Facebook Badge

Jumat, 24 Mei 2013

“Ketika Dira, Jatuh Cinta!” #PART7

Dira menatap sekeliling perpustakaan, tangan kanannya terlihat memegang sapu. Ia medengus pelan menatap banyaknya buku yang harus ia bersihkan sebagai hukuman kenakalannya.
Dira mendengus pelan, ia merasakan letih setelah membersihkan hampir dari seluruh ruangan sekolah, hanya tinggal perpustakaan ini yang tersisa.

Ia menatap keluar jendela, Hujan masih setia menemaninya..

“Dira!”
Dari balik pintu tiba Niky menghampirinya.
Kening cowok itu mengerut saat mendapati Gadis itu meraih sapu ditangannya.

“Gue bantu yah!” Gadis itu membuka tasnya dan menaruhnya dimeja samping, “Bisa dimulai darimana?” Lanjutnya sambil memulai beraksi.

Dira tertawa pelan, “Elo mau bantuin gue?”
Ve mengangguk Yakin.

“Serius?” Dira masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Gadis ini, yang dikenalnya sebagai gadis yang tak pernah kerja, manja dan terlalu menomorsatukan perawatan untuk kecantikan tubuhnya… akan membantu dirinya bekerja??
Tidakkah ia sedang bermimpi.

“Kenapa?? Gue serius!” Niky menyakinkan Dira.

Dira mengangguk pelan, “Kapan terakhir lo nyapu, ngepel, sama beres-beres??”

Pertnyaan Dira membuat gadis itu berfikir sejenak. “Enambelas tahun yang lalu.”

Dira menggelengkan kepalanya dan kembali meraih sapu dari tangan mulus gadis itu.
“Berarti lo gak pernah kerja!”

Nikyy mengangguk, meraih lengan Dira dan merangkulnya. “Tapi demi pangeran Dira, Niky rela kok!” suaranya sengaja ia buat manja.

Dira menepisnya pelan. “Ya udah kalau lo maksa!” Cowok itu mengembalikan sapu pada tangan Niky yang tersenyum. “Kebetulan gue udah capek banget!” Dira medekat pada meja dipojokkan dan membaringkan badannya disana.

Niky berjalan mendekat.. menuntun Dira hingga terduduk. “Tunggu, tapi semuanya gak gratis, pangeran.”

“Udah gue duga! Apaan?” Dira menatap tajam Niky yang tersenyum malu-malu. “Lo mau ciuman dari gue?” cowok itu menaikkan satu alisnya genit.

Niky menenpis lengan Dira kencang. “Apaan sih, itu mah nanti ajah,”

“Trus??”

“Gue mau.” Niky mendekat pada Dira, memcoba membisikkan sesuatu pada telinga cowok itu. “Lo deketin gue sama Dava.”

Alis Dira menyatu saat mendengar penuturan gadis itu. “Maksud lo, gue nyomblangin lo sama Dava?” Tanyanya dengan espresi datar.

“Betul, gimana?” Gadis itu menatap Dira yang terdiam. “Kalau lo mau, pokoknya lo tinggal terima ruangan ini bersih.”

Dira menatap ruangan cukup luas itu, ditambah dengan ratusan buku-buku tebal yang menunggu dibersihkan. Tak ada cara lain, cowok itupun mengangguk setuju.
“Daripada gue mati kecapean!” Pikirnya.

“Baiklah.”

Niky terlihat bahagia akan jawaban Dira barusan. “TERIMAKASIH!” Nikypun memeluk tubuh Dira yang tersenyum terpaksa.

“Udah, sekarang selesaiin tugas lo,” Dira melepas rangkulan Niky dan kembali membaringkan badannya tertidur diatas meja panjang itu. “Gue mau tiduran dulu.”

“Siap pangeran!!”

***
“Dira terkena penyakit jantung bawaan sejak kecil.” Kata-kata Dava seketika terliang dikepala Vega.
Gadis itu baru menyadari seberapa sulitnya hidup Dira setelah Dava menceritakan semuanya tadi.
Dira yang dilihatnya selalu cuek, menyebalkan plus egois, ternyata memiliki sisi lain dari dirinya.

Gadis itu berjalan pelan disepanjang koridor sekolah, waktu menunjukkan pukul lima sore, tak ada seorangpun dilihatnya disana.

Seketika terbayang sosok Dira dalam ingatannya. “Dirakan lagi dihukum, apa mungkin dia masih disini?” Gadis itu terus berjalan lurus, sesekali ia menatap kesamping, tersenyum saat mendapati air hujan yang masih setia menemani.

***
Niky terlihat kesulitan dengan sapu ditangannya, gadis itu benar-benar tak tau bagaiman cara menggunakan alat itu.
“Menyebalkan! Kalau bukan karena cinta ogah gue susah-susah gini” grutunya dalam hati.

Gadis itu melengkungkan bibirnya kesal. “Apa yang harus ia lakukan sekarang?” ia menatap keluar ruangan.
Senyumpun terukir saat ia menatap Ve berjalan didepan pandangannya.

“Vega!” Teriaknya kencang.
Ia berjalan cepat menghampiri Ve yang berdiri diam menatapnya heran.

“Niky? Lo ngapain masih disini?” Ve menatap Niky tajam yang tak langsung menjawab pertanyaannya.

Niky justru menyodorkan Ve sapu yang masih dipegangnya. “Sekarang lo bersihin ruangan perpustakaan!” perintahnya.

Ve mengernitkan keningnya, pandangannya langsung mengarah pada sosok seseorang yang terbaring dipojok ruangan. Dira!

“Cepetan!” betakan Niky membuat Ve mengalihkan pandangannya.

“Kenapa gue, yang dihukum ajah tenang-tenang tuh!”

“Lo mau ngebantah gue!” Niky menndorong tubuh Ve hingga menempel pada tembok.
“Gue bisa ngelapor sama bokap gue buat ngeluarin lo dari sekolah ini, kalau lo berani nolak permintaan gue!”

Ve terdiam mendengar ancaman Niky… ia tau Niky adalah anak pemilik sekolah ini.. gadis ini dapat melakukan apapun yang ia inginkan, termasuk mengeluarkan Ve dari sekolah.

“Gimana? Kalau lo nolak, siap-siap say Good Bye sama sekolah ini!” Niky menampakkan senyum sinisnya.

Ve hanya mampu menarik nafasnya perlahan, “Baiklah!” Jawab yang tak ingin ia utarakanpun terpaksa diucapkan.

Niky tersenyum puas, “Bagus, sekarang lo beresin ruangan ini sampai bersih, dan jangan sampai Dira tau kalau gue, yang maksa lo, NGERTI?”

Ve mengangguk pelan terpaksa.
***
Dira terbangun dari tidurnya…
“Setengah tujuh.. SH*T!” ia melonpat setelah menyadari ia terlambat untuk pulang.

Ia menatap keluar ruangan… masih Hujan, justru semakin deras bersamaan dengan suara sambungan petir.
Pandangannya beralih menatap sekeliling ruangan.. “Bersih!” iapun tersenyum puas.

“Bisa juga Putri manja itu kerja, not bad lah!” Dira mencoba meraih tas selempangnya yang tergantung disalahsatu tumbukan buku. “Hujannya awet, gimana gue bisa pulang?”

Bugh…!!
Dira mengalihkan pandangannya saat suara sesuatu terjatuh didengarnya. Cowok itu mempertajam penglihatannya, saat ia merasakan bayangan seseorang dibbali slahsatu rak buku.

Ve menutup matanya, gadis itu yang belum sempat keluar mencoba bersembunyi dibalik rak perpustakaan. Gadis itu tak ingin Dira menyadari keberadaannya.

“Siapa disitu?” Dira berteriak, mencoba mendekat pada Ve yang menggigit bibir bawahnya.

“Dira gak boleh tau gue disini!” gadis itu perlahan menghindar tanpa sepengetahuan Dira, berbelok kekiri hingga ia menempel pada dinding perpustakaan.
Ia berdiri dan menatap tombol lampu disampingnya, menarik nafasnya panjang sebelum ia melakukan sesuatu yang terliang diotaknya.

Plink!!!
Lampupun seketika padam……

“Sh*t, mati lampu lagi!”
Dira menepi dan mencoba menyender pada ujung kursi.. cowok itu segera meraih android disaku seragamnya dan membaca beberapa pesan masuk untuknya.

From: AYAH
Kamu dimana? Pulang sekarang juga!!

From: Deavan
Lo dimana?? Ayah nyariin lo, kalau hukuman lo udah selesai langsung pulang.

From: Cincau
Gue udah dapat kerjaan Dir, jdi utang gue sama lo bentar lagi lunas.




Terakhir..
From: Putri Manja
Dir, sorry gue harus buru-buru pulang, gue ada pemotretan, jangan lupa janji lo yah. See yah pangeran


Dira mengggaruk tengkuknya bingung… kata-kata apa yang harus ia balas sekarang.

TO: AYAH
Di sini hujan..sebentar lagi Dira pulang.

TO: Evan
Haha good luck… bearti lo bisa talangin gue buat beli obat.
Kerja apaan? nyopet?

TO: Putri manja
SIPOKEH… makan tuh Dava!


Ia memasukkan kembali android pada sakunya, setelah membalas semua pesan masuk terkecuali dari Dava, cowok itu selalu malas berhubungan dengan kakak tirinya itu.

Pikiran Dira langsung tertuju pada seseorang yang masih bersembunyi dibalik Rak buku…
Jika Niky telah kembali, lalu siapa Dia???

Ve menatap Dira dari kejauhan… kegelapan masih menemani mereka…
Seketika, Ve teringat akan setengah jam yang lalu saat ia sedang bersih-bersih…
Entah kenapa saat memandang Dira yang sedang tertidur, membuat hati gadis itu seketika damai.. mungkin perasaan bencinya pada cowok menyebalkan itu mulai sedikit berkurang saat ini.
Sepanjang pekerjaanpun pandangan Ve tak pernah lepas dari sosok Dira.
Benarkahh cowok setengil Dira memiliki derita yang disimpannya sendiri??

Ve membuyarkan lamunannya… tidak.. ia tak mungkin menyukai Dira!!

“Lebih baik gue pergi!”
Gadis itu mencoba melangkah keluar, tapi sial, Dira memergokinya.

“Tunggu!” Dira mendekat.. cowok itu menghampiri ve dalam kegelapan.
Ia memicingkan matanya saat tiba didepan Ve, gelap membuat pemuda itu sulit mengenalinya. “Lo siapa?”

Pertanyaan Dira tak dijawabnya, Ve yakin, jika ia berbicara dengan cepat Dira mengenali suaranya. Diam lebih baik.

“Jawab gue? Lo siapa? Kenapa lo masih ada disini?” Dira meraih lengan Ve tapi dengan cepat gadis itu mengelaknya.
Ve berusaha menghindar,tapi langkahnya lagi-lagi terhenti saat Suara kencang halilintar memecah pendengarannya.

Refleck Vepun segera memeluk Dira ketakutan.

Tiba-tiba.. pemuda itu merasakan sesuatu yang beda dalam hatinya, getaran yang sebelumnya belum pernah ia rasakan, ia menutup matanya pelan merasakan harum bunga yang bertaburan disekeliling mereka… Jatuh cinta?? Mungkinkah Dira jatuh cinta???

Begitupun dengan Ve, pelukan ketidak sengajaan ini, membuat hatinya seketika berdetak kencang… lebih kencan dari awal pertemuannya dengan Dava dulu.
Tidak, aku tak mungkin mencintainya!!

Ve melepas pelukannya, menunduk malu menatap senyuman Dira yang bersinar dikegelapan.

“Lo takut petir?” Dira menatap gadis itu yang mengangguk pelan, pemuda itu tersenyum tipis.

“Maaf!” Ve mengecilkan suaranya berharap Dira tak mengenalinya.

Cowok itu tersenyum tipis, mencoba menerka wajah gadis didepannya… cantik, dengan rambut panjangnya yang terkuncir, dann suaranya cukup merdu.
“Gak masalah, gue justru senang dipeluk cewek secantik lo!” Dira menolek dagu Ve pelan.

Ve tersenyum kecil, apa cowok ini akan mengatakan hal yang sama, saat menyyadari siapa cewek didepannya saat ini.
“Aku harus pergi!” Ve mencoba melangkah tapi Dira menggenggam jemarinya erat…

“TUNGGU!”

Gadis itu merasakan hatinya kembali berdegup kencang… tidak… jangan seperti ini lagi!

“Jantung gue kumat, sepertinya gue telat minum obat!” Dira melepas pegangannya dan berganti meremas jantungnya yang kembali sakit.

“Obat lo dimana?? Di tas?? Apa perlu gue ambilin??atau…?”

Dira mengernitkan keningnya menatap Ve yang mulai menampakkan wajah khawatirnya.

“Gue bantu lo duduk!” Ve menuntun Dira terduduk disalah satu kursi perpus, Dira menurut pelan.

Siapakah gadis ini sebenarnya?? Kenapa rasanya ia telah mengenalnya sebelum ini??

Dira masih menerka-nerka wajah gadis didepannya.. aneh.. siapa dia??

“Obat lo?” Ve terduduk disampin Dira yang terus menatapnya tajam.

“Di tas.” Jawab Dira tanpa espresi dengan tatapan tak beralih sedikitpun dari gadis itu.

Ve membuka tas Dira dan mencari botol kapsul obat jantung milik Dira, setelah ketemu gadis itu langsung meraihnya satu dan menyodorkannya pada Dira.
“Gue ambilin nimun!” Ve berusaha berdiri tapi Dira mencegahnya.

“Gak perlu, di tas gue selalu sedia air mineral.”

Ve kembali terduduk, menatap Dira yang meraih air mineral dalam salah satu sisi tas slempangnya.
Gadis itu tertegun, menatap Dira yang santai meneguk obat.
“Apa hidup lo selalu tergantung pada obat seperti ini?” Batin Ve berbisik.
Seketika ia tersenyum saat mendapati Dira telah selesai dengan kegiatan rutin itu.

“Terimakasih! Kalau gak ada lo, mungkin gue udah pingsan lagi.”

Hatinya terenyuh, saat mendengar penuturan dari pemuda disampingnya.. ini kali pertama cowok menyebalkan ini bersikap ramah padanya.

“Kembali kasih.”

Bersamaan dengan hujan yang telah berganti rintik-rintik kedua remaja itu terdiam dalam gelapnya ruangan. Hati keduanya berbisik, mencoba menerka perasaan baru yang hadir diantara keduanya…
Inikah namanya cinta yang sesungguhnya…???

“Gue harus pulang, Sorry!’ gadis itu berdiri, ia tak ingin lebih lama terlarut dalam suasana yang mungkin dapat membuatnya jatuh cinta pada pemuda disampingnya.

Dira ikut berdiri, “Tunggu!” Pemuda itu meraih MP3 Dalam tas yang masih bergelantung dipinggangnya. “Wanna Dance?”

Ve terdiam, apakah ia mimpi??
Ini kali pertama seorang pemuda mengajaknya berdansa, setelah ciuman pertamanya berhasil diambil cowok ini, dan sebentar lagi first Dance gadis itu juga diambil oleh pemuda yang sama. DIVARIO??

Dira mulai menyalakan salahsatu lagu dalam playlistnya,menaruh MP3 itu pada meja disampingnya, kemudian, tanpa menunggu jawaban Ve, pemuda itu meraih punggung Ve hingga tubuh keduanya berdekatan.

Ve menutup matanya, terdiam mengikuti Dira yang menuntunnya berdansa.
Walau awalnya terlihat kaku tapi lama kelamaan Ve justru merasa senang, dan terlihat cukup menikmati.
Tuhan…. Perasaan apakah ini??? Kenapa harus pemuda ini??

Dibawah hujan dan backsound lagu justin bieber, First Dance.. keduanya terhanyut dalam satu jalinan perasaann baru…
Perasaan Saling mengagumi..

When I close my eyes
I see me and you at the prom
We’ve both been waiting so long
For this day to come
Now that it’s here
Let’s make it special (I’m here tonight)

So many thoughts in my mind
The DJ is playing my favorite song (favorite song)
Ain’t no chaperons (chaperons)
This could be the night of your dreams



Ve menempelkan telinganya pada daada tegaap Dira, seketika, ia merasakan detakan jantung cowok angkuh itu..

Sementara Dira seketika mencium aroma halus rambur panjang Ve, seperti bidadari, aroma sederhana gadis itu berhasil menyihirnya.

Only if you give, give your first dance to me
Girl, I promise I’ll be gentle
I know we gotta do it slowly
If you give (give it), give the first dance to me (give it)
I’m gon’ cherish every moment
‘cause it only happens once, once in a lifetime


Ve menjauhkan kepalanya dari Dada bidang itu, Diraa masih menuntunnya berdansa…
Tangan pemuda itu dibiarkan berlabu pada pinggang kurusnya, tersa aneh memang, Tapi terkesan cukup romantis.

Glegar!!
Suara halilintas kembali memecah pendengaran.

Gadis itu kembali terkejut, memeluk tubuh Dira erat dan lebih erat. “Gue takut Dir.” Ia berbisik.

Pemuda itu tersenyum tipis, “Lo tenang yah, selama ada gue, lo gak perlu takut!” Dira melepas pelukan Ve.
Mencoba mentapa wajah Ve yang begitu dekat dengannnya.

Sebelum Pemuda itu menyadari lebih jauh, Ve mengalihkan pandangannya kekiri. “Gue pergi ajah!”

Kening Dira mengerut. “Tapi..”

“Sorry!” Ve berusaha pergi, lagi dan lagi pemuda itu mencegahnya. “Not again!” dengus Ve pelan.
Ia menatap Dira yang kini berdiri didepannya. Mata gadis itu membesar saat mendapati Dira mencium pipi kanannya.

“Sebagai ucapan terimakasih gue, karena lo udah mau nemenin gue dance.”
Cowok itu berkata setelah menjauhkan bibirnya dari pipi gadis itu yang seketika memerah.

Ve terdiam, entah kenapa, saat Dira mencium pipinya, ia tak berniat marah ataupun kesal.. gadis itu hanya melangkah pelan menjauhi Dira sambil memegangi pipi kanannya tak percaya.

“Hey, gue Dira!” Pemuda itu berteriak. “nama Lo??”

Ve menghentikan langkahnya dan berbalik. “Cinderella.”

Alis tebalnya seketika menyatu mendengar nama yang diutaran Ve padanya. “Cinderella?”
Dira menatap tajam gadis itu yang berbelok dan seketika hilang dari pandangannya.

Everybody says we look cute together
Let’s make this a night the two of us remember
No teachers around to see us dancing close
I’m telling you our parents will never know
Before the lights go up and the music turns off
That’s the perfect time for me to taste your lip gloss
Your glass slippers in my hand right here
We’ll make it before the clock strikes nine

(First Dance-Justin Bieber)



Dira mematikan musik pada MP3nya yang masih mendengdangkan sebuah lagu.. memasukkanny kembali kedalam tas dan berusaha mengejar gadis cinderella itu.
Langkah pemuda itu terhenti, saat ia menyadari lampu disekeliling koridir yang menyala..
“Aneh, bukannya mati lampu?” Ia menatap kedalam ruang perpustakaan.. Masih gelap..
Beralih menatap ruang UKS.. Beberapa kelas dan ruang guru diseberangnya… semua terlihat terang menderang.

Dira melangkahkan kakinya memasuki ruang.. menatap tombol lampu disampingnya.

KLIK!!
Lampu seketika kembali menyala.

“Kirain mati lampu tadi, ternyata ada yang sengaja matiin lampunya!” Dira mengaruk tengkuknya bingung… “Tapi siapa?? Apa gadis cinderella itu?” Semakin bingung ia dibuatnya.

Seketika dira merasa sesuatu yang menusuk dadanya… sakit… ia menoleh dan mendapati sebuah anting tersanggkut dalam seragam putihnya.
“Anting??” Ia menatap tajam anting bermotifkan bintang kecil ditangannya.. “ini paasti punya cewek itu!” senyumpun terurai indah dalam bibir tipisnya.

“Bener-bener Cinderella.”

***
Tidak… menyebalkan!!!
Bagaimana bisa aku tak memukul atau menendangnya saat dia berhasil mencium pipiku tadi.
Tapi jujur, entah kenapa ada perasaan berbeda yang kurasakan saat ia menciumku ataupun mengajakku berdansa..
Seolah-olah pemuda itu bukanlah Dira, seseorang yang beitu kubenci.. melainkan pangeran yang tuhan ciptakan hanya untukku seorang..

Tuhan, apa mungkin aku mulai menyukainya??

Ve terhenti tepat disamping sang Bunda yang siap-siap kembali pulang. Gadis itu mengacak rambutnya kesal.. “Dira, lo nyebelin!!”

“Kamu dari mana?” sang bunda mendekat dan menatap putri tunggalnya bersamaan dengan senyum.

“Perpus.” Jawab Ve tak bersemangat.

Sang bunda menatap heran telinga Ve yang hanya mengenakan satu anting.. “Anting kamu mana Ve?”

DEGH!
Jantung Ve seketika terhenti mendengar pertanyaan sang bunda.. dengan cepat ia meraba kedua telinganya, ia menggigit bibir bawahnya pelan saat mendapati telinga kanannya yang tak lagi mengenakan anting pemberian sang ayah.
“Aduh, pasti jatuh, tapi dimana??” ia terlihat panik.. hanya anting itu satu-satunya hasil peninggalan sang ayah yang dimiliki Ve, jika hilang… Ia bisa nangis berbulan-bulan mungkin??

CONTINUE :D

“Ketika Dira, Jatuh Cinta!” #PART6

“Ini buat aku?”
Dira meraih kotak makan pemberian Mia, sambil menatap gadis itu yang mengangguk.

Cowok itu tersenyum senang mendapati perhatian gadis manis itu. Dira menaruh kotak makan disampingnya, kembali menatap Mia yang masih setia terduduk disampingnya.
“Kamu manis banget sih!”
Dira mencubit pipi Mia gemas.

Gadis itu tersenyum malu. “Dira ah!”

“Eh tadi nama kamu siapa?”
Dira menatap Mia tajam sembari meraih kotak makan pink disampingnya.

“Mia.” sahut Mia pelan pada Dira yang mengangguk.

Cowok itu membuka kotak makan ditangannya, ia tersenyum menatap beberapa potongan brownies didalamnya.
“Gimana kalau kita makan bareng?”
Dira meraih potongan brownies itu dan menyodorkannya tepat pada mulut Mia.

Gadis itu terdiam tak percaya, Benarkah Dira ingin menyuapinya?

“Aa!” Dira membuka mulutnya, memperagakan agar Mia melakukan hal yang sama.

Dengan perasaan tak percaya, Mia membuka mulutnya pelan.
Dira tersenyum saat gadis itu menggigit ujung brownies ditangannya dan mengunyahnya pelan.

Setelah itu, Dira menyantap sisa brownies ditahannya lahap.
Mia tersenyum lega, saat menyaksikan Dira melahap brownies buatannya.

“Terimakasih yah!”
Dira berkata setelah brownies dalam mulutnya habis, menatap Mia yang membalasnya dengan senyuman.

“Kalau kamu baik gini, kita jadian yuk?”

Mata Mia terbelak saat mendengar penuturan cowok itu.
Apakah ia baru saja bermimpi?

Dira menutup kotak makan milik Mia, dan berdiri, beralih pemuda itu mengelus lembut rambut terkepang Mia.
“Tunggu saatnya, gue nembak lo nanti!”
Dira tersenyum tipis menangkap espresi wajah lugu Mia, kemudian ia melangkah menjauh setelah berhasil membuat sekujur tubuh gadis melemas, dan mungkin sebentar lagi akan pingsan, karena terkejut.

***
“Dava, aku tak pernah menyukai Dira!” bantah Ve kesal saat Dava terus saja mengkaitkan Dira pada perbincangan mereka.

Dava tersenyum tipis, “Kata nenek gue, cinta yang paling sejati itu adalah cinta yang berawal dari benci.”
Pandangan Dava mengarah pada Ve yang terduduk didepannya.
Saat ini, mereka sedang berada dikantin, mencoba menikmati santapan pagi mereka, atau santapan pagi Dava tepatnya, karena sebenarnya Ve hanya menemani cowok tampan itu.

“Permusuhan yang berawal Cinta, seperti kamu sama Dira.”
Cowok itu menyendok nasi goreng didepannya dan menyantapnya perlahan.

Ve terdiam, mencoba menerka perkataan Dava barusan.
Cinta yang berawal dari benci?
Seperti kisah2 dalam beberapa film yang ditontonnya.
Tapi apakah itu juga berlaku dalam hidupnya?
Mungkinkah rasa bencinya pada Dira, suatu saat berbuah Cinta?

“Hey, kok diam?”
Dava menepuk pelan punggung Ve, membuat gadis itu membuyarkan lamunannya tentang Dira.
“Aku tak mungkin menyukainya!”
Bisik hati Ve.

Gadis itu tersenyum pada Dava yang kembali asik dengan nasi goreng di piring putih itu.
“Karena yang aku sukai itu kamu, Dava, bukan Dira!”
Hatinya kembali berbisik dengan harapan sang angin dapat menyampaikan rasa kagumnya pada pemuda didepannya.

***
“Divario!”
Evan berteriak keras membuat seisi kelas menatapnya tajam.
Tak terkecuali Dira yang saat itu sedang asik menyalin PR yang didapat dari malak sang ketua kelas.

Evan mendekat dan terduduk disamping Dira yang mengacuhkannya.
Cowok itu masih sibuk dengan contekannya.

Evan menatap Dira kesal yang tak memperdulikan kehadirannya. “Sahabat lo datang Dir, Evanco!”
Evan mengiku Dira gemas saat Dira tetap terdiam.

Dalam hatinya, Dira tertawa senang dapat menyerjai sahabatnya itu.
Pasalnya Evan paling anti sama yang namanya dicuekin, terlebih oleh orang dekatnya.

Dira melirik Evan pelan, ia mengernitkan keningnya menatap Evan yang sedang asik mencoret-coret pinggir meja dengan spidol yang baru direbutnya dari Cindy.

“Nulis apaan?” Dira mendekat pada Evan untuk membaca tulisan yang sedang diselesaikan Evan.

Evan menutupnya cepat dgn kedua tangannya, sebelum Dira benar2 membacanya.

“Pelit amat Van, ama gue juga!” Dira menatap Evan geram.

Evan tak menjawab, cowok itu berdiri dan berganti menutup tulisan itu dengan buku tebalnya.
“Lo baca, lo bakal jatuh cinta ama Vega!”

Ancaman Evan membuat Dira ogah membaca tulisan itu, karena ia tak ingin jatuh cinta dengan cewek menyebalkan itu.

“Lebih baik gue jadi homo daripada harus jadian sama si Ve cewek makan hati itu!”
Tegas Dira kesal sambil menatap Evan yang tersenyum.

“Baguslah!”

***

“Apa? lo nyium Dia? trus Lo ditampar?” Evan terliat antusias bertanya pada Dira, setelah cowok skate itu menceritakan tentang kejadian tadi pagi antara dirinya dan Ve.

Dira mengangguk pelan, sambil berjalan disamping Evan menuju kantin.

“Asli, nyesel gue kagak liat waktu Ve nampar Lo!” Evan berkata sumringah sambil mengelak kekiri, saat Dira akan menoyor kepala Evan kesal.

“Cincau!”

“Tapi serius, gue penasaran rencana apalagi yang akan dilakukan Ve buat ngebalas ciuman Lo itu.”
Keduanya terhenti tepat didepan kantin, Dira sibuk dengan android ditangannya, sementara Evan sibuk mencari tempat kosong untuk mereka duduk.

“Disana!” Evan menepuk punggung Dira sambil mengarahkan telunjuknya pada dua kursi kosong dipojokan kantin.

Dira hanya menurut, berjalan dibelakang Evan yang sibuk tersenyum sok manis pada setiap gadis yang ditatapnya.
Sang gadis acuh, malah sibuk histeris saat pangeran Dira melewati mereka.
Evan menarik nafasnya pelan, menyalah artikan pandangan gadis genit itu yang ternyata bukan untuknya melainkan Dira sahabatnya.

Keduanya telah sampai didepan kursi, Dira mencoba terduduk pada kursi didepannya, tapi dengan cepat Evan mencegahnya.

“Tunggu!”
Evan menampakkan wajah khawatir, menatap Dira tajam yang mengernitkan kening.

“Kenapa emangnya? Lo mau duduk disini?”
Dira menggeser kursinya sedikit kekiri, Evan menggeleng cepat.

“Bukan, siapa tau Ve udah siapin jebakan buat Lo!”
Evan mulai menampakkan wajah serius sambil menatap Dira yang menyender pada kepala kursi.
“Dia sengaja gergaji kaki kursi ini, jadi waktu lo duduk trus lo jatuh!”

Perkataan serius Evan membuat Dira tertawa lepas.
Dira menempeleng kepala Evan gemas. “Cincau!”

“Ye, siapa tau Dir!”
Evan mengelus kepalanya pelan, menatap Dira yang masih tertawa kencang.

Dira mencoba terduduk disela-sela tawanya. “Liat nih, sekarang gue duduk, dan gue gak akan..”

Bugh!
Baru ajah Dira mendudukkan tubuhnya pada kursi itu, seketika itupula Ia terjatuh.

Dira menutup matanya pasrah mendengar seisi kantin menertawakannya, termasuk Evan yang tertawa sampai memukul2 perutnya sendiri.

Dira merasakan sesuatu yang aneh pada belakang celana abu2nya..
Ia membuka matanya dan berdiri, memiringkan badannya untuk menengok belakang celananya.
Matanya membesar saat mendapati satu masalah kembali datang.

Sobek??

Dira segera menutup belakang celananya yang robek dengan menu makanan.

Menyenggol lengan Evan yg masih tertawa.
“Gue minjam celana Lo, Van!”

Evan menghentikan tawanya sejenak dan menggeleng. “OGAH!”

***
“Vega!Vega!”
Teriak Dira keras sambil mengejar Ve yang berusaha menghindar.

Gadis itu mempercepat jalannya, ia tau apa yang akan terjadi sekarang, Dira murka karena Ve berhasil mengerjainya.

“Vega! berenti Lo!” Dira yang saat itu menutupi celananya dgn jaket yang ia ikat pada pinggangnya, cowok itu terlihat kewalahan mengejar Ve yang semakin menjauh.

“Sh*t!”
Dira terhenti saat ia merasakan Jantungnya kambuh.
Ia baru ingat, hari ini ia belum sempat minum obat.

Dira menatap Ve yang berbelok, memasuki kelas Dira.

Cowok itu mencoba mengatur nafasnya pelan agar jantungnya tak kembali kumat, berbelok untuk memasuki kelas yang ternyata sepi.

Ia tersenyum saat menyadari hanya dirinya dan Ve dalam ruangan putih itu.

Bruk!
Dira menutup pintu itu dan menguncinya dari dalam.

Ve membelakkan matanya saat Dira berusaha mendekat.
“Lo mendekat, gue teriak!”

Cowok itu tersenyum tipis menantang, “Silahkan!”

Dira semakin mendekat, ve menutup matanya menyadari Dirinya telah menempel pada dinding.
“Dira!”
Ve menutup matanya pasrah saat tangan cowok itu menyanggah badan kurusnya.

Dira tersenyum puas menatap wajah gelisah dan ketakutan Ve.
“Lo yang mulai Ve!”
Cowok itu menaikkan Dagu Ve yang menunduk.
“Gue cuma mengakhiri!”

Dira tersenyum evil, semakin takut Ve dibuatnya.

“Pergi Lo!” Ve mendorong tubuh Dira kencang hingga cowok itu terjatuh.
“Jauhi gue atau hidup lo akan menderita!”
Ancam Ve keras.
Cewek itupun menjauh setelah sempat menendang lutut Dira yang masih terduduk.

Dira mencoba berdiri, berbalik dan meraih lengan Ve. “Gue yang akan buat lo menderita!”
Dira memutar tubuh Ve hingga berhadapan dengannya.

“Lepasin gue!”
Ve berusaha mengelak tapi semakin kencang Dira mencengram lengannya.

“Dira buka pintunya dan hentikan semuanya!”
Suara guru Pembimbing dari luar membuat Dira tersenyum tipis.

“Divario!”
Kini suara kepala sekolah yang didengarnya.
Tetap saja cowok itu masih mencengkram lengan Ve keras, hingga gadis itu terlihat sangat kesakitan.

Jendela luar terlihat penuh dgn murid2 yang berdesakan untuk menyaksikan pertunjukan sang pangeran Dira.

“Dira lepasin gue!”
Ve mengelak untuk kesekian kalinya agar Dira melepas cengkramannya.

Gadis itu terdiam, saat tangan pemuda itu sedikit demi sedikit terlepas dari Lengannya.

Jantungnya kembali ia rasakan sakit, pemuda itu seketika berlutut didepan Ve yang menatapnya kaget.

“Ve, buka pintunya!”
Perintah kepala sekolah membuat Ve melangkahkan kakinya menjauh dari Dira.
Gadis itupun segera membuka pintu dan menatap wajah Dava yang menghampirinya.

“Ve, lo gak apa2?” dava menatap khawatir Ve yg mengangguk.

Pandangan Ve kembali mengarah pada Dira yang masih berlutut, pemuda itu masih merasakan sakit pada jantungnya.
hati Ve seketika tersentuh saat menatap Pemuda itu jatuh pingsan.

“Dira bangun!” Evan menghampiri Dira yg tak sadarkan diri.
Bersama beberapa siswa, Dira dibawa menuju ruang UKS.

***

Sore terasa panjang bagi cowok bertubuh tinggi itu, Dira.
Tubuhnyapun seketika terlihat sedikit kurus, Ia menatap keluar jendela. Hujan!

Ia mencoba duduk diranjang UKS ketika menatap Evan berjalan menghampiri.

Evan berdiri disamping Dira, membuka botol kapsul milik Dira dan menyodorkannya pada Dira. “Obat Lo!”

Dira meraihnya enggan, meneguknya perlahan dan mendorongnya dengan air mineral pemberian Evan.

“Thanks!” Dira mengembalikan gelas kosong pada Evan yang mengangguk.

Cowok itu menaruh gelas itu disamping ranjang, menatap Dira pelan dengan pandangan Iba.
“Kalau gue bisa ngasih jantung gue buat Lo, gue rela Dir, asal gue gak harus liat lo pingsan setiap hari.” Batin Evan berbisik.

Pandangan Dira mengarah keluar jendela, Hujan dan dingin..
Kenangan masa kecilpun seketika teringat dalam benaknya.
Saat dimana ia dan sang ayah, bermain hujan sepanjang hari.
Dira kecil yang lucu dengan pipi chubynya terlihat bahagia saat itu.
Dira kecil begitu menyukai hujan, karena ia tau, ketika hujan ayahnya akan selalu menemaninya bermain.
Tapi kini..
Baginya hujan tak seindah dulu..
Justru bisa dikatakan saat ini ia begitu membenci hujan.
Saat hujanlah sang bunda meninggalkannya dan saat hujan pulalah sang ayah mengenalkannya dengan Dava dan bundanya.
Perih!

Cowok itu menatap langit2 ruangan, mencoba menepis airmata yang mungkin sebentar lagi akan terjatuh.

“Hujannya awet!” Evan menatap teduh Dira yang mengangguk pelan.
Cowok itu menatap Dira lekat, sahabatnya tak seceria dulu, hidup dengan obat2 dan rumahsakit telah membuat wajah dan tubuh pemuda itu mengecil dan mengurus.
Sahabatnya tak sekuat dulu.

Evan menarik nafas panjang, tersenyum saat Dira menatapnya pelan.
“Ada apa?”
Kening Evan mengerut saat mendapati Dira berdiri.

“Gue pingin hujan-hujanan!”
Katanya bersemangat sambil berlalu keluar ruangan.

Evan mengejarnya.
Berdiri disamping Dira yang sedang asik menikmati percikan air dari langit itu dengan kedua tangannya.

“Lo gila! Lagi sakit gini malah mau hujan2an!”

Dira tersenyum pelan mendengar perkataan sahabatnya.
“Semenjak ayah kawin sama Bundanya Dava, gue gak pernah hujan2an lagi.” cowok itu berjalan ketengah lapangan, membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhnya.

Sekolah terlihat sepi, hanya tinggal beberapa murid yang masih tinggal.
Mereka menatap Dira iba, seisi sekolah tau tentang penyakit jantung cowok energic itu, terkecuali Ve.

Cowok itu tersenyum kecil, menutup matanya mencoba menikmati suasana rintikan hujan yang terus membasahi kepalanya.
Ia melentangkan tangannya seolah2 pemuda itu ingin terbang dan melupakan semua masalahnya.
“Kalau gue mati besok, setidaknya hari ini gue bisa ngerasain rintikan air hujan untuk terakhir kalinya!”
Dira menatap Evan yang memandangnya teduh.

Evan terdiam tanpa suara, ia menunduk tak sanggup lebih lama lagi menatap mata teduh itu.

“Lo gak akan mati! Cowo idiot!”

Dira menengok ke kiri saat suara cempreng itu mengema pendengarannya.
Ia tersenyum tipis menatap seorang gadis berjalan kearahnya dengan menggenggam payung putih.
Vega!

Vd mendekatkan payung itu tepat diatas kepala Dira.
Seketika cowo itu tak lagi merasakan rintikan hujan.

“Udah tau kondisi lo lemah, kenapa malah hujan-hujanan, Idiot!”
Ve menuntun Dira menepi, keduanya berjalan pelan dengan satu payung yang melindungi tubuh kedua remaja itu.

Evan tersenyum saat mendapati kedua remaja itu yang sedang berbincang2. “Cocok juga!”

Keduanya berdiri diujung lapangan.
Dira menatap Ve geram yang menjauhkan payung dari atas kepalanya dan menutupnya cepat.

“Tadi, lo manggil gue apa?” Dira menatap Ve geram yang menantangnya.

“Idiot.. Idiot.. Idiot!” Gadis itupun berlalu sambil menenteng payung putihnya.

“Eh tunggu!” Dira kembali geram, mengejar gadis itu dan meraih lengannya.
“Trus tadi ngapain Lo nolongin gue?”

Ve menepis pegangan Dira cepat, “Siapa juga yang mau nolongin lo,” Ve menggelengkan kepalanya bersamaan dengan sinisnya.
“Gue gak tau, kalau cowok gila yang lagi hujan-hujanan ditengah lapangan, itu Lo!”
Ve mengarahkan telunjuknya tepat pada wajah Dira yang menatapnya Geram.
“Idiot!” Lanjut Ve.

Dira menepis telunjuk Ve yang hampir menyentuh hidung mancungnya. “Lo..”

“Gak mungkinkah setelah udah ditengah lapangan gue balik arah, so, gue terusin ajah, relain payung gue ngelindungin tubuh kurus Lo!”
kali ini Ve mendorong lengan Dira dengan ujung payung yg dipegangnya membuat Dira bergeser sedikit kekiri.

“Lo cari masalah, Nona!”
Dira menampakkan senyum sinisnya, matanya seketika menampakkan api amarah.

Ve menatapnya tenang, “Gue masih banyak kerjaan,” Ve mencoba melangkah menjauh dari pemuda itu. “Bye, idiot!” gadis itupun melambaikan tangannya seiring dengan senyum mengejek pada Dira yang menatapnya geram.

“Dasar cewek kampung!”

Ve menghentikan langkahnya saat kalimat tak enak mengema telinganya.
Ia berbalik dan menghampiri Dira yang menyambutnya dengan senyuman sinis.
“APA?”

“Cewek Kampung!”

“Cowok idiot!” Ve mengeraskan suaranya.

Dira membalasnya lebih Kencang. “Cewek.. kam-pung!”
Dira sengaja mengeja membuat telinga Ve seketika memerah karena panas.

Ve melayangkan payungnya tepat pada perut sixpack Dira. “Lo idiot!”

Dira tersenyum senang saat Ve mencoba menjauh darinya.
“Lo yang memulai, Nona!”

“Divario!”
Pak kepala sekolah yang baru tiba dari balik tikungan menatap Dira geram yang memandangnya enggan.
“sekarang, kamu ikut saya ke Ruangan!”

Dira mengangguk malas. “Baik pak!”

CONTINUE :D

“Ketika Dira, Jatuh Cinta!” #PART5

“Bu, Ve jalan2 dulu.”
Ve melangkahkan kakinya menjauhi kantin setelah mendapat anggukan sang bunda.
Setelah membantu sang bunda membenahi kantin, gadis itu memilih untuk berjalan ria sebentar mengitari koridor sekolah.

“Baru jam enam.” ia menatap arlogi dipergelangan tangannya. “Jelas ajah masih sepi.”

Ia terhenti ketika tiba didepan kelas, matanya menatap kedalam ruangan tepat dimana tempat duduk Dava, wajahnya terlihat kecewa saat tak mendapati Dava disana.
“Pasti belum datang.”

Ve kembali melangkah, kakinya lagi2 terhenti ketika menatap Dira yang berjalan mendekat.

“Kenapa harus Dia?” Ve memutar tubuhnya berbalik, mencoba menghindar dari cowok menyebalkan itu.

“Lo! Tunggu!”
Ve mempercepat langkahnya, saat suara serak Dira menggema pendengarannya.

Tapi sial, Langkah seribu Dira mampu menghentikan langkah gadis itu.

Dira mencengkram lengan Ve keras. “Mau kemana Lo?”
Tatapan mata sangarnya membuat hati Ve mengecil karena takut.
“Lo mau kabur, setelah lo buat wajah gue memerah, huh?” Dira membentak sambil mengeras cengkraman tangannya.

Ve mencoba tenang, “Itu karena lo yang cari masalah lebih dulu!” gadis itu menepis cengkraman Dira cepat.

Dira menatapnya semakin geram.
“Gue nyiram dia pake Es, sementara lo!” Dira mendorong tubuh Ve hingga menempel pada dinding. “Nyiram gue pake kuah panas!”
Suara Dira mengeras.

Ve menggigit bibir bawahnya takut. “Trus mau lo apa? Nyiram gue pake kuah panas juga!” tantang Ve pada Dira yang tersenyum sinis.
“Kalau itu mau lo, kita kekantin sekarang, dan lo bisa nyiram gue disana!”
Ve mendorong tubuh tinggi Dira menjauh darinya.

Cowok itu menampakkan espresi datarnya. “Ayo!”
Dira menarik paksa tangan Ve mendekati kantin.

Ve menutup matanya pasrah. “Tuhan, selamatkan Ve!”
Gadis itu memohon sambil membuka matanya, saat ia merasakan langkah Dira yang terhenti.

Matanya membesar saat ia menyadari Dira yang ternyata tak membawanya ke kantin, melainkan UKS?

Dira melepas pegangan tangannya, “Gue bakal balas lo disini!” Dira menaikkan sebelah alisnya penuh ancaman, pandangannya sinis menatap Ve yang menampakkan wajah takutnya.

Cowok itu menghampiri Ve dan menarik tangan gadis itu hingga memasuki ruangan.

“Lo mau ngapain?” Ve mencoba brontak saat Dira mendorongnya kasar hingga terjatuh.

“Bunuh Lo!” Dira melepas tas selempangnya dan membuangnya keatas ranjang UKS.
Dira Membungkukkan badannya, mendekat pada Ve yang masih terduduk.

Gadis itu berusaha menghindar saat Dira mencengram Dagunya.
“Dira!”
Ia bersuara pelan.

Dira tersenyum puas menatap wajah takut Ve.
“Tapi sayangnya gue gak sejahat itu.”
Dira mendekatkan wajahnya pada wajah terkejut Ve.

Gadis itu membelalakan matanya saat bibir Dira menyentuh bibirnya.
Dira menciumnya!!
Ciuman pertamanya direnggut oleh cowok menyebalkan ini!
Bagaimana bisa?

Ve mendorong tubuh Dira menjauh, hingga ciuman kramat itu terhentikan.
Gadis itu berdiri dan menatap geram Dira yang menampakkan wajah puas, telah mengerjai gadis itu.

Ve tak tinggal diam, ia mendekat pada Dira yang berdiri dan

Plak! plak!
Tamparan kiri kanan mendarat tepat pada pipi cowok itu.

Dira hanya tersenyum sinis, tak menampakkan wajah sakit sedikitpun.
Toh cowok itu tlah terbiasa ditampar seperti oleh sang ayah.

Dira mengelus pelan pipi kirinya, tersenyum tipis pada Gadis itu yang berusaha menjauh.

Untuk saat ini, Ve memang tak berselera untuk berdebat, lebih baik menghindar dan memikirkan apa yang akan dilakukannya nanti, untuk membalas perbuatan cowo menyebalkan itu.

Dira meraih tas selempang diatas ranjang UKS, dan memakainya.

“Dira!”

Cowok itu menajamkan penglihatannya, menatap seseorang yang tiba dari balik pintu.

Dava mendekat pada Dira yang masih menatapnya tajam.
“Obat lo, ketinggalan!” Dava mengeluarkan satu botol kecil berisikan kapsul obat dari saku seragamnya.
Menyodorkan pada Dira yang meraihnya enggan.

“Gue gak mau lo pingsan lagi!” Dava menepuk punggung Dira pelan dan berlalu keluar ruangan.

Dira menatap Dava yang semakin menjauh, hingga bayangan cowok tinggi itu hilang dari pandangannya.

Cowok itu terduduk dipinggir ranjang, menatap botol obat ditangannya.
Kejadian kemarinpun, seketika terliang kembali dalam pikirannya.

Sore itu..

“Dir, Dira!”
Suara seseorang memanggil namanya menyadarkan Dira dari pingsannya.
Ia mencoba membuka matanya perlahan, masih ia rasakan sakit pada jantungnya, ia mencoba terduduk.

“Dira, makan siang udah siap!” Dava tiba dari balik pintu, langsung masuk dan berdiri didepan Dira yang bersikap biasa.

Cowok itu tak ingin Dava tau tentang jantung Dira yang kembali kumat karena telat minum obat.

Dira berusaha berdiri, menghindar dari tatapan mencurigakan Dava. “Lo duluan ajah!”
Dira terhenti dimeja belajar, berdiri membelakangi Dava yang menatapnya aneh.

“Obat Lo mana?” Dava mendekat pada Dira, cowok itu memperhatikan dengan seksama ekspresi wajah Dira yang mencoba menahan sakit.
“Jantung Lo kambuh?” Dava semakin yakin akan penyakit jantung Dira yang kambuh, terlebih saat Dira menekan jantungnya keras untuk sekedar menghilangkan rasa sakit.

“Pergi Lo!” Usir Dira, ia mendorong tubuh Dava menjauh.

“Lo gak telat minum obatkan?”
Dava menatap Dira tajam.

Dira kembali mendorongnya hingga keluar kamar.
“Pergi, dan janji pernah sok peduli sama gue!”
Dira menggigit bibir bawahnya saat sakit pada jantungnya semakin menjadi.

“Dira gue..”
Dava menghentikan perkataannya saat mendapati tubuh Dira yang seketika terjatuh.

Dava mendekat, meraih kepala Dira dan menaruhnya dalam pangkuan.. “Dira.. Obat lo mana?”
Dava menatap tajam Dira yang memandangnya samar2..

Bibir Dira seketika bergetar, ia mencoba mengatakan sesuatu.. “Ayah..”

Dava mengerutkan keningnya, ia menuntun Dira berdiri dan berjalan hingga ranjang bermotif AC.Milan itu, kemudian Dava membaringkan tubuh Dira pada Ranjang.

Dira menatap Dava yang sedang berbicara dengan seseorang lewat telpon, Cowok itu menajamkan pendengarannya, mencoba menyimak perbincangan Dava dan suara diseberang telpon.

“Tolong kirim secepatnya.”

“…”

“Terimakasih.”
Davapun menutup sambungan telpon. Dan kembali berdiri didepan Dira yang diam menatapnya.

“Sebentar lagi obat lo datang, gue kebawah dulu, kasih tau Bunda kalau kondisi lo kurang baik.”
Dava berlalu setelah mengatakan itu, tapi sesampainya didepan pintu ia berbalik menatap Dira pelan.
“Kalau obat lo abis, lo bilang sama gue, Ayah banyak kerjaan, dan dia sering lupa, lo bisa percaya sama gue.”

Dira terdiam mendengar perkataan Dava itu.
Cowok itu tersenyum tipis saat Dava berlalu dari hadapannya.
“Rencana apa yang tersimpan dibalik sikap baik lo sama gue Dav?”

***
Dira memasukkan botol kapsul obat pada tas selempangnya , membuyarkan lamunannya tentang kejadian kemarin.
cowok itupun berlalu keluar ruangan.

Langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya..

“Dira!”

Dira terdiam menatap gadis cantik dengan rambut hitam panjangnya bak seorang model shampoo berjalan kearahnya.

“Hi, Dira!” Sapa gadis itu sesampainya didepan Dira.

Cowok itu tersenyum tipis, “Hi, ada apa?”

“Gue cuma mau nanya, ada hubungan apa antara Dava sama anaknya bu.kantin?” Niky menatap Dira tajam yang menarik nafasnya panjang.

“Cantik!” Dira merangkul bahu gadis itu yang tersenyum senang.
Dira merangkul bahunya, ini seperti mimpi.

Cowok itu lanjut bicara. “Lo salah tanyain itu sama gue,” Dira melepas rangkulannya.

Niky menatapnya tajam, “Bukannya Dava kakak Lo?”

“Kakak tiri!” Ralat Dira cepat.

Niky mengangguk mengerti, “Mereka dekat banget Dir!” Niky menampakkan wajah tak sukanya.
“Guekan cemburu!”

Dira tertawa pelan mendengar penuturan gadis itu. “Nona, kalau lo suka kenapa gak lo tembak?”
Dira mendekat pada Niky yang masih menatapnya, cowok itupun menuntun Niky terduduk dikursi kayu depan UKS.

“Dia itu cuma anaknya bu kantin, dia gak selevel ama Lo, gue yakin lo pasti menang dapatin hati Dava.”
Dira menyakinkan Niky yang seketika tersenyum.

“Benar juga!” Niky berdiri dari duduknya penuh semangat. “Gue gak mungkin kalah dari Cewek kampung itu.”

Dira mengangguk, “Yep, dia bukan saingan Lo!”

“Makasih Dir atas semangat lo, sekarang gue jadi tambah semangat buat dapatin hati Dava!”

Dira berdiri dari duduknya. “Okay, good luck!” Dira mengelus rambut Niky pelan.

Semakin salah tingkah Niky dibuatnya.

**
“Dira nyebelin! Tunggu pembalasan gue!”
Ve terus mencuci mulutnya dengan wastafel toilet.
Mencoba menghilangkan sisa ciuman terkutuk itu.

“Gue harus balas dendam, bisa2nya dia ngambil ciuman pertama gue, Argh!” Ve mengacak rambutnya kesal saat kejadian tak diinginkan tadi kembali diingatnya.
Harapan gadis itu akan ciuman pertama dengan pemuda impiannya ternyata hanya tinggal mimpi.
Dira, cowok yang sangat dibencinya tlah menghancurkan impian gadis itu. Menyedihkan.

Ve melangkah keluar toilet dengan tak bergairah.
Langkahnya terhenti saat matanya menatap Dira dengan seorang gadis sedang berbincang2.
Gadis dengan kepang satu dan wajah lugunya.
Keduanya terlihat terduduk dipinggir lapangan, saling berbagi tawa dan canda.
“Siapa Dia?”
Ve menyipitkan matanya, menatap pemandangan yang jauh didepannya.

“Gak mungkin mereka pacaran! Emang ada yg betah jadi pacar cowok setengil Dira!”
Gadis itu masih menatap tajam Dira dan Mia yang sedang berbincang2.

“Kayaknya ada yang cemburu!”

Ve mengalihkan pandangannya saat bisikan itu menggema ditelinganya.

“Dava, apaan sih!”
Gadis itu memukul lengan Dava pelan yang tersenyum mengejek.

“Kamukan tau, aku benci banget sama Dira.”

“Emangnya kita lagi ngomongin Dira?”
Pertanyaan Dava membuat Ve menutup matanya malu.

Dava tertawa pelan, “Jelaskan sekarang, kalau kamu lagi mikirin Dira!”
Dava mengacak poni Ve asal.

Gadis itu menunduk malu menyadari kebodohannya.

“Diantara banyaknya siswa, kenapa Dira yang kamu sebut?”
Dava menatap tajam Ve bersamaan dengan senyum manisnya.
“Cie yang ada hati sama Dira!”
Canda Dava membuat wajah Ve seketika memerah.

“Dava!”

“Dira!” cowok itu kembali mengacak poni Ve gemas.

Dari balik pintu kelas 12che6 tampak Niky menatap Ve dan Dava tajam.
“Apapun caranya, gue gak mungkin kalah dari lo, Cewek kampung!”

CONTINUE :D

“Ketika Dira, Jatuh Cinta!” #PART4

***
“Sepertinya Dira benci banget sama kamu?” Ve mengunggu Dava diruang ganti operasi, ia terduduk disalahh satu kursi disamping pintu.

Tak beberapa tiba Dava dari balik pintu, cowok itu telah mengganti seragamnya dengan seragam pinjaman sekolah.
“Dira benci gue semenjak gue dan bunda tinggal dirumahnya.” Dava berdiri disamping Ve yang masih terduduk.

“Loh, bukannya kalian adik-kakak?” Ve berdiri menatap Dava yang menggeleng.

“Bukan, nyokap gue nikah sama bokapnya Dira, jadi kita saudara tiri.”
penjelasan Dava membuat ve bebrdiri mensejajarkan owok tinggi itu.

“Dira berfikiran nyokap dan gue udah ngerebut bokapnya dari dia, mungkin karena itu dia gak pernah bisa nerima gue dan bunda dalam keluarga.” Lanjut Dava sambil tersenyum perih. “Sebenernya gue kasihann sama Dira, dia kehilangan kasihh sayang dari kecil, terlebbih skasih sayang seorang ibu, padahal gue berhharap kehadirann bunda dapat membuat Dira sedikit merasakan rindunya akan pelukan dan belaian sang bunda, tapi ternyata, Bunda akan tetap menjadi seseorang yang dibenci Dira, selamanya.”

Ve mencoba mengelus lembut punggung cowok itu. “Percaya, semua butuh waktu, suatu saat nanti, pasti Dira akan menerima kehadian kamu dan bunda.”

Dava tersenyum saat gadis itu menyemangatinya. “Terimakasih.”

“”Panas cincaw!”
Suara itu membuat Dava dan Ve menatap dua remaja yang memasuki ruang koprasi…Dira dan Evan!!

Dira menghentikan langkahnya saat matanya menatap pada dua remaja itu. “Kita kekelas.” Dira mencoba berbalik tapi Evan mencegahnya.

“Lo perlu ganti baju dulu Dir,” Evan menarik paksa Dira memasuki Koprasi, “Baju lo bau bakso gitu, enek gue!” Evan meraih salah satu seragam dari almari koprasi dan melemparnya pada Dira yang berdiri tak jauh darinya.
“Lo ganti baju lo dulu, baru kita ke kelas!”

Dengan malas Dira memasuki ruang ganti yang sebelumnya digunakan Dava, menutup pintu itu keras hingga membuat seisi koprasi terkkejut.

Evan mendekat pada Dava dan Ve yang masih berdiri disana. “Lo gak apa-apa?”” Evan menatap Dava yang mengangguk.

“Terimakasih.”

Kening evan mengerut saat kata itu terlontar dari bibir Dava. “Untuk just alpukat??” tanya Evan dengan wajahh tak mengerti.

Dava tertawa pelan, “Bukan, karena lo udah mau sahabatan sama Dira.”

Perkaataan Dava membuat Evaann dan Ve saling pandang tak mengerti.

“Gue tau cuma lo saat ini yang dia harapin Van, gue mohon lo mau jagain Dira buat gue.” Dava menatap Evan yanng tersenyum tipis.

“Lo tenang ajah, gue akan pernah buat Dira terluka, gue janji.” Evan menepuk lengan Dava menyyakinkan.

Ve tersenyum tipis menatapnya.
pujaan hatinya benar-benar malaikkat.. sudah jelas Dira bersikap kasar padanya tapi dia masih memikirkan cowok nyebelin itu. Dava memang malaikat.

Tak lama, keluar Dira dari balik pintu, cowok itu telah mengganti seragamnya. “Ini kebesaran Van!” Keluh Dira saat merasakan seragam yang ia kenakan kebesaran.

sekektika Ve teringat kejadian dimana awal mula perseturuan keduanya terjadi.. saat celana Dira melosot karena dirinya.
Vepun tersenyum kecil mengingatnya.

Evan mendekat padaa Dira, “Baju gak akan merosot kaya celana lo Dir,walaupun kbesaran juga.” Evan merangkul lengan Dira yang langsung menepisnya.

“Cincau, kenapa lo ingetin gue sama kejadian itu lagi!” Dirapun segera menitak kepala Evan kesal.

“Sorry, tapi lucu juga, iyakan Ve?” Evan melirik keaarah Ve sambil menaikkan sebelah alisnya.

Dava yang tak tau apa yang terjadi hanya diam tak mengerti, “Ada apaan?” Ia berbisik sedikit pada Ve yang masih menahan tawa.

“Nanti gue ceritain.” Ve meraih lengan Dava dan membawanya keluar ruang koprasi.

“Mereka kelihatan dekat?” Evan terduduk dikursi samping pintu, menatap Dira yang seketika risih dengan seragam yang dikenakan.

cowok itu tak peduli akan perkataan Evan, yang menurutnya tak penting.
“Gue gak biasa pake seragam orang!” Dira mencoba bercermin menatap aneh dirinya dengan seragam yang dipakainya.

Evan berdiri dan mengeleng, “Jantung lo masih sakit?”

“Lumayan, sehari gak minum obat.” Jawab dira enteng.

“Harga obat lo berapa emang?” Evan menatap wajah Dira yang terpantul pada cermin.

Dira tersenyum tipis, mengerti Akan pertanyaan sang sahabat. “Lima juta.”

“apa??” Evan membelakkan matanya penuh keterkejutan.

“Lo mau talangin dulu?” canda dira sambil merangkul bundak sahabatnya Evan yang seketika menggeleng.

“Haha becanda Van.” Dira menonjok lengan sahabatnya kencang, membuat Evan sedikit kesakitan.

“Sakit lemper!”

***
Dira melangkahkan kakinya memasuki rumah bertingkat dengan nuansa minimalis, wajahnya terlihat tak bersemangat setiap kali ia tiba dirumah besar itu.
Ia melangkah pelan, hingga tiba di ruang tengah.

Ia mendengus pelan saat mendapati wanita cantik yang sedang asik membaca majalah diruang tengah.

“Dira pulang!”
Ia kembali melangkah setelah mengeluarkan kata2 itu.

“Dira, Tunggu!” wanita itu menutup majalah yang dibacanya, menaruhnya di atas meja, kemudian mendekat pada Dira yang terdiam menatapnya.

Sovia menatap Dira lekat, “Wajah kamu kenapa?” Tanyanya cemas saat mendapati bintik merah diwajah anak tirinya itu.
Sovia mendekatkan jemari tangannya menyentuh wajah Dira yang masih sedikit memerah akibat tumpahan kuah panas, tapi dengan cepat Dira mengelaknya.

Dira menepis jemari tangann Sovia yantg mendarat dipipi merahnya, “Kepanasan.” Jawab Dira dengan espresi datarnya.
Ia kembali melangkah meninggalkan Sovia yang terdiam menatapnya.
Wanita itu telah terbiasa dengan sikap acuh Dira padanya seperti tadi.

“Bunda!”
Dari belakang Dava memeluk tubuh sang bunda pelan.

Sovia tersenyum, melepas pelukan sang anakk dan menatap Davaa yang tersenyum. “Kamu udah pulang?”

Dava mengangguk, “Dava lapar bun, bunda masak apa hari ini??” Dava memeluk lengann sang bunda manja.

Sovia mengelus lembut rambut hitam Dava, “Balado kentang sama sayur asam, sesukaan kamu.”

“Wah, Ayo kita makan!” Ajah Dava sambil menuntun tangan sang bunda mendekati ruang makan.

Sovia mengehntikan langkahnya, “Manja, kamu ganti baju dulu, sekalian panggilin Dira, biar kita makan bareng.”

Dava mengangguk mendengar perintah sang bunda. Dengan cepat cowok tinggi itu berlalu dari ruangmakan menuju kamarnya dilantai Dua.

***
Dira melepas tas selempangnya dan membuangnya asal, wajahnya terlihat tak suka atas perlakuan baik Sovia padanya.
apapun yang dilakukan wanita itu, selamanya akan tetap buruk dimata Dira.
karena baginya, tak ada satu wanitapun yang dapat menggantikan posisi sang bunda dihatinya. tidak wanita itu ataaupun siapapun.

“ARRGGHH!!” ia berteriak, mencurahkan perasaan kesalnyya hari ini.
terlebih saat ia menatap wajahnya pada cermin disamping pintu ikamarmandi kkamarnya, wajahnya terlihat memerah dan terdapat bintik-bbintik kecil menghiaisi wajah imutnya.

“Sialan, liat ajah, besok gue akan balas lo lebih dari ini!” ia mengepalkan tangannya, mentap tajam pantulan wajahnya pada cermin persegi itu.
“Lo jual gue beli.”

Dira menutup matanya saat ia kembali merasakan jantungnya kambuh, “Sial.” ia mendekat pada ranjang dan…

Bugh!!
menjatuhkan tubuhnya terbaring disana.
jantungnya kembali kumat, wajah dan keningnya seketika berkeringat saat mencocba menahan sakit. “Gue gak mau mati sekarang tuhan.”

Dira menutup matanya saat ia merasakan bayang-bayang hitam menghampirinya.

“Dira butuh obat..” Suaranya bergetar. “Ayah!”

Sakit… dan…

Cowok itupun pingsan.

***
 “Bagaimana hari pertama kamu sekolah?” Lia, sang bunda mendekat pada VE yang sedang menyalin pekerjaan sekolahnya.

“Biasa bun, menyenangkan dan juga sedikit menyebalkan.” Ve berhenti menulis , menatap sang bunda yang terduduk disampingnya.

Ve menatap bintang malam yang bertaburan dilangit malam ini, iapun menutup matanya penuh harap..
“Semoga besok, ia tak bertemu dengan cowok menyebalkan itu, hingga tak akan terjadi perseturuan antara keduanya. tapi ia berharap ia bbisa berlama-lama disamping Dava, pemuda impiannya.”

Ve tersenyum saat wajah Dava nampak dalam taburan bintang malam ini, tapi senyumnya seketika pudar saat senyum Dira yang tampak berganti…

Ve mengacak rambutnya kesal. “Aduh, kenapa harus Dia!!” Ve kembali fokus pada buku didepannya mencoba menghilangkan senyuman sinis Dira yang terliang dalam pikirannya.


CONTINUE ^^

“Ketika Dira, Jatuh Cinta!” #PART3

***

“Itukan Dava, Kakak Lo Dir!” Evan menunjuk tepat kedepan perpustakaan, dimana terlihat Dava dan Vega yang sedang berbincang2.

Dira menghentikan langkahnya ditengah lapangan, bersamaan dengan Evan disampingnya.
“Kakak Tiri!” ralat Dira dengan ekspresi datar.
Pandangannya tertuju pada dua remaja itu.

“Mereka udah saling kenal?”
Evan mengalihkan pandangannya menatap Dira yang mengangkat kedua bahunya.

“Kelihatan dekat banget mereka.”
Lanjut Evan.

“Peduli!” Dira menarik nafasnya panjang, ia kembali melangkahkan kedua kakinya menjauh dari pemandangan tak mengasikkan itu, yang disusul Evan dibelakangnya.

Buk!
Dira mendudukkan badannya tak bersemangat pada kursi besi kelas.

Evan menatap bingung wajah Dira yang tak seperti biasa, “Kenapa Lo?”
Cowok itu duduk disamping Dira yang merebahkan kepalanya menempel pada meja.

Tak ada jawaban dari bibir Dira, kening cowok itu seketika berkeringat.

“Dir, lo sakit!” Evan menampakkan wajah khawatirnya.

Dira tersenyum tipis, “Jantung gue kumat.” Suaranya terdengar pelan.

“Obat Lo!” Evan segera meraih tas selempang Dira dan mulai mencari obat yang selalu setia dibawa cowok playboy itu.

Evan menatap Dira kesal saat tak mendapati satupun obat dibawanya.
“Obat Lo mana?”

Dira menaikkan wajahnya pelan, menelus jantungnya yang seketika ia rasakan sakit. “Habis.” Jawabnya enteng.

Evan menggeleng menatap Dira yang mencoba bersikap tegar, padahal hati pemuda itu rapuh.

“Dir.” Evan menepuk punggung Dira pelan, menyemangati.

Dira tersenyum perih.”Gue udah bilang ayah kemarin, tapi sepertinya dia lupa, terlalu sibuk dengan pekerjaan, istri baru dan juga Dava.”

Evan terdiam, mendengar curahan hati sahabatnya, ia tau betul perasaan Dira yang rapuh tapi cowok itu masih tegar tersenyum.
Dira kehilangan kasih sayang sang ayah setelah pria itu menikah dengan ibunda Dava.
Kepada Evanlah, Dira selalu mencurahkan semua isi hatinya.

“Kenapa lo gak telpon gue, biar gue yg beliin obatnya buat lo.”

Dira menggeleng. “Gue masih punya ayah, gue pikir dia masih peduli sama gue, tapi ternyata wanita itu dan Dava adalah segalanya saat ini.”

Evan menepuk punggung Dira untuk kedua kalinya. “Gue tau lo kuat, Dir!”

Dira tersenyum lebar mendengar semangat Evan untuknya.
Memang Evanlah yang mengerti dirinya melebihi sang ayah.
“udahlah, Kenapa jadi mellow gini, berasa sinetron.” Dira menjitak kepala Evan kesan.
“Cincaw!”

“Elo Lemper!” Balas Evan tak mau kalah.

***
“Nama saya Vega Ramona Evelyn, kalian cukup panggil saya Ve atau Vega.!

Begitulah kiranya bunyi perkenalan gadis manis itu.
Tangan dan kakinya bergetar, saat semua mata tertuju padanya.

“Baiklah Vega, Kamu silahkan duduk disamping Niky!” Bu Dona sang wali kelas menunjuk Niky yang menatap tak suka pada Vega.

Vega melangkahkan kakinya mendekati Niky dan terduduk disamping cewek putih itu.
“Hey gue Ve!”
Ve mencoba memperkenalkan dirinya pada Niky yang menatapnya sinis.

“Gue gak Nanya!”

Ve mengkrucutkan bibirnya kesal, saat perkenalannya diacuhkan gadis itu.
“Sombong!”

Ternyata sekolah disini bukan sesuatu yang mengasikkan, pertama ia harus berhadapan dengan cowok menyebalkan bernama Dira, kedua, ia harus pasrah saat bu Dona menyuruhnya duduk sebangku dgn gadis sombong ini.
Dan ketiga mungkin akan lebih parah lagi dari keduanya.

Pluk!
Ve mendengus kesal saat seseorang melemparkan segumpal kertas kecil kearahnya.
“Siapa lagi sekarang?”
Ia mencoba berbalik menatap siapa yang telah berani melemparkan kertas padanya.
Matanya membesar saat ia menatap, siswa itu tersenyum manis kearahnya.
“Dava?”

Ve tak pernah menyangka, bahwa ia akan sekelas dengan pemuda yg mulai menarik perhatiannya beberapa jam yg lalu.
Gadis itu membalas senyum Dava kagok, ini seperti mimpi.

Ve berbalik kembali menghadap kedepan, kemudian meraih kertas yang dilempar Dava dan membaca tulisan yang tertera disana.

(Welcome, Gue Deavan Blake Redrigo)

Ve tersenyum tipis setelah membacanya, ia menengok kebelakang menatap Dava yang tak lagi memperhatikannya.
Cowok itu terlihat sibuk menyalin.
Hati ve seketika terhenti, saat cowok itu menatapnya balik dengan tatapan mautnya dan senyum manisnya.
Seketika ve mengembalikan badannya menghadap ke depan,Ve menutup matanya malu, Tuhan! Inikah yang namanya cinta?

“Jangan berharap lo bisa dapatin dia!”

Ve membuka matanya saat suara Niky menggema pendengarannya.
“Lo?”

“Dava ama Dira, mereka milik gue, jadi, anak baru kayak lo gak usah sok kecentilan!”
Niky berbicara dengan sedikit membentak, pandangan lurus kedepan.
“Inget, lo akan berurusan sama gue, kalau lo masih berani deketin mereka!”
Lanjut Niky.

Ve mendengus kesal, entah kenapa, ia tak suka dengan perkataan gadis itu yang melarangnya dekat dengan Dava, kalau Dira, ia tak terlalu peduli, karena Ve sendiri malas berhadapan dengan cowok menyebalkan itu.
Tapi Dava?
Ia tak mungkin bisa, senyuman manis cowok itu tlah meluluhkan hati Ve.

TengTeng!
Bel istirahatpun berbunyi, Vega menarik nafasnya panjang bersamaan senyum lebarnya.
Akhirnya, ia bisa menjauh dari nenek sihir disampingnya ini, walaupun hanya limabelas menit.

Dava mendekat pada Ve yang sibuk memasukkan buku dalam tas merahnya.
“Hai!” sapa lembut Dava sesampainya didepan Ve.

Ve tersenyum tipis, “Hai!” wajahnya seketika memerah.

Niky yang masih terduduk disamping Ve, menatap keduanya tak senang.

“Ve, gimana kalau kita ke kantin?” Dava menatap Ve yang selesai berbenah. “Gue lapar.”

Ve tersenyum mendengar perkataan polos Dava, gadis itu berdiri dan mengangguk. “Baiklah!”

Dava tersenyum senang, keduanyapun berlalu keluar kelas.
Sementara itu, Niky menatap tajam Ve yang menjauh. “Lo gak akan bisa dapatin dia!” tatapan gadis itu penuh kebencian.
Sepertinya, ia sungguh2 dengan perkataannya.

***
“Mana uangnya?” Evan menatap tajam Dira yang baru saja mendudukkan badannya pada kursi kantin.

Kening Dira mengkerut. “Uang apaan?” Tanyanya balik sambil membuka menu makanan kantin bu Ira.

“Buat beliin obat lo,” Evan terduduk didepan Dira. “kalau gue kaya udah gue talangin dulu pake duit gue.”
Iapun melakukan hal yang sama, membuka menu dan mulai memilih.

“Gue udah pesan ama ayah.”

“Kalau dia lupa lagi?”

“Palingan gue mati.”

Evan menatap Dira tajam sambil menggelengkan kepalanya. “Perkedel.”
Evan meraih bulpoin dan secarik kertas menu didepannya, setelah ia menutup daftar menu. “Lo mau mesan apaan?”

“Cewek sexy ada gak?” Dira menutup buku menu dan memainkan matanya genit pada Evan yang siap melayangkan jitakkan dikepalanya.

Pletak!
“Makanan dodol, bukan cewek!”

Dira tertawa pelan menatap wajah lugu sahabatnya.
“Iya, iya,” Dira meraih Mp3 pada saku seragamnya dan mendekatkan hadseat pada kedua telinganya.
“Biasa, Nasi kuning sama minumnya susu coklat manis.”

Dengan cepat, Evan menuliskan pesanan Dira pada kertas menu bersatu dengan pesanannya.

***
“Jadi kamu anaknya bu kantin?”

Ve mengangguk menjawab pertanyaan Dava. “Kenapa? Kamu malu temenan sama aku?”
Ve menunduk membuat Dava menatapnya pelan.
Keduanya mengintari koridor menuju kantin.

“Ve!” Dava menghentikan langkahnya tepat saat keduanya berada didepan kantin sekolah.
Cowok itupun meraih dagu Ve hingga gadis itu menatapnya. “Apa gue termasuk cowok seperti itu?”
Dava menatap Ve yang menggeleng.

“Aku tau kamu baik Dav.”

Dava tersenyum dan berganti mengacak2 poni Ve gemas. “Jadi kita temenan?”

“Hmm.. Gimana yah?” Ve pura2 berfikir, “Nanti pacar kamu marah!”

Kening Dava menyatu, “Pacar gue? Siapa?”

“Entahlah!” Ve menaikkan kedua bahunya bersamaan.

“Gue belum punya pacar, Manis!”

Vega terdiam saat pemuda itu mencubit kedua pipinya dan memanggilnya ‘manis’.

Entah kenapa, seketika hati Ve lega dan senang, saat pemuda itu terang2an mengatakan belum punya pacar.
Setidaknya itu berarti masih ada kesempatan untuk Ve lebih dekat dengan pemuda impiannya ini.

Dari salah satu meja, sepasang mata menatap tajam keduanya yang tengah memilih tempat untuk duduk.

Dira, pandangan cowok itu tak pernah lepas menatap Dava dan Ve yg kembali berbincang2, dadanya seakan sesak saat mendapati Dava yg tak henti-hentinya tertawa disamping Vega.

“Dira!”
Panggilan Evan tak didengarnya, cowok itu masih mendengarkan musik pada Mp3nya yg menyatu pada hadseat dikedua telinganya.

“Menyebalkan!” Dira menggebrak meja kencang, membuat seisi kantin menatapnya heran, tak terlebih Evan yang sedang menyantap pesanannya seketika tersendak.

“Dir, Dira!”Evan menatap Dira yang berdiri.
Tatapan Mata Dira memancarkan api kemarahan.

Saat Dira hendak melangkah, Evan menahannya.
“Lo mau kemana?” Evan berdiri didepan Dira.
Cowok itu menatap geram Dava yang berjalan menghampirinya.

“Lo baik-baik ajah?” Dava mencoba menepuk lengan Dira, tapi Dira menepisnya cepat.

“Apa?” Dira membuka hadseat ditelinga kanannya, tersenyum sinis pada Dava yang menatapnya khawatir.

“Lo gak apa-apa?” Dava mengulang pertanyaannya.

Dira tersenyum sinis, “Kenapa? Lo berharap gue cepat mati!”

Dava menarik nafasnya pelan. “Gue gak pernah benci lo Dir,” Dava meraih lengan Dira pelan. “Elo udah gue anggap seperti adik kandung gue sendiri, walaupun gue tau lo gak pernah menginginkan kehadiran gue.”

“Basi!” Dira meraih jus alpukat pesanan Evan dan..

Byurr!

Dava menutup matanya pasrah saat Dira menyiram kepalanya dengan jus hijau itu.

“Dira!”
Dira berbalik saat suara seseorang memanggil namanya.
Ia tersenyum sinis saat mendapati Ve berjalan kearahnya dengan semangkok bakso dalam genggamannya.

Sesampainya didepan Dira..

Byur!
Ve segera menyiramkan bakso ditangannya tepat diatas Kepala Dira, persis yang Dira lakukan pada Dava, pujaan hatinya.

“Sekali lagi Lo nyakitim Dava, gue yg akan ngebalas lo, NGERTI?”
Ve menaruh mangkok kosong diatas meja Dira, mendorong tubuh Dira hingga menjauh dan menuntun Dava menjauh dari seisi kantin yang menatap tajam mereka.

Evan mendekat pada Dira, “Lo gak apa-apa Dir? Muka lo merah gitu!”
Cowok itu menatap wajah Dira yg seketika memerah.

“PANAS!” Teriak Dira kencang.

CONTINUE :)

“Ketika Dira, Jatuh Cinta!” #PART2

**
“Baiklah, bisa dijelaskan apa yang sebenarnya terjadi, DIVARIO!” Pak kepala sekolah menatap geram Dira yang menyenderkan tubuhnya pada salahsatu kursi didepannya.

Cowok dengan alis tebalnya yang hampir menyatu itu, menampakkan gaya santainya saat pertanyaan itu terlontar untuknya.
“Jadi begini pak,” Dira membenarkan posisi berdirinya, “Sebenarnya tadi kita lagi latihan buat pementasan teater sekolah.” Dira menaikkan sebelah alisnya sambil menatap wajah tak suka Vega.

“Dasar pembohong!” Kesal Ve pelan. Ia terus menatap Dira yang kembali menjelaskan.

“Kebetulan, saya sama dia itu yang menjadi romeo and julietnya, jadi tadi kita mencoba untuk memperagakan satu adegan dimana keduanya ingin melakukan..” Dira sengaja menggatungkan perkataannya bersamaan dengan jemari tangannya yang membentukk tanda tanya (??).

Pak Irwan dan Ve menatap tajam Dira yang lanjut bicara.

“Tapi bapak tenang, kita gak benar-benaar melakukan itu kok.” lanjutnya masih dengan gaya santai khas Dira.

“Benar begitu.. Vega??” Pak kepala sekolah berganti menatap Vega tajam, menunggu jawaban dari bibir gadis manis itu.

Vega menunduk setelah menatap tatapan sangar Dira yang penuh ancaman, sepertinya cowok itu tak segan-segan membunuhnya jika membocorkan apa yang sebenarnya terjadi.

Dengan sangat terpaksa Vepun mengangguk pelan. “Benar pak.”

Dira tersenyum lepas, hatinya seakan lega, itu berarti ia terbebas dari hukuman kali ini.

Pak Irwan, kepala sekolah mengangguk pelan sambil membenarkan letak kacamata tipisnya, “Baiklah, kalau begitu kamu boleh keluar, Divario.”

Dira mengangguk, tersenyum sinis pada Vega yang menatapnya kesal. “Baikk Pak.” Dira kembali melangkah tapi langkahnya terhenti ketika suara pak Irwan kembali menggema.

“Tunggu!, ini peringatan untuk kamu,” Pak Irwan menatap Dira yang berbalik. “Sekali kamu buat masalah, bapak tidak akan segan-segan untuk memangil orangtua kamu kesini, MENGERTI!”

Dira mengangguk malas sambil berlalu meninggalkan ruangan putih itu. “Menyebalkan!” Grutunya pelan.

***

Dira menyender didinding di samping Evan yang setia menunggunya didepan kantor kepala sekolah.

“Lo dusta apa lagi, biar terbebas dari hukuman?” Evan menggeleng, ia tau, pasti baru saja sahabatnya ini berbohong untuk sekedar lari dari hukuman yang setia menantinya.

Dira tersenyum tipis, terlihat lesung pipi kecil dipipi kirinya. “Apa ajah, yang penting ayah gue gak dipanggil ke sekolah.” Cowok itu meregangkan otot lehernya.. terdengar bunyi “Krek!” seketika dari bagian tubuhnya itu.

“Makanya, udah tau Ayah lo tentara, lo gak kapok digebukin tiap hari karena kenakalan lo itu?”

Dira menggeleng diiringi dengan senyum Khasnya, menjawab pertanyaan Evan yang menurutnya gak penting.

“Udah biasa gue,” Suaranya terdengar tak berirama… Dira tak lagi menyender saat mendapati seorang siswi imut melambaikan tangan kearahnya dengan sebuah cake ditangannya.

“Ini buat kak Dira.” gadis imut itu menyodorkan cake itu pada Dira yang langsung menerimanya.

“Terimakasih.” Suara imut dan senyuman maut Dira mampu membuat gadis itu salah tingkah.

“Dimakan yah Kak!” Gadis itu berkata dengan ekspresi malu-malu, tersenyum senang saat Dira mengelus lembut rambut panjangnya yang terkepang rapi.

“Terimakasih…” Dira terdiam sejenak memikirkan nama gadis didepannya ini. Ia memang kesulitan jika harus disuruh mengingat nama seseorang, terlebih seorang cewek.

Evan menghampiri dira dan berbisik ditelinga kanan playbboy itu. “Mia.” Katanya pelan.

Dira mengangguk cepat, “Makasih Mia,” semakin lembut Dira mengelus rambut hitamnya.

Evan menggeleng menyaksikan tingkah malu-malu Mia saat ini, mungkin semua cewek akan salah tingkah bila sudah didekat Dira, sahabatnya seperti sekarang.

Gadis yang manis, tapi Evan merasa kasihan jika gadis ini nantinya akan terluka karena Dira, sang Playboy, seperti gadis-gadis sebelumnya.

“Aku pergi.” Miapunn berlalu dengan wajah yang seketika penuh merona, sepanjang koridorpun ia tak pernah lepas tersenyum senang.

Evan mengintip Cake stawberry ditangan Dira, “Sepertinya enak!” Pikirnya.

tapi sayang saat jemarinya hendak mencicipi sedikit krim dipinggir cake itu, Dira keburu memukul punggung tangannya. “AOW!Pelit Lo,” Evan menatap Dira kesal yang melarangnya untuk mencicipi cake itu sedikit saja.

“Gak boleh!” Dira segera menjauhkan Cake itu dari pandangan Evan. “Kue ini, mau gue kasih sama Vega!”

“Vega?” Evan membelakkan matanya tak percaya. Apa ia salah dengar????

Atau sudah dapat Evan pastikan ini hanyalah akal-akalan Dira untuk mengerjai Cewekk itu.

“Lo masih disini?” Ve yang baru keluuar dari kantor kepala sekolah menatap risih Dira, yang tersenyum ke arahnya.

Cowok itu mengangguk, “Iya,” ia menyodorkan cake itu pada Evan untuk dipegangnya. Evan menurut, untung-untungan ia bisa mencicipi sedikit krim cake itu yang sedari tadi menggoda imannya.

“Gue mau minta maaf!” Dira berdiri didepan Vega yang menatapnya penuh keterkejutan..

“Gimana, lo maafin guekan, daripada kita musuhan dihari pertama lo sekolah, lebih baik kita temenan, bagaiman nona Vega?”

Kening Vega mengerut, “Darimana lo tau nama gue?”

Dira tersenyum lebar, memainkan lidahnya dibalik bibir tipisnya. “Lo anaknya bu kantin kan?”

“Iya.”

“Gue tau semuanya tentang lo,!” Dira mendekat, Ve berusaha menghindar, gadis itu mundur hingga tak menyadari bahwa dirinya telah menempel pada dinding putih itu untuk kedua kalinya.

Dira melentangkan tangannya menempel pada dinding tepat disamping wajah gadis itu, tak membiarkan ruang sedikitpun untuk gadis itu menghindar. “Jadi gimana?? Temenan??”

Ve merasakan dadanya yang seketika sesak, ia menutup matanya saat sebuah angin berhembus indah kearahnya, sejuk, harum parfum Dirapun seketika jelas tercium olehnya.

“Nona!”

Suara bentakan Dira sempat mengejutkan Vega.

Gadis itu membukamatanya dan mengangguk cepat. “Okay.”

“Okay apa?” Dira menatapnya tajam, semakin mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu yang memerah.

“Kita temenan.” walau terpaksa akhirnya kalimat itu terlontar juga dari bibir merah Vega.

Dira tersenyum puas, melentangkan tangannya kembali tapi kali ini untuk memberi ruang untuk Vega berlalu. Dira menggeleng mendapati Evan yang sibuk mencicipi cake ditangannya. “Dasar Cincaw.”

Vega cepat-cepat berlalu, menjauh dari manusia menyebalkan ini, tapi sayang, saat ia tepat didepan Evan, ia merasakan seseorang mendorong tubuhnya kedepan, hingga tepat.. wajahnya seketika menempel pada Cake ditangan cowok tinggi itu.

Vega menjauhkan wajahnya yang telah penuh dengan cake stawberry itu, berbalik menatap geram Dira yang tertawa puas.

Benar saja, ia baru dikerjai oleh cowok menyebalkan ini.

Ve menutup matanya saat sekeliling sekolah menertawakannya, memalukan, dengan cepat gadis itupun berlalu dari kerumunan manusia yang terus menertawakan kebodohannnya.

“Tunggu pembalasan gue!”

Evan menatap sayu cake yang tak lagi berbentuk ditangannya. “Udah gue duga, untung sebelumnya udah sempat gue cicipin dikit.” pandangan Evan beralih pada Dira yang masih tertawa penuh kemenangan, “Dir!” Teriaknya.

Dira menaikkan dagunya, “APA?”

“Tega lo, anak orang lo buat malu kayak gitu.” Evan mengembalikan cake itu pada Dira yang tersenyum.

“Impaslah, tadi pagi dia juga buat gue malu.” Dira tak mau kalah membela dirinya sendiri.

Kalau sudah seperti ini, Evan hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah. “Terserahlah!”

***

”Dasar cowok nyebelin, liat ajah, gue gak akan tinggaal Diam!” Ve membersihkan wajahnya yang penuh dengan krim cake pada wastafel toilet wanita. ia masih tak terima akan perlakuan Dira padanya.

Bagaimana bisa, dihari pertamanya sekolah disini, ia sudah dipermalukan seperti ini??
Tapi bukan Vega, jika ia diam saja dan tak membalas perlakuann tak mennyenangkan Dira padanya.

Ve membersihkan seragamnya yang sedikit terkena krim, dan berlalu ketika mendaapati wajahnya sudah kembali normal.
Gadis itu sibuk dengan seragamnya, mengintari koridor sekolah tanpa menatap kedepan, Hingga ia tak menyadari seorang siswa berjalan keaarahnyaa dengan membaca sebuah buku ditangannya.
Persis seperti Vega, siswa itupun pandangannya menunduk pada buku yang dibacanya…

Hingga akhirnya… terjadi tubrukan diantara kedua remaja itu.

“Aow!” Vega merintih sakit sambil terduduk dilantai koridor. “Sial!” ia mengelus lutut kakinya yang seketika ia rasakan ngilu.

“Sorry!” Siswa dengan topi kainnya, berdiri setelah bersamaan terjatuh dengan Vega, seketika siswa berkacatama tipis itu mengulurkan tangannya pada Vega yang masih terduduk.
“Gue bantu.”

Ve mendongakkan wajahnya, matanya membesar, jantungnya berdetak tak menentu, hawapun seketika ia rasakan dingin dan sejuk, saat matanya mengarah pada Cowok didepannya.
Tampan dan Berwibawa… itulah kesan yang mungkin Ve ungkapkan saat ini.

“Gue bantu!” Dava masih menyulurkan tangannya pada Ve yang masih menatapnya takjub..

“Malaikat darimana ini?” Mungkin itu yang ditanyakan oleh hhati gadis itu.

Dava tersenyum, mendapati espresi aneh diwajah manis Ve, “Hey, Lo gak apa-apa?” Cowok itu menyenggol lengan Ve pelan, membuat lamunan gadis itu seketika bbbar.

“Eh iya.” suara Ve terdengar gugup,saking groginya ia tak membalas uluran tangan Dava dan lebih memilih untuk berdiri sendiri.

“Sorry!” Dava membungkukkan badannya sebentar, meraih bukunya yang terjatuh dan kembali berdiri sambil menatap Ve yang tersenyum.

“Gak apa-apa, ini juga salah gue, jalan gak liat-liat.”

“Bukan itu,” Dava menggeleng cepat, mencoba sedikit kekiri memberi jalan beberapa anak yang melewati mereka.

Kening Ve mengerut, “Terus?”

“Atas perlakuan Dira Ke Lo tadi!”

Semakin bingung Ve dibuatnya… Dira… siapa dia???

“Dira siapa yah?” Ve menatap bingung pada Dava yang merangkul buku dalam dekapannya.

“Cowok yang tadi ngerjain lo.”

Penjelasan Dava membuat Ve mengangguk mengerti. “Oh jadi namanya Dira, kaya cewek, pantesan nama ama kkelakuan gak jau beda, Banci.”

Dava tersenyum tipis mendengar penuturan polos Ve, ternyata ada juga cewek yang membenci adik tirinya itu, padahal selama ini ia pikir, Dira cukup beruntung karena dikagumi oleh seluruh gadis disekolah ini, tapi ternyata ia salah. cewek yang saat ini didepannya, justru sangat membenci sang adik.

“Eh tapi, kenapa lo yang minta maaf?” Ve menatap tajam pada Dava yang masih tersenyum, “seharusnyakan si Dira itu, bukan lo.”

“Dia adik gue.”

Degg!!
Ve seketika menunduk malu, kembali ia melakukan kecerobohan, tak harusnya ia terang-terangan mengatakan itu didepan sang kakak cowok yang dibencinya.

“Maaf, tapi beneran dia adik lo?” Ve menunjuk Dava yang mengangguk.

“Iya, kenapa beda?”

Kini giliran Ve yang mengangguk.

gadis ini tak habis fikir, bagaimana bisa cowok sempurna ini ternyata kakak dari cowok nyebelin yang begitu dibencinya.
Keduaya tak memiliki kesamaan, baik wajah ataupun sifat.

“Udah, gue tau Dira emang seperti yang lo bilang tadi,” Dava mengacak poni Ve membuat jantung gadis itu terhenti. “Lo lucu.”

Terlebih saat kata itu terlontar dari bibir tipis Dava. bisa dipastikan wajah Ve yang seketika memerah Karena malu.

“Gue Dava.”
Dava mengulurkan tangannya. “Dibalas dong, jangan dicuekin lagi.”

Perkataan Dava membuat Ve tertawa kecil, dengan cepat gadis itu membalas uluran tangan hangat itu. “Gue Ve.”

Keduanya sling berbagi senyum dan saling menatap kagum ..
Mungkin setelahh ini mereka akan saling menyimpan rasa..
entahlah!!!

CONTINUE :D

"Ketika Dira, Jatuh Cinta!"

“Berapa?”



“Dua juta, Murahlah!”



Evan mengkernitkan keningnya, saat Dira menyebutkan harga jaket kulit yang baru saja dipesannya disalahsatu OnlineShop.

“Kekayaan ayah lo berapa sih Bro?”Evan menggeleng menatap Dira yang tersenyum tipis.”Dua juta cuma untuk sebuah jaket lo bilang murah, Anjr*t!”Evan meraih sebuah bulpoin disakunya dan menjitaknya pada kepala Dira.



Dira hanya tersenyum merasakan kepalanya yang sedikit ngilu akibat jitakan bulpoin Evan.”Haha, jangan sok susah Van, Jajan lo sehari berapa emang?”Dira meneguk just didepannya, matanya menatap tajam Evan yang mulai berhitung dengan jemari-jemarinya.



“Lima ribu, itu juga ditambah gue ngamen.”Evan menunduk, meratapi nasibnya.Keduanya memang jauh berbeda, Dira terlahir dari keluarga kaya raya, sementara Evan hanya keluarga biasa atau bisa dibilang kekurangan.Tapi perbedaan itu tak menghalangi persahabatan mereka.



Dira menjauhkan bibirnya dari gelas kaca itu, mengangguk mengerti akan perasaan sang sahabat.”Lo mau kerjaan Van?”



Evan menatap bingung kearah Dira yang menggeser kursinya sedikit kekiri.”Apaan emang? Nguli?”



“Bukanlah, Ayah gue lagi butuh sopir,”Dira menaikkan sebelah alisnya menatap pada Evan yang masih menatapnya tak mengerti.Dira lanjut bicara.”Lo bisa jadi supir Ayah gue.”



Evan menggeleng, kembali menjitak kepala Dira dengan bulpoin yang masih dipegangnya.”Gue gak bisa nyetir, PERKEDEL!”



“Ohya?” Dira menggaruk tengkuknya, “Gue lupe!”





***



Keduanyaa berjalan menusuri koridor sekolah.. Evan terlihat sibuk dengan permen karet yang terus berputar dalam mulutnya, sementara Dira, entahlh apa yang sedang dilakukan cowok penyuka voli itu.



Evan menatap gerah Diraa yang sibuk dengan celana panjang abu-abu yang dikenakan, “Kkebesaran?”



Dira mengangguk cepat, “Yoa, mana gue lupa pake iket pinggang lagi.” Ia menaikkan sedikit celananya yang memang kebesaran.



“Boxer lo apa?”Dira mengkernitkan keningnya saat Evan menanyakan sesuatu yang menjadi privasinya.



“Kenapa emang, Naksir?” Dira berbalas sambil menaikkan sebelah alisnya.



Evan menggeleng ogah, “Najis tralala.” Ia menatap ketengah lapangan, terlihat beberapa siswa bermain basket disana.pandangannya kembali pada Dira yang masih berjalan disampingnya.”Denger-denger anaknya bu kantin mau sekolah disini!” lanjut Evan sambil menggelengkan kepalanya menatap Dira yg masih sibuk dengan celananya.



“Katanya anaknya cewek, manis!” Dira mulai membayangkan sesosok bidadari berambut panjang tersenyum manis kearahnya.”Dan dia naksir gue, DIRA!”



Pletak!!

Evan menjitak kepala Dira cepat membuat pemikiran cowok playboy itu seketika menghilang. “Ngarep!”





“AWAASSS!!”Keduanya serentak menengok kebelakang.mata Dira membesar ketika seorang gadis mengarah cepat kearahnya… “Tangkep Dir, tangkep..!” bisikan hatinya berseru.Saat Dira mencoba meraih tubuh mungil itu, tapi sayang ia terlambat..



Dira menutup matanya pasrah, saat gadis itu terjatuh tepat didepannya, dengan keduatangannya yang menarik celana panjang Dira, hingga celana abu-abu yang Dira kenakan seketika melorot (?).

Gadis itu terdiam begitupun Evan dan beberapa anak yang menatap melongo kearah Dira yang hanya terlihat mengenakan boxer berwarna hitam itu.



“Uopsh Sorry!” gadis manis itu berusaha berdiri, menaikkan kembali celana panjang Dira yang sempat melorot karenanya.Gadis itu hanya mampu tersenyum saat tatapan mata sangar Dira menyerangnya.



“ELO!!”

Sebelum Dira melakukan sesuatu padanya, dengan langkah seribu gadis itu seketika menjauh.



Evan dan beberapa anak seketika tertawa serentak menatap wajah Dira yang menunduk malu.”Tunggu pembalasan guel!”





***



“Sialan, kalau sampai gue ketemu sama tuh cewek, bakalan gue bejek-bejek jadi sate!” Dira menampakkan emosinya didepan cermin toilet.



Evan yang berdiri disampingnya masih saja tertawa saat membayangkan kejadian naas dan memalukan yang baru saja dialami sahabatnya.”Elo juga Dir, udah tau celana kebesaran masih ajah lo pake, mana lupa pakai ikat pinggang lagi.” Evan meraih tissu disampingnya dan mengusapkan pada keningnya yang sedikit berkeringat.”Cowok kok ceroboh.”



“Dia siapa? perasaan gue baru pertama liat,” Evan menyender pada pintu toilet, menatap Evan yang mengangkat kedua bahunya tak mengerti.



“Anak baru kali.” Evan membuang tissu pada tempat sampah disampingnya, kemudian ikut menyandar disamping Dira.”Atau jangan-jangan Dia anaknya bu kantin?” Evan mulai menebak-nebak diiringi dengan anggukan Dira.



“Bisa jadi.” Dira menegakkan posisinya hingga tak lagi menyender, “Siapapun dia, gue harus balas dendam, seenaknya bikin gue malu didepan anak-anak.”



“Yoa Bro, Lo Dira, reputasi lo sebagai cowok tercool dan terpesona akan hancur seketika karena kejadian memalukan itu, prihatin!”



“Gak sampai segitunya Ayam!” Dira meneloyor kepala Evan gemas.





***



Gadis putih itu berjalan santai mengintasi koridor sekolah,ia menggulung bawah seragamnya yang sengaja tak ia msukkan cemas.pikirannya tentang kejadian tadi selalu membuat rasa bersalahnya bertambah.



“Aduh, mudah-mudahan aku gak ketemu sama cowok itu lagi.” ia menutup matanya penuh harap, tapi seketika ia tersenyum dan tertawa kecil saat kembali membayangkan wajah tegang Dira.



“Tapi lucu juga.”Ia terhenti didepan kantor kepala sekolah, memang tujuannya ingin mengunjungi bapak kapsek sekolah ini.tok-tok ia mengetuk pintu.tapi seketika Ia menegang, saat seseorang memanggilnya.



“Vega!”



Matanya membesar saat mendapati Dira dan Evan berjalan kearahnya.



“Lo pikir lo bisa kabur dari Gue, Nona!” suara Dira mengeras saat ada didepan gadis itu yang terdiam.



Tangan dan kakinya seketika bergetar, “Ibu, selamatkan Ve!” Gadis itu seketika tersenyum saat matanya mengarah pada celana abu-abu Dira. “Kebesaran yah?” gadis itu mencoba mengusir rasa takut dengan mengingat kejadian tadi.”Butuh Ikat pinggang?”



Perkataan Vega membuat Evan tertawa tertahankan, sementara Dira tetap bersikap cool padahal hatinya sudah menggebu-gebu.



Dira kembali menaikkan celananya yang msih dirasakan kebesaran, “Lo pikir ini lucu!” Dira mendekat hingga Vega menempel pada dinding putih itu. “Lo tau siapa gue?” Dira menaikkan alisnya, semakin mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu yang seketika memerah.



“Lo cowok yang tadi celananya gue plorotin (?) kan?” Vega menggigit bibir bawahnya pelan.



Evan kembali tertawa tanpa suara, “Boleh juga nih cewek!”



Dira menarik nafasnya panjang, “Elo emang bener-bener cari masalah nona!” Wajah keduanya semakin mendekat.



“Lo mau ngapain?” Suara Ve bergetar seketika.



Dira tersenyum sinis. “Nyium lo,!” Pemuda itu mulai beraksi, mendekatkan bibirnya pada bibir merah Vega yang menutup matanya pasrah.





“Divario Kivandra Redrigo!”

Suara lantang kepala sekolah yang baru tiba dari balikk pintu itu berhasil menggagalkan aksi playboy itu.



“Sh*T!” Dira mengepalkan tangannya kesal, sementara Vega tersenyum lega karena ciuman pertamanya tak harus terjadi dengan cowok menyebalkan ini.



“Ikut Saya, dan kamu juga!” Pak Andro sang kepala sekolah menunjuk Dira dan Vega bergantian.



“Ini baru permulaan!” Dira menunjuk wajah Vega yang tak takut menantangnya dan berjalan memasuki ruang kepala sekolah yang diikuti oleh Vega.







Continue :D

Online Now Icons