“Sudah berapa kali aku katakan, bawa jauh-jauh anak cacat itu dari
hadapanku,” Seorang lelaki berkata kasar pada seorang perempuan dan anak kecil
yang menangis dalam pelukannya, Perempuan itu memeluk erat anak semata
wayangnya yg ketakutan.
“Cukup Ray, kau tak perlu berkata kasar seperti itu,”Perempuan itu
berkata tak kalah keras membuat lelaki yg terduduk dikursi ruang tengah itu
menatapnya tajam, kemudian perempuan itu melanjutkan perkataannya,”biar
bagaimanapun juga, ingatlah dia anakmu.”
“Haha, jangan bermimpi aku tak sudi memiliki anak cacat
sepertinya,”Lelaki itu menghisap rokok yang baru dinyalakannya dan mengacuhkan
keduanya.
“Kau benar-benar tak berhati,”Perempuan itu berkata sambil membawa
anaknya menjauh dari suaminya. Nampak wajah kecewa sang istri akan sikap
suaminya itu.
Ray dan Ria adalah pasangan suami istri yang hidup berkecukupan
yang menetap dijakarta, dua tahun menjalani rumah tangga, akhirnya hadir buah
hati mereka ditengah kesunyian mereka, Andika Muhammad Navaro, atau Dika, ia
lahir secara premature, dan saat lahirpun suatu keanehan terjadi, bayi mungil
itu lahir tampa tangis, dan itu membuat Ria khawatir setelah melalui
pemeriksaan ternyata anak mereka dinyatakan Bisu, sejak mengetahui bahwa Dika
bisu, sikap Ray seketika berubah, entah malu atau apalah ia sama sekali tidak
ingin mengakui Dika sebagai anaknya, walau begiitu Ria sangat menyangi Dika,
baginya dika adalah Senyum untuknya.
Dika kini telah tumbuh menjadi anak yang tegar, usianya kini
beranjak delapan tahun, walau bisu tapi ia tak pernah mengeluh, justru ia
sangat ramah pada semua orang, hanya senyum yang selalu ia berikan pada mereka,
senyumnya lebih dari sebuah kata yg terucap,Karena itu Dika sangat disayangi
oleh para tetangga dan ia memiliki banyak teman.
Dengan berat hati Ria membawa Dika menjauh dari
ayahnya,digenggmanya erat tangan dika yang kedinginan,Ria menuntun Dika
berjalan kekamarnya dan membantunya berbaring diranjang, dengan cinta Ria
mencium kening Dika yang mulai memejamkan matanya.
“Maafin mama Dika,apapun yang terjadi Dika harus selalu ingat,
bahwa mama akan selalu ada disamping Dika,menjadi seseorang yg selamanya
menyayangi Dika,” Ria meneteskan air matanya sambil terus mengelus rambut hitam
Dika yang mulai tertidur.
***
Dika berjalan seorang diri menuju Ruang tengah, malam ini seperti
malam sebelumnya ia tak bisa tidur cepat,padahal waktu telah menujukkan pukul
setengah sepuluh malam, tapi matanya masih sulit ia pejamkan, karena itu ia
lebih memilih untuk menuntun televiisi saja diruang tengah.
Seketika langkahnya terhenti ketika melihat ayahnya tertidur pulas
di depan televisi, Dika mengampirinya dan menatapnya dalam-dalam, seketika
senyum terurai dari bibir tipisnya.
“Ayah Dika ganteng yah Tuhan,” hati kecil Dika berkata sambil menatap
ayahnya yang tertidur pulus diruang tengah.
Dika menatap sekeliling mencari sesuatu,tapi Dika berjalan balik
kearah kamarnya dan kembali lagi keruang tengah dengan selimut ditangannya.
Pelan-pelan Dika menyelimuti sang Ayah yg masih tertidur, lalu dika
membersihkan beberapa bedu rokok yang terjatuh dilantai dan membuangnya keasbak
dimeja samping.
Sudah beberapa minggu terakhir ini, Ray lebih memilih untuk tidur
diruang tengah ketimbang dikamarnya bersama Ria, sepertinya keduanya masih
saling marahan dan enggan meminta maaf. Dika tak tau mengapa sang ayah selallu
tidur diruang tengah, saat ia mencoba menanyakan itu pada ibunya, dengan lembut
ibunya menjawab,”Ayahmu harus mengerjakan beberapa pekerjaan, dan ia tak ingin
mengganggu tidur ibu, karena itu ia selalu tertidur diruang tengah, karena
kelelahan.”
Diary Dika (8thn)
Tuhan,mengapa tuhan menciptakan dika jika dika tak sempurna seperti
mereka??
Dika tau Dika tak boleh menyesali apa yang telah dika miliki,bunda
selalu ngajarin Dika agar selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki,walaupun
itu tak seindah milik orang lain.
Dika gak sedih kok tuhan, Tuhan bisa lihat dika tersenyum sekarang,
ini tulus loh J
Kalau dika sedih, bunda pasti sedih, karena itu dika akan selalu
tersenyum didepan Bunda.
Tapi tuhan, apa suatu saat nanti ayah akan mencintai Dika,?
Kalau iya, kapan?
Dika udah gak sabar pingin ngerasain dipeluk ayah,dianterin ayah
sekolah, dan main bola bareng ayah seperti anak lainnya.
Suatu saat nanti itu semua akan terwujudkan Tuhan??
Walaupun ayah benci Dika, sampai kapanpun Dika akan selalu
mencintai ayah.
Dika sayang ayah..
***
Diary Dika (9THN)
Tuhan apa segitu bencinya ayah sama Dika,?
Lalu kenapa ayah begitu membenci Dika??
Apa Dika punya salah sama ayah, kalau iya Dika akan tulus minta
maaf kok,Kalau memang kehadiran Dika buat ayah susah, Dika rela kok tinggal
bareng tuhan,ambil ajah nyawa Dika, asal ayah gak benci lagi sama Dika.
Dika mau sekali ajah ayah peluk Dika saat dika ketakutan dan
bantuin Dika ngerjain PR yang menurut Dika susah.
Tuhan apa mimpi Dika akan terwujud??
“Dika, kamu butuh uang untuk beli sesuatu?”Tanya Ria sambil menatap
Dika yang mengangguk.
Ria menghentikan memotong sayur dan menatap Dika yang berdiri
disampingnya.
“Memang uang itu untuk apa?”Tanya Ria lembut membuat Dika terdiam
sejenak.
“A..A..A..” Dika mencoba menjawab pertanyaan sang bunda membuat Ria
menatapnya gemas.
Ria tersenyum tipis mencoba mengerti apa yang ingin diutaran
Dika,”Kamu butuh berapa?”Ria menatap Dika yang mulai berhitung dengan jemari
tangannya.
Dika mengangkat lima jari tangan kanannya keatas dada dan bulatan
dijari tangan kirinya,” i..aa.. a...us..”
Ria mencoba menerka angka yg tercipta dijemari keduatangan
Dika,”Lima ratus ribu?” Tanya Ria membuat Dika mengangguk cepat.
Ray mencari sepatu hitamnya dideretan sepatu yang terpanpang
disudut ruangan..
“Ria, sepatu kerjaku Mana?” Tanya Ray setengah berteriak pada Ria
yg sedang memasak didapur,
Terdengar samar2 sahutan dari dapur,” Bukannya sepatu kerja kamu
udah rusak,”
Jawaban Ria itu membuat Ray menarik nafas panjang.. bagaimana ia
bisa lupa, untuk membeli sepatu kerja yang baru, kalau begini bagaimana bisa ia
berangkat kekantor.
“U..at.. a..yah...” Dika menyodorkan sebuah kotak sepatu ke arah
Ray yg menatapnya tajam.
Ditatapnya kardus sepatu hitam yg kini berpindah ketangannya.
“nyuri dimana kamu?” Pertanyaan Ray membuat Dika mengelengkan
wajahnya cepat.
“I..KA.. A..U..LI..” Kata2 Dika membuat Ray menatapnya tajam.
Seketika sebuah tamparan mendarat tepat dipipi putih Dika,” sejak
kapan, kamu belajar jadi pencuri huh?” teriak Ray keras membuat Dika menunduk.
“Ray, apa-apan kamu,” Ria menghampiri keduanya dan menatap dika yg
menunduk.
“Liat anak kamu, masih kecil udah belajar jadi pencuri,” Ray
mendorong tubuh kecil dika hingga terjatuh.
“Cukup Ray, jaga kata2 kamu, Dika gak mungkin mencuri.”
“Kalau begitu dari mana, dia bisa dapat uang sebanyak itu buat beli
sepatu, huh?”
Ria menahan amarahnya dan membantu Dika berdiri,”asal kamu tau,
uang itu aku yang kasih, dan aku gak pernah menyangka kalau uang yg aku kasih
itu dika gunakan untuk membeli sepatu kerja untuk kamu,”
Ray menatap Ria tajam yg masih bicara.
“Dan kamu tau berapa harga sepatu itu, lima ratus Ribu, aku hanya
memberi dika tiga ratus ribu dan sisanya Dika ambil dari uang tabungan dia,
dika rela gak jadi beli robot-robotan demi beliin sepatu kerja baru buat kamu,
dan kamu masih bisa-bisanya bilang kalau dika itu pencuri.”
Ray mengembalika kardus sepatu ketangan Ria,” hari ini aku bolos
kerja, dan bilang sama anakmu, berhenti bersikap baik padaku, karena aku tak
butuh semua itu,” Ray berkata sambil berlalu dari hadapan Ria dan Dika. Ria
mengelus pelan pipi Dika yg seketika memerah akibat tamparan Ray.
“Maafin ayah kamu yah?”
Dika hanya mengangguk dan lagi-lagi ia tersenyum. Dika adalah
senyum kebahagian Ria, sekarang dan selamanya.
***
Diary Dika (10thn)
Tuhan, hari ini Dika kenaikan kelas,Dika senang banget karena dika
juara kelas,makasih yah tuhan, karena tuhan dika jadi semakin disayang sama
bunda. Walaupun ayah gak datang waktu pembagian rapot,tapi Dika cukup senang
kok, setidaknya nanti dirumah Dika bisa kasih tunjuk ayah nilai rapot Dika.
Biar ayah bangga dan gak benci lagi sama Dika.
“Bunda bangga sama kamu Dika,”Ria berkata sambil menciumi rambut
hitam Dika. Dika tersenyum senang.
Mereka telah tiba dirumah, tak sabar rasanya Dika ingin
memberitaukan ayahnya bahwa ia juara kelas.
Dika mencari ayahnya disemua ruangan tapi ia tak mendapati Ray
dimanapun, Dika terduduk sedih diruang tengah.
“Tuhan ayah Dika dimana?, kenapa ayah pergi padahalkan Dika mau
ngasih tunjuk ayah hasil rapot Dika..” Dika menatap sedih rapot merah
ditangannya.
Tak beberapa lama, Ray tiba dari arah timur, Dika tersenyum
menyamut kedatagan sang ayah yang telah dinantinya sedari tadi.
Dika berdiri dari duduknya, ditaruhnya rapotnya dimeja samping,
Dika menyalami tangan sang ayah yang menatapnya tajam, dituntunnya sang ayah
higga tepat didepan kursi panjang.
Ray terduduk, espresi wajahnya masih datar, Dika membantunya
membukakan sepatu dan juga jas yang Ray kenakan.
Dika berlalu dengan memegang sepasang sepatu ditangan kanannya dan
jas hitam ditangan kirinya, mencoba menaruh jas dan sepatu itu ditempat biasa.
Sepergian Dika, Ray menatap Rapot merah disampignya. Ia raihnya
rapot itu dan mulai memperhatikan setiap nilai yang tertera disana.
Tak ada nilai merah satupun, tapi tetap saja espresinya tak
berubah.
Dika kembali degan secagkir kopi ditangannya, cangkir itu seraya ia
letakkan diatas meja. Dika menatap sang ayah yang sedang memeperhatikan nilai
Rapotnya, iapun tersenyum senang.
“Tuha, sebentar lagi pasti ayah Dika bakal bangga sama Dika,”
hati kecilnya berkata riang, tak sabar ia menunggu sang ayah mengatakan sesuatu
untuknya.
Ray menutup Rapot ditangannya dan menatap Dika yang telah anteng duduk
disampingnya.
“Kamu nyontek lagi?”
pertanyaan Rya itupun seketika membuat Dika menggeleng.
Ria tiba menghampiri sang suami dan anaknya, “Ray, kamu gak ucapin
selamat buat Dika?” Ria berdiri didepan Ray yang masih terduduk, sebetika Ray
menatapnya tajam.
“Untuk apa, tak ada yang perlu dibanggakan dari hasil sebuah
contekan.” Ray meraih sebutung rokok dari kemeja putihnya. Ria menatapnya
geram.
“Dika tidak menyontek, ilai itu hasil kerja keras dia sendiri,”
Bela Ria keras.
Dika menunduk, harapannya untuk membuat ayahnya bangga ternyata
gagal lagi.
Setiap tahun memang selalu itu yang ray katakan, saat Dika mendapat
nilai plus.
Mencontek??? Ray selalu bertanggapan bahwa hasil plus yang
didapatka Dika adalah hasil contekan,
“Dia itu Bisu, gak mungkin dapat ilai plus kalau tidak hasil
contekan,” Timbal Ray lagi,
***
Dika terduduk dibangku panjang lapangan sekolahnya.. ditatapya
sekeliling, diriya yag tak sempurna dalam berucap, membuat sang bunda
menyekolahkannya disekolah khusus anak-anak tak sempurna sepertinya atau lebih
dikenal dengan sebutan sekolah luar biasa.
Anak-anak itu sama sepertinya, sebagian ada yang bisu, atau mungkin
keterbelakangan mental, tapi satu yang membuat Dika sedih, megapa mereka
masih bisa tersenyumm riang dan bercada gurau bersama sang ayah, sementara
dirinya tidak??
Sebuah bola bundar dipeluknya erat, sesekali ia megkrucutkan
bibirnya, ia ingin seperti mereka bermain bersama sang ayah dan tertawa riang..
“Ayah, wahyu gak
bisa,” Seorang anak dengan tongkat ditangannya sebagai penyaggah kakinya yag
tak sepurna atau lumpuh berkata pada sang ayah yang sedang mengajarinya
menendang bola degan kaki kirinya.
“Kalau wahyu
berusaha pasti wahyu bisa,ayah selalu disini untuk Wahyu,” sang ayah tak
henti-hentinya menyemagati sang anak yang mengangguk.
Wahyu berusaha mecoba, menendag bola didepannya dengan kaki
kirinya, tapi bola itu tak bergerak dan justru Wahyu yang terjatuh.
“Wahyu!!” Sang
ayah menghampiri sang anak cemas, diraihnya tangan mungilnya dibantunya
berdiri, kemudian sang ayah mengobati luka dilutut kaki wahyu yag kesakitan.
Dika mengalihkan padangannya, menengok kekiri, pemadangan itu hanya
mebuatnya iri.
“Cinta ingin ice
Krim.”
Lagi-lagi kemesraann ayah dan anak terlihat jelas didepan matanya.
Anak perepuan seusianya yang tak dapat melihat hanya megangguk
pelan mendengar pertayaan sag ayah yag meggenggam tangannya.
“Dua yah,
stawberry dan vanila,” Cinta berkata Riang pada sang ayah yang tersenyum.
Lagi-lagi Dika membuang nafasnya berlahan, setiap hari memang
inilah yang selalu dilihatnya setiap kali tiba disekolah.
Tuhan, kapa Dika bisa seperti ,mereka, bermain bola bersama ayah
dan ayah membelikan Dika ice krim??
Apa Dika dosa tuhan, jika Dika iri sama mereka???
Dika
melangkahkan kakinya medekati pintu kamar orangtuanya, bola bundar itu masih
dalam dekapannya, rencananya Dika ingin mengajak sang ayah bermain bola, siapa
tau kali ini ayahnya tak meolak seperti kemarin-kemarin.
Dika
telah tiba didepan pintu kamar, menatap kedalam ruangan yag kebetulan terbuka,
dilihatnya sang bunda dan ayahnya yang sedang berdebat. Dika terdiam dan
medengarkan setiap kkata yang mereka debatkan.
“Sampai kapan kau akan sekejam itu
pada Dika, ingatlah Ray dia itu anakmu,” Ria erkata keras, ia menatap Suaminya
yag berdiri memebelakanginya.
Kedua
tangan Ray ia tekuk da letakka didada, “Sudah berapa kali aku katakan, anak
bisu itu bukan anakku.”
Mata
Dika berkaca-kaca saat pendengar perkataan Ray itu, Bola dalam genggamannyapun
terjatuh seketika.
“Tapi Dika sangat mencintaimu, aku
mohon jangan lukai Dika lagi Ray,” Suara
Ria mulai bergetar, tapi Ray tak peduli, hati da perasaannya tetap enggan
mengakui Dika sebagai anaknya.
“Aku tak butuh semua perhatiannya,
Dia itu bisu, apa yang bisa kubaggakan dari anak isu sepertinya, dia hanya
membuatku susah.”
“Ray, kau sungguh tak berhati.” Ria
mengepalkan tangannya kesal, ingin sekali ia meampar wajah suaminya itu, tapi
ia tak mampu.
“Katakan padanya untuk berhenti
bersikap baik padaku, aku tak akan mencintainya sebelum ia benar-benar bisa
berbicara.”
Diary
Dika
Tuhan,
sekarang Dika sadar kenapa ayah benci Dika, karena Dika bisu, enarkan Tuhan??
Ayah
malu punya anak bisu macam Dika, ayah akan mencintai Dika jika dika udah bisa
berbicara.
Dika
bisu da dika sadar selamanya Dika tak akan pernah isa bicara.
Itu
berarti selamanya ayah tak akan sayang sama Dika.
Tapi
tunggu, bukankah keajaiban itu ada??
Tuhan,
Dika pingin banget bisa bicara, dan bilang kalau Dika sayang ayah dan bunda.
Sehari
ajah tuhan, Dika mohon.setelah itu dika bisu lagi juga gak apa2
Asal
ayah bisa dengar kalau dika sayang ayah..
Dika
percaya keajaiban karena Dika percaya
Tuhan itu ada..
***
“Bagaimana keadaan putra saya Dok?”
Tanya Ria pada seorang Doktor yang menangani Dika.
Satu
jam setelah Dika mencurahkan perasaannya pada Tuhan, ia merasakan sakit
dikepalanya, karena tak ingin membuat sang bunda cemas, Dika meilih untuk tak
menceritakan semuanya.
Dika
membaringkan tubuhnya diranjang, sakit dikepalanya semakin terasa, ia menutup
matanya berlahan, sebelum semuanya hitam dan gelap, Dika pingsan.
“Kondisi putra ibu sangat
mengkawatirkan, putra ibu terkena tumor otak, dan kemungkinan sembuh sangatlah
minim,”
Seketika
tubuh Ria melemas mendengar pengakuan sang doktor, bagaimana bisa anaknya yang
masih sangat kecil terserang penyakit mematikan seperti ini.
Ria
terduduk disamping ranjang Dika, ditatapya Dika yang tertidur pulas, mungkin ia
sangat lelah.
Ria
mengelus lembut rambut hitam Dika, air matanyapun tak kuasa ia teteskan.
“Dika jangan takut, semuanya akan
baik-baik saja, Bunda akan selalu disamping Dika sampai kapanpun, kalaupun
nanti Dika pergi, Dika gak usah cemas, disana Tuhan pasti akan menjaga Dika,
apapun yang dika minta pasti Tuhan beri,tapi
Dika harus tetap kuat dan tersenyum.” Ria menghapus air matanya yang
terjatuh, dengan lembut diciumnya kening Dika yang dingin.
“Bunda sayang Dika.”
Matanya memang terpejam tapi dengan jelas Dika
mendengar setiap kata yag diucapkan sang bunda.
Diary
Dika
Tuhan
tumor otak itu apa?
Apa
penyakit itu sangat parah??
Kalau
tidak, kenapa bunda nangis waktu cerita tentang penyakit Dika?
Kenapa
Doktor bilang sama bunda, umur Dika gak akan lama lagi??
Apa
itu berarti Dika akan pergi??
Pokoknya
Dika gak mau pergi, sebelum ayah sayang sama Dika.
Titik...
***
Dengan perasaan tak menentu, Ray
melangkahkan kakinya memasuki gerbang sekolah Dika, matanya menatap sekeliling,
menyaksikan eberapa orangtua yang menunggu anaknya pulang sekolah.
Ini
kali pertama ray menyembut Dika sepulag sekolah, kalau saja Ria tak meohon
padanya da menangis mungkin selamanya ia tak akan pernah menginjakkan kakinya
disekolahh yang penuj dengan ketidaksempurnaan.
“Kamu pasti ayahnya Dika?” seorang
perempuan seusia Ria berdiri didepannya, Ray mengangguk pelan.
“Tau dari mana?” tanyanya bingung.
Wanita
itu tersenyum tipis, “Saya Lisa, gurunya Dika, dika cerita banyak tentang
ayahnya yang tampan dan baik hati.”
Ray
menghernitkan keningnya bingung, tampan dan baik hati, bagaimana bisa dika
berkata seperti itu, mengingat dirinya yang selalu kasar pada Dika.
“Dika Bisu, dia gak mungkin mengatakan saya aik dan
tampan.”
“Dika memang bisu, tapi dia tidak
buta,” Lisa meraih sesuatu dari tas hitamnya, secarik kertas putih yang
langsung ia sodorkan pada Ray.
“Dika selalu menulis dikekrtas itu,
saat ingin berkomunikasi dengan saya.”
Berlahan
Ray membacanya.
Bu guru ayah Dika tampan Loh, gak kalah dech ama david bekam (David
beckham maksudnya),,
Selain itu ayah dika juga baik loh bu, walaupun ayah gak pernah
ngater Dikka sekolah, tapi Dika tau suatu saat nanti pasti ayah mau jemput Dika
pulang sekolah, terus main bola bareng Dika dan beliin Dika es krim...
Bu guru nanti kalau ketemu sama ayah Dika, bu guru gak boleh naksir
yahh, Dika tau bu guru pasti jatuh cinta ama ayah dika yang ganteng dan baik,
tapi ayah Dika udah punya bunda, bunda dan ayah akan selalu selamanya,,,
Bu guru, Dika sayang banget sama mereka... Dika pingin selamanya
disisi mereka..
Disisi bunda Dika yang cantik dan ayah Dika yang baik dan
ganteng...
Oh yah, Dika mau ucapin makasih ama bu guru, yag udah setia degeri
setiap cerita Dika..
Dika juga sayang bu guru, nanti kalau Dika pergi, bu guru jangan lupain Dika yah, dan maaf
kalau Dika punya banyak salah sama ibu.
bu guru, nanti kalaiu Dika benar-benar pergi, bu guru jangan cerita
sama ayah yah, kalau Dika sering cerita tentang ayah, Dika gak mau ayah marah
dan benci Dika,
Ini cukup jadi rahasia kita yah bu, Dika percaya sama bu guru.
Bu guru percayakan ayah Dika ganteng dan baik???
Entah mengapa setelah membaca semua yang dituliskan Dika diselembar
kertas putih itu, air mata Ray seketika terjatuh.
Ini kali pertama Ray menangis, dan ia menangis karena Dika,
mungkinkah ia telah menyadari kesalahan besar yang selama ini ia lakukan pada
Dika??
Ia mengkapus air matanya, melipat kertas putih itu dan mengembalikannya
pada Lisa yang langsung menerimanya.
“Saya tau, anda
selalu kasar pada Dika, tapi saya salut, sebesar apapun anda membencinya,
sedikitpun Dika tak pernah membenci anda, seharusnya anda bangga pada Dika, Dia
adalah malaikat kecil yang tak berdosa,” Lisa menatap kearah Dika yang berlari
kearah keduanya, dika tersenyum senang mendapati ayahnya menjemputnya.
Dika segera memeluk Ray senang sesampainya disana, Ray terdiam tak
bersuara.
Dika memang sering memeluknya seperti ini, tapi kali ini pelukan
itu begitu hangat dan nyaman, berlahan
Dika melepaskan pelukannya.
Dika menatap Lisa yang buru-buru measukka kertas ditangannya
kembali ketas hitamnya, ia tersenyum tipis pada Dika yang mencoba menuliska
sesuatu pada kertas kecil yang diraihnya dari saku seragamnya. Tak beberapa
lama kertas itu telah berpindah ketangan putih Lisa.
Bu guru, ayah Dika ganteng kan??
Lisa tersenyum lebar saat mendapati apa yag dituliskan murid
kesayangannya itu. Lisa mengembalikan kertas itu kembali pada Dika, setelah ia
menulis balasan untuk Dika dikertas putih itu. Ray menatap keduanya yang masih
berkomunikasi lewat kertas.
Iya, ayah Dika tampan.. sangat tampan...
Iya sangat tampan dan baik, Dika bangga jadi anak ayah, sekarang
teman-teman Dika pasti iri sama Dika , karena Dika punya ayah yang tampan dan
baik.
Mereka yang sehharusnya bangga memiliki anak sepertimu Dika, ibu
bangga padamu.
Terimakasih, Dika sayang BU GURU.
Ibu juga sayang Dika.
***
Sepajang perjalanan pulang, Rey terus menatap Dika yang berjalan
disampingnya, senyuman senang tak pernah lepas dari bibirnya.
Dika melompat-lompat kecil, menendang pelan setiap krikil didepan
kakinya, sesekali ia tersenyum pada sang ayah yang menatapnya tajam.
“Kamu kenapa?”
Tanya Ray sembari berhenti dipinggir trotoar yang diikuti langsung oleh Dika.
Dika tersenyum tipis, ia menggelengkan kepalanya, senyum manis
masih menghiasi bibirnya.
Beberapa mobil dan kendaraan lainnya berlalu lalang didepan mereka,
hingga lampu lalu lintas itu berubah
warna merah, semua kedaraanpun terhenti..
Dika meyebrang santai disamping kiri Ray, Ray menatapnya
sejenak, beberapa manusia ikut
menyebrang bersama mereka, setibanya ditengah Ray mencoba meraih tangan Dika
dan menggenggamnya.
Dika terdiam tak percaya, ini kali pertama sang ayah menggenggam
tangannya, hahti kecilnyapun berlonjak-lonjak kegirangan.
Hingga akhirnnya mereka sampai diseberang, sepanjang perjalanan
tangan Ray tak pernah lepas dari jemari kurus Dika, merekapun tiba disebuah
taman yang cukup besar, dan berhenti.
Taman ini memang selalu Dika lalu setiap kali pulang sekolah
bersama bunda, dan taman inilah tepat Dika melepas kegundahan hatinya.
“Kamu mau ice krim?”Tanya Ray saat mendapati tukang Ice
krim yang tak jauh dari tempat erdiri mereka, dengan cepat Dika mengangguk.
Ray melepas pegangan tangannya, “Kamu tunggu disini, jangan
kemana-mana!” seru Ray lagi pada Dika yang kembali mengangguk, Raypun segera
berlalu menghampiri sang penjual ice krim.
Tak beberapa lama Ray tiba dengan ice krim coklat ditangannya, disodorkannya ice krim itu pada Dika
sesampainya disamping anaknya. Dika meraihnya dan langsung menyantapnya. Untuk
kali pertama Ray tersenyum tipis melihat Dika yang dengan lahapnya meyantap ICE
Krim pemberiannya.
Merekapun sempat bermain bola, sebelum kembali kerumah.
Entah mengapa hari ini sikap ray, sangat jauh berbeda, iapun tak
malu megenalkan dirinya sebagai ayah Dika pd beberapa orang yang menanyakan
mereka.
Dika tak menyangka apa yang ia impikan selama ini ternyata
terwujud.
Dika terduduk dimeja belajarnya, kepalaya embali terasa sakit, tapi
ia tak peduli, ia berusaha menulis, mungkin itulah tulisan terakhirnya..
Tuhan, tadi ayah jeput Dika disekolah, Dika bahagia banget,
teman-teman Dika pada iri kaarena ayah dikka ganteng.
Ayah juga bersedia main bola bareng Dika dan beliin Dika ice krim,
Pokoknya hari ini adalah hari terindah Dika.
Terimakasih tuhan, karena sekarang ayah Dika udah gakk benci lagi
sama Dika.
Sekarang Dika udah siap pergi.
Dika berhenti meNulis sejenak, mengurut kepalanya pelan dengan
kedua tangan kecilnya.
Tuhan, kenapa kepala dika sakit banget, apa sekarang Dika benar-benar
harus pergi??
Walaupun berat tapi dika terima kok, ini pasti yang terbaik untuk
Dika.
Eh tapi tunggu, Dika mau nyampein dulu sesuatu.
Buat bunda, bunda adalah bunda terbaik diseluruh dunia,terimakasih
untuk seMuanya.
Dika sayang sayang sayang banget sama bunda.
Dan untukk ayah, ayah taukan kalau dika sayang-sayang banget sama
ayah,
Ayah janji yah gak akan ngelupain Dika.
Dika harus pergi karena ayah nunggu Dika disurga, apapun itu ayah
harus tetap tersenyum dan jangan buat buda Dika sedih yah..
DIKA SAYANG AYAH DAN BUNDA.
Permintaan terakhir Dika Cuma satu ya Tuhan...
Dika pingin banget punya adik, biar bisa nemenin bunda sama ayah
dirumah.
Dika memang tak dapat bicara, cara inilah yang ia lakukan untuk
dapat berkomunikasi dengan Tuhan-Nya,dan pada usia 11tahun2bulan10hari, Dika
menghembuskan nafas terakhirnya. Dengan senyum yang menghiasi wajah pucatnya.
Ray membaca semua yang ditulis oleh Dika pada diary biru
itu,hatinya seketika tersentuh dan menyesali semua perbuatan kasarnya pada
Dika.
Ray melihat gambar buatan tangan Dika dibagian akhir buku, lukisa
seorang anak laki-laki yang bergandengan tangan dengan seorang lelaki bertubuh
tinggi, dibawah gamar itu terdapat sebuah tulisan kecil...
Dika dan ayah...!!
Dika akan selalu menggenggam tangan ayah, sampai ayah tua nanti.
Ray tak kuasa meneteskan air matanya,bagaimanabisa ia
menyia-nyiakan anak sebaik Dika.
Ditatapnya sekeliling kamar Dika yang kini seakan sepi, padahal
biasanya setiap Ray pulang kerja ia selalu saja mendengar Dika yang sibuk menghafal
kunci gitar, bayangan Dika tersenyum, tertawa berlari kecil megelilingi Ray,
terliang jelas dimatanya.
Semuanya telah terlambat, dika telah pergi dan ia tak akan kembali
lagi.
Ditaruhnya bbuku itu diatas meja belajar Dika, lalu Ray meraih
kkotak sepatu yg sepat ia tolah dari Dika, ray terduduk dipinggir ranjang Dika,
dan mecoba menjajalkan sepatu hitam itu,
sedikit kebesaran memang, tapi Ray sangat menyukainya.
“terimakkasih Dika untuk semuanya, dan maaf bila selama ini ayah
selalu kasar sama kamu, ayah eyesal telah melakukan semua itu, mungkin ayah
adalah orangtua terkejam didunia ini, seharusnya ayah yang menggandeng tangan
Dika dan nganterin dika sekolah, tapi justru ayahlah yanag selalu ebuat Dika
menangis, seharusnya ayah saja yang pergi, bukan kamu dika, jalan kamu masih
panjang, asih banyak ,mimpi yang harus kamu raih, Ayah sama Dika.kamu dengar
itu Dika, AYAH SAYANG DIKA.”
Air matanya mengalir bersama dengan suaranya yang bergetar.
Walaupun terlambat,tapi Dika cukup bajagia, karena sekarag ia tau,
bahwa ayahnya sangat menyayanginya.
Kini senyuman yg selalu menghiasi keluarga kecil itu telah pergi,
hanya tinggal kenangan manis disana.
5THN Kemudian..
Doa terakhir dika untuk memiliki adik akhirnya terkabulkan,
setengah tahun setelah kepergian Dika, Ria dinyatakan hamil, Sembilan bulan
kemudian, Ria melahirka bayi prempuan yang sangat manis, yang selalu mereka
panggil Diana.
Kini diana tubuh menjadi anak yang cukup lincah, wajahnya tak jauh
beda dengan Dika, ia selalu benampakkan senyu dibibir tipisnya.
5tahun berlalu sudah, walau sulit, kenangan tentang Dika sedikit
terlupakan dengan kehadiran Diana.
THE END

Tidak ada komentar:
Posting Komentar