Facebook Badge

Sabtu, 27 Oktober 2012

"The One I Love!" #PART7


Planning pertama
*istirahat Dyland and beni.
"apaan nech?" tanya Dyland sambil menatap coklat pemberian beni ditangannya.

"coklat buat Sasya" jawab beni.

"kenapa loe kasih gue, loe kasih orangnya ajah langsung"
Dyland berkata sambil mengembalikan coklat pada beni tp beni menolaknya.

"dasar cumi, gue sengaja kasih coklat itu sama loe,biar loe yg ngasih coklat itu sama Sasya, anggap ajah coklat itu dari loe untuk Sasya sebagai ucapan maaf"
Kata2 beni membuat Dyland menatap coklat ditangannya.

"gue kasihnya kapan?" tanya Dyland pada beni yg berdiri didepannya.

"nanti lebaran gajah" jawab beni asal membuat Dyland tersenyum tipis.

"ok's nanti kalau lebaran gajah tiba loe sms gue" Dyland berkata sambil berjalan kedepan meninggalkan beni y tampak kebingungan.




Dyland menghampiri Sasya y senang duduk dipinggir lapangan, matanya terus menatap ketengah lapangan.
Tampak mario cs yg sedang bermain basket.
Sasya duduk dibangku panjang kayu sambil memegang sebotol air ditangannya.

"buat loe"
Dyland berkata sambil menyodorkan sebatang coklat kearah Sasya.
Sasya terdiam sambil menatap Dyland yg berdiri.

"ambillah"
Dyland menatap Sasya yg berdiri, coklat itu masih berada ditangan Dyland karena memang Sasya tak langsung mengambilnya.

"ini buat aku?" pertanyaan Sasya membuat Dyland mengangguk sambil tersenyum senang.
Sasya mengambil coklat dari tangan Dyland dan menatapnya.

"coklat itu sebagai permintaan maaf gue sama loe, makanlah"
Kata2 Dyland membuat Sasya mengembalikan kembali coklat ditangannya pada Dyland.

"terimakasih, tapi aku ga suka coklat"
Sasya berlalu pergi setelah mengatakan itu.
Dyland hanya terdiam tak berkutik hingga sebuah bola basket mengarah kearahnya.
 Bugh..
Planning pertama (coklat) GAGAL



"apa? Sasya nolak coklat pemberian loe karena Sasya ga suka coklat?" tanya beni tak percaya pada Dyland yg mengelus2 kepalanya akibat bola keras y mengenai kepalanya dan Dyland hanya mengangguk.

"setau gue cewe itu suka coklat, tapi kenapa Sasya malah ga suka?"
Tanya beni sambil menatap coklat diatas meja miliknya.
Dyland y duduk disampingnya hanya terdiam sambil mengambil hp disaku seragamnya.
Dyland berdiri membuat beni menatapnya.

"mau kemana loe dil?"
Tanya beni pada Dyland y masih sibuk dgn hp ditangannya.

"toilet" jawab Dyland singkat dan berlalu pergi.



Planning kedua
*Dyland and mario*

Mario memasuki toilet cowo setelah mendapat pesan dari Dyland bahwa Dyland menunggunya ditoilet.
Mariopun memasuki toilet dilihatnya Dyland yg sedang bercermin.

"loe nyari gue, troublemaker?" tanya mario sambil berdiri disamping Dyland.
Dyland berhenti bercermin dan menatap mario tajam.

"kenapa dil, loe mau berkelahi sama gue disini karena tadi gue lempar loe pake bola" kata mario lagi.

"jadi loe y lempar bola kekepala gue?" tanya Dyland dan mario mengangguk.

"Gimana lemparan gue tepatkan mengenai sasaran"
Mario berkata sambil menarik tissue disamping Dyland lalu meremas dan membulatkannya menjadi seperti bola dan dilemparkan kearah Dyland hingga mengenai wajah Dyland.

"loe mau mati?" pertanyaan Dyland membuat mario tersenyum mengancam.

"tonjok gue" kata Dyland tiba2 membuat mario terkejut.

"apa??" tanya mario sambil menatap Dyland yg menatapnya tajam.

"tonjok gue, apa perlu gue teriak"
Perkataan Dyland membuat mario berfikir sejenak sebelum kembali bicara.

"loe mau jebak gue, Dyland?"
Mario berkata sambil menengok kiri kanan.

"gue serius, gue rasa tonjokan loe cukup keras walaupun ga berarti apa2 buat gue, yah setidaknya bisa melukai wajah gue"

"maksud loe?"
Tanya mario bingung.

"udah jangan banyak nanya, sekarang tonjok gue"

"loe serius?"
Tanya mario sambil menatap Dyland y mengangguk dan menunjuk pipi kanannya.
Dan tanpa perlu waktu lama mario segera mengepalkan tangannya dan sebuah tonjokan mendarat tepat dipipi kanan Dyland.
Bugh..

"aww" rintih Dyland kesakitan.
Membuat mario tersenyum puas walaupun sebenarnya mario masih belum mengerti mengapa tiba2 Dyland menyuruhnya untuk melukai dirinya sendiri (Dyland).


Dyland menatap wajahnya y terluka didepan cermin toilet cowo.

"Sasya pasti khawatir liat gue terluka seperti ini"
Dyland berkata dalam hati dan berlalu keluar.


Sasya menatap Dyland y berjalan kearahnya hingga Dyland berdiri didepannya.

"bibir kamu kenapa? Kamu berkelahi lagi?" tanya Sasya pelan.

"udah biasa" jawab Dyland singkat.

"kamu ga mau obatin luka aku?" tanya Dyland ragu membuat Sasya menggeleng.

"bukankah sudah biasa, berapakalipun aku obatin luka kamu, kamu akan tetap seperti ini" kata Sasya sambil melangkahkan kakinya memasuki kelas.
Dari dalam kelas Sasya menatap Dyland yg menunduk, apakah Sasya salah jika menolak untuk mengobati luka Dyland?
Planning kedua (Luka) GAGAL.




Planning ketiga--->

*Dyland Beny and wulan*

"trus apa rencana loe dil?" tanya wulan sambil memakan coklat ditangannya. Pertanyaan wulan membuat Dyland menggeleng.

"kenapa loe ga nyoba ngerayu Sasya?"
Kata2 beni membuat Dyland tersenyum sinis.

"ga akan"

Saat ini mereka berada ditaman belakang sekolah.

"gue udah tau apa y harus gue lakukan" Dyland berkata sambil menatap beberapa anak yg berlalu dihadapannya.

"apa? Loe bakal rayu Sasya?" perkataan beni membuat Dyland memukul lengan beny.

"udah berapa kali gue bilang sama loe, sampai kapanpun gue ga akan pernah ngerayu cewe, ngerti" Dyland berkata keras membuat beni mengangguk.

"trus rencana loe apa?" tanya wulan sambil menatap Dyland yg tersenyum.

"rahasia, kalian tunggu ajah pulang sekolah nanti"
Kata2 Dyland membuat beni dan wulan saling memandang penuh penasaran.



Akhirnya bel pulang berdering Dyland mempercepat langkahnya keluar kelas mengejar Sasya yg keluar terlebih dahulu.

"Sasya, tunggu gue" teriakan Dyland membuat Sasya menghentikan langkahnya sambil menatap Dyland yg berdiri disampingnya.

"ada apa Dyland?"
Tanya Sasya sambil mengalihkan pandangannya dari sorot mata Dyland.

"sampai kapan loe seperti ini sya, jujur gue rindu Sasya yg dulu selalu ada buat gue"
Dyland berkata sambil menatap Sasya yg tak berani menatapnya.

"tatap gue sya, kenapa? Loe takut kalau loe ga bisa benci gue?"
Tak ada jawaban dari Sasya Dyland menggenggam tangan Sasya dan membawanya hingga ketengah lapangan.

"lepasin gue dil dan biarin gue pergi" Sasya berkata sambil melepaskan pegangan tangan Dyland.

"gue minta maaf, apa kata maaf gue ga cukup untuk loe maafin gue"

"kamu pikir dgn kata maaf, hati aku yg udah kamu sakiti dgn mudahnya memaafkan, kamu udah terlalu melukai perasaanku dil"
Beberapa anak y lewat menatap keduanya tajam.

"kamu tau gimana sakitnya hati aku saat kamu bilang aku bukan siapa2 buat kamu, selama ini aku bersabar dgn semua perlakuan kasar kamu tp kali ini kesabaran aku udah habis"
Sasya menundukkan wajahnya, tidak ia tak boleh menangis, Sasya harus kuat.

"kamu yg mengajari aku mencintaimu, ajari aku pula cara melupakanmu"
Kata2 Sasya membuat Dyland mendekati dan menaikkan dagu Sasya agar menatapnya.

"dasar bodoh, apa kau pikir aku akan mengajarimu bagaimana cara untuk melupakanku kalaupun aku ajarkan aku yakin itu semua akan sia2 karena kau tak pernah bisa melupakanku"

"aku memang bodoh,karena terlalu mencintaimu"
Kata Sasya membuat Dyland tersenyum.

"dasar bodoh, apa kau marah padaku karena aku tak mengakuimu sebagai pacarku, apakah itu penting untukmu?"
Sasya terdiam, Dyland masih memegang dagu Sasya yg lembut.

"aku tak mengakuimu sebagai pacarku karena kau memang bukan pacarku tapi kau adalah seseorang yg sangat special untukku melebihi seorang pacar dan aku tak tau apa namanya"
Kata2 Dyland membuat Sasya tersenyum kecil.

"benarkah?"

"dasar bodoh, aku memang selalu membohongi semua orang tp apa aku pernah berbohong padamu?"
Pertanyaan Dyland membuat Sasya menggeleng.
Dyland menjauhkan tangannya dari dagu Sasya dan membalikkan badannya membelakangi Sasya.

"seharusnya aku yg marah padamu, karena kau tak pernah mempercayaiku"
Perkataan Dyland membuat Sasya berdiri disamping Dyland.

"aku percaya padamu"

"kalau kau percaya padaku, kau tak akan marah saat aku mengatakan kau bukan pacarku, bukankah sebuah kata tak ada artinya jika kau percaya padaku seutuhnya"

"aku percaya sama kamu Dyland, maaf"

"aku pikir kamu beda dgn semua manusia didunia ini yg tak pernah mempercayaiku, tp ternyata kau sama seperti mereka"

"Dyland..."

"kamu ga pernah percaya kalau aku benar2 mencintaimu, benarkan?"
Dyland berkata sambil menatap Sasya yg terdiam.

"ternyata kau tak pernah mempercayaiku" Dyland berkata sambil berlalu pergi.

"Dyland" teriak Sasya, tapi Dyland trus menjauh darinya.


Dyland menghentikan kakinya dibelakang tembok dilihatnya wulan dan beni yg sedang menunggunya.

"gila dil, loe benar2 jenius" kata beni.

"gue bisa ngefans sama loe nech kalau kaya gini" kini giliran wulan y bicara.

"kalian liat ajah sebentar lagi Sasya y akan minta maaf ama gue" kata Dyland sambil tersenyum licik.
*planning ketiga (umpan balik) Berhasil.. Berhasil.. Berhasil.. Horre :P




Sementara itu..
*Sasya
"aduh, kenapa sekarang jadi Dyland y marah sama aku?"


Sasya tlah tiba dikamar favoritenya.
Setelah mengganti pakaiannya Sasya langsung merebahkan tubuhnya diranjang bermotif bunga..
Sasya menatap langit2 kamarnya..

"apa Dyland benar2 marah padaku?"

Sasya berdiri dan menatap keluar jendela ditatapnya kamar Dyland yg kosong.

"dimana dia?"tanya Sasya sambil terus menatap kamar Dyland.


*dhariel
"gimana sekolah kamu?" mama berkata sambil menatap dhariel yg sedang menuntun tv.

"biasa ajah ga ada yg spesial"
Kata dhariel pada mama y duduk disampingnya.
Dhariel mengambil ipod disakunya dan menatap ipod ditangannya.
Ingatannya pun kembali 7 tahun yg lalu..

(flashback oN)
"ini buat aku aril?" tanya Dyland kecil sambil menatap ipod pemberian dhariel dan dhariel mengangguk mengiyakan.

"iya, ipod itu buat kamu, sekalian udah aku isiin lagu favorite kamu"

"makasih ariel"
Dyland tersenyum senang sambil menatap dhariel yg membalas senyumnya.

"sama2 ian, tapi kamu harus janji akan ngerawat ipod itu, jangan sampai hilang dan rusak"
Perkataan dhariel membua Dyland mengangguk.

"aku janji ariel"


(flashback off)


"ternyata kamu menepati janji kamu dil, terimakasih"



*keesokan harinya.

Sasya berpapasan dgn Dyland didepan pintu kelas.
Dyland menatap Sasya y acuh dan berjalan masuk kedalam kelas.

"kenapa Sasya ga ngomong apa2, seharusnya dia minta maaf"
Kata Dyland pelan sambil menatap Sasya yg sedang menulis.

"ian" sapa dhariel membuat Dyland menatapnya.

"nama gue Dyland"
Perkataan Dyland membuat dhariel tersenyum.

"gue cuma mau kembaliin sesuatu sama loe"
Dhariel mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya dan diberikan pada Dyland.

"ipod"
Dyland menatap ipod y kini berpindah ketangannya.

"kenapa ipod gue bisa sama loe?"
Tanya Dyland sambil menatap dhariel yg saat itu mengenakan jaket biru.

"loe lupa bawa ipod itu karena terlalu fokus dgn Sasya"
Perkataan dhariel membuat dhyland terdiam.

"ternyata loe masih nyimpen ipod pemberian gue"

"ini bukan ipod dari loe, ipod dari loe udah rusak dan udah gue buang"
Dyland berkata sambil memasukkan ipod kesaku celananya dan berlalu masuk.
Dhariel menatap Dyland yg duduk dan pandangan dhariel beralih pada Sasya yg menatapnya dan tersenyum.



"gimana planning loe, berhasil?" tanya beni pada Dyland y sibuk dgn ipod ditangannya.

"entahlah" kata Dyland singkat.


Tiba2 mega berjalan kearah meja Dyland dan memberikan Dyland selembar kartu berwarna pink.

"apaan nech? Jgn bilang loe salah satu pengagum rahasia gue"
Kata2 Dyland membuat mega tertawa.

"siapa juga y mau ngefans sama troublemaker sekelas Dyland"
Kata mega membuat beni tertawa tertahankan karena tatapan tajam Dyland.

"trus ini apaan?" tanya Dyland sambil menatap kartu pink ditangannya.

"itu kartu undangan ultah gue besok, gue harap loe bisa datang, oh iya loe harus datang bareng pasangan loe"

"pasangan gue?"tanya Dyland bingung.

"yepz, setiap kartu yg gue kasih udah gue tulis pasangannya masing2, loe bisa liat sendiri pasangan loe disebelah kanan kartu itu"
Mega pun pergie setelah mengucapkan kata2 itu.

"pasangan gue wulan, pasangan loe sapa? Biar gue liat"
Beni berkata sambil menarik kartu dari tangan Dyland dan membukanya.

"Dyland and syasya"
Perkataan beni membuat Dyland menatap beni tak percaya.

"Sasya?" tanya Dyland memastikan sambil menatap beni yg mengangguk.

"kalau jodoh emang gak kemana" kata beni sambil menatap Dyland y terus menggaruk telinga kanannya.



*dhariel and viona
"hai ganteng, gimana udah siap kepesta besok bareng gue"viona berkata sambil duduk disamping dhariel.

"kenapa harus dia?" kata dhariel dalam hati.

"jangan lupa loe pake jas kuning karena kebetulan gaun gue warnanya kuning"
Perkataan viona membuat dhariel mengangguk dgn sedikit berat.




Sasya menghampiri Dyland yg menunggunya ditaman belakang.
Dilihatnya Dyland yg terduduk dgn kartu pink ditangannya.

"apa ada?"tanya Sasya setibanya disamping Dyland.

"duduklah" perintah Dyland membuat Sasya duduk disampingnya.
Dyland memberikan kartu pink ditangannya pada Sasya dan Sasya segera mengambilnya.

"pergilah kepesta dgnku besok" Dyland berkata sambil berdiri.

"tidak, aku tak pergi"
Kata2 Sasya membuat Dyland menatapnya tajam.

"mengapa apa karena aku y mengajakmu"

"tidak bukan karena itu"

"lalu?"

"aku tak memiliki gaun untuk pesta besok, semua gaunku sudah tak bisa kugunakan karena kekecilan"

"dasar bodoh, kalau masalah itu aku bisa mengantarmu"

"apa kau mau mengantarku memilih gaun untuk pesta besok?"
Dyland mengangguk menjawab pertanyaan Sasya.
Sasya berdiri dan menatap Dyland y berdiri didepannya.

"apa kau tak marah lagi padaku"
Tanya Sasya pelan sambil memandang Dyland y menggeleng.

"dasar bodoh,sudah berapa kali aku katakan padamu, aku tak akan pernah marah padamu"
Sasya tersenyum mendengar perkataan Dyland.

"aku harus pergi, kau masuklah sebentar lagi bel" Dyland berkata sambil membelai halus rambut Sasya membuat Sasya mengangguk.

"Dyland, aku percaya padamu" kata Sasya keras membuat Dyland tersenyum lebar..

Bel pulang tlah berbunyi, seperti janjinya pada Sasya sepulang sekolah Dyland akan mengantar Sasya kemall untuk memilih gaun untuk pesta mega besok malam.
Dyland menunggu Sasya diparkiran.
Dyland berdiri disamping motor tiger biru miliknya, tanpak sebuah helm ditangannya.
Dyland menatap Sasya yg menghampirinya sambil tersenyum manis kearah Dyland.

"pakailah" Dyland menyerahkan helm ditangannya kearah Sasya tp Sasya menolaknya.

"maaf, tapi apa tidak sebaiknya kita naik taxi ajah"
Kata Sasya sambil menatap rok abu2 selutut yg ia kenakan.

"dasar bodoh apa kau ingin aku membiarkan motorku disini? Bagaimana jika dicuri orang? Kau tau aku membeli motor ini dgn tabunganku sendiri, apa kau mau menggantinya jika hilang?"
Pertanyaan Dyland membuat Sasya terdiam.

"hmm, baiklah kita naik taxi" Dyland berkata sambil menaruh helm diatas motor dan menggandeng tangan Sasya keluar gerbang..
Dgn senyum senang Sasya terus menatap Dyland y memegang erat tangannya.
Tangan Dyland memang kekar dan kuat, tangan inilah yg selalu ia gunakan untuk menghajar seseorang, tapi tangan ini menjadi lembut dan halus
Ketika Dyland menggenggam tangan mungil Sasya.

Mereka tiba dihalte bis depan sekolah..
Melihat tak ada taxi yg lewat akhirnya mereka memutuskan untuk naik bis menuju mall.
Dyland menatap sekeliling, dilihatnya beberapa siswa y sedang menunggu bis sepertinya.

"kau kenapa?" tanya Dyland sambil menatap Sasya yg terus terusan menggigit bibir bawahnya.

"aku takut" kata Sasya dgn suara pelan khasnya.

"apa? Kau takut naik bis?"
Perkataan Dyland membuat Sasya mengangguk.

"dasar bodoh, selama aku disampingmu kau tak usah takut, lihatlah"
Dyland berkata sambil menaikkan tangan kanannya y memenggenggam tangan Sasya keudara.

"apapun yg terjadi, aku akan selalu ada untukmu, dan tangan inilah yg akan terus menggenggammu"
Kata2 Dyland membuat Sasya tersenyum.
Dyland menurunkan kembali tangan mereka dari udara dan menatap Sasya y masih tersenyum.

"jadi, apakah kau masih takut?"
Sasya menggeleng.

"aku tak takut lagi karena kau ada bersamaku"

"baguslah"
Dyland berkata sambil terus menggenggam tangan Sasya.

"selama gue masih bisa bernafas, tangan inilah yg akan selalu menggenggam tangan loe,Sasya"

"jangan pernah lepasan tangan kamu Dyland, aku mohon"


Rabu, 24 Oktober 2012

"The One I Love!" #PART6



Tiba2 Dyland menarik tangan Sasya memasuki rumahnya...
Apa y akan dilakukan Dyland pada Sasya selanjutnya..

Sasya tak dapat melakukan apa2 saat Dyland menarik tangannya masuk kedalam rumah Dyland.
"Apa y ingin Dyland lakukan padaku, mengapa ia menarikku masuk kedalam"

"lepaskan aku, atau aku akan berteriak hingga keluargamu terbangun"
Teriak Sasya tapi Dyland terus saja menarik tangannya.
Mereka melewati ruang tamu y cukup besar, Dyland terus saja melangkah tak menghiraukan Sasya y terus berteriak.

"apa kau benar2 ingin aku membunuhmu?" pertanyaan Sasya itu membuat Dyland tersenyum menampakkan gigi putihnya yg terbaris rapi.
Dyland menghentikan langkahnya dan melepas pegangan tangannya ketika mereka sampai didapur.
Dyland membuka bajunya membuat Sasya melotot, untuk kedua kalinya Sasya melihat tubuh sixpack Dyland tp kali ini Sasya melihat dgn jelas bagian dada bidang Dyland.
Tidak aku tak boleh tergoda..
Sasya berkata dalam hati sambil mengambil pisau y tergeletak diatas meja dapur.

"awas jika kau berani mendekat atau menyentuhku pisau ini y akan melukaimu" ancam Sasya berkata sambil mengarahkan pisau ditangannya kearah Dyland y tersenyum.

"apa y kau pikirkan huh?" Dyland berkata sambil menatap Sasya y masih mengarahkan pisau kearah Dyland.
Tak ada jawaban dari bibir Sasya.

"aku ingin mandi dan masaklah sesuatu untukku" Dyland berkata sambil mengambil pelan pisau ditangan Sasya dan menaruhnya ditempat semula.

"tenang aku memang troublemaker tp aku tak akan melakukan apapun sebelum kau resmi menjadi istriku"

"lalu bagaimana dgn ciuman tadi?" tanya Sasya sambil menunduk.

"oh itu, kau yg memaksaku untuk melakukan itu, seandainya kau tak memanggilku bodoh mungkin aku tak akan menciummu, karena itu jgn pernah sekali2 memanggilku bodoh atau aku akan menciummu" Dyland berkata sambil mendekatkan wajahnya dgn wajah Sasya y berdiri didepannya.

"ok's aku lapar, masaklah untukku"
Sebuah belaian lembut Dyland berikan pada Sasya setelah kata2 itu ia katakan.

"kenapa harus aku, bukanlah ada pelayan y dapat melakukannya untukmu"

"tapi aku ingin kau y memasak untukku"

"kenapa aku, aku bukan pelayanmu?"

"dasar bodoh, kau memang bukan pelayanku tp kau akan menjadi istriku, cepatlah masak atau kau ingin aku mati kelaparan karena menunggu masakanmu"
Kata2 Dyland membuat Sasya terdiam.
Sasya menatap Dyland y menjauh dan menaiki tangga menuju kamarnya y terletak dilantai dua itu. Dilihatnya Dyland y tlah berada dilantai atas hingga bayangan Dyland menghilang.

"apa y harus aku lakukan sekarang, aku tak tau bagaimana caranya memasak"


15 menit kemudian, Sasya tlah selesai memasak spaghetti untuk Sasya pernah membantu kak shinta memasak spaghetti jd Sasya masih bisa mengingat sedikit bagaimana cara membuatnya.
Spaghetti ala Sasya tlah tersaji rapi dimeja makan dan tak beberapa lama Dyland turun dan menghampiri Sasya diruang makan.
Sasya menatap Dyland y rambutny sedikit basah karena mandi dan Dyland y mengenakan kaos biru laut dgn gambar tengkorak ditengahnya.

"duduk" kata Sasya sambil menyuruh Dyland duduk ditempat y tlah Sasya sediakan.

"bagaimana kau tau makanan favoriteku"
Dyland berkata sambil duduk dan menatap sepiring spaghetti y tlah disajikan Sasya.

"apa yg tak aku tau tentangmu" Sasya berkata pelan berharap Dyland tak mendengarnya.
Sasya berlalu menuju meja dapur dan membersihkan beberapa pralatan y ia gunakan.

Dyland tersenyum sambil memulai menyantap spaghetti di depannya, kini Dyland mengunyah spaghetti itu berlahan tp Dyland memuntahkan kembali spaghetti dari mulutnya kelantai.

"apaan nech, loe mau bunuh gue?" pertanyaan Dyland membuat Sasya kaget dan menghampiri Dyland.

"kenapa, apa rasanya kurang pas?"
Tanya Sasya pada Dyland y masih terduduk.

"bagaimana bisa kau menjadi istriku jika kau tak dapat membedakan mana gula dan mana garam, kau tau ini adalah makanan terburuk yg pernah kumakan" kata Dyland kasar sambil berdiri.

"kalau begitu mengapa kau menyuruhku memasak makanan untukmu, aku bukan istrimu dan kau tau bahwa aku benci memasak, tapi mengapa kau menyuruhku dan setelah itu kau membentakku, aku sangat membencimu"
Sasya berlalu pergi setelah kata2 itu ia ucapkan.
Sementara Dyland terdiam sambil menatap Sasya y menjauh.


"dasar bodoh seharusnya kau mengejarku dan meminta maaf, apa terlalu susah untukmu melakukan itu"
Sasya berkata kesal sambil melangkah mendekati pintu. Tapi saat Sasya hendak keluar ia mendengar seseorang berteriak cukup keras dari dalam rumah Dyland.


"AAAAAAA..." teriakan seseorang mengagetkan Sasya dan sepertinya Sasya mengenali suara itu.


"Dyland!"


Apa y sebenarnya terjadi dgn Dyland??

"Dyland" Sasya berteriak kaget sambil menatap kebelakang.

"apa terjadi sesuatu dgn Dyland?" tanyanya resah.
Sasya melangkahkan kakinya kembali kedapur, tp langkahnya terhenti ketika ia tiba diruang tengah, dilihatnya Dyland y berdiri tepat disamping televisi sambil menunjuk sesuatu didinding.

"kamu kenapa Dyland?" tanya Sasya sambil terus menatap Dyland.

"itu ada cicak" Dyland berkata sambil mengarahkan telunjuknya ketembok.
Sasya menatap cicak kecil yg merayap didinding.

"jadi, kamu teriak2 ga jelas cuma karena cicak kecil itu?"
Dyland mengangguk.

"loe taukan gue benci cicak"

"takut" ledek Sasya.

"bukan takut cuma benci ajah, bodoh"
Kata Dyland sambil mengusap keningnya y penuh keringat dgn tangan.

"aku ga nyangka ternyata sang troublemaker sekelas Dyland takut dgn cicak" ledek Sasya lagi membuat Dyland mengeraskan suaranya.

"GUE BUKAN TAKUT TAPI BENCI''
Kata2 Dyland itu membuat Sasya tersenyum.

"kenapa diam, cepat usir cicak itu dari hadapan gue"

"maaf, aku sibuk" kata Sasya dan berlalu pergi tak menghiraukan Dyland y terus meneriaki namanya.

"dasar bodoh, seharusnya kau membantuku mengusir cicak ini, apa kau benar2 marah padaku?" kata Dyland sambil berjalan kedapur dan mengambil sapu y tergeletak dipinggir pintu lalu Dyland kembali keruang Tv dgn sapu ditangannya.

"dasar cicak bodoh, pergilah atau akan aku cincang ekormu, hush..hush" Dyland berkata sambil mengusir sang cicak dgn sapu ditangannya dan itu membuat Sasya y menatap Dyland dari belakang tembok tersenyum.
Kini Sasya selihat sisi lain Dyland sang troublemaker, Dyland y biasanya cuek,kasar dan lebih cenderung angkuh kini menjadi lemah dan ketakutan hanya karena seekor cicak.
Sasya terus menatap Dyland y tak henti2nya mengusap keringat dikeningnya.
Yah.. Dyland akan berkeringat cukup banyak ketika ia ketakutan seperti ini.

"bukankah loe Dyland, everyting is gonna be ok's"
Sasya berkata sambil menatap Dyland y kewalahan mengusir cicak yang tak kunjung pergi..


**keesokan harinya**
Sasya mendapati Dyland y sedang berjalan seorang diri menuju sekolah dan Sasyapun langsung berlari dan menyimbangi langkah Dyland y cukup cepat.

"wajah kamu kenapa?" tanya Sasya ketika mendapati kening Dyland terluka.

"apa peduli loe" jawab Dyland kasar.

"apa semua ini karena cicak kecil itu?"
Sasya terus berjalan disamping Dyland y mengenakan topi.

"semua ini tak mungkin terjadi jika kau menolongku,apa kau membiarkan calon suamimu ketakutan seperti itu"

"maaf" kata Sasya bersalah sambil menghentikan langkahnya.
Menyadari Sasya tak disampingnya Dylandpun berhenti dan menatap kebelakang, dilihatnya Sasya y menunduk terdiam.
Dyland kembali mundur dan berdiri disamping Sasya.

"sudah lupakan, ayo kita berangkat"
Tak ada jawaban dari Sasya membuat Dyland menarik tangan Sasya dan menggandengnya hingga mereka tiba disekolah.

Beberapa anak menatap Dyland dan Sasya tajam sambil mengatakan sesuatu pada temannya.
Dyland merasa risih dgn tatapan aneh semua murid pagi ini.

"kenapa mereka semua natap gue seolah olah gue baru aja jadi narapidana?" Dyland berkata pelan sambil terus menggandeng tangan Sasya hingga sampai didepan kelas.

"cie..cie y baru jadian, makan2 dunk dil" aldy berkata sambil menatap Dyland y berdiri didepan kelas.

"selamat sob, akhirnya loe punya pacar juga"timbal beni sambil merangkul pundak Dyland tapi Dyland menepisnya.
Sasya y berdiri disamping Dyland hanya terdiam melihat ketiganya y berbicara.

"kalian mau kuping kalian gue kukus" ancam Dyland yg dibalas dgn senyuman oleh aldy dan beni.

"kapan jadiannya, cerita2 dunk sama kita" beni berkata sambil menaikkan alisnya membuat Dyland kesal dan aldy hanya mengangguk.

"wah yg baru jadian mesrah banget" kata wulan yg baru tiba sambil duduk dibangkunya.

"kalian ngomong apa gue ga ngerti?"Dyland berkata keras membuat kelas hening.

"kalian pacarankan?" tanya beni sambil menatap Sasya dan Dyland bergantian.

"siapa juga y pacaran?" kata Dyland kesal.

"nah kalau ga pacaran ngapain pegang2 tangan segala, udah ngaku ajah" kata2 aldy membuat Dyland menatap tangannya y masih mengandeng tangan Sasya begitupun dgn Sasya.
Dyland menjauhkan tangannya dari tangan Sasya.

"pantesan semua org natap aneh gue, ternyata ini sebabnya" kata Dyland dalam hati sambil menatap Sasya y terdiam.

"Sasya bukan pacar gue" kata2 Dyland membuat Sasya menatapnya.
Terlihat kekecewaan diwajah Sasya saat ini.
Sasyapun langsung berlari keluar kelas dan menjauh dgn rasa kecewa y mendalam.

"apa maksudnya semua itu, bukankah kemarin kita baru saja resmi jadian, atau hanya perasaanku saja y terlalu berlebihan, bukankah ia tak pernah memintaku dgn tulus untuk menjadi pacarnya"
Sasya terduduk ditaman belakang sekolah seorang diri, ia benar2 tak mengerti sosok Dyland terkadang ia membuat Sasya tersenyum tapi tak jarang ia membuat Sasya menangis.


"cinta itu memang sulit dimengerti" kata dhariel tiba2 sambil duduk disamping Sasya. Dgn cepat Sasya menghapus air matanya.

"sejak kapan kamu disini?" tanya Sasya pada dhariel yg mencoba menghapus air matanya.
Sasya menatap dhariel tajam, ternyata dhariel lebih mengerti dirinya dibandingkan Dyland y slalu membuatnya sedih.

"minumlah"
Dhariel memberikan Sasya minuman kaleng yg baru dibukanya dan Sasya mengambilnya.

"terimakasih" Sasya berkata sambil meneguk minuman ditangannya.

"aku dengar kamu dan Dyland resmi berpacaran, selamat semoga hubungan kalian awet"
Kata2 dhariel membuat Sasya berhenti minum dan menunduk.

"Dyland tak pernah menganggapku sebagai pacarnya"
Dhariel terdiam mendengar perkataan Sasya.
Dhariel menatap wajah sedih Sasya yg menunduk.

"kau benar2 bodoh Dyland, mengapa kau membiarkan gadis semanis ini sedih karena ulahmu, seandainya aku adalah kau, aku tak akan membiarkan dia menangis" dhariel berkata dalam hati.
Dhariel menggenggam tangan Sasya dan menatapnya.

"apa dia selalu membuatmu kesal?"
Sasya mengangguk.

"apa dia selalu membuatmu sedih dan menangis"
Lagi2 Sasya mengangguk.

"kalau begitu lupakan dia" kata dhariel membuat
Sasya menatapnya tajam.

Tiba2 Dyland menghampiri mereka dan menarik kerah baju dhariel dan
BUGH
sebuah tonjokan mendarat tepat dibibir kanan dhariel hingga dhariel terjatuh.

"jauhi Sasya atau nyawa loe melayang" ancam Dyland keras pada dhariel y terduduk sambil mengelus bibirnya y berdarah.
Dhariel tersenyum tipis.

"kenapa dhariel harus jauhi aku, bukankah aku bukan siapa2 buat kamu, kamu ga berhak mengatur hidupku" Sasya berkata kesal sambil berdiri dari duduknya.
Membuat Dyland menatapnya.

"sya!" seru Dyland sambil memegang lengan Sasya tp Sasya menepisnya.

"aku udah terlalu menderita karena kamu, dan terlalu berharap dapat menjadi sesuatu yg spesial dihatimu, tp sepertinya aku ga akan pernah berada disana, hatimu benar2 tertutup untukku"

"sya"

"cukup dil, aku ga mau berharap lagi karena aku tau semuanya akan sia2"
Sasyapun berlalu pergi setelah kata2 itu ia ucapkan dan Dyland terus menatap Sasya y menjauh.

Dhariel mencoba bangun dan berdiri disamping Dyland. Dilihatnya Dyland y terus menatap Sasya hingga bayangan cewe manis itu hilang.
Dhariel menyolek lengan Dyland membuat Dyland menatapnya.

"apa?" tanya Dyland kesal.
Tak ada jawaban dari bibir dhariel, dhariel mengepalkan tangannya dan menonjok wajah Dyland.

"APA APAAN INI?" Teriak Dyland sambil menatap dhariel y tersenyum tipis.

"itu balasan karena loe nonjok gue tadi, dan.."
Bugh... Untuk kedua kalinya tonjokan dhariel mendarat tepat dipipi Dyland.

"dan itu karena loe udah buat Sasya kecewa"
Dhariel berkata sambil menatap Dyland y terdiam.

"Sasya sangat mencintai loe dil, apa loe akan terus sakiti dia"
Dhariel kembali duduk dibangku panjang taman, sementara Dyland masih berdiri membelakanginya menghadap parkiran.
Telinganya masih mendengarkan setiap kata y diucapkan dhariel.

"udah dua kali gue nembak Sasya, gue jujur tentang perasaan gue y sayang bgd sama dia, tapi Sasya menolak"
Dyland membalikkan badannya dan ditatapnya dhariel y menunduk.

"gue ga tau kenapa Sasya nolak, apa yg kurang dari diri gue, gue tampan, gagah, ramah, dan romantis tp kenapa Sasya ga pernah tertarik sama gue, dan sekarang gue tau jawabannya, semua itu karena loe"
Dhariel berkata sambil berdiri dan menatap Dyland didepannya.

"karena Sasya mencintai loe, dan cuma loe dihatinya dan gue juga tau kalau loe sangat mencintai Sasya"
Kata2 dhariel membuat Dyland terdiam.

"gue kasih loe waktu sehari untuk merubah sifat angkuh loe, kalau besok gue masih liat Sasya sedih karena loe. Gue yg akan rebut Sasya dari loe"
Dharielpun pergi setelah mengucapkan kata2 itu.

Dyland terduduk direrumputan dan menarik nafas panjang..

"apa Sasya sangat mencintaiku?"



*Dikelas Dyland dan Sasya.

Dyland melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas yg tlah ramai, pandangannya langsung tertuju pada Sasya y duduk sambil menyoret2 buku didepannya dan Dylandpun segera menghampirinya.
Dyland duduk disebelah Sasya y kebetulan kosong ditatapnya Sasya y acuh.

"sya, loe marah sama gue?" pertanyaan Dyland tak dihiraukan Sasya, Sasya masih sibuk dgn buku dan pulpoin ditangannya.

"sya, gue mau ngomong sesuatu sama loe"

"ga ada yg perlu diomongin, semuanya udah berakhir"

"sya gue ga mau loe marah sama gue, karena loe satu2nya sahabat gue"
Perkataan Dyland membuat Sasya menatapnya.
Apa Sasya harus benar2 melupakannya.

"aku ada urusan" Sasya berkata sambil berdiri.
Dyland menarik tgn Sasya dan Sasya menepisnya.
Ia berlalu meninggalkan Dyland.
Beberapa siswi menatap mereka tajam sedangkan beberapa siswa sibuk menyalin PR.
Dyland berdiri dan mengejar Sasya hingga keluar kelas, Dyland menahan tangan Sasya membuat Sasya berhenti, Sasya berusaha menepisnya tp pegangan tangan Dyland kali ini benar2 kuat.

"lepasin aku" Sasya berusaha menepis tangan kekar Dyland.

"dengerin aku dulu, aku mau bicara sesuatu sama kamu"

"lepasin aku Dyland"
Sasya berkata sambil terus menatap Dyland y memegang tangannya. Hingga akhirnya..

"Dyland lepaskan tangan kamu dari siswi itu" seorang guru berkata lantang sambil berdiri didepan Dyland dan Sasya.
Dgn seketika Dyland melepaskan genggaman tangannya, dilihatnya Sasya berlalu masuk kekelas.

"Dyland, kamu ikut bapak keruangan sekarang" guru lelaki berkacamata dan berkumis itu berlalu diikuti Dyland dibelakangnya.



*jam istirahat*

Sasya menatap Dyland yg masuk, dilihatnya wajah Dyland y memerah kecapean plus kepanasan akibat dihukum keliling lapangan, Sasya trus menatap Dyland hingga tiba Dyland terduduk dikursinya. Dyland mengambil buku miliknya diatas meja dan mengipas2 kewajah handsomenya.
Dyland menatap Sasya y menatapnya tp Sasya mengalihkan pandangannya kedepan.
Sasya menatap sebotol es jeruk dimejanya.

"Dyland pasti haus, es jeruk ini adalah minuman kesukaan Dyland"



*Dyland Beni*

Beni y baru tiba langsung menghampiri Dyland dan duduk disampingnya.

"loe dihukum lagi" tanya beni pada Dyland yg sedang menggaruk belakang lehernya.

"gatal, ada kutunya kali" ledek beni sambil tersenyum pada Dyland y menghentikan garukannya.
Dyland mengambil buku didepannya dan dipukulnya kearah kepala beni.

"sial, loe mau alis loe gue panggang" ancam Dyland sambil menatap beni y tersenyum.

"sorry sorry kan becanda, ngomong2 loe tadi kenapa?"

"loe kan tau kalau tadi gue dihukum"

"bukan itu maksud gue, kejadian tadi didepan kelas"

"oh itu"
Beni mengangguk, tanpak aldy yg baru tiba dan duduk didepan keduanya.

"Sasya marah sama gue"
Kata Dyland singkat.

"kok bisa kenapa?"

Dyland terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan beni.
"karena gue ga ngakuin dia sebagai pacar gue" kata Dyland pelan.

"Apa? jadi beneran loe sama Sasya jadian?" tanya beni dgn suara sedikit pelan membuat Dyland mengangguk.

"trus sekarang gue harus ngapain?" tanya Dyland polos sambil menatap Sasya y keluar kelas.

"loe rayu dia, biasanya cewe paling senang digombalin"

"gue ngegombal, sorry yee"

Pelajaran bhs inggris tlah dimulai,Dyland trus menatap Sasya y duduk didepannya. Tak biasanya Sasya tak menengok kebelakang untuk melihat dirinya.

"Apa Sasya benar2 marah sama gue??" Dyland berkata bingung sambil menggaruk telinga kanannya y tak gatal.
Dyland memiliki kebiasan slalu menggaruk telinganya saat iya merasa kebingungan.

"apa yg harus gue lakukan sekarang?" Dyland berkata pelan sambil menatap beni yg pura2 serius mendengarkan penjelasa miss. Elisa.
Dyland pun mengingat perkataan beni tadi pagi.

"biasanya cewe itu suka dirayu, kalau loe benar2 mau Sasya maafin loe, rayu dia, gue yakin Sasya langsung maafin loe"

"ahh apa gue benar2 harus ngegombal didepan Sasya, apa kata ortu gue kalau tau anaknya ngegombal demi seorang cewe, gak akan, gak akan, gak akan"

"The One I Love!" #Part5


Dyland berjalan mendekati ruang Uks, yah Sasya selalu disana saat Dyland terluka, biasanya Sasya selalu mengirimi Dyland sms untuk menemuinya diUKS setiap Dyland selesai berkelahi, tapi hari ini Dyland tak mendapati sms masuk untuknya.

"apa dia disana?"tanya Dyland sambil terus mendekati ruang Uks, senyumnya merekah saat ia mendapati Sasya y sedang merapikan rambut panjangnya.
Sasya menatap Dyland y berdiri didepan pintu.

"kau sudah datang, duduklah" perintah Sasya sambil menyuruh Dyland duduk disampingnya.
Tapi Dyland menolaknya.

"tidak usah, aku kesini ingin berbicara sesuatu padamu"
Dyland mendekati Sasya yg duduk dan berdiri didepannya.
Hati Sasyapun berdetak tak karuan "apa y akan dilakukan Dyland padanya?"

"berdiri" perintah Dyland membuat Sasya menatapnya.

"hah?"

"berdiri,apa loe mau gue berlutut"

"hah"
Sasya tak mengerti apa yg dikatakan Dyland tapi Sasya mencoba berdiri dan kini mereka berhadapan tubuh Sasya y mungil hanya setara dengan dada bidang Dyland.
Kini Dyland mengenggam tangan Sasya, membuat hati Sasya berhenti berdetak, ditatapnya Dyland y menatapnya tajam, Sasyapun baru menyadari bahwa Dyland memiliki bola mata y indah, Dyland bagaikan pangeran untuk Sasya.
 Pegangan tangan Dyland semakin keras.

"loe taukan kalau gue bisa melakukan apapun y gue mau"
Sasya mengangguk.

"dan loe ga maukan gue main kasar sama loe?"
Sasya menggeleng.

"kalau githu jadi pacar gue atau gue akan bikin rambut loe jadi wig"
Kata2 Dyland membuat Sasya terdiam, ia benar2 tak percaya Dyland baru saja meminta Sasya untuk menjadi pacarnya.
Apa aku mimpi?
Melihat tak ada reaksi apa2 dari Sasya Dylandpun melepaskan genggaman tangannya.

"loe, mencintai gue kan sya?"

"loe mencintai gue kan,sya?" tanya dhyland ragu sambil menatap Sasya y terdiam.

Tiba2 terdengar suara seseorang bertepuk tangan dari depan pintu UKS dan ternyata orang itu adalah dhariel


Plok plok plok
Suara tepukan tangan dhariel membuat Dyland dan Sasya menatapnya kaget.

"sejak kapan loe disana?" tanya Dyland kasar pada dhariel y tersenyum.

"dari loe nembak Sasya tadi, hebat juga loe punya keberanian padahal dulu loe takut nyatain perasaan sama cewe"
Dhariel berkata sambil menatap wajah kesal Dyland.

"tapi tunggu nembak Sasya apa ngancem?" ledek dhariel membuat Dyland mengepalkan tangannya.

"dhyland.. Dyland loe beneran ga tau gimana cara nembak cewe secara romantis"
Dhariel menatap Sasya y menunduk.

"apa perlu gue praktekin"
Dhariel berkata sambil memegang kedua tangan Sasya.
Cara dhariel y tiba2 membuat Sasya tersentak kaget dan menatap dhariel yg tersenyum manis padanya.
Sementara itu hanya membuat wajah Dyland memerah karena marah.

"i love you Sasya, maukah kau mengisi kekosongan hatiku dgn cintamu"
Tiba2 dhariel berlutut tangan kirinya terus memegang tangan Sasya sementara tangan kanannya mengambil sebuah kotak kecil dari saku seragamnya dan memberikannya pada Sasya.

"ku tembak kau dgn basmalah" kata2 dhariel membuat Sasya tersenyum.

Dan dhariel kembali berdiri setelah Sasya menerima kotak pemberiannya.

"singkat,bermakna, dan yg pasti tanpa ancaman"
Senyum kepuasan terlihat jelas dari bibir dhariel sementara Dyland menatap Sasya y tersenyum sambil penatap kotak pemberian dhariel.

"ternyata loe lebih tertarik sama cowo romantis daripada cowo pembuat masalah seperti gue"
Dyland berkata sambil berlalu, melihat kepergian Dyland Sasya berusaha mengejarnya.

"Dyland,tunggu"
Dyland tak menghiraukan Sasya y terus memanggil namanya.
Sasya berusaha mengejar tapi dhariel menarik tangan kanan Sasya.

"sorry, kotak itu punya mama aku..."
Dhariel berkata sambil menerima kotak dari tangan Sasya.
Sasyapun berlalu mengejar Dyland dan tak menghiraukan dhariel yg masih berdiri.



Sasya kehilangan jejak Dyland y berjalan cepat Sasya mencoba menghubungi Dyland tp tak ada jawaban hp Dyland tidak aktif.
Sasyapun berusaha mengirimi Dyland sms tp tetap saja tak ada jawaban dari Dyland.

To: B.O.Y (Dyland)

Kamu dimana? :(


Lebih dari 20 sms sudah Sasya kirim untuk Dyland tp tetap saja tak ada jawaban dari cowo leo itu.

To: B.O.Y

Tolong balas sms aku.. Atau telpon aku..

To: B.O.Y

Kamu dimana?
Apa kau marah padaku?

To: B.O.Y

Kamu dimana?

Semua pesan y Sasya kirim tak ada balasan.
Tapi 5 menit kemudian satu sms masuk membuat senyum Sasya mengembang

From: B.O.Y

Dasar bodoh,
Kau hanya menghabiskan banyak uang untuk terus mengirimiku banyak pesan seperti itu,
Apa kau pikir kepalaku tak pusing membaca semua pesan y masuk darimu.

Satu sms masuk lagi.

From: B.O.Y

Dasar bodoh, aku tak marah padamu, dan jangan tanyakan itu lagi padaku, karena jika itu terjadi aku benar2 akan marah padamu.

Satu pesan masuk lagi.

From: B.O.Y

Apa kau mencemaskanku bodoh :P
Jangan khawatir i'm Dyland, everything gonna be ok's.

Tak ada lagi sms dari Dyland, padahal Sasya masih mengharapkan Dyland mengirimin pesan dan mengatakan dimana ia saat ini.
Tapi setengah jam berlalu tak ada pesan masuk untuk Sasya.


Bel pulang telah berbunyi Sasya menatap dhariel y tlah menunggunya didepan kelas.
Sasya menatap kebelakang dilihatnya bangku Dyland y kosong, yah lagi2 Dyland kabur dijam pelajaran.
Sasya kecewa tp ia mencoba menutupinya dari dhariel.

"kita berangkat sekarang?" Sasya mengangguk menjawab pertanyaan dhariel dan merekapun berlalu menjauhi gerbang sekolah.



*Sasya dan dhariel

Akhirnya mereka tiba di sebuah toko buku, Sasya membantu dhariel mencari buku y dicari. Setelah mendapatkannya merekapun pergi kesebuah cafe yg terletak disebelah kiri toko buku.
Dan merekapun duduk bersebelahan.

"maaf, atas kejadian tadi" dhariel berkata memulai pembicaraan.

"tak apa, kau tak perlu minta maaf"
Dhariel tersenyum sambil menatap Sasya y terus memperhatikan hp ditangannya.

"lagi nunggu sms masuk?" pertanyaan dhariel membuat Sasya terkejut dan menaruh hp nokia miliknya diatas meja.

"kenapa kau tak mencoba menelponnya"
Kata dhariel membuat Sasya menatapnya.

"tidak, karena aku yakin dia pasti akan mengirimiku pesan, aku akan menunggunya"

"apa kau mencintai Dyland?"
Pertanyaan dhariel membuat Sasya mengangguk.

"ya aku mencintanya, bahkan terlalu mencintainya"

Dhariel terdiam, ternyata Sasya benar2 mencintai Dyland. Apakah sekarang saatnya dhariel harus mengalah.

Hari tlah menjelang magrib,
Dhariel dan Sasyapun memutuskan untuk pulang.

"aku antar kamu sya" kata dhariel sambil menatap Sasya y tersenyum.

"tidak perlu, kau cukup panggilkan aku taksi"

"Tp aku ingin mengantarmu"

"terimakasih, sepertinya kau lelah, sebaiknya kau istirahat, aku bisa pulang sendiri"
Kata Sasya ketika menatap wajah dhariel y pucat.

"percayalah aku tidak lelah, aku benar2 ingin mengantarmu pulang"
Dhariel merapatkan tangannya seraya memohon membuat Sasya tak bisa menolaknya.

"baiklah"
Perkataan Sasyapun membuat dhariel tersenyum puas.


Dharielpun segera menuju jalan besar mencari taxi, sebenarnya dhariel memiliki satu mobil kijang silver keluaran terbaru dan motor sport yg ia beli di luar negri tp berhubung usia dhariel belum genap 18 thn sang mama tak mengijinkannya mengemudi karena itu dhariel selalu mengunakan taxi untuk berangkat sekolah.
Akhirnya mereka mendapatkan taxi tanpa penumpang dan merekapun langsung melaju kerumah Sasya.



Sasya tlah sampai didepan gerbang rumahnya.
Ditatapnya dhariel yg berdiri didepannya.
Dhariel memiliki tinggi y setara dgn Dyland.

"terimakasih, sekarang kau boleh kembali"
Dhariel menatap Sasya y membuka gerbang dan berusaha masuk.

"kau tak membiarkan aku berkunjung kerumahmu?"

"bukan, aku rasa kau lelah dan ingin pulang" kata Sasya dgn nada bersalah.
Membuat Dhariel tersenyum.

"kau benar benar manis, tak salah Dyland begitu mencintaimu"
Kata2 dhariel membuat Sasya terdiam.

"aku rasa aku mulai menyukaimu, maukah kau menjadi kekasihku?" dhariel bertanya sambil memegang kedua tangan Sasya.
Sasya masih terdiam tak percaya..
Tapi tak ada getaran aneh dalam diri Sasya saat ini, apa itu semua karena Sasya memang tak pernah menyukai dhariel.

"pulanglah, aku sangat lelah" kata
Sasya sambil menepis tangan dhariel membuat dhariel kecewa.

"sorry, gue cuma mau loe tau perasaan gue y sebenarnya buat loe"

"terimakasih tlah menyukaiku, tapi maaf hatiku hanya mencintainya"
Dhariel kecewa mendengar perkataan Sasya tp ia tak dapat melakukan apa2, hanya berharap suatu saat Sasya akan mencintainya seperti Sasya mencintai Dyland.

"tapi kau tetap temanku bukan?"
Sasya mengangguk meng-iyakan.
Dharielpun pamit dan meninggalkan Sasya yg menatap tubuh dhariel hingga menghilang bersama dentuman suara azan maghrib..



Malam telah tiba, Sasya y berada dikamar pink miliknya terus menatap kamar Dyland y sepi,
Tak seperti biasanya kali ini tirai kamar Dyland tertutup sehingga Sasya tak dapat melihat dgn jelas ruangan putih itu.
Sasya menatap jam ditangannya. Jam 10malam tapi ia masih terbangun. Bagaimana bisa ia tidur pulas sementara ia tak tau dimana pangerannya berada.

"apa dia ada rumah?"kata Sasya memastikan sambil menelpon hp Dyland tapi tak ada jawaban.
Sasya merasa putus asa dan membuang hp ke atas ranjang miliknya tp Sasya kembali mengambilnya ketika mendengar ponselnya berdering.

"Dyland?"

"apa ada?"

"apa kau ada di rumah?"

"tidak"

"lalu dimana kau? Mengapa sampai saat ini kau belum kembali?"

"tidurlah, dan jangan menggangguku lagi" bentak Dyland.

"tapi.."

Tett tett sambungan terputus.
Sasya menjatuhkan tubuhnya keranjang dan menutup wajahnya dgn bantal, Sasya tak ingin dunia tau bahwa saat ini ia sedang menangis karena seseorang y sangat dicintainya membenci dirinya.


*dhariel
"belum tidur sayang?"tanya mama sambil menghampiri dhariel y sedang menuntun tv diruang tengah.
Dharielpun menggeleng.

"kamu kenapa lagi, dari pulang sekolah wajahnya cemberut terus, ada masalah?" tanya mama y kali ini mencoba duduk disamping dhariel. Mama mengambil remote ditangan dhariel dan menatap anak semata wayangnya itu.

"ada apa, cerita sama mama, mungkin mama bisa memberi kamu solusi"
Dibelainya rambut dhariel y halus.

"dhariel jatuh cinta" mama tersenyum mendengar perkataan dhariel.

"ini bukan kali pertama kamu jatuh cinta"

"tapi ma, kali ini dhariel benar2 sayang sama dia" kata dhariel memelas.

"kalau kamu benar2 mencintainya, kenapa kamu tidak menembaknya?"

"dhariel sudah melakukannya tapi, dia menolaknya, mama tau kenapa?"
Mama menggeleng

"karena dia mencintai seseorang dan orang y dicintainya itu Dyland"
Dhariel berkata dgn mata berkaca2..
Ia ingin menangis tp air matanya enggan terjatuh.

"dulu Dyland pernah mengalah waktu cewe y kita suka lebih memilih dhariel, apa sekarang dhariel juga harus mengalah karena cewe y kita cintai lebih memilih Dyland"



Jam 12 malam
Dyland melangkahkan kakinya memasuki gerbang rumahnya tapi langkahnya terhenti didepan pintu saat mendapati Sasya sedang terduduk dihalaman rumah Dyland.

"kau belum tidur?" tanya Dyland pada Sasya y berjalan mendekatinya.
Dilihatnya Sasya y mengenakan piyama micky mouse berdiri didepannya.

"piyama itu membuatmu terlihat lebih kurus"
Perkataan Dyland membuat Sasya cemberut.

"dasar bodoh masuk dan tidurlah, bukankah besok kau harus sekolah"

"apa kau tak tau aku menunggumu berjam-jam dgn mudahnya kau menyuruhku masuk dan tidur, bagaimana mungkin aku bisa tertidur pulas jika sampai jam 12 malampun kau belum tiba,kau tak tau betapa aku mencemaskanmu"
Teriak Sasya kesal sambil menggigit bibir bawahnya agar tak menangis.

"dasar bodoh aku tak pernah memintamu untuk menungguku, sebaiknya kau masuk udara malam tak baik untuk kesehatanmu"
Saran Dyland sambil memegang lengan Sasya tp Sasya menepisnya.

"mengapa kau selalu memanggilku bodoh, aku tidak bodoh justru kau yg bodoh"

"aku?" Dyland berkata sambil menunjuk dirinya sendiri.

"iya, kau adalah cowo terbodoh yg pernah aku temui, kau bodoh,bodoh,bodoh, bodoh.." teriak Sasya keras membuat Dyland menarik lengan Sasya dan menciumnya.
Sasya terdiam, Dyland menciumnya tp Sasya tak marah Dyland tlah mencium bibirnya tanpa ijin justru Sasya bahagia karena Dylandlah ciuman pertama Sasya.
Dibawah bintang-bintang malam Dyland dan Sasya berciuman..
Bibir Dyland y merah beradu dgn bibir Sasya y sexy..
TTtteettttTT *sensor yah adik2* :P


*Dyland and Sasya


Bibir mereka masih bersentuhan, hingga beberapa detik berlalu, tak ada respon atau suatu tindakan dari Sasya akhirnya Dyland menjauhkan bibirnya dari Sasya.
Ditatapnya Sasya yg menutup kedua matanya.

"bintang, apa dia benar2 menciumku, atau ini hanya mimpi, jika memang mimpi jangan biarkan aku terbangun"
Sasya berkata dalam hati sambil terus memejamkan matanya.
Dyland y berdiri disampingnya menatap Sasya heran.
Dicubitnya pipi kanan Sasya dgn tangan Dyland dan Sasyapun teriak kesakitan.

"aww"teriak Sasya sambil membuka matanya dan menatap Dyland y menatapnya tajam.

"dasar bodoh, mengapa kau tak melawan atau memukulku saat aku menciummu,huh?"
Sasya terdiam sambil terus menatap Dyland y masih bicara.

"atau jangan2 emang itu yg kau mau" ledek Dyland membuat pipi Sasya memerah.

"apa?"

"kau mau aku melakukannya lagi huh?"
Dyland mendekat wajahnya ke wajah Sasya y semakin memerah, Dyland menaikkan alisnya dan tersenyum evil.
Membuat Sasya semakin salah tingkah.

"kalau kau berani menciumku lagi, aku akan memukulmu"

"haha.. Aku tlah terbiasa dipukul, jadi ada baiknya aku menciummu lagi"
Wajah mereka semakin dekat, Sasya dapat melihat jelas beberapa goresan luka bekas diwajah Dyland dan bibir tipis kemerahan milik Dyland.
Sementara Dyland dpt melihat jelas kecantikan wajah Sasya y natural tanpa make up dan matanya y indah bagaikan mata seorang bidadari.
Seketika keheningan menemani mereka.
Jantung Sasya berdetak tak menentu begitupun Dyland.
Ini adalah kali pertama Dyland merasakan getaran aneh dalam jantungnya.
Ternyata Dyland benar2 jatuh cinta.

"tidak, aku akan membunuhmu jika kau berani menciumku" ancam Sasya sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Dyland dan Dyland hanya tertawa kecil.

"aku serius" kata Sasya kesal. Sasya mendekat kearah Dyland,kini Sasya berdiri disamping Dyland dan sebuah tendangan mendarat tepat dikaki kanan Dyland. Sasya menendang Dyland dan terus memukul pundak Dyland y membungkuk dgn tangan kurusnya.

"hentikan"bentak Dyland berusaha menghentikan pukulan Sasya padanya. Dyland menarik tangan Sasya dan menatapnya.

"apa kau ingin membunuhku,huh?"bentak Dyland pada Sasya y cemberut.

"dasar bodoh, percuma kau memukuliku seperti itu, karena tanganmu terlalu kurus untuk menyakitiku, lain kali bawalah kayu besi dan pukullah aku dgn kayu ditanganmu, itu akan membuat tubuhku terasa sedikit sakit" kata Dyland sambil menatap telapak tangan Sasya y merah.

"dasar bodoh, lihatlah kau ingin membuatku kesakitan tapi justru kau yg terluka"

"aku baik2 ajah, dan jangan memanggilku bodoh lagi, kau dengar itu"
Sasya menepis tangan Dyland dan memasukkan kedua tangannya kesaku celana piyama panjangnya.

"mengapa aku tak boleh memanggilmu bodoh bukankah kau benar2 bodoh"
Kata2 Dyland semakin membuat Sasya kesal.

"aku tak bodoh, justru kau yg bodoh, kau bodoh karena meninggalkan aku begitu saja disekolah setelah kau bilang cinta padaku, apa kau tau betapa sakitnya aku saat kau berlalu begitu saja dan tak menghiraukan aku y terus memanggil namamu"

Dyland terdiam sambil terus mendengarkan setiap kalimat yg diucapkan Sasya.

"kau bodoh, seharusnya kau tetap disana dan menunggu jawaban dariku, kalau memang kau mencintaiku kau tak akan pernah meninggalkanku"
Sasya berkata sambil menunduk dan air matapun jatuh membasahi pipinya.
Dyland mendekatkan wajahnya dan menatap Sasya y menangis.

"loe nangis?"tanya Dyland pelan.

"dasar bodoh apa kau pikir saat ini aku sedang tertawa" kata Sasya sambil menghapus air matanya.
Wajahnya masih menunduk.

"apa karena aku?" tanya Dyland lagi dan Sasya hanya mengangguk.

5detik Dyland terus menatap Sasya y masih menangis, Dyland benar2 tak tau apa y harus ia lakukan.
Tiba2 Sasya memukul lengan Dyland dan menatap Dyland y menatapnya heran.

"kau benar2 bodoh, seharusnya kau minta maaf padaku karena tlah membuatku menangis atau menghapus air mataku y aku yg aku keluarkan karenamu,bukan terus memandangiku seperti itu, aku benci kamu"
Bentak Sasya.
Dyland terdiam dan berlalu masuk kedalam rumah, suara Dyland menutup pintu rumahnya terdengar jelas ditelinga Sasya.
Apa untuk kesekian kalinya Dyland meninggalkan Sasya seorang diri.

Sasya menatap pintu besi rumah Dyland dan air matanya tak henti2nya mengalir.
"tuhan, mengapa kau biarkan aku mencintai dia jika dia terus menyakitiku, aku tau dia marah dan pasti saat ini dia membenciku, apa cintaku selamanya tak akan memilikinya"

Tapi tiba2 Sasya melihat pintu itu terbuka dan pangeran cintanya keluar dan berjalan kearahnya.
Dyland berjalan sambil membawa sapu tangan ditangannya.
Dyland mengusap air mata Sasya dgn sapu tangan miliknya,saat itu pula air mata Sasya berhenti.

"dasar bodoh, kau tak perlu mengeluarkan banyak air matamu untuk menangisiku, tapi aku minta maaf telah kasar padamu" Dyland berkata sambil terus mengusap air mata Sasya.

"aku mencintaimu Dyland"
Kata Sasya pelan membuat Dyland terdiam beberapa detik sebelum sebuah pertanyaan terlontar dari bibirnya.

"apa sya?"

"aku mencintaimu, Dyland"

"apa?" Dyland berlagak tak mendengar dan itu membuat Sasya kesal.

"aku juga mencintaimu, bodoh" Dyland berkata sambil mengelus rambut panjang Sasya membuat Sasya tersenyum senang.
Mungkin inilah akhir kisah cinta Sasya dan sang troublemaker atau justru jalan kisah cinta mereka masih panjang, hanya tuhan dan penulislah y tau *plakAbaikan



continue ^^

Minggu, 21 Oktober 2012

"The One I Love!" #PART4


Dyland terus mengeluarkan isi laci mejanya mencari sesuatu.
Aldy y baru tiba langsung duduk didepan Dyland.
"loe nyari apaan Troub?" tanya aldy sambil membalikkan badannya kebelakang menghadap Dyland.
"ipod" jawab Dyland singkat tanpa menatap aldy dan terus mencari.
Kertas2 bercoret memenuhi meja Dyland.
Aldy mengambil salah satu kertas dari meja Dyland dan membaca tulisan yg tertera di sana.
Sementara Dyland masih sibuk mencari.

"i love you girl"
Kata aldy sambil terus membaca tulisan y ternyata adalah tulisan tangan Dyland.
"loe lanjutin baca, tangan loe patah" ancam Dyland.
Aldy tak menghiraukan dan terus membaca.
"so i decided to write u this song and just to let you know exactly the way i feel, ajiibb"
"loe lanjutin baca, kaki loe ilang" ancam Dyland lagi tp tetap tak dihiraukan oleh aldy. Aldy malah berdiri dan berjalan kedepan kelas.
"perhatian semua, gue mau bacain surat cinta dari Dyland sang troublemaker sekolah" teriak aldy. Semua matapun kini tertuju pada ketua kelas itu.
Hanya Sasya y baru tiba y menatap Dyland y menatap tajam aldy.

"to let you know my love is for real, because i love you and i'll do anything, if you should feel that i don't really care and that you're starting to lose ground,
Girl wont you please come on in"
Aldy menatap Dyland sambil menunjukkan evil smilenya.
"loe lanjutin baca, kepala loe putus" ancam Dyland untuk ketiga kalinya y masih tak dihiraukan aldy.

"i love you, Sasya"
"Sasya!" Teriak anak satu kelas sambil mengalihkan pandangannya kearah Sasya y terdiam.
"benaran dil loe cinta Sasya?" tanya beni y duduk disamping Dyland.
Tak ada jwban dr mulut Dyland.

"Dyland cinta gue, apa ini mimpi"

"beneran dil, loe cinta Sasya?" tanya beni lagi berharap ada jawaban dari bibir Dyland.
Tapi nyatanya Dyland masih terdiam.

"eh tunggu masih ada lanjutannya nech" perkataan aldy membuat semua siswa berbalik menatapnya.

"gue ga tau kenapa, setiap kali loe disisi gue, hati gue bahagia dan senang dan saat loe jauh hati gue sedih dan kehilangan, karena loe gue masih ada disekolah ini khususnya dikelas ini, karena loe gue sempetin hadir saat pelajaran matematika pelajaran y paling gue benci hanya untuk melihat senyum loe.
Karena loe gue berusaha cari masalah sama anak2 agar mereka marah dan menghajar gue hingga terluka hanya untuk melihat loe mengobati luka gue"
Sasya terus menatap Dyland y menunduk sambil terus mendengarkan aldy y masih membaca.

"ahh,percuma gue nulis semua ini toh slamanya loe ga akan pernah tau perasaan gue y sebenarnya, selesai"
Aldy berkata sambil melipat kertas ditangannya dan menatap Dyland.

"Dyland, bisa dijelaskan apa y sebenarnya terjadi?"aldy berkata sambil mengikuti gaya bicara bapak kepala sekolah y lancang sambil bertolak pinggang.

Kini semua mata tertuju pada Dyland.
Mira mendekati Dyland dan menatap Dyland tajam.

"hah, loe beneran suka sama Sasya, ga salah tuh?"

"Dyland suka Sasya, sang troublemaker sekolah jatuh cinta sama siswi berprestasi disekolah, seharusnya loe sadar siapa loe dan siapa dia" kini giliran kiki y angkat bicara.
Sasya tak dapat bicara apa2 bibirnya seolah2 membeku.

"ternyata loe hebat juga dyl bisa jatuh cinta gue pikir loe cuma bisa buat masalah" kata beni sambil melakukan high5 dgn teman sebangkunya.

Kiki berjalan kearah Sasya dan berdiri disamping Sasya
"trus sya, apa jawaban loe, kalau gue jadi loe gue akan nolak Dyland karena gue yakin masih banyak cowo y baik,ganteng pengertian buat gue, troublemaker itu cuma merepotkan dan gue ga mau cari mas.."

"CUKUP" teriak Dyland keras memotong perkataan kiki membuat sekeliling kelas hening.
Dyland berdiri dari duduknya.

"yg jatuh cinta gue kenapa kalian rame, gue ga pernah minta pendapat kalian dan gue ga butuh"
Sasya menatap Dyland yg terus bicara.

"emang salah kalau gue jatuh cinta, cinta itu halal untuk siapa saja termasuk gue sang troublemaker, jangan melihat sesuatu dari covernya tp lihatlah isinya dan apa salahnya jika gue mencintainya bukankah perbedaan y membuat kita satu"
Seisi kelas terpanah mendengar perkataan Dyland.
"ga biasanya Dyland berfikir dewasa"pikir mereka.

"ngomong apa gue barusan" Dyland berkata bingung sambil menampar2 pipinya.

"idiot.. Idiot"
Dyland menatap sekeliling semua mata tertuju padanya.
Dyland menatap mario diluar jendela y mengancungkan jari tengahnya kearah Dyland sambil tersenyum mengancam.

"dasar gay, kalau berani sini loe masuk" teriak Dyland pada mario yg mengancamnya keluar kelas.

"Gue tunggu loe di gudang troublemaker" kata mario dan pergi.

"hah cari mati tuch orang" Dyland berkata tanpa menyadari seisi kelas yg terus menatapnya.
Dyland berjalan kedepan mendekati aldy yg tersenyum tak berdosa.

"loe the end" ancam Dyland pada aldy dan berlalu pergi.

Bel telah berbunyi pelajaranpun kembali dimulai.


*dhariel
Seperti yg tlah disepakati dhariel melangkahkan kakinya mendekati kantin sekolah.
Matanyapun langsung mencari viona disetiap sudut kantin.
Suara seseorang mengagetkannya.

"dorR.. Nyariin gue yah,kenapa kangen" kata viona membuat dhariel menatapnya.

"pulpoin gue mana, balikin"

"oh iya lupa ada dikelas" kata viona diiringi dgn senyum manjanya.
Viona adalah cewe berkulit putih bertubuh tinggi dgn rambut sebahu kecoklatan keturunan amerika dan viona merupakan siswa tercantik di sma ini.

Dhariel menatap Sasya y berjalan seorang diri sambil menundukkan wajahnya dan dharielpun berinisiatif mengejar Sasya.

"dhariel loe mau kemana?"tanya viona sambil menatap dhariel y menjauh.


"Sasya"teriakan dhariel membuat Sasya menghentikan langkahnya.

"dhariel" sapa Sasya dan dhariel tersenyum sambil berdiri disampingnya.
Kini dhariel menggenggam tangan kanan Sasya membuat Sasya menatapnya tajam.

"gue lapar, temenin gue kekantin"kata dhariel sambil menarik tangan Sasya. Entah kenapa saat ini Sasya tak bisa menolaknya.
Langkah mereka terhenti ketika berpapasan dgn dhyland y br keluar dari kantor kepala sekolah.
Dyland menatap tangan dhariel y menggenggam tangan Sasya dan dhylanpun segera menjauhkan tangan keduanya.
Sasya menatap wajah Dyland yg penuh dgn luka akibat perkelahiannya dgn mario.
Sasya membelai pipi Dyland y terluka tampak kecemasan diwajah Sasya saat ini.

"kamu ga apa2?"
Dyland menepis tangan Sasya.

"gue Dyland, everything is gonna be ok's"
Dan Dylandpun berlalu.

"dia siapa?" tanya dhariel pada Sasya y terus menatap Dyland.

"dia Dyland"
Jawab Sasya singkat.

"bukan itu, maksud aku dia siapa kamu?"

"dia teman sekaligus sahabat aku"

"hanya sebatas itu?"
Sasya mengangguk.

"tapi kenapa dia ga suka aku dekat sama kamu, apa dia menyukaimu?" pertanyaan dhariel membuat Sasya terdiam.
Sasya bingung harus menjawab apa karena ia sendiri tak tau jawaban y sesungguhnya.
"apakah Dyland menyukaiku?"



Dyland tiba dikelas. Semua mata tak pernah lepas darinya.
Tatapan mereka yg aneh membuat Dyland risih.

"gue bukan terpidana y baru bunuh orang tadi pagi" kata Dyland kesal sambil duduk dibangkunya.
Beni menghampiri Dyland dan duduk disampingnya.

"loe beneran suka sama Sasya?"
Tanya beni sambil menunggu jawaban dari Dyland.

"kalau iya kenapa, dosa?" tanya Dyland balik membuat beni berfikir sejenak sambil memain2kan pulpoin didepannya kemudian menggeleng.

"benar kata loe, cinta itu halal untuk siapa saja termasuk loe sang troublemaker"

"kapan gue ngomong kaya githu?" tanya dhyland bingung.

"lah tadikan loe y ngomong"
Beni menggaruk2kan rambutnya y gimbal.

"trus kapan rencananya loe bakal nembak Sasya?" tanya beni sambil menaik2kan alisnya.

"tadi bukannya gue udah nembak dia?"

"tadi?kapan?"

"bukankah surat itu udah mewakili perasaan gue?"

"Dyland Sasya itu cewe bukan curut"

"maksud loe apa?"

"surat itu ga ada arti apa2 tanpa kata 'i love u' dari bibir loe"

"aah, kalau itu ga akan pernah gue lakukan"
Dyland berkata sambil menatap Sasya y baru tiba diantar dhariel.
Sasya tersenyum pada dhariel y pergi dan Sasyapun melangkahkan kakinya mendekati bangku miliknya dan duduk.
"Sasya, ada y mau dhylan bicarain sama loe" kata beni sambil menarik Dyland berdiri.
Sasya menatap beni y terus mendorong pudak Dyland mendekati meja Sasya tiga bangku didepan Dyland.

"apaan sech, loe mau mata loe ilang sebelah" ancam Dyland pada beni y tersenyum.

"oks, loe boleh cabut mata gue sebelah gue rela asal loe bilang 'i love you' sama Sasya" perkataan beni membuat Dyland menatapnya sinis.

"udah sana, Sasya udah nungguin loe"
Dyland berjalan kearah Sasya dan menatap Sasya y menatapnya.

"ada apa?"tanya Sasya lembut.
Tak ada jawaban dari bibir Dyland, Dyland menatap kebelakang dilihatnya beni y sedang mengisyaratkan sesuatu.

"i love you" beni berkata tampa suara hanya bibirnya y bergerak.

"Dyland" suara Sasya membuat Dyland kembali menatap mata indah Sasya.

"aku..."
Sasya menatap Dyland penuh arti.

"aku..." Dyland masih sulit melanjutkan perkataannya.
Sasya mengalihkan pandangannya keluar jendela y ternyata kembali hujan.

"oh hujan, padahal aku lupa bawa payung" kecewa Sasya sambil terus menatap keluar jendela.

"i love you"
Dyland berkata pelan sambil berlalu keluar kelas.
Sementara Sasya yg mendengar perkataan Dyland menjadi diam tak bersuara.

Benarkah, Dyland baru mengatakan 'i love you' padanya atau Sasya hanya bermimpi.


Dyland terus melangkahkan kakinya menjauh dari kelas, pikirannya benar2 kacau, ini kali pertama Dyland mengatakan cinta pada seorang cewe.
Dyland mempercepat langkahnya tapi seseorang menarik tangannya dan membawanya kebelakang sekolah.

"dhariel?"
Ternyata dhariel y tlah menarik tangan Dyland dan membawanya kebelakang sekolah.

"apa kabar Dyland?" tanya dhariel sambil menatap Dyland y menunduk.

"tatap mata gue dil, dan bilang kalau loe kangen sama gue"
Dhyland terus menunduk. Tak ada jawaban dari bibir Dyland.


*dhyland and dhariel

"gue kangen loe, ian" dhariel berkata pada dhyland y menunduk.

"gue tau loe marah karena gue ninggalin loe dan lebih milih mereka, gue lakuin semua itu karena gue tau itu y terbaik buat loe, gue ga akan pernah buat loe celaka ian"

 (flashback onN)
dhiland and dhariel adalah dua sahabat sejati sewaktu SD.
Dhariel memanggil Dyland dgn sebutan "ian" sedangkan Dyland memanggil dhariel dgn sebutan ariel.
Dulu Dyland kecil sangatlah pemalu, manja, dan cengeng sedangkan dhariel sejak kecil tlah terlihat playboy dan tanpan.
Dhariellah y selalu menolong Dyland saat ia diejek disekolah.
Dyland y lemah berkelahi selalu mendapat pertolongan dr dhariel.

Suatu hari saat kelulusan SD.
Ian terdiam disamping aril sambil memegang rapot ditangannya.
Terlihat jelas wajah Dyland y sedih tp dhariel berusaha menghiburnya.

"kita pasti ketemu lagi ian, aku janji liburan nanti aku pasti nemuin kamu disini" hibur dhariel kecil pd Dyland y menunduk.

"kalau kamu pergi, mereka akan terus mengganggu aku, aku lemah berkelahi ariel, nanti siapa y akan menolongku kalau kau pergi"
Kata Dyland pada dhariel y saat itu mengenakan topi sekolah.
Bibir Dhariel tersenyum tapi hatinya terluka,
Ia tak ingin meninggalkan diland seorang diri dikota besar ini, tp ia tak mungkin membiarkan mamanya pergi seorang diri.

"ian, kamu sama seperti aku, aku cowo kamu juga cowo, aku makan nasi kamu juga kan?"
Dyland mengangguk.

"aku bisa berkelahi dan kamu juga harus yakin bisa melakukan itu"

"tapi aril mereka sangat banyak, aku takut"

"tak usah takut Dyland mereka hanya lima orang, aku yakin nanti kalau kamu dewasa, kamu akan mengalahkan lebih dari mereka"

"tapi apa aku bisa melakukannya?" tanya Dyland membuat dhariel berdiri dari duduk.

"bukankah aku sudah mengajarimu bagaimana cara melawan mereka?"
Dyland mengangguk.

"saat mereka mendekat tendang kaki mereka hingga mereka terjatuh"
Dhariel memperagakan sambil menendangkan kakinya keudara.

"lalu kau pegang wajah mereka dan berikan pukulan y kuat pada bibir mereka hingga berdarah"
Dhariel terus memperagakan apa y ia katakan.
Kali ini ia mengarahkan sebuah tonjokan keudara.

"setelah itu tendang mereka berulang kali sampai mereka lemah, dan setelah itu kau akan menang ian"

"wah kau hebat aril aku ingin menjadi kuat sepertimu"
Dhyland berkata sambil berdiri dan berjalan kearah dhariel.

Sejak saat itu Dyland berusaha menjadi kuat tanpa dhariel dan kini semuanya tlah nyata Dyland kecil y lemah telah berubah menjadi Dyland remaja y kuat dan selalu membuat masalah.

 (flashback off)

"gue dgr loe selalu buat masalah disekolah ini, byk siswa y jadi korban pukulan maut loe, ternyata loe hebat juga"
Dyland tersenyum sinis.

"gue bangga jadi sahabat loe" dhariel berkata sambil memeluk tubuh kekar Dyland untuk beberapa saat Dyland terdiam,
Dyland ingin melepas pelukan itu tapi ia merindukan saat2 seperti ini.
Akhirnya Dyland melepas pelukan dhariel dan mendorong dhariel hingga terjatuh.

"gue bukan sahabat loe, dan sekali lagi loe meluk gue hidung loe gue sita"
Kata Dyland dan berlalu pergi.

"Sasya cantik juga, sepertinya gue suka sama dia" kata2 dhariel membuat Dyland berhenti dan berbalik kearah dhariel y mencoba berdiri. Dyland mendorong dhariel untuk kedua kalinya hingga dhariel terjatuh.
Didekatkannya wajahnya kewajah dhariel y terduduk

"jauhi Sasya atau, jari tangan loe gue kilo"
Dyland berlalu pergi meninggalkan dhariel y tersenyum.
Dhariel mengambil ipod hitam milik Dyland dari saku seragamnya dan menatapnya.
"gue senang loe masih nyimpen i-pod pemberian gue dil"



continue ^^

Online Now Icons