Facebook Badge

Selasa, 16 Juli 2013

"Ketika Dira, Jatuh Cinta!" #EPILOG

[Tentang Dira]

Kali ini aku pake POV Dira yah 

**
"Jadi siapa??"
Evan menatapku tajam sammbil menjatuhkan tubuhnya berbaring di bedcover milikku.

Aku menatapnya yang saat itu masih mengenakan seragam putih abu-abu,wajahnya terlihat begitu penasaran menanti jawaban atas pertanyaannya barusan. "Siapa siapa??" Tanyaku balik sambil melebarkan senyum termanisku.

sebenarnya aku tau tentang apa yang sedang ia pertanyakan, tapi, untuk saat ini aku sedang tak berniat membahasnya.

Evan mulai kesal akan pertanyaan balik yang aku lontarkan.ia terduduk diujung ranjang dan menatapku yang asik dengan adroind ditanganku. "Siapa yang telah menyumbangkan jantungnya untukmu, Divario?" ia sengaja menekan suaaranya saat menyebutkan namaku membuatku tersenyum geli.

"Itu tidak penting, lagipula aku tak ingin membahasnya sekarang!" Aku menaruh Adroid diatas meja belajar dan berjalan menuju almari pakkaian.

"Ayolah!" ia berdiri mendekat. "Katakan padaku sekarang atau kau ingin melihatku mati penasaran karena hal ini, huh?" ia menyenggol lenganku yang saat itu sedang meraih kemeja biru favoriteku.

"Sudahlah!" Aku menepisnya cepat. "Yang pasti ia adalah seseorang yang pernah memasuki kehidupanku." Aku berlalu mendekat pada pintu kamar mandi yang memang terletak didalam kamar bercat biru ini,

Ia mengerutkan keningnya, wajahnya masih menampakkan espresi bingung. "Siapa?? Ibumu??"

Aku berbalik sebentar dan tersenyum padanya yang saat itu mulai menampakkan wajah tak percaya, terlebih dengan satu anggukkankku. "Ya ibuku, wanitaaa yang pernah melahirkanku kemudian meningggalkanku."

Yah... saat kalian mulai bertanya-tanya tentang seseorang yang telah berbaik hati untuk mendonorkan jantungnya untukku, jawabannya hanya satu orang, dia Ibuku.
saat itu, aku tak menyangka ia akan datang padaku dan menangis.

"Maafkan ibu karena telaah meninggalkanmu, Rio." Ia menangis.
panggilan sayang itu kembali kudengar, terasaa sesak didada saat wnita itu kembali memanggilku Rio, seperti sepuluhtahun yang lalu.

"Bunda punya alasan kuat mengapa bunda meninggalkanmu Rio," ia menggenggam jemaritanganku yang bergetar, Tuhan! inikah tangan yang dulu selalu menuntunku saat aku masih kanak-kanak??

"Ibu mengidap cancer otak stadium akhir Rio!" ia menunduk, suaranya terdengar sangat rapuh.

Jantungku kembali sakit saat kalimat itu terucap dari bbibir tipisnya yang berlapiskan lipstik merahmuda. Apalagi ini, setelah aku yang memiliki penyakit jantung, kini Ibuku yang memiliki penyakit yang lebih memilukan.

"KaU..kau.. bercanda bukan?" aku menatapnya tajam. kuakui setelah sekian lama ia meninggalkanku, terasa sulit untukku memanggilnya ibu ataupun bunda.

Ia menggeleng dengan airmata yang membasahi pipiputihnya. "Tidak Rio, mana mungkin ibu berbohong padamu disaat seperti ini, Dokter memutuskan bahwa usia ibu tak akan lama lagi."

Aku melepas pegangan tangannya yang begitu kuat, berbalik tak mampu menatap tangisan memilukan itu.
Ia masih bicaradisela-sela tangisnya.

"Karena itu, ibu memiliki satu permintaan untukmu, Maukah kau membiarkan jantung ibu untuk singgah dalam dirimu?"

Mataku membesar, nafasku seketika terasa begitu sulit untuk dihembaskan. "Tidak!!"
aku kembali menatapnya, kutatap matanya yang penuh bermohonan.

"Tolong, jangan pernah menolaknya, ibu hanya ingin membalas semua kesalahann ibu karena meninggalkanmu!"
Ia mengapus airmatanya sendiri,ingin rasanya aaku yang menghapusnya dan memeluknya tapi jemariku terlalu sulit untuk menjamahnya.

"Rio!"Serunya pelan.

"Tidak, aku tak akan pernah menerima jantung itu, lagipula masih banyak cara untuk membalas semua kesalahan... IBU!" Akhirnya satu kata itu terucap juga dari bibirku.

sekilas aku menatapnya yang tersenyum. "Setelah sekian lama, akhirnya Kamu kembali memanggilku ibu." ia membelai rambutku lembut, ia kembali bersuara. "Kau sangat tampan, sangat mirip dengan ayahmu saat pertama ibu bertemu dengannya."

Kini aku yang tersenyum tipis, ayah pernah bercerita padaku tentang awal pertemuannya dengan bunda, saat itu usianya masih enambelas tahun sama seperti usiaku saat ini.

Ia masih membelai rambutku lembut, saat akumasih kecilpun kembali terulang,saat ia sering membelai rambutku saat akau ingin tidur ataupun terbangun dari tudurku.Saat seperti itu, akankah terulang lagi tuhan??

"Rio! bunda mohon, jangan menolak ini!" ia meraih jemariku dan meletakkannya tepat pada jantungnya yang berdetak perlahann.
"Jantung inilah yang kelak akan menyatukan kita."

Aku tak mampu berkata-kkata, semua organ tubuhku terasa membekku seketika, terlebih saat wanita itu memelukku begitu erat.

"Bunda mencintaimu Rio, Maafkan untuk kesalahanbunda yang telah meninggalkanmu hingga membuatmu menderita."

Jadi begitulah ceritanya, jadi pertanyaan kalian sudah terjawabkan sekarang.. walaupun berasa sedikit sinetron, tapi itulah kenyataannya..
Dan tentang keberadaan bunda sekarang bagaimana?? ia telah menghadap sang pencipta sehari setelah ia mendonorkan jantungnya untukku.
Walaupun ia pernah meninggalkanku dan mungkin takpernah mengannggapku ada, tapi selamanya ia tetap seseorang yang telah berjasa untukku, ia yang telah melahirkanku dengan segenap tenaganya dan karena jantungnyalah aku masih berada didunia ini,dapat menyapa kalian seperti sekarang hahaha..

"Rio sayang Bunda, selamanya!!"

***
Setelah berganti pakaian, aku dan Evann menuruni tangga menuju dapur,sepertinya tante Sovia, eh bukan tapi bunda, telah menyiapkkan hidangan lezat untuk kami santap. Wanita cantik itu memang pandai memasak, walaupun dulu aku selalu menolak untuk menyantap masakan buatannya tapi setelah itu pasti seluruh cacing ditubuhku berdemo ria..

Oh hey.. sekarang aku sudah berubah.. aku bukan lagi Dira yang selalu sakit-sakitan dan tergantung pada obat-obatan, aku bukan lagi Dira yang dulu bbegitu membenci tante Sovi dan anaknya, Sekarang aku malah menganggap Dava seperti kakak kandungku sendiri, Dan hubunganku dengan ayah, sedikit membaiklah, walaupun aku masih sering membantahnya dan menghambur-hamburkan banyak uang, tapi kali ini aku bisa sedikit mengongrtol... bukan maksudnya mengontrol emosiku.
hidupku benar-benar berubah sekarang, dan aku tak akan pernah berhennti untu bersyukur padaNya.

Aku terduduk disamping Evan yang lebih dulu terduduk dan langsung menyantap puding tanpa pamit, sangat sopan bukan??sahabatku yang satu ini!

"Enak!" ia berseru setelah memasukkan beberapa puding yang ditusuknya pada garpu dalam mulutnya. "Rugi, lo selalu nolak masakan seenak ini dulu."

pletak!!
Aku menjitak kepalanya dengan garpu ditangannkku. "Jangan diungkit lagi, lagipula aku sudah menyadari kesalahhanku itu."

"YAH! YAH!" Masih dengan menyantap puding didepannya, ia mengangguk pelan.

"Dira, bisa tolong bunda sebentar?"
suara bunda membuatku berdiri dan menatapnya yang telah berdiri disamping pintu dapur, pintu taman kecil tepatnya.

"Apa ada bu?" aku berdiri disampingnya yang terlihat sedang memegaang selang air, sepertinya bunda sedang menyiram tanaman. Saat ini aku lebih suka memanggilnya bunda,dan aku akui hanya bunda Davalah yang mampu menggantikan posisi ibu dihatiku..
Tapi ingat! Selamanya ibuku tetap satu.. wanita yang telah melahirkanku.

"Tolong sirami semua tanaman ini,bunda masih harus membenahi ruang kerja ayahmu!"

aku menunduk mengiyakan, setelah mendapati aku yang mengangguk Bundapun menyerahkanselang air ditangannyapadaku kemudian berlalu pergi
kutatap Evan yang tersenyum lebar, "Ada apa?"aku menaikkan daguku pada Evan yang menggeleng.

"Tidak,aku pikir kau akan menolaknya, ternyata Dira benar-benar berubah!" ia berdiri, setelah menghabiskan separuh dari puding bikinan bunda, dan berjalan menghampiriku.

ia menyenderkan salahsatu kakinya pada pintu taman belakang,masih dengan senyuman menggoda. “Setan dalam dirimu ternyata telah benar-benar pergi, aku bangga padamu!”

Sial!sepertinya si cincau ini harus dikasih pelajaran!!!
aku tersenyum sinis menatap selang air ditanganku, sepertinya aku tau, harus berbuat apa untuk cincau ini!!

"Eh lihat! ada kupu-kupu!" aku menunjuk salahsatu tanaman didepanku.

"Mana?" dengan sigap, Evan menghampiri tanaman itu dan menatapna tajam, menari kupu-kkkupu yang baru saja kusebutkan.

Byur!!!
tanpa banyak kata, akupun langsung mengarahkan selang air ditanganku pada punggung pemuda itu..
seluruh tubuh yang berlapiskan seragampun seketikka basah kuyup.
Kena kau! cincau!!

Ia menatapku tajam yang tertawa devil penuh kemenangan. "Emang enak!"

"Sialan!!"

***
"Bajumu kenapa?" Ve yang saat itu bermain,singgah, bertamu kerumahku menatap heran seragam sepupunya Evan yang mulai sedikit mengering. "Apa disini hujan?" tanyanya sambil mengalihkan pandangannya kearahku yang tersenyum tipis.

"Pacarmu benar-benar minta dibunuh!" Geram Evan dengan kepalan tangannya. "Aku kekamar Dava dulu!" ia berdiri dari duduknnya.

"Mau ngapain?" tanyaku.

"Minjam baju ganti, tidak mungkinkan aku pulang dengan seragam basahh seperti ini!"

"Kenapa tidak meminjam bajuku saja?" aku protes, terang saja sahabat Evan itu aku bukan Dava, walaupun sekarang aku tak lagi membenci Dava seperti dulu, tapi tetap saja aku tak terima jika sahabat terbaikku berpaling seperti itu.

Evan menarik nafasnya panjang. "Baju Dava lebih wangi dari semua baju dalam lemarimu." jawaban enteng Evan mampu membuatku mendengus pelan.
Sialan! memang aku akui, Dava adalah tipe pemuda bersih dan wangi, tidakk sepertiku, yang mandipun terkadang malas, tapi tunggu.. aku tak sebau itu, keringat ditubuhku ini cukup wangi untuk tidak menerima asupan air satu atau dua minggupun, Tidak percaya?? silahkan dicoba! ‪#‎eh‬..

Sedangkan Dava.. cowok itu..bisa mandi sehari mungkin tiga kali.. aku tak mengerti kenapa ia begitu menyukai air, hanya karena ingin wangi dan menjaga kebersihan, tak harusberlebihan seperti itu juga kali.. minimal mandi sehari sekali itu sudah cukup.
Oke, berhenti membandingkan aku dengan Dava.

"Sini duduk!" Ve menarik lenganku ketika Evan telah memasuki rumah.

Gadis ini, telah merubah bidupku, aku yang dulu kerapkali gonta-ganti pasangan, tapi entah kenapa setelah bersamanya, seketika mataku seolah telah terkunci dan terfokus hanya untuk memandangnya. mungkin memang ia tak cantik, lihatlah wajahnya yang tak ada kesan cantik samasekali, terlebih tubuh kurusnya itu, ahhh... bukan tipeku sama sekali, tapi ia memiliki sesuatu yang spesial yang dapat membuatku takk maampu perpaling darinya.

Akupun terduduk disampingnya. "Gimana bisa kamu punya sepupu kayakk gitu?" Aku menatapnya yang tersenyum, Gila manis banget,lebih manis dari gulali yang selalu aku curi dari kantin bu Ijah waktu SD dulu..

"Gue bau yah?" ia tersenyum lagi, tapi kali ini lebih lebar, gigi putihnya seketika terlihhat jelas dalam pndanganku.. Klingg!! sampai silau keduamataku dibuatnya!

"Kalaupun kamu Bau, atau dekil sekalipun, aku tetap sayang sama kamu!" ia memanjakan suaranya sambil mencubit keduapipiku gemas.

Gak kebalik nih??
seharusnyakan aku yang mencubit pipinya, berhubung aku sudah kalah cepat, aku ganti saja dengan mencium pipinya yang seketika memerah.

CUP!
Satu kecupan dipipi kiri cukupmembuat gadis ini terdiam,mtanya membelak tak percaya, Aduh Ve, ini bukanlah ciuman pertama kita, berhenti memasang wajah terkejut seperti itu! apa selamanya kau akan menampakkan wajah bodohmu itu setiap kali aku menciummu??

"Vega!" Aku memanggilnya,, ia tak bersuara, tangannya sibuk mengelus pipi yang baru saja aku tampar dengan sebuah ciuman.

"Gadis cinderella!" Panggilku lagi, tetap tidak ada sahutan, justru sekarang ia malah tersenyam-senyum sendiri seperti kerasukan Dijah, orang gila komplek ini.

Aku menarik nafasku pelan, dan mengangguk saat sebuah kejailan terlintas indah dibenakku..

Sepertinya ia akan tersadar jika aku menciumnya, bukan dipipi tetapi...

Benar saja, baru beberapa detik aku mendaratkan bibirkupada bibir tipisnya, seketika ia mendorong tubuhku kebelakang hingga aku terjaatuh.

"Cowok idiot.. cowok idot.. cowok idiot!" Ia berteriak dan berdiri dari duduknya, kedua tangannya ia topangkan pada pinggang kurusnya dengan tatapan mata seolah-olah ingin menerkamku.”Sekali lagi kau berani menciumku, aku akan membunuhmu, cowok mesum!”

"Ve!" Aku mencoba berdiri tapi kembali terjatuh saat gadis ini kembali mendorongku..
yah!walaupun ia kurus, tapi ia memiliki tenaga kuat bagaikan seorang kuli bangunan, aku saja kalah bila harus adu jotos dengannya, selain memang sifatku yang tak pandai berkelahi mungkin alasan lain karena penyakit pada jantungku.. walaupun sudah sembuh tapi tetap saja.. sering sakit.

“Ve!” Seruku lagi, ia tetap tak peduli, wajahnya terliat sangat marah saat ini, apa aku salah bila aku mencium pacarku sendiri???
Aku mengulurkan tanganku keatas, berharap pertolongannya. “Tolongin berdiri dong!” wajahku sedikit memelas.

Ia tetap kekeh berdiri, dengan berkacak pinggang, tak berniat menolongku sedikitpun..

“Oke ini memang salahku!” Aku berdiri dan mendekat, kuraih kedua tangannya menjauh dari pinggang kurusnya, “Maaf, aku janji gak akan menciummu sebelum ijin terlebih dahulu!” aku mendekat kedua jemarinya bersamaan dengan jemari tanganku.

Ia menepisnya cepat. “Janji?” Tanyanya sambil menatapku yang mengangguk.

“Yah Janji!” Janjiku yang akhirnya dapat membuatnnya tersenyum.

“Jadi!” Aku berbisik ditelinganya, ia mngerutkan keningnya bingung.

“Apa??”

“Aku boleh menciummu lagi?” aku menaikkan kedua alisku genit beriringan dengan senyum evilku.. “Aku sedang meminta ijin sekarang,bagaimana?”

Ve menepis lengankku seketika. “COWOK IDIOT!” berkali-kali ia memukul lenganku cukup keras.

Stelah ia terhenti memukuli lenganku yang sedikit mulai terasa pegal,kini giliranku.. aku menarik pinggangnya hingga tubuhnya menempel pada dadaku. Kemudian aku memeluknya erat.

“Kau bukan yang pertama tapi aku harap kau yang terakhir menemani hidupku, Gadis cinderella!”



SELESAI ^^V

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Online Now Icons