Cowo tinggi itu berjalan keutara, dgn tas ransel
dipundaknya, ia terus mengintari kolidor gedung bertingkat itu, sesekali ia
mengunyah permen karet dalam mulutnya cepat dan mengembungkannya menjadi
lingkaran balon..
Kedua tangannya ia biarkan bermain didalam saku celana
abu2nya.
Matanya tiba2 menatap kesekeliling lapangan, beberapa
siswa berlatih basket dan cheers pengiringnya terlihat jelas pagi itu.
Tiba2 tangan kanannya ia keluarkan dari saku seragamnya
dan melambaikannya keudara.
Menyapa seseorang diseberang lapangan..
"Rambutan," teriak cowo itu keras pada seorang
cewe berambut kribo yg menatapnya geram.
"Tiang listrik," teriak gadis itu tak kalah
keras, membuat pemuda itu menurunkan lambaian tangannya.
Dgn langkah cepat, pemuda itu menghampiri gadis kribo yg
sedang asik mengemut permen lolipop.
"Rese lo, masa' cowo seganteng gue dipanggil tiang
listrik," cowo itu berkata seiring dgn bibir cemberutnya.
Gadis berambut kribo itu hanya tersenyum menatapnya..
"siapa suruh manggil gue rambutan, emang lo pikir gue buah berjalan
apa," kini berganti cowo tinggi itu yg tersenyum.
"Satu sama," pemuda itu berkata sambil kembali
mengunyah permen karet favoritenya.
Cowo tinggi itu bernama kevan drifandra Afredo, cowo berambut
hitam pekat yg memiliki hobi bermain billiard dgn teman2nya itu, yg selalu
dipanggil tiang listrik oleh gadis disampingnya, karena tubuh tingginya.
Sedangkan cewe berambut kribo itu bernama margaretta
viona andrianna, cewe yg hobi mengemut permen lolipop, yang mempunyai bola mata
y bulat dan kecoklatan, y slalu dipanggil rambutan oleh kevan karena rambut
kribonya.
"cie yg baru jadian'..ehem,ehem.." cowo
berkulit hitam itu berkata mengejek pada kedua pelajar itu.
Seketika wajah keduanya berubah kaget.
"gue jadian sama dia, iyyuhh.."
Keduanya berkata bersamaan dengan paras jijik.
Cowo berkulit hitam itu hanya tersenyum mengejek,
"deh, yg pura2, diluar bilang gak, tapi didalam.. Beuh cinta mati,"
Dimas berkata sambil merangkul lengan Kevan yg menggeleng.
"haha,gue ga bakal tertarik sama rambutan, ga tau
dech si rambutan ini," kevan menaik turunkan alisnya sambil menatap
Margaretta yg menatapnya sinis.
"asal kalian berdua tau, gue margaretta.."
"rambutan," potong kevan.
"ga akan pernah jatuh cinta sama tiang listrik
songong ini, titik.." Margaretta pun berlalu pergi setelah mengatakan
kata2 itu.
Kevan dan Dimaspun hanya mengangguk angguk pelan.
Margaretta atau margy berjalan santai mendekati kelas
bertuliskan xipa5, ia melangkah masuk dan duduk dibangku kedua sebelah kiri,
tak ada banyak manusia didalam ruang bercat krem itu.
"Tiang listrik sialan, gue harap gue gak pernah
ketemu lo lagi slamanya," Margaretta menutup matanya penuh harap, tak
beberapa lama terdengar suara seseorang menyahuti membuatnya membuka matanya
kaget.
"Sepertinya harapan lo sirna, karena mulai hari ini
dan seterusnya, lo bakal sering ketemu," Kevan berkata sambil terduduk
disamping Margy y mulai menampakkan wajah kesalnya.
"Sialan," gerutu Margy dalam hati.
"Oh yah, mulai sekarang gue saranin lo jangan pernah
menguntit gue lagi,karena gue ga mau lo sakit karena terlalu mengkhawatirkan
gue yg tampan dan dermawan ini," Kevan berkata dgn segudang pedenya
membuat margy tertawa lepas.
"Oh pahlawanku, tiang listrik, bagaimana bisa kau
tau bahwa aku selalu mengikutimu," margy berkata dgn suara keras membuat
beberapa anak seisi kelas menatap keduanya tajam.
Sementara kevan menatapnya bingung.
Margy melanjutkan perkataannya, "dan gue juga tau CD
apa yg loe pake sekarang," Margy tersenyum sinis pada Kevan yg tiba2
membelakkan matanya kaget.
Beberapa anak menatap keduanya penuh penasaran.
"Gue tau sekarang CD y loe pake dibalik celana
panjang loe itu adalah, Barbie dgn motif pink dibagian pinggir, benarkan TIANG
LISTRIK?" Margy berdiri dari duduknya dgn senyum penuh kemenangan.
"Barbie? Pink? Kevan?" tanya beberapa anak
serentak membuat kevan wajah kevan seketika memerah karena malu.
Kevan berdiri dan menatap geram margy y tak henti2nya
tersenyum senang.
"kalian jangan percaya,undewear gue bukan barbie,
percaya," kevan menaikkan kedua tangannya menyakinkan seisi kelas y
menertawainya pelan.
"gue gak boong.. Suer.." kevan menyakinkan
lagi,kali ini ia menaikkan jari kelingking dan tengahnya membentuk huruf V.
"kalau begitu coba buktiin,kalau lo ga mau berarti
benar kata2, gue tadi" margy berkata diiringi dgn anggukan beberapa siswi
genit.
"Lo gila, gak mungkin juga gue buktiin disini,"
tegas kevan pada margy y kembali terduduk.
Margy mengangkat kedua bahunya bersamaan dgn senyum
sinisnya.
"ayo man buktikan kalau lo emang cowo Normal,"
teriak seseorang dari arah utara membuat beberapa anak cowo mengangguk cepat.
Kevan menarik nafasnya panjang dan menutup kedua matanya
pelan," oh Tuhan, maafkan hambamu yg penuh dosa ini."
Margy tertawa tak tertahankan menatap tingkah Kevan yg
berdiri tepat didepannya, hingga sesuatu yg tak pernah Margy bayangkan terjadi,
membuat tawanya seketika terhenti.
Kevan menurunkan celana seragam abu2nya, seketika itu
pula semua mata tertuju pada undewear y kevan kenakan, undewear hitam dgn
beberapa lapisan berwarna krem.
"Gimana, apa kalian masih ga percaya sama gue,
huh?" kevan menatap sekeliling penuh kekesalan.
"Wow.." beberapa cewe menatap undewear kevan
tanpa kedip, tak terkecuali Margy yg terduduk mematung.
Jono sang ketua kelas y sedari tadi terdiam, akhirnya
berjalan mendekati kevan dan langsung menaikkan kembali celana abu2 kevan.
"gue rasa penjelasannya udah cukup," Jono
berkata sambil mengisyaratkan sesuatu pada Kevan.
"sorry gue lupa," kevan mencoba mengancingkan
kembali resleting celananya.
Pandangan kevan langsung tertuju pada margy y masih diam
mematung.
"HOI" teriak Kevan kencang sambil menepukkan tangannya
didepan wajah putih kemerah-merahan Margy.
Seketika Margy membuyarkan lamunannya, "KEREN,"
Teriak margy kencang membuat Kevan membelakkan matanya.
"Lo
yakin ini sepedanya Margy?" tanya Dimas memastikan sambil berjongkok
disamping Kevan y mengangguk cepat.
Kevan mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya,"ini
balasan buat Lo rambutan, yg udah buat gue malu hari ini,untungnya hari gue ga
pake undewear berbie gue, kalau gak reputasi gue bisa turun," kata2 kevan
membuat Dimas menatapnya tajam.
"Lo punya undewear Barbie Pan?" pertanyaan
Dimas dijawab anggukan oleh Kevan.
"YOA, gue punya sepuluh semuanya warna pink.."
Jawaban kevan itu membuat Dimas berdiri cepat,
"Iyuhh," kata Dimas dgn wajah jijiknya.
"Lo cowo Normal kan Pan,?" tanyanya lagi pada
kevan y sibuk mengempesi ban sepeda Margaretta, kevan hanya mengangguk pelan.
"uh, akhirnya selesai," Kevan berdiri sejajar
dgn Dimas, kevan menghapus peluh yg membasahi keningnya.
Pandangan kevan langsung tertuju pada Dimas y menampakkan
wajah anehnya, sebuah pertanyaanpun Kevan lontarkan untuk sahabatnya itu,
"kenapa Lo?"
Kevan mengambil permen karet dari saku seragamnya,membuka
dan memakannya dgn pandangan mata masih tertuju pada Dimas yg terdiam.
"Gue tau nih, pasti tentang undewear barbie
gue?" Dimas mengangguk cepat mengiyakan.
Seketika kevan tertawa pelan sambil merangkul lengan
Dimas," Dimas, dimas, emang ada yg salah kalau gue punya semua itu?"
"Ga, tapi aneh ajah, cowo macam Lo, punya undewear
b..b..b.." kevan menatap dimas geli yg sulit mengucapkan kata terakhir.
"B..berbie," wajah jijik Dimas pun kembali
terlihat membuat Kevan tertawa tak tertahankan.
"lo bisa dikira banci, sama mereka," Dimas
berkata lagi sambil menjauhkan rangkulan tangan Kevan.
Kevan tersenyum tipis, "Persetanlah sama mereka
semua, gue ga peduli mereka mau menilai apa tentang gue, gue gak akan pernah
membuang semua barang kesayangan gue cuma karena ingin orang lain peduli sama
gue, this is me dgn segala kekurangan, kalau lo gak suka mending lo jauh2 dari
gue,"
Dimas tersenyum kecil mendengar perkataan kevan barusan.
"jadi beneran, cowo sekeren Kevan, suka
barbie?" Kevan mengangguk cepat mengiyakan.
"Rambutan," Teriak kevan yg masih berdiri
disamping sepeda Margarreta, lambaian tangan kevan mengarah pada Margarreta y
berjalan kearahnya.
Ditatapnya kevan y tersenyum tipis, "lo tega
ngerjain gue didepan anak2, rambutan," kevan berkata pada Margy ketika
tiba didepannya.
Margy menatapnya acuh, "lo jual gue beli,"
katanya sambil mencoba menaiki sepeda putihnya, tapi tiba2 mata margy mengarah
pada salah satu ban sepedanya yg kempes.
"kenapa kempes yah?" tanya kevan sok manis
membuat margy menatapnya kesal.
"ini semua pasti ulah lo, iya kan?"
"seperti perkataan lo tadi, lo jual gue beli,"
Kevan menaikkan kedua alisnya penuh kemenangan.
"ARRGGHH" geram Margy kesal sambil memukul
lengan kanan Kevan, "gue benci lo, tiang listrik."
Kevan tersenyum sinis," thank you."
"apa?"
"Terimakasih telah membenciku, karena itu berarti
kau telah siap untuk mencintaiku," kevan mengelus lembut rambut kribo
Margarreta yg tiba2 terdiam.
Kevan melangkahkan kaki kanannya maju satu langkah dan
mendekatkan bibirnya membisikkan sesuatu pada Margy, "lo pake sepeda gue
dulu," kevan meletakkan kunci sepedanya y baru diambilnya dari tangan
Dimas di atas telapak tangan kanan Margy, "sebesar apapun lo membenci
seseorang, sebesar itupula suatu saat nanti lo mencintainya, jadi berhati2lah
dalam membenci seseorang," Kevanpun berlalu setelah mengucapkan itu.
Margy mengepalkan kunci Kevan ditangannya kesal,
"ARRGGHH.."
Pagi
yg cerah secerah perasaan Kevan hari ini, ntah mengapa perasaannya akan selalu
senang dan gembira setiap kali ia berhasil membuat Rambutan kesal.
Mungkin memang kevan tlah dibuatnya jatuh cinta..
Keduanya akan slalu seperti itu, menjaili satu sama lain
hingga salah satuny mengalah, tapi sampai saat inipun baik Rambutan ataupun
Tiang listrik masih enggan untuk mengaku kalah.
Hari ini Kevan berangkat sekolah dgn menggunakan taxi
karena sepeda miliknya,ia pinjamkan pada Margy kemarin..
Kevan terus mengintari kolidor sekolah, beberapa cowo
menatapnya aneh membuatnya risih, Kevan menghampiri Dimas yg sedang berbincang2
dgn beberapa cewe disamping lapangan, diraihnya tangan cowo hitam manis itu
menjauh.
"Dim, kenapa perasaan gue gak enak yah?" Kevan
berkata aneh membuat Dimas mengangkat bahunya cepat.
"perasaan Lo doang kali,Pan," kevan menatap
Dimas kesal yg tak sulit mengucapkan huruf V, menyebabkan Dimas slalu memanggil
kevan dgn kepan atau bila disingkat Pan.
Kevan menoyor kepala Dimas gemas, "nama gue Kevan
bukan Pan, loe pikir gue panci, pan pan pan,"
Dimas hanya tersenyum mendengarnya.
Kevan membalikkan badannya kekanan karena tangan kirinya
masih menggenggam tangan Dimas. "dipunggung gue ada sesuatu?"
pertanyaan Kevan membuat Dimas menatap punggung tegap Kevan.
"Gak," jawaban singkat Dimas membuat Kevan
kembali membalikkan badannya menghadap Dimas.
"Gue yakin, ini ada hubungannya dgn Rambutan,"
Kekeh Kevan pada Dimas yg manggut-manggut.
"Keisengan apa lagi yg Rambutan buat hari ini,"
kini Dimas menggeleng gelengkan kepalanya mendengar perkataan Kevan.
"Kalian jadian?, jadi benar kalau lo gay,
kevan?" suara seseorang pada kevan yg menatapnya tajam.
"Berani banget kalian memamerkan kemespaan kalian
disekolah," serbu seseorang lagi yg mengenakan ikat kepala.
Kevan dan Dimas sempat dibuat bingung, sebelum akhirnya
Dimas sadar, tangan mereka masih bergandengan.
Dgn cepat Dimas melepas pegangan tangan Kevan, "Kita
ga pacaran kok, iya kan Pan?" Dimas memasang kedua matanya tajam kearah
Kevan yg tersenyum tipis.
"Kepan.." mata Dimas memaksa kevan untuk
bicara.
"kita cuma sahabatan, dan kita cowo Normal,"
penjelasan Kevan membuat Dimas bernafas lega sambil menganggukkan kepala.
Sementara kedua siswa yg berdiri didepan mereka hanya
tersenyum sinis.
Cowo dgn ikat kepala itu kembali bicara, "mana ada
Cowo normal yg hobi mengoleksi berbie," katanya dgn suara mengejek, kevan
membelakkan matanya kaget, sementara Dimas tertawa geli mendengarnya.
Kevan menatap Dimas geram membuat senyum Dimas memudar
sejenak, "sumpah bukan gue," Dimas menyakinkan Kevan yg menuduhnya
membocorkan rahasianya lewat mata.
"kevan manis, kenapa lo gak jujur tentang hobi lo yg
suka ngoleksi barbie," cewe dgn BB Bergelantung dilehernya itu berkata
sambil merangkul lengan kevan y menatapnya bingung. "kalau lo mau, pulang
sekolah nanti lo kerumah gue, kita main barbie bareng," ajak cewe bernama
ross membuat Dimas lagi2 tersenyum geli.
Kevan menggigit pelan bibir bawahnya kesal pada Dimas yg
terus menertawainya.
"bukan gue, sumpah," Bela Dimas lagi.
"kevan, foto lo buat gue yah?" kata cewe
berambut pendek setibanya didepan kevan.
Kevan melepas pelukan tangan Ross dan menatap cewe
berambut pendek itu bingung.
"foto apaan?"
"Ini, gila lo cute banget," cewe bernama Wifha
itu berkata sambil menunjukkan sebuah foto pada Kevan.
Kevan mengambilnya dan segera menatap foto yg kini
berpindah ketangannya.
Matanya terbelalak tak percaya mendapati foto apa yg
dilihatnya kini.
Foto dirinya berpose duduk dgn baju birunya dan senyum
menggoda, bukan itu yg menarik perhatiannya, justru sesuatu yg tertera dalam
foto itu, sebuah boneka barbie bukan sebuah tapi hampir dua puluh lebih boneka
barbie tertata rapi disampingnya yg terduduk dgn kaos birunya.
Foto dirinya berpose dgn koleksi barbie miliknya, yg
membuat kevan seketika terduduk lemas.
*Kevan si Cowo Barbie*
Terlebih dibawah foto itu tertera sebuah tulisan tangan
seseorang yg begitu ia kenal.
"RAMBUTAN.."
***
BRUUKK
Kevan mendobrak meja Margarreta dgn penuh amarah.
Margarreta y saat itu sedang membacapun tersentak kaget.
"Tiang listrik." margy y masih terduduk menatap
Kevan y berdiri didepannya.
"Apa maksud lo nyebarin foto2 gue huh?"
tanyanya geram pada Margy yang tersenyum sinis.
Kevan meletakkan foto ditangannya keatas meja, "Lo
mau buat reputasi gue ancur, huh?" tanya kevan lagi.
Margy mengambil foto itu dan mengamatinya dalam2,
"gue gak nyangka ternyata lo cantik juga," sindir margy.
Kevan menarik paksa foto ditangan Margy, seketika ia
mendengar suara beberapa anak menyindirnya.
"Gue ga nyangka ternyata Kapten basket kita
gay."
"Jangan2 dia naksir salah satu dari kita lagi."
"wajah boleh ganteng, sixpack, tapi kalau gay, gue
sebagai cowo juga ogah."
"Aish kagak mau gue punya kapten banci kayak
dia."
Dan masih banyak lagi sindiran sindiran yg mereka
keluarkan untuk kevan sang kapten basket sekolah itu.
Margy menatap kevan y terdiam, apa ia telah terlalu
kelewatan kali ini..
"hey banci mendingan lo pake rok sekalian, jangan
buat kaum adam malu karena lo," suara keras itu membuat kesabaran kevan
habis.
Untuk kedua kalinya ia mendobrak meja didepannya,"Cukup,"
teriaknya membuat semua terdiam. "emang salah kalau gue yg statusnya Cowo
suka barbie, Y BANCI GUE, Y HOMO GUE, YANG GAY GUE, KENAPA KALIAN Y RIBUT, Y
MALUPUN GUE,"
Margy menatap tajam kevan yg masih bicara, "Kalau
gue boleh jujur, sebenarnya gue menderita dgn keadaan ini, gue pengin normal
seperti cowo lainnya, dan asal kalian tau barbie adalah boneka y paling gue
benci, sampai pada akhirnya seorang gadis datang dan memberikan gue boneka
barbie kesayangannya, sebagai hadiah perpisahan kita," kevan menundukkan
wajahnya sedih, Dimas y sedari tadi berdiri disampingnya berusaha menenangkan.
"Gadis itu bilang kalau dia sangat menyukai barbie,
dia ingin gue mengingat dia setiap kali gue melihat boneka barbie, hingga
akhirnya gue dapat kabar kalau gadis itu kecelakaan dan meninggal, gue datang
kerumahnya untuk ngeliat dia y terakhir kalinya, saat itu dia masih terbaring
tak bernyawa dikamarnya yg penuh dgn boneka Barbie, gue baru tau arti boneka
barbie bagi gadis itu, awalnya keluarganya berencana untuk membuang semua
boneka barbie itu tapi gue mengajukan untuk merawat boneka barbie itu, tanpa
penolakan mereka menyetujui permintaan gue ngerawat boneka barbie gadis itu,
dan gadis itu adalah Kevany Bianka atau Vany, adik kembar gue."
Semua mata yg tadinya menatap kevan penuh bully kini
menjadi tatapan iba.
"sekarang kalian taukan apa arti boneka Barbie itu
bagi gue?" Margy menunduk mendengar pertanyaan Kevan.
"Sekarang gue gak peduli apa penilaian kalian
tentang gue, gay homo banci atau apalah, gue cuma mau kalian tau kalau gue Cowo
Normal, dan buat Lo," kevan menunjuk Margy y tiba2 menatapnya takut,
"jangan harap kalau lo y paling perfect margy, gue tau semua rahasia buruk
lo y bisa bikin lo malu, dan sekarang juga gue bisa beberin semuanya sama
mereka,"
Margy kembali menunduk mendengar ancaman Kevan.
"tapi gue masih punya hati, gue ga mau ngebuat orang
lain malu seperti yg gue rasain sekarang, terlebih orang itu Lo,
Margarretta."
Margy terdiam.
Kevan menarik nafas panjang dan membuangnya berlahan,
"dan sekarang lo udah berhasil buat gue malu, lo menang dan gue ngaku
kalah, mulai sekarang semuanya berakhir," dgn berat kevan melangkahkan
kakinya keluar kelas y masih terfokus padanya.
Margy menjatuhkan kepalanya kemeja dan menutup kedua
matanya penuh penyesalan.
Setelah
kejadian itu, tak ada lagi perdebatan diantara keduanya, Kevan lebih memilih
diam saat kebetulan berpapasan dgn Margy, begitu pula margy y membuang muka
saat berhadapan dgn Kevan.
Hari ini, Margy tak mendapati Kevan dikelasnya, Margy y
berniat mengembalikan Kunci sepeda Kevan terpaksa menghampiri Dimas dipintu
gerbang saat pulang sekolah.
"Dimas, Kevan mana?" tanya Margy sambil berdiri
disamping Dimas.
Dimas menatapnya tajam, "kenapa, Lo mau bikin malu
kepan lagi?"
"gue tau gue salah, karena itu gue mau minta maaf
sama kevan," Margy menampakkan wajah melasnya pada Dimas y terus
menatapnya.
"Asal lo tau, sekarang kevan benar2 kehilangan
segalanya, harga diri, kepercayaan, dan yg paling menyakitkan kepan udah
kehilangan mimpinya jadi pemain Basket internasional."
Margy menunduk sambil mendengar Dimas y masih bicara.
"Kevan dipecat jadi kapten basket sekolah dan
dikeluarkan dari tim, cuma karena dia suka barbie, luchu bgd,"
"Itu semua karena gue," Margy berkata dgn nada
cukup pelan, Dimas mengangguk setuju.
"Gue gak tau, kenapa kalian saling membenci,
bukankah kalian tau saling menyayangi itu lebih berguna seratus persen
ketimbang kalian saling benci," ceramah cowo berkulit gelap itu pada Margy
yg terdiam.
"Maaf,"
Margy berkata dgn nada sedihnya.
"Lo ga punya salah sama gue, kesalahan lo sama
Kepan, dan seharusnya kata maaf lo itu untuk kepan."
"sekarang please kasih tau gue dimana, Kevan
sekarang?" Margy menatap Dimas menunggu jawaban cowo berlesung pipi itu.
"Makam Vina."
***
Didepan makam sang adik kevan terduduk lemas, hanya
disinilah tempatnya mencurahkan sgala perasaannya.
"Vin, apa gue salah kalau menyimpan semua Barbie
milik lo, apa karena gue cowo jadi mereka mengira gue banci?" kevan
menatap batu nisan sang adik, matanya mulai berkaca2.
"gue cuma mau selalu mengingat lo dgn memandang
semua barbie kesayangan lo, gue gak peduli Vin mereka akan menilai gue apa, gue
cuma mau lo tau, kalau gue akan slalu menganggap lo ada."
Margy melangkah pelan menghampiri Kevan, margy
menghentikan langkahnya tepat dibelakang kevan, air matanyapun tak kuasa ia
teteskan.
Margy mendengarkan setiap kata y terucap dari cowo tinggi
itu.
"Gue dipecat jadi kapten dan dikeluarkan dari tim
karena gue ngoleksi barbie, sekarang impian gue udah ancur, apa y harus gue
lakukan untuk mengembalikan semuanya Vin, gue gak mungkinkan ngebuang semua
boneka barbie milik lo cuma demi mereka percaya kalau gue bukan gay.."
kevan menunduk sedih, ia benar2 putus asa, hanya karena boneka cantik itu,
semua impiannya hilang dan musnah.
"Tetap jadi diri lo sendiri, tiang listrik,"
kata2 Margy membuat kevan terkejut, didongakkannya wajahnya menatap Margy y
tlah berdiri disampingnya.
Kevan berdiri dan menghapus air matanya yg terjatuh,
"Lo ngapain disini?"
Margy tersenyum tipis, "lo nangis?" tanya Margy
balik membuat Kevan mengucek matanya cepat.
"gak." bentak kevan membuat Margy mengeluarkan
sebuah sapu tangan barbie dari saku seragamnya, "nih."
Kevan menatap saputangan pink pemberian Margy
ditangannya, ditatapnya Margy y tersenyum.
"Maaf," Suara pelan Margy membuat Kevan
menatapnya tajam.
"karena?"
"karena gue lo jadi kehilangan segalanya, termasuk
mimpi lo y pingin jadi pemain basket," Kevan tersenyum mendengar perkataan
cewe kribo itu.
"Gue gak bermaksud buat semuanya jadi seperti ini,
gue benar2 nyesel, gue janji gue gak akan.."
"Lo cinta gue?" pertanyaan kevan memotong
pembicaraan panjang Margy.
Dalam beberapa detik Margy terdiam, tak percaya bahwa
kevan akan menanyakan itu padanya.
"Rambutan, lo cinta gue?" tanya kevan ulang
membuat Margy menggeleng cepat.
"gak, siapa juga y suka sama tiang listrik macam
lo," jawab margy ketus khasnya.
Tiba2 kevan meraih kedua tangan Margy, seketika itupula
hati margy berhenti berdetak.
"Mungkin lo emang ga suka sama gue, tapi gue cinta
lo,Rambutan,"
Kevan berkata sambil berlutut didepan Margy yg terdiam.
Celana abu2 kevan menyentuh dgn tanah makam sore itu,
"Gue cinta Lo, Margaretta, lo maukan jadi pacar gue?" tanya kevan
pada Margy y bingung resah dan gelisah.
Sedetik kemudian Margy menggelengkan kepala, membuat
kevan berdiri.
"kenapa, apa lo bener2 ga pernah suka sama
gue?"
Margy menggeleng lagi.
"Lalu?"
"Apa ga ada tempat lain buat nembak gue yg lebih oke
dari kuburan, gue takut Tiang listrik,"
Kata2 margy itu seketika membuat kevan tertawa lepas.
Kevan sendiri baru sadar bahwa ia masih didalam
kuburan,bagaimana bisa ia menembak margy dikuburan seperti ini, kevan
mengaruk2kan belakang kepalanya y tak gatal sementara Margy mulai menampakkan
wajah takutnya.
"udah terima ajah yah?" paksa kevan membuat
Margy kekeh menggeleng.
"Ogah."
Suara
adzan magrib mulai terdengar oleh kedua remaja itu, dgn beriringan mereka
melangkah menjauhi makam, kevan menghentikan langkahnya tepat didepan gerbang,
"Lo kesini Naik apa?" tanyanya pada Margy y berdiri disampingnya.
Dgn cepat Margy menunjuk sepeda biru kevan yg diparkirnya
diseberang jalan, kevan tersenyum tipis.
"Gue kesini cuma mau ngembaliin ini sama Lo,"
Margy meraih kunci sepeda kevan disaku seragamnya dan memberikan kunci itu pada
sang pemilik.
"Lalu Lo pulang naik apa?" kevan mengambil
kunci dari tangan Margy y terdiam.
"Gimana kalau gue antar?" tanya Kevan lagi,
Margy menggeleng membuat Kevan menatapnya kecewa.
"Gue pulang naik taxi ajah, bye.." margy
melambaikan tangannya bersamaan dgn langkah kakinya menjauhi Kevan.
"Rambutan. Lo siapin diri Lo besok, karena Besok gue
akan nembak lo lagi disekolah," Teriak Kevan sambil menatap Margy y
berbelok kekiri.
Kevan tersenyum yakin sambil melangkahkan kakinya
menghampiri sepeda miliknya diseberang.
***
Semalam suntuk, secara tiba2 Margy sulit untuk memejamkan
matanya, kata2 kevanpun tak pernah lepas dalam lamunan cewe putih itu.
"Besok gue akan nembak lo lagi disekolah,"
Margy mengacak2 rambutnya kesal setiap kali kata2 itu
berkelimang dalam jiwanya.
"ARRGGHH, gue benci lo tiang listrik.."
Dan ternyata kevan serius dgn perkataannya, istirahat
pertama Kevan memasuki kelas Rambutan dan menarik tangan Margy hingga mereka
tiba didepan kantin.
Istirahat pertama keadaan kantin cukup padat, inilah
saatnya Kevan membuktikan cinta tulusnya.
Genggaman tangan Kevan begitu dingin membuat jantung
Margy berhenti seketika.
Ia tak peduli pandangan sinis seisi kantin, ia hanya
ingin semua tau bahwa ia sangat mencintai Margy, rambutan kecilnya.
"Gue cinta Lo Margy, maukah kau menjadi
kekasihku?" kevan menatap tajam Margy y juga menatapnya, untuk beberapa
saat mata keduanya saling memandang.
Margy mengalihkan pandangannya cepat pada tatapan tajam
kevan yg tlah membuatnya jatuh cinta, "Gue.."
"Rambutan Lo maukan jadi pacar gue, Kevan si cowo
barbie,?" margy tertawa pelan mendengar pertanyaan konyol Kevan, tanpa
Ragupun Margy mengangguk cepat.
tampak wajah Gembira Kevan, "jadi kita resmi
jadian?" tanya kevan memastikan membuat Margy mengangguk gemas.
"Iya Tiang listrik."
Dan kevanpun memeluk tubuh mungil Margy seketika, seisi
Kantinpun menyelamati keduanya.
Siapa y menyangka Pada akhirnya Rambutan dan tiang
Listrik akan bersatu. kevan sangat mencintai Margy, begitupun sebaliknya margy
yg slalu merindukan kevan disetiap malamnya.
Permusuhan itu akhirnya berbuah Cinta ^^
"Kepan," teriak Dimas membuat kevan dan Margy
menatap Dimas tajam y tlah tiba didepan keduanya.
Tampak sebuah kertas putih ditangan Dimas.
"gue punya kabar gembira Pan," dimas berkata
sambil mengatur nafasnya pelan akibat lari.
"Kabar gembira apaan?" tanya Kevan penasaran.
Dimas segera memberikan kertas putih ditangannya pd kevan
yg langsung meraihnya, "Pan, Lo masuk dalam daftar sepuluh calon wakil
pemain basket kita."
"yg benar Dim?" tanya kevan tak percaya pada
Dimas y mengangguk.
"selamat yah, berarti lo gak jadi dikeluarin dari
tim," ucap Margy sambil mengacak2 rambut hitam kevan yg tersenyum.
Dimas menatap keduanya yg masih berpegangan tangan,
"kalian jadian?" keduanya mengangguk bersamaan.
"wah akhirnya Rambutan dan tiang listrik bersatu,
terimakasih tuhan," Dimas menaikkan kedua tangannya keudara seraya
bersyukur membuat Kevan menjitak kepala Dimas kesal.
Pletak.. "Lebay lo."
Margy hanya tertawa pelan menatap kedua sahabat itu.
Kevan tiba2 dikejutkan oleh uluran tangan seseorang
padanya, "Welcome back," Billy teman satu tim kevan yg pernah
membullynya berkata pada kevan yg tersenyum sambil membalas uluran tangan cowo
Maco itu. Beberapa anak dibelakang Billypun ikut menyalami kevan turut senang.
"thank, terus kapten kalian siapa?" kevan
bertanya sambil menatap Billy yg tersenyum lebar.
"Kapten kita.." Billy menatap beberapa temannya
sambil mengisyaratkan sesuatu, kevan Margy dan Dimas menatap mereka bingung.
"Kevan si cowo Barbie," mereka berkata serempak
membuat kevan salah tingkah.
"ah kalian bisa ajah jadi pingin terbang gue,"
margy hanya menggeleng pelan menyaksikan tingkah konyol kevan y kini tlah
menjadi kekasihnya.
"eh eh tanyain gue juga dung," Dimas berkata
pada Billy y berdiri didepannya.
"Dimas, siapa sahabat terbaik lo selama ini?"
pertanyaan Billy membuat Dimas berpura2 berfikir.
"sahabat gue, Kepan si Cowo barbie.." tawa
merekapun seketika menggema diseisi ruangan kantin.
Sementara Kevan hanya terdiam mendengar mereka mengolok2
dirinya.
"Jamil, siapa cowo senga disekolah ini?"
"Kevan, si cowo barbie."
"wiftha, siapa cowo terimut dikelas lo?"
"ya pastilah, kevan si cowo barbie."
"Mutiara, siapa cowo yg nembak lo pulang sekolah
diterminal?"
"itumah kevan si cowo Barbie." dan masih banyak
lagi pertanyaan yg menggema ditelinga Kevan yg jawabannya tetap sama,
"kevan si cowo Barbie."
Margy menatap kevan y mulai menampakkan wajah kesalnya,
seketika itupula margy membisikkan sesuatu pada telinga kanan Kevan, " i
love you."
"i love you more rambutan,"
Kevan mencium pipi kiri Margy membuat margy terdiam tak
percaya. Seisi kantinpun menatap keduanya dalam diam,
Sebelum sebuah pertanyaan terlontar dari bibir sexy
Billy, "hey semua, siapa cowo yg berani nyium Margy dikantin
sekolah?"
Dan dgn serempak merekapun menjawab, "Kevan si cowo
barbie."
Merekapun kembali tertawa membuat kevan menarik tangan
Margy menjauh dari kegilaan satu sekolah.
Keduanya terduduk direrumputan taman, dgn saling
berpegangan tangan.
Mulai saat ini dan seterusnya mereka akan slalu
melengkapi satu sama lain.
Jika Margy diberi pertanyaan tentang siapa yg slalu hadir
dalam mimpinya setiap malam, dan jawabannya pasti kalian tau..
Yah orang itu hanya kevan, kevan si cowo Barbie.
Dan inilah akhir kisah Rambutan dan Tiang listrik..
THE END ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar