"Lepasin gue, Br*ngs*k!"
Pagi-pagi buta, suara teriakan itu nyaris membuat telinga Kevandra hampir saja putus.
Kevandra yang saat ini berada diujung gang sekolahnya, perbatasan antara ruang murid dengan ruang guru tepatnya.
Kevandra merebahkan tubuhnya tertidur, dikursi kayu yang sudah lumayan kusam dengan menutup wajahnya dengan buku, telinga memang mengenakan hadseat yang bersambung dengan MP3 milik Chokie, yang dipinjamnya kemarin, tapi ia tak menyalakannya, Kevandra tak begitu suka mendengarkan musik, jadi ia membiarkan Mp3 itu mati tapi digunakan seolah-olah menyala.
Kepalanya masih terasa pusing, akibat mabuk, Kevandra pun memilih tempat itu, untuk menenangkan diri sejenak.
"Lepasin, gue BRENGSEK!"
Lagi-lagi ia mendengar teriakan itu.
Malah semakin kencang menggema ditelinganya.
"Setapak lo mendekat, GUE BUNUH!"
Suara kencang yang berasal dari mulut sang gadis itupun, membuat kesabaran Kevandra hilang.
Dijauhkannya buku dari wajah menawannya, dibuangnya kelantai,terduduk sebentar sambil melepas hedseat dikedua telinganya dan memasukkannya kedalam saku seragamnya, kemudian berdiri dan menatap samar2 dua remaja yang berdiri tak jauh darinya.
Ia menyipitkan matanya, mencoba memperjelas penglihatannya, seorang pemuda yang sedang menggoda seorang gadis.
Pemuda itu berkali-kali mencoba meraih tangan sang gadis, tapi gadis itu selalu menepisnya dengan kasar.
"Sekali lagi,Lo nyentuh gue, Gue bunuh!"
Ancam gadis berseragam putih abu-abu dgn rambut panjangnya yang terikat satu dan sebuah penjepit bintang kecil yang menghiasi rambut hitam kecoklatannya.
Kevandra tersenyum tipis, pandangannya masih mengarah pada dua sosok itu.
"Alah, jangan sok suci Lo, gue tau siapa Lo!" pemuda itu menunjuk sang gadis dengan penuh amarah.
"P*L*C*R, ajah Belagu!"
Plak..!
Sebuah tamparanpun mendarat tepat dipipi kanan sang pemuda.
Pemuda itu mengelus pipinya pelan, tersenyum tipis sambil menatap Gladys yang mulai emosi.
"Udah berapa Om-om yang nidurin lo, Huh?"
Pemuda bernama Zava itu, meraih paksa lengan Gladys, gadis itu berusaha menepis tapi ia tak mampu, pegangan tangan Zava begitu kencang mencengkram lengannya.
"Udahlah, Gue bisa muasin Lo, lebih dari mereka!" Zava berkata lagi dengan senyum menggoda.
Pandangan Gladys langsung tertuju pada Kevandra yang berdiri tak jauh dari kedua, dgn kedua tangan dilipat didada, dengan santainya Cowo itu berdiri memandangnya.
Gladys menatapnya penuh harap, semoga pemuda itu dapat melepasnya dari cengkraman Zava seperti diFilm-film yang pernah ditontonnya.
Tapi sial, pemuda itu hanya menatapnya tanpa berniat menolongnya, justru Kevandra melontarkan sebuah kalimat yang membuat Gladys berjanji akan membenci cowo itu selamanya.
"Udah, nunggu apa lagi, perkosa ajah langsung, BEGO!"
Kevandra tersenyum singkat pada Gladys yang menatapnya penuh kebencian, kemudian berlalu meninggalkan keduanya.
***
"Hey Lo, cowo Gila!" Gladys berteriak kencang sambil melangkahkan kakinya mendekati Kevandra yang sedang berbincang-bincang dengan Chokie.
Chokie tersenyum manis pada Gladys yang tlah tiba didepannya, sementara Kevandra menatapnya sesaat lalu fokus pada MP3 ditangannya.
"Cowo Gila, atau hampir mirip iblis, gak ada bedanya ama binatang, gak punya perasaan." Gladys yang berdiri didepan Kevandra menatap kesal Kevandra yang terduduk.
Kevandra mendongkakkan wajahnya menatap Gladys yang telah bertolak pinggang, cowok itu tersenyum tipis.
"Sorry, lo ngomong sama gue?" Kevandra menunjuk dirinya sendiri sambil berdiri.
Gladys menatap Kevandra kesal yang kini tlah berdiri didepannya.
"Bukan Lo, tapi Iblis!" serunya geram, Cowok itu semakin melebarkan senyumnya.
"Iblis itu lebih suci loh dari Pe..la..cur..!
Kevandra sengaja menekan suaranyd saat menyebutkan kata terakhir.
Gladys geram dan berniat menampar Kevandra, tapi sayang sebelum jemari lentiknya menyapu pipi Kevandra, tangan pemuda itu terlebih dulu menyanggahnya.
Semakin keras Kevandra meremas tangan mulus Gladys, dalam hitungan detik, pemuda itu menarik lengan Gladys hingga tubuh gadis itu menempel pada dada bidangnya.
Wajah keduanya begitu dekat, seketika jantung Gladys berdetak kencang.
Kevandra menatap bibir tipis kemerah-merahan Gladys, "bibir Lo, boleh juga!" Kevandra menaikkan sebelah alisnya menantang.
Gladys mendorong tubuh tegap Kevandra kebelakang, menjauh darinya.
Pemuda itu hanya tersenyum tipis, MP3 ditangannyapun seketika terlepas.
Prang..
"MP3, gue!" Chokie yang sedaritadi berdiri disana, menyaksikan keduanya, tiba-tiba memelas menatap MP3 Yang baru dibelinya pecah.
Chokie melangkahkan kakinya mendekat pada MP3 yang terjatuh tepat dibawah kaki kanan Kevandra, Chokie berjongkok dan meraih Mp3nya pelan.
"Gue bunuh Lo, KEVANDRA!"
Kesal Chokie pada Kevandra yang menundukkan wajahnya memandang Chokie yang masih berjongkok disampingnya.
"Lo tentuin ajah, harinya!" ucap Pemuda itu enteng.
"Cowok Gila, Gak punya perasaan, bajingan, berengsek!"
Kevandra kembali menatap Gladys yang terus-terusan mengoceh atau lebih tepatnya membentak.
"Gue sumpahin, lo mati kelindas kereta!"
Gadis itupun berlalu pergi setelah mengancam Kevandra, pemuda itu menggelengkan kepalanya, menatap sang gadis yang mencoba menjauh.
Tapi langkah gadis itu terhenti saat mendengar Kevandra berteriak.
"Gue jadi pingin ngerasain mati kelindas kereta, udah benci gue, ama hidup yang penuh kemunafikan gini,didepan kita senyum sok bersahabat, tapi dibelakang, borok-borok kita jadi trending topik mereka, bullshit semua..!" Kevandra mengatur nafasnya sejenak, sebelum kembali bicara.
"Neraka lebih baiklah!"
***
"Kevandra, pokoknya, lo harus gantiin Mp3 gue!" Chokie berkata pada Kevandra yang berdiri disampingnya.
Keduanya menyender di dinding belakang perpustakaan, Kevandra hanya mengangguk-angguk kepalanya malas.
"Ngerti gue!" jawabnya enteng, Kevandra meraih sebatang rokok dari saku celananya dan menghisapnya setelah ujung rokok itu bersentuhan dengan korek api milik Chokie.
Chokie balik tersenyum, "Ngerti apaan, Ngerti cara melorotin boxer orang!" Ledek cowok berambut sedikit ikal itu yang begitu hafal kebiasaan Kevandra, memeloroti boxer orang.
Kevandra menoyor kepala Chokie kesal, "Setan!" geram Kevandra sambil kembali menghisap buntung rokok dimulutnya.
Chokie menatap langit-langit yang sedikit mendung, mendongakkan wajahnya menatap langit siang itu.
"Tadi gue ketemu dia lagi!" Katanya pelan.
Kevandra menatap Chokie dan membuang batang rokok yang telah habis ketanah, menggesek-gesekkan dengan kakinya hingga api rokok itu benar-benar padam.
Kevandra kembali menatap sahabatnya, "Nyokab lo?" tanya hati-hati, Chokie mengangguk.
"Yah, dia minta gue untuk tinggal bareng dia," Chokie maju satu langkah berdiri membelakangi Kevandra yang setia menatapnya.
"Lucu yah, setelah dia ninggalin gue, sekarang dengan mudahnya dia minta gue tinggal bareng dia!" Chokie tersenyum terpaksakan, ia kembali bicara, "F*uk, dimana dia waktu gue habis digebukin bokap gue yang pemabuk dan pembunuh, seharusnya dia disana, jadi satu-satunya orang yang peduli sama gue, tapi apa justru dia ninggalin gue demi ketenaran!"
Kevandra terdiam mendengar curahan sahabatnya itu.
"Gue gak butuh dia saat kaya dan bahagia seperti sekarang, tapi gue butuh dia saat gue sedih dan terluka!"
Chokie menunduk, wajahnya tanpak teramat sedih.
Dengan pelan Kevandra mendekatinya, dan mengelus pelan pundak sahabatnya, ia begitu mengenal Chokie, seseorang yang ditemukannya beberapa tahun yang lalu disamping tong sampah, saat itu tubuh Chokie berlumuran darah, kaos yang dikenakannyapun sobek disegala celah.
Kevandra menghampirinya dan mencoba menenangkan, Kevandra memanglah seorang iblis tapi hatinya masih bisa merasakan iba, terlebih pada seseorang yang lebih menderita darinya.
Sejak itulah, Chokie selalu menceritakan segala hidupnya pada Kevandra, walau tak pernah didengar atau justru selalu dianggap enteng, tapi Chokie percaya, Kevandra mampu menjadi penampung gundahnya.
"Si Setan Berkumis itu, masih sering gebukin Lo?"
Pertanyaan Kevandra membuat Chokie menatapnya dan mengangguk.
'Setan berkumis' panggilan sayang Kevandra untuk papa Chokie, yang pemabuk berat.
"Lo bunuh ajah dia!"
Chokie menatap Kevandra tajam yang mengangkat sebelah alisnya.
"Racunin makanannya biar terkapar-kapar didepan lo kaya, Binatang!"
Chokie mengkernitkan keningnya. "tapi dia bokap gue, Kev!"
"Setan berkumis kayak gitu, gak pantas dipanggil ayah, Neraka tempatnya!"
Kevandra menatap Chokie yang mengangguk, "lalu, nyokap gue?"
Tanyanya pada Kevandra yang kembali menyender pada dinding, sebelah kakinya ia tekuk.
Chokie memutar tubuhnya agar menghadap Kevandra.
"Lo bunuh juga, biar kedua setan itu dipertemukan dineraka!"
Jawabnya enteng pada Chokie yang lagi-lagi mengangguk.
Hingga sebuah teriakan menggema dikedua telinga remaja itu.
"Apa lagi mau lo, hah?" Gladys berkata kasar pada Zava yang lagi-lagi berusaha menggodanya.
"Tubuh lo," Zava menyolek dagu Gladys, membuat amarah gadis itu semakin memuncak.
Dari jarak yang tak begitu jauh, Kevandra dan Chokie menatap keduanya tajam.
"Cewek itu, bukannya Gladys?" Chokie menengok pada sebentar pada Kevandra yang mengangguk, dan kembali fokus menatap kedepan.
Zava mulai emosi, didorongnya tubuh sexy Gladys hingga menempel pada tembok, kedua tangannya terangkat hingga berdampingan dengan kedua telinga Gladys menempel pada tembok putih itu, gadis itu berusaha mengelak, tapi tangan Zava begitu kuat menyanggah tangannya.
Zava mulai mendekatkan wajah dan bibirnya pada leher Gladys, gadis itu kembali berontak saat Zava mulai membasuh lidahnya pada leher Gladys.
"Bajingan!" Chokie mengepalkan tangannya penuh emosi, ia berniat menghampiri zava dan Gladys, tapi Kevandra mencegahnya.
"lo mau ngapain?" Tanya Kevandra pada Chokie yang menepis pegangan tangannya.
"Ngebunuh keparat Zava!"
Jawaban Chokie cukup membuat Kevandra tersenyum.
"Mau jadi pahlawan nih ceritanya!" ledek Kevandra.
"Gue gak becanda!" ucapan lantang Chokie membuat Kevandra seketika terdiam.
Zava semakin nafsu menciumi leher Gladys, hingga Richi meraih kerah seragam putih Zava menjauh dari Gladys yang menggigit bibir bawahnya agar tak menangis.
"Bangsat!"
Bugh.. Bugh.. Bugh
Satu dua dan tiga tonjokan melayang tepat diwajah mesum Zava, zava tak tinggal diam, ia meneris kaki Chokie hingga cowok itu tersungkur ketanah.
Zava membungkukkan badannya, menarik kerah Chokie dan berganti memukulinya.
seketika tubuh Gladys gemetar menyaksikan keduanya yang saling adu tinju.
Gladys menepikan dirinya diujung tembok.
"Ayo Ky, bunuh bajingan itu, lo jangan mau kalah sama dia!" suara keras Kevandra membuat Gladys seketika menatapnya.
Cowok itu tetap stay cool, melipat tangannya didadanya yang bidang, dan bersikap biasa saja, menyaksikan sahabatnya sedang bertaruh nyawa seperti itu.
"Tendang juniornya,Ky, biar mandul seumur hidup!"
Teriaknya lagi, Kevandra menatap Gladys yang berjalan kearahnya.
Ditatapnya leher gadis itu yang memerah akibat ulah zava tadi.
"Ternyata lo emang benar-benar iblis yah!" Gladys berseru setibanya didepan Kevandra.
"Emang!" jawab pemuda itu santai.
Sikap seperti inilah yang membuat Gladys makin membencinya.
"Sahabat lo lagi diujung nyawa dan bisa-bisanya lo tetap santai berdiri disini, ternyata hati lo benar2 udah mati!"
Kevandra tersenyum tipis mendengar perkataan Gladys.
"Bibir lo sexy juga, pantesan Bajingan sekelas Zava penasaran banget pingin ngerasain!"
Kevandra menyapu bibir sexynya dengan lidahnya, matanya menatap serius pada bibir gadis itu.
"Lo benar2 gila!"
Gadis itupun berlalu menjauh dari Kevandra dengan wajah penuh kekesalan.
"Gue bakal nolongin Chokie, asal lo nyium gue, dibibir!"
Pernyataan Kevandra itu membuat Gladys berbalik dan menatapnya, dilihatnya Kevandra yang terus menyapukan lidah pada bibirnya.
"Di bibir!"katanya lagi.
Gladys tersenyum sinis sambil menggelengkan kepalanya.
"Mimpi!"
Zava terus menindih tubuh Chokie yang mulai melemas, Gladys berdiri disamping Zava yang terus-terusan melayangkan pukulannya pada Wajah Chokie yang penuh darah.
"Cukup Zav, hentikan, gue mohon!" Minta gadis itu pada zava yang menggeleng.
"Siapapun yang udah ikut campur urusan gue harus MATI, termasuk Dia!" tonjokan kembali zava layangkan untuk Chokie.
Gladys putus asa, ia berbalik menatap Kevandra yang berdiri menatapnya dengan senyum menggoda. "Bibir gue masih terbuka buat Lo,"
Kevandra berkata pada Gladys yang menatapnya geram.
Pemuda itu kembali bicara, "Satu ciuman, satu nyawa terselamatkan!"
Gladys menatap Chokie yang mulai kehabisan tenaga, ia tak ingin Chokie kehilangan nyawanya demi menyelamatkannya.
Tak ada cara lain, hanya Kevandra yang memiliki tenaga super untuk menyelamatkan Richi, walaupun Gladys harus merelakan ciuman pertamanya untuk iblis itu.
Kevandra tersenyum tipis ketika mendapati Skype berjalan kearahnya.
"Gimana tawaran gue, gak bejat-bejat amatlah!"
Kevandra menaikkan sebelah alisnya saat Gladys tlah berdiri didepannya.
"Lo emang bajingan, Kevandra, i Hate You!"
Gadis itu mengatur nafasnya pelan, menutup matanya sebentar, kemudian berjinjit untuk meraih tengkuk Kevandra, dan menciumnya.
Kevandra tak tinggal diam, pemuda itu membalas ciuman Gladys dengan mesrah, tangannya meremas tengkuk gadis itu yang dihiasi rambut panjangnya.
Gladys mencoba melepas ciuman itu, tapi Kevandra tak membiarkannya, hingga hitungan kelima Kevandra menjauhkan bibirnya dari bibir Gladys.
Kevandra tersenyum menatap Gladys yang terus2an membasuh bibirnya dengan keduatangannya, mencoba menghilangkan ciuman menjijikan itu.
"I Hate You!" seru Gladys kesal pada Kevandra yang tersenyum, pemuda itu beralih mengelus rambutnya pelan.
"But I love You!"
Katanya dan beralih pergi.
Sesaat hati dingin Gladys terasa begitu hangat, pandangannyapun tak lepas penatap Kevandra yang memulai aksikan.
Kevandra meraih balok kayu disampingnya, berjalan kearah Zava yang terus meninju Chokie.
Bugh..
Kevandra melayangkan balok kayu ditanganny tepat kebelakang kepala zava, satu kali, dua kali, tiga kali, hingga Zava tersungkur ketanah.
Kevandra membuang kayu ditangannya berganti menindih Zava, terus menghantam wajah mesum cowok itu tanpa ampun, apa yang dilakukan Zava pada Chokie, dibalasnya.
"Bangsat, F*ck lo Kevandra!" teriak Zava keras, sekeras itupula Kevandra menghantamnya.
Zava akhirnya tak sadarkan diri, begitupun Chokie.
Kevandra berdiri dari atas tubuh Zava, dan berlahan menghampiri tubuh sahabatnya yang lemah.
Ditatapnya wajah Chokie yang tadinya putih dan tanpan kini menjadi merah penuh darah dan lembam.
Gladys meletakkan kepala Chokie pada pangkuannya, airmatanya pun mulai menetes.
"Chokie bangun, lo gak boleh pergi, lo harus kuat ky, harus!" Gladys berkata sambil terus membelai lembut rambut hitam Chokie, Kevandra yang terduduk disamping Chokie menatap tajam kearah Gladys. Ia merasakan ada sesuatu dalam tatapan Gladys untuk Chokie.
"Bangun KY, Gue cinta Lo!"
Degh..
Pengakuan singkat Gladys membuat hati Kevandra seketika pupus.
Memang sudah sejak lama, Kevandra jatuh hati pada Gladys, itu alasan Kevandra selalu mengajak Chokie untuk pergi ketempat nista itu setiap malam, tidak lain karne ia ingin memantau Gladys dari jauh.
Tapi ia tak pernah menyangka bahwa cewek yang dicintainya justru mencintai Cokie, sahabatnya.
"Gue cinta Lo,Chokie!" Gladys berkata lagi dengan suaranya yang bergetar.
Kevandra berdiri dan berlahan mundur, ia tak menyadari bahwa Zava tlah berdiri dibelakangnya dengan pisau lipat ditangannya.
Secepat kilat pisau itupun menusuk belakang tubuh Kevandra..
Ia masih bisa berdiri, walau darah mengalir deras dipunggungnya.
Berkali-kali pisau itu menusuknya, "Lo harus Mati, keparat!"
Teriakan Zava membuat Gladys menatap Kevandra dan terkejut.
"Kevandra!"
Ia menjatuhkan pelan wajah Chokie kembali ketanah, lalu menghampiri Kevandra yang mulai terduduk lemah.
"Kevandra, lo harus kuat!" Gladys berjongkok didepan Kevandra yang berlutut.
"Lo gak apa-apa?" tanya Gladys pada Kevandra yang kini tlah berdiri.
Cewek itu ikut berdiri, ditatapnya Kevandra yang tersenyum tipis.
"Lo pikir, gue akan baik2 ajah, setelah orang yang gue cintai, mengatakan cintanya ama sahabat gue didepan gue!" suara Kevandra bergetar, seiring ia menahan sakitnya.
Gladys terdiam mendengar Kevandra yang masih bicara.
"Gladys, gue.. Cinta.. lo.." kata yang tersimpan akhirnya terucap sudah.
Gladys menunduk, berlahan Kevandra berjalan mundur.
"Kevandra, gue.."
"Cukup, gue tau Elo dan semua cewek disana akan jatuh hati pada Chokie sang malaikat bukan gue.. IBLIS!"
Kevandra mengatur nafasnya sesaat, ia kembali bicara. "Gue bakalan pergi dan gue gak akan ganggu hidup lo lagi, Chokie baik dan dia pantas buat Lo!"
Darah itu semakin deras mengalir, baju seragam putihnyapun telah berubah warna.
Gladys maju dan mencoba meraih lengan Kevandra, tapi ditepisnya.
"Kevandra..."
"biarkan gue pergi, gue titip Chokie.."
Cowok itupun berlalu dari hadapan Gladys yang tiba-tiba menitikkan airmatanya.
Kevandra berjalan sempoyongan, menusuri kejamnya dunia.
Beberapa orang menatapnya, ia tak peduli, ia terus melangkah mencari tempat dimana ia bisa menghembuskan nafas terakhirnya.
Sakit dibadannya tak seberapa bila dibandingkan dengan sakit hatinya.
Ini kali pertama ia jatuh cinta dan wuish sakit hatilah yang didapat.
Ia tertawa pada penderitaannya.
Ia tau bagaimana ia harus mati sekarang.
"Terimakasih buat ide Lo, Gladys!"
Satu jam kemudian, sekumpulan manusia berkerumunan, disamping rel kereta.
Mereka melingkari, seseorang yang beberapa detik yang lalu terlindas kereta ekspres.
Cowo SMA Terkapar tak berdaya, darah disekujur tubuhnya, beberapa badan dan wajahnya hancur nyaris tak terkenali.
Seorang pengamen yang berdiri tepat disamping korban mengamati kartu pelajar ditangannya dan ia berusaha mengeja nama yang tercetak disana milik sang korban.
"K..E...V....A...N....D...R...A.."
"Gue sumpahin, lo mati kelindas kereta!"
I turn my head to the east, I don't see nobody by my side
I turn my head to the west, still nobody in sight
So I turn my head to the north, swallow that pill that they call pride
That old me's dead and gone but the new me will be alright
Oh hey, I've been travelin' on this road too long
Just tryin' to find my way back home
But the old me's dead and gone
Dead and gone
THE END ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar