Facebook Badge

Selasa, 16 Juli 2013

"Ketika Dira Jatuh Cinta!" #PART13 (ending)

[Mata ini indah melihatmu.. Rasa ini rasakan cintamu...Jiwa ini getarkan jiwamu...Jantung ini detakkan jantungmu]

*Biarkan aku jatuh Cinta!*

"Terimakasih untuk seharian ini,Ve1"

Ve tersenyum, mendorong Dava yang terduduk dikursi roda menuju kamar penginapannya dirumahsakit. "Sama-sama."

"Tapi aku masih tak percaya, kalau Evan sama kamu adalah sepupuh!" Dava menengok kebelakang, menatap wajah Ve sekilas yang tersenyum. "Pantas saja sepertinya kalian sangat dekat."

Ve menghentikan dorongannya (?) ketika keduanya tiba didepan kamar inap Dava. "Tidak juga, justru aku dan dia kerap kali bertengkar."

Pemuda itu tersenyum tipis, kemudian ia menatap arlogi pada pergelangan tangan kanannya. "Pukul sembilan malam, sebaiknya kamu pulang, sudah sangat malam."

"Iya kamu benar," Ve menatap Dava sejenak yang menatapnya tajam. "Jangan lupa istirahat dan minum obat."

"Pasti."

"Aku pulang, salam buat tante Sovia dan om Frans."

Dava mengangguk pelan beriringan dengan senyum diwajahnya. "hati-hati!"

***
Ve, gadis itu berjalan seorang diri mendekati rumah minimalis itu.
Ada sesah didadanya saat ia belum juga mendapatkan kabar tentang Dira, cowok idiot yang dicintainya.
ia terus menunduk, menendang krikil kecil yang menghalangi langkahnya. semakin mendekat hingga ia tiba didepan pintu rumahnya.

Took-tok-tok..
Jemari lengan kanannya terus mengetuk pintu itu. "Assalamualaikum!" Salamnya pelan, masih menunggu sang bunda membukakan pintu untuknya.
Ia merasakan dingin pada tubuh kurusnya, menatap sekeliling, seketika matanya membesar saat ia mendapati Dira tertidur dengan menyenderkan kepalanya pada dinding putih teras rumah Ve. pemuda itu tertidur dilantai teras sementara disana terpadat beberapa kursi kayu.

glek!!
Pintu terbuka, sang bunda tiba dari balik pintu kayu itu. "Udah duajam dia nunggu kamu, buda suruh masuk tapi dia gak mau." penjelasan sangg bunda membuat ve tersenyum tipis.

"Aku bangunin dia dulu yah bu!" Vepun bergegas menghampiri Dira setelah sang bunda tersenyum.
ia mendekat, berjongkok ketikaa tiba didepan pemuda tinggi itu. Senyumnyapun mengembang saat ia menatap espresi tidur Dira yang terlihat sangat polos dan tanpa dosa, terlebih pemuda itu terlihat memeluk erat setangkup bunga mawar dalam dekapannya.

"Lucu juga!" ia berseru pelan berharap pemuda itu tak mendengarnya, ditariknya pelan kartu kecil yang terselip diantara bunga-bunga itu, Ve tersenyum lebar saat membaca tulisan tangan Dira yang tertera disana.

Teruntuk: Gadis cinderella gue.
Bunga yang indah tapi tak seindah kehadiranmu disisiku..
I LOVE YOU!!

Ve menutup kartu itu dan kembali menatap dira yang masih tertidur, perlahan gadis itupun mengusap pelan rambut hitam Dira. "I Love you too, cowok idiot!"

Ia berdiri, langkahnya berjalan memasuki rumahnya, tak beberapa lama ia kembali dengan sebuah selimut ditangannya.
ia kembali mendekat dan menyelimuti tubuh Dira yang mulai kedinginan, gadis itupun terduduk disamping Dira yang masih terlelap dari tidurnya.

Ve menjatuhkan kepalanya pada bahu Dira pelan, agar pemuda itu tak tersadarkan, gadis itupun seketika menatap langit malam yang dirasakan cukup banyak bintang malam ini.

"Bintang, seandainya waktu bisa terhentikan, aku ingin waktu terhenti saat ini, karena aku tau.. besok, lusa dan nanti, keindahan ini tak akan pernah bisa terulang.. hanya bersamanya seperti ini, itu inginku."

***
Dira membuka matanya perlahan saat ia merasakan pegal dibahu kirinya, ia menengok, matanya membesar saat mendapati Ve tertidur disampingnya. gadis itu masih menyenderkan kepalanya pada bahu Dira, pantas saja ia merasaan bahu kirinya yang sedikit berat.
Ia tersenyum tipis, berganti menatap arlogi dipergelangan tangannya. "Jam sebelasmalam!" Serunya pelan.
ia mengusap rambut Ve pelan setelah menaruh setangkup bunga ditangannya kelantai teras.

"Ve bangun!" Suarany aterdengar lembut saat mencoba membangunkan gadis cinderellanya. "Ve.. bangun!" ulangnya, masih dengan membelai rambut hitam Ve yang terlelap.

Dira tersenyum Evil, menjauhkan emari tangannya dari rambut hitam Ve kemudian beralih berbisik pelan. "Kalau sampai hitungan ketiga lo gak bangun, gue bakal nyium lo!"

Dira menatap Ve tajam yang sepertinya masih benar-benar tertidur, perlahan pemuda itu menjauhkan kepala Ve dari bahunya dan berganti meletakkan kepala gadis itu pada pangkuannya, setelah pemuda itu melepas selimut yang menyelimuti tubuhnya.
"Satu.." ia menundukkan wajahnya mendekat pada wajah oval Ve. "Dua.." Semakin mendekat hanya terpaut beberapa senti lagi bibir keduanya bersentuhan. "Ti.."

"Cowok idiot! lo mau ngapin gue!"
Ve membuka matanya cepat dan mendorong tubuh Dira menjauh. gadis itupun segera terbangun dan duduk.
matanya menatap kesal Dira yang tersenyum.

"Belum gue cium Ve, lo udah bangun ajah, gakk asik ah!"

"Cowokk idiot!" Ve memukul lengan Dira kesal, kemudian gadis itu berdiri. "Lebih baik sekarang lo pulang."

Pemuda itu ikut berdiri, "Lo ngusir gue!" dicoleknya dagu Ve pelan. "Gak baik ngusir pacar sendiri!"

"Norak!" Gadis itu kembali memukul lengan Dira yang tersenyum. "Pulang sana gue mau tidur!" usir Ve lagi.

Dira menggeleng. "Gak ah, gue masih mau disisi lo!" diraihnya pinggang Ve dan didekatkannya pada tubuh tegap Dira. Pemuda itu memeluknya seketika.

Gadis itu terdiam, Dira memeluknya begitu erat, darahnya seketika mengalir cepat bersamaan dengan datakan jantungnya.
Ve menutup matanya saaat detakan jantung Dira menggema telinganya yang menempel pada dada bidang pemuda itu, harum parum Dirapun kembali dihirupnya.

"Tetap disisi gue Ve," Ia melepas pelan pelukannya, berganti menggenggam erat jemari tangan gadis itu. "sampai jantung gue benar-benar berhenti berdetak!" Dira mendekatkan jemari tangann Ve mendekat pada jantungnya. "Jantung ini detakan jantungmu!"

Tanpa terasa gadis itu menetaskan airmatanya, dengan ccepat ia memeluk erat pemuda didepannya. "Lo gak akan pergi! lo gak akan pernah ninggalin gue!"
Semakin erat dira merasakan pelukan gadis yang dicintainya itu.

"Hidup seseorang gak ada yang tau Ve!" ia melepas kembali pelukan itu dan menghapus airmata yang membasahi pipi putih Ve.
"Karena itu, gue mohon! untuk malam ini ajah lo bersedia jalan bareng gue!"

"Sekarang?"

"Lebaran Cumi!" Jawab Dira asal. "Ya iyalah, siapa tau hari ini adalah hari terakhir kebersamaan kita!"

Ve menggeleng cepat. "Gak! Lo gak akan pergi, besok atau kapanpun!"

Dira mendekatkan tangannya pada wajah Ve yang menggeleng, seketika gadis itu terdiam menatapnya. "Dengerin gue, penyakit yang gue derita ini udah cukup parah!" Dira membawa Ve terduduk dikursi kayu, kemudian pemuda itu berlutut didepannya. "Kesembuhan gue itu sangat tipis Ve, walaupun masih ada jalan operasi dan penerimaan jantung baru, tapi tetap ajah gue gak akan bertahan lama."

Gadis itu menunduk, bahunya kembali bergetar, ia menangis.

Pemuda itu tersenyum perih, hatinya sakit saat menatap gadis yang dicintainya menangis karenanya.
Diraihnya dagu gadis itu hingga keduanya saling pandang. "Ve, hari ini gue pingin banget pergi kesuatu tempat, lo maukan nemenin gue kesana?"

"Ini bukan sebagai tanda perpisahan kan?" tanya Ve balik pada Dira yang tersenyum.
pemuda itu tak menjawab, ia hanya terdiam bersamaan dengan senyum diwajahnya.

"Dira," Sapa Ve pelan.

Kini giliran Dira yang menunduk, pemuda itu menggigit bibir bawahnya, saaat seketika jantungnya terasa kembali kambuh.
"Jangan sekarang, Tuhan!" ia menutup matanya pelan , semakin kencang ia menggigit bibri bawahnya, ia tak ingin Ve menyadari kesakitannya saat ini. Berulang kali ia mengatur nafasnya pelan hanya sekkedar untuk menghilangkan rasa sakit pada jantungnya.

"Dira!" Ve kembali menyapanya, menatap tajam pemuda itu yang berdiri.

Dira berdiri membelakanginya, meremas jantungnya keras, keningnya seketika mengeluarkan butiran-butiran keringat.
Sebisa mungkin, ia akan tetap bersikap biasa dan kuat saat berada disaamping Ve.

Gadis itu berdiri, mendekat pada Dira yang mencoba bersikap biasa. "Lo baik-baik ajah? lo gak lupa minum obatkan?"

Dira mencoba tersenyum menatap wajah khawatir gadis itu, perlahan iapun mengangguk, walaupun sebenarnya ia berbohong, karena sudah dari kemarin ia tak pernah membiarkan obat itu menyelamatkann nyawanya.

"Temenin gue malam ini, Please!" Dira memohon dengan menyatukan keduatangannya, "Hanya malam ini, gue pingin banget ngeliat Matahari terbit!"

Entah mengapa saat menatap mata teduh Dira kali ini, gadis itu tak mampu menolak, ia mengangguk dan tersenyum saat mendapati wajah ceria pemuda itu.


***
"Wah! ini indah banget Dira!" Ve melentangkan tangannya mencoba menghirup udara perbukitan.
Pemuda itu mengajaknya ke bukit untuk melihat matahari terbit, dan ini kali pertama bagi ve untuk melihat pemandangan indah itu.

Dira tersenyum saat mendaptai wajah ceria Ve, gadis itupun mulai tak sabar untuk benar-benar menyaksikan moment dimana sang surya mulai menampakkan sinarnya.

"Jam berapa?" Ve sekilas menatap pemuda itu yang telah terduduk direrumputan, sementara dirinya masih asik berdiri menatap pemandangan dari atas bukit.

"Sebentar lagi." Dira merebahkan tubuhnya berbaring diatas rerumputan. kedua tangannya ia tekuk dan ia biarkan menjadi penyanggah kepalanya.

Ve terduduk disamping Dira yang terbaring. "Kamu sering ke sini?" Ia menatap Dira yang tersenyum tipis. "Kenapa senyum?" Tanyanya dengan espresi bingungnya.

"Perasaan ini kali pertama lo ngomong aku-kamu kayak gini!"" Dira semakin melebarkan senyumnya saat kedua matanya menangkap gurat wajah malu gadis disampingnya.

"Lo sering kesini?" buru-buru Ve meralat perkataannya, menatap kedepan tanpa berniat menatap senyum pemuda itu yangg semakin melebar dan manis.

"Dibilang sering, gak juga, dibilang jarang, gak juga!" Dira merubah posisinya menjadi terduduk disamping Ve yang seketika menatapnya pelan.
"Dulu waktu awal bunda ninggalin gue sama ayah, Ayah sering ngajak gue kesini, berhubung ayah sering pulang malam dan selalu kelewatan buat ngeliat matahari terbenam, makanya setiap malam mendekati sang fajar ayah selalu bawa gue kesini, buat liat matahari terbit."

Ve menatap tatapan mata Dira yang berubah sendu, ia kembali mendengarkan pemuda itu yang lanjut bicara. "Tapi, semenjak bunda Dava memasuki kehidupan ayah, ayah berubah dan lebih mementingkan pekerjaan, dia gak punya waktu lagi untuk ngajak gue kesini, padahal harapan terakhir gue cuma satu," Dira menghentikan perkataan sejenak untuk sekedar mengatur nafasnya. "Gue pingin banget saat2 itu terulang lagi, ngeliat matahari terbit disini bareng ayah, walaupun itu gak akann mungkin terjadi."

Gadis itu tau betapa menyakitkannya hidup Dira, perlahan sebuah belaian lembut mendarat indah dipunggung tegap pemuda itu. "Aku tau kamu kuat!"

Dira tersenyum saat semangat itu terlontar dari bibir gadis yang dicintainya itu. "Yah!" seketika Dira menunjuk sesuatu didepannya. "Liat tuh!"

Rona merah dan orange langit seketika terlihat indah didepan keduanya,Ve membelakkan matanya tak percaya, saat sang surya mulai menampakkan sinarnya. Indah dan menakjubkan!!

"Lo suka?" Dira menangkap espresi tak percaya dan terkagum gadis itu, ve tak berkutik, matanya tak pernah lepas dari pemandangan didepannya.

"Yah!"

"Indahkan?"

"Yah!"

Dira tersenyum sinis bersamaan dengan ide jahil yang muncul dalam benaknya. "Lo cinta gue?"

"Yah!"

Degh!! jantung gadis itu terhenti ketika menjadari satu kebodohan yang baru saja ia lakukan, ia menatap tajam Dira yang menampakkan senyum lebarnya. "Dira, lo ngerjain gue?"

Pemuda itu menaikkan kedua alisnya menggoda. "Kalau cinta utarakanlah, sebelum menjadi sebuah jerawat nantinya!"

perkataan sok bijak Dira mampu membuat Ve melayangkan pukulannya pada lengan pemuda menyebalkan itu. "Rese lo!"

Dira tertawa kecil saat tatapan geram ve menyerangnya. "Tapi makasih yah, untuk hari ini, Gadis cinderella!" ia mencubit kedua pipi ve yang seketika memerah.
"Sepertinya, menatap matahari terbit bareng lo itu lebih indah dari apapun."

"Dira sakit, cowok idiot!" Ve segera menepis cubitan dira pada pipinya.

Dira tersenyum simple dan berdiri, membelakangi gadis itu yang masih terduduk direrumputan. "Gue pasti bakalan kangen sama lo Ve. Gue bakal kangen suaraa kasar dan bentakan lo buat gue, gue bakal kangen saat lo manggil gue cowok idiot seperti barusan, dan gue bakal kangen sama senyum dan tawa lo."

"Dira." gadis itu berdiri, berjalan kesamping Dira dan menatap pelan pemuda disampingnya. "Kamu gak akan pergi."

"Ada satu rahasia yang mau gue utarain sama lo Ve!" Dira menarik nafasnya pelan, mengaturnya sebelum ia kembali berbicara. "ini hanya lo yang tau!"

"APA?"

"Besok, gue harus menjalani oprasi penerimaan jantung baru, kalau besok gue gak ngejalani oprasi itu, itu berarti hari ini adalah hari terakhir lo liat gue." Dira menuduk pelan.

perkataan yang baru saja diutarakan dira seketika membuat mata gadis itu berkaca-kaca, tidak!! Ia tak ingin ini semua menjadi hari terakhirnya bebrsama Dira. "Lo gak akan pergi, besok lo harus ngejalanin oprasi, lo janjikan?"
Ve meraih jari jemari tangan Dira dan menggenggamnya erat. Demi gue, Vega gadis yang suka ngebentak lo dan demi gue gadis cinderella lo!"

Perlahan Dira menaikkan wajahnya dan tersenyum simpul, perhatian gadis itu membuat hatinya tersentuh. "Tetap gak bisa Ve!"

"Kenapa? kamu butuh pendonor? aku bersedia donorin jantung aku buat kamu!"

"Bukan itu, pendonor udah ada dari kemarin, tapi gue cuma butuh satu agar oprasi itu berjalan." Dira melepas tangan gadis itu yang setia menggenggamnya. ia kembali berbalik memunggungi Ve.

"Apa?"

"Tandatangan Ayah!" Jawaban singkat Dira membuat Ve menarik nafasnya panjang.

Gadis itu berdiri disamping Dira dan memutar tubuh tegap itu hingga keduanya saling berhadapan. "Dira, kalau cuma itu, aku bisa minta bantuan Dava untuk dapatin tanda tangan ayah kamu."

"Percuma, Sekarang ayah lagi di Amerika, dia gak mungkin mengabaikan pekerjaannya disana, hanya demi menandatangi surat gak penting gue!"

"Dira! Apapun yang terjadi, kesehatan dan kesembuhan kamu itu yang terpenting!"

"Tapi gak buat Ayah, bagi dia pekerjaannya itu yang utama." Dira menatap tajam Ve yang menunduk seketika. "Gue yang tau dia Ve, dia gak pernah peduli sama kesehatan gue." diraihnya dagu ve perlahan hingga gadis itu menatapnya enggan.

Hatinya seketika berdetak kencang saat mendapati buatiran airmata di kedua mata gadis itu. "Lo kenapa nangis?" ia hapusnya perlahhan butiran airmata itu yang mulai terjatuh membasahi pipi putih itu. "Ve! gue ngajak lo kesini bukan buat liat lo nangis, tapi untuk menemani hari-hari terakhir gue didunia ini."

"Enggak!" Ve menggelengg cepat. "Lo gak akan pergi, lo akan tetap disini bareng gue!" Gadis itu berkata keras.

"Ve!"

"Apapun, gue akan lakuin asalkan lo tetap disisi gue, gue gak mau lo pergi Dir, enggak!"

Dira tersenyum tipis. "Kenapa ve, kenapa lo gak mau gue pergi? bukannya lo gak pernah cinta sama gue?" Dira menatap tajam Ve yang seketika terdiam.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya pelan, dan memainkan ujung rambutnya grogi. "Gue..gue.."

"Lo cinta Gue? benarkan?" Dira menaaikturunkan alisnya bergantian semakin membuat gadis itu salah tingkah.

"Pede, siapa juga yang tertarik sama cowok idiot kaya lo!" Ve berjalan menjauh setelah memukul lengan Dira keras.

Dira mengerutkan keningnya mendapati gadis itu yang mencoba menjauh. "Lo mau kemana?"

Ve berbalik dan menatap Dira sekilas. "Rumah lo!"

Dira segera mengejar cepat langkkah Ve yang menjauh, hingga ia benar-benar meraih jemari lentik itu hingga langkah Ve terhenti. "Gak perlu, kan udah gue bilang percuma."

"Gue akan tetap kesana!" Ditepisnya tangan dira yang mendarat dilengannya, dan gadis itupun kembali melangkah.

Saat itu juga, Dira merasakan jantungnya kembali kambuh, ia mencoba menyender pada pohon disampingnya, meremas jatungnya yang semakin ia rasakan sakit.
Ia menutup matanya, mengaturnafasnya, dan mengggigit bibirnya untuk sekedar menahan sakit.
Kali ini jantungnya ia rasakan lebih sakit daroipada sebelumnya, setiap detakan yang berdetak membuatnya susah bernafas.
keningnya berkeringat, bibirnyapun seketika mengeluarkan darah segar karena terlalu keras ia mengigit bibirnya saat mencoba mengusir rasa sakit.

Ia mencoba menatap Ve yang menjauh, kepalanya terasa pusing dan pandangannya seketika kabur, "Gue.. cinta.. Lo.. Ve!" ia terjatuh terduduk, menyender pada pohon besar dibelakangnya.

Hati gadis itu terasa sesak, seketika ia berbalik, mencoba menatap sosok Dira, tapi matanya membesar saat ia mendapati Dira terlihat lemas menyender pada pohon besar itu. "DIRA!"
Ia berlari menghampiri pemuda itu, diraihnya tubuh yang semakin hari semakin lemah itu dalam dekapannya. "Dira!" disandarkannya kepala dira dalam pangkuannya. "Lo kenapa?" matanya berkaca-kaca, ia menangis.

"Tetap disini Ve.. Gue.. Mohon!" Pinta pemuda itu dengan suara bergetar.

"DIRA!"

"Ve.. gue cinta lo.. sekali ajah.. gue.. pingin.. ngedengar.. kalau.. lo.. juga.. cinta.. gue!"

"Dira!"

"Please, Bilang... lo.. cinta.. gue..!" Dira menahan rasa sakit itu dengan sebuah senyuman. "Walaupun Itu Dusta!"

AIrmata itu semakin deras mengalir, "Gue cinta lo Dira, Gue cinta Lo!" Ve berteriak keras membuat senyum pemuda itu semakin melebar.

"Terimakasih! sekarang gue bisa pergi dengan tenang!"

"Lo gak akan pergi Dir, gak akan!"
Gadis itu menggeleng berulangkali dengan airmata yang terus menetes.

Perlahan Dira mencoba terduduk, walau lemah tapi ia berusaha kuat. "Jangan nangis Ve, gue mohon!" dihapusnya perlahan airmata yang membasahi pipi putih itu. "Terimakasih untuk semuanya, amarah, benci, dan perhatian lo."

Gadis itu masih terisak, ia tak berniat untuk mengatakan apapun, Dira meraih kedua pipi Ve dengan kedua tangannya, seketika wajah keduanya tampak berdekatan, Ve terdiam saat bibir pemuda itu mendekat pada bibir tipisnya.

"Boleh gue nyium lo?" Dira bersuara pelan, menatap Ve tajam berharap gadis itu mengangguk.
senyumnya seketika melebar saat mendapati ve yang menganggukk pelan.

Ve menutup matanya saat bibir Dira benar-benar menyentuh bibir tipisnya. Dira kembali mencium bibirnya setelah kejadiaan diruang UKS itu.
ini kali kedua, keduanya berciuman, tapi ini kali pertama ve merasakan kenikmatan trersendiri saat pemuda menyebalkan itu merenggut ciuman keduanya.

***
Dira yang terlihat sedikit sehat dan membaik menyenderkan kepalanya pada pangkuan Ve, pemuda itu tertidur direrumputan sementara ve terduduk tenangg disampingnya.
Dira mendongakkan wajahnya menatap wajah Ve diatas kepalanya.
"Terimakasih untuk hari ini."

Ve mengangguk pelan diiringi dengan senyuman manisnya.

Dira menutup matanya perlahan merasakan belaian lembut Ve pada rambut hitamnya, "Gue lelah Ve, vue butuh istirahat." ia menariknafasnya pelan dengan kedua mata yang masih tertutup. "Lo maukan nyanyiin lagu buat pengantar tidur panjang gue!"

Ve mendongakkan wajahnya menatap langit-langit, ia mengedipkan sejenak kedua matanya agar tak menangis.

"Nyanyiin gue lagu Ve!" Pinta Dira membuat Ve menatap pelan pemuda itu yang masih memejamkan matanya.

Gaadis itu menarik nafasnya perlahan sebelum sebuah lagu benar-benar dilantunkan sangat indah olehnya.

[Sungguh.. hanyalah dirimu yang aku cintai... Dan sungguh... kukan disisimu hingga kumati]

Ve menundukkan wajahnya, menatap resah keduamata dira yang terpejamkan, pemuda itu tak lagi bersuara, ingin rasanya ia meraih pergelangan tangan Dira dan memastikan detakan nadi pemuda itu masih berdetak atau tidak? tapi ia tak mampu.
ia takut, jika pemuda itu benar-benar meninggalkannya sekarang.

Tanpa terasa airmata gadis itu mengalir dan menetes hingga mengenai wajah pemuda itu yang masihtertidur dalam pangkuannya.. "Dira!" serunya pelan.

Tak ada jawaban, keduamata pemuda itupun masih terpejam, Ve mengelus rambut dira pelan dan penuh kasih.

(Tuhan, apa sudah saatnya, untukku melepas kepergiannya? kenapa harus secepat ini Tuhan? barusaja aku menemukan kebahagiaan bersamanya, tapi kenapa secepat ini kau merebut dan mengambilnya?
Tuhan, jika memang dia bukan jodohku, kenapa? kau menaruh cinta ini untuk berlabuh dihatiku untuknya?
kenapa kau membiarkanku untuk merindukannya setiap waktu?

aku mencintainya, sekarang dan selamanya!
dan aku tak akan mampu hidup tanpanya, hanya dia yang aku inginkan saat ini dan selamanya).



***
Sahabat terbaik dalam mengejar mimpi
Teman terhebatku untuk dapat berdiri
Kawan yang tepat untuk sharing hal-hal kecil
Kuping yang pas untuk
Untuk dengar rima Cypress Hill

"SHIT!"
Evan segera mematikan radio yang sedang didengarnya, lagu bondan feat 2 black itu benar-benar merusak pikirannya, entah kenapa saat lagu itu terdendangkan, seketika ia teringat akan sosok Dira sahabatnya. "Lo gak akan ninggalin gue DIR!" Ia terbangun dari duduknya, menatap perih sebuah kotak persegi pemberian Dira kemarin malam.

perlahan ia menghapiri kotak itu dan meraihnya, tangannya benar-bennar bergetar saat kotak itu dalam genggamannya.
Ia terduduk diujung ranjang dan perlajan membuka kotak persegi itu.
Ia tersenyum, saat mendapati apa yang isi dari kotak itu, sebuah berisi baranaag-barang yang dibeli Dira dengan harga sangat mahal.
sepatu, jaket, topi, kaos hingga CD penyanyi favorite dira sekalipun, semua tertata rapai pada kotak persegi itu.

Tapi ada satu yang menarik perhatian Evan, beberapa pucuk surat beraneka warna, ia temukan terselip diantara barang-barang mahal itu.
ia meraihnya, dan membaca setiap tulisan disudut kanan surat itu.

Surat Biru.. (Teruntuk Evan.. sahabat gue)

Surat Pink.. (Teruntuk Vega.. Gadis cinderella gue)

Surat Hijauh.. ( Untuk Dava.. Kakak Ketemu gede)

Kening pemuda itu sempat mengerut, apa maksdunya semua surat-surat ini???
Walau ragu, tapi akhirnya, ia berusaha pelan membuka dan membaca tulisan tangan Dira yang tertera dalam surat Biru itu, yang dituju untuknya.

Dear Evan.. sahabat terbaik gue..
pertama.. gue mau ngucapin terimakasih karena lo udah mau jadi sahabat gue..
saat lo tau tentang penyakit jantung gue, gue pikir saat itu juga lo bakal ninggalin gue dan enggan bersahabat lagi sama gue, tapi ternyata gue salah.. lo tetap disana.. disamping gue dan menjadi seseorang yang paling ngertiin gue.
Terimaksih untuk semuanya... persahabatan tulus lo dan juga perhatian lo selama ini.. mungkin sebuah kata terimakasih gak akan cukup untuk mengutarakan kata terimakasih gue buat lo.

Kedua.. gue mau minta maaf, atas pelanggaran gue akan janji persahabatan kita. gue masih ingat.. hari itu kita pernah berjanji akan selalu bersama-sama sampai kita nikah, punya anak, dan jadi kakek-kakek, dan kita akan beli rumah bersebelahan agar persahabatan kita tetap terjaga.
maaf kalau gue mengingkari janji kita dengan kepergian gue yang teramat mendadak..

Tiga.. lo pasti udah liat isi kotak itu... gue mau semua barang-barang gue jadi milik lo, gue gak tau harus ngasih lo apa sebagai balas budi baik lo selama ini, mungkin semua barang itupun gak akan pernah bisa menggantinya sekalipun.

Empat.. lo liat dua surat lagi.. gue mau surat pink lo kasih sama Vega dan surat satunya, Hijau lo kasih sama Dava.. gue percaya sama lo Van..

Sebenarnya gue gak mau pergi secepat ini Van, mimpi gue masih banyak yang belum terwujud dan lo tau itu, tapi Tuhan telah menentukan segalanya, dan mungkin inilah yang terbaik buat gue dan kita semua..

Pesan gue cuma satu..
Tetap jadi Evan yang gue kenal.. lo bisa cari sahabat yang lebih baik dari gue Van, dan gue yakin lo bakal dapatin pengganti gue. walau begitu, gue tetap berharap gue tetap menjadi sahabat terbaik lo dan lo gak akan pernah melupakan gue..
Titip salam buat Bunda dan Evi, sampaikan salam sayang gue buat mereka, terutama Evi, gue minta maaf kalau janji gue untuk bawa dia keliling dunia Belum kesampaian kebruru Tuhan manggil gue.. hahaha...

HMMM.. Gue gak tau apa lagi yang harus gue ketik... intinya.. Gue sayang lo Van.. dan terimakakasih untuk semuanya...

DIVARIO!!


Airmata pemuda itu seketika menetes saat berhasil membaca semua isi surat Dira itu.. hatinya sesak dan terasa perih.. ia benar-benar tak ingin jika Dira pergi meninggalkannya.. penyakit itu?? kenapa tidak menyalar saja ditubuhnya, lebih baik dirinya yang mati daripada ia harus kehilangan Dira, sahabatnya..

"Gue gak mau semua ini Dir!" Evan menatap sedih semua barang dalam kotak persegi itu. "Gue cuma mau lo Dir, ELO SAHABAT GUE!"

***
"Bagaimana keadaan Dira Ve?" Dava berkata penuh kepanikan sambil berjalan mendekati Ve yang terduduk leas didepann ruang ICU.

Sovia yang saat itu ikut dengan Davapun terduduk lemas disamping Ve yang terus-terusan menangis.

"Aku gak tau, kata dokter kondisi jantung Dira cukup lemah, aku takut dia meninggal Dav! Gadis itu menangis.

Dava mecoba duduk disamping kirinya dan menenangkan. "Semua akan baik-baik saja!"

Tak beberapa lama tiba doktor keluar dari ruang ICU, wajahnya terlihat pucat . "Keluarga pasien Divario!" teriaknya pelan membuat ketiganya (Dava, Sovia dan Ve) berdiri bersamaan.

"Saya ibunya dok! Sovia maju satulangkah mendnekat pada doktor itu yang membuka kacamata tipisnya. "Bagaimana keadaan putra saya dok?? dia baik-baik saja bukan?"

Doktor itu menarik nafasnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Sovia. "Jantung nya cukup lemah, secepatnya kita harus melakukan operasi dan menerimaan jantung baru."

"Appaun itu, lakukanlah!! asalkan putra saya selamat!" Sovia memohon dengan tatapan penuh permohonan.

Doktor itu tersenyum pelan. "Akan saya usahakan sebisa kami, tapi semua tetap ada ditanganNya!" Dokter itupun kembali memasuki ruangan.

Dava merangkul lengan sang bunda cemas. "Kita berdoa untuk kesembuhan Dira." pemuda itu membawa sang bunda kembali terduduk dikursi tunggu.

pandangannya langsung teralih pada Vega yang masih menangis memandang pintu ICU iTU, ia berdiri dan mencoba mendekat, dipeluknya erat tubuh kurus itu . "Percaya Ve, semua akan baik-baiak saja."

"Aku gak mau kehilangan dia Dav!" gadis itu kembali menangis dalam pelukan Dava.

"Dan semua gak ingin kehilangan Dira!" Dava melepas pelukannya dan mengusap pelan airmata yang terjatuh dipipi putih itu. "Sekarang aku antar kamu pulang, sepertinya kamu butuh istirahat!"

Ve mengangguk pelan, walaupun sebenarnya ia masih ingin tetap disini menunggu pangerannya, ia tak ingin melewatkan sedikkitpun kabar tentang pengemangan Dira tapi dirinya sadar ia butuh istirahat dan kembali pulang agar sang bunda tak mencemaskannya.

***
"Jangan terlalu memikirkan Dira, kesehatan kamu itu lebih penting." Dava berhenti tepat didepan Rummah Ve. gadis itu mmengangguk pelan sambil merasakan belaian hangat Dava pada rambutnya.
"Aku janji akan segera memnghubungi kamu jika ada kabar terbaru tentang Dira."
Dava berkata sammbil menatap Ve yang mencoba tersenyum.

"Terimakasih yah!"

"Dava.. Vega!"
Suara penggilan Evan membuat keduanya seketika menoleh..
Ditatapnya Evan yang mendekat. "Bgaimana keadaan Lemper?"

Kening Ve mengerut seketika sementara Dava hanya tersenyum tipis mendengar penuturan Evan.

"Sorry.. sorry maksud gue Dira, gimana keaadannya?" Tampak dua surat beda warna dalamm genggaman tangan Evan.

"Saat ini Dira sedang melakukan operasi penerimaan jantung baru, kita berdoa ajah semoga semuanya lancar." Dava menatap Evan yang mengangguk pelan.

"Oh yah, ini buat kalian, titipan dari Dira." Evan menyodorkan surat itu sesuai dengan nama dan warna yang tertera.

Ve menatap surat Pink yang kini berpindah ketangannya begitupla Dava yang menatap kaget surat hijau untuknya.

"Ve, aku balik, akku takut bunda kenapa-napa karena terlalu memikirkan Dira!" Dava melipat surat itu menjadi dua dan memasukkanna pada saku celananya.

Ve mengangguk cepat. "Baiklah!"

"Ve biar gue yang jagain!" Evan meraih lengan Ve cepat dan merangkulnya, Dava tersenyum tipis menaatapnya.
"Lo bisa hubungi no Hp gue kalau ada perkembangan dari Dira."

Dava mengangguk mengiyakan perkaataan Evaan dan berlalu menjauhi keduanya.

***
"Kenapa gak dibaca?" Evann yang terduduk disamping Ve menatap heran gadis itu yang hanya memandangi surat pink didepannya.
"Lo gak mau tau isinya?" Tanya Evan lagi sambil meatap Ve yang menggeleng.

"Untuk apa, kalau isi surat ini hanya akan membuat gue menangis." ve meletakkan surat itu pada meja disampingnya.
"Gue udah tau, pasti isinya cuma kata-kata puitis yang bakal buat dadaa gue sesak dan airmata gue ngaalir, permintaan maaf dan juga ucapan terimakasih.. basi!"

Evan tersenyum menatap ucapan polos sepupunya itu. Matanya seketika tekesima pada sebuket mawar yang tergeletak disampingnya. "Dari Dira?" diraihnya bunga itu dan menatap Ve yang mengangguk.

Dengan cepat Ve meraih buket itu dari tangan Evan. "Siapa lagi, kalau bukan dari cowok idiot, sahabat lo itu!"

Evan hanya mampu mmenggelengkan kepalanya menatap tingkah sepupu jauhnya itu.. vega..vegaa..!!

***
Dava terdudukk lemas dijok mobilnya, tangannya berkeringat saat mencoba membaca tulisan yang dituliskan Dira untuknya..

Dear Dava..
gue gak tau, hharus memulai dari mana??
tapi gue cuma mau bilang, gue sadar atas perlakuan kasar gue sama lo dan bunda lo, gue sadar gak seharusnya gue mmenyalahkan kalian atas apa yang menimpa hidup gue.

Dava, gue tau lo bukan malaikat yang berniat nusuk gue dari belakang, gue tau kebaikkan hati lo itu tulus tanpa niat apapun.

Gue minta maaf, kalau gue selalu kasar dan gak peduli sama lo, gue emang gak pantas jadi saudara lo Dav, lo dan tante Sovi terlalu baik untuk gue sakiti.

Jujur, Dav, gue gak mau pergi sekarang.. gue masih mau minta maaf sama lo dan bunda lo atas semua kesalahan gue, gue pingin lo meluk gue dan gue balas peluk lo, seperti kakak-adik lainnya, gue pingin manggil tante Sovi dengan sebutan Ibu seperti anakk-anak lainnya memanggil sang bunda..
Gue pingin ngeliat ayah tersenyum dengan prestasi gue kelak, gue pingin kita berempat liburan dan bersenang-senang bersama, mengusir semua kesedihan dimasa lalu.
gue pingin semua itu Dav. tapi gue sadar, Tuhan keburu manggil gue sebelum semuanya benar-benar terwujud.

Apa gue gak pantas untuk merasakan semua kebahagiaan itu??
Kenapa harus gue Dav, yang terkena penyakkit menyakitkan ini, dari banyaknya manusia didunia ini.. kenapa harus gue??
Apa karena gue selalu nyakitin orang-orang yang menyanyangi gue, apa karena gue selalu ngebantah ayah dan buat ayahh kesal, apa karena gue selalu buat tante Sovi menangis?? apa karena semua kelakukan iblis gue itu, sehingga tuhan menghukum gue seperti ini??

Gue pingin hidup normal seperti anak-anak lainnya, tanpa obat-obatan dan chek up setiap harinya, gue pingin bebas dari penyakit ini Dav, gue capek.. gue lelah...

Sorry kalau tulisan ini cuma buang-buang waktu lo buat ngebacanya..
cuma satu yang mau gue sampaiin sama lo.. tolong bilangin sama Ayah kalau Dira minta maaf belum bisa menjadi anak kebanggaan Ayah, dan sampain permintaan maaf gue buat tante Sovi atas semua perlakuan kasar gue selama ini sama dia.

Terimakasih untuk segalanya...
Tolong ajah Ayah dan Bunda demi gue..

DIVARIO..


***
Enam bulan kemudian...

Gadis itu terduduk, Ditatapnya surat pink dlam genggamannya, surat pemberian Dira itu sedikitpun belum dibukanya, masih utuh seperti saat pertama ia menerimanya.

ia tersenyum pelan.. membacaa bagian kiri surat itu yang tertulis jelas untuknya..

To: Gadis cinderella gue..

senyumnya semakin melebar saat ia mengingat bagaimana aawal pertama pertemuan mereka, pertemuan tak sengaja yang justru membuat wajah Dira memerah karena malu.
Sejak saat itulah, pertarungan selalu terjadi diantara keduanya.
Gadis itu tak mengangka bahwa pemuda yang mulanya sangat dibenci dan dihindarinya tapi kini justru pemuda itulah yang selalu merasuki hatinya tiap malam.
Cinta! ternyata benar, cinta itu sulit untuk diprediksi..

"Cowok idiot!" ia berseru pelan.
sebutan yang pernah ia serukan untuk Dira, sepertinya akan selalu ia serukann selamanya.

"Sorry telat!" Pemuda itu segera terduduk disamping gadis itu yang menatapnya geram.
"Seperti biasa, jalanan selalu macet dan berdebu."" Elak pemuda itu dengan senyuman manisnya.

"Menyebalkan!" Gadis itu berdiri dan menatap sangar pemuda itu yang menatapnya dengan kerutan dikeningnya.

"Lo belum ganti baju?" pemuda itu ikut berdiri menatap Ve yang seketika menggeleng.

"Gue gak biasa pake gaun." Ve mengkrucutkan bibirnya kesal, pasalnya ia memang paling tidak suka jia harus mengenakan sebuah gaun, terlebih dengan higheels.

"Cept ganti baju jelek lo itu dengann Gaun indah yang kemarin gue kasih!" Pemuda itu mendorong tubuh ve pelann hingga gadis itu mendekat pada pintu masuk.
Kemudian kening pemuda itu mengerut saat menatap surata dalam genggaman Ve, diraihnya cepat surat itu dan ditatanya seketika.

"Ini surat dari gue?" Dira.. yah pemuda itu bertanya pada Ve yang kembali merebut surat pink itu.

"Kenapa gak lo baca?? lo gak mau tau isinya?" Dira kembali bertanya, gadis itu hanya menggeleng cepat dan terduduk paada kursi kayu itu.

"Untuk apa? toh sampai saat ini lo masih ada disisi gue."

Dira tersenyum tipis, "Yah," ia seketika berlutut didepan Ve. "Gue gak nyangka ternyata Tuhan masih sayang sama gue dan ijinin gue bahagia lebih lama dengan orang-orang tersayang gue." Dira meraih lengan Ve dan menggenggamnya erat. "Gue cinta lo Ve."

Ve tersenyum pelan dengan sedikit rasa malu, gadis itupun berseru pelan. "Gue juga cinta lo, cowok idiot!"

Yah... penerimaan jatung baru berhasil membuat Dira kembali segar dan menjalani hari-hari seperti biasa.
ia tak lagi tergantung pada obat-obatan ataupun harus melakukan chek up setiap minggunya, sekarang.. inpian Dira untuk hidup normal ternyata terwujud..
tak ada yang lebih indah selain menikmati keindahan mimpi kita yang menjadi kenyataan.

"Duile yang pacarann ampe lupa ama yang lain!" Evan yang baru tiba tersenyum tipis pada Dira dan Ve bergantian.

"Dunia serasa milik kalian berdua." Sambar Dava yang bberdiri tepat disampin Evan.

Dira berdiri sambil menuntun Ve berdiri disampingnya, mmenatap tajam kedua pemuda itu yang telah siap dengan kemeja dan jas yang mereka kenakan.

"Kita jadi jalan?" Evan bertanya pada Dira yang seketika mengerutkan keningnya.

Ia menatap tajam Evan dan Dava yang mengenakan kemeja dan jas yang sama.. "Tunggu??" Pemuda itu maju satu langkah setelah melepas pegangannya pada Vega. Kemudian pemuda itu berbisik setibanya didepan Dava dan Evan. "Kalian jadian?"

Dava dan Evan membelakkan matannya bersamaan saat kalimat pertanyaan itu terlontar dari bibir Dira. pemuda itu kembali bicara. "Jangan bilang, kalau seseorang yang lo suka itu adalah Dava!" Dira mengecilkan suaranya sambil menatap Evan tajam, menunggu jawaban dari bibir sahabatnya itu.

Sedetik kemudian, Evan dan Dava tertawa kencang, dan itu sempat membuat Dira semakin bingung. "Ada yang lucu?" Dira mmenatap Dava dan Evan bergantian.

"Lucu..lucu.. lo pikir kita berdua homo?" Evan berkata masih diiringi dengan tawa lebarnya. "Dira, Dira, setelah jantung lo nerima jantung baru, ternyata otak lo tambah belok!"

Dava tersenyum tipis sambil mendekat pada Ve dan berdiri disamping gadis itu. "Hii!" Sapanya ramah, Ve membalasnya dengan senyuman manis.

"Maksud lo?" Dira makin tak mengerti. "Terus cewek yang lo suka itu siapa?"

"Hmm!" Evan menggaruk tengkuknya bersamaan dengan senyum tipisnya. "Itu.. adiknya Kean."

"Nhia??" Teriak Dira tak percaya. pemuda itu membelakkan matanya seperti baru saja melihat sesosok hantu didepannya.

"Mhia dir, Mia." Ralat Evan dengan wajh kesalnya.
ternyata Dira masih sajja lupa menyebutkan nama seorang cewek.
Dira bener-bener tak berubah.

"Pacar lo tuh!" Dava menunjuk Dira dengan Dagunya, menatap Ve yang melipat surat pink itu dan menyelipkannya pda kantong kemeja tidurnya.

"Gak salahkan, gue menyebutnya cowok idiot?nyebut nama orang ajaah selalu salah!"

Dava tersenyum tipis mendengar penuturan polos Ve, sahabatnya.
"Tapi lo cintakan?"

Ve tersenyum malu dan menunduk, "Udah ah, gue mau ganti baju dulu!" iapun berlalu memasuki rumahnya setelah mendapati anggukan dari Dava.
Tapi langkahnya terhenti ketika telinganya menangkap suara teriakan Dira.

"Ve, Gue CINTA LO!"
Teriakan pemuda itu mampu mmembuat pipi gadis itu seketika memerah, ia tersenyum dan berbalik.

"Norak!"
adis itupun kembali melangkah memasuki rumah.

(Terimakasih Tuhan, karena Mu, aku masih berada didunia ini, bersama orang-orang yang aku sayangi, mulai saat ini aku akan menjalani kehidupanku dengan selalu mengingat Mu, karena aku tau hanya padaMu lahh akukan kembali)
Dira.



THE END :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Online Now Icons