Facebook Badge

Jumat, 13 Juni 2014

Teuku Rassya- Kamu (lyric)

Teuku Rassya- Kamu

Entah mengapa.. sejak.. bertemu denganmu..
Aku selalu ingat kamu.. selalu memikirkan kamu..
Dan entah mengapa hatiku.. seakan bahagia..
Bilaku mengingat dirimu.. selalu membayangkan kamu..

Mungkinkah ini Cinta..a..a..
Hingga kau selalu ada..a..a..

Kamu.. kamu.. kamu..
Selalu ada...
Dipikiranku..
Disetiap hela nafasku...

Kamu.. kamu.. kamu..
Selalu ada..
Membuatku..
Selalu rindu..

Kamu.. Kamu..




Sabtu, 11 Januari 2014

Hello :D

Udah lama gak posting cerita disini....

Padahal banyak banget cerbung yang belum diupdate ^^

Sebenarnya sempat bingung.. alasan aku atau saya buat akun blog ini..
Walaupun tujuan awal buat ngepost cerbung supaya ada yang baca.. tapi setelah dipikir-pikir lagi..
emangnya ada yang mau baca gitu??

Makanya  suka rada-rada malas buat ngepost sebenarnya..
Yah tapi mau gimana lagi.. daripada mendem dilaptop doang tuh cerita dalam bentuk Draft akhirnya
Akupun punya inisiatif untuk post disini saja..
mengingat banyak penulis yg memulai karirnya diblog.. Dan semoga aku bisa ngikuti jejak mereka.
Yah! walau masih dalam tahap pembelajaran.
Syukur-syukur ada yang baca terlebih yg mau bersedia kasih kritikan maupun saran.
Saya akan sangat berterimakasih ;D

Dan sekarang... aku akan mencoba kembali ngepost cerbung2 aku disini..
dan semoga ada peminatnya ^^
Welcome to my stories and Enjoyed :*

'IMA A ...!" CERPEN

“Apa aku sedang berada di bumi?”
Malam yang semakin mencekam. Berdiri pemuda berpakaian serba hitam disudut taman yg mulai terlihat sepi...
Wajahnya terlihat bingung, menengok kiri-kanan tak menentu.
                “Kenapa sepi sekali?:
Ia bertanya pada dirinya sendiri.
Tak banyak yg ia temukan dalam taman itu, hanya sebuah kursi dan beberapa bunga penghiasnya.
Ia terduduk disalah satu kursi kayu, setelah melangkahkan kakinya beberapa langkah, wajahnya masih terlihat bingung, selayaknya seorang anak kecil yang tersesat dan tak tau arah tujuan pulang, yah mungkin seperti itulah gambaran mimik pada wajahnya.
                “Opa Eddy benar-benar tak memiliki hati nurani, bagaimana bisa ia mengirimku kesini hanya karena kesalahan kecilku.” Ia menggutu kesal, menendang krikil dibawah kakinya dengan tatapan mata lurus kedepan. “Hukuman macam apa ini?”
Ia mendengus pelan, menghirup udara baru disekitarnya, terasa aneh memang tapi inilah kehidupan yang harus dijalaninya sekarang.
Ia mengacak rambut hitam kemerah-merahannya kesal. “Bagaimana bisa aku terlahir dari keluarga cullen??” Semakin kencang keduatangannya beradu dengan rambut tebalnya. “Membosankan!”

Plung!!!

                “AISH!” Ia menjerit keras saat sebuah botol apik mengenai kepalanya, ia berdiri setelah meraih botol itu yang terjatuh tepat dibawah kakinya, kemudian ia menatap sekeliling taman,
Sepi! Hanya terdengar suara daun-daun kering yang saling bergesekan dan juga hembusan angin disekelilingnya.                “Sepi! Tak ada seorangpun.”
Ia menggaruk tengkuknya resah. “Kenapa jadi semenakutkan ini?” dirasakan sekujur tubuhnya yang seketika merinding disko, keningnya seketika berkeringat dan kedua tangannya bergetar hebat.
“Sepertinya aku harus pergi dari tempat ini!”
Dilangkahkannya cepat kedua kakinya menjauh dari taman yang mulai mengeluarkan wangi yang tak biasa dalam penciumannya. “Kenapa bau sekali?” Ia menutup hidungnya cepat sambil melangkah cepat.

Langkahnya terhenti, saat ia menatap seorang gadis terjongkok didepannya, gadis itu terlihat sibuk membenahi beberapa berkas yang terjatuh, terdiam saat ia menatap sebuah kaki beralaskan sepatu hitam yang cukup mengkilap hingga membuat mata gadis bernama Shila itu tersilaukan.
“Hmm!” shila berdiri setelah selesai membenahi berkas-berkas itu, ia terdiam saat matanya memandang sosok didepannya.
Tampan... sempurna...!
Baru kali ini, gadis itu bertemu dengan pemuda setampan satu sosok didepannya ini, mata coklat kemerahan membuatnya terlihat lebih seksi, bertambah dengan alis tebalnya.
Oh!! Adakah kata lain untuk menggambarkannya selain SEMPURNA??

                “Hmm!” Pemuda itu tak banyak bicara, ia masih menutup hidungnya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya sibuk bergerak-gerak dibelakang kepala. “Semakin bau saja?” gumamnya pelan.

Shilla membelakan matanya dan menggembungkan pipinya, “Kenapa dia menutup hidungnya seperti itu?” gadis itu berusaha mencium aroma tubuhnya sendiri, mulai dari kerah baju, ketiak, hingga kedua telapak tangan. “Harum.” Ia berseru pelan.
Shilla kembali menatap pemuda itu yg masih berdiri didepannya dan masih menutup hidung.
“Kau kenapa? Apa aku ini bau?” gadis itu bertanya dengan suara pelannya. “Padahal hari ini aku mandi tiga kali.” Ia bergumam sendiri.

                “Siapa namamu?”

Shilla mengangkat alisnya saat pemuda itu berseru padanya. “Hmm.. namaku..” ia menggantungkan perkataannya, menatap tajam pemuda beralis tebal itu. “Tunggu siapapun namaku, apa urusanmu?”
Gadis itu mendekap berkas dikeduatangannya didada. “Kau ingin menculikku?” Tanyanya dengan tatapan mata mengintrogasi.

                “Ah tidak!” ia masih sibuk menutupi hidungnya, menundukkan wajahnya sedikit hingga sejajar dengan wajah oval gadis imut itu, kemudian berbisik. ‘’Kau tak mencium bau yg aneh?” ia mengangkat sebelah alis.

Shilla menggeleng dan mendorong wajah pemuda itu menjauh darinya. “Tidak!” gadis itupun mengrucutkan bibirnya kesal. “Sudah, jangan kau tutupi terus hidungmu seperti itu!” ia menarik paksa tangan pemuda itu yang menempel pada hidung panjangnya. “Apa kau ingin mati kehabisan oksigen karena itu?” Shilla bersuara keras setelah berhasil membuat pemuda itu menurut pelan.

Hawa malam semakin terasa, pemuda berambut sedikit ikal dibagian babwah itu seketika merasakan tubuhnya yang kembali merinding disko. “Aish!” Ia bergumam pelan, menatap gadis didepannya yang sibuk menatap sekellling.

                “Kau tau sekarang pukul berapa?” Shilla mengalihkan mata coklatnya pada pemuda itu yang seketika mengerutkan kening.

                “Kapan aku memukulmu?”

Shilla menarik nafas panjang saat pertanyaan itu terlontarkan dari bibir pemuda yang belum diketahui namanya itu. “Bukan itu maksudku.” Ia menggesek-gesekkan giginya gemas. “Jam, jam berapa sekarang?”

                “Oh itu,” pemuda itu mengangguk mengerti. “Setengah dua sepertinya.”

                “Setengah dua?” Shilla membelakkan matanya, “Lalu apa yang kau lakukan disini? Kau kabur dari rumah? Atau kau benar-benar seorang penjahat?”

                “Hey!” Pemuda itu mendorong kening Shilla dengan tangannya. “Aku ini Lelaki, jadi wajar kalau berada diluar dijam-jam seperti ini.”
Shilla mengangguk pelan membenarkan.
                “Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan malam—malam begini diluar? Kau ingin menjual diri huh?” Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya mengejek.

Shilla menatapnya geram. “Hey, jaga bicaramu!” ia membuka tas yang sedaritadi bergelantung pada pinggang langsingnya dan memasukkan berkas-berkas itu disana. “Aku sedang mencari seseorang.”
Lanjutnya.

                “Wah kebetulan sekali, aku juga sedang mencari seseorang.”

Untuk beberapa detik keduanya terdiam, memikirkan perkataan yang baru saja mereka ucapkan.
Sama-sama mencari seseorang??
Benar-benar kebetulan yang aneh..

Shilla melirik pemuda itu yang sibuk menggembungkan kedua pipinya, gadis itupun menatap pemuda itu dari atas hingga bawah..
Sempurna!!! Seolah tak ada cacat sedikitpun dan keningnya mengerut saat ia menatap wajah pemuda itu yang begitu mirip dengan sosok yang sangat diidolakannya selama ini.
Edward cullen!!

Shilla menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak mungkin pemuda ini adalah titisan dari Edward cullen!” ia mengacak rambutnya cepat. “Aduh!! Berhentilah berkhayal yang tidak-tidak Shilla, tak mungkin ada Vampire didunia ini, sadarlah!” ia menepuk-nepuk pipinya sendiri, mengusir rasa resah yang seketika menghantuinya.
“Lagipula jika pemuda ini adalah Vampire, aku tak melihat ia memiliki taring yang panjang pada giginya?” pertanyaan bodohpun mulai menjumpai gadis belia itu. “Tidak!Tidak! apa-apaan aku ini?”
 Ia terkejut, meloncat sedikit kebelakang saat wajah pemuda itu mendekat pada wajahnya.

                “Kau kenapa?”
Pertanyaan pemuda itu membuat jantung Shailla berdetak kencang, “Liatlah rambutmu jadi berantakkan begini.” Ia mengelus pelan rambut hitam Shilla yang terdiam.

Wajah keduanya begitu dekat, debaran itu semakin terasa saat keduanya saling bertemu pandang, angin disekitar taman itupun seketika berhembus berirama.

                “Shilla, itu namamu?” Pemuda itu menatap tajam Shilla yang seketika menunduk.
Tak banyak kata yang diucapkan gadis itu saat ini.
“Cukup cantik!” iaa bergumam pelan, meraih dagu gadis itu hingga menatapnya. “Tatap aku Shilla!”

                “Darimana kau tau namaku?” Shilla menatap resah pemuda itu yang tersenyum. “Sebenarnya kau ini siapa?” Gadis itu semakin merasakan aura berbeda pada pemuda didepannya.
Tubuh tegapnya dan tatapan mata elang serta suara serak itu mengingatkan Shilla pada satu sosok.
Vampire!
Terlebih wajah putih pemuda ini dan harum yang tak biasa untuk indra penciuman Shilla.
                “Kau.. kau Vampire?” ia menggigit bibir bawahnya, kedua kakinnya bergetar tak menentu.
“Dan kau ingin menghisap darahku?”

Pemuda itu tersenyum tipis, jemarinya masih berlabuh apik dibawah dagu Shilla. ‘ Darimana kau tau aku adalah Vampire?” ia sengaja menekan suaranya dibagian akhir ucapannya. “Dan aku akan menghisap darahmu nona manis!”

Shilla membelakkan matanya, “’Tidak mungkin!” didorongnya tubuh tegap itu menjauh, “Darahku pahit.. kau tak akan menyukainya!” gadis itu berusaha mundur sedikit demi sedikit, menjauh dari pemuda itu yang seketika tersenyum lebar. “Aku.. Aku..” suara gadis itu bergetar. “Jangan bunuh aku!” Gadis itu berjongkok dan menenggelamkan wajahnya pada sela-sela lututnya. Ia menangis takut.

Pemuda itu mendekat, iapun ikut berjongkok didepan Shilla yang masih bersuara disela tangisannya.

                “Jangan membunuhku, aku tak ingin mati sekarang, aku masih terlalu muda untuk itu.”


                “Shilla,” pemuda itu berusaha meraih lengan gadis itu, tai dengan cepat Shilla menepisnya.
“Kau tak akan mati Shilla, untuk sekarang,”

Shilla menaikkan wajahnya menatap pemuda itu yang tersenyum manis padanya. “Kau tak ingin membunuhku? Ia menghapus airmatanya sendiri dengan kedua tangannya cepat.

                “Aku kesini bukan untuk membunuhmu,” pemuda itu membantu Shila mengahapus airmatanya. “Aku hanya ingin mengambil darahmu, Cuma itu.”

Mata Shilla kembali membesar, dengan cepat ia berdiri. “Kau..Kau..” ditunjukkan pemuda itu yang masih berjongkok didepannya.

                “Ayolah Shilla!” pemuda itu ikut berdiri, “Apa Bella mati saat Edward menghisap darahnya?” tanyanya pada Shilla yang  menggeleng.

                “Tidak!”

                “Lalu apa yang kau takuti?”

Shilla terdiam, gadis itu benar-benar merasa berada dalam sebuah skenario film twilight, dimana disini ia memerankan peran pengganti Bella, sementara pemuda didepannya ini adalah sosok vampire Cool bermata dingin Edward.

                “Hey, jadi bagaimana?” pemuda itu menepuk punggung Shilla pelan. “Aku berjanji akan membuat hidupmu lebih bahagia dari saat-saat yang telah kau lalui?”
Ditatapnya gadis itu yang masih terdiam.

Tak dapat ia pungkiri, gadis itupun sering bermimpi bahwa ia ingin merasakan bagaimana menjadi seperti Bella, hidup dan dicintai sesosokk Vampire?? Menyenangkan, itu yang selalu ia pikirkan.
Tapi ia tak pernah menyangka bahwa semuanya benar-benar akan menjadi kenyataan, saat ini, disini, ia bertemu dengan sosok Vampire yang mungkin akan mengubah jalan hidupnya selayaknya Bella dulu.

                “AOU Sakit!” ia merasakan sakit dilengannya saat tangannya mencoba mencubit dirinya sendiri. “Ini bukan mimpi!” ia bergumam pelan.
Shilla menatap takut pemuda itu yang masih berdiri didepannya, cukup tampan dan bahkan mungkin lebih tampan dari Robert pattinson idolanya.
Mungkin jika ia membiarkan pemuda misterius ini menghisap darahnya, besok ia bisa berbangga diri pada sahabat-sahabatnya disekolah bahwa ia tak lagi sosok manusia yang sama seperti mereka, melainkan sosok Vampire. Dan yang lebih membuatnya bangga, Vampire yang menghisap darahnya lebih cool dari edwardnya Bella.
Sempurna!!

                “Hey!”

Suara seruan pemuda itu mengagetkan khayalan gadis manis itu, entah sadar atau tidak gadis itu seketika mengangguk setuju.

                “Kau boleh menghisap darahku sekarang!” katanya pasrah sambil menutup keduamatanya.
Hatinya berdetak tak menentu saat suara langkah pemuda itu semakin mendekat, mungkin sebentar lagi hidupnya akan berubah, entah lebih baik atau malah sebaliknya.
Semakin dekat pemuda itu melangkah pelan mendekati gadis polos itu, ia menggeleng gemas diiringi dengan senyuman khasnya. “Maafkan Aku!” ia berbisik ditelinga kanan Shilla yang mengangguk.

Bagaimana rasanya dihisap darahhnya oleh sosok Vampire tampan??
Mungkin pertanyaan Shilla selama ini akan terjawab sekarang.

Dua detik, Shilla memejamkan matanya tapi ia tak merasakan nyeri pada lehernya, ia tak merasakan seseorang menghisap darahnya.
Perlahan ia membuka matanya, sepi....
Tak ada seorangpun disini, lalu kemana perginya pemuda misterius itu.

Shilla menarik nafasnya panjang, “Apa jangan-jangan..” seketika ia merasakan hawa dingin menyelimuti tubuh kurusnya. “HANTU!!!!”

Gadis itu berlari cepat tanpa arah, sebenarnya siapa pemuda misterius itu, Vampire tampan atau Hantu handsome??
Siapapun dia Shilla berharap tak akan pernah bertemu lagi dengannya.

Bugh!!
Tanpa sadar, Shilla menyenggol tubuh seseorang.

                “Shilla sayang!”

Shilla menatap cepat wajah pria didepannya, “Ayah!” dirangkulnya cepat tubuh pria berkumis tipis itu. “Shilla ketemu hantu ayah, Shilla takut!”  rengeknya pelan.

Perlahan sang ayah melepas pelukan hangat itu. “Shilla, itu hanya halusinasi kamu sayang!” dibelainya lembut rambut putri kesayangannya itu.

                “Om, kunci mobilnya...”

Shilla terdiam menatap pemuda misterius itu yang tiba-tiba berdiri disamping sang ayah. “HANTU!” teriak Shilla kencang membuat pemuda itu menutup gendang telinganya cepat.
“Dia, Dia hantu yang tadi Shilla temui ayah!” Shilla kembali memeluk tubuh sang ayah, sambil tangan kanannya  menunjuk pemuda misterius itu.

                “Shilla dia bukan hantu sayang!”

Shilla melepas pelukannya dan menatap sang ayah yang tersenyum. “Kalau bukan hantu siapa?? Vampire?”

                “Bang toyib aku!” sambar pemuda itu kesal sambil memasukkan kunci pada saku celana hitamnya.

Shilla mengkrucutkan bibirnya kesal, “Gak lucu!”

                “Dia ini Raymon!” sang Ayah mencoba mengenalkan pemuda misterius itu pada Shilla.
“Dia cucunya opa Eddy yang tinggal di Bandung, jadi kalian sepupuan.”

Shilla menggaruk tengkuknya, dan mendekat pada Raymon, “Jadi kamu bukan Vampire?” Gadis itu berbisik pelan.

                “Bukan.” Jawab Raymon singkat.

                “Bukan juga hantu?”


                “Bukan.” Raymon menekan suaranya. “I’am a Human.”


Selasa, 16 Juli 2013

"Ketika Dira, Jatuh Cinta!" #EPILOG

[Tentang Dira]

Kali ini aku pake POV Dira yah 

**
"Jadi siapa??"
Evan menatapku tajam sammbil menjatuhkan tubuhnya berbaring di bedcover milikku.

Aku menatapnya yang saat itu masih mengenakan seragam putih abu-abu,wajahnya terlihat begitu penasaran menanti jawaban atas pertanyaannya barusan. "Siapa siapa??" Tanyaku balik sambil melebarkan senyum termanisku.

sebenarnya aku tau tentang apa yang sedang ia pertanyakan, tapi, untuk saat ini aku sedang tak berniat membahasnya.

Evan mulai kesal akan pertanyaan balik yang aku lontarkan.ia terduduk diujung ranjang dan menatapku yang asik dengan adroind ditanganku. "Siapa yang telah menyumbangkan jantungnya untukmu, Divario?" ia sengaja menekan suaaranya saat menyebutkan namaku membuatku tersenyum geli.

"Itu tidak penting, lagipula aku tak ingin membahasnya sekarang!" Aku menaruh Adroid diatas meja belajar dan berjalan menuju almari pakkaian.

"Ayolah!" ia berdiri mendekat. "Katakan padaku sekarang atau kau ingin melihatku mati penasaran karena hal ini, huh?" ia menyenggol lenganku yang saat itu sedang meraih kemeja biru favoriteku.

"Sudahlah!" Aku menepisnya cepat. "Yang pasti ia adalah seseorang yang pernah memasuki kehidupanku." Aku berlalu mendekat pada pintu kamar mandi yang memang terletak didalam kamar bercat biru ini,

Ia mengerutkan keningnya, wajahnya masih menampakkan espresi bingung. "Siapa?? Ibumu??"

Aku berbalik sebentar dan tersenyum padanya yang saat itu mulai menampakkan wajah tak percaya, terlebih dengan satu anggukkankku. "Ya ibuku, wanitaaa yang pernah melahirkanku kemudian meningggalkanku."

Yah... saat kalian mulai bertanya-tanya tentang seseorang yang telah berbaik hati untuk mendonorkan jantungnya untukku, jawabannya hanya satu orang, dia Ibuku.
saat itu, aku tak menyangka ia akan datang padaku dan menangis.

"Maafkan ibu karena telaah meninggalkanmu, Rio." Ia menangis.
panggilan sayang itu kembali kudengar, terasaa sesak didada saat wnita itu kembali memanggilku Rio, seperti sepuluhtahun yang lalu.

"Bunda punya alasan kuat mengapa bunda meninggalkanmu Rio," ia menggenggam jemaritanganku yang bergetar, Tuhan! inikah tangan yang dulu selalu menuntunku saat aku masih kanak-kanak??

"Ibu mengidap cancer otak stadium akhir Rio!" ia menunduk, suaranya terdengar sangat rapuh.

Jantungku kembali sakit saat kalimat itu terucap dari bbibir tipisnya yang berlapiskan lipstik merahmuda. Apalagi ini, setelah aku yang memiliki penyakit jantung, kini Ibuku yang memiliki penyakit yang lebih memilukan.

"KaU..kau.. bercanda bukan?" aku menatapnya tajam. kuakui setelah sekian lama ia meninggalkanku, terasa sulit untukku memanggilnya ibu ataupun bunda.

Ia menggeleng dengan airmata yang membasahi pipiputihnya. "Tidak Rio, mana mungkin ibu berbohong padamu disaat seperti ini, Dokter memutuskan bahwa usia ibu tak akan lama lagi."

Aku melepas pegangan tangannya yang begitu kuat, berbalik tak mampu menatap tangisan memilukan itu.
Ia masih bicaradisela-sela tangisnya.

"Karena itu, ibu memiliki satu permintaan untukmu, Maukah kau membiarkan jantung ibu untuk singgah dalam dirimu?"

Mataku membesar, nafasku seketika terasa begitu sulit untuk dihembaskan. "Tidak!!"
aku kembali menatapnya, kutatap matanya yang penuh bermohonan.

"Tolong, jangan pernah menolaknya, ibu hanya ingin membalas semua kesalahann ibu karena meninggalkanmu!"
Ia mengapus airmatanya sendiri,ingin rasanya aaku yang menghapusnya dan memeluknya tapi jemariku terlalu sulit untuk menjamahnya.

"Rio!"Serunya pelan.

"Tidak, aku tak akan pernah menerima jantung itu, lagipula masih banyak cara untuk membalas semua kesalahan... IBU!" Akhirnya satu kata itu terucap juga dari bibirku.

sekilas aku menatapnya yang tersenyum. "Setelah sekian lama, akhirnya Kamu kembali memanggilku ibu." ia membelai rambutku lembut, ia kembali bersuara. "Kau sangat tampan, sangat mirip dengan ayahmu saat pertama ibu bertemu dengannya."

Kini aku yang tersenyum tipis, ayah pernah bercerita padaku tentang awal pertemuannya dengan bunda, saat itu usianya masih enambelas tahun sama seperti usiaku saat ini.

Ia masih membelai rambutku lembut, saat akumasih kecilpun kembali terulang,saat ia sering membelai rambutku saat akau ingin tidur ataupun terbangun dari tudurku.Saat seperti itu, akankah terulang lagi tuhan??

"Rio! bunda mohon, jangan menolak ini!" ia meraih jemariku dan meletakkannya tepat pada jantungnya yang berdetak perlahann.
"Jantung inilah yang kelak akan menyatukan kita."

Aku tak mampu berkata-kkata, semua organ tubuhku terasa membekku seketika, terlebih saat wanita itu memelukku begitu erat.

"Bunda mencintaimu Rio, Maafkan untuk kesalahanbunda yang telah meninggalkanmu hingga membuatmu menderita."

Jadi begitulah ceritanya, jadi pertanyaan kalian sudah terjawabkan sekarang.. walaupun berasa sedikit sinetron, tapi itulah kenyataannya..
Dan tentang keberadaan bunda sekarang bagaimana?? ia telah menghadap sang pencipta sehari setelah ia mendonorkan jantungnya untukku.
Walaupun ia pernah meninggalkanku dan mungkin takpernah mengannggapku ada, tapi selamanya ia tetap seseorang yang telah berjasa untukku, ia yang telah melahirkanku dengan segenap tenaganya dan karena jantungnyalah aku masih berada didunia ini,dapat menyapa kalian seperti sekarang hahaha..

"Rio sayang Bunda, selamanya!!"

***
Setelah berganti pakaian, aku dan Evann menuruni tangga menuju dapur,sepertinya tante Sovia, eh bukan tapi bunda, telah menyiapkkan hidangan lezat untuk kami santap. Wanita cantik itu memang pandai memasak, walaupun dulu aku selalu menolak untuk menyantap masakan buatannya tapi setelah itu pasti seluruh cacing ditubuhku berdemo ria..

Oh hey.. sekarang aku sudah berubah.. aku bukan lagi Dira yang selalu sakit-sakitan dan tergantung pada obat-obatan, aku bukan lagi Dira yang dulu bbegitu membenci tante Sovi dan anaknya, Sekarang aku malah menganggap Dava seperti kakak kandungku sendiri, Dan hubunganku dengan ayah, sedikit membaiklah, walaupun aku masih sering membantahnya dan menghambur-hamburkan banyak uang, tapi kali ini aku bisa sedikit mengongrtol... bukan maksudnya mengontrol emosiku.
hidupku benar-benar berubah sekarang, dan aku tak akan pernah berhennti untu bersyukur padaNya.

Aku terduduk disamping Evan yang lebih dulu terduduk dan langsung menyantap puding tanpa pamit, sangat sopan bukan??sahabatku yang satu ini!

"Enak!" ia berseru setelah memasukkan beberapa puding yang ditusuknya pada garpu dalam mulutnya. "Rugi, lo selalu nolak masakan seenak ini dulu."

pletak!!
Aku menjitak kepalanya dengan garpu ditangannkku. "Jangan diungkit lagi, lagipula aku sudah menyadari kesalahhanku itu."

"YAH! YAH!" Masih dengan menyantap puding didepannya, ia mengangguk pelan.

"Dira, bisa tolong bunda sebentar?"
suara bunda membuatku berdiri dan menatapnya yang telah berdiri disamping pintu dapur, pintu taman kecil tepatnya.

"Apa ada bu?" aku berdiri disampingnya yang terlihat sedang memegaang selang air, sepertinya bunda sedang menyiram tanaman. Saat ini aku lebih suka memanggilnya bunda,dan aku akui hanya bunda Davalah yang mampu menggantikan posisi ibu dihatiku..
Tapi ingat! Selamanya ibuku tetap satu.. wanita yang telah melahirkanku.

"Tolong sirami semua tanaman ini,bunda masih harus membenahi ruang kerja ayahmu!"

aku menunduk mengiyakan, setelah mendapati aku yang mengangguk Bundapun menyerahkanselang air ditangannyapadaku kemudian berlalu pergi
kutatap Evan yang tersenyum lebar, "Ada apa?"aku menaikkan daguku pada Evan yang menggeleng.

"Tidak,aku pikir kau akan menolaknya, ternyata Dira benar-benar berubah!" ia berdiri, setelah menghabiskan separuh dari puding bikinan bunda, dan berjalan menghampiriku.

ia menyenderkan salahsatu kakinya pada pintu taman belakang,masih dengan senyuman menggoda. “Setan dalam dirimu ternyata telah benar-benar pergi, aku bangga padamu!”

Sial!sepertinya si cincau ini harus dikasih pelajaran!!!
aku tersenyum sinis menatap selang air ditanganku, sepertinya aku tau, harus berbuat apa untuk cincau ini!!

"Eh lihat! ada kupu-kupu!" aku menunjuk salahsatu tanaman didepanku.

"Mana?" dengan sigap, Evan menghampiri tanaman itu dan menatapna tajam, menari kupu-kkkupu yang baru saja kusebutkan.

Byur!!!
tanpa banyak kata, akupun langsung mengarahkan selang air ditanganku pada punggung pemuda itu..
seluruh tubuh yang berlapiskan seragampun seketikka basah kuyup.
Kena kau! cincau!!

Ia menatapku tajam yang tertawa devil penuh kemenangan. "Emang enak!"

"Sialan!!"

***
"Bajumu kenapa?" Ve yang saat itu bermain,singgah, bertamu kerumahku menatap heran seragam sepupunya Evan yang mulai sedikit mengering. "Apa disini hujan?" tanyanya sambil mengalihkan pandangannya kearahku yang tersenyum tipis.

"Pacarmu benar-benar minta dibunuh!" Geram Evan dengan kepalan tangannya. "Aku kekamar Dava dulu!" ia berdiri dari duduknnya.

"Mau ngapain?" tanyaku.

"Minjam baju ganti, tidak mungkinkan aku pulang dengan seragam basahh seperti ini!"

"Kenapa tidak meminjam bajuku saja?" aku protes, terang saja sahabat Evan itu aku bukan Dava, walaupun sekarang aku tak lagi membenci Dava seperti dulu, tapi tetap saja aku tak terima jika sahabat terbaikku berpaling seperti itu.

Evan menarik nafasnya panjang. "Baju Dava lebih wangi dari semua baju dalam lemarimu." jawaban enteng Evan mampu membuatku mendengus pelan.
Sialan! memang aku akui, Dava adalah tipe pemuda bersih dan wangi, tidakk sepertiku, yang mandipun terkadang malas, tapi tunggu.. aku tak sebau itu, keringat ditubuhku ini cukup wangi untuk tidak menerima asupan air satu atau dua minggupun, Tidak percaya?? silahkan dicoba! ‪#‎eh‬..

Sedangkan Dava.. cowok itu..bisa mandi sehari mungkin tiga kali.. aku tak mengerti kenapa ia begitu menyukai air, hanya karena ingin wangi dan menjaga kebersihan, tak harusberlebihan seperti itu juga kali.. minimal mandi sehari sekali itu sudah cukup.
Oke, berhenti membandingkan aku dengan Dava.

"Sini duduk!" Ve menarik lenganku ketika Evan telah memasuki rumah.

Gadis ini, telah merubah bidupku, aku yang dulu kerapkali gonta-ganti pasangan, tapi entah kenapa setelah bersamanya, seketika mataku seolah telah terkunci dan terfokus hanya untuk memandangnya. mungkin memang ia tak cantik, lihatlah wajahnya yang tak ada kesan cantik samasekali, terlebih tubuh kurusnya itu, ahhh... bukan tipeku sama sekali, tapi ia memiliki sesuatu yang spesial yang dapat membuatku takk maampu perpaling darinya.

Akupun terduduk disampingnya. "Gimana bisa kamu punya sepupu kayakk gitu?" Aku menatapnya yang tersenyum, Gila manis banget,lebih manis dari gulali yang selalu aku curi dari kantin bu Ijah waktu SD dulu..

"Gue bau yah?" ia tersenyum lagi, tapi kali ini lebih lebar, gigi putihnya seketika terlihhat jelas dalam pndanganku.. Klingg!! sampai silau keduamataku dibuatnya!

"Kalaupun kamu Bau, atau dekil sekalipun, aku tetap sayang sama kamu!" ia memanjakan suaranya sambil mencubit keduapipiku gemas.

Gak kebalik nih??
seharusnyakan aku yang mencubit pipinya, berhubung aku sudah kalah cepat, aku ganti saja dengan mencium pipinya yang seketika memerah.

CUP!
Satu kecupan dipipi kiri cukupmembuat gadis ini terdiam,mtanya membelak tak percaya, Aduh Ve, ini bukanlah ciuman pertama kita, berhenti memasang wajah terkejut seperti itu! apa selamanya kau akan menampakkan wajah bodohmu itu setiap kali aku menciummu??

"Vega!" Aku memanggilnya,, ia tak bersuara, tangannya sibuk mengelus pipi yang baru saja aku tampar dengan sebuah ciuman.

"Gadis cinderella!" Panggilku lagi, tetap tidak ada sahutan, justru sekarang ia malah tersenyam-senyum sendiri seperti kerasukan Dijah, orang gila komplek ini.

Aku menarik nafasku pelan, dan mengangguk saat sebuah kejailan terlintas indah dibenakku..

Sepertinya ia akan tersadar jika aku menciumnya, bukan dipipi tetapi...

Benar saja, baru beberapa detik aku mendaratkan bibirkupada bibir tipisnya, seketika ia mendorong tubuhku kebelakang hingga aku terjaatuh.

"Cowok idiot.. cowok idot.. cowok idiot!" Ia berteriak dan berdiri dari duduknya, kedua tangannya ia topangkan pada pinggang kurusnya dengan tatapan mata seolah-olah ingin menerkamku.”Sekali lagi kau berani menciumku, aku akan membunuhmu, cowok mesum!”

"Ve!" Aku mencoba berdiri tapi kembali terjatuh saat gadis ini kembali mendorongku..
yah!walaupun ia kurus, tapi ia memiliki tenaga kuat bagaikan seorang kuli bangunan, aku saja kalah bila harus adu jotos dengannya, selain memang sifatku yang tak pandai berkelahi mungkin alasan lain karena penyakit pada jantungku.. walaupun sudah sembuh tapi tetap saja.. sering sakit.

“Ve!” Seruku lagi, ia tetap tak peduli, wajahnya terliat sangat marah saat ini, apa aku salah bila aku mencium pacarku sendiri???
Aku mengulurkan tanganku keatas, berharap pertolongannya. “Tolongin berdiri dong!” wajahku sedikit memelas.

Ia tetap kekeh berdiri, dengan berkacak pinggang, tak berniat menolongku sedikitpun..

“Oke ini memang salahku!” Aku berdiri dan mendekat, kuraih kedua tangannya menjauh dari pinggang kurusnya, “Maaf, aku janji gak akan menciummu sebelum ijin terlebih dahulu!” aku mendekat kedua jemarinya bersamaan dengan jemari tanganku.

Ia menepisnya cepat. “Janji?” Tanyanya sambil menatapku yang mengangguk.

“Yah Janji!” Janjiku yang akhirnya dapat membuatnnya tersenyum.

“Jadi!” Aku berbisik ditelinganya, ia mngerutkan keningnya bingung.

“Apa??”

“Aku boleh menciummu lagi?” aku menaikkan kedua alisku genit beriringan dengan senyum evilku.. “Aku sedang meminta ijin sekarang,bagaimana?”

Ve menepis lengankku seketika. “COWOK IDIOT!” berkali-kali ia memukul lenganku cukup keras.

Stelah ia terhenti memukuli lenganku yang sedikit mulai terasa pegal,kini giliranku.. aku menarik pinggangnya hingga tubuhnya menempel pada dadaku. Kemudian aku memeluknya erat.

“Kau bukan yang pertama tapi aku harap kau yang terakhir menemani hidupku, Gadis cinderella!”



SELESAI ^^V

"Ketika Dira Jatuh Cinta!" #PART13 (ending)

[Mata ini indah melihatmu.. Rasa ini rasakan cintamu...Jiwa ini getarkan jiwamu...Jantung ini detakkan jantungmu]

*Biarkan aku jatuh Cinta!*

"Terimakasih untuk seharian ini,Ve1"

Ve tersenyum, mendorong Dava yang terduduk dikursi roda menuju kamar penginapannya dirumahsakit. "Sama-sama."

"Tapi aku masih tak percaya, kalau Evan sama kamu adalah sepupuh!" Dava menengok kebelakang, menatap wajah Ve sekilas yang tersenyum. "Pantas saja sepertinya kalian sangat dekat."

Ve menghentikan dorongannya (?) ketika keduanya tiba didepan kamar inap Dava. "Tidak juga, justru aku dan dia kerap kali bertengkar."

Pemuda itu tersenyum tipis, kemudian ia menatap arlogi pada pergelangan tangan kanannya. "Pukul sembilan malam, sebaiknya kamu pulang, sudah sangat malam."

"Iya kamu benar," Ve menatap Dava sejenak yang menatapnya tajam. "Jangan lupa istirahat dan minum obat."

"Pasti."

"Aku pulang, salam buat tante Sovia dan om Frans."

Dava mengangguk pelan beriringan dengan senyum diwajahnya. "hati-hati!"

***
Ve, gadis itu berjalan seorang diri mendekati rumah minimalis itu.
Ada sesah didadanya saat ia belum juga mendapatkan kabar tentang Dira, cowok idiot yang dicintainya.
ia terus menunduk, menendang krikil kecil yang menghalangi langkahnya. semakin mendekat hingga ia tiba didepan pintu rumahnya.

Took-tok-tok..
Jemari lengan kanannya terus mengetuk pintu itu. "Assalamualaikum!" Salamnya pelan, masih menunggu sang bunda membukakan pintu untuknya.
Ia merasakan dingin pada tubuh kurusnya, menatap sekeliling, seketika matanya membesar saat ia mendapati Dira tertidur dengan menyenderkan kepalanya pada dinding putih teras rumah Ve. pemuda itu tertidur dilantai teras sementara disana terpadat beberapa kursi kayu.

glek!!
Pintu terbuka, sang bunda tiba dari balik pintu kayu itu. "Udah duajam dia nunggu kamu, buda suruh masuk tapi dia gak mau." penjelasan sangg bunda membuat ve tersenyum tipis.

"Aku bangunin dia dulu yah bu!" Vepun bergegas menghampiri Dira setelah sang bunda tersenyum.
ia mendekat, berjongkok ketikaa tiba didepan pemuda tinggi itu. Senyumnyapun mengembang saat ia menatap espresi tidur Dira yang terlihat sangat polos dan tanpa dosa, terlebih pemuda itu terlihat memeluk erat setangkup bunga mawar dalam dekapannya.

"Lucu juga!" ia berseru pelan berharap pemuda itu tak mendengarnya, ditariknya pelan kartu kecil yang terselip diantara bunga-bunga itu, Ve tersenyum lebar saat membaca tulisan tangan Dira yang tertera disana.

Teruntuk: Gadis cinderella gue.
Bunga yang indah tapi tak seindah kehadiranmu disisiku..
I LOVE YOU!!

Ve menutup kartu itu dan kembali menatap dira yang masih tertidur, perlahan gadis itupun mengusap pelan rambut hitam Dira. "I Love you too, cowok idiot!"

Ia berdiri, langkahnya berjalan memasuki rumahnya, tak beberapa lama ia kembali dengan sebuah selimut ditangannya.
ia kembali mendekat dan menyelimuti tubuh Dira yang mulai kedinginan, gadis itupun terduduk disamping Dira yang masih terlelap dari tidurnya.

Ve menjatuhkan kepalanya pada bahu Dira pelan, agar pemuda itu tak tersadarkan, gadis itupun seketika menatap langit malam yang dirasakan cukup banyak bintang malam ini.

"Bintang, seandainya waktu bisa terhentikan, aku ingin waktu terhenti saat ini, karena aku tau.. besok, lusa dan nanti, keindahan ini tak akan pernah bisa terulang.. hanya bersamanya seperti ini, itu inginku."

***
Dira membuka matanya perlahan saat ia merasakan pegal dibahu kirinya, ia menengok, matanya membesar saat mendapati Ve tertidur disampingnya. gadis itu masih menyenderkan kepalanya pada bahu Dira, pantas saja ia merasaan bahu kirinya yang sedikit berat.
Ia tersenyum tipis, berganti menatap arlogi dipergelangan tangannya. "Jam sebelasmalam!" Serunya pelan.
ia mengusap rambut Ve pelan setelah menaruh setangkup bunga ditangannya kelantai teras.

"Ve bangun!" Suarany aterdengar lembut saat mencoba membangunkan gadis cinderellanya. "Ve.. bangun!" ulangnya, masih dengan membelai rambut hitam Ve yang terlelap.

Dira tersenyum Evil, menjauhkan emari tangannya dari rambut hitam Ve kemudian beralih berbisik pelan. "Kalau sampai hitungan ketiga lo gak bangun, gue bakal nyium lo!"

Dira menatap Ve tajam yang sepertinya masih benar-benar tertidur, perlahan pemuda itu menjauhkan kepala Ve dari bahunya dan berganti meletakkan kepala gadis itu pada pangkuannya, setelah pemuda itu melepas selimut yang menyelimuti tubuhnya.
"Satu.." ia menundukkan wajahnya mendekat pada wajah oval Ve. "Dua.." Semakin mendekat hanya terpaut beberapa senti lagi bibir keduanya bersentuhan. "Ti.."

"Cowok idiot! lo mau ngapin gue!"
Ve membuka matanya cepat dan mendorong tubuh Dira menjauh. gadis itupun segera terbangun dan duduk.
matanya menatap kesal Dira yang tersenyum.

"Belum gue cium Ve, lo udah bangun ajah, gakk asik ah!"

"Cowokk idiot!" Ve memukul lengan Dira kesal, kemudian gadis itu berdiri. "Lebih baik sekarang lo pulang."

Pemuda itu ikut berdiri, "Lo ngusir gue!" dicoleknya dagu Ve pelan. "Gak baik ngusir pacar sendiri!"

"Norak!" Gadis itu kembali memukul lengan Dira yang tersenyum. "Pulang sana gue mau tidur!" usir Ve lagi.

Dira menggeleng. "Gak ah, gue masih mau disisi lo!" diraihnya pinggang Ve dan didekatkannya pada tubuh tegap Dira. Pemuda itu memeluknya seketika.

Gadis itu terdiam, Dira memeluknya begitu erat, darahnya seketika mengalir cepat bersamaan dengan datakan jantungnya.
Ve menutup matanya saaat detakan jantung Dira menggema telinganya yang menempel pada dada bidang pemuda itu, harum parum Dirapun kembali dihirupnya.

"Tetap disisi gue Ve," Ia melepas pelan pelukannya, berganti menggenggam erat jemari tangan gadis itu. "sampai jantung gue benar-benar berhenti berdetak!" Dira mendekatkan jemari tangann Ve mendekat pada jantungnya. "Jantung ini detakan jantungmu!"

Tanpa terasa gadis itu menetaskan airmatanya, dengan ccepat ia memeluk erat pemuda didepannya. "Lo gak akan pergi! lo gak akan pernah ninggalin gue!"
Semakin erat dira merasakan pelukan gadis yang dicintainya itu.

"Hidup seseorang gak ada yang tau Ve!" ia melepas kembali pelukan itu dan menghapus airmata yang membasahi pipi putih Ve.
"Karena itu, gue mohon! untuk malam ini ajah lo bersedia jalan bareng gue!"

"Sekarang?"

"Lebaran Cumi!" Jawab Dira asal. "Ya iyalah, siapa tau hari ini adalah hari terakhir kebersamaan kita!"

Ve menggeleng cepat. "Gak! Lo gak akan pergi, besok atau kapanpun!"

Dira mendekatkan tangannya pada wajah Ve yang menggeleng, seketika gadis itu terdiam menatapnya. "Dengerin gue, penyakit yang gue derita ini udah cukup parah!" Dira membawa Ve terduduk dikursi kayu, kemudian pemuda itu berlutut didepannya. "Kesembuhan gue itu sangat tipis Ve, walaupun masih ada jalan operasi dan penerimaan jantung baru, tapi tetap ajah gue gak akan bertahan lama."

Gadis itu menunduk, bahunya kembali bergetar, ia menangis.

Pemuda itu tersenyum perih, hatinya sakit saat menatap gadis yang dicintainya menangis karenanya.
Diraihnya dagu gadis itu hingga keduanya saling pandang. "Ve, hari ini gue pingin banget pergi kesuatu tempat, lo maukan nemenin gue kesana?"

"Ini bukan sebagai tanda perpisahan kan?" tanya Ve balik pada Dira yang tersenyum.
pemuda itu tak menjawab, ia hanya terdiam bersamaan dengan senyum diwajahnya.

"Dira," Sapa Ve pelan.

Kini giliran Dira yang menunduk, pemuda itu menggigit bibir bawahnya, saaat seketika jantungnya terasa kembali kambuh.
"Jangan sekarang, Tuhan!" ia menutup matanya pelan , semakin kencang ia menggigit bibri bawahnya, ia tak ingin Ve menyadari kesakitannya saat ini. Berulang kali ia mengatur nafasnya pelan hanya sekkedar untuk menghilangkan rasa sakit pada jantungnya.

"Dira!" Ve kembali menyapanya, menatap tajam pemuda itu yang berdiri.

Dira berdiri membelakanginya, meremas jantungnya keras, keningnya seketika mengeluarkan butiran-butiran keringat.
Sebisa mungkin, ia akan tetap bersikap biasa dan kuat saat berada disaamping Ve.

Gadis itu berdiri, mendekat pada Dira yang mencoba bersikap biasa. "Lo baik-baik ajah? lo gak lupa minum obatkan?"

Dira mencoba tersenyum menatap wajah khawatir gadis itu, perlahan iapun mengangguk, walaupun sebenarnya ia berbohong, karena sudah dari kemarin ia tak pernah membiarkan obat itu menyelamatkann nyawanya.

"Temenin gue malam ini, Please!" Dira memohon dengan menyatukan keduatangannya, "Hanya malam ini, gue pingin banget ngeliat Matahari terbit!"

Entah mengapa saat menatap mata teduh Dira kali ini, gadis itu tak mampu menolak, ia mengangguk dan tersenyum saat mendapati wajah ceria pemuda itu.


***
"Wah! ini indah banget Dira!" Ve melentangkan tangannya mencoba menghirup udara perbukitan.
Pemuda itu mengajaknya ke bukit untuk melihat matahari terbit, dan ini kali pertama bagi ve untuk melihat pemandangan indah itu.

Dira tersenyum saat mendaptai wajah ceria Ve, gadis itupun mulai tak sabar untuk benar-benar menyaksikan moment dimana sang surya mulai menampakkan sinarnya.

"Jam berapa?" Ve sekilas menatap pemuda itu yang telah terduduk direrumputan, sementara dirinya masih asik berdiri menatap pemandangan dari atas bukit.

"Sebentar lagi." Dira merebahkan tubuhnya berbaring diatas rerumputan. kedua tangannya ia tekuk dan ia biarkan menjadi penyanggah kepalanya.

Ve terduduk disamping Dira yang terbaring. "Kamu sering ke sini?" Ia menatap Dira yang tersenyum tipis. "Kenapa senyum?" Tanyanya dengan espresi bingungnya.

"Perasaan ini kali pertama lo ngomong aku-kamu kayak gini!"" Dira semakin melebarkan senyumnya saat kedua matanya menangkap gurat wajah malu gadis disampingnya.

"Lo sering kesini?" buru-buru Ve meralat perkataannya, menatap kedepan tanpa berniat menatap senyum pemuda itu yangg semakin melebar dan manis.

"Dibilang sering, gak juga, dibilang jarang, gak juga!" Dira merubah posisinya menjadi terduduk disamping Ve yang seketika menatapnya pelan.
"Dulu waktu awal bunda ninggalin gue sama ayah, Ayah sering ngajak gue kesini, berhubung ayah sering pulang malam dan selalu kelewatan buat ngeliat matahari terbenam, makanya setiap malam mendekati sang fajar ayah selalu bawa gue kesini, buat liat matahari terbit."

Ve menatap tatapan mata Dira yang berubah sendu, ia kembali mendengarkan pemuda itu yang lanjut bicara. "Tapi, semenjak bunda Dava memasuki kehidupan ayah, ayah berubah dan lebih mementingkan pekerjaan, dia gak punya waktu lagi untuk ngajak gue kesini, padahal harapan terakhir gue cuma satu," Dira menghentikan perkataan sejenak untuk sekedar mengatur nafasnya. "Gue pingin banget saat2 itu terulang lagi, ngeliat matahari terbit disini bareng ayah, walaupun itu gak akann mungkin terjadi."

Gadis itu tau betapa menyakitkannya hidup Dira, perlahan sebuah belaian lembut mendarat indah dipunggung tegap pemuda itu. "Aku tau kamu kuat!"

Dira tersenyum saat semangat itu terlontar dari bibir gadis yang dicintainya itu. "Yah!" seketika Dira menunjuk sesuatu didepannya. "Liat tuh!"

Rona merah dan orange langit seketika terlihat indah didepan keduanya,Ve membelakkan matanya tak percaya, saat sang surya mulai menampakkan sinarnya. Indah dan menakjubkan!!

"Lo suka?" Dira menangkap espresi tak percaya dan terkagum gadis itu, ve tak berkutik, matanya tak pernah lepas dari pemandangan didepannya.

"Yah!"

"Indahkan?"

"Yah!"

Dira tersenyum sinis bersamaan dengan ide jahil yang muncul dalam benaknya. "Lo cinta gue?"

"Yah!"

Degh!! jantung gadis itu terhenti ketika menjadari satu kebodohan yang baru saja ia lakukan, ia menatap tajam Dira yang menampakkan senyum lebarnya. "Dira, lo ngerjain gue?"

Pemuda itu menaikkan kedua alisnya menggoda. "Kalau cinta utarakanlah, sebelum menjadi sebuah jerawat nantinya!"

perkataan sok bijak Dira mampu membuat Ve melayangkan pukulannya pada lengan pemuda menyebalkan itu. "Rese lo!"

Dira tertawa kecil saat tatapan geram ve menyerangnya. "Tapi makasih yah, untuk hari ini, Gadis cinderella!" ia mencubit kedua pipi ve yang seketika memerah.
"Sepertinya, menatap matahari terbit bareng lo itu lebih indah dari apapun."

"Dira sakit, cowok idiot!" Ve segera menepis cubitan dira pada pipinya.

Dira tersenyum simple dan berdiri, membelakangi gadis itu yang masih terduduk direrumputan. "Gue pasti bakalan kangen sama lo Ve. Gue bakal kangen suaraa kasar dan bentakan lo buat gue, gue bakal kangen saat lo manggil gue cowok idiot seperti barusan, dan gue bakal kangen sama senyum dan tawa lo."

"Dira." gadis itu berdiri, berjalan kesamping Dira dan menatap pelan pemuda disampingnya. "Kamu gak akan pergi."

"Ada satu rahasia yang mau gue utarain sama lo Ve!" Dira menarik nafasnya pelan, mengaturnya sebelum ia kembali berbicara. "ini hanya lo yang tau!"

"APA?"

"Besok, gue harus menjalani oprasi penerimaan jantung baru, kalau besok gue gak ngejalani oprasi itu, itu berarti hari ini adalah hari terakhir lo liat gue." Dira menuduk pelan.

perkataan yang baru saja diutarakan dira seketika membuat mata gadis itu berkaca-kaca, tidak!! Ia tak ingin ini semua menjadi hari terakhirnya bebrsama Dira. "Lo gak akan pergi, besok lo harus ngejalanin oprasi, lo janjikan?"
Ve meraih jari jemari tangan Dira dan menggenggamnya erat. Demi gue, Vega gadis yang suka ngebentak lo dan demi gue gadis cinderella lo!"

Perlahan Dira menaikkan wajahnya dan tersenyum simpul, perhatian gadis itu membuat hatinya tersentuh. "Tetap gak bisa Ve!"

"Kenapa? kamu butuh pendonor? aku bersedia donorin jantung aku buat kamu!"

"Bukan itu, pendonor udah ada dari kemarin, tapi gue cuma butuh satu agar oprasi itu berjalan." Dira melepas tangan gadis itu yang setia menggenggamnya. ia kembali berbalik memunggungi Ve.

"Apa?"

"Tandatangan Ayah!" Jawaban singkat Dira membuat Ve menarik nafasnya panjang.

Gadis itu berdiri disamping Dira dan memutar tubuh tegap itu hingga keduanya saling berhadapan. "Dira, kalau cuma itu, aku bisa minta bantuan Dava untuk dapatin tanda tangan ayah kamu."

"Percuma, Sekarang ayah lagi di Amerika, dia gak mungkin mengabaikan pekerjaannya disana, hanya demi menandatangi surat gak penting gue!"

"Dira! Apapun yang terjadi, kesehatan dan kesembuhan kamu itu yang terpenting!"

"Tapi gak buat Ayah, bagi dia pekerjaannya itu yang utama." Dira menatap tajam Ve yang menunduk seketika. "Gue yang tau dia Ve, dia gak pernah peduli sama kesehatan gue." diraihnya dagu ve perlahan hingga gadis itu menatapnya enggan.

Hatinya seketika berdetak kencang saat mendapati buatiran airmata di kedua mata gadis itu. "Lo kenapa nangis?" ia hapusnya perlahhan butiran airmata itu yang mulai terjatuh membasahi pipi putih itu. "Ve! gue ngajak lo kesini bukan buat liat lo nangis, tapi untuk menemani hari-hari terakhir gue didunia ini."

"Enggak!" Ve menggelengg cepat. "Lo gak akan pergi, lo akan tetap disini bareng gue!" Gadis itu berkata keras.

"Ve!"

"Apapun, gue akan lakuin asalkan lo tetap disisi gue, gue gak mau lo pergi Dir, enggak!"

Dira tersenyum tipis. "Kenapa ve, kenapa lo gak mau gue pergi? bukannya lo gak pernah cinta sama gue?" Dira menatap tajam Ve yang seketika terdiam.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya pelan, dan memainkan ujung rambutnya grogi. "Gue..gue.."

"Lo cinta Gue? benarkan?" Dira menaaikturunkan alisnya bergantian semakin membuat gadis itu salah tingkah.

"Pede, siapa juga yang tertarik sama cowok idiot kaya lo!" Ve berjalan menjauh setelah memukul lengan Dira keras.

Dira mengerutkan keningnya mendapati gadis itu yang mencoba menjauh. "Lo mau kemana?"

Ve berbalik dan menatap Dira sekilas. "Rumah lo!"

Dira segera mengejar cepat langkkah Ve yang menjauh, hingga ia benar-benar meraih jemari lentik itu hingga langkah Ve terhenti. "Gak perlu, kan udah gue bilang percuma."

"Gue akan tetap kesana!" Ditepisnya tangan dira yang mendarat dilengannya, dan gadis itupun kembali melangkah.

Saat itu juga, Dira merasakan jantungnya kembali kambuh, ia mencoba menyender pada pohon disampingnya, meremas jatungnya yang semakin ia rasakan sakit.
Ia menutup matanya, mengaturnafasnya, dan mengggigit bibirnya untuk sekedar menahan sakit.
Kali ini jantungnya ia rasakan lebih sakit daroipada sebelumnya, setiap detakan yang berdetak membuatnya susah bernafas.
keningnya berkeringat, bibirnyapun seketika mengeluarkan darah segar karena terlalu keras ia mengigit bibirnya saat mencoba mengusir rasa sakit.

Ia mencoba menatap Ve yang menjauh, kepalanya terasa pusing dan pandangannya seketika kabur, "Gue.. cinta.. Lo.. Ve!" ia terjatuh terduduk, menyender pada pohon besar dibelakangnya.

Hati gadis itu terasa sesak, seketika ia berbalik, mencoba menatap sosok Dira, tapi matanya membesar saat ia mendapati Dira terlihat lemas menyender pada pohon besar itu. "DIRA!"
Ia berlari menghampiri pemuda itu, diraihnya tubuh yang semakin hari semakin lemah itu dalam dekapannya. "Dira!" disandarkannya kepala dira dalam pangkuannya. "Lo kenapa?" matanya berkaca-kaca, ia menangis.

"Tetap disini Ve.. Gue.. Mohon!" Pinta pemuda itu dengan suara bergetar.

"DIRA!"

"Ve.. gue cinta lo.. sekali ajah.. gue.. pingin.. ngedengar.. kalau.. lo.. juga.. cinta.. gue!"

"Dira!"

"Please, Bilang... lo.. cinta.. gue..!" Dira menahan rasa sakit itu dengan sebuah senyuman. "Walaupun Itu Dusta!"

AIrmata itu semakin deras mengalir, "Gue cinta lo Dira, Gue cinta Lo!" Ve berteriak keras membuat senyum pemuda itu semakin melebar.

"Terimakasih! sekarang gue bisa pergi dengan tenang!"

"Lo gak akan pergi Dir, gak akan!"
Gadis itu menggeleng berulangkali dengan airmata yang terus menetes.

Perlahan Dira mencoba terduduk, walau lemah tapi ia berusaha kuat. "Jangan nangis Ve, gue mohon!" dihapusnya perlahan airmata yang membasahi pipi putih itu. "Terimakasih untuk semuanya, amarah, benci, dan perhatian lo."

Gadis itu masih terisak, ia tak berniat untuk mengatakan apapun, Dira meraih kedua pipi Ve dengan kedua tangannya, seketika wajah keduanya tampak berdekatan, Ve terdiam saat bibir pemuda itu mendekat pada bibir tipisnya.

"Boleh gue nyium lo?" Dira bersuara pelan, menatap Ve tajam berharap gadis itu mengangguk.
senyumnya seketika melebar saat mendapati ve yang menganggukk pelan.

Ve menutup matanya saat bibir Dira benar-benar menyentuh bibir tipisnya. Dira kembali mencium bibirnya setelah kejadiaan diruang UKS itu.
ini kali kedua, keduanya berciuman, tapi ini kali pertama ve merasakan kenikmatan trersendiri saat pemuda menyebalkan itu merenggut ciuman keduanya.

***
Dira yang terlihat sedikit sehat dan membaik menyenderkan kepalanya pada pangkuan Ve, pemuda itu tertidur direrumputan sementara ve terduduk tenangg disampingnya.
Dira mendongakkan wajahnya menatap wajah Ve diatas kepalanya.
"Terimakasih untuk hari ini."

Ve mengangguk pelan diiringi dengan senyuman manisnya.

Dira menutup matanya perlahan merasakan belaian lembut Ve pada rambut hitamnya, "Gue lelah Ve, vue butuh istirahat." ia menariknafasnya pelan dengan kedua mata yang masih tertutup. "Lo maukan nyanyiin lagu buat pengantar tidur panjang gue!"

Ve mendongakkan wajahnya menatap langit-langit, ia mengedipkan sejenak kedua matanya agar tak menangis.

"Nyanyiin gue lagu Ve!" Pinta Dira membuat Ve menatap pelan pemuda itu yang masih memejamkan matanya.

Gaadis itu menarik nafasnya perlahan sebelum sebuah lagu benar-benar dilantunkan sangat indah olehnya.

[Sungguh.. hanyalah dirimu yang aku cintai... Dan sungguh... kukan disisimu hingga kumati]

Ve menundukkan wajahnya, menatap resah keduamata dira yang terpejamkan, pemuda itu tak lagi bersuara, ingin rasanya ia meraih pergelangan tangan Dira dan memastikan detakan nadi pemuda itu masih berdetak atau tidak? tapi ia tak mampu.
ia takut, jika pemuda itu benar-benar meninggalkannya sekarang.

Tanpa terasa airmata gadis itu mengalir dan menetes hingga mengenai wajah pemuda itu yang masihtertidur dalam pangkuannya.. "Dira!" serunya pelan.

Tak ada jawaban, keduamata pemuda itupun masih terpejam, Ve mengelus rambut dira pelan dan penuh kasih.

(Tuhan, apa sudah saatnya, untukku melepas kepergiannya? kenapa harus secepat ini Tuhan? barusaja aku menemukan kebahagiaan bersamanya, tapi kenapa secepat ini kau merebut dan mengambilnya?
Tuhan, jika memang dia bukan jodohku, kenapa? kau menaruh cinta ini untuk berlabuh dihatiku untuknya?
kenapa kau membiarkanku untuk merindukannya setiap waktu?

aku mencintainya, sekarang dan selamanya!
dan aku tak akan mampu hidup tanpanya, hanya dia yang aku inginkan saat ini dan selamanya).



***
Sahabat terbaik dalam mengejar mimpi
Teman terhebatku untuk dapat berdiri
Kawan yang tepat untuk sharing hal-hal kecil
Kuping yang pas untuk
Untuk dengar rima Cypress Hill

"SHIT!"
Evan segera mematikan radio yang sedang didengarnya, lagu bondan feat 2 black itu benar-benar merusak pikirannya, entah kenapa saat lagu itu terdendangkan, seketika ia teringat akan sosok Dira sahabatnya. "Lo gak akan ninggalin gue DIR!" Ia terbangun dari duduknya, menatap perih sebuah kotak persegi pemberian Dira kemarin malam.

perlahan ia menghapiri kotak itu dan meraihnya, tangannya benar-bennar bergetar saat kotak itu dalam genggamannya.
Ia terduduk diujung ranjang dan perlajan membuka kotak persegi itu.
Ia tersenyum, saat mendapati apa yang isi dari kotak itu, sebuah berisi baranaag-barang yang dibeli Dira dengan harga sangat mahal.
sepatu, jaket, topi, kaos hingga CD penyanyi favorite dira sekalipun, semua tertata rapai pada kotak persegi itu.

Tapi ada satu yang menarik perhatian Evan, beberapa pucuk surat beraneka warna, ia temukan terselip diantara barang-barang mahal itu.
ia meraihnya, dan membaca setiap tulisan disudut kanan surat itu.

Surat Biru.. (Teruntuk Evan.. sahabat gue)

Surat Pink.. (Teruntuk Vega.. Gadis cinderella gue)

Surat Hijauh.. ( Untuk Dava.. Kakak Ketemu gede)

Kening pemuda itu sempat mengerut, apa maksdunya semua surat-surat ini???
Walau ragu, tapi akhirnya, ia berusaha pelan membuka dan membaca tulisan tangan Dira yang tertera dalam surat Biru itu, yang dituju untuknya.

Dear Evan.. sahabat terbaik gue..
pertama.. gue mau ngucapin terimakasih karena lo udah mau jadi sahabat gue..
saat lo tau tentang penyakit jantung gue, gue pikir saat itu juga lo bakal ninggalin gue dan enggan bersahabat lagi sama gue, tapi ternyata gue salah.. lo tetap disana.. disamping gue dan menjadi seseorang yang paling ngertiin gue.
Terimaksih untuk semuanya... persahabatan tulus lo dan juga perhatian lo selama ini.. mungkin sebuah kata terimakasih gak akan cukup untuk mengutarakan kata terimakasih gue buat lo.

Kedua.. gue mau minta maaf, atas pelanggaran gue akan janji persahabatan kita. gue masih ingat.. hari itu kita pernah berjanji akan selalu bersama-sama sampai kita nikah, punya anak, dan jadi kakek-kakek, dan kita akan beli rumah bersebelahan agar persahabatan kita tetap terjaga.
maaf kalau gue mengingkari janji kita dengan kepergian gue yang teramat mendadak..

Tiga.. lo pasti udah liat isi kotak itu... gue mau semua barang-barang gue jadi milik lo, gue gak tau harus ngasih lo apa sebagai balas budi baik lo selama ini, mungkin semua barang itupun gak akan pernah bisa menggantinya sekalipun.

Empat.. lo liat dua surat lagi.. gue mau surat pink lo kasih sama Vega dan surat satunya, Hijau lo kasih sama Dava.. gue percaya sama lo Van..

Sebenarnya gue gak mau pergi secepat ini Van, mimpi gue masih banyak yang belum terwujud dan lo tau itu, tapi Tuhan telah menentukan segalanya, dan mungkin inilah yang terbaik buat gue dan kita semua..

Pesan gue cuma satu..
Tetap jadi Evan yang gue kenal.. lo bisa cari sahabat yang lebih baik dari gue Van, dan gue yakin lo bakal dapatin pengganti gue. walau begitu, gue tetap berharap gue tetap menjadi sahabat terbaik lo dan lo gak akan pernah melupakan gue..
Titip salam buat Bunda dan Evi, sampaikan salam sayang gue buat mereka, terutama Evi, gue minta maaf kalau janji gue untuk bawa dia keliling dunia Belum kesampaian kebruru Tuhan manggil gue.. hahaha...

HMMM.. Gue gak tau apa lagi yang harus gue ketik... intinya.. Gue sayang lo Van.. dan terimakakasih untuk semuanya...

DIVARIO!!


Airmata pemuda itu seketika menetes saat berhasil membaca semua isi surat Dira itu.. hatinya sesak dan terasa perih.. ia benar-benar tak ingin jika Dira pergi meninggalkannya.. penyakit itu?? kenapa tidak menyalar saja ditubuhnya, lebih baik dirinya yang mati daripada ia harus kehilangan Dira, sahabatnya..

"Gue gak mau semua ini Dir!" Evan menatap sedih semua barang dalam kotak persegi itu. "Gue cuma mau lo Dir, ELO SAHABAT GUE!"

***
"Bagaimana keadaan Dira Ve?" Dava berkata penuh kepanikan sambil berjalan mendekati Ve yang terduduk leas didepann ruang ICU.

Sovia yang saat itu ikut dengan Davapun terduduk lemas disamping Ve yang terus-terusan menangis.

"Aku gak tau, kata dokter kondisi jantung Dira cukup lemah, aku takut dia meninggal Dav! Gadis itu menangis.

Dava mecoba duduk disamping kirinya dan menenangkan. "Semua akan baik-baik saja!"

Tak beberapa lama tiba doktor keluar dari ruang ICU, wajahnya terlihat pucat . "Keluarga pasien Divario!" teriaknya pelan membuat ketiganya (Dava, Sovia dan Ve) berdiri bersamaan.

"Saya ibunya dok! Sovia maju satulangkah mendnekat pada doktor itu yang membuka kacamata tipisnya. "Bagaimana keadaan putra saya dok?? dia baik-baik saja bukan?"

Doktor itu menarik nafasnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Sovia. "Jantung nya cukup lemah, secepatnya kita harus melakukan operasi dan menerimaan jantung baru."

"Appaun itu, lakukanlah!! asalkan putra saya selamat!" Sovia memohon dengan tatapan penuh permohonan.

Doktor itu tersenyum pelan. "Akan saya usahakan sebisa kami, tapi semua tetap ada ditanganNya!" Dokter itupun kembali memasuki ruangan.

Dava merangkul lengan sang bunda cemas. "Kita berdoa untuk kesembuhan Dira." pemuda itu membawa sang bunda kembali terduduk dikursi tunggu.

pandangannya langsung teralih pada Vega yang masih menangis memandang pintu ICU iTU, ia berdiri dan mencoba mendekat, dipeluknya erat tubuh kurus itu . "Percaya Ve, semua akan baik-baiak saja."

"Aku gak mau kehilangan dia Dav!" gadis itu kembali menangis dalam pelukan Dava.

"Dan semua gak ingin kehilangan Dira!" Dava melepas pelukannya dan mengusap pelan airmata yang terjatuh dipipi putih itu. "Sekarang aku antar kamu pulang, sepertinya kamu butuh istirahat!"

Ve mengangguk pelan, walaupun sebenarnya ia masih ingin tetap disini menunggu pangerannya, ia tak ingin melewatkan sedikkitpun kabar tentang pengemangan Dira tapi dirinya sadar ia butuh istirahat dan kembali pulang agar sang bunda tak mencemaskannya.

***
"Jangan terlalu memikirkan Dira, kesehatan kamu itu lebih penting." Dava berhenti tepat didepan Rummah Ve. gadis itu mmengangguk pelan sambil merasakan belaian hangat Dava pada rambutnya.
"Aku janji akan segera memnghubungi kamu jika ada kabar terbaru tentang Dira."
Dava berkata sammbil menatap Ve yang mencoba tersenyum.

"Terimakasih yah!"

"Dava.. Vega!"
Suara penggilan Evan membuat keduanya seketika menoleh..
Ditatapnya Evan yang mendekat. "Bgaimana keadaan Lemper?"

Kening Ve mengerut seketika sementara Dava hanya tersenyum tipis mendengar penuturan Evan.

"Sorry.. sorry maksud gue Dira, gimana keaadannya?" Tampak dua surat beda warna dalamm genggaman tangan Evan.

"Saat ini Dira sedang melakukan operasi penerimaan jantung baru, kita berdoa ajah semoga semuanya lancar." Dava menatap Evan yang mengangguk pelan.

"Oh yah, ini buat kalian, titipan dari Dira." Evan menyodorkan surat itu sesuai dengan nama dan warna yang tertera.

Ve menatap surat Pink yang kini berpindah ketangannya begitupla Dava yang menatap kaget surat hijau untuknya.

"Ve, aku balik, akku takut bunda kenapa-napa karena terlalu memikirkan Dira!" Dava melipat surat itu menjadi dua dan memasukkanna pada saku celananya.

Ve mengangguk cepat. "Baiklah!"

"Ve biar gue yang jagain!" Evan meraih lengan Ve cepat dan merangkulnya, Dava tersenyum tipis menaatapnya.
"Lo bisa hubungi no Hp gue kalau ada perkembangan dari Dira."

Dava mengangguk mengiyakan perkaataan Evaan dan berlalu menjauhi keduanya.

***
"Kenapa gak dibaca?" Evann yang terduduk disamping Ve menatap heran gadis itu yang hanya memandangi surat pink didepannya.
"Lo gak mau tau isinya?" Tanya Evan lagi sambil meatap Ve yang menggeleng.

"Untuk apa, kalau isi surat ini hanya akan membuat gue menangis." ve meletakkan surat itu pada meja disampingnya.
"Gue udah tau, pasti isinya cuma kata-kata puitis yang bakal buat dadaa gue sesak dan airmata gue ngaalir, permintaan maaf dan juga ucapan terimakasih.. basi!"

Evan tersenyum menatap ucapan polos sepupunya itu. Matanya seketika tekesima pada sebuket mawar yang tergeletak disampingnya. "Dari Dira?" diraihnya bunga itu dan menatap Ve yang mengangguk.

Dengan cepat Ve meraih buket itu dari tangan Evan. "Siapa lagi, kalau bukan dari cowok idiot, sahabat lo itu!"

Evan hanya mampu mmenggelengkan kepalanya menatap tingkah sepupu jauhnya itu.. vega..vegaa..!!

***
Dava terdudukk lemas dijok mobilnya, tangannya berkeringat saat mencoba membaca tulisan yang dituliskan Dira untuknya..

Dear Dava..
gue gak tau, hharus memulai dari mana??
tapi gue cuma mau bilang, gue sadar atas perlakuan kasar gue sama lo dan bunda lo, gue sadar gak seharusnya gue mmenyalahkan kalian atas apa yang menimpa hidup gue.

Dava, gue tau lo bukan malaikat yang berniat nusuk gue dari belakang, gue tau kebaikkan hati lo itu tulus tanpa niat apapun.

Gue minta maaf, kalau gue selalu kasar dan gak peduli sama lo, gue emang gak pantas jadi saudara lo Dav, lo dan tante Sovi terlalu baik untuk gue sakiti.

Jujur, Dav, gue gak mau pergi sekarang.. gue masih mau minta maaf sama lo dan bunda lo atas semua kesalahan gue, gue pingin lo meluk gue dan gue balas peluk lo, seperti kakak-adik lainnya, gue pingin manggil tante Sovi dengan sebutan Ibu seperti anakk-anak lainnya memanggil sang bunda..
Gue pingin ngeliat ayah tersenyum dengan prestasi gue kelak, gue pingin kita berempat liburan dan bersenang-senang bersama, mengusir semua kesedihan dimasa lalu.
gue pingin semua itu Dav. tapi gue sadar, Tuhan keburu manggil gue sebelum semuanya benar-benar terwujud.

Apa gue gak pantas untuk merasakan semua kebahagiaan itu??
Kenapa harus gue Dav, yang terkena penyakkit menyakitkan ini, dari banyaknya manusia didunia ini.. kenapa harus gue??
Apa karena gue selalu nyakitin orang-orang yang menyanyangi gue, apa karena gue selalu ngebantah ayah dan buat ayahh kesal, apa karena gue selalu buat tante Sovi menangis?? apa karena semua kelakukan iblis gue itu, sehingga tuhan menghukum gue seperti ini??

Gue pingin hidup normal seperti anak-anak lainnya, tanpa obat-obatan dan chek up setiap harinya, gue pingin bebas dari penyakit ini Dav, gue capek.. gue lelah...

Sorry kalau tulisan ini cuma buang-buang waktu lo buat ngebacanya..
cuma satu yang mau gue sampaiin sama lo.. tolong bilangin sama Ayah kalau Dira minta maaf belum bisa menjadi anak kebanggaan Ayah, dan sampain permintaan maaf gue buat tante Sovi atas semua perlakuan kasar gue selama ini sama dia.

Terimakasih untuk segalanya...
Tolong ajah Ayah dan Bunda demi gue..

DIVARIO..


***
Enam bulan kemudian...

Gadis itu terduduk, Ditatapnya surat pink dlam genggamannya, surat pemberian Dira itu sedikitpun belum dibukanya, masih utuh seperti saat pertama ia menerimanya.

ia tersenyum pelan.. membacaa bagian kiri surat itu yang tertulis jelas untuknya..

To: Gadis cinderella gue..

senyumnya semakin melebar saat ia mengingat bagaimana aawal pertama pertemuan mereka, pertemuan tak sengaja yang justru membuat wajah Dira memerah karena malu.
Sejak saat itulah, pertarungan selalu terjadi diantara keduanya.
Gadis itu tak mengangka bahwa pemuda yang mulanya sangat dibenci dan dihindarinya tapi kini justru pemuda itulah yang selalu merasuki hatinya tiap malam.
Cinta! ternyata benar, cinta itu sulit untuk diprediksi..

"Cowok idiot!" ia berseru pelan.
sebutan yang pernah ia serukan untuk Dira, sepertinya akan selalu ia serukann selamanya.

"Sorry telat!" Pemuda itu segera terduduk disamping gadis itu yang menatapnya geram.
"Seperti biasa, jalanan selalu macet dan berdebu."" Elak pemuda itu dengan senyuman manisnya.

"Menyebalkan!" Gadis itu berdiri dan menatap sangar pemuda itu yang menatapnya dengan kerutan dikeningnya.

"Lo belum ganti baju?" pemuda itu ikut berdiri menatap Ve yang seketika menggeleng.

"Gue gak biasa pake gaun." Ve mengkrucutkan bibirnya kesal, pasalnya ia memang paling tidak suka jia harus mengenakan sebuah gaun, terlebih dengan higheels.

"Cept ganti baju jelek lo itu dengann Gaun indah yang kemarin gue kasih!" Pemuda itu mendorong tubuh ve pelann hingga gadis itu mendekat pada pintu masuk.
Kemudian kening pemuda itu mengerut saat menatap surata dalam genggaman Ve, diraihnya cepat surat itu dan ditatanya seketika.

"Ini surat dari gue?" Dira.. yah pemuda itu bertanya pada Ve yang kembali merebut surat pink itu.

"Kenapa gak lo baca?? lo gak mau tau isinya?" Dira kembali bertanya, gadis itu hanya menggeleng cepat dan terduduk paada kursi kayu itu.

"Untuk apa? toh sampai saat ini lo masih ada disisi gue."

Dira tersenyum tipis, "Yah," ia seketika berlutut didepan Ve. "Gue gak nyangka ternyata Tuhan masih sayang sama gue dan ijinin gue bahagia lebih lama dengan orang-orang tersayang gue." Dira meraih lengan Ve dan menggenggamnya erat. "Gue cinta lo Ve."

Ve tersenyum pelan dengan sedikit rasa malu, gadis itupun berseru pelan. "Gue juga cinta lo, cowok idiot!"

Yah... penerimaan jatung baru berhasil membuat Dira kembali segar dan menjalani hari-hari seperti biasa.
ia tak lagi tergantung pada obat-obatan ataupun harus melakukan chek up setiap minggunya, sekarang.. inpian Dira untuk hidup normal ternyata terwujud..
tak ada yang lebih indah selain menikmati keindahan mimpi kita yang menjadi kenyataan.

"Duile yang pacarann ampe lupa ama yang lain!" Evan yang baru tiba tersenyum tipis pada Dira dan Ve bergantian.

"Dunia serasa milik kalian berdua." Sambar Dava yang bberdiri tepat disampin Evan.

Dira berdiri sambil menuntun Ve berdiri disampingnya, mmenatap tajam kedua pemuda itu yang telah siap dengan kemeja dan jas yang mereka kenakan.

"Kita jadi jalan?" Evan bertanya pada Dira yang seketika mengerutkan keningnya.

Ia menatap tajam Evan dan Dava yang mengenakan kemeja dan jas yang sama.. "Tunggu??" Pemuda itu maju satu langkah setelah melepas pegangannya pada Vega. Kemudian pemuda itu berbisik setibanya didepan Dava dan Evan. "Kalian jadian?"

Dava dan Evan membelakkan matannya bersamaan saat kalimat pertanyaan itu terlontar dari bibir Dira. pemuda itu kembali bicara. "Jangan bilang, kalau seseorang yang lo suka itu adalah Dava!" Dira mengecilkan suaranya sambil menatap Evan tajam, menunggu jawaban dari bibir sahabatnya itu.

Sedetik kemudian, Evan dan Dava tertawa kencang, dan itu sempat membuat Dira semakin bingung. "Ada yang lucu?" Dira mmenatap Dava dan Evan bergantian.

"Lucu..lucu.. lo pikir kita berdua homo?" Evan berkata masih diiringi dengan tawa lebarnya. "Dira, Dira, setelah jantung lo nerima jantung baru, ternyata otak lo tambah belok!"

Dava tersenyum tipis sambil mendekat pada Ve dan berdiri disamping gadis itu. "Hii!" Sapanya ramah, Ve membalasnya dengan senyuman manis.

"Maksud lo?" Dira makin tak mengerti. "Terus cewek yang lo suka itu siapa?"

"Hmm!" Evan menggaruk tengkuknya bersamaan dengan senyum tipisnya. "Itu.. adiknya Kean."

"Nhia??" Teriak Dira tak percaya. pemuda itu membelakkan matanya seperti baru saja melihat sesosok hantu didepannya.

"Mhia dir, Mia." Ralat Evan dengan wajh kesalnya.
ternyata Dira masih sajja lupa menyebutkan nama seorang cewek.
Dira bener-bener tak berubah.

"Pacar lo tuh!" Dava menunjuk Dira dengan Dagunya, menatap Ve yang melipat surat pink itu dan menyelipkannya pda kantong kemeja tidurnya.

"Gak salahkan, gue menyebutnya cowok idiot?nyebut nama orang ajaah selalu salah!"

Dava tersenyum tipis mendengar penuturan polos Ve, sahabatnya.
"Tapi lo cintakan?"

Ve tersenyum malu dan menunduk, "Udah ah, gue mau ganti baju dulu!" iapun berlalu memasuki rumahnya setelah mendapati anggukan dari Dava.
Tapi langkahnya terhenti ketika telinganya menangkap suara teriakan Dira.

"Ve, Gue CINTA LO!"
Teriakan pemuda itu mampu mmembuat pipi gadis itu seketika memerah, ia tersenyum dan berbalik.

"Norak!"
adis itupun kembali melangkah memasuki rumah.

(Terimakasih Tuhan, karena Mu, aku masih berada didunia ini, bersama orang-orang yang aku sayangi, mulai saat ini aku akan menjalani kehidupanku dengan selalu mengingat Mu, karena aku tau hanya padaMu lahh akukan kembali)
Dira.



THE END :)

Online Now Icons