Facebook Badge
Jumat, 26 April 2013
Rabu, 17 April 2013
Kamis, 11 April 2013
"A Boy To Remember!" {B}
Sudah lebih dari satu tahun aku mengenalnya.. Tapi baru
satu minggu yang lalu ia menyatakan cintanya padaku.
Cukup simple memang, tak banyak kata yang ia ucapkan saat
menyatakan cintanya, hanya dengan setangkai bunga mawar dan sepucuk surat merah
jambu, disebuah taman disudut kota sore itu.
Sinar matahari yang begitu panas, membuat suasana yang
seharusnya romantis itupun menjadi sedikit membosankan.
Ia menyuruhku duduk dikursi kayu taman itu, disamping
gerobak tukang mie ayam tepatnya.
Untungnya aku masih dapat mencium aroma mie ayam yang
menggugah seleraku, membuatku sedikit bersemangat untuk tetap terduduk disampingnya.
Ia tersenyum padaku yang menatapnya resah.
"Apa tak ada jam lain, buat nembak gue selain
dibawah terik matahari seperti ini?" aku memutar mataku saat menatapnya
tersenyum. Lesung pipinya masih sama seperti pertama kali kita bertemu.
"Bacalah!"
Ia membuka surat merah jambu ditangan kananku dan
menyuruhku untuk membacanya.
Aku hanya menurut pelan.
Dear Rere
Satu tahun bersama dan saling mengenal membuat rasa
dihati gue tumbuh.
Bukan sahabat atau sekedar teman, tapi ini cinta.
Pernah atau bahkan sering gue memcoba untuk membuang
jauh2 rasa ini, tapi sungguh gue gak mampu.
Gue tau siapa lo begitupun lo yang tau segalanya
tentang gue.
Dalem-dalemnya guepun lo tau.
Kita selalu terbuka dalam segalanya.
Dan sekarang saatnya gue jujur tentang perasaan gue.
Gue cinta lo Re, gue cinta lo.
Ur lovely
Bryan ^^
Aku melipat surat itu menatap tajam Bryan yang memetik
setiap putik bunga mawar ditangannya.
"Lo serius?"
Aku menunggu jawaban dari bibir tipisnya.
Selang beberapa detik ia baru mengangguk.
"Hm, tapi lo taukan, gue lagi ama Pedro?"
Aku memasukkan surat itu pada saku kemeja yang aku
kenakan, lagi lagi ia mengangguk.
Memang kuakui selama aku bersamanya, aku jarang sekali
mendengar suaranya, padahal jujur ia memiliki suara yang cukup ngebash.
"Gue akan nunggu lo!"
Akhirnya suara ngebash itu menggema juga ditelingaku.
Aku tersenyum tipis, "Hm, segitu imutnya kah gue, sampai-sampai
dua cowok keren jatuh hati!"
Aku merapikan sedikit poni yang menutupi keningku yang
memang sedikit menonjol.
Entah gemas atau apa, Bryan menjitak kepalaku kesal.
"Anjrit, lo bukan imut tapi cantik!"
Katanya dengan nada suara bash yang cukup keras.
Beberapa orang yang melewati kamipun menatapku dan Bryan
risih.
Bryan menggenggam tanganku dan berkata, "Udahlah,
pokoknya sampai kiamatpun, gue bakal nunggu lo!"
Brugh!
Mataku membesar saat tangan kekar Bryan terlepas dari
genggaman, dan seseorang dengan tubuh besarnya menarik paksa kerah kemeja Bryan
dan menonjoknya berulang kali.
Bryan terjatuh kelantai jalanan, aku berusaha berdiri dan
mencegahnya.
"Pedro cukup!" aku menarik tangan kanannya yang
hampir saja kembali menghantam wajah Bryan.
Aku membawa cowok blasteran germany itu menjauh dari
Bryan.
"Lo apa-apaan sih?"
"lo milik gue Re, lo lupa gue udah resmi jadi cowok
lo!"
Aku menarik nafas panjang dan mengangguk pelan.
Yah, bagaimana mungkin aku lupa, kalau dialah
satu-satunya orang yang hampir saja mati dibunuh keluargaku saat menyatakan
cintanya didepan mereka, karena dialah keluargaku mengusirku saat mereka tau
bahwa aku juga mencintainya.
"Keluar lo dari rumah ini, rumah ini terlalu suci
untuk anak kotor seperti lo!"
Sakit emang saat keluarga kita tak bisa menerima
kekurangan kita.
Dan Pada Pedrolah aku selalu berbagi, bersamaan dengan
aku mengenal Bryan.
"Gue cinta Lo,Re, please be mine, gue janji gue akan
selalu ada buat lo, disaat semua orang mencaci maki lo, gue yang akan selalu
menggenggam tangan Lo!"
Janjinya itulah yang membuatku jatuh hati padanya.
Gue Rere atau Reiginald pramuda sbastian, cowok manis
dan imut yang menyukai cowok bertubuh besar dan tampan.
Apa gue salah, jika gue yang berkelamin cowok lebih
tertarik untuk menjalin hubungan dengan sesama jenis?
Caci dan makian udah sering gue terima, gue bukan gay,
homo atau apalah semacam itu, gue adalah aku.
Persetan dengan mereka,i.m what i'm, aku adalah aku,
lo gak suka silakan fuck-in gue, selama lo mandang sesuatu hanya dari sebelah
mata doang, sampai kapanpun keburukan seseorang yang akan selalu lo lihat.
Hidup itu singkat, nikmatilah apa yang membuat kalian
bahagia, dan kebahagiaan
Gue adalah mereka, Pedro dan Bryan.
Ini adalah kisah hidup Rere (gue) dan cinta terlarang..
Selasa, 09 April 2013
"A Boy To Remember!" {A}
“Dia dimana?”
Kutatap
arloji dipergelangan tangan kiriku, menunggu seseorang yang selalu kutemui
setiap pagi.
Biasanya,
ia datang lebih awal dariku, tapi mengapa hari ini, aku tak melihatnya??
Apa
ia sakit? Atau ia tak akan hadir lagi disini??
Aku
terduduk pada kursi yang biasanya menjadi tepatnya menyender saat menunggu bis
tiba, entah mengapa rasanya begitu nyaman dan bersahabat.
Aku
menutup mataku, mencoba menghirup udara pagi ini yang berhiaskan embun pagi,
sisa ujan kemarin malam.
“Punya sapu tangan atau tissu?”
Pertanyaan
seseorang membuatku membuka mata, suaranya serak tapi begitu merdu.
Mataku
membesar saat aku menatap siapa yang saat ini berdiri didepanku. Dia yang aku
nanti, akhirnya tiba juga.
Aku
mendongakkan wajahku memandangnya yang masih berdiri, oh Tuhan, ia begitu
berwibawa.
“Maaf, lo punya
sapu tangan?”
Tanyanya lagi.
Bodoh segitu terpesonanya aku dengannya, sampai-sampai aku lupa
akan pertanyaannya.
Aku berdiri dan mengangguk cepat, “Ya sebentar!” kataku dengan nada
terbata.
Aku mencari saputangan dalam tasku, setelah berberaaapa saat
akhirnya ketemu juga.
“Nih!” segera
kuserahkan saputangan pink milikku pada pemuda itu yang langsung meraihnya.
“Terimakasih!”
Ia tersenyum tipis menatap saputangan pemberianku, jantung inipun
seketika berhenti berdetak.
Sedetik kemudian Pemuda itu mulai menyapukan saputangan itu pada
wajahnya yangg sedikit berkeringat dibagian keningnya, aku menatapnya lekat.
Ia terduduk masih dengan
mengelapkan saputangan milikk pada wajahnya yang berlanjut ketengkuknya dan
belakang telinganya, “Oh yah, aku sering melihatmu!”
Aku mencoba kembali duduk,mengancingkan kembali tasku, “Oh yah?”
ada rasa tak percaya sedikit saat itu. Apa dia juga selalu memperhatikanku dari
jauh??
“Yah, tentu saja.”
Jawabnya singkat. Ia menatap kedepan, bus yang kami tunggu belum juga nampak.
“Oh yah, Gue
Rayhan cukup panggil Ian tanpa Kasela!” candanya.
Aku tersenyum tipis. Jadi namanya Rayhan.
Seketika ia mengulurkan tangan kanannya, aku membalasnya cepat.
“Nama yang bagus!”
Aku kembali mencoba mengusir rasa grogiku, melepas pegangan tangannya yang
mungkin dapat membuat jantungku terhenti.
“Terimakasih!” ia
tersenyum lagi, tampak lesung pipi di pipi kirinya. “Terus nama Lo?” Tanyanya
sembari melipat sapu tanganku dan memasukkannya dalam saku kemejanya.
“Nama gue Mentari,
tapi cukup panggil Tari.”
Ia mengangguk saat aku menyebutkan namaku, “Itu nama asli?”
tanyanya dengan ekspresi wajahnya yang seketika berubah kaget.
“Asli, kenapa
emang?, apa karena namanya terdengar sangat aneh?”
“Oh tidak, nama
lo bagus kok!” Rayhan mengangguk sambil menarik nafasnya berlahan. “Lo lagi
nunggu bus juga?” tanyanya bersahabat.
Aku mengangguk,” Iya.”
“Lo kuliah?”
tanyanya lagi, aku kembali mengangguk.
Beberapa saat keheningan menemani kami, Rayhan terlihat sibuk
dengan handphone ditangannya sementara aku hanya bisa terdiam sambil sesekali
meliriknya.
“Rayhan!” Suara
seseorang mengagetkan kami.
Gadis cantik berseragam SMA, usianya mungkin berkisar antara enam atau
tujuhbelasan, berjalan santai mendekati Rayhan yang telah berdiri.
Aku menatapa keduanya yang mulai berbicara, begitu akrab dan
terbuka. “siapa dia?”
“Monika, kamu
ngapain disini?” Rayhan mencoba memulai pertanyaan pada gadis SMA itu,
Gadis itu tersenyum. “Kamu lupa, kalau hari ini aku akan ngantar
kamu kekampus.”
Seketika Rayhan menepuk jidatnya pelan, “Astaga aku lupa!”
Aku mencoba berdiri dan menatap Rayhan serta gadis yang dipanggilnya
Monika itu secara bergantian.
Monika menatapku lekat, “Dia?” tanyanya pada Rayhan.
“Dia Tary.” Rayhan
mencoba mengenalkanku.
Monika tersenyum manis sekali, aku membalasnya pelan. “ Nama yang
unik!, dan aku Monika.” ia mengenalkan dirinya.
Gadis ini begitu cantik, apa mungkin ia ada hubungan khusus dengan
Rayhan??
“Kalian pacaran?”
akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari bibirku.
Keduanya tersenyum kemudian saling memandang, “Tidak!” Rayhan
menjawab pertanyaanku, aku menarik nafas lega.
“Syukurlah!”
tapi seketika dadaku sesak, saat Rayhan mencoba merangkul lengan
gadis itu, terlebih saat aku mendengar penuturannya, “Tapi kita bertunangan.”
Jelasnya yang saat itu juga membuat tubuhku seketika melemas.
Perkenalan singkat itupun membuat segalanya berubah, aku tak lagi
mengharapkannya, ternyata ia tak seperti yang kubayangkan. Rayhan, nama yang
hari itu aku ketahui dan nama itulah yang mulai besok harus aku lupakan.
Aku akan mencoba menutup kisah ini dan membuka lembaran baru,
lembaran yang mungkin akan lebih indah dari ini, bukankah Tuhan itu adil, Patah
hati memang sakit, tapi dengan satu senyuman yakinlah hatimu akan terasa
tentram.
Tak mengenalnya itu lebih baik daripada aku harus melupakannya.
Aku menatap KTP milikku, Bibir inipun tersenyum saat mendapati apa
yang tertera disana.
Nama: Mentari Yoga Siahaan
Tempat/tanggal lahir: jakarta, 25 juni 1994
Jenis kelamin: Pria
Oke,Gue Yoga atau lebih enjoy
dipanggil Tari, cowok manis yang menyukai sesama jenis.
Dan
Rayhan bukanlah pemuda pertama yang memasuki hati gue. Ini hidup gue and I’m
Free.
THE END **
"When the Smile's Gone!"
“Sudah berapa
kali aku katakan, bawa jauh-jauh anak cacat itu dari hadapanku,” Seorang lelaki
berkata kasar pada seorang perempuan dan anak kecil yang menangis dalam
pelukannya, Perempuan itu memeluk erat anak semata wayangnya yg ketakutan.
“Cukup Ray, kau
tak perlu berkata kasar seperti itu,”Perempuan itu berkata tak kalah keras
membuat lelaki yg terduduk dikursi ruang tengah itu menatapnya tajam, kemudian
perempuan itu melanjutkan perkataannya,”biar bagaimanapun juga, ingatlah dia
anakmu.”
“Haha, jangan
bermimpi aku tak sudi memiliki anak cacat sepertinya,”Lelaki itu menghisap
rokok yang baru dinyalakannya dan mengacuhkan keduanya.
“Kau
benar-benar tak berhati,”Perempuan itu berkata sambil membawa anaknya menjauh
dari suaminya. Nampak wajah kecewa sang istri akan sikap suaminya itu.
Ray dan Ria
adalah pasangan suami istri yang hidup berkecukupan yang menetap dijakarta, dua
tahun menjalani rumah tangga, akhirnya hadir buah hati ditengah kesunyian
mereka, Andika Muhammad Navaro, atau Dika, ia lahir secara premature, dan saat
lahirpun suatu keanehan terjadi, bayi mungil itu lahir tampa tangis, dan itu
membuat Ria khawatir setelah melalui pemeriksaan ternyata anak mereka
dinyatakan Bisu, sejak mengetahui bahwa Dika bisu, sikap Ray seketika berubah,
entah malu atau apa, ia sama sekali tidak ingin mengakui Dika sebagai anaknya,
walau begiitu Ria sangat menyangi Dika, baginya dika adalah Senyum untuknya.
Dika kini telah tumbuh menjadi anak yang tegar, usianya kini
beranjak delapan tahun, walau bisu tapi ia tak pernah mengeluh, justru ia
sangat ramah pada semua orang, hanya senyum yang selalu ia berikan pada mereka,
senyumnya lebih dari sebuah kata yg terucap,Karena itu Dika sangat disayangi
oleh para tetangga dan ia memiliki banyak teman.
Dengan berat
hati Ria membawa Dika menjauh dari ayahnya,digenggmanya erat tangan dika yang
kedinginan,Ria menuntun Dika berjalan kekamarnya dan membantunya berbaring
diranjang, dengan cinta Ria mencium kening Dika yang mulai memejamkan matanya.
“Maafin mama Dika,apapun yang terjadi Dika harus selalu ingat,
bahwa mama akan selalu ada disamping Dika,menjadi seseorang yg selamanya
menyayangi Dika,” Ria meneteskan air matanya sambil terus mengelus rambut hitam
Dika yang mulai tertidur.
***
Dika berjalan seorang diri menuju Ruang tengah, malam ini seperti
malam sebelumnya ia tak bisa tidur cepat,padahal waktu telah menujukkan pukul
setengah sepuluh malam, tapi matanya masih sulit ia pejamkan, karena itu ia
lebih memilih untuk menuntun televiisi saja diruang tengah.
Seketika langkahnya terhenti ketika melihat ayahnya tertidur pulas
di depan televisi, Dika mengampirinya dan menatapnya dalam-dalam, seketika
senyum terurai dari bibir tipisnya.
“Ayah Dika ganteng yah Tuhan,” hati kecil Dika berkata sambil menatap
ayahnya yang tertidur pulas diruang tengah.
Dika menatap sekeliling mencari sesuatu,tapi Dika berjalan balik
kearah kamarnya dan kembali lagi keruang tengah dengan selimut ditangannya.
Pelan-pelan Dika menyelimuti sang Ayah yg masih tertidur, lalu dika
membersihkan beberapa bedu rokok yang terjatuh dilantai dan membuangnya keasbak
dimeja samping.
Sudah beberapa minggu terakhir ini, Ray lebih memilih untuk tidur
diruang tengah ketimbang dikamarnya bersama Ria, sepertinya keduanya masih
saling marahan dan enggan meminta maaf. Dika tak tau mengapa sang ayah selallu
tidur diruang tengah, saat ia mencoba menanyakan itu pada ibunya, dengan lembut
ibunya menjawab,”Ayahmu harus mengerjakan beberapa pekerjaan, dan ia tak ingin
mengganggu tidur ibu, karena itu ia selalu tertidur diruang tengah, karena
kelelahan.”
Diary Dika (8thn)
Tuhan,mengapa tuhan menciptakan dika jika dika tak sempurna seperti
mereka??
Dika tau Dika tak boleh menyesali apa yang telah dika miliki,bunda
selalu ngajarin Dika agar selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki,walaupun
itu tak seindah milik orang lain.
Dika gak sedih kok tuhan, Tuhan bisa lihat dika tersenyum sekarang,
ini tulus loh J
Kalau dika sedih, bunda pasti sedih, karena itu dika akan selalu
tersenyum didepan Bunda.
Tapi tuhan, apa suatu saat nanti ayah akan mencintai Dika,?
Kalau iya, kapan?
Dika udah gak sabar pingin ngerasain dipeluk ayah,dianterin ayah
sekolah, dan main bola bareng ayah seperti anak lainnya.
Suatu saat nanti itu semua akan terwujudkan Tuhan??
Walaupun ayah benci Dika, sampai kapanpun Dika akan selalu
mencintai ayah.
Dika sayang ayah..
***
Diary Dika (9THN)
Tuhan apa segitu bencinya ayah sama Dika,?
Lalu kenapa ayah begitu membenci Dika??
Apa Dika punya salah sama ayah, kalau iya Dika akan tulus minta maaf
kok,Kalau memang kehadiran Dika buat ayah susah, Dika rela kok tinggal bareng
tuhan,ambil ajah nyawa Dika, asal ayah gak benci lagi sama Dika.
Dika mau sekali ajah ayah peluk Dika saat dika ketakutan dan
bantuin Dika ngerjain PR yang menurut Dika susah.
Tuhan apa mimpi Dika akan terwujud??
“Dika, kamu butuh uang untuk beli sesuatu?”Tanya Ria sambil menatap
Dika yang mengangguk.
Ria menghentikan memotong sayur dan menatap Dika yang berdiri
disampingnya.
“Memang uang itu untuk apa?”Tanya Ria lembut membuat Dika terdiam
sejenak.
“A..A..A..” Dika mencoba menjawab pertanyaan sang bunda membuat Ria
menatapnya gemas.
Ria tersenyum tipis mencoba mengerti apa yang ingin diutaran
Dika,”Kamu butuh berapa?”Ria menatap Dika yang mulai berhitung dengan jemari tangannya.
Dika mengangkat lima jari tangan kanannya keatas dada dan bulatan
dijari tangan kirinya,” i..aa.. a...us..”
Ria mencoba menerka angka yg tercipta dijemari keduatangan
Dika,”Lima ratus ribu?” Tanya Ria membuat Dika mengangguk cepat.
Ray mencari sepatu hitamnya dideretan sepatu yang terpanpang
disudut ruangan..
“Ria, sepatu kerjaku Mana?” Tanya Ray setengah berteriak pada Ria
yg sedang memasak didapur,
Terdengar samar2 sahutan dari dapur,” Bukannya sepatu kerja kamu
udah rusak,”
Jawaban Ria itu membuat Ray menarik nafas panjang.. bagaimana ia
bisa lupa, untuk membeli sepatu kerja yang baru, kalau begini bagaimana bisa ia
berangkat kekantor.
“U..at.. a..yah...” Dika menyodorkan sebuah kotak sepatu ke arah
Ray yg menatapnya tajam.
Ditatapnya kardus sepatu hitam yg kini berpindah ketangannya.
“nyuri dimana kamu?” Pertanyaan Ray membuat Dika mengelengkan
wajahnya cepat.
“I..KA.. A..U..LI..” Kata2 Dika membuat Ray menatapnya tajam.
Seketika sebuah tamparan mendarat tepat dipipi putih Dika,” sejak
kapan, kamu belajar jadi pencuri huh?” teriak Ray keras membuat Dika menunduk.
“Ray, apa-apan kamu,” Ria menghampiri keduanya dan menatap dika yg
menunduk.
“Liat anak kamu, masih kecil udah belajar jadi pencuri,” Ray
mendorong tubuh kecil dika hingga terjatuh.
“Cukup Ray, jaga kata2 kamu, Dika gak mungkin mencuri.”
“Kalau begitu dari mana, dia bisa dapat uang sebanyak itu buat beli
sepatu, huh?”
Ria menahan amarahnya dan membantu Dika berdiri,”asal kamu tau,
uang itu aku yang kasih, dan aku gak pernah menyangka kalau uang yg aku kasih
itu dika gunakan untuk membeli sepatu kerja untuk kamu,”
Ray menatap Ria tajam yg masih bicara.
“Dan kamu tau berapa harga sepatu itu, lima ratus Ribu, aku hanya
memberi dika tiga ratus ribu dan sisanya Dika ambil dari uang tabungan dia,
dika rela gak jadi beli robot-robotan demi beliin sepatu kerja baru buat kamu,
dan kamu masih bisa-bisanya bilang kalau dika itu pencuri.”
Ray mengembalika kardus sepatu ketangan Ria,” hari ini aku bolos
kerja, dan bilang sama anakmu, berhenti bersikap baik padaku, karena aku tak
butuh semua itu,” Ray berkata sambil berlalu dari hadapan Ria dan Dika. Ria
mengelus pelan pipi Dika yg seketika memerah akibat tamparan Ray.
“Maafin ayah kamu yah?”
Dika hanya mengangguk dan lagi-lagi ia tersenyum. Dika adalah
senyum kebahagian Ria, sekarang dan selamanya.
***
Diary Dika (10thn)
Tuhan, hari ini Dika kenaikan kelas,Dika senang banget karena dika
juara kelas,makasih yah tuhan, karena tuhan dika jadi semakin disayang sama
bunda. Walaupun ayah gak datang waktu pembagian rapot,tapi Dika cukup senang
kok, setidaknya nanti dirumah Dika bisa kasih tunjuk ayah nilai rapot Dika.
Biar ayah bangga dan gak benci lagi sama Dika.
“Bunda bangga sama kamu Dika,”Ria berkata sambil menciumi rambut
hitam Dika. Dika tersenyum senang.
Mereka telah tiba dirumah, tak sabar rasanya Dika ingin
memberitaukan ayahnya bahwa ia juara kelas.
Dika mencari ayahnya disemua ruangan tapi ia tak mendapati Ray
dimanapun, Dika terduduk sedih diruang tengah.
“Tuhan ayah Dika dimana?, kenapa ayah pergi padahalkan Dika mau
ngasih tunjuk ayah hasil rapot Dika..” Dika menatap sedih rapot merah
ditangannya.
Tak beberapa lama, Ray tiba dari arah timur, Dika tersenyum
menyamut kedatagan sang ayah yang telah dinantinya sedari tadi.
Dika berdiri dari duduknya, ditaruhnya rapotnya dimeja samping,
Dika menyalami tangan sang ayah yang menatapnya tajam, dituntunnya sang ayah
higga tepat didepan kursi panjang.
Ray terduduk, espresi wajahnya masih datar, Dika membantunya
membukakan sepatu dan juga jas yang Ray kenakan.
Dika berlalu dengan memegang sepasang sepatu ditangan kanannya dan
jas hitam ditangan kirinya, mencoba menaruh jas dan sepatu itu ditempat biasa.
Sepergian Dika, Ray menatap Rapot merah disampignya. di raihnya
rapot itu dan mulai memperhatikan setiap nilai yang tertera disana.
Tak ada nilai merah satupun, tapi tetap saja espresinya tak
berubah.
Dika kembali degan secagkir kopi ditangannya, cangkir itu seraya ia
letakkan diatas meja. Dika menatap sang ayah yang sedang memeperhatikan nilai
Rapotnya, iapun tersenyum senang.
“Tuhan, sebentar lagi pasti ayah Dika bakal bangga sama Dika,”
hati kecilnya berkata riang, tak sabar ia menunggu sang ayah mengatakan sesuatu
untuknya.
Ray menutup Rapot ditangannya dan menatap Dika yang telah anteng
duduk disampingnya.
“Kamu nyontek lagi?”
pertanyaan Rya itupun seketika membuat Dika menggeleng.
Ria tiba menghampiri sang suami dan anaknya, “Ray, kamu gak ucapin
selamat buat Dika?” Ria berdiri didepan Ray yang masih terduduk, sebetika Ray
menatapnya tajam.
“Untuk apa, tak ada yang perlu dibanggakan dari hasil sebuah
contekan.” Ray meraih sebutung rokok dari kemeja putihnya. Ria menatapnya
geram.
“Dika tidak menyontek,nilai itu hasil kerja keras dia sendiri,”
Bela Ria keras.
Dika menunduk, harapannya untuk membuat ayahnya bangga ternyata
gagal lagi.
Setiap tahun memang selalu itu yang ray katakan, saat Dika mendapat
nilai plus.
Mencontek??? Ray selalu bertanggapan bahwa hasil plus yang
didapatkan Dika adalah hasil contekan,
“Dia itu Bisu, gak mungkin dapat nilai plus kalau tidak hasil
contekan,” Timbal Ray lagi,
***
Dika terduduk dibangku panjang lapangan sekolahnya.. ditatapya
sekeliling, diriya yag tak sempurna dalam berucap, membuat sang bunda
menyekolahkannya disekolah khusus anak-anak tak sempurna sepertinya atau lebih
dikenal dengan sebutan sekolah luar biasa.
Anak-anak itu sama sepertinya, sebagian ada yang bisu, atau mungkin
keterbelakangan mental, tapi satu yang membuat Dika sedih, megapa mereka
masih bisa tersenyumm riang dan bercada gurau bersama sang ayah, sementara
dirinya tidak??
Sebuah bola bundar dipeluknya erat, sesekali ia megkrucutkan
bibirnya, ia ingin seperti mereka bermain bersama sang ayah dan tertawa riang..
“Ayah, wahyu gak
bisa,” Seorang anak dengan tongkat ditangannya sebagai penyaggah kakinya yang
tak sempurna atau lumpuh berkata pada sang ayah yang sedang mengajarinya
menendang bola dengan kaki kirinya.
“Kalau wahyu
berusaha pasti wahyu bisa,ayah selalu disini untuk Wahyu,” sang ayah tak
henti-hentinya menyemangati sang anak yang mengangguk.
Wahyu berusaha mecoba, menendang bola didepannya dengan kaki
kirinya, tapi bola itu tak bergerak dan justru Wahyu yang terjatuh.
“Wahyu!!” Sang
ayah menghampiri sang anak cemas, diraihnya tangan mungilnya dibantunya
berdiri, kemudian sang ayah mengobati luka dilutut kaki wahyu yang kesakitan.
Dika mengalihkan padangannya, menengok kekiri, pemadangan itu hanya
membuatnya iri.
“Cinta ingin ice
Krim?”
Lagi-lagi kemesraann ayah dan anak terlihat jelas didepan matanya.
Anak perempuan seusianya yang tak dapat melihat hanya mengangguk
pelan mendengar pertanyaan sang ayah yang meggenggam tangannya.
“Dua yah,
stawberry dan vanila,” Cinta berkata Riang pada sang ayah yang tersenyum.
Lagi-lagi Dika membuang nafasnya berlahan, setiap hari memang
inilah yang selalu dilihatnya setiap kali tiba disekolah.
Tuhan, kapan Dika bisa seperti ,mereka, bermain bola bersama ayah
dan ayah membelikan Dika ice krim??
Apa Dika dosa tuhan, jika Dika iri sama mereka???
Dika
melangkahkan kakinya mendekati pintu kamar orangtuanya, bola bundar itu masih
dalam dekapannya, rencananya Dika ingin mengajak sang ayah bermain bola, siapa
tau kali ini ayahnya tak menolak seperti kemarin-kemarin.
Dika
telah tiba didepan pintu kamar, menatap kedalam ruangan yag kebetulan terbuka,
dilihatnya sang bunda dan ayahnya yang sedang berdebat. Dika terdiam dan mendengarkan
setiap kkata yang mereka debatkan.
“Sampai kapan kau akan sekejam itu
pada Dika, ingatlah Ray dia itu anakmu,” Ria berkata keras, ia menatap Suaminya
yang berdiri memebelakanginya.
Kedua
tangan Ray ia tekuk da letakka didada, “Sudah berapa kali aku katakan, anak
bisu itu bukan anakku.”
Mata
Dika berkaca-kaca saat pendengar perkataan Ray itu, Bola dalam genggamannyapun
terjatuh seketika.
“Tapi Dika sangat mencintaimu, aku
mohon jangan lukai Dika lagi Ray,” Suara
Ria mulai bergetar, tapi Ray tak peduli, hati dan perasaannya tetap enggan
mengakui Dika sebagai anaknya.
“Aku tak butuh semua perhatiannya,
Dia itu bisu, apa yang bisa kubanggakan dari anak bisu sepertinya, dia hanya
membuatku susah.”
“Ray, kau sungguh tak berhati.” Ria
mengepalkan tangannya kesal, ingin sekali ia meampar wajah suaminya itu, tapi
ia tak mampu.
“Katakan padanya untuk berhenti
bersikap baik padaku, aku tak akan mencintainya sebelum ia benar-benar bisa
berbicara.”
Diary
Dika
Tuhan,
sekarang Dika sadar kenapa ayah benci Dika, karena Dika bisu, benarkan Tuhan??
Ayah
malu punya anak bisu macam Dika, ayah akan mencintai Dika jika dika udah bisa
berbicara.
Dika
bisu dan dika sadar selamanya Dika tak akan pernah bisa bicara.
Itu
berarti selamanya ayah tak akan sayang sama Dika.
Tapi
tunggu, bukankah keajaiban itu ada??
Tuhan,
Dika pingin banget bisa bicara, dan bilang kalau Dika sayang ayah dan bunda.
Sehari
ajah tuhan, Dika mohon.setelah itu dika bisu lagi juga gak apa2
Asal
ayah bisa dengar kalau dika sayang ayah..
Dika
percaya keajaiban karena Dika percaya
Tuhan itu ada..
***
“Bagaimana keadaan putra saya Dok?”
Tanya Ria pada seorang Doktor yang menangani Dika.
Satu
jam setelah Dika mencurahkan perasaannya pada Tuhan, ia merasakan sakit
dikepalanya, karena tak ingin membuat sang bunda cemas, Dika memilih untuk tak
menceritakan semuanya.
Dika
membaringkan tubuhnya diranjang, sakit dikepalanya semakin terasa, ia menutup
matanya berlahan, sebelum semuanya hitam dan gelap, Dika pingsan.
“Kondisi putra ibu sangat
mengkawatirkan, putra ibu terkena tumor otak, dan kemungkinan sembuh sangatlah
minim,”
Seketika
tubuh Ria melemas mendengar pengakuan sang doktor, bagaimana bisa anaknya yang
masih sangat kecil terserang penyakit mematikan seperti ini.
Ria
terduduk disamping ranjang Dika, ditatapya Dika yang tertidur pulas, mungkin ia
sangat lelah.
Ria
mengelus lembut rambut hitam Dika, air matanyapun tak kuasa ia teteskan.
“Dika jangan takut, semuanya akan
baik-baik saja, Bunda akan selalu disamping Dika sampai kapanpun, kalaupun
nanti Dika pergi, Dika gak usah cemas, disana Tuhan pasti akan menjaga Dika,
apapun yang dika minta pasti Tuhan beri,tapi
Dika harus tetap kuat dan tersenyum.” Ria menghapus air matanya yang
terjatuh, dengan lembut diciumnya kening Dika yang dingin.
“Bunda sayang Dika.”
Matanya memang terpejam tapi dengan jelas Dika
mendengar setiap kata yang diucapkan sang bunda.
Diary
Dika
Tuhan
tumor otak itu apa?
Apa
penyakit itu sangat parah??
Kalau
tidak, kenapa bunda nangis waktu cerita tentang penyakit Dika?
Kenapa
Doktor bilang sama bunda, umur Dika gak akan lama lagi??
Apa
itu berarti Dika akan pergi??
Pokoknya
Dika gak mau pergi, sebelum ayah sayang sama Dika.
Titik...
***
Dengan perasaan tak menentu, Ray
melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah Dika, matanya menatap sekeliling,
menyaksikan beberapa orangtua yang menunggu anaknya pulang sekolah.
Ini
kali pertama ray menyembut Dika sepulang sekolah, kalau saja Ria tak meohon
padanya dan menangis mungkin selamanya ia tak akan pernah menginjakkan kakinya
disekolahh yang penuh dengan ketidaksempurnaan.
“Kamu pasti ayahnya Dika?” seorang
perempuan seusia Ria berdiri didepannya, Ray mengangguk pelan.
“Tau dari mana?” tanyanya bingung.
Wanita
itu tersenyum tipis, “Saya Lisa, gurunya Dika, dika cerita banyak tentang
ayahnya yang tampan dan baik hati.”
Ray
menghernitkan keningnya bingung, tampan dan baik hati, bagaimana bisa dika
berkata seperti itu, mengingat dirinya yang selalu kasar pada Dika.
“Dika Bisu, dia gak mungkin mengatakan saya baik dan
tampan.”
“Dika memang bisu, tapi dia tidak
buta,” Lisa meraih sesuatu dari tas hitamnya, secarik kertas putih yang
langsung ia sodorkan pada Ray.
“Dika selalu menulis dikertas itu,
saat ingin berkomunikasi dengan saya.”
Berlahan
Ray membacanya.
Bu guru ayah Dika tampan Loh, gak kalah dech ama david bekam (David
beckham maksudnya),,
Selain itu ayah dika juga baik loh bu, walaupun ayah gak pernah nganter
Dikka sekolah, tapi Dika tau suatu saat nanti pasti ayah mau jemput Dika pulang
sekolah, terus main bola bareng Dika dan beliin Dika es krim...
Bu guru nanti kalau ketemu sama ayah Dika, bu guru gak boleh naksir
yahh, Dika tau bu guru pasti jatuh cinta ama ayah dika yang ganteng dan baik,
tapi ayah Dika udah punya bunda, bunda dan ayah akan selalu selamanya,,,
Bu guru, Dika sayang banget sama mereka... Dika pingin selamanya
disisi mereka..
Disisi bunda Dika yang cantik dan ayah Dika yang baik dan
ganteng...
Oh yah, Dika mau ucapin makasih ama bu guru, yang udah setia degerin
setiap cerita Dika..
Dika juga sayang bu guru, nanti kalau Dika pergi, bu guru jangan lupain Dika yah, dan maaf
kalau Dika punya banyak salah sama ibu.
bu guru, nanti kalaiu Dika benar-benar pergi, bu guru jangan cerita
sama ayah yah, kalau Dika sering cerita tentang ayah, Dika gak mau ayah marah
dan benci Dika,
Ini cukup jadi rahasia kita yah bu, Dika percaya sama bu guru.
Bu guru percayakan ayah Dika ganteng dan baik???
Entah mengapa setelah membaca semua yang dituliskan Dika diselembar
kertas putih itu, air mata Ray seketika terjatuh.
Ini kali pertama Ray menangis, dan ia menangis karena Dika,
mungkinkah ia telah menyadari kesalahan besar yang selama ini ia lakukan pada
Dika??
Ia mengkapus air matanya, melipat kertas putih itu dan mengembalikannya
pada Lisa yang langsung menerimanya.
“Saya tau, anda
selalu kasar pada Dika, tapi saya salut, sebesar apapun anda membencinya,
sedikitpun Dika tak pernah membenci anda, seharusnya anda bangga pada Dika, Dia
adalah malaikat kecil yang tak berdosa,” Lisa menatap kearah Dika yang berlari
kearah keduanya, dika tersenyum senang mendapati ayahnya menjemputnya.
Dika segera memeluk Ray senang sesampainya disana, Ray terdiam tak
bersuara.
Dika memang sering memeluknya seperti ini, tapi kali ini pelukan
itu begitu hangat dan nyaman, berlahan
Dika melepaskan pelukannya.
Dika menatap Lisa yang buru-buru measukka kertas ditangannya
kembali ketas hitamnya, ia tersenyum tipis pada Dika yang mencoba menuliska
sesuatu pada kertas kecil yang diraihnya dari saku seragamnya. Tak beberapa
lama kertas itu telah berpindah ketangan putih Lisa.
Bu guru, ayah Dika ganteng kan??
Lisa tersenyum lebar saat mendapati apa yang dituliskan murid
kesayangannya itu. Lisa mengembalikan kertas itu kembali pada Dika, setelah ia
menulis balasan untuk Dika dikertas putih itu. Ray menatap keduanya yang masih
berkomunikasi lewat kertas.
Iya, ayah Dika tampan.. sangat tampan...
Iya sangat tampan dan baik, Dika bangga jadi anak ayah, sekarang
teman-teman Dika pasti iri sama Dika , karena Dika punya ayah yang tampan dan
baik.
Mereka yang sehharusnya bangga memiliki anak sepertimu Dika, ibu
bangga padamu.
Terimakasih, Dika sayang BU GURU.
Ibu juga sayang Dika.
***
Sepajang perjalanan pulang, Rey terus menatap Dika yang berjalan
disampingnya, senyuman senang tak pernah lepas dari bibirnya.
Dika melompat-lompat kecil, menendang pelan setiap krikil didepan
kakinya, sesekali ia tersenyum pada sang ayah yang menatapnya tajam.
“Kamu kenapa?”
Tanya Ray sembari berhenti dipinggir trotoar yang diikuti langsung oleh Dika.
Dika tersenyum tipis, ia menggelengkan kepalanya, senyum manis
masih menghiasi bibirnya.
Beberapa mobil dan kendaraan lainnya berlalu lalang didepan mereka,
hingga lampu lalu lintas itu berubah
warna merah, semua kedaraanpun terhenti..
Dika meyebrang santai disamping kiri Ray, Ray menatapnya
sejenak, beberapa manusia ikut
menyebrang bersama mereka, setibanya ditengah Ray mencoba meraih tangan Dika
dan menggenggamnya.
Dika terdiam tak percaya, ini kali pertama sang ayah menggenggam
tangannya, hati kecilnyapun berlonjak-lonjak kegirangan.
Hingga akhirnnya mereka sampai diseberang, sepanjang perjalanan
tangan Ray tak pernah lepas dari jemari kurus Dika, merekapun tiba disebuah
taman yang cukup besar, dan berhenti.
Taman ini memang selalu Dika lalui setiap kali pulang sekolah
bersama bunda, dan taman inilah tepat Dika melepas kegundahan hatinya.
“Kamu mau ice krim?”Tanya Ray saat mendapati tukang Ice
krim yang tak jauh dari tempat berdiri mereka, dengan cepat Dika mengangguk.
Ray melepas pegangan tangannya, “Kamu tunggu disini, jangan
kemana-mana!” seru Ray lagi pada Dika yang kembali mengangguk, Raypun segera
berlalu menghampiri sang penjual ice krim.
Tak beberapa lama Ray tiba dengan ice krim coklat ditangannya, disodorkannya ice krim itu pada Dika
sesampainya disamping anaknya. Dika meraihnya dan langsung menyantapnya. Untuk
kali pertama Ray tersenyum tipis melihat Dika yang dengan lahapnya menyantap
ICE Krim pemberiannya.Merekapun sempat bermain bola, sebelum kembali kerumah.
Entah mengapa hari ini sikap ray, sangat jauh berbeda, iapun tak
malu megenalkan dirinya sebagai ayah Dika pd beberapa orang yang menanyakan
mereka.
Dika tak menyangka apa yang ia impikan selama ini ternyata
terwujud.
Dika terduduk dimeja belajarnya, kepalanya kembali terasa sakit,
tapi ia tak peduli, ia berusaha menulis, mungkin itulah tulisan terakhirnya..
Tuhan, tadi ayah jemput Dika disekolah, Dika bahagia banget,
teman-teman Dika pada iri kaarena ayah dikka ganteng.
Ayah juga bersedia main bola bareng Dika dan beliin Dika ice krim,
Pokoknya hari ini adalah hari terindah Dika.
Terimakasih tuhan, karena sekarang ayah Dika udah gakk benci lagi
sama Dika.
Sekarang Dika udah siap pergi.
Dika berhenti meNulis sejenak, mengurut kepalanya pelan dengan
kedua tangan kecilnya.
Tuhan, kenapa kepala dika sakit banget, apa sekarang Dika
benar-benar harus pergi??
Walaupun berat tapi dika terima kok, ini pasti yang terbaik untuk
Dika.
Eh tapi tunggu, Dika mau nyampein dulu sesuatu.
Buat bunda, bunda adalah bunda terbaik diseluruh dunia,terimakasih
untuk seMuanya.
Dika sayang sayang sayang banget sama bunda.
Dan untukk ayah, ayah taukan kalau dika sayang-sayang banget sama
ayah,
Ayah janji yah gak akan ngelupain Dika.
Dika harus pergi karena Tuhan nunggu Dika disurga, apapun itu ayah
harus tetap tersenyum dan jangan buat bunda Dika sedih yah..
DIKA SAYANG AYAH DAN BUNDA.
Permintaan terakhir Dika Cuma satu ya Tuhan...
Dika pingin banget punya adik, biar bisa nemenin bunda sama ayah
dirumah.
Dika memang tak dapat bicara, cara inilah yang ia lakukan untuk
dapat berkomunikasi dengan Tuhan-Nya,dan pada usia 11tahun2bulan10hari, Dika
menghembuskan nafas terakhirnya. Dengan senyum yang menghiasi wajah pucatnya.
Ray membaca semua yang ditulis oleh Dika pada diary biru
itu,hatinya seketika tersentuh dan menyesali semua perbuatan kasarnya pada
Dika.
Ray melihat gambar buatan tangan Dika dibagian akhir buku, lukisa
seorang anak laki-laki yang bergandengan tangan dengan seorang lelaki bertubuh
tinggi, dibawah gambar itu terdapat sebuah tulisan kecil...
Dika dan ayah...!!
Dika akan selalu menggenggam tangan ayah, sampai ayah tua nanti.
Ray tak kuasa meneteskan air matanya,bagaimanabisa ia
menyia-nyiakan anak sebaik Dika.
Ditatapnya sekeliling kamar Dika yang kini seakan sepi, padahal
biasanya setiap Ray pulang kerja ia selalu saja mendengar Dika yang sibuk
menghafal kunci gitar, bayangan Dika tersenyum, tertawa berlari kecil
megelilingi Ray, terliang jelas dimatanya.
Semuanya telah terlambat, dika telah pergi dan ia tak akan kembali
lagi.
Ditaruhnya bbuku itu diatas meja belajar Dika, lalu Ray meraih
kkotak sepatu yg sempat ia tolak dari Dika, ray terduduk dipinggir ranjang
Dika, dan mecoba menjajalkan sepatu hitam
itu, sedikit kebesaran memang, tapi Ray sangat menyukainya.
“terimakasih Dika untuk semuanya, dan maaf bila selama ini ayah
selalu kasar sama kamu, ayah menyesal telah melakukan semua itu, mungkin ayah
adalah orangtua terkejam didunia ini, seharusnya ayah yang menggandeng tangan
Dika dan nganterin dika sekolah, tapi justru ayahlah yang selalu membuat Dika
menangis, seharusnya ayah saja yang pergi, bukan kamu dika, jalan kamu masih
panjang, masih banyak ,mimpi yang harus kamu raih, Ayah sayang Dika.kamu dengar
itu Dika, AYAH SAYANG DIKA.”
Air matanya mengalir bersama dengan suaranya yang bergetar.
Walaupun terlambat,tapi Dika cukup bahagia, karena sekarang ia tau,
bahwa ayahnya sangat menyayanginya.
Kini senyuman yg selalu menghiasi keluarga kecil itu telah pergi,
hanya tinggal kenangan manis disana. When the Smile’s Gone, you never know
where to found it again?
5THN Kemudian..
Doa terakhir dika untuk memiliki adik akhirnya terkabulkan,
setengah tahun setelah kepergian Dika, Ria dinyatakan hamil, Sembilan bulan
kemudian, Ria melahirka bayi prempuan yang sangat manis, yang selalu mereka
panggil Diana.
Kini diana tubuh menjadi anak yang cukup lincah, wajahnya tak jauh
beda dengan Dika, ia selalu menampakkan senyum dibibir tipisnya.
5tahun berlalu sudah, walau sulit, kenangan tentang Dika sedikit
terlupakan dengan kehadiran Diana.
Tapi sampai kapanpun, Dika tetaplah senyum untuk Ria dan Ray.
THE END
Langganan:
Postingan (Atom)


