“Apa aku sedang berada di bumi?”
Malam yang semakin mencekam. Berdiri pemuda berpakaian
serba hitam disudut taman yg mulai terlihat sepi...
Wajahnya terlihat bingung, menengok kiri-kanan tak
menentu.
“Kenapa
sepi sekali?:
Ia bertanya pada dirinya sendiri.
Tak banyak yg ia temukan dalam taman itu, hanya sebuah
kursi dan beberapa bunga penghiasnya.
Ia terduduk disalah satu kursi kayu, setelah melangkahkan
kakinya beberapa langkah, wajahnya masih terlihat bingung, selayaknya seorang
anak kecil yang tersesat dan tak tau arah tujuan pulang, yah mungkin seperti
itulah gambaran mimik pada wajahnya.
“Opa
Eddy benar-benar tak memiliki hati nurani, bagaimana bisa ia mengirimku kesini
hanya karena kesalahan kecilku.” Ia menggutu kesal, menendang krikil dibawah
kakinya dengan tatapan mata lurus kedepan. “Hukuman macam apa ini?”
Ia mendengus pelan, menghirup udara baru disekitarnya,
terasa aneh memang tapi inilah kehidupan yang harus dijalaninya sekarang.
Ia mengacak rambut hitam kemerah-merahannya kesal.
“Bagaimana bisa aku terlahir dari keluarga cullen??” Semakin kencang
keduatangannya beradu dengan rambut tebalnya. “Membosankan!”
Plung!!!
“AISH!”
Ia menjerit keras saat sebuah botol apik mengenai kepalanya, ia berdiri setelah
meraih botol itu yang terjatuh tepat dibawah kakinya, kemudian ia menatap
sekeliling taman,
Sepi! Hanya terdengar suara daun-daun kering yang saling
bergesekan dan juga hembusan angin disekelilingnya. “Sepi! Tak ada seorangpun.”
Ia menggaruk tengkuknya resah. “Kenapa jadi semenakutkan
ini?” dirasakan sekujur tubuhnya yang seketika merinding disko, keningnya
seketika berkeringat dan kedua tangannya bergetar hebat.
“Sepertinya aku harus pergi dari tempat ini!”
Dilangkahkannya cepat kedua kakinya menjauh dari taman
yang mulai mengeluarkan wangi yang tak biasa dalam penciumannya. “Kenapa bau
sekali?” Ia menutup hidungnya cepat sambil melangkah cepat.
Langkahnya terhenti, saat ia menatap seorang gadis
terjongkok didepannya, gadis itu terlihat sibuk membenahi beberapa berkas yang
terjatuh, terdiam saat ia menatap sebuah kaki beralaskan sepatu hitam yang
cukup mengkilap hingga membuat mata gadis bernama Shila itu tersilaukan.
“Hmm!” shila berdiri setelah selesai membenahi
berkas-berkas itu, ia terdiam saat matanya memandang sosok didepannya.
Tampan... sempurna...!
Baru kali ini, gadis itu bertemu dengan pemuda setampan
satu sosok didepannya ini, mata coklat kemerahan membuatnya terlihat lebih
seksi, bertambah dengan alis tebalnya.
Oh!! Adakah kata lain untuk menggambarkannya selain SEMPURNA??
“Hmm!”
Pemuda itu tak banyak bicara, ia masih menutup hidungnya dengan tangan
kanannya, sementara tangan kirinya sibuk bergerak-gerak dibelakang kepala.
“Semakin bau saja?” gumamnya pelan.
Shilla membelakan matanya dan menggembungkan pipinya,
“Kenapa dia menutup hidungnya seperti itu?” gadis itu berusaha mencium aroma
tubuhnya sendiri, mulai dari kerah baju, ketiak, hingga kedua telapak tangan.
“Harum.” Ia berseru pelan.
Shilla kembali menatap pemuda itu yg masih berdiri
didepannya dan masih menutup hidung.
“Kau kenapa? Apa aku ini bau?” gadis itu bertanya dengan
suara pelannya. “Padahal hari ini aku mandi tiga kali.” Ia bergumam sendiri.
“Siapa
namamu?”
Shilla mengangkat alisnya saat pemuda itu berseru
padanya. “Hmm.. namaku..” ia menggantungkan perkataannya, menatap tajam pemuda
beralis tebal itu. “Tunggu siapapun namaku, apa urusanmu?”
Gadis itu mendekap berkas dikeduatangannya didada. “Kau
ingin menculikku?” Tanyanya dengan tatapan mata mengintrogasi.
“Ah
tidak!” ia masih sibuk menutupi hidungnya, menundukkan wajahnya sedikit hingga
sejajar dengan wajah oval gadis imut itu, kemudian berbisik. ‘’Kau tak mencium
bau yg aneh?” ia mengangkat sebelah alis.
Shilla menggeleng dan mendorong wajah pemuda itu menjauh
darinya. “Tidak!” gadis itupun mengrucutkan bibirnya kesal. “Sudah, jangan kau
tutupi terus hidungmu seperti itu!” ia menarik paksa tangan pemuda itu yang
menempel pada hidung panjangnya. “Apa kau ingin mati kehabisan oksigen karena
itu?” Shilla bersuara keras setelah berhasil membuat pemuda itu menurut pelan.
Hawa malam semakin terasa, pemuda berambut sedikit ikal
dibagian babwah itu seketika merasakan tubuhnya yang kembali merinding disko.
“Aish!” Ia bergumam pelan, menatap gadis didepannya yang sibuk menatap
sekellling.
“Kau
tau sekarang pukul berapa?” Shilla mengalihkan mata coklatnya pada pemuda itu
yang seketika mengerutkan kening.
“Kapan
aku memukulmu?”
Shilla menarik nafas panjang saat pertanyaan itu
terlontarkan dari bibir pemuda yang belum diketahui namanya itu. “Bukan itu
maksudku.” Ia menggesek-gesekkan giginya gemas. “Jam, jam berapa sekarang?”
“Oh
itu,” pemuda itu mengangguk mengerti. “Setengah dua sepertinya.”
“Setengah
dua?” Shilla membelakkan matanya, “Lalu apa yang kau lakukan disini? Kau kabur
dari rumah? Atau kau benar-benar seorang penjahat?”
“Hey!”
Pemuda itu mendorong kening Shilla dengan tangannya. “Aku ini Lelaki, jadi
wajar kalau berada diluar dijam-jam seperti ini.”
Shilla mengangguk pelan membenarkan.
“Seharusnya
aku yang bertanya padamu, apa yang kau lakukan malam—malam begini diluar? Kau
ingin menjual diri huh?” Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya mengejek.
Shilla menatapnya geram. “Hey, jaga bicaramu!” ia membuka
tas yang sedaritadi bergelantung pada pinggang langsingnya dan memasukkan
berkas-berkas itu disana. “Aku sedang mencari seseorang.”
Lanjutnya.
“Wah
kebetulan sekali, aku juga sedang mencari seseorang.”
Untuk beberapa detik keduanya terdiam, memikirkan
perkataan yang baru saja mereka ucapkan.
Sama-sama mencari seseorang??
Benar-benar kebetulan yang aneh..
Shilla melirik pemuda itu yang sibuk menggembungkan kedua
pipinya, gadis itupun menatap pemuda itu dari atas hingga bawah..
Sempurna!!! Seolah tak ada cacat sedikitpun dan keningnya
mengerut saat ia menatap wajah pemuda itu yang begitu mirip dengan sosok yang
sangat diidolakannya selama ini.
Edward cullen!!
Shilla menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak mungkin
pemuda ini adalah titisan dari Edward cullen!” ia mengacak rambutnya cepat.
“Aduh!! Berhentilah berkhayal yang tidak-tidak Shilla, tak mungkin ada Vampire
didunia ini, sadarlah!” ia menepuk-nepuk pipinya sendiri, mengusir rasa resah
yang seketika menghantuinya.
“Lagipula jika pemuda ini adalah Vampire, aku tak melihat
ia memiliki taring yang panjang pada giginya?” pertanyaan bodohpun mulai
menjumpai gadis belia itu. “Tidak!Tidak! apa-apaan aku ini?”
Ia terkejut,
meloncat sedikit kebelakang saat wajah pemuda itu mendekat pada wajahnya.
“Kau
kenapa?”
Pertanyaan pemuda itu membuat jantung Shailla berdetak
kencang, “Liatlah rambutmu jadi berantakkan begini.” Ia mengelus pelan rambut
hitam Shilla yang terdiam.
Wajah keduanya begitu dekat, debaran itu semakin terasa
saat keduanya saling bertemu pandang, angin disekitar taman itupun seketika
berhembus berirama.
“Shilla,
itu namamu?” Pemuda itu menatap tajam Shilla yang seketika menunduk.
Tak banyak kata yang diucapkan gadis itu saat ini.
“Cukup cantik!” iaa bergumam pelan, meraih dagu gadis itu
hingga menatapnya. “Tatap aku Shilla!”
“Darimana
kau tau namaku?” Shilla menatap resah pemuda itu yang tersenyum. “Sebenarnya
kau ini siapa?” Gadis itu semakin merasakan aura berbeda pada pemuda
didepannya.
Tubuh tegapnya dan tatapan mata elang serta suara serak
itu mengingatkan Shilla pada satu sosok.
Vampire!
Terlebih wajah putih pemuda ini dan harum yang tak biasa
untuk indra penciuman Shilla.
“Kau..
kau Vampire?” ia menggigit bibir bawahnya, kedua kakinnya bergetar tak menentu.
“Dan kau ingin menghisap darahku?”
Pemuda itu tersenyum tipis, jemarinya masih berlabuh apik
dibawah dagu Shilla. ‘ Darimana kau tau aku adalah Vampire?” ia sengaja menekan
suaranya dibagian akhir ucapannya. “Dan aku akan menghisap darahmu nona manis!”
Shilla membelakkan matanya, “’Tidak mungkin!” didorongnya
tubuh tegap itu menjauh, “Darahku pahit.. kau tak akan menyukainya!” gadis itu
berusaha mundur sedikit demi sedikit, menjauh dari pemuda itu yang seketika
tersenyum lebar. “Aku.. Aku..” suara gadis itu bergetar. “Jangan bunuh aku!”
Gadis itu berjongkok dan menenggelamkan wajahnya pada sela-sela lututnya. Ia menangis
takut.
Pemuda itu mendekat, iapun ikut berjongkok didepan Shilla
yang masih bersuara disela tangisannya.
“Jangan
membunuhku, aku tak ingin mati sekarang, aku masih terlalu muda untuk itu.”
“Shilla,”
pemuda itu berusaha meraih lengan gadis itu, tai dengan cepat Shilla
menepisnya.
“Kau tak akan mati Shilla, untuk sekarang,”
Shilla menaikkan wajahnya menatap pemuda itu yang
tersenyum manis padanya. “Kau tak ingin membunuhku? Ia menghapus airmatanya
sendiri dengan kedua tangannya cepat.
“Aku
kesini bukan untuk membunuhmu,” pemuda itu membantu Shila mengahapus
airmatanya. “Aku hanya ingin mengambil darahmu, Cuma itu.”
Mata Shilla kembali membesar, dengan cepat ia berdiri.
“Kau..Kau..” ditunjukkan pemuda itu yang masih berjongkok didepannya.
“Ayolah
Shilla!” pemuda itu ikut berdiri, “Apa Bella mati saat Edward menghisap
darahnya?” tanyanya pada Shilla yang
menggeleng.
“Tidak!”
“Lalu
apa yang kau takuti?”
Shilla terdiam, gadis itu benar-benar merasa berada dalam
sebuah skenario film twilight, dimana disini ia memerankan peran pengganti
Bella, sementara pemuda didepannya ini adalah sosok vampire Cool bermata dingin
Edward.
“Hey,
jadi bagaimana?” pemuda itu menepuk punggung Shilla pelan. “Aku berjanji akan
membuat hidupmu lebih bahagia dari saat-saat yang telah kau lalui?”
Ditatapnya gadis itu yang masih terdiam.
Tak dapat ia pungkiri, gadis itupun sering bermimpi bahwa
ia ingin merasakan bagaimana menjadi seperti Bella, hidup dan dicintai sesosokk
Vampire?? Menyenangkan, itu yang selalu ia pikirkan.
Tapi ia tak pernah menyangka bahwa semuanya benar-benar
akan menjadi kenyataan, saat ini, disini, ia bertemu dengan sosok Vampire yang
mungkin akan mengubah jalan hidupnya selayaknya Bella dulu.
“AOU
Sakit!” ia merasakan sakit dilengannya saat tangannya mencoba mencubit dirinya
sendiri. “Ini bukan mimpi!” ia bergumam pelan.
Shilla menatap takut pemuda itu yang masih berdiri
didepannya, cukup tampan dan bahkan mungkin lebih tampan dari Robert pattinson
idolanya.
Mungkin jika ia membiarkan pemuda misterius ini menghisap
darahnya, besok ia bisa berbangga diri pada sahabat-sahabatnya disekolah bahwa
ia tak lagi sosok manusia yang sama seperti mereka, melainkan sosok Vampire.
Dan yang lebih membuatnya bangga, Vampire yang menghisap darahnya lebih cool
dari edwardnya Bella.
Sempurna!!
“Hey!”
Suara seruan pemuda itu mengagetkan khayalan gadis manis
itu, entah sadar atau tidak gadis itu seketika mengangguk setuju.
“Kau
boleh menghisap darahku sekarang!” katanya pasrah sambil menutup keduamatanya.
Hatinya berdetak tak menentu saat suara langkah pemuda
itu semakin mendekat, mungkin sebentar lagi hidupnya akan berubah, entah lebih
baik atau malah sebaliknya.
Semakin dekat pemuda itu melangkah pelan mendekati gadis
polos itu, ia menggeleng gemas diiringi dengan senyuman khasnya. “Maafkan Aku!”
ia berbisik ditelinga kanan Shilla yang mengangguk.
Bagaimana rasanya dihisap darahhnya oleh sosok Vampire
tampan??
Mungkin pertanyaan Shilla selama ini akan terjawab
sekarang.
Dua detik, Shilla memejamkan matanya tapi ia tak
merasakan nyeri pada lehernya, ia tak merasakan seseorang menghisap darahnya.
Perlahan ia membuka matanya, sepi....
Tak ada seorangpun disini, lalu kemana perginya pemuda
misterius itu.
Shilla menarik nafasnya panjang, “Apa jangan-jangan..”
seketika ia merasakan hawa dingin menyelimuti tubuh kurusnya. “HANTU!!!!”
Gadis itu berlari cepat tanpa arah, sebenarnya siapa
pemuda misterius itu, Vampire tampan atau Hantu handsome??
Siapapun dia Shilla berharap tak akan pernah bertemu lagi
dengannya.
Bugh!!
Tanpa sadar, Shilla menyenggol tubuh seseorang.
“Shilla
sayang!”
Shilla menatap cepat wajah pria didepannya, “Ayah!”
dirangkulnya cepat tubuh pria berkumis tipis itu. “Shilla ketemu hantu ayah,
Shilla takut!” rengeknya pelan.
Perlahan sang ayah melepas pelukan hangat itu. “Shilla,
itu hanya halusinasi kamu sayang!” dibelainya lembut rambut putri kesayangannya
itu.
“Om,
kunci mobilnya...”
Shilla terdiam menatap pemuda misterius itu yang
tiba-tiba berdiri disamping sang ayah. “HANTU!” teriak Shilla kencang membuat
pemuda itu menutup gendang telinganya cepat.
“Dia, Dia hantu yang tadi Shilla temui ayah!” Shilla
kembali memeluk tubuh sang ayah, sambil tangan kanannya menunjuk pemuda misterius itu.
“Shilla
dia bukan hantu sayang!”
Shilla melepas pelukannya dan menatap sang ayah yang
tersenyum. “Kalau bukan hantu siapa?? Vampire?”
“Bang
toyib aku!” sambar pemuda itu kesal sambil memasukkan kunci pada saku celana
hitamnya.
Shilla mengkrucutkan bibirnya kesal, “Gak lucu!”
“Dia
ini Raymon!” sang Ayah mencoba mengenalkan pemuda misterius itu pada Shilla.
“Dia cucunya opa Eddy yang tinggal di Bandung, jadi
kalian sepupuan.”
Shilla menggaruk tengkuknya, dan mendekat pada Raymon,
“Jadi kamu bukan Vampire?” Gadis itu berbisik pelan.
“Bukan.”
Jawab Raymon singkat.
“Bukan
juga hantu?”
“Bukan.”
Raymon menekan suaranya. “I’am a Human.”


Tidak ada komentar:
Posting Komentar