Facebook Badge

Sabtu, 11 Januari 2014

Hello :D

Udah lama gak posting cerita disini....

Padahal banyak banget cerbung yang belum diupdate ^^

Sebenarnya sempat bingung.. alasan aku atau saya buat akun blog ini..
Walaupun tujuan awal buat ngepost cerbung supaya ada yang baca.. tapi setelah dipikir-pikir lagi..
emangnya ada yang mau baca gitu??

Makanya  suka rada-rada malas buat ngepost sebenarnya..
Yah tapi mau gimana lagi.. daripada mendem dilaptop doang tuh cerita dalam bentuk Draft akhirnya
Akupun punya inisiatif untuk post disini saja..
mengingat banyak penulis yg memulai karirnya diblog.. Dan semoga aku bisa ngikuti jejak mereka.
Yah! walau masih dalam tahap pembelajaran.
Syukur-syukur ada yang baca terlebih yg mau bersedia kasih kritikan maupun saran.
Saya akan sangat berterimakasih ;D

Dan sekarang... aku akan mencoba kembali ngepost cerbung2 aku disini..
dan semoga ada peminatnya ^^
Welcome to my stories and Enjoyed :*

'IMA A ...!" CERPEN

“Apa aku sedang berada di bumi?”
Malam yang semakin mencekam. Berdiri pemuda berpakaian serba hitam disudut taman yg mulai terlihat sepi...
Wajahnya terlihat bingung, menengok kiri-kanan tak menentu.
                “Kenapa sepi sekali?:
Ia bertanya pada dirinya sendiri.
Tak banyak yg ia temukan dalam taman itu, hanya sebuah kursi dan beberapa bunga penghiasnya.
Ia terduduk disalah satu kursi kayu, setelah melangkahkan kakinya beberapa langkah, wajahnya masih terlihat bingung, selayaknya seorang anak kecil yang tersesat dan tak tau arah tujuan pulang, yah mungkin seperti itulah gambaran mimik pada wajahnya.
                “Opa Eddy benar-benar tak memiliki hati nurani, bagaimana bisa ia mengirimku kesini hanya karena kesalahan kecilku.” Ia menggutu kesal, menendang krikil dibawah kakinya dengan tatapan mata lurus kedepan. “Hukuman macam apa ini?”
Ia mendengus pelan, menghirup udara baru disekitarnya, terasa aneh memang tapi inilah kehidupan yang harus dijalaninya sekarang.
Ia mengacak rambut hitam kemerah-merahannya kesal. “Bagaimana bisa aku terlahir dari keluarga cullen??” Semakin kencang keduatangannya beradu dengan rambut tebalnya. “Membosankan!”

Plung!!!

                “AISH!” Ia menjerit keras saat sebuah botol apik mengenai kepalanya, ia berdiri setelah meraih botol itu yang terjatuh tepat dibawah kakinya, kemudian ia menatap sekeliling taman,
Sepi! Hanya terdengar suara daun-daun kering yang saling bergesekan dan juga hembusan angin disekelilingnya.                “Sepi! Tak ada seorangpun.”
Ia menggaruk tengkuknya resah. “Kenapa jadi semenakutkan ini?” dirasakan sekujur tubuhnya yang seketika merinding disko, keningnya seketika berkeringat dan kedua tangannya bergetar hebat.
“Sepertinya aku harus pergi dari tempat ini!”
Dilangkahkannya cepat kedua kakinya menjauh dari taman yang mulai mengeluarkan wangi yang tak biasa dalam penciumannya. “Kenapa bau sekali?” Ia menutup hidungnya cepat sambil melangkah cepat.

Langkahnya terhenti, saat ia menatap seorang gadis terjongkok didepannya, gadis itu terlihat sibuk membenahi beberapa berkas yang terjatuh, terdiam saat ia menatap sebuah kaki beralaskan sepatu hitam yang cukup mengkilap hingga membuat mata gadis bernama Shila itu tersilaukan.
“Hmm!” shila berdiri setelah selesai membenahi berkas-berkas itu, ia terdiam saat matanya memandang sosok didepannya.
Tampan... sempurna...!
Baru kali ini, gadis itu bertemu dengan pemuda setampan satu sosok didepannya ini, mata coklat kemerahan membuatnya terlihat lebih seksi, bertambah dengan alis tebalnya.
Oh!! Adakah kata lain untuk menggambarkannya selain SEMPURNA??

                “Hmm!” Pemuda itu tak banyak bicara, ia masih menutup hidungnya dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya sibuk bergerak-gerak dibelakang kepala. “Semakin bau saja?” gumamnya pelan.

Shilla membelakan matanya dan menggembungkan pipinya, “Kenapa dia menutup hidungnya seperti itu?” gadis itu berusaha mencium aroma tubuhnya sendiri, mulai dari kerah baju, ketiak, hingga kedua telapak tangan. “Harum.” Ia berseru pelan.
Shilla kembali menatap pemuda itu yg masih berdiri didepannya dan masih menutup hidung.
“Kau kenapa? Apa aku ini bau?” gadis itu bertanya dengan suara pelannya. “Padahal hari ini aku mandi tiga kali.” Ia bergumam sendiri.

                “Siapa namamu?”

Shilla mengangkat alisnya saat pemuda itu berseru padanya. “Hmm.. namaku..” ia menggantungkan perkataannya, menatap tajam pemuda beralis tebal itu. “Tunggu siapapun namaku, apa urusanmu?”
Gadis itu mendekap berkas dikeduatangannya didada. “Kau ingin menculikku?” Tanyanya dengan tatapan mata mengintrogasi.

                “Ah tidak!” ia masih sibuk menutupi hidungnya, menundukkan wajahnya sedikit hingga sejajar dengan wajah oval gadis imut itu, kemudian berbisik. ‘’Kau tak mencium bau yg aneh?” ia mengangkat sebelah alis.

Shilla menggeleng dan mendorong wajah pemuda itu menjauh darinya. “Tidak!” gadis itupun mengrucutkan bibirnya kesal. “Sudah, jangan kau tutupi terus hidungmu seperti itu!” ia menarik paksa tangan pemuda itu yang menempel pada hidung panjangnya. “Apa kau ingin mati kehabisan oksigen karena itu?” Shilla bersuara keras setelah berhasil membuat pemuda itu menurut pelan.

Hawa malam semakin terasa, pemuda berambut sedikit ikal dibagian babwah itu seketika merasakan tubuhnya yang kembali merinding disko. “Aish!” Ia bergumam pelan, menatap gadis didepannya yang sibuk menatap sekellling.

                “Kau tau sekarang pukul berapa?” Shilla mengalihkan mata coklatnya pada pemuda itu yang seketika mengerutkan kening.

                “Kapan aku memukulmu?”

Shilla menarik nafas panjang saat pertanyaan itu terlontarkan dari bibir pemuda yang belum diketahui namanya itu. “Bukan itu maksudku.” Ia menggesek-gesekkan giginya gemas. “Jam, jam berapa sekarang?”

                “Oh itu,” pemuda itu mengangguk mengerti. “Setengah dua sepertinya.”

                “Setengah dua?” Shilla membelakkan matanya, “Lalu apa yang kau lakukan disini? Kau kabur dari rumah? Atau kau benar-benar seorang penjahat?”

                “Hey!” Pemuda itu mendorong kening Shilla dengan tangannya. “Aku ini Lelaki, jadi wajar kalau berada diluar dijam-jam seperti ini.”
Shilla mengangguk pelan membenarkan.
                “Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan malam—malam begini diluar? Kau ingin menjual diri huh?” Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya mengejek.

Shilla menatapnya geram. “Hey, jaga bicaramu!” ia membuka tas yang sedaritadi bergelantung pada pinggang langsingnya dan memasukkan berkas-berkas itu disana. “Aku sedang mencari seseorang.”
Lanjutnya.

                “Wah kebetulan sekali, aku juga sedang mencari seseorang.”

Untuk beberapa detik keduanya terdiam, memikirkan perkataan yang baru saja mereka ucapkan.
Sama-sama mencari seseorang??
Benar-benar kebetulan yang aneh..

Shilla melirik pemuda itu yang sibuk menggembungkan kedua pipinya, gadis itupun menatap pemuda itu dari atas hingga bawah..
Sempurna!!! Seolah tak ada cacat sedikitpun dan keningnya mengerut saat ia menatap wajah pemuda itu yang begitu mirip dengan sosok yang sangat diidolakannya selama ini.
Edward cullen!!

Shilla menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak mungkin pemuda ini adalah titisan dari Edward cullen!” ia mengacak rambutnya cepat. “Aduh!! Berhentilah berkhayal yang tidak-tidak Shilla, tak mungkin ada Vampire didunia ini, sadarlah!” ia menepuk-nepuk pipinya sendiri, mengusir rasa resah yang seketika menghantuinya.
“Lagipula jika pemuda ini adalah Vampire, aku tak melihat ia memiliki taring yang panjang pada giginya?” pertanyaan bodohpun mulai menjumpai gadis belia itu. “Tidak!Tidak! apa-apaan aku ini?”
 Ia terkejut, meloncat sedikit kebelakang saat wajah pemuda itu mendekat pada wajahnya.

                “Kau kenapa?”
Pertanyaan pemuda itu membuat jantung Shailla berdetak kencang, “Liatlah rambutmu jadi berantakkan begini.” Ia mengelus pelan rambut hitam Shilla yang terdiam.

Wajah keduanya begitu dekat, debaran itu semakin terasa saat keduanya saling bertemu pandang, angin disekitar taman itupun seketika berhembus berirama.

                “Shilla, itu namamu?” Pemuda itu menatap tajam Shilla yang seketika menunduk.
Tak banyak kata yang diucapkan gadis itu saat ini.
“Cukup cantik!” iaa bergumam pelan, meraih dagu gadis itu hingga menatapnya. “Tatap aku Shilla!”

                “Darimana kau tau namaku?” Shilla menatap resah pemuda itu yang tersenyum. “Sebenarnya kau ini siapa?” Gadis itu semakin merasakan aura berbeda pada pemuda didepannya.
Tubuh tegapnya dan tatapan mata elang serta suara serak itu mengingatkan Shilla pada satu sosok.
Vampire!
Terlebih wajah putih pemuda ini dan harum yang tak biasa untuk indra penciuman Shilla.
                “Kau.. kau Vampire?” ia menggigit bibir bawahnya, kedua kakinnya bergetar tak menentu.
“Dan kau ingin menghisap darahku?”

Pemuda itu tersenyum tipis, jemarinya masih berlabuh apik dibawah dagu Shilla. ‘ Darimana kau tau aku adalah Vampire?” ia sengaja menekan suaranya dibagian akhir ucapannya. “Dan aku akan menghisap darahmu nona manis!”

Shilla membelakkan matanya, “’Tidak mungkin!” didorongnya tubuh tegap itu menjauh, “Darahku pahit.. kau tak akan menyukainya!” gadis itu berusaha mundur sedikit demi sedikit, menjauh dari pemuda itu yang seketika tersenyum lebar. “Aku.. Aku..” suara gadis itu bergetar. “Jangan bunuh aku!” Gadis itu berjongkok dan menenggelamkan wajahnya pada sela-sela lututnya. Ia menangis takut.

Pemuda itu mendekat, iapun ikut berjongkok didepan Shilla yang masih bersuara disela tangisannya.

                “Jangan membunuhku, aku tak ingin mati sekarang, aku masih terlalu muda untuk itu.”


                “Shilla,” pemuda itu berusaha meraih lengan gadis itu, tai dengan cepat Shilla menepisnya.
“Kau tak akan mati Shilla, untuk sekarang,”

Shilla menaikkan wajahnya menatap pemuda itu yang tersenyum manis padanya. “Kau tak ingin membunuhku? Ia menghapus airmatanya sendiri dengan kedua tangannya cepat.

                “Aku kesini bukan untuk membunuhmu,” pemuda itu membantu Shila mengahapus airmatanya. “Aku hanya ingin mengambil darahmu, Cuma itu.”

Mata Shilla kembali membesar, dengan cepat ia berdiri. “Kau..Kau..” ditunjukkan pemuda itu yang masih berjongkok didepannya.

                “Ayolah Shilla!” pemuda itu ikut berdiri, “Apa Bella mati saat Edward menghisap darahnya?” tanyanya pada Shilla yang  menggeleng.

                “Tidak!”

                “Lalu apa yang kau takuti?”

Shilla terdiam, gadis itu benar-benar merasa berada dalam sebuah skenario film twilight, dimana disini ia memerankan peran pengganti Bella, sementara pemuda didepannya ini adalah sosok vampire Cool bermata dingin Edward.

                “Hey, jadi bagaimana?” pemuda itu menepuk punggung Shilla pelan. “Aku berjanji akan membuat hidupmu lebih bahagia dari saat-saat yang telah kau lalui?”
Ditatapnya gadis itu yang masih terdiam.

Tak dapat ia pungkiri, gadis itupun sering bermimpi bahwa ia ingin merasakan bagaimana menjadi seperti Bella, hidup dan dicintai sesosokk Vampire?? Menyenangkan, itu yang selalu ia pikirkan.
Tapi ia tak pernah menyangka bahwa semuanya benar-benar akan menjadi kenyataan, saat ini, disini, ia bertemu dengan sosok Vampire yang mungkin akan mengubah jalan hidupnya selayaknya Bella dulu.

                “AOU Sakit!” ia merasakan sakit dilengannya saat tangannya mencoba mencubit dirinya sendiri. “Ini bukan mimpi!” ia bergumam pelan.
Shilla menatap takut pemuda itu yang masih berdiri didepannya, cukup tampan dan bahkan mungkin lebih tampan dari Robert pattinson idolanya.
Mungkin jika ia membiarkan pemuda misterius ini menghisap darahnya, besok ia bisa berbangga diri pada sahabat-sahabatnya disekolah bahwa ia tak lagi sosok manusia yang sama seperti mereka, melainkan sosok Vampire. Dan yang lebih membuatnya bangga, Vampire yang menghisap darahnya lebih cool dari edwardnya Bella.
Sempurna!!

                “Hey!”

Suara seruan pemuda itu mengagetkan khayalan gadis manis itu, entah sadar atau tidak gadis itu seketika mengangguk setuju.

                “Kau boleh menghisap darahku sekarang!” katanya pasrah sambil menutup keduamatanya.
Hatinya berdetak tak menentu saat suara langkah pemuda itu semakin mendekat, mungkin sebentar lagi hidupnya akan berubah, entah lebih baik atau malah sebaliknya.
Semakin dekat pemuda itu melangkah pelan mendekati gadis polos itu, ia menggeleng gemas diiringi dengan senyuman khasnya. “Maafkan Aku!” ia berbisik ditelinga kanan Shilla yang mengangguk.

Bagaimana rasanya dihisap darahhnya oleh sosok Vampire tampan??
Mungkin pertanyaan Shilla selama ini akan terjawab sekarang.

Dua detik, Shilla memejamkan matanya tapi ia tak merasakan nyeri pada lehernya, ia tak merasakan seseorang menghisap darahnya.
Perlahan ia membuka matanya, sepi....
Tak ada seorangpun disini, lalu kemana perginya pemuda misterius itu.

Shilla menarik nafasnya panjang, “Apa jangan-jangan..” seketika ia merasakan hawa dingin menyelimuti tubuh kurusnya. “HANTU!!!!”

Gadis itu berlari cepat tanpa arah, sebenarnya siapa pemuda misterius itu, Vampire tampan atau Hantu handsome??
Siapapun dia Shilla berharap tak akan pernah bertemu lagi dengannya.

Bugh!!
Tanpa sadar, Shilla menyenggol tubuh seseorang.

                “Shilla sayang!”

Shilla menatap cepat wajah pria didepannya, “Ayah!” dirangkulnya cepat tubuh pria berkumis tipis itu. “Shilla ketemu hantu ayah, Shilla takut!”  rengeknya pelan.

Perlahan sang ayah melepas pelukan hangat itu. “Shilla, itu hanya halusinasi kamu sayang!” dibelainya lembut rambut putri kesayangannya itu.

                “Om, kunci mobilnya...”

Shilla terdiam menatap pemuda misterius itu yang tiba-tiba berdiri disamping sang ayah. “HANTU!” teriak Shilla kencang membuat pemuda itu menutup gendang telinganya cepat.
“Dia, Dia hantu yang tadi Shilla temui ayah!” Shilla kembali memeluk tubuh sang ayah, sambil tangan kanannya  menunjuk pemuda misterius itu.

                “Shilla dia bukan hantu sayang!”

Shilla melepas pelukannya dan menatap sang ayah yang tersenyum. “Kalau bukan hantu siapa?? Vampire?”

                “Bang toyib aku!” sambar pemuda itu kesal sambil memasukkan kunci pada saku celana hitamnya.

Shilla mengkrucutkan bibirnya kesal, “Gak lucu!”

                “Dia ini Raymon!” sang Ayah mencoba mengenalkan pemuda misterius itu pada Shilla.
“Dia cucunya opa Eddy yang tinggal di Bandung, jadi kalian sepupuan.”

Shilla menggaruk tengkuknya, dan mendekat pada Raymon, “Jadi kamu bukan Vampire?” Gadis itu berbisik pelan.

                “Bukan.” Jawab Raymon singkat.

                “Bukan juga hantu?”


                “Bukan.” Raymon menekan suaranya. “I’am a Human.”



Online Now Icons