"Sasya!" balas cewek itu singkaat sambil membalas uluran tangan dhariel.
"Lo sakit?" tanya dhariel ketika melihat sebutir obat ditangan kiri Sasya.
Denga cepat Sassya menggeleng,"Tidak, sebenarnya obat ini untuk seseorang, tapi ia menolaknya."
Dhiland masih menatap keduanya yang masih berpegangan tangan dari balik jendela. Perasaannya saat ini benar2 kacau. Entah mengapa?
Sasya menatap tangan dhariel yang masih menggenggam jemari kurusnya.
"Maaf!" Dhariel menjauhkan tangannya dari tangan Sasya dan duduk dibangku tempat dimana Dhiland duduk tadi.
Dhariel menatap Sasya yang berjalan kearah lemari disamping kiri meja uks dan menaruh kembali obat yg dipegangnya ditempat semula.
"Dia benar2 cantik" gumam Dhariel sambil terus menatap Sasya yang tak menghiraukannya.
****
"Kita udah sampai" Sasya berkata ketika tiba didepan kantor kepala sekolah dan menghentikan langkahnya.
"Terimakasih" kata dhariel y berdiri disamping Sasya.
"Masuk sana!"perintah Sasya. Dhariel hanya tersenyum tipis.
"Gue boleh minta pin BB loe?" tanya dhariel.
"Ga punya"
“Kalau nomor telephone?"
"Ga ada"
"Kalau alamat rumah ada kan?" pertanyaan dhariel membuat Sasya menatapnya tajam.
"Belum sampai satu jam kenalan udah minta nomer hplah,alamat rumahlah, dasar playboy!"gerutu Sasya dalam hati.
Tanpa menjawab pertanyaan Dhariel Sasya melangkahkan kaki kanannya, Dhariel bergeser kekanan menghalangi langkah Sasya.
"Minggir aku mau lewat!" kata Sasya kesal sambil melangkah kekiri tapi lagi-lagi Dhariel menghadangi langkahnya.
"Jawab dulu pertanyaan gue, baru loe boleh perg!i" Dhariel tersenyum memperlihatkan lesung pipi dikedua pipinya.
Sassya mendengus pelan, hingga suara seseorang menggem ditelinganya.
"Biarin dia pergi atau gue akan buat loe pergi dari dunia ini!!" kata2 Dyland membuat Sasya dan Dhariel menatapnya berbarengan.
Dyland mendorong tubuh Dhariel kekiri menjauh dari hadapan Sasya.
Sesaat Dyland menatap Sassya, "Pergilah!" Dyland berkata sambil pada Sasya yang tersenyum.
"Terimakasih"
Sasyapun berlalu setelah kata-kata itu ia ucapkan.
Kini hanya tinggal Dhiland dan Dhariel di depan kantor kepala sekolah.
Dyland mendorong tubuh Dhariel untuk kedua kalinya hingga tubuh Dhariel menempel ditembok. Didekatkannya wajahnya kewajah Dhariel yang tersenyum.
"Jauhi dia atau loe cari masalah sama gue!" Dylandpun berlalu meninggalkan dhariel yang masih tersenyum menatapnya.
"Ternyata loe ga pernah berubah land, i miss you."
Dhariel membenarkan letak tas ransel yang ia kenakan, menatap lurus pandangan punggung Dyland yang semakin menjauh.
"Dia siapa?"tanya Dyland tiba2 ketika tiba disamping meja Sasya.
Sassya merapikan sedikit poninya, "Setau aku dia anak baru pindahan dari bandung," jawab Sasya sambil menatap Dyland yang kini duduk disampingnya.
Hari ini Dyland benar2 ganteng, walaupun beberapa goresan terlihat jelas diwajahnya tapi tetap saja tak menghilangkan ketampanan sang trauoblemaker.
"Jauhi dia!!" Dyland berkata pelan membuat Sasya mengernitkan dahinya.
"HUH?"
Dyland berdiri dari duduk dan keluar kelas sebelum Sasya sempat mengucapkan kata2.
"mengapa Dyland menyuruhku menjauhi dhariel, apa Dyland tak ingin aku dekat2 dgnnya. Apa itu artinya Dyland cemburu?"
***
"Trauoblemaker!!" Dhariel berkata sambil menghampiri Dyland yg sedang duduk ditaman belakang sekolah.
Ditatapnya Dyland yang mengacuhkannya, troublemaker itu sibuk dgn ipod yang ia kenakan dengan hadset dikedua telinganya.
"Trauoblemaker!" Dhariel terduduk disamping Dyland sambil menepuk lengan kiri Dyland pelan.
Dyland yang awalnya menutup kedua matanya, seketika menatap Dhariel tajam, "loe mau mati,huh?" tanyanya kasar pada dhariel yang tersenyum.
"Gue balik Ian , loe ga kangen sama gue?"
Dhariel berkata sambil menatap Dyland yang membuka hadset yang sedari tadi melekat ditelinganya.
"Loe ngomong apa?"
"Gue balik ian, apa loe ga kangen ama gue?"
Dyland terdiam mendengar pertanyaan dhariel.
Tak ada jawaban dari bibir Dyland. Ia bangun berdiri dan berlalu pergi.
Dhariel menunduk sedih, ia tak menyangka bahw Dyland masih menyimpan benci padanya.
Dyland menghentikan langkahnya sesampainya ditoilet cowo. Disandarkannya tubuh tegapnya didinding putih itu, ia mengatur nafasnya pelan.
"Kenapa gue harus ketemu loe lagi disaat gue udah bisa ngelupain loe, ariel?"
Rintik2 air hujan tlah membasahi bumi, beberapa anak keluar gerbang mempercepat langkahnya, jam pulang tlah tiba membuat bangunan putih itu terlihat sunyi hanya tampak beberapa siswa yang sedang bermain basket walaupun hujan membasahi tubuh mereka.
Sasya melambatkan jalannya mengintari kolidor sekolah. Matanya terus menatap Mario cs yg sedang beraksi ditengah lapangan.
"Dyland pasti semakin tanpan jika ia dapat memainkan bola basket itu seperti Rio!" Sasya berkata sambil menghentikan langkahnya disamping sebuah tiang. Sesekali gadis itu tersenyum riang serta bertepuk tangan pelan, ketika sang kapten berhasil mencetak angka.
Terlalu fokus Sasya memperhatikan kelincahan mario memainkan bola basket ditangannya membuat Sasya tak menyadari sebuah bola mengarah kearahnya.
"AWAS!" teriak mario keras.
"AAA..."teriak Sasya tak kalah kerasnya saat menyadari sebuah bola mengarah padanya.
Sasya menutup kedua matanya,ia pasrah jika bola itu akan mengenai wajahnya.
Tapi 5 detik berlalu ia tak merasakan sebuah benturan keras diwajahnya.
Kemana perginya bola keras itu?
Dgn ragu dan penuh tanda tanya Sasya berlahan membuka matanya.
Sebuah tangan kekar dilihatnya menghalangi bola didepan wajahnya.
Seseorang tlah menahan bola itu dgn tangan kekarnya agar tak mengenai wajah imut Sasya.
Sasya menatap seorang cowo tinggi bermata coklat berdiri disampingnya.
"DharieL?" kata Sasya tak percaya.
Yah ternyata cowo itu adalah dhariel.
"Segitu terpesonanya loe sama rio" dhariel menjauhkan bola itu dari hadapan Sasya dan dharielpun mulai memain-mainkan bola ditangannya.
"Aku suka cowo basket," Sasya berkata pelan sambil terus memperhatikan Dhariel yang asik dgn bola ditangannya.
Kini dhariel dengan PD memutar bola orange kecoklatan itu dgn telunjuknya tapi belum sampai 3 detik bola itu jatuh keaspal sekolah.
Dilihatnya Sasya yang tertawa kecil.
"Gue bisa loh main basket!" perkataan dhariel itu membuat Sasya berhenti tertawa dan terkejut.
"Hoi, kembaliin bola gue!" Mario berkata keras pada Dhariel yang mengangguk.
"Tunggu!"
Dhariel membuka seragamnya dan kini ia hanya mengenakan kaos putih dan celana panjang sekolah.
Sasya benar2 tak ada ide, apa yang akan dilakukan cowok berkulit putih itu.
"Nieh, pegangin seragam gue!" Dharielpun langsung ketengah lapangan menghampiri mario cs setelah memberikan segaram miliknya pada Sasya. Sassya masih menatapnya dalam diam.
"Loe kapten basket?" Tanya dhariel pada mario yang mengangguk.
"Lawan gue!" Dhariell melempar bola basket yang sedari tadi ditangannya kearah Mario, Dgn segap kapten basket itu menangkapnya.
Dan Pertarunganpun dimulai.
***
Dyland tiba dikamar tempat favoritenya, matanya langsung menatap tirai kamar Sasya yang terbuka. Tapi ia tak mendapati Sasya disana.
Dilepasnya tas ransel dari pundaknya dan ditaruhnya diatas meja belajar, dan Dylandpun berlalu tanpa mengganti baju seragamnya.
Kini ia tlah berada diruang keluarga atau mungkin lebih tepatnya ruang kosong.
Ruang itu cukup besar dan ditujukan ruang untuk keluarga Dyland berkumpul. Tapi ruang itu terlihat sepi karena kesibukan setiap keluarga membuat ruang yg seharusnya menjadi ruang favorite itu justru menjadi ruang yg sangat Dyland benci.
"Den muda,mau mana?" pertanyaan bi Inah membuat Dyland menghentikan langkahnya.
Dyland menataap sejenak bi Inah, sebelum mejawab "sekolah, ada sesuatu yang tertinggal" Dylandpun berlalu pergi menjauh dari rumah minimalis itu.
Sasya terus menatap Dhariel dan Mario yang saling beraksi menunjukkan kebolehan mencetak angka. Hujan masih mengguyur kota Jakarta tapi tak membuat ketangguhan kedua remaja itu pudar dalam menggiring bola. Sesaat Mariopun tanpak kewalahan menghalangi bola ditangan Dhariel agar tak masuk kedalam ring.
Tapi lagi2 Dhariel mampu mencetak angka.
Tanpa berkedip Sasya terus menatap Dhariel yang masih beraksi. Air hujan terus mengguyur tubuh tegap cowok itu dan membasahi rambut hitamkecoklatannya, sementara Mario berhenti dan menatap Sassya tajam yang memandang Dhariel tanpa kedip.
Kini Dhariel mencoba menyetak 3 angka dari jarak yang cukup jauh..
"Seandainya bola ini masuk, itu berarti gue bisa miliki loe,sya!" kata dhariel pelan ketika menatap ring yang jauh didepannya, beralih menatap Sasya yang juga menatapnya.
Dhariel mengalihkan pandangannya kedepan dan menutup kedua matanya berharap bola itu masuk dgn tepat.
Dinaikkannya bola ditangannya hingga sejajar dgn wajahnya dan...
Bersama rintikan air hujan bola itu melambung indah kearah ring dan berputar beberapa saat dipinggir ring bundar itu sampai akhirnya..
"Masuk,yes!" dhariel berkata senang, begitupun Sassya yang bertepuk tangan riang, Mario semakin ganas dibuatnya, begitupun dengan beberapa kawan Mario yang menatap Dhariel kagum.
"Wah keren banget, loe kalah jauh Yo!" kata irfan salah satu teman tim Mario, Mendengar perkataan Irfan itu, Mario segera menatap cowok berkulit sedikit gelap itu sinis.
"Tapi loe tetap the best kok!"Irfan berkata lagi sambil menunjukkan kedua jempolnya pada Mario. Kelima pemuda itu maasih berdiri ditengah lapangan, berguyur derasnya hujan.
"Siapa dia?" Mario berkacak pinggang, menatap sejenak ggalih yaang berdiri tepat disampingnya, kemudian beralih menatap Dhariel yang berjalan mendekati Sassya.
"Anak baru pindahan dari Bandung, namanya Dhariel." jawab galih pada mario yang terus menatap tajam Dhariel.
Mario... Cowok yang kerap kali gonta ganti pacar, tak percaya sepenuhnya akan cinta, ia yang mudah jatuh cinta begitu mudah pula untuk melupakan, tapi entah mengapa, rasa itu berbeda saat ia bersama Sassya. Gadis itu, gadis yang pernah mengisi hari-harinya dulu, yang tak lelah menyadarkannya bahwa cinta itu satu,telah membukakan hati cowok pecinta wanita itu. Ia jatuh cinta, dan ini bukan cinta biasa, keputusan Sassya untuk mengakhiri hubungan mereka, tak membuat Rio putus asa, tak akan lelah ia buktikan bahwa cintanya tulus hanya untuk Sassya seorang. Segalanya akan ia lakukan,untuk mendapatkan satu-satunya cinta dihatinya.. Sassya Utuknya, bukan untuk Dyland ataupun cowok lain.
"Gimana, gue hebat kan?"pertanyaan Dhariel membuat Sasya mengangguk.
Kini mereka berada dikelas Sasya. Hanya Sasya dan Dhariel disana.
Dhariel duduk disamping Sasya. Sasya mengembalikan seragam Dhariel pada cowok itul tapi Dhariel justru memakaikan seragam itu untuk menutupi tubuh Sasya yang mulai kedinginan.
"Loe pake ajah, gue bawa baju ganti," Dhariel menusap air yangg berjatuhan dari ramutnya pada wajahnya, tersenyum sejenak pada Sassya yang menatapnya.
"Sebenarnya dia cukup tampan." kata Sasya dalam hati sambil terus menatap dhariel yang kini sedang memainkan rambutnya yang basah.
Dyland terus melangkah mendekati kelas, langkahnya terhenti mendapati Sasya dan dhariel yang sedang berbincang - bincang.
"Dyland!" sapa Sasya sambil berdiri dari duduknya sementara Dhariel masih duduk ditempatnya.
Tak ada jawaban atau sapaan balik dari Dyland,ia langsung mendekati meja miliknya dan mengambil ipod miliknya yang tertinggal.
"Gue anter loe pulang Sya!" Dhariel berkata sambil berdiri dan menggenggam jemari tangan Sasya.
Sassya membelalakkan matanya kaget, "tapi.." belum selesai Sasya bicara Dhariel menariknya keluar kelas. Sasya menatap kebelakang, dilihatnya Dyland yang memandangnya sinis.
Sasya berharap bukan dhariel yang mengantarnya pulang tapi Dyland. Tak ada salahnya bukan Sasya berharap lebih pada Dyland, cowok yg dicintainya.
"Tunggu!" teriakan Dyland membuat Sasya dan Dhariel menghentikan langkahnya.
Keduanya berbalik, Ditatapnya Dyland yang terus berjalan santai kearah jeduanya, ditatapnya tangan dhariel yang menggenggam tangan Sasya, Dengan tangan kekarnya seketika Dyland menjauhkan genggaman tangan Dhariel. Beralih menatap Sasya yang mengenakan seragam Dhariel.
Dyland menatap sekeliling, hingga akhirnya ia mendapati Mario yang berjalan menghampiri, Dyland menatap tajam mario yang mengenakan jaket biru dan mencegah jalan cowok itu.
"Buka jaket loe!"perintahnya keras pada mario yang berdiri didepannya.
"Enak ajah" Balas Mario sinis.
"Buka atau loe mau gue main kasar?" Perintah Dyland lagi,Mario menatap Sassya dan Dhariel yang berdiri didepan pintu kelas, terdiam saat matanya memandang tubuh Sassya yang kedinginan. tanpa pikir panjang, Mario langsung membuka jaket yang dikenakannya,dengan cepat Dyland merampasnya.
Mario menatap Dyland geram, "Ini karena Sassya, bukan karena gue takut sama ancaman basi Lo!"
Dyland mengangguk males dan tak peduli, "TERSERAH!"
Mariopun berlalu menjauh dari ketiganya.
"Pake!" Dyland membuka seragam dhariel yang dikenakan Sasya dan melemparnya cepat kearah dhariel yang sigap menangkapnya.
Dhariel terus menatap Dyland yang sedang memakaikan Sasya jaket. Dengan pelan dan santai cowok itu melapisi seragam putih Sassya dengan jaket biru milik Rio, seketika jantung gadis itupun berdetak cukup kencang. begitu dekat hingga nafas Dyladpun ia rasakan,Terlihat raut bahagia diwajah Sasya saat itu dan raut kesedihan diwajah dhariel.
"Gue tunggu loe digerbang!" Dyland Selesaai memakaikan jaket pada tubuh kurus Sssya, gadis itupun mengangguk dan menatap Dyland yang berlalu pergi.
"Aku pergi!"
Sasya melangkah menjauhi Dhariel yang masih terdiam.
"apa lo lupa sama gue,Ian?"
Dhariel menatap seragam ditangannya dan meremasnya, tubuhnyapun seketika terasa dingin dan beku.
Ia tak menyangka kejadian beberapa tahun yang lalu dengan Dyland, membuat cowok itu membenci dirinya selamanya. Padahal Dhariel berharap, Dyland melupakan kejadian lima tahun yang lalu dan berusaha memaafkannya, tapi ternyata benci itu masih tersimpan dalam diri Dyland untuknya. Ia tau Dyland tak udah untuk memaafkan seseorang, tapi ia yakin, sebenci apapun Dyland padanya, suatu hari nanti Dyland akan memaafkannya.
karena itu, sekarang ia berada disini, disini untuk mendapatkan sahabatnya kembali dalam pelukannya.
Hujan telah reda, waktu menunjukkan pukul 5 sore, Dyland mengantar Sasya hingga depan rumahnya.
Sasya y mengenakan jaket mario terus menatap Dyland y berdiri didepannya.
Sasya bahagia karena y mengantarnya pulang adalah Dyland pujaannya tapi Sasya merasa bersalah tlah meninggalkan dhariel begitu saja.
"Masuklah!"
Dyland menarik gagang pintu didepannya dan membukanya, kebetulan pintu rumah Sasya saat itu tidak terkunci.
Sasya mengangguk pelan.
"Makasih,kamu udah anterin aku sampai rumah"
Kini giliran Dyland y mengangguk.
Dyland melangkahkan kakinya menjauhi Sasya y terus menatapnya.
Kini Dyland berbelok kekanan dan memasuki gerbang rumahnya.
Dyland menghentikan langkahnya sejenak dan mendapati Sasya y masih berdiri memandangnya.
Dyland mengambil hp disakunya dan memulai menekan tombol hp miliknya.
Tak beberapa lama hp Sasya bergetar.
Satu sms masuk. Dan Sasya segera membacanya.
From: B.O.Y Dyland
Masuklah, udara diluar sangat dingin gak baik untuk kesehatan LO.
Sasya tersenyum sambil terus menatap pesan dalam layar hp miliknya.. Ia menatap kedepan ternyata Sasya tak mendapati Dyland disana.
Suara seseorang menutup pintu dari arah rumah Dyland pun terdengar jelas olehnya.
Dyland berlalu masuk selesai mengirim teks untuk Sasya.
"Bagaimana bisa aku tak mencintainya, jika ia terus memperlakukanku selayaknya putri, walaupun terkadang ia mengacuhkanku, tapi bersamanya aku bahagia,dan tujuan hidupku hanya satu, yaitu bahagia, dan bahagiaku adalah Dyland."
*dhariel
Dhariel telah tiba dirumah, langkahnya langsung menaiki
tangga disamping ruang makan keluarga, ia terus saja berjalan hingga tiba
dikamar kesayangannya.
Suara sang mama yg memanggil namanya tak ia hiraukan.
Dgn cepat ia jatuhkan tubuhnya diranjang bermotif merah
hitam itu.
Tasnya ia buang begitu saja kesegala arah.
Dhariel menutup matanya sambil mengacak rambut hitamnya.
"dhariel,kamu kenapa?"
Pertanyaan sang mama yg baru tiba membuat dhariel
cemberut.
"kamu ada masalah dgn sekolah baru kamu, apa mau
mama pindahkan kamu sekolah lagi?"
Dhariel menggeleng.
Mama menghampiri dhariel dan duduk disamping dhariel y
masih berbaring.
"trus kenapa, sekarang kamu cerita sama mama"
Dhariel bangun dan merebahkan kepalanya ke pangkuan
mamanya.
Mama membelai rambut lembut dhariel.
"sekolah baru dhariel keren, anak2nya juga asik,
terlebih cewe2nya cantik2, dhariel jadi semangat sekolah"
Mama tersenyum sambil mendengarkan dhariel anak
kesayangannya y masih bicara.
"wali kelas dhariel namanya bu Wina, bu wina itu
baik dan wibawa tp dia bisa berubah galak seandainya ada murid didiknya yg
kabur dan bolos.. Oh yah dhariel akan kenalin mama sama dion, dion itu teman
sebangku dhariel, anaknya asik, luchu dan sedikit kuper tapi hatinya baik"
Dhariel menaikkan wajahnya menatap sang mama y tersenyum.
"dan dhariel ketemu dhyland"
Dhariel menundukkan kepala, ia tak mau sang mama melihat
wajah sedihnya.
"dhyland teman kecil kamu?"
Tanya mama sambil menatap dhariel y masih menunduk.
"ia, dhyland sahabat kecil dhariel yg sangat dhariel
sayangi, ternyata dia ga banyak berubah masih galak, angkuh, egois, pemarah,
tapi potongan rambutnya sedikit berubah membuatnya terlihat lebih tanpan"
"apa dia mengenali kamu?"
Dhariel menggeleng sambil menaikkan wajahnya menghadap
sang mama.
Butir2an embun akibat hujan kemarin masih tersisa
didedaunan tanaman sekolah.
Beberapa anak tlah memulai aktifitasnya seperti biasa,
mengerjakan PR dipagi hari dan beberapa siswa tampak sedang bermain bola
didalam kelas.
Sasya menatap sekeliling sambil berlalu masuk kekelas,
seperti hari2 sebelumnya pertama kali y ia lakukan setibanya dikelas adalah
menatap meja kosong Dyland.
Sasya hanya mendapati tas Dyland y tergeletak diatas meja
sedangkan sang pemiliknya tak tau kemana.
Tak mendapati Dyland dikelas, setelah menaruh tas Sasya
memilih2 untuk mengintari kolidor sekolah siapa tau ia bertemu Dyland.
"Sasya"mario berkata sambil mensejajarkan
langkahnya dgn Sasya y terus berjalan.
"ada apa rio?"
"jaket gue mana sya, kemarin sama loe kan?"
Sasya mengangguk sambil terus berjalan.
"trus sekarang jaket gue mana?"
"oh, jaket kamu masih ada dirumah aku, kemarin hujannya
deras bgd jadi jaket kamu kotor, tadi pagi baru aku cuci, besok baru bisa aku
kembaliin kekamu"
Jelas Sasya sambil menghentikan jalannya.
*dhariel
"cowo" sapa seseorang sambil duduk disamping
dhariel yg sedang menyalin.
Dhariel berhenti menyalin dan menatap cewe tinggi
disampingnya.
"gue dhariel"kata dhariel cuek dan kembali
menyalin.
Cewe itu mengambil pulpoin y digunakan dhariel untuk
menulis.
"gue viona, cewe tercantik disekolah ini"
katanya memperkenalkan diri pada dhariel y menatapnya sinis.
"kembaliin pulpoin gue"
"galak banget seh jadi cowo, nanti ga laku loe"
Dhariel mencoba mengambil bulpoin dari tangan viona tapi
gagal.
"kalau loe mau pulpoin loe kembali, temui gue
dikantin istirahat nanti" viona berkata sambil berdiri dan pergi.
Dhariel menatap viona y terus melambai2kan pulpoin
miliknya sambil menyulurkan lidahnya :P
"cewe aneh" fikir dhariel.
"hai" Sasya berdiri disamping dhariel y sedang
mencari pulpoin didalam tas.
Dhariel menatap Sasya dan menutup tasnya.
"ada apa?" tanya dhariel diiringi senyum
manisnya.
"bisa keluar sebentar?"
Tanya Sasya dan dhariel hanya mengangguk mengiyakan.
Merekapun berjalan keluar kelas.
"aku mau minta maaf karena kemarin aku ninggalin
kamu" kata Sasya bersalah dan dhariel hanya tersenyum.
"tidak masalah"
Kata2 dhariel membuat Sasya tersenyum lega.
"tapi ada syaratnya" kali ini dhariel berkata
sambil menaikkan kedua alisnya membuat Sasya terkejut
"apa?"
"pulang sekolah nanti temenin gue ketoko buku tanpa
alasan, ok's nona manis"
Dhariel berkata sambil mencubit pipi kanan Sasya kemudian
berlalu masuk.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar