinya, berhubung aku sudah kalah cepat, aku ganti saja dengan mencium pipinya yang seketika memerah.

CUP!
Satu kecupan dipipi kiri cukupmembuat gadis ini terdiam,mtanya membelak tak percaya, Aduh Ve, ini bukanlah ciuman pertama kita, berhenti memasang wajah terkejut seperti itu! apa selamanya kau akan menampakkan wajah bodohmu itu setiap kali aku menciummu??

"Vega!" Aku memanggilnya,, ia tak bersuara, tangannya sibuk mengelus pipi yang baru saja aku tampar dengan sebuah ciuman.

"Gadis cinderella!" Panggilku lagi, tetap tidak ada sahutan, justru sekarang ia malah tersenyam-senyum sendiri seperti kerasukan Dijah, orang gila komplek ini.

Aku menarik nafasku pelan, dan mengangguk saat sebuah kejailan terlintas indah dibenakku..

Sepertinya ia akan tersadar jika aku menciumnya, bukan dipipi tetapi...

Benar saja, baru beberapa detik aku mendaratkan bibirkupada bibir tipisnya, seketika ia mendorong tubuhku kebelakang hingga aku terjaatuh.

"Cowok idiot.. cowok idot.. cowok idiot!" Ia berteriak dan berdiri dari duduknya, kedua tangannya ia topangkan pada pinggang kurusnya dengan tatapan mata seolah-olah ingin menerkamku.”Sekali lagi kau berani menciumku, aku akan membunuhmu, cowok mesum!”

"Ve!" Aku mencoba berdiri tapi kembali terjatuh saat gadis ini kembali mendorongku..
yah!walaupun ia kurus, tapi ia memiliki tenaga kuat bagaikan seorang kuli bangunan, aku saja kalah bila harus adu jotos dengannya, selain memang sifatku yang tak pandai berkelahi mungkin alasan lain karena penyakit pada jantungku.. walaupun sudah sembuh tapi tetap saja.. sering sakit.

“Ve!” Seruku lagi, ia tetap tak peduli, wajahnya terliat sangat marah saat ini, apa aku salah bila aku mencium pacarku sendiri???
Aku mengulurkan tanganku keatas, berharap pertolongannya. “Tolongin berdiri dong!” wajahku sedikit memelas.

Ia tetap kekeh berdiri, dengan berkacak pinggang, tak berniat menolongku sedikitpun..

“Oke ini memang salahku!” Aku berdiri dan mendekat, kuraih kedua tangannya menjauh dari pinggang kurusnya, “Maaf, aku janji gak akan menciummu sebelum ijin terlebih dahulu!” aku mendekat kedua jemarinya bersamaan dengan jemari tanganku.

Ia menepisnya cepat. “Janji?” Tanyanya sambil menatapku yang mengangguk.

“Yah Janji!” Janjiku yang akhirnya dapat membuatnnya tersenyum.

“Jadi!” Aku berbisik ditelinganya, ia mngerutkan keningnya bingung.

“Apa??”

“Aku boleh menciummu lagi?” aku menaikkan kedua alisku genit beriringan dengan senyum evilku.. “Aku sedang meminta ijin sekarang,bagaimana?”

Ve menepis lengankku seketika. “COWOK IDIOT!” berkali-kali ia memukul lenganku cukup keras.

Stelah ia terhenti memukuli lenganku yang sedikit mulai terasa pegal,kini giliranku.. aku menarik pinggangnya hingga tubuhnya menempel pada dadaku. Kemudian aku memeluknya erat.

“Kau bukan yang pertama tapi aku harap kau yang terakhir menemani hidupku, Gadis cinderella!”



SELESAI ^^V

"Ketika Dira Jatuh Cinta!" #PART13 (ending)

[Mata ini indah melihatmu.. Rasa ini rasakan cintamu...Jiwa ini getarkan jiwamu...Jantung ini detakkan jantungmu]

*Biarkan aku jatuh Cinta!*

"Terimakasih untuk seharian ini,Ve1"

Ve tersenyum, mendorong Dava yang terduduk dikursi roda menuju kamar penginapannya dirumahsakit. "Sama-sama."

"Tapi aku masih tak percaya, kalau Evan sama kamu adalah sepupuh!" Dava menengok kebelakang, menatap wajah Ve sekilas yang tersenyum. "Pantas saja sepertinya kalian sangat dekat."

Ve menghentikan dorongannya (?) ketika keduanya tiba didepan kamar inap Dava. "Tidak juga, justru aku dan dia kerap kali bertengkar."

Pemuda itu tersenyum tipis, kemudian ia menatap arlogi pada pergelangan tangan kanannya. "Pukul sembilan malam, sebaiknya kamu pulang, sudah sangat malam."

"Iya kamu benar," Ve menatap Dava sejenak yang menatapnya tajam. "Jangan lupa istirahat dan minum obat."

"Pasti."

"Aku pulang, salam buat tante Sovia dan om Frans."

Dava mengangguk pelan beriringan dengan senyum diwajahnya. "hati-hati!"

***
Ve, gadis itu berjalan seorang diri mendekati rumah minimalis itu.
Ada sesah didadanya saat ia belum juga mendapatkan kabar tentang Dira, cowok idiot yang dicintainya.
ia terus menunduk, menendang krikil kecil yang menghalangi langkahnya. semakin mendekat hingga ia tiba didepan pintu rumahnya.

Took-tok-tok..
Jemari lengan kanannya terus mengetuk pintu itu. "Assalamualaikum!" Salamnya pelan, masih menunggu sang bunda membukakan pintu untuknya.
Ia merasakan dingin pada tubuh kurusnya, menatap sekeliling, seketika matanya membesar saat ia mendapati Dira tertidur dengan menyenderkan kepalanya pada dinding putih teras rumah Ve. pemuda itu tertidur dilantai teras sementara disana terpadat beberapa kursi kayu.

glek!!
Pintu terbuka, sang bunda tiba dari balik pintu kayu itu. "Udah duajam dia nunggu kamu, buda suruh masuk tapi dia gak mau." penjelasan sangg bunda membuat ve tersenyum tipis.

"Aku bangunin dia dulu yah bu!" Vepun bergegas menghampiri Dira setelah sang bunda tersenyum.
ia mendekat, berjongkok ketikaa tiba didepan pemuda tinggi itu. Senyumnyapun mengembang saat ia menatap espresi tidur Dira yang terlihat sangat polos dan tanpa dosa, terlebih pemuda itu terlihat memeluk erat setangkup bunga mawar dalam dekapannya.

"Lucu juga!" ia berseru pelan berharap pemuda itu tak mendengarnya, ditariknya pelan kartu kecil yang terselip diantara bunga-bunga itu, Ve tersenyum lebar saat membaca tulisan tangan Dira yang tertera disana.

Teruntuk: Gadis cinderella gue.
Bunga yang indah tapi tak seindah kehadiranmu disisiku..
I LOVE YOU!!

Ve menutup kartu itu dan kembali menatap dira yang masih tertidur, perlahan gadis itupun mengusap pelan rambut hitam Dira. "I Love you too, cowok idiot!"

Ia berdiri, langkahnya berjalan memasuki rumahnya, tak beberapa lama ia kembali dengan sebuah selimut ditangannya.
ia kembali mendekat dan menyelimuti tubuh Dira yang mulai kedinginan, gadis itupun terduduk disamping Dira yang masih terlelap dari tidurnya.

Ve menjatuhkan kepalanya pada bahu Dira pelan, agar pemuda itu tak tersadarkan, gadis itupun seketika menatap langit malam yang dirasakan cukup banyak bintang malam ini.

"Bintang, seandainya waktu bisa terhentikan, aku ingin waktu terhenti saat ini, karena aku tau.. besok, lusa dan nanti, keindahan ini tak akan pernah bisa terulang.. hanya bersamanya seperti ini, itu inginku."

***
Dira membuka matanya perlahan saat ia merasakan pegal dibahu kirinya, ia menengok, matanya membesar saat mendapati Ve tertidur disampingnya. gadis itu masih menyenderkan kepalanya pada bahu Dira, pantas saja ia merasaan bahu kirinya yang sedikit berat.
Ia tersenyum tipis, berganti menatap arlogi dipergelangan tangannya. "Jam sebelasmalam!" Serunya pelan.
ia mengusap rambut Ve pelan setelah menaruh setangkup bunga ditangannya kelantai teras.

"Ve bangun!" Suarany aterdengar lembut saat mencoba membangunkan gadis cinderellanya. "Ve.. bangun!" ulangnya, masih dengan membelai rambut hitam Ve yang terlelap.

Dira tersenyum Evil, menjauhkan emari tangannya dari rambut hitam Ve kemudian beralih berbisik pelan. "Kalau sampai hitungan ketiga lo gak bangun, gue bakal nyium lo!"

Dira menatap Ve tajam yang sepertinya masih benar-benar tertidur, perlahan pemuda itu menjauhkan kepala Ve dari bahunya dan berganti meletakkan kepala gadis itu pada pangkuannya, setelah pemuda itu melepas selimut yang menyelimuti tubuhnya.
"Satu.." ia menundukkan wajahnya mendekat pada wajah oval Ve. "Dua.." Semakin mendekat hanya terpaut beberapa senti lagi bibir keduanya bersentuhan. "Ti.."

"Cowok idiot! lo mau ngapin gue!"
Ve membuka matanya cepat dan mendorong tubuh Dira menjauh. gadis itupun segera terbangun dan duduk.
matanya menatap kesal Dira yang tersenyum.

"Belum gue cium Ve, lo udah bangun ajah, gakk asik ah!"

"Cowokk idiot!" Ve memukul lengan Dira kesal, kemudian gadis itu berdiri. "Lebih baik sekarang lo pulang."

Pemuda itu ikut berdiri, "Lo ngusir gue!" dicoleknya dagu Ve pelan. "Gak baik ngusir pacar sendiri!"

"Norak!" Gadis itu kembali memukul lengan Dira yang tersenyum. "Pulang sana gue mau tidur!" usir Ve lagi.

Dira menggeleng. "Gak ah, gue masih mau disisi lo!" diraihnya pinggang Ve dan didekatkannya pada tubuh tegap Dira. Pemuda itu memeluknya seketika.

Gadis itu terdiam, Dira memeluknya begitu erat, darahnya seketika mengalir cepat bersamaan dengan datakan jantungnya.
Ve menutup matanya saaat detakan jantung Dira menggema telinganya yang menempel pada dada bidang pemuda itu, harum parum Dirapun kembali dihirupnya.

"Tetap disisi gue Ve," Ia melepas pelan pelukannya, berganti menggenggam erat jemari tangan gadis itu. "sampai jantung gue benar-benar berhenti berdetak!" Dira mendekatkan jemari tangann Ve mendekat pada jantungnya. "Jantung ini detakan jantungmu!"

Tanpa terasa gadis itu menetaskan airmatanya, dengan ccepat ia memeluk erat pemuda didepannya. "Lo gak akan pergi! lo gak akan pernah ninggalin gue!"
Semakin erat dira merasakan pelukan gadis yang dicintainya itu.

"Hidup seseorang gak ada yang tau Ve!" ia melepas kembali pelukan itu dan menghapus airmata yang membasahi pipi putih Ve.
"Karena itu, gue mohon! untuk malam ini ajah lo bersedia jalan bareng gue!"

"Sekarang?"

"Lebaran Cumi!" Jawab Dira asal. "Ya iyalah, siapa tau hari ini adalah hari terakhir kebersamaan kita!"

Ve menggeleng cepat. "Gak! Lo gak akan pergi, besok atau kapanpun!"

Dira mendekatkan tangannya pada wajah Ve yang menggeleng, seketika gadis itu terdiam menatapnya. "Dengerin gue, penyakit yang gue derita ini udah cukup parah!" Dira membawa Ve terduduk dikursi kayu, kemudian pemuda itu berlutut didepannya. "Kesembuhan gue itu sangat tipis Ve, walaupun masih ada jalan operasi dan penerimaan jantung baru, tapi tetap ajah gue gak akan bertahan lama."

Gadis itu menunduk, bahunya kembali bergetar, ia menangis.

Pemuda itu tersenyum perih, hatinya sakit saat menatap gadis yang dicintainya menangis karenanya.
Diraihnya dagu gadis itu hingga keduanya saling pandang. "Ve, hari ini gue pingin banget pergi kesuatu tempat, lo maukan nemenin gue kesana?"

"Ini bukan sebagai tanda perpisahan kan?" tanya Ve balik pada Dira yang tersenyum.
pemuda itu tak menjawab, ia hanya terdiam bersamaan dengan senyum diwajahnya.

"Dira," Sapa Ve pelan.

Kini giliran Dira yang menunduk, pemuda itu menggigit bibir bawahnya, saaat seketika jantungnya terasa kembali kambuh.
"Jangan sekarang, Tuhan!" ia menutup matanya pelan , semakin kencang ia menggigit bibri bawahnya, ia tak ingin Ve menyadari kesakitannya saat ini. Berulang kali ia mengatur nafasnya pelan hanya sekkedar untuk menghilangkan rasa sakit pada jantungnya.

"Dira!" Ve kembali menyapanya, menatap tajam pemuda itu yang berdiri.

Dira berdiri membelakanginya, meremas jantungnya keras, keningnya seketika mengeluarkan butiran-butiran keringat.
Sebisa mungkin, ia akan tetap bersikap biasa dan kuat saat berada disaamping Ve.

Gadis itu berdiri, mendekat pada Dira yang mencoba bersikap biasa. "Lo baik-baik ajah? lo gak lupa minum obatkan?"

Dira mencoba tersenyum menatap wajah khawatir gadis itu, perlahan iapun mengangguk, walaupun sebenarnya ia berbohong, karena sudah dari kemarin ia tak pernah membiarkan obat itu menyelamatkann nyawanya.

"Temenin gue malam ini, Please!" Dira memohon dengan menyatukan keduatangannya, "Hanya malam ini, gue pingin banget ngeliat Matahari terbit!"

Entah mengapa saat menatap mata teduh Dira kali ini, gadis itu tak mampu menolak, ia mengangguk dan tersenyum saat mendapati wajah ceria pemuda itu.


***
"Wah! ini indah banget Dira!" Ve melentangkan tangannya mencoba menghirup udara perbukitan.
Pemuda itu mengajaknya ke bukit untuk melihat matahari terbit, dan ini kali pertama bagi ve untuk melihat pemandangan indah itu.

Dira tersenyum saat mendaptai wajah ceria Ve, gadis itupun mulai tak sabar untuk benar-benar menyaksikan moment dimana sang surya mulai menampakkan sinarnya.

"Jam berapa?" Ve sekilas menatap pemuda itu yang telah terduduk direrumputan, sementara dirinya masih asik berdiri menatap pemandangan dari atas bukit.

"Sebentar lagi." Dira merebahkan tubuhnya berbaring diatas rerumputan. kedua tangannya ia tekuk dan ia biarkan menjadi penyanggah kepalanya.

Ve terduduk disamping Dira yang terbaring. "Kamu sering ke sini?" Ia menatap Dira yang tersenyum tipis. "Kenapa senyum?" Tanyanya dengan espresi bingungnya.

"Perasaan ini kali pertama lo ngomong aku-kamu kayak gini!"" Dira semakin melebarkan senyumnya saat kedua matanya menangkap gurat wajah malu gadis disampingnya.

"Lo sering kesini?" buru-buru Ve meralat perkataannya, menatap kedepan tanpa berniat menatap senyum pemuda itu yangg semakin melebar dan manis.

"Dibilang sering, gak juga, dibilang jarang, gak juga!" Dira merubah posisinya menjadi terduduk disamping Ve yang seketika menatapnya pelan.
"Dulu waktu awal bunda ninggalin gue sama ayah, Ayah sering ngajak gue kesini, berhubung ayah sering pulang malam dan selalu kelewatan buat ngeliat matahari terbenam, makanya setiap malam mendekati sang fajar ayah selalu bawa gue kesini, buat liat matahari terbit."

Ve menatap tatapan mata Dira yang berubah sendu, ia kembali mendengarkan pemuda itu yang lanjut bicara. "Tapi, semenjak bunda Dava memasuki kehidupan ayah, ayah berubah dan lebih mementingkan pekerjaan, dia gak punya waktu lagi untuk ngajak gue kesini, padahal harapan terakhir gue cuma satu," Dira menghentikan perkataan sejenak untuk sekedar mengatur nafasnya. "Gue pingin banget saat2 itu terulang lagi, ngeliat matahari terbit disini bareng ayah, walaupun itu gak akann mungkin terjadi."

Gadis itu tau betapa menyakitkannya hidup Dira, perlahan sebuah belaian lembut mendarat indah dipunggung tegap pemuda itu. "Aku tau kamu kuat!"

Dira tersenyum saat semangat itu terlontar dari bibir gadis yang dicintainya itu. "Yah!" seketika Dira menunjuk sesuatu didepannya. "Liat tuh!"

Rona merah dan orange langit seketika terlihat indah didepan keduanya,Ve membelakkan matanya tak percaya, saat sang surya mulai menampakkan sinarnya. Indah dan menakjubkan!!

"Lo suka?" Dira menangkap espresi tak percaya dan terkagum gadis itu, ve tak berkutik, matanya tak pernah lepas dari pemandangan didepannya.

"Yah!"

"Indahkan?"

"Yah!"

Dira tersenyum sinis bersamaan dengan ide jahil yang muncul dalam benaknya. "Lo cinta gue?"

"Yah!"

Degh!! jantung gadis itu terhenti ketika menjadari satu kebodohan yang baru saja ia lakukan, ia menatap tajam Dira yang menampakkan senyum lebarnya. "Dira, lo ngerjain gue?"

Pemuda itu menaikkan kedua alisnya menggoda. "Kalau cinta utarakanlah, sebelum menjadi sebuah jerawat nantinya!"

perkataan sok bijak Dira mampu membuat Ve melayangkan pukulannya pada lengan pemuda menyebalkan itu. "Rese lo!"

Dira tertawa kecil saat tatapan geram ve menyerangnya. "Tapi makasih yah, untuk hari ini, Gadis cinderella!" ia mencubit kedua pipi ve yang seketika memerah.
"Sepertinya, menatap matahari terbit bareng lo itu lebih indah dari apapun."

"Dira sakit, cowok idiot!" Ve segera menepis cubitan dira pada pipinya.

Dira tersenyum simple dan berdiri, membelakangi gadis itu yang masih terduduk direrumputan. "Gue pasti bakalan kangen sama lo Ve. Gue bakal kangen suaraa kasar dan bentakan lo buat gue, gue bakal kangen saat lo manggil gue cowok idiot seperti barusan, dan gue bakal kangen sama senyum dan tawa lo."

"Dira." gadis itu berdiri, berjalan kesamping Dira dan menatap pelan pemuda disampingnya. "Kamu gak akan pergi."

"Ada satu rahasia yang mau gue utarain sama lo Ve!" Dira menarik nafasnya pelan, mengaturnya sebelum ia kembali berbicara. "ini hanya lo yang tau!"

"APA?"

"Besok, gue harus menjalani oprasi penerimaan jantung baru, kalau besok gue gak ngejalani oprasi itu, itu berarti hari ini adalah hari terakhir lo liat gue." Dira menuduk pelan.

perkataan yang baru saja diutarakan dira seketika membuat mata gadis itu berkaca-kaca, tidak!! Ia tak ingin ini semua menjadi hari terakhirnya bebrsama Dira. "Lo gak akan pergi, besok lo harus ngejalanin oprasi, lo janjikan?"
Ve meraih jari jemari tangan Dira dan menggenggamnya erat. Demi gue, Vega gadis yang suka ngebentak lo dan demi gue gadis cinderella lo!"

Perlahan Dira menaikkan wajahnya dan tersenyum simpul, perhatian gadis itu membuat hatinya tersentuh. "Tetap gak bisa Ve!"

"Kenapa? kamu butuh pendonor? aku bersedia donorin jantung aku buat kamu!"

"Bukan itu, pendonor udah ada dari kemarin, tapi gue cuma butuh satu agar oprasi itu berjalan." Dira melepas tangan gadis itu yang setia menggenggamnya. ia kembali berbalik memunggungi Ve.

"Apa?"

"Tandatangan Ayah!" Jawaban singkat Dira membuat Ve menarik nafasnya panjang.

Gadis itu berdiri disamping Dira dan memutar tubuh tegap itu hingga keduanya saling berhadapan. "Dira, kalau cuma itu, aku bisa minta bantuan Dava untuk dapatin tanda tangan ayah kamu."

"Percuma, Sekarang ayah lagi di Amerika, dia gak mungkin mengabaikan pekerjaannya disana, hanya demi menandatangi surat gak penting gue!"

"Dira! Apapun yang terjadi, kesehatan dan kesembuhan kamu itu yang terpenting!"

"Tapi gak buat Ayah, bagi dia pekerjaannya itu yang utama." Dira menatap tajam Ve yang menunduk seketika. "Gue yang tau dia Ve, dia gak pernah peduli sama kesehatan gue." diraihnya dagu ve perlahan hingga gadis itu menatapnya enggan.

Hatinya seketika berdetak kencang saat mendapati buatiran airmata di kedua mata gadis itu. "Lo kenapa nangis?" ia hapusnya perlahhan butiran airmata itu yang mulai terjatuh membasahi pipi putih itu. "Ve! gue ngajak lo kesini bukan buat liat lo nangis, tapi untuk menemani hari-hari terakhir gue didunia ini."

"Enggak!" Ve menggelengg cepat. "Lo gak akan pergi, lo akan tetap disini bareng gue!" Gadis itu berkata keras.

"Ve!"

"Apapun, gue akan lakuin asalkan lo tetap disisi gue, gue gak mau lo pergi Dir, enggak!"

Dira tersenyum tipis. "Kenapa ve, kenapa lo gak mau gue pergi? bukannya lo gak pernah cinta sama gue?" Dira menatap tajam Ve yang seketika terdiam.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya pelan, dan memainkan ujung rambutnya grogi. "Gue..gue.."

"Lo cinta Gue? benarkan?" Dira menaaikturunkan alisnya bergantian semakin membuat gadis itu salah tingkah.

"Pede, siapa juga yang tertarik sama cowok idiot kaya lo!" Ve berjalan menjauh setelah memukul lengan Dira keras.

Dira mengerutkan keningnya mendapati gadis itu yang mencoba menjauh. "Lo mau kemana?"

Ve berbalik dan menatap Dira sekilas. "Rumah lo!"

Dira segera mengejar cepat langkkah Ve yang menjauh, hingga ia benar-benar meraih jemari lentik itu hingga langkah Ve terhenti. "Gak perlu, kan udah gue bilang percuma."

"Gue akan tetap kesana!" Ditepisnya tangan dira yang mendarat dilengannya, dan gadis itupun kembali melangkah.

Saat itu juga, Dira merasakan jantungnya kembali kambuh, ia mencoba menyender pada pohon disampingnya, meremas jatungnya yang semakin ia rasakan sakit.
Ia menutup matanya, mengaturnafasnya, dan mengggigit bibirnya untuk sekedar menahan sakit.
Kali ini jantungnya ia rasakan lebih sakit daroipada sebelumnya, setiap detakan yang berdetak membuatnya susah bernafas.
keningnya berkeringat, bibirnyapun seketika mengeluarkan darah segar karena terlalu keras ia mengigit bibirnya saat mencoba mengusir rasa sakit.

Ia mencoba menatap Ve yang menjauh, kepalanya terasa pusing dan pandangannya seketika kabur, "Gue.. cinta.. Lo.. Ve!" ia terjatuh terduduk, menyender pada pohon besar dibelakangnya.

Hati gadis itu terasa sesak, seketika ia berbalik, mencoba menatap sosok Dira, tapi matanya membesar saat ia mendapati Dira terlihat lemas menyender pada pohon besar itu. "DIRA!"
Ia berlari menghampiri pemuda itu, diraihnya tubuh yang semakin hari semakin lemah itu dalam dekapannya. "Dira!" disandarkannya kepala dira dalam pangkuannya. "Lo kenapa?" matanya berkaca-kaca, ia menangis.

"Tetap disini Ve.. Gue.. Mohon!" Pinta pemuda itu dengan suara bergetar.

"DIRA!"

"Ve.. gue cinta lo.. sekali ajah.. gue.. pingin.. ngedengar.. kalau.. lo.. juga.. cinta.. gue!"

"Dira!"

"Please, Bilang... lo.. cinta.. gue..!" Dira menahan rasa sakit itu dengan sebuah senyuman. "Walaupun Itu Dusta!"

AIrmata itu semakin deras mengalir, "Gue cinta lo Dira, Gue cinta Lo!" Ve berteriak keras membuat senyum pemuda itu semakin melebar.

"Terimakasih! sekarang gue bisa pergi dengan tenang!"

"Lo gak akan pergi Dir, gak akan!"
Gadis itu menggeleng berulangkali dengan airmata yang terus menetes.

Perlahan Dira mencoba terduduk, walau lemah tapi ia berusaha kuat. "Jangan nangis Ve, gue mohon!" dihapusnya perlahan airmata yang membasahi pipi putih itu. "Terimakasih untuk semuanya, amarah, benci, dan perhatian lo."

Gadis itu masih terisak, ia tak berniat untuk mengatakan apapun, Dira meraih kedua pipi Ve dengan kedua tangannya, seketika wajah keduanya tampak berdekatan, Ve terdiam saat bibir pemuda itu mendekat pada bibir tipisnya.

"Boleh gue nyium lo?" Dira bersuara pelan, menatap Ve tajam berharap gadis itu mengangguk.
senyumnya seketika melebar saat mendapati ve yang menganggukk pelan.

Ve menutup matanya saat bibir Dira benar-benar menyentuh bibir tipisnya. Dira kembali mencium bibirnya setelah kejadiaan diruang UKS itu.
ini kali kedua, keduanya berciuman, tapi ini kali pertama ve merasakan kenikmatan trersendiri saat pemuda menyebalkan itu merenggut ciuman keduanya.

***
Dira yang terlihat sedikit sehat dan membaik menyenderkan kepalanya pada pangkuan Ve, pemuda itu tertidur direrumputan sementara ve terduduk tenangg disampingnya.
Dira mendongakkan wajahnya menatap wajah Ve diatas kepalanya.
"Terimakasih untuk hari ini."

Ve mengangguk pelan diiringi dengan senyuman manisnya.

Dira menutup matanya perlahan merasakan belaian lembut Ve pada rambut hitamnya, "Gue lelah Ve, vue butuh istirahat." ia menariknafasnya pelan dengan kedua mata yang masih tertutup. "Lo maukan nyanyiin lagu buat pengantar tidur panjang gue!"

Ve mendongakkan wajahnya menatap langit-langit, ia mengedipkan sejenak kedua matanya agar tak menangis.

"Nyanyiin gue lagu Ve!" Pinta Dira membuat Ve menatap pelan pemuda itu yang masih memejamkan matanya.

Gaadis itu menarik nafasnya perlahan sebelum sebuah lagu benar-benar dilantunkan sangat indah olehnya.

[Sungguh.. hanyalah dirimu yang aku cintai... Dan sungguh... kukan disisimu hingga kumati]

Ve menundukkan wajahnya, menatap resah keduamata dira yang terpejamkan, pemuda itu tak lagi bersuara, ingin rasanya ia meraih pergelangan tangan Dira dan memastikan detakan nadi pemuda itu masih berdetak atau tidak? tapi ia tak mampu.
ia takut, jika pemuda itu benar-benar meninggalkannya sekarang.

Tanpa terasa airmata gadis itu mengalir dan menetes hingga mengenai wajah pemuda itu yang masihtertidur dalam pangkuannya.. "Dira!" serunya pelan.

Tak ada jawaban, keduamata pemuda itupun masih terpejam, Ve mengelus rambut dira pelan dan penuh kasih.

(Tuhan, apa sudah saatnya, untukku melepas kepergiannya? kenapa harus secepat ini Tuhan? barusaja aku menemukan kebahagiaan bersamanya, tapi kenapa secepat ini kau merebut dan mengambilnya?
Tuhan, jika memang dia bukan jodohku, kenapa? kau menaruh cinta ini untuk berlabuh dihatiku untuknya?
kenapa kau membiarkanku untuk merindukannya setiap waktu?

aku mencintainya, sekarang dan selamanya!
dan aku tak akan mampu hidup tanpanya, hanya dia yang aku inginkan saat ini dan selamanya).



***
Sahabat terbaik dalam mengejar mimpi
Teman terhebatku untuk dapat berdiri
Kawan yang tepat untuk sharing hal-hal kecil
Kuping yang pas untuk
Untuk dengar rima Cypress Hill

"SHIT!"
Evan segera mematikan radio yang sedang didengarnya, lagu bondan feat 2 black itu benar-benar merusak pikirannya, entah kenapa saat lagu itu terdendangkan, seketika ia teringat akan sosok Dira sahabatnya. "Lo gak akan ninggalin gue DIR!" Ia terbangun dari duduknya, menatap perih sebuah kotak persegi pemberian Dira kemarin malam.

perlahan ia menghapiri kotak itu dan meraihnya, tangannya benar-bennar bergetar saat kotak itu dalam genggamannya.
Ia terduduk diujung ranjang dan perlajan membuka kotak persegi itu.
Ia tersenyum, saat mendapati apa yang isi dari kotak itu, sebuah berisi baranaag-barang yang dibeli Dira dengan harga sangat mahal.
sepatu, jaket, topi, kaos hingga CD penyanyi favorite dira sekalipun, semua tertata rapai pada kotak persegi itu.

Tapi ada satu yang menarik perhatian Evan, beberapa pucuk surat beraneka warna, ia temukan terselip diantara barang-barang mahal itu.
ia meraihnya, dan membaca setiap tulisan disudut kanan surat itu.

Surat Biru.. (Teruntuk Evan.. sahabat gue)

Surat Pink.. (Teruntuk Vega.. Gadis cinderella gue)

Surat Hijauh.. ( Untuk Dava.. Kakak Ketemu gede)

Kening pemuda itu sempat mengerut, apa maksdunya semua surat-surat ini???
Walau ragu, tapi akhirnya, ia berusaha pelan membuka dan membaca tulisan tangan Dira yang tertera dalam surat Biru itu, yang dituju untuknya.

Dear Evan.. sahabat terbaik gue..
pertama.. gue mau ngucapin terimakasih karena lo udah mau jadi sahabat gue..
saat lo tau tentang penyakit jantung gue, gue pikir saat itu juga lo bakal ninggalin gue dan enggan bersahabat lagi sama gue, tapi ternyata gue salah.. lo tetap disana.. disamping gue dan menjadi seseorang yang paling ngertiin gue.
Terimaksih untuk semuanya... persahabatan tulus lo dan juga perhatian lo selama ini.. mungkin sebuah kata terimakasih gak akan cukup untuk mengutarakan kata terimakasih gue buat lo.

Kedua.. gue mau minta maaf, atas pelanggaran gue akan janji persahabatan kita. gue masih ingat.. hari itu kita pernah berjanji akan selalu bersama-sama sampai kita nikah, punya anak, dan jadi kakek-kakek, dan kita akan beli rumah bersebelahan agar persahabatan kita tetap terjaga.
maaf kalau gue mengingkari janji kita dengan kepergian gue yang teramat mendadak..

Tiga.. lo pasti udah liat isi kotak itu... gue mau semua barang-barang gue jadi milik lo, gue gak tau harus ngasih lo apa sebagai balas budi baik lo selama ini, mungkin semua barang itupun gak akan pernah bisa menggantinya sekalipun.

Empat.. lo liat dua surat lagi.. gue mau surat pink lo kasih sama Vega dan surat satunya, Hijau lo kasih sama Dava.. gue percaya sama lo Van..

Sebenarnya gue gak mau pergi secepat ini Van, mimpi gue masih banyak yang belum terwujud dan lo tau itu, tapi Tuhan telah menentukan segalanya, dan mungkin inilah yang terbaik buat gue dan kita semua..

Pesan gue cuma satu..
Tetap jadi Evan yang gue kenal.. lo bisa cari sahabat yang lebih baik dari gue Van, dan gue yakin lo bakal dapatin pengganti gue. walau begitu, gue tetap berharap gue tetap menjadi sahabat terbaik lo dan lo gak akan pernah melupakan gue..
Titip salam buat Bunda dan Evi, sampaikan salam sayang gue buat mereka, terutama Evi, gue minta maaf kalau janji gue untuk bawa dia keliling dunia Belum kesampaian kebruru Tuhan manggil gue.. hahaha...

HMMM.. Gue gak tau apa lagi yang harus gue ketik... intinya.. Gue sayang lo Van.. dan terimakakasih untuk semuanya...

DIVARIO!!


Airmata pemuda itu seketika menetes saat berhasil membaca semua isi surat Dira itu.. hatinya sesak dan terasa perih.. ia benar-benar tak ingin jika Dira pergi meninggalkannya.. penyakit itu?? kenapa tidak menyalar saja ditubuhnya, lebih baik dirinya yang mati daripada ia harus kehilangan Dira, sahabatnya..

"Gue gak mau semua ini Dir!" Evan menatap sedih semua barang dalam kotak persegi itu. "Gue cuma mau lo Dir, ELO SAHABAT GUE!"

***
"Bagaimana keadaan Dira Ve?" Dava berkata penuh kepanikan sambil berjalan mendekati Ve yang terduduk leas didepann ruang ICU.

Sovia yang saat itu ikut dengan Davapun terduduk lemas disamping Ve yang terus-terusan menangis.

"Aku gak tau, kata dokter kondisi jantung Dira cukup lemah, aku takut dia meninggal Dav! Gadis itu menangis.

Dava mecoba duduk disamping kirinya dan menenangkan. "Semua akan baik-baik saja!"

Tak beberapa lama tiba doktor keluar dari ruang ICU, wajahnya terlihat pucat . "Keluarga pasien Divario!" teriaknya pelan membuat ketiganya (Dava, Sovia dan Ve) berdiri bersamaan.

"Saya ibunya dok! Sovia maju satulangkah mendnekat pada doktor itu yang membuka kacamata tipisnya. "Bagaimana keadaan putra saya dok?? dia baik-baik saja bukan?"

Doktor itu menarik nafasnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Sovia. "Jantung nya cukup lemah, secepatnya kita harus melakukan operasi dan menerimaan jantung baru."

"Appaun itu, lakukanlah!! asalkan putra saya selamat!" Sovia memohon dengan tatapan penuh permohonan.

Doktor itu tersenyum pelan. "Akan saya usahakan sebisa kami, tapi semua tetap ada ditanganNya!" Dokter itupun kembali memasuki ruangan.

Dava merangkul lengan sang bunda cemas. "Kita berdoa untuk kesembuhan Dira." pemuda itu membawa sang bunda kembali terduduk dikursi tunggu.

pandangannya langsung teralih pada Vega yang masih menangis memandang pintu ICU iTU, ia berdiri dan mencoba mendekat, dipeluknya erat tubuh kurus itu . "Percaya Ve, semua akan baik-baiak saja."

"Aku gak mau kehilangan dia Dav!" gadis itu kembali menangis dalam pelukan Dava.

"Dan semua gak ingin kehilangan Dira!" Dava melepas pelukannya dan mengusap pelan airmata yang terjatuh dipipi putih itu. "Sekarang aku antar kamu pulang, sepertinya kamu butuh istirahat!"

Ve mengangguk pelan, walaupun sebenarnya ia masih ingin tetap disini menunggu pangerannya, ia tak ingin melewatkan sedikkitpun kabar tentang pengemangan Dira tapi dirinya sadar ia butuh istirahat dan kembali pulang agar sang bunda tak mencemaskannya.

***
"Jangan terlalu memikirkan Dira, kesehatan kamu itu lebih penting." Dava berhenti tepat didepan Rummah Ve. gadis itu mmengangguk pelan sambil merasakan belaian hangat Dava pada rambutnya.
"Aku janji akan segera memnghubungi kamu jika ada kabar terbaru tentang Dira."
Dava berkata sammbil menatap Ve yang mencoba tersenyum.

"Terimakasih yah!"

"Dava.. Vega!"
Suara penggilan Evan membuat keduanya seketika menoleh..
Ditatapnya Evan yang mendekat. "Bgaimana keadaan Lemper?"

Kening Ve mengerut seketika sementara Dava hanya tersenyum tipis mendengar penuturan Evan.

"Sorry.. sorry maksud gue Dira, gimana keaadannya?" Tampak dua surat beda warna dalamm genggaman tangan Evan.

"Saat ini Dira sedang melakukan operasi penerimaan jantung baru, kita berdoa ajah semoga semuanya lancar." Dava menatap Evan yang mengangguk pelan.

"Oh yah, ini buat kalian, titipan dari Dira." Evan menyodorkan surat itu sesuai dengan nama dan warna yang tertera.

Ve menatap surat Pink yang kini berpindah ketangannya begitupla Dava yang menatap kaget surat hijau untuknya.

"Ve, aku balik, akku takut bunda kenapa-napa karena terlalu memikirkan Dira!" Dava melipat surat itu menjadi dua dan memasukkanna pada saku celananya.

Ve mengangguk cepat. "Baiklah!"

"Ve biar gue yang jagain!" Evan meraih lengan Ve cepat dan merangkulnya, Dava tersenyum tipis menaatapnya.
"Lo bisa hubungi no Hp gue kalau ada perkembangan dari Dira."

Dava mengangguk mengiyakan perkaataan Evaan dan berlalu menjauhi keduanya.

***
"Kenapa gak dibaca?" Evann yang terduduk disamping Ve menatap heran gadis itu yang hanya memandangi surat pink didepannya.
"Lo gak mau tau isinya?" Tanya Evan lagi sambil meatap Ve yang menggeleng.

"Untuk apa, kalau isi surat ini hanya akan membuat gue menangis." ve meletakkan surat itu pada meja disampingnya.
"Gue udah tau, pasti isinya cuma kata-kata puitis yang bakal buat dadaa gue sesak dan airmata gue ngaalir, permintaan maaf dan juga ucapan terimakasih.. basi!"

Evan tersenyum menatap ucapan polos sepupunya itu. Matanya seketika tekesima pada sebuket mawar yang tergeletak disampingnya. "Dari Dira?" diraihnya bunga itu dan menatap Ve yang mengangguk.

Dengan cepat Ve meraih buket itu dari tangan Evan. "Siapa lagi, kalau bukan dari cowok idiot, sahabat lo itu!"

Evan hanya mampu mmenggelengkan kepalanya menatap tingkah sepupu jauhnya itu.. vega..vegaa..!!

***
Dava terdudukk lemas dijok mobilnya, tangannya berkeringat saat mencoba membaca tulisan yang dituliskan Dira untuknya..

Dear Dava..
gue gak tau, hharus memulai dari mana??
tapi gue cuma mau bilang, gue sadar atas perlakuan kasar gue sama lo dan bunda lo, gue sadar gak seharusnya gue mmenyalahkan kalian atas apa yang menimpa hidup gue.

Dava, gue tau lo bukan malaikat yang berniat nusuk gue dari belakang, gue tau kebaikkan hati lo itu tulus tanpa niat apapun.

Gue minta maaf, kalau gue selalu kasar dan gak peduli sama lo, gue emang gak pantas jadi saudara lo Dav, lo dan tante Sovi terlalu baik untuk gue sakiti.

Jujur, Dav, gue gak mau pergi sekarang.. gue masih mau minta maaf sama lo dan bunda lo atas semua kesalahan gue, gue pingin lo meluk gue dan gue balas peluk lo, seperti kakak-adik lainnya, gue pingin manggil tante Sovi dengan sebutan Ibu seperti anakk-anak lainnya memanggil sang bunda..
Gue pingin ngeliat ayah tersenyum dengan prestasi gue kelak, gue pingin kita berempat liburan dan bersenang-senang bersama, mengusir semua kesedihan dimasa lalu.
gue pingin semua itu Dav. tapi gue sadar, Tuhan keburu manggil gue sebelum semuanya benar-benar terwujud.

Apa gue gak pantas untuk merasakan semua kebahagiaan itu??
Kenapa harus gue Dav, yang terkena penyakkit menyakitkan ini, dari banyaknya manusia didunia ini.. kenapa harus gue??
Apa karena gue selalu nyakitin orang-orang yang menyanyangi gue, apa karena gue selalu ngebantah ayah dan buat ayahh kesal, apa karena gue selalu buat tante Sovi menangis?? apa karena semua kelakukan iblis gue itu, sehingga tuhan menghukum gue seperti ini??

Gue pingin hidup normal seperti anak-anak lainnya, tanpa obat-obatan dan chek up setiap harinya, gue pingin bebas dari penyakit ini Dav, gue capek.. gue lelah...

Sorry kalau tulisan ini cuma buang-buang waktu lo buat ngebacanya..
cuma satu yang mau gue sampaiin sama lo.. tolong bilangin sama Ayah kalau Dira minta maaf belum bisa menjadi anak kebanggaan Ayah, dan sampain permintaan maaf gue buat tante Sovi atas semua perlakuan kasar gue selama ini sama dia.

Terimakasih untuk segalanya...
Tolong ajah Ayah dan Bunda demi gue..

DIVARIO..


***
Enam bulan kemudian...

Gadis itu terduduk, Ditatapnya surat pink dlam genggamannya, surat pemberian Dira itu sedikitpun belum dibukanya, masih utuh seperti saat pertama ia menerimanya.

ia tersenyum pelan.. membacaa bagian kiri surat itu yang tertulis jelas untuknya..

To: Gadis cinderella gue..

senyumnya semakin melebar saat ia mengingat bagaimana aawal pertama pertemuan mereka, pertemuan tak sengaja yang justru membuat wajah Dira memerah karena malu.
Sejak saat itulah, pertarungan selalu terjadi diantara keduanya.
Gadis itu tak mengangka bahwa pemuda yang mulanya sangat dibenci dan dihindarinya tapi kini justru pemuda itulah yang selalu merasuki hatinya tiap malam.
Cinta! ternyata benar, cinta itu sulit untuk diprediksi..

"Cowok idiot!" ia berseru pelan.
sebutan yang pernah ia serukan untuk Dira, sepertinya akan selalu ia serukann selamanya.

"Sorry telat!" Pemuda itu segera terduduk disamping gadis itu yang menatapnya geram.
"Seperti biasa, jalanan selalu macet dan berdebu."" Elak pemuda itu dengan senyuman manisnya.

"Menyebalkan!" Gadis itu berdiri dan menatap sangar pemuda itu yang menatapnya dengan kerutan dikeningnya.

"Lo belum ganti baju?" pemuda itu ikut berdiri menatap Ve yang seketika menggeleng.

"Gue gak biasa pake gaun." Ve mengkrucutkan bibirnya kesal, pasalnya ia memang paling tidak suka jia harus mengenakan sebuah gaun, terlebih dengan higheels.

"Cept ganti baju jelek lo itu dengann Gaun indah yang kemarin gue kasih!" Pemuda itu mendorong tubuh ve pelann hingga gadis itu mendekat pada pintu masuk.
Kemudian kening pemuda itu mengerut saat menatap surata dalam genggaman Ve, diraihnya cepat surat itu dan ditatanya seketika.

"Ini surat dari gue?" Dira.. yah pemuda itu bertanya pada Ve yang kembali merebut surat pink itu.

"Kenapa gak lo baca?? lo gak mau tau isinya?" Dira kembali bertanya, gadis itu hanya menggeleng cepat dan terduduk paada kursi kayu itu.

"Untuk apa? toh sampai saat ini lo masih ada disisi gue."

Dira tersenyum tipis, "Yah," ia seketika berlutut didepan Ve. "Gue gak nyangka ternyata Tuhan masih sayang sama gue dan ijinin gue bahagia lebih lama dengan orang-orang tersayang gue." Dira meraih lengan Ve dan menggenggamnya erat. "Gue cinta lo Ve."

Ve tersenyum pelan dengan sedikit rasa malu, gadis itupun berseru pelan. "Gue juga cinta lo, cowok idiot!"

Yah... penerimaan jatung baru berhasil membuat Dira kembali segar dan menjalani hari-hari seperti biasa.
ia tak lagi tergantung pada obat-obatan ataupun harus melakukan chek up setiap minggunya, sekarang.. inpian Dira untuk hidup normal ternyata terwujud..
tak ada yang lebih indah selain menikmati keindahan mimpi kita yang menjadi kenyataan.

"Duile yang pacarann ampe lupa ama yang lain!" Evan yang baru tiba tersenyum tipis pada Dira dan Ve bergantian.

"Dunia serasa milik kalian berdua." Sambar Dava yang bberdiri tepat disampin Evan.

Dira berdiri sambil menuntun Ve berdiri disampingnya, mmenatap tajam kedua pemuda itu yang telah siap dengan kemeja dan jas yang mereka kenakan.

"Kita jadi jalan?" Evan bertanya pada Dira yang seketika mengerutkan keningnya.

Ia menatap tajam Evan dan Dava yang mengenakan kemeja dan jas yang sama.. "Tunggu??" Pemuda itu maju satu langkah setelah melepas pegangannya pada Vega. Kemudian pemuda itu berbisik setibanya didepan Dava dan Evan. "Kalian jadian?"

Dava dan Evan membelakkan matannya bersamaan saat kalimat pertanyaan itu terlontar dari bibir Dira. pemuda itu kembali bicara. "Jangan bilang, kalau seseorang yang lo suka itu adalah Dava!" Dira mengecilkan suaranya sambil menatap Evan tajam, menunggu jawaban dari bibir sahabatnya itu.

Sedetik kemudian, Evan dan Dava tertawa kencang, dan itu sempat membuat Dira semakin bingung. "Ada yang lucu?" Dira mmenatap Dava dan Evan bergantian.

"Lucu..lucu.. lo pikir kita berdua homo?" Evan berkata masih diiringi dengan tawa lebarnya. "Dira, Dira, setelah jantung lo nerima jantung baru, ternyata otak lo tambah belok!"

Dava tersenyum tipis sambil mendekat pada Ve dan berdiri disamping gadis itu. "Hii!" Sapanya ramah, Ve membalasnya dengan senyuman manis.

"Maksud lo?" Dira makin tak mengerti. "Terus cewek yang lo suka itu siapa?"

"Hmm!" Evan menggaruk tengkuknya bersamaan dengan senyum tipisnya. "Itu.. adiknya Kean."

"Nhia??" Teriak Dira tak percaya. pemuda itu membelakkan matanya seperti baru saja melihat sesosok hantu didepannya.

"Mhia dir, Mia." Ralat Evan dengan wajh kesalnya.
ternyata Dira masih sajja lupa menyebutkan nama seorang cewek.
Dira bener-bener tak berubah.

"Pacar lo tuh!" Dava menunjuk Dira dengan Dagunya, menatap Ve yang melipat surat pink itu dan menyelipkannya pda kantong kemeja tidurnya.

"Gak salahkan, gue menyebutnya cowok idiot?nyebut nama orang ajaah selalu salah!"

Dava tersenyum tipis mendengar penuturan polos Ve, sahabatnya.
"Tapi lo cintakan?"

Ve tersenyum malu dan menunduk, "Udah ah, gue mau ganti baju dulu!" iapun berlalu memasuki rumahnya setelah mendapati anggukan dari Dava.
Tapi langkahnya terhenti ketika telinganya menangkap suara teriakan Dira.

"Ve, Gue CINTA LO!"
Teriakan pemuda itu mampu mmembuat pipi gadis itu seketika memerah, ia tersenyum dan berbalik.

"Norak!"
adis itupun kembali melangkah memasuki rumah.

(Terimakasih Tuhan, karena Mu, aku masih berada didunia ini, bersama orang-orang yang aku sayangi, mulai saat ini aku akan menjalani kehidupanku dengan selalu mengingat Mu, karena aku tau hanya padaMu lahh akukan kembali)
Dira.



THE END :)

"Ketika Dira Jatuh Cinta!" #PART12

"Hmm, Yummie!"

Dira terdiam, menatap Ve yang begitu lahap menyantap ice krim dalam piringan bundar itu.
"Perasaan yang kepingin ice krim itu gue, tapi kenapa malah Lo yang paling semangat gini?"
Ia menggelengkan kepalanya sembari menyendok ice krim vanila miliknya dan menyantapnya perlahan.

"Ini tuh, ice Krim paling enak yang pernah gue makan, Dir!" ve menyendok ice krim miliknya yang telah tersisa sedikit. "Satu lagi pak!" Gadis itu berseru pada pelayan yg melayani mereka. Pelayan pria itu mengangguk dan mulai meracik ice krim pesanan gadis berparas cantik itu.

"Dasar rakus!" Dira menatap meja didepannya, tiga mangkok ice krim yang tak tersisa terlihat jelas menghiasi meja keduanya.
"Udah tiga mangkok juga, apa perut lo gak kembung makan ice krim sebanyak ini?"
Pemuda itu kembali menggelengkan kepalanya, menatap pada gadis SMU itu yang kembali menikmati suapan ice krimnya.

"Udah makan, jangan cerewet!" Ve menyendok ice krim miliknya dan menyuapinya pada Dira yang langsung membelakkan matanya.
Ve tersenyum mendapati wajah terkejut dira, perlahan pemuda tinggi itupun menikmati suapan ice krim dari sang kekasih.

"Sering-sering ajah teraktir gue ice krim kayak gini!" Ve menaikkan sebelah alisnya pada Dira yang tersenyum simpul.

"Selama lo jadi pacar gue, apapun keinginan lo bakal gue kabulin!"

"Serius? cowok idiot!" Ve memajukan wajahnya mendekat pada Dira yang mengangguk.

"Yep! Ketika Dira, jatuh Cinta, apapun akan ia lakukan untuk kebahagiaan gadis yang dicintainya!"
Dira berkata dengan nada berlebihan sambil mengacak rambut Ve gemas, "Makanya, lo bakalan rugi kalau nolak gue!"

"Apaan sih, norak!"
Ve kembali menikmati suapan ice krimnya yang tertunda, walau ada perasaan grogi saat ini, tapi gadis tangguh itu mencoba tetap bersikap biasa. Ia tak ingin Dira tau bahwa saat ini hatinya sedang berdetak tak menentu karena cowok idiot ini.

Dira tersenyum menatap wajah gadis didepannya yang seketika memerah. "Gak usah grogi gitu, biasa ajah lagi sama gue!" ia menaikkan sebelah alisnya bergantian, tersenyum jahil pada Ve yang menatapnya geras.

"Siapa juga yg grogi!" jurus jitakan sendok ice krimpun seketika mendarat tepat dikepala cowok energic itu.

"Setelah ini, gue antar lo balik!"

Ve mengangguk pelan saat kata itu dilontarkan Dira.
"Tapi gue mau ke toko buku dulu, ada satu buku yang lagi gue cari!"

Kini giliran Dira yang mengangguk, pemuda itu berdiri sambil meraih dompet kulit dalam saku celana putih abu-abunya. "Ya udah, biar gue bayar semua ice krim yang udah lo makan!" Dira sengaja menekan suaranya saat mengatakan kalimat terakhirnya membuat gadis itu menatapnya kesal.

"Jadi gak iklas udah traktir gue?" Ve menantang Dira untuk menjawab.

Pemuda itu tersenyum tipis. "Lo ikhlas gak, pacaran sama gue?" tanya Dira balik pada gadis itu yang masih terduduk.

"Gak akan!" Ve berdiri mensejajarkan tubuh pemuda tinggi itu.

Dira mengangguk mengerti, ia menengok kekiri, tangannya seketika menunjuk sesuatu yang dilihatnya. "Afgan tuh!"

Refleks, Ve yang kebetulan berdiri disamping kiri Dira, menengok cepat saat pemuda itu menyebutkan nama penyanyi idolanya ini. "Mana? Mana?" mata gadis itu terus mengarah pada arah telunjuk Dira.

Dira tertawa kecil menatap espresi Ve saat ini, gadis itu masih menengok kekiri, Dira menarik nafasnya panjang sebelum ia melakukan sesuatu yang mulai berputar dalam benaknya.

CUP!

Mata gadis itu terbelak, jantungnyapun seketika berdegub kencang saat pemuda itu mencium pipinya sekilas.
Bagaimana bisa?

Dira mendekatkan bibirnya pada telinga kanan Ve, berbisik. " Tapi gue ikhlas jadi pacar Lo!"
Pemuda itupun berlalu setelah berhasil membuat gadis itu kehilangan kendali.

"Cowok Idiot!" Hati kecil gadis itupun menjerit keras.

***
"Lo nyari buku apaan Ve?" Dira mendekat pada Ve yang sibuk mencari buku incarannya.
Keduanya terlihat tiba ditoko buku itu sekitar satujam yang lalu, tapi tetap saja gadis itu masih belum menemukan buku yang dicarinya.

Dira mendengus pelan saat gadis itu benar2 mengacuhkannya. " Udah satu jam kita disini Ve, gue pegal ngikutin lo nyari buku gini!"

"Ya udah, siapa suruh juga, lo kan bisa duduk!" Ve menunjuk kursi panjang yang terletak tepat disamping jendala. "Lo bisa duduk disana dulu, selama gue masih nyari!"
Gadis itu kembali fokus pada ribuan judul buku yang memenuhi rak didepannya.

"Okay, gue tunggu lo disana!" Pemuda itu melangkah pelan menjauh dari Ve yang tersenyum menatapnya.

Dira.. Dira.. Dan Dira..
Gadis ini tak akan pernah menyangka bahwa ia akan berhubungan lebih jauh dengan pemuda menyebalkan ini, Be his GirlFriend! DAMN!.
Dira.. Nama yang awalnya enggan untuk ia sebutkan tapi sekarang terasa begitu berarti untuknya.
Dira.. Pemuda yang awalnya begitu ia benci tapi kini begitu ia rindukan kehadirannya.
Dira.. pemuda yang mungkin memang tercipta hanya untuk dirinya seorang, sekarang dan selamanya.
Dira.. Dira.. Oh Dira!



***
Hari ini tak seperti biasa, kedua remaja yang awalnya selalu terlibat pertengkaran itu, seketika terlihhat bersama.
Beberapa jam, gadis itu lalui bersama Dira, dan sesaat ia merasakan hidupnya berubah, ternyata pemuda ini tak seburuk dan semenyebalkan yang dipikirkannya selama ini.

Dira kembali membonceng Ve, gadis yang baru saja menjadi kekasihnya itu, walau Ve menerimanya dengan terpaksa. Motor sport itu melaju kencang diantara ribuan kendaraan di jalan raya, sesekali terlihat gadis itu yang memeluk erat pinggang Dira karena takut. Pemuda itu tersenyum dalam balik helm yang dikenakannya.

suutt!!
Motor terhenti tepat didepan rumah sederhana, bergegas gadis itu turun. "Hmm!" ia menatap Dira yang sedang membuka helm dikepalanya, Ketampanan pemuda itupun seketika terlihhat jelas dalam sorotan mata Vega.

"Ur, Welcome!" Tampaknya Dira tau apa yangg ingin diutarakan gadis itu, ia tersenyum saat mendapati wajah bingung Ve.

"Emangnya gue mau bilang makasih!" Ve menepis lengan Dira yang masih terduduk dalam motor besar itu. "Sok tau!"

"Ya udah, kalau gitu gue balik deh!" Dira mencoba kembali memasangkan Helm, tapi dengan cepat gadis itu meraih paksa helm ditangan Dira.

"Lo gak mau masuk dulu?"

Dira sempat terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan gadis didepannya itu. "Serius?" tanyanya memastikan pada Ve yang mengangguk cepat. "Nanti lo bakal nawarin gue air hujan gak?"

Ve tertawa kecil mendengar pertanyaan pemuda itu, gadis itu menatap langit-langit sekilas, dan kembali menatap Dira yang masih menatapnya tajam. "Gak, lagian gak hujan."

Dira menarikk nafas lega, "Syukurlah!"

"Tapikan ada air got!" Ve berkata dengan nada menggoda membuat wajah Dira seketika ilfeel.

"Iyuhh!!"

Ve kembali tertawa kecil, sungguh wajah pemuda ini begitu lucu saat ia merasa ilfeel seperti sekarang. "Gimana? mau gak?" canda Ve sambil mengembalikan helm ditangannya pada Dira.

"Ogah!" Dira menatap helm yang telah berpindah ditangannya dan menaruhnya didepan. "Gue balik ajah!"

"Ya udah kalau itu mau lo, gue juga mau istirahat!" Ve menatap Dira yang mengangguk.

"Makasih!" Suaranya terdengar pelan, tapi dengan jelas Ve dapat mendengarnya.

"Untuk??"

"Gue yang udah traktir lo minum ice krim, gue yang udah nungguin lo nyari buku sampai dua jam lebih, dan gue yang udah mengantar lo pulang!"

Ve memukul lengan dira pelan. "Norak! segitu pinginnya lo dapat ucapan terimakasih dari gue!" gadis itu menatap Dira yang mengangguk cepat. "Berarti lo gak ikhlas."

"Becanda, Ve!" cowok itu mulai menjalankan mesin motornya. "Lo masuk dulu, baru gue balik!"

Ve mengangguk setuju, perlahan gadis itu mencoba menjauh dari Dira yang terus menatapnya.

"Ve!"

Gadis itu terhenti dan berbalik. "Yah!"

"Bye!" Dira melambaikan tangannya pada Ve yang mengangguk.

Gadis itupun kembali melangkah.

"Ve!"

Tapi untuk kali kedua, suara Dira memanggilnya membuat langkah gadis itu terhenti dan kembali berbalik. "Iya Dira?"

"See you Soon!" pemuda itu mulai mencoba memakai helm.

Ve tersenyum kecil. "See you soon!" Ia kembali melangkah, tapi lagi-lagi...

"Gadis Cinderella!"

Ia berbalikk menatap Dira yang telah siap mengenakan Helm. "Apa lagi, cowok idiot?"

"Gue Cinta Lo!"

BREEEMM!!!
Pemuda itupun berlalu begitu saja setelah mengatakan itu, Ve terdiam tak berkutik, tangan dan kakinya bergetar, jantungnyapun kembali berdegup kencang, seketika senyuman kecilpun terukir jelas dibibir merahnya.

"I love you Too, Cowok idiot!"


***
Divario... cowok itu berjalan pelan memasuki rumah megah itu, langkahnya terus menginjakk lapisan kramik putihh itu, hingga ia tiba di ruangmakan. Ia menatap Bi Mina yang sedang membenahi meja makan.

"Ayah mana?" pemuda itu menatap meja makan yg telah ditata, ia rasakan kepalanya yang sedikit pusing. pemuda itu meraih gelas dan mulai menuangkan air putih.


"Ayah kamu, masih harus mengurus beberapa surat rumah sakit."

Suara itu menjawab pertanyaan Dira, bukan dari mulut Bi Mina melainkan Sovia.

Wanita itu mendekat pada Dira yang terlihat meneguk air dalam gelas kaca itu, "Sebentar lagi juga kembali!"

Dira menghentikan minumnya, dan menatap tajam Sovia yang mencoba tersenyum tulus.
senyuman tulus itu, hanya membuat Dira semakin muak, ia tak suka dengan semua kelembutan yang dimiliki wanita ini, bagaimana bisa, bunda Dava, istri kedua ayahnya masih bersikap lembut dan penuh kasih dengan semua perlakuan kasar Dira selama ini.
Apa Wanita ini benar-benar malaikat yang tak ada rasa dendam sedikitpun? Mustahil!!

Dira menarik nafasnya pelan, ia tak tau apa lagi yang harus ia katakaan sekarang, ia mengalihkan pandangannyya saat wanita itu mencoba mengelus pundaknya.

"Kamu sudah Makan?" Sovia meraih gelas yang masih dipegang Dira, menaruhnya diatas meja dan kembali bicara. "Tante, buatin kamu bubur ketan!" Katanya ramah.

Espresi pemuda itu masih datar, dan mungkin akan selamanya datar bila berhadapan dengan wanita dihadapannya.
"Gak lapar!" Hanya jawaban itu yang mampu ia ucapkan.
Ia berusaha melangkah tanpa berniat menatap wajah Sovia yang menunduk sedih. Apakah ia terlalu kasar??

"Dira!" Wanita itu bersuara pelan, mendekat pada Dira yang seketika menghentikan langkahnya.

pemuda itu setengah menengok.

"Terimakasih!" suara wanita itu masih terdengar pelan, tapi terasa begitu tulus. Wanita itu tersenyum saat mendapati wajah bingung Dira.

"Terimakasih untuk apa?? Untuk penolakan gue akan bubur ketan itu atau tentang perlakuan kasar gue selama ini?" Suara hati pemuda tinggi itu bertanya.

"Tante tau, kamulah yang sudah menyumbangkan darah kamu untuk Dava, sekali lagi terimakasih!"

Deg!
Dira terdiam... bagaimana bisa wanita ini tau segalanya??

Ia menutup matanya saat senyuman tulus itu kembali dilihatnya, detik kemudian ia membuka matanya, ia tak lagi mendapati Sovia disampingnya, wanita itu berlalu mencoba memasuki ruang kerja sang ayah disamping tangga.
"Bagaimana keadaan Dava?"
entah apa yang merasukinya saat ini, seketika dengan begitu saja pertanyaan itu terlontar dari bibir tipis Dira.
Selama ini, ia tak peduli dan tak akan mau peduli bagaimanapun nasib saudara tirinya itu, tapi hari ini, ia merasa ada sedikit rasa khawatir yang merasukinya.. aneh dan sangat aneh!! Pemuda itupun menyadarinya.

Langkah Sovia terhenti, ia tersenyum tipis dan memutar tubuhnya, menatap anak tirinya itu yang menunduk dan menutup mata. "Berkat kamu, Dava akan baik-baik saja."


***
"Ve.. bangun Ve!"

Gadis itu membuka matanya perlahan, saat suara seseorang mengganggu tidurnya..
ia menyipitkan matanya, mencoba menerka pemuda yang saat ini berada tepat berdiri disamping ranjangnya. Pemuda itu tersenyum manis padanya.

"AAAA!"
Gadis itu meloncat kekiri, dan BUKK!!

Ia terjatuh dari ranjang seketika. "Lo ngapain di kamar gue?? Gimana bisa lo masuk??" Dua pertanyaan itupunn terlontar begitu saja dari bibir Ve.
"Evan!!" Gadis itu berteriak, meraih bantal didepannya dan melemparnya tepat kewajah pemuda itu yang tersenyum.

"Siapa suruh pintu gak lo kunci!" Evan terduduk dipinggir ranjang Ve, menatap sekeliling kamar gadis itu yang tertata sangat rapi.
"Oh yah, gue kesini mau ngajak lo jalan!" Evan beralih menatap Ve yang telah berdiri, gadis itu mengerutkan keningnya bingung. "Dava udah sadar, dan gue.."

"Dava sadar? lo serius?" Tanya gadis itu penuh semangat, memotong kalimat yang belum selesai Evan sampaikan.

Evan mengangguk cepat dan menarik nafasnya pelan. "Ya ilah semangat bener!"

Ve menggaruk tengkuknya salah tingkah. "Wajarlah, diakan sahabat gue."

"Ya udah sekarang lo mandi!" Evan melirik peln gadis itu yang mengenakan piyama tidur, seketika pemuda sederhana itupun menyunggingkan senyumnya.

"Kenapa lo?" tanya Ve penuh curiga dengan senyuman Evan yang menurutnya aneh.

"Gue kangen tidur bareng lo!" canda Evan mampu mmebuat Ve kembali meraih bantal didepannya dan dilemparnya cepat pada wajah mesum itu.

"EVAN!!!"



Evan dan Vega, keduanya terlihat mengintari koridor rumah sakit,ranjang buah-buahan tampak jelas tergelantung dijemari tangan Vega.
Semakin mendekat, hingga keduanya benar-benar tiba didepan kamar bertuliskan 23D.

"Dava!" Ve mengetuk pintu yang terbuka, matanya langsung menuju pada Dava yang terlihat duduk menyender pada ranjang rumah sakit.

Dengan senyum ramah Pemuda itu menyambut kedatangan keduanya. "Vega, Evan!" Pemuda itu menatap keduanya yang mendekat.

"Aku senang kamu udah sadar." Ve menaruh keranjang buah ditangannya diatas meja tepat disamping Ranjang Dava.

Dava tersenyum tipis mendengarnya.

"Gimana keadaan lo?" Evan mencoba memecah keheningan pagi ini.

Dava mengangguk pelan. "Udah mendingan."

"Gue tau Dav, lo kuat." Semangat yang dilontarkan Evan mampu membuat Dava tersenyum lebar.

Ia menatap sekeliling, matanya sibuk mencari satu sosok yang ia harapkan hadir menyapanya. Dira! Yah, sang adik!

"Dira mana?" Davaa menatap Evan yang masi berdiri disampinnya, sementara Vega telah terduduk dikursi samping Dava.

"Gak tau, dari pagi gue teleponin Handphonenya gak aktif!" Evan menatap keluar jendela, tapi seketika ia menatapa Vega saat gadis itu menanyakan sesuatu.

"Tapi Dira baik-baik ajah kan?" wajah Ve terlihat sedikit cemas, jujur gadis ini masih mengkhawatirkan Dira setelah kejadian kemarin.

Evan mengangguk pelan, Dava menatapnya tajam. "Apa jantungnya kumat lagi?" pertanyaan Dava membuat Ve dan Evan saling pandang, seketika keduanya menggeleng serentak.

"Enggak, tapi lo tau sendiri adik lo itu, suka telat minum obat." Evan mencoba menjawab pertanyaan Dava, ia tau Dava masih belum menyadari bahwa Dira telah menyumbangkan darahnya untuk Dava. Karena itu ia tak ingin Dava cemas akan keadaan Dira yang sebenarnya.

Malam kemarin, tepat jam duabelas malam, Dira sempat menelponnya, keduanyapun sempat berbicara cukup lama dalam jaringan komunikasi itu.

Evan: "Gimana keadaan lo?"
Dira:" Lumayan, cuma pusing dikit!"
Evan: "Obat udah lo minum?"
Dira: "Udah, tinggal matinya ajah belum."
Evan: (Tanpa suara.. hening)
Dira: "Becanda, terimakasih untuk semuanya."
Evan: "Lo kenapa?"
Dira:"Lo adalah sahabat terbaikk gue Van, sorrry kalau selama ini gue sering banget buat lo kesal dengan sikap egois dan manja gue."
Evan: (Diam... masih mendengarkan Dira yang masih bicara)
Dira:"Cuma lo yang peduli sama gue, yang care sama gue, padahal bokap gue[un gak seperhatian itu, lo emang the best."
Evan:" Lo kenapa?"
Dira: "Gue baik-baik ajah, sekarangpun gue lagi tersenyum, sayangnya lo gak bisa liat senyuman manis gue."
Evan: "Dira!"
Dira: "Disini gue ngerasa sendiri Van, gue ngerasa asing.. hati gue sakit setiap kali gue ngeliat mereka tertawa, sementara gue tersiksa, Ayah, bunda Dava dan Dava, mereka selalu ngumpul tiap malam diruang keluar tanpa gue, mereka tertawa, berbagi dan semua mereka lakukan tanpa gue."
Evan: "Dira!"
Dira: "Mungkin gue pergi itu lebih baik, toh mereka gak pernah anggap gue ada, Ayah, segitu susahnyakah gue minta tanda tangan dia buat operasi gue, dua bulan surat oeprasi gue diatas mejanya, tapi apa?? Ayah, sama sekali gak nyentuh surat itu sedetikpun,"
Evan: "Dira!"
Dira: "Tapi surat persetujuan dava ke Cipanas, cuma butuh waktu satu detik untuk bisa dapatin tanda tangan ayah, Seharang gue sadar bahwa Davalah segalanya, dan gue serta penyakit jantung gue gak ada arti apa-apa buat AYAH!"
Evan: "Dira dengerin gue!"
Dira:" Van, kalau gue pergi dan gak kembali, lo jangan pernah lupain gue yah!"
Evan: "Lo gak akan pergi, kalaupun lo pergi, gue yakin lo pasti akan kembali."
Dira (hening)
Evan: "Dira, lo bisa ceritain semuanya sama gue, kalau emang lo tersiksa tinggal satu atap sama mereka, pintu rumah gue selalu terbuka buat lo."
Dira: "Terimakasih. Gue sayang lo, CINCAU"
Evan: "Dira!!"

tutututu... sambungan terputus.


"Evan!" Sapaan Ve membuat Evan seketika membuyarkan lamunannya.

"Gue harus pergi!" Pemuda itu bergegas, membuat Ve dan Dava menatapnya tajam dan bingung.

"Lo mau kemana?" Pertanyaan Dava membuat langkah Evan terhenti, pemuda itu memutar badannya hingga berhadapan dengan Dava yang menatapnya tajam. "Dira, gue mau nyari dia!"


***
Evan terduduk lemas didepan pintu rumah Dira, baru saja pemuda itu mendapat kabar dari bi.Mina, bahwa Dira keluar rumah dari subuh tadi, itu berarti pemuda itu benar-benar pergi setelah menelponnya.
Evan mendongakkan wajahnya, menatap langit-langit, awan tampak berkumpul jadi satu, "Dira, lo dimana?" ia menutup matanya, mencoba mencari cara agar ia tau dimana keberadaan sang sahabat.

Ia merai handpone ditangannya, ia tersenyum saat mengingat handphone itu adalah hadiah Dira untuknya, Yah! sejak awal persahabatan mereka, Dira selalu saja menghujani Evan, yang mulanya hidup sederhana dengan barang-barang mahal. dan handphone ini adalah salah satunya.

"Buat GUE Dir?" Evan menatap tak percaya Dira yang mengangguk.
"Biar gue bisa hubungin lo tiap saat, tenang pulsa gue isiin tiap hari."

kenangan itu kembali diingatnya, satu yang paling membuat Evan betah berlama-lama bersahabat dengan Dira, bukan karena harta yang dimiliki pemuda itu, tapi kesetiakkawanan Dira yang mungkin tidak dapat dibeli dengan apapun.
Pernah atau bahkan sering, Evan mencoba menjauh dan berteman dengan siswa lain, tapi Dira, pemuda itu tetap menunggunya untuk kembali, Dira, pemuda yang sering gonta-ganti pacar tapi untuk sahabat,tetap satu.. EVAN!

"Gue emang sering gonta-ganti pacar, gadis yang jalan sama gue bukan cuma satu atau dua, tapi ribuan, setiap hari gue selalu kepikiran buat ganti pacar, tapi asal lo tau Van, dalam hati gue, sedetikpun, gue gak pernah kepikiran untuk ganti sahabat, pacar gue banyak, teman gue banyak, musuh gue APALAGI, tapi.. sahabat gue satu dan akan tetap satu.. yaitu Elo.. Evan, Cincau!" DIRA.

Evan menutup matanya pelan, dadanya sesak saat kenangann bersama Dira terliang dalam benaknya. "Kembali Dira, Gue mohon!"



***
Dava dan Vega.. kedua terlihat asik berbincang-bincang ditaman rumah sakit. Dava terduduk dikursi roda sementaara Ve terduduk dikursi pnjang taman tepat disamping pemuda itu.sambil menikmati segelas teh susu, keduanya memulai pembicaraan.

"Dava!" Sapaan lembut gadis itu, membuat Dava seketika menengok kekiri. "Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu!"

"Tentang perasaanmu pada Dira."

Ve terdiam, mendengar tebakan pemudaa itu yang begitu tepat. "Bagaimana bisa??"

Dava tersenyum tipis, ia beralih menatap kedepan, memutar gelas ditangannya perlahan. "Aku tau, kau menyukainya!, bukankah begitu?"

Ve terdiam sejenak, sebelum akhirnya sebuah anggukan pelan menyertai. "YAH, ternyata kau benar, terlalu membenci seseorang adalah satu kesalahan, karena itu akan berakibat kau akan mencintai orang itu."

"Benci dan cinta itu hanya beda tipis."

Ve menatap Dava, pandangan pemuda itu masih lurus kedepan. ia menaarik nafasnya panjang, menaruh gelas disampingnya dan berusaha berucap. "Maaf!"

Dava menatap Ve cepat. "Untuk cintaku yang tak kau balas?" pemuda itu berusahaa tersenyum, walau sebenarnya hatinya sedikit merasa getaran berbeda.

Ve kembali terdiam, menatap pelan Dava yang kini membelai rambutnya lembut. Pemuda ini begitu tulus menyayanginya, ia yakin hidupnya akan bahagia bila bersanding dengan oemuda sebaik Dava.tapi ia sadar, hatinya telah memilih, dan ia pun tak pernah menyangka bahwa hatinya justru berlabuh pada pemuda menyebalkan bernama Dira.cinta memang terkadang sulit untuk dimengerti.

"Cinta itu tak harus saling memiliki bukan?"

Ve mengangguk.

"Asal kau tetap disampingku, itu sudah lebih dari cukup." Dava kembali tersenyum. "Kau tetap sahabatku?"

"Yah!, Selamanya!"

Dava tak bisa melakukan banyak hal, ingin rasanya ia mempertahankan cintanya untuk Ve, berusaha mempertahankannya dari Dira yang mulai berusaha merebutnya.membuktikan pada gadis ini bahwa cintanya benar-benar tulus dan suci.Tapi ia sadar, tak ada cinta yang mampu dipaksakan.hatinya menciut saat ia menyadari bahwa cinta gadis itu bukan untuknya.Hatinya gelisah saat mengetahui rindu gadis itu bukan miliknya.tapi Dira.. adik tirinyalah yang telah menguasai seluruh pikiran gadis itu.cintanyapun telah memilih. dann pilihan itu jatuh bukan pada dirinya melainkan Dira, Adiknya.Ketika cinta benar-benar harus mengalah.. mungkin itulah yang dilakukan Dava sekarang.mengalah demi kedua orang yang dicintainya.. Dira sang adik dan juga Ve cintanya.

***
Evan....pemuda itu terlihat lemas mendekati rumah sederhana peninggalan sang ayah.. Sudah seharian ini ia mencari keberadaan Dira, tapi tetap saja hasilnya nihil.berulangkali pemuda itu menghubungi ponsel Dira, tapi tetap saja tak ada jawaban.

Ia putus asa, dan memutuskan kembali pulang, menjatuhkan tubuhnya terduduk dilantai teras rumahnya tak bersemangat."Lo dimana Dir?"

Tak beberapa lama muncul sang adik dari balik pintu, menghampiri sang kakak dan berdiri disampingnya."Kakak ngapain duduk disini?, kak Dila udah nungguin kakak Dali tadi?"

Suara sang adik membuatnya berdiri, matanya membesar seketika. "APA?? DIRA??"

Evi mengangguk pelan. "Ia,, kak Dila ada dikamal kakak sekalang!"

Tanpa banyak kata, pemuda itu berlalu cepat memasuki rumah,, langkahnya terhenti ketika ia tiba didepan pintu kamarnya.Matanya membesar saat mendapati apa yang dilihatnya sekarang.Dira, terlihat asik menyender pada ranjang Evan, dengan senyum Dira menyambut kedatangannya.

"Lama amat, gue udah nungguin lo dari tadi, Cincau!" Dira mengubah posisinya menjadi terduduk diujung ranjang milik Evan.

Evan menatapnya tajam. "Lo darimana?"

"Sini duduk! gue bawain makanan kesukaan lo plus buahh segar buat tubuh lo biar makin segar dan berisi."

"Lo Darimana?" Tanya Evan ulang.

"Ada apel sama Jeruk!" Dira mengangkat dua buah beda warna itu sambil menyodorkannya pada Evan yang mendekat. "Ada martabak sama soto ayam, Pizza, hamburger, sate, batagor!" pemuda itupun mulai mengabsen makanan yang telah memenuhi ruangan sempit itu. "Es alpukat, sama es campur, trus..."

"LO DARIMANA?" Suara keras dan bentakan Evan mampu membuat pemuda itu terkejut.

Diraa menatap pelan Evan yang tajam menatapnya, kemudian ia tersenyum tipis. "Jalan-jalan cari angin." jawabnya enteng.

"Kenapa telepon gue gak lo angkat?"

"Ketinggalan dikamar."

Evan menarik nafasnya pelan, berbicara dengan dira memang butuh estra kesabaran. Ia terduduk disamping Dira yang sedang asik dengan buah apel ditangannya.Seketika pandangannya tertuju pada sebuah goresan dikening sahabatnya, dengan darah yang telah membeku. "Kening lo kenapa?"

Dira hanya menjawabnya dengan senyuman.

"Dira! lo habis berkelahi?" Tanya Evan tegas. ia meraih apel dari tangan pemuda itu dan menaruhnya bergabung dengan buah-buahan lainnya. "Jawab gue!"

"Cukup Van!" Dira berdiri dan menatap tajam Evan yang masih terduduk. "Gue muak dengan siap baik lo!, Lo cuma sahabat gue, kalaupun gue mati, kita gak ada ikatan darah!"

Evan terdiam menatap pelan Dira yang membelakanginya.

Dira kembali bicara. "Lo cuma sahabat gue, lo bukan ayah gue ataupun keluarga gue Van." Dira menarik nafasnya pelan. "Mereka ajah gak peduli sama gue, seharian ini gue diluar rumah, tapi apa? gakk ada satupun yang hubungin atau nyari gue" Dira meraih ponsel dari saku celananya, pemuda itu berbalik dan menyodorkan pnsel itu pada Evan yang langsung meraihnya.

"Lo liat, panggilan tak terjawab disana!"

Perintah Dira membuat Evan menatap panggilan tak terjawab dalam ponsel milik Dira. "Tigapuluhtujuh?"

Dira tertawa kecil. "Dan sekarang lo liat nama yang tertera disana!"

Evanpun segera membaca nama yang tertera disana. "Cincau?" Evan menatap Dira tak mengerti.

Dira kembali terduduk disampingnya. "Mungkin kalau ada yang lihat panggilan tak terjawab dihandphone gue yang lebih dari tigapuluhh, mereka akan berfikir kalau banyak orang yang khawatir sama gue, tigapuluhtujuh Van, itu gak dikit, setiap detik ponnsel gue berbunyi, cukup sempurna bukan?. Tapi mereka salah, mereka justru akan tertawa dan mencemooh gue kalau mereka tau ternyata dari tigapuluhtujuh panggilan tak terjawab itu,cuma datang dari satu nama. ELO!"

Evan menatap teduh Dira yang mencoba tersenyum, keduamata sahabatnya itu mulai berkaca-kaca.

"Cuma lo Van yang peduli sama gue, Ayah guepun gak pernah khawatir akan kesehatan gue, gue mati mungkin itu lebih baik."

"Dira! lo gak bole bicara seperti itu." Evan mencoba menenangkan. "Orangtua mana yang gak sayang sama anaknya?"

"Ayahh!" Jawaban Dira membuat Evan menggeleng.

"Dia sayang sama lo Dir, tapi mungkin dengan cara yang salah."

Dira terdiam, tak ada kata yang akelura dari bibirnya, diraihnya apel didepanya dan digigitnya cepat.

"Sekarang cerita sama gue, Lo darimana?? dan apa yang terjadi sama kening lo?" Evan menatap tajam Dira yang asik mengunyah apel dalam mulutnya.

Pemuda itupun tersenyum tipis dan menjawab. "Ngebunuh Curut sok suci itu!"

"Keanes??"

Tigajamsebelumnya...tepatnya dikediaman Keanes...

"Kean... keluar LO, JANGAN JADI PENGECUT!" Teriakan Dira mampu membuat seisi rumah itu keluar seketika, tak terkeculi Keanes.

Musuh bebuyutan Dira sejak awal masuk Sma itupun tersenyum pelan sambil berjalan mendekati Dira yang geram menatapnya."Welcome to my House, Divario!"

Dira menatap geram Kean yang telah berdiri didepannya,ia mengepalkan tangannya penuh emosi.

"Masuk! Pintu rumah gue selalu terbuka buat lo!" Kean kembali menampakkan senyum sinisnya dan berusaha merangkul lengan Dira.

dengan cepat Dira menepisnya dan...Bughh!!!

Dira menonjok tepat wajah Kean, Hingga pemuda itu terjatuh seketika. "B*NGS*T!! MASALAH LO SAMA GUE, BUKAN DAVA!"Ia membungkukkan badannya dan mencengram paksa kerah kemeja Kean yang tersenyum tipis.Kembali Dira menonjok wajah Kean berulang kali.. lagi..lagi dan lagi..

"Hentikan Dia!" Terdengar suara ayah Kean yang menyuruh beberapa penjaga untuk menghentikan aksi Dira yang mungkin dapat mencelakai anak lelakinya.

Tiga penjaga bertubuh besar seketika menghampiri Dira dan menarik paksa kedua lengan Dira menjauh dari Kean yang terduduk lemas. darah dalam bibir dan beberapa bagian wajahnya mengalir cepat.

Dira berusaha melepas cengkraman dua penjaga yang masing-masing mencengram lengannya keras. "Lepasin gue!" Erangnya berulang kali..
Dira berusaha mengelak kedua lengannya keras, tapi sayang cengkraman dua penjaga itu begitu keras.

Satu penjaga dengan tubuh tinggi dan otot yang cukup besar berdiri didepan Dira, dengan cepat penjaga itupun melayangkan hantaman pada tubuh pemuda itu.
Satu, dua Tiga, ia tak mampu berontak, kedua lengannya masih dalam cengkraman penjaga suruhan ayah Kean, ia merasa letih dan tak lagi kuat untuk menahan sakit, terlebih saat penjaga itu meghantam teoat jantungnya.

Lemas... seketika tubuh pemuda itu melemas, melihat keadaan itupun Kean langsung berseru.

"Lepaskan Dia!" Kean berusaha berdiri, "LEPASKAN DIA!" Teriaknya lagi saat mereka masih memukuli tubuh Dira.

Penjaga bertubuh paling besar itu segera menghentikan pukulannya, diikuti oleh dua penjaga lainnya yang melepas cengraman lengannya.

Bugh!!
seketika itupula.. Dira terjatuh dan pingsan!!!

***
"Udah gitu doang!" Evan meraih jeruk didepannya dan mengupasnya, menatap tajam Dira yang menggeleng.

"Belum cincau, masih ada lanjutannya!"

Evan mengangguk pelan sambil kembali mendengarkan Dira yang kembali bercerita.

***
Duajamsebelumnya...

Dira membuka matanya perlahan, dirasakan kepala dan seluruh badannya yang seakan terasa retak.
Ia yang saat itu sedang terbaring, seakan terkejut saat mendapati sedang dimana ia sekarang.
Kamar Kean???
Ia hafal betul suasana kamar Kean yang sama sekali tak pernah berubah, masih berantakan dan tak terurus.

Ia mengurut keningnya pelan dan mengubah posisinya menjadi duduk, senyuman tipis terukir diwajahnya saat sebuah figura foto Kean kecil dipandangnya. "Tolol!" ia berseru pelan.

"Kamu udah sadar?"
Suara lembut seseorang membuyarkan lamunannya.

Dira menengok kekanan, matanya menangkap cepat sosok gadis manis yang berdiri diujung pintu, "Nhia??"

Gadis itu tersenyum dan melangkah mendekat pada Dira yang menatapnya tak percaya, "Mia." Ralatnya sambil terduduk disamping Dira.

Dira tersenyum tipis, ia baru ingat gadis ini, gadis yang selalu membekali Dira sarapan tak lain adalah adiik kadung Kean, musuhnya.

"Aku buatin kamu bubur," Gadis itu menaruh mangkok bubur yang dibawanyaa dalam pangkuan, Dira tersenyum tipis (lagi) saat gadis itu mencoba menyuapinya.

"Maaf atas perlakuan kak Kean sama kamu!" Gadis itu berkata pelan sembari terus menyuapi Dira yang mengangguk.

"Seharusnya gue yang minta maaf, udah buat suasana rumah lo kacau!" Dira menelan bubur dalam mulutnya sembari tertawa kecil. "Tapi emang dari dulu gue sama kakak lo gak pernah akur."

"Aku tau." Mia berhenti menyuapi Dira dan berganti menyodorkannya segelas airputih yang tersedia diatas meja.

Dira meraihnya cepat dan meneguknya. "Thanks!" Ia mengembalikan gelas itu pada Mia yang langsung meraih dan kembali menaruhnya diatas meja.

"Kalau lo udah sadar, lo bisa pulang sekarang!"
Suara Kean seketika menggema dalam pendengaran pemuda itu.

"Kakak!" Mia berdiri setelah menaruh mangkuk diatas meja, matanya menatap tajam Kean yang berdiri didepan pintu.

"Mendingan sekarang lo pulang, sebelum bokap gue ngelaporin lo sama polisi?" Ancam Kean serius.

Dira tersenyum tanpa takut sedikitpun, pemuda itu kemudian bangun dan berdiri disamping Mia, Ia kemudian berbisik pelan pada gadis disampingnya. "Boleh! gue bunuh kakak lo?"

Bolamata Mia membesar saat mendengar perkataan Dira itu, ia menatap Dira pelan dan beralih menatap sang kakak yang geram menatap wajah Dira.

"Becanda!" Dira mengelus pelan rambut hitam Mia dan tersenyum. "Makasih untuk semuanya!" Ia melangkahkan kakinya setelah Mia mengangguk pelan, berjalan mendekat pada Kean yang masih menatapnya penuh dendam.

Langkah Dira terhenti ketika tiba disamping Kean yang berseru pelan. "Pertarungan kita belum berakhir Dira, gue akan buat perhitungan lebih sama lo!"

Dira hanya mengangguk pelan mendengarnya, "Gue terima!" tantangnya balik sambil menampakkan senyum sinisnya. pemuda itupun kembali melangkah menjauhi rumah Kean dan Mia.


***
"NAH Begitu ceritanya!" Dira berdiri dan menatap keluar jendela.. mendung.

Evan menarik nafas lega. "Untunglah! jadi intinya lo gak bener-bener bunuh Kean!"

"Enggak sekarang, tapi nanti." Dira berbalik menatap Evan yang menggeleng.

"Lo jangan gila! lo mau masuk penjara?"

Dira membungkukkan sedikit badannya, meraih sebuah kotak yang ditarunya disela-sela ranjang Evan. "Udahlah, ganti topik, Muak gue ngomongin Kean!" Dira menyodorkan kotak bersegi itu pada Evan yang seketikaa mengerutkan kening bingung. "Buat lo!" Ia menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum.

"Apaan nih? Bom?"

"Bukan nuklir." Jawab Dira asal. "Gue pergi dulu, masih ada urusan bentar!"

"Lo mau kemana?" Evan menaruh kotak itu disampingnya sambil menatap Dira yang meraih jaket disudut pintu dan memakainya. "Jangan buat ulah yang macam-macam Lo!"

Dira mengangguk cepat. "Gak akan, tenang ajah, gue mau ngedate sama Gadis cinderella!"


CONTINUE ^^

"Ve?" Evan menatap Dira yang kembali menampakkan wajah evilnya.

"Yeps! Gue udah nyiapin sesuatu yang spesial buat Dia!"

"Ketika Dira Jatuh Cinta!" #PART11

***
Langit terlihat bersahabat, berbanding terbalik dengan pagi-pagi sebelumnya yang terlihat mendung dan berawan.
Pagi ini, seperti biasa, Ve membantu sang bunda berbenah kantin, gadis itu terlihat sibuk menata meja dan kursi, tapi entah kenapa tetap saja gadis itu tak pernah lepas membayangkan sosok Dira.
Ia terduduk disalah satu kursi yang baru ditatanya, eraih sebuah kerts putih kecil dari saku seragamnya, ia tersenyum tipis saat tulisan tangan Dira kembali dibacanya.

'Terimakasih untuk tempat berteduhnya dan minuman peredam haus gue, air hujan."

Gadis itu tertawa kecil sambil melipat kertas putih itu, seketika hati kecilnyapun bertanya, apa yang selanjutnya akan dilakukan pemuda itu setelah mengetahui status ve sevagai gadis cinderellanya??
sejujurnya, ada rasaa sedikit takut pada diri Ve, ia takut Dira akan menjauh darinya setelah mengetahui semua rahasia itu.
Atau pemuda itu akan marah dan semakin membencinya.
gadis itu cukup nyaman berada disampin Dira seperti sekarang, walau pertengkaran selalu mewarnai pertemuan mereka, tapi gadis itu tak ingin Cowok idiot itu menjauhinya.

"Hii, ngelamun ajah!" Suara Evan seketika mengagetkan gadis itu.

Ve menatap kesal Evan yang terduduk disampingnya,mendengarkan pemuda itu yang kembali bicara.

"Lo tega Ve, masa sahabat gue lo usir," Evan menaikkan sebelah alisnya, "bukannya lo suruh masuk atau lo sediain minuman gitu, ini malah lo nguruh minum air hujan." pemuda itu tertawa kecil saat kembali membayangkan bagaimana espresi Dira saat bercerita padanya kemarin.

"Emang gue pikirin." jawaban tak peduli sang sepupu, membuat Evan menggelengkan kepalanya.

"Lo tau, akibat perbuatan lo itu, sekarang Dira sakit, badanya panas dan jantungnya kembali kambuh."

Deg!
jantung gadis itu terhenti mendengar penuturan sang sepupu, tangannya seketika bergetar tak menentu. "Benarkah itu?"

"Dira itu cepat lemah kalau terkenaa air hujan, tubuhnya gak sekuaat kitaa-kita para cowok, dia itu termasuk cowok lemah yang gampang terserang penyakit." Evan mencoba menyelaskan, dengan setia gadis itu mendengarkannya.
"Waktu SD dia sering banget absen karena sakit,pernah Dira hampir gak naik kelas karena sering absen, tapi untungnya dia punya otaak yang cerdas untuk tetap dapat menguasai pelajaran."

"Itu beneran?" gadis itu mulai menampakkan wajah khawatir. apa iya, ia baru saja membuat pemuda itu terserang penyakit.

"Gue gak mungkin bohong Ve, kalau lo gak percaya lo bis temui dia di UKS, sekarang dia ada disana!" Evan mengelus pelan pundak Ve yang terdiam.

gadis itu masih ragu, apaa yang harus ia lakukan sekarang, karena keegoisannya Dira terserang penyakit, sungguh tegga bukan??

Evan mendongakkan wajahnya menatap Vega yang bberdiri. "Kalau lo mau kesana, sekalian lo bawain makanan, Dira belum sarapan."

***
Gadis itu mempercepat langkahnya mengitari koridor sekolah, sebuah kotakk makan kecil tampak jelas dipegangnya, hatinya dag-dig-dug saat membayangkan jika pemuda itu benar-benar sakit karenanya.
beberapa kali ia mmenarik nafasnya pelan, mencoba megusir rasa khawatir dalam dirinya. entah,. sejaka kapan gadis itu terlalu perduli dengan Dira, cowokk idiot itu..
mungkin kini hatinya mulai penyimpan satu rasa pada pemuda tegar itu.

langkahnya semakin dekat dengan ruangan UKS, semakin kencang pula jatung gadis itu berdetak, ia mulai memutar otaknya, memikirkan apa yang akkan ia katakan sesampainya didepan pemuda itu nanti. apa sudah saatnya gadis itu jujur, tentang rasa khawatirnya yang dalam pada pemuda itu.

Langkah gadis itu terhenti ketika tiba didepan ruang bercat putih, pandangannya langsung tertuju pada sosok pemuda yang terbaring disana. DIRA!!
Kakinya melangkah pelan, mendekati pemuda itu, ia terhennti ketika benar-benar tiba disampingg Dira yang tertidur.
Ditaruhnya bekal yang dibawanya disamping ranjang, kemudian gadis itu terduduk pelan disamping Dira yang masih memejamkan matanya.
perlahan gadis itu tampa sadar mengelus lembut rambut hitam pemuda yang beberapa haarai terkhir ini mulai menarik perhatiannya.

"Dira itu cepat lemah kalau terkenaa air hujan, tubuhnya gak sekuaat kitaa-kita para cowok, dia itu termasuk cowok lemah yang gampang terserang penyakit."
perkataan Evanpun kembali terliang dalam pemikiran gadis itu.

"Apa segitu lemahnya lo, cowok idiot!" gadis itu masih mengelus pelan rambut hitam Dira, ia terdiam sesaat, memandangi wajah polos pemuda itu perlahan. "Ganteng juga!" hati kecilnya bersuara. tak dapat dipungkiri memang ketampanan wajah Dira yang dapat menarik perhatian para gadis,termasuk ve pastinya.

"Apa mungkin cowok senyebelin lo, sebenarnya memiliki hati yang rapuh, tapi gue bangga dan salut sama lo, karena lo gak pernah nunjukin kelemahan lo didepan orang lain." gadis itu tersenyum pelan. "Sorry untuk yang kemarin!" gadis itu akhirnya memilih berdiri ketika ia mendengar suara bel kelas.

Langkahnya terhenti saat ia menyadari tangan seseorang meriah jemari lengannya cepat. "tetep disini, gue mohon!"

Suara Dira menggema ditelinganya, gadis itu berbalik, terkejut saat mendapati Dira yang menggenggam erat jemari kurusnya. "Dira, lo udah sadar?"
Gadis itu mencoba mendekat, menepis pegangan tangan Dira cepat.

Pemuda itu tersenyum tipis. "Emangnya lo pikir gue pingsan tadi?"

"Maksudnya??" Ve menampakkan wajah tak mengerti, Dira kembali meraih lengan gadis itu dan membawanyaa duduk disampingnya.

pemuda itupun mengubah posisi terbaringnya menjadi duduk. "Tadi gue cuma mejamin mata doang, lo ajah yang terlalu khawatir!" Dira menaikkan kedua alisnya bergantian sambil menampakkan senyum menggodanya.

Ve terlihat salah tingkah, "jadi pemuda idiot ini mendengar semua perkataannya tadi, menyebalkan!" Hati kecil Ve bergumam.

"Lo khawatir sama gue?" senyum nakal itu kembali terukir dari bibir tipis dIRA, Ve mengelak cepat.

"Tidak, emangnya tadi ada omongan gue yang nunjukin kalau gue khawatir sama lo, IDIOT!"
Ve berusaha berdiri dari duduknya, tapi untuk kesekian kali Dira menarik lengannya, gadis itu tak dapat menahan keseimbangan, sehingga tubuhnya seketika menindih badan tegap Dira yang terduduk. wajah keduanya begitu dekat, jantung keduanyapun berdetak tak menentu...

"Sorry!" gadis itu segera menghindar, menjauh dari Dira yang tersenyum snang. Ve berdiri membelakangi Dira. "Bodoh!"

Dira menggelengkan kepala cepat, menatap Ve yang sibuk mengacak-acak rambutnya sendiri. pemuda itu berdiri mendekat pada Ve, meraih kedua lengan Gadis itu dan memutar tubuh gadis itu agar berhadapa dengannya.

Ve terdiam menatap tatapan penuh arti yang tersirat dalam sorot maata Dira.

Dira mendekatkan bibirnyaa pada telinga kanan Ve yang menahan nafasnya, kemudian pemuda itu berbisik pelan. "Karena lo udah khawatir sama Gue, gimana kalau kita jadian??"

pertanyaan yang dilontarkan Dira seketika membuat kaki dan sekujur tubuh gadis itu melemas. "Dira, cowok idiot ini nembak gue?? apa gue sedang bermimpi??" Batinnya masih tak percaya, tapi hatinya seketika berjingkrak senang.

Dira tersenyum menatap reaksi terkeut gadis itu, perlahan dicubitnya keras pipi Ve hingga gadis itu merintih sakit.

"AOW!!" Rintihnya sambil menatap Dira geram.

"Gimana, lo maukann jadi pacar gue, Gadis Cinderella?"
Dira menggenggam erat jemari kurus itu, mendekatkannya seketika pada jantungnya yang masih berdetak. "Gue mencintai lo Ve, sejak awal lo nyamar jadi gadis cinderella, setelah kejadian2 taak terduga yang selalu mempertemukan kita, gue jadi yakin kalau gue benar-benar mencintai lo, sampai detakan jatung gue ini benar-benar berhenti berdetak. Gue cinta Lo!"

Ve terdiam mendengar setiap kata yang dilontarkan pemudaa itu, kejujuran dapat dibaca gadis itu dari sorot mata pemuda didepannya. Ia tak mampu menolak, tapi ia juga belum siap untuk menerima cowok idiot ini untuk singgah dan menetap dihatinya.
"Gue...!"

Dira menatap lekat Ve yang terlihat sulit menjawab pertanyaannyaa.
Sialnya sebelum gadis itu benar-benar menjawab, Evan menghampiri keduanya dengan tergesa-gesa.

"Dira, gawat, Dava Dir, Dava!" Evan menghentikan langkahnya tepat didepan Dira dan Ve.

Dira mengernitkan keningnya sambil melepas pegangan tangannya pada jemari Ve. "Ada apaan?" tanyanya tak bersemangat.

Ve menatap tajam Evan yang menjawab. "Itu.. Dava dikeroyok ama gank Keanes!" perkataan Evan membuat Dira tertawa keras.

"Haha, terus apa hubungannya sama gue?"

Ve menatap Dira tajam. "Dia kakak Lo,Dira!"

"Kakak tiri tepatnya." ralat Dira cepat.

"Lo tega, gue gak nyangka ternyata lo tipe cowok tak berhati!" Ve menepis lengan Dira keras. "Sekarang Dava dimana??" gadis itu beralih menatap Evan resah.
Dava adalah sahabatnya, justru ia khawatir saat mendengar sahabat terbaiknya dalam masalah seperti saat ini.

"Di Gudang belakang kantin."
Penjelasan Evanpun membuat gadis itu berlalu cepat menuju tempat yang baru saja disebutkan oleh sang sepupu.

Dira menaarik nafasnya pelan, wajahnya terliht tak suka. "Lo gak tau, gue ini lagi nembakk Ve, gadis cinderella gue, dan apa?? lo ngerusak semuanya dengan kabar murahan lo itu!" Dira terduduk diranjang dengan wajah kusutnya.

Evan tersenyum tipis. "Dia kakak lo Dir, gue tau dia cuma kakak tiri lo, tapi apa gak ada sedikitpunn rasa khawatir lo sama dia." pemuda itu mendekat pada Dira yang menatapnya tajam. "Dia sayang sama lo Dir, dan asal lo tau, Dia dikeroyok sama Kean and the gank karena dia nyelamatin nyawa lo!"

Dira berdiri, "menyelamatin gue?? gue gak butuh penyelamat sok perhatian seperti dia." pemuda itu mulai mengeluarkan amarahnya. "Dia yang uda buat hidup gue menderita, dia yang udah buat perhatia ayah gue berkurang karena nilai-nilai plus yangg di dapatin jauh diatas gue, diaa yag udah buat nyokap gue ninggalin gue selamanya!" Ia berteriak mengeluarkan semuaa unek-uneknya selama ini.
"Selamanya bagi gue, dia adalah penghancur!"

"Dira, semua itu takdir dan lo gak baisa nyalahin orang lain atas apa yang menimpa diri lo!"

Dira terdiam, ia menunduk dan menahan sesak didadanya.

Evan mendekat dan mencoba menenangkan sang sahabat.
"Gue tau semua masalah lo Dir, tapi please jangan nyiksa diri lo seperti ini!" ditepuknya pelan pundak Dira. "Gue selalu disisi lo selamanya!"

***
"DAVA!!"
Ve berteriak keras, mendekat pada pemuda itu yang telah berbaring tak berdaya.
gudang telah sepi, sepertinya, kean dan teman-temannya telah puas menghajar Dava, tubuh dan wajah pemuda itu penuh darah.
perlahan Ve meraih kepala pemuda itu dan menaruhnya dalam pangkuan.

"Dava, aku disini!! katakan sesuatu, aku mohon!" mata gadis itu mulai berkaca-kaca, dielusnya pelan bibir bawah pemuda itu yang meggeluarkan drah segar.

"Dava.." rintihnya pelan, pemuda itu membuka matanya perlahan tersenyum saat mendapati wajah khawatir Ve.

"Katakan sesuatu Dava, aku mohon!" tanpa terasa airmta gadis itu menetes, terjatuh tepat mengenai pipi pemmuda itu yang masih terbaring dalam pangkuannya.

Perlahan, Dava menoba menaikkan tangan kananya, mencoba menghapus air mata gadis itu. "Jangan.. menangis.. Ve.." ia bersuara dengan nada terbata.

"Dava.."

"Ve.." pemuda itu mencoba menahan sakit disekujur tubuhnya, tulang-tulangnya terasa retak, mungkin setelah ini ia tak akan pernah lagi menatap senyuman manis gadis didekatnya ini.
ia menarik nafasnya panjang, mencoba menyusun kata yang mungkin akan menjadi kalimat terakhirnya. "Gue Cinta Lo!"

Blukk!!
tangan pemuda itu melemas dan terjatuh... seketika.

Tak kuasa gadis itu menahan tangisnya, ia mendekap erat pemuda yang pernah singgah dihatinya itu.

Dira dan Dava nembak Ve dihari yang sama.. lalu siapakah yang nantinya akan dipilih Ve, mengingat Dava adalah cinta pertama gadis itu?
lalu apakah Dava akan selamat setelah ini???



***
Ve terduduk lemas didepan ruang ICU, airmatanya tak henti-hentinya keluar saat perktaan terakhir Dava kembali diingatnya.


"Gue cinta lo!"


Gadis ini tak pernah menyangka bahwa pemuda yang selalu bersamanya dan menjadi sahabat terbaiknya, ternyata menyimpan rasa suka padanya, bagaimana bisa ia tak menyadari itu??Dihapusnya airmata yang terjatuh untuk kesekian kalinya, dadanya seketika terasa sesak..


ia menatap kesamping kiri, ibunda Dava telah tiba dirumah sakit ketika mendapatkan kacar dari sepal sekolah, seperti dirinya, wanita separuh baya itu tak henti-hentinya menangisi sang anak.


Dava dibawa kerumah sakit, karena kondisinya yang sudah teramat parah, dan kini pemuda tampann itu telah berada diruang ICU.


Pintu ruangan itu seketika terbuka, tampak seorang doktor pria keluar dengan raut wajah sendunya. "Keluarga pasien!"


Sang bunda segera berdiri dan berjlan mendekati sang doktor ketika suara dokter itu menggema, begitupula Ve yang berdiri tepat disamping Sovia (bunda Dava).


"Bagaimana keadaaan putra saya Dok?" Tanya Sovia pelan, wanita itu menatap tajam doktor menunggu jawaban.


"Kondisi putra ibu cukup memprihatinkan, darah yang keluar dari tubuhnya sangatlah banyak, karena itu secepatnya kita membutuhkan pendonor."


Kaki Sovia seakan melemas, mendengar pernyataan sang Doktor, Lemah?? memprihatinkan??putranya tidak mungkin lemah!!


"Kalau begitu ambil saja darah saya dok!"Suara Ve membuat Sovia dan dokter menatap gadis itu seketika.


"Golongan darah anda?"


"B."Ve menjawab pertanyaan doktor yang ditujukan padanya.


Doktor tinggi itu seketika menggeleng cepat. "Maaf kita membutuhkan pendonor yang memiliki golongan darah O, sama seperti pasien."


Ve menunduk lemas mendengar penolakan doktor itu, usahanya untuk menyumbangkan sedikit darahnyaa untukk Dava ternyata gagal.


Begitupun Sovia, ia terduduk lemas dikursi samping ruang ICU, ia ingin meandonorkan darahnya untuk Dava, tapi ia sadar golongan darahnya bukanlah O.


"Tante tenang yah, semuanya pasti baik-baik saja." Ve mencoba menenangkan Sovia, gadis itu terduduk disamping Sovia sambil mengelus lembut pundak wanita paruhbaya itu.


Sovia menaikkan wajahnya, menatap Ve tajam yang terdiam. "Hanya ada satu orang yang bisa menyelamatkan nyawa Dava!"


"Maksud Tante?"


"Dira, dia juga memiliki golongan darah O." Wanita itu menarik nafasnya pelan dan kembali menunduk.


"Kalau begitu kita bisa meminta Dira untuk menyumbangkan darahnya buat Dava."


"Itu tidak mungkin, Dira begitu membenci Dava, dan tante sadar Dira gak akan pernah mau melakukan itu."


"Tante percaya sama Ve, Ve akan membawa Dira kesini dan menyumbangkan darahnya untuk Dava."



***
Dira, pemuda itu terlihat terduduk dipojokan kantin, matanya menatap tajam seisi kantin, mencari sosok gadis yang masih membuat hatinya merasa digantungkan.
Istirahat pertama tela tiba, Evan memilih untuk menghabiskan waktu senggangnya diruang perpustakaan, sementara Dira terlihat duduk sendiri dalam kantin yang mulai ramai itu.
pemuda itu beralih, menatap kotak makan yang ia temukan tergeletak diatas meja ruang UKS. kotak makan yang rencananya Ve persiapkan untuk Dira.
Ia tersenyum, membuka kotak itu perlahan, nasi kuning tampak indah menghiasi isi kotak persegi itu.

"Dira!"
Suara seseorang yang sedari tadi ditunggunya akhirnya menggema juga.

Ia menatap penuh semangat pada Ve yang berdiri disampingnya.

"Gue mau bicara sesuatu sama Lo!" gadis itu menggeser sedikit kursi didepan Dira dan terduduk.

"Lo mau jadi pacar gue!" Pemuda itu menebak sambil menutup kembali kotak makan yang belum dilahapnya.

Dengan cepat gadis itu menggeleng, "Gue gakk punya waktu untuk bicarain itu sekarang, ada yang lebih penting dari itu Dir!"

"Apa?" Dira mengernitkan keningnya, sebenarnya ia bisa menebak, hal apa yang akan dibicarakan gadis didepannya ini, wajah khawatir itu, pasti tentang Dava. "Dava kenapa?" Akhirnya, pertanyaan yang sebenarnya sulit untuk ia lontarkan, tersampaikan juga.

Ve menarik nafasnya perlahan, sebelum gadis itu benar-benar menjawab pertanyaan Dira. "Dava membutuhkan pendonor."

"Lalu apa hubungannya dengan gue?" Dira menatap kekiri saat mendapati Evan yang baru tiba menghampiri keduanya. Sahabatnya itu terlihat duduk disampingnya.

"Golongan darah Dava itu O, itu bearti dia hanya bisa menerima darah dari seseorang dengan golongan darah yang sama." Ve mencoba menjelaskan.

Dira mencoba menerka perkataan Ve barusan, sementara Evan yang memang memiliki otak cerdas, menangkap lebih cepat perkataan Ve tadi. "Dan Dava butuh daraah Dira yang bergolongan O."

Ve mengangguk cepat membenarkan pernuturan Evan, berganti gadis itu menatap Dira yang tersenyum sinis. "Please!" mohon Gadis itu pelan.

Dira tertawa kecil. "Lo minta gue donorin darah gue buat Dava, itu artinya sama ajah lo mau gue mati," pemuda itu meraih gelas didepannya dengan senyuman sinisnya. "Gak sekalian lo minta gue bunuh diri, setelah itu mereka bisa ngambil darah gue!" Ia meneguk cepat minuman ditangannya.

Ve menatap iba Dira, jujur, sebenarnya gadis itu tak mampu menatap Pemuda yang dicintainya ini terluka, ia tau dengan dirinya meminta Dira untuk berkorban demi Dava, itu sama dengan, Dirinya melukai perasaan Dira.
Tapi Dava adalah sahabatnya, satu-satunya teman yang bisa menerimanya apa adanya, walaupun ia hanyalah seorang anak pemilik kantin, tapi Dava tak pernah mempermasalahkan itu. Bagaimana bisa, ia kehilangan cowok sebaik Dava??

Evan menatap Dira iba, perasaan yang dirasakan Vepun sebenarnya dirasakan pula oleh Evan, ia tau Dira akan terluka hatinya, jika seseorang memohon pada sahabatnya untuk berkorban demi Dava, seseorang yang sangat dibencinya. "Gue tau Dia kakak tiri lo Dir, Tapi dia butuh darah lo untuk tetap bertahan hidup." Evan mencoba menenangkan. "Donorin darah lo untuk seseorang, gak akan bikin lo meninggal, justru itu akan buat tubuh dan jiwa lo semakin kuat."

Dira mengehntikan minumnya, menaruh kembali gelas kaca itu pada tempat semula. "Gak semudah itu Van,"

"Gue mohon Dir, apapun akan gue lakuin, asalkan lo mau donorin darah lo buat Dava." lagi-lagi gadis itu memohon, kali ini dengan wajah penuh kecemasan.

Dira menggeleng cepat. "Segitu pedulinya lo sama dia Ve." Dira menatap tajam kedua mata Ve yang mulai berkaca-kaca, gadis itu mengangguk pelan, Dira kembali bicara. "Kenapa waktu lo tau tentang penyakit jantung gue, dan gue juga butuh pendonor, lo gak pernah secemas ini, apa dia yang sebenarnya lo cintai?"

Gadis itu terdiam mendengar pertanyaan Dira, ia menunduk, tak mampu menatap tatapan tajam itu yang terus menyerangnya. "Gue.." ia tak mampu berkata, airmatanya seketika terjatuh membasahi pipi putihnya.

"Seandainya lo dikasih satu kesempatan untuk memilih, Antara Dava yang butuh Darah gue, dan gue yang butuh jantung Dava, mana yang bakal lo pilih?" Dira masih menatap Ve tajam yang menunduk.

Ve menggeleng cepat. "Gue gak tau!"

"Jawab gue Ve!" Pemuda itu berdiri dan menghampiri gadis itu yang masih menunduk dan menangis.
Ia kemudian berlutut tepat didepan gadis itu yang terduduk, diraihnya pelana adagu Ve hingga mata keduanya saling bertatapan. "Lo bakal milih Dava dan memohon sama gue untuk donorin darah gue seperti sekarang, benerkan?"

Ve masih terdiam tanpa suara hanya suara isakan tangisnya yang mampu ia keluarkan.

"Dira!" Evan berseru, ia tak sanggup menatap sahabatnya terluka seperti sekarang.

"Kalau emang itu mau lo, gue bersedia donorin darah gue buat Dia."

Mata Ve dan Evan terbelak tak percaya, benarkah Dira berniat mendonorkan darahnya untuk Dava, kakak tirinya.

"Lo serius Dir?" Mata gadis itu seketika terlihat bersinar dan bercahaya saat menatap Dira yang mengangguk pelan. "Terimakasih, tante Sovia pasti senang dengar ini." tak disangka, gadis itupun seketika memeluk erat tubuh Dira. Pemuda itu yang masih dalam posisi berlutut itupun hanya mampu terdiam, merasakan pelukan ve yang bergitu erat menyerangnya.

"Tunggu dulu!" Dira melepas pelukan itu perlahan, Ve menatap tajam Dira yang berdiri. Pemudaa itupun kembali bicara. "Gue emang mau nyumbangin darah gue buat Dava, tapi dengan satu syarat!" ia menatap Ve yang menampakkan espresi bingung, kemudian pemuda itupun tersenyum evil.

"Apa Saratnya?"

Dira mendekat, membungkukkan badannya mendekat pada Ve yang masih terduduk, gadis itu memundurkan wajahnya saat wajah Dira mendekat pada wajah ovalnya, kembali senyuman evil Dira dilihatnya.

"Lo harus jadi pacar gue!"

UHUK!UHUK..UHUK!!

Dira dan Ve seketika menatap Evan cepat yang tersendak.

"Sorry, keselek!" Evan tersenyum kecil pada kedua remaja itu.

Dira mengernitkan keningnya sambil mengembalikan ppsisi berdirinya, menatap bingung Evan yang tiba-tiba tersendak, sementara sahabatnya itu tidakla sedang makan atau minum. "Aneh!"

"Lo becanda kan!" Ve berdiri menatap tajam Dira yang berdiri tepat didepannya.

"Gue serius!" Dira menyakinkan. "yah kalau lo gak mau, Gue juga gak akan mau nyumbangin darah gue buat Dava, Gimana??" ia menaikkan sebelah alisnya menandang.

Ve terdiam, memikirkan jawaban apa yang harus dijawabnya sekarang.

"Udah terima aja Ve, Dira gak terlalu buruk kok!" celetuk Evan dengan tawa jahilnya.

Dira menatapnya geram, dan berganti ia menatap Ve tajam yang masih terdiam. "Gimana?, semua ada ditangan lo, Gdis cinderella!" Dira mengacak-acak rambut Ve gemas.

Tak ada jawaban lain, selain sebuah anggukan yang dapat dijawab oleh gadis manis itu. Demi Dava sang sahabat, takk ada salahnya ia berkorban, kencan dengan cowok idiot ini!"

"Nah gitu dong, seharusnya lo beruntung bisa kencan sama gue." Dira mencubit pelan pipi Ve yang seketika memerah, entah karena kesal atau marah. "Kitakan serasi, iya nggak Van?" Dira melirik Evan yang mengangkat jempolnya cepat. Pemuda itupun segera merangkul lengan Ve tapi sayang gadis itu segera menepisnya.

"Sangat serasi!"


***
Cowok tinggi itu melangkahkan kakinya menyusuri kolidor rumah sakit. Kedua tanganya ia biarkan menari-nari disela-sela saku celana abu-abunya. Wajahnya terlihat sedikit grogi atau ketakutan, menarik nafasnya pelan berulang kali dan membuangnya. Merapikan sedikit baju seragamya dan kembali fokus menatap sekeliling mencari kamar pasien yang dituju.
Langkahnya terhenti ketika mendapati sepasang suami istri terduduk lemas didepan kamar yang dicarinya, sepasang suami istri yang tak lain adalah ayahnya dan bunda Dava.

Ia berdiri dibalik tembok, menghentikan langkahnya sejenak, mencoba mendengarkan berbincangan kedua orangtuanya itu.

"Mama takut Pa!" Sovia menangis, wajahnya begitu takut kehilangan anak semata wayangnya itu. Dengan setia sang suami mencoba menenangkan.

"Mama gak perlu khawatir, percaya pasti semuanya akan baik-baik saja."

Tak beberapa lama, tiba Dokter dengan beberapa suster turut dibelakangnya, siter-suster itu masuk ruangan ICU terlebih dahulu, sementara sang doktor mencoba berbincang sedikit dengan kedua orangtua pasien.

"Kalian tak usah khawatir," doktor itu menatap sepasang suami-istri itu bergantian yang telah berdiri didepannya. "Kita baru saja menemukan pendonor untuk pasien."

"Benerkah Dok?" Sovia menatap doktor bernama David itu yang mengangguk.

"Siapa orang itu?"
Pertanyaan yang diajukan Frans, membuat dokter muda itu tersenyum kecil.

"Maaf, pendonor meminta saya untuk tidak memberitahukan indentitasnya, jadi saya tidak dapat memberitahu anda, tentang Dia." Jelas David sambil menatap arlogi pada pergelangan tangannya. "Sudahh waktunya saya melakukann oprasi."

"Doktor, Tolong selamatkan putra saya!" Permohonan Sovia membuat David mengangguk pelan.

"Saya akan berusaha, tapi Tuhan yang menentukan!" Davidpun berlalu memasuki ruangan, seketika lampu merah yang terletak diatas pintu itupun menyala, menandakan operasi segera dimulai.

Frans menuntun Sovia terduduk, dirangkulnya erat lengan sang istri yang masih terlihat khawatir.

Sovia menatap Frans pelan. "Siapapun mendonor itu, mama akan selalu mendoakan yang terbaik untuk dia."


Dira yang masih berdiri tak jauh dari keduanya, tersenyum tipis saat mendengar penuturan Sovia. Pemuda itu tak pernah menyangka, ia rela melakukan semua itu hanya karena seorang gadis yang memohon padanya.
Ia menatap pergelangan tangannya yang berbaut perban, baru beberapa menit yang lalu doktor mengambil darah pemuda itu, seharusnya saat ini ia beristirahat dan berbaring, tapi ia lebih memilih untuk melihat reaksi ayah dan bunda tirinya saat menerima kabar bahwa Dava akan segera terselamatkan.
Tubuhnya memang terasa sakit, kepalanyapun terasa sangat ngilu dan pusing, tapi ia adalah pemuda yang kuat, ia tak mungkin lemah hanya karena menyumbangkan darahnya pada Dava.
Dan Dira memang sengaja meminta doktor David untuk merahasiakan identitasnya, karena ia tak ingin Dava dan bundanya meresa hutang budi padanya, dan dengan merekaa atau yang sebenarnya, Dira yakin keduanya akan makin menyayanginya. dan pemuda itu tak ingin itu terjadi.

"Dira!" Sapaan lembut Ve membuat pemuda itu menengok kekiri sekilas, ia kembali fokus pada sang ayah dan bunda tirinya.

Ve mendekat. "Kenapa lo ada disini, bukannya lo harus istirahat? kita kembali keruangan lo sekarang!" Gadis itu berusaha menuntun Dira, tapi selangkahpun kaki Dira tak bergerak.
"Dira!" ia menatap kemana tatapan pemuda itu mengarah.

"Mereka begitu khawatir akan keadaan Dava," pemuda itu tersenyum perih. "Selama ini gue selalu bolak-balik untuk chek-up, gue sering pingsan tiba-tiba saat telat minum obat,, guepun udah ribuan kali masuk ruang ICU," Pemuda itu menghentikan perkataannya sekilas, menatap pelan Ve yang seketika menatapnya penuh iba. "Tapi mereka gak pernah sekhawatir itu sama gue."

Ve menepuk pelan pundak Dira, mendengarkan pemuda itu yang masih bicara. "Tapi Dava, ini kali pertama dia masukk ruang ICU, dan mereka udah khawatir berat seperti itu, gimana kalau Dava yang terkena peyakit jantung, mungkin gue bakalan dibuang atau mungkin dibunuh biar cepat-cepat musnah!"

"Dira, lo gak boleh bicara seperti itu. Mereka pasti sangat khawatir sama lo, selayaknya Dava, lo gak boleh negative thinkin' Dira!" Ve mencoba menenangkan. dituntunnya kembali Dira yang menatapnya pelan. "Sekarang kita keruangan, kamu butuh istirahat!"

"Gak usah, gue bukan cowok lemah!" Tolak Dira pada Vega yang menatapnya geram. "Gimana kalau kita makan ice krim ajah? kebetulan gue haus."

"Makan ice krim, dalam keadaan lo seperti ini?"

Dira mengangguk cepat, "Yeps! Ayo cepetan!!" Cowok itupun menuntun Ve berlalu.

Ve menepisnya cepat. "Cowok idiot!" Gadis itu berhenti dengan tatapan sangarnya pada sosok pemuda didepannya.

"Lo nolak, gue gendong!" Dira mendekat pada Ve sambil menampakkan senyum jahilnya. "Kalau gue beneran gendong lo, jangan nyesel kalau akhirnya gue nyasar malah bawa lo ketempat sepi, buat..."

"Dira!" Ve memukul lengan Dira kesal sebelum pemuda itu benar-benar melanjutkan perkataannya.

"So??"

"Ya udah, kita makan ice krim." Jawaban terpaksa Ve mampu membuat pemuda itu tersenyum lepas.

entah kenapa saat disamping gadis cantik ini, seketika semuaa resah, gundah dan masalah pada diri pemuda itu seaka lenyap dan berganti bahagia.
Mungkin memang Ve-lah yang diciptakan Tuhan, untuk membuat pemuda itu merasa nyaman.

Keduanya terlihat mengintari koridor rumahsakit, menjauh dari ruang ICU tempat dimana Dava sedang melakukan operasi.

"Ve!" Dira bersuara pelan dengan nada manjanya.

Ve yang berjalan disamping Dira menatap pemuda itu enggan. "Apa?"

"Gendong!!" Dira kembali menyuarakan suara manjanya sambil mernaagkul lengan Ve mesrah.

Gadis itu menepisnya cepat. "Idiot!"

"Gue kan lagi sakit Ve."

"Siapa suruh jalan-jalan!"

"Guekan haus."

"Minum airputih kan bisa."

"Ve.." Dira menghentikan langkahnya, membuat Ve terpaksa ikut menghentikan langkahnya juga.
Pemuda tinggi itu tersenyum dan berjalan mendekati punggung Ve, dengan cepat Dira mengelantungkan tubuhnya pada punggung Ve yang tampak kewalahan menahannya. "Gendong!"

"Berat Dira, cowok idiot!" Ve menjauhkan Dira dari punggungnya, berganti memukul lengan pemuda itu kencang. "Idiot!"

Dira hanya tersenyum kecil menatap wajah kesal Ve, memang itu yang ia sukai dari gadis ini, wajah saat ve cemberut dan kesal. "Ya udah kalau gitu biar gue yang gendong lo!" Dengan sigap dan tanpa memperdulikan jawaban ve, pemuda itupun langsung meraih tubuhh langsing itu dan menggendongnya.

"Dira, lepasin gue, cowok idiot!" Gadis itu terus mengelak, tapi pemuda itu takk peduli.

Dira setia menggendong Ve dengan kedua lengannya, berjalan melewati taman rumahsakit yang mulai sepi. "Diam, atau gue bener-bener bakal bawa lo ketempat sepi!" Ancaman Dira mampu membuat ve takut dan terdiam.
ia tersenyum tipis saat kepala gadis itu menyender pada dada bidangnya dan kedua tangan Ve bergelantung dibelakang lehernya. "Gini lebih enak, gak berat gue!"



CONTINUE ^^

Online Now Icons