Dyland berjalan mendekati ruang Uks, yah Sasya selalu
disana saat Dyland terluka, biasanya Sasya selalu mengirimi Dyland sms untuk
menemuinya diUKS setiap Dyland selesai berkelahi, tapi hari ini Dyland tak
mendapati sms masuk untuknya.
"apa dia disana?"tanya Dyland sambil terus
mendekati ruang Uks, senyumnya merekah saat ia mendapati Sasya y sedang
merapikan rambut panjangnya.
Sasya menatap Dyland y berdiri didepan pintu.
"kau sudah datang, duduklah" perintah Sasya
sambil menyuruh Dyland duduk disampingnya.
Tapi Dyland menolaknya.
"tidak usah, aku kesini ingin berbicara sesuatu
padamu"
Dyland mendekati Sasya yg duduk dan berdiri didepannya.
Hati Sasyapun berdetak tak karuan "apa y akan
dilakukan Dyland padanya?"
"berdiri" perintah Dyland membuat Sasya
menatapnya.
"hah?"
"berdiri,apa loe mau gue berlutut"
"hah"
Sasya tak mengerti apa yg dikatakan Dyland tapi Sasya
mencoba berdiri dan kini mereka berhadapan tubuh Sasya y mungil hanya setara
dengan dada bidang Dyland.
Kini Dyland mengenggam tangan Sasya, membuat hati Sasya
berhenti berdetak, ditatapnya Dyland y menatapnya tajam, Sasyapun baru
menyadari bahwa Dyland memiliki bola mata y indah, Dyland bagaikan pangeran
untuk Sasya.
Pegangan tangan Dyland
semakin keras.
"loe taukan kalau gue bisa melakukan apapun y gue
mau"
Sasya mengangguk.
"dan loe ga maukan gue main kasar sama loe?"
Sasya menggeleng.
"kalau githu jadi pacar gue atau gue akan bikin
rambut loe jadi wig"
Kata2 Dyland membuat Sasya terdiam, ia benar2 tak percaya
Dyland baru saja meminta Sasya untuk menjadi pacarnya.
Apa aku mimpi?
Melihat tak ada reaksi apa2 dari Sasya Dylandpun
melepaskan genggaman tangannya.
"loe, mencintai gue kan sya?"
"loe mencintai gue kan,sya?" tanya dhyland ragu
sambil menatap Sasya y terdiam.
Tiba2 terdengar suara seseorang bertepuk tangan dari
depan pintu UKS dan ternyata orang itu adalah dhariel
Plok plok plok
Suara tepukan tangan dhariel membuat Dyland dan Sasya
menatapnya kaget.
"sejak kapan loe disana?" tanya Dyland kasar
pada dhariel y tersenyum.
"dari loe nembak Sasya tadi, hebat juga loe punya
keberanian padahal dulu loe takut nyatain perasaan sama cewe"
Dhariel berkata sambil menatap wajah kesal Dyland.
"tapi tunggu nembak Sasya apa ngancem?" ledek
dhariel membuat Dyland mengepalkan tangannya.
"dhyland.. Dyland loe beneran ga tau gimana cara
nembak cewe secara romantis"
Dhariel menatap Sasya y menunduk.
"apa perlu gue praktekin"
Dhariel berkata sambil memegang kedua tangan Sasya.
Cara dhariel y tiba2 membuat Sasya tersentak kaget dan
menatap dhariel yg tersenyum manis padanya.
Sementara itu hanya membuat wajah Dyland memerah karena
marah.
"i love you Sasya, maukah kau mengisi kekosongan
hatiku dgn cintamu"
Tiba2 dhariel berlutut tangan kirinya terus memegang
tangan Sasya sementara tangan kanannya mengambil sebuah kotak kecil dari saku
seragamnya dan memberikannya pada Sasya.
"ku tembak kau dgn basmalah" kata2 dhariel
membuat Sasya tersenyum.
Dan dhariel kembali berdiri setelah Sasya menerima kotak
pemberiannya.
"singkat,bermakna, dan yg pasti tanpa ancaman"
Senyum kepuasan terlihat jelas dari bibir dhariel
sementara Dyland menatap Sasya y tersenyum sambil penatap kotak pemberian
dhariel.
"ternyata loe lebih tertarik sama cowo romantis
daripada cowo pembuat masalah seperti gue"
Dyland berkata sambil berlalu, melihat kepergian Dyland Sasya
berusaha mengejarnya.
"Dyland,tunggu"
Dyland tak menghiraukan Sasya y terus memanggil namanya.
Sasya berusaha mengejar tapi dhariel menarik tangan kanan
Sasya.
"sorry, kotak itu punya mama aku..."
Dhariel berkata sambil menerima kotak dari tangan Sasya.
Sasyapun berlalu mengejar Dyland dan tak menghiraukan
dhariel yg masih berdiri.
Sasya kehilangan jejak Dyland y berjalan cepat Sasya
mencoba menghubungi Dyland tp tak ada jawaban hp Dyland tidak aktif.
Sasyapun berusaha mengirimi Dyland sms tp tetap saja tak
ada jawaban dari Dyland.
To: B.O.Y (Dyland)
Kamu dimana? :(
Lebih dari 20 sms sudah Sasya kirim untuk
Dyland tp tetap saja tak ada jawaban dari cowo leo itu.
To: B.O.Y
Tolong balas sms aku.. Atau telpon aku..
To: B.O.Y
Kamu dimana?
Apa kau marah padaku?
To: B.O.Y
Kamu dimana?
Semua pesan y Sasya kirim tak ada balasan.
Tapi 5 menit kemudian satu sms masuk membuat senyum Sasya
mengembang
From: B.O.Y
Dasar bodoh,
Kau hanya menghabiskan banyak uang untuk
terus mengirimiku banyak pesan seperti itu,
Apa kau pikir kepalaku tak pusing membaca
semua pesan y masuk darimu.
Satu sms masuk lagi.
From: B.O.Y
Dasar bodoh, aku tak marah padamu, dan
jangan tanyakan itu lagi padaku, karena jika itu terjadi aku benar2 akan marah
padamu.
Satu pesan masuk lagi.
From: B.O.Y
Apa kau mencemaskanku bodoh :P
Jangan khawatir i'm Dyland, everything
gonna be ok's.
Tak ada lagi sms dari Dyland, padahal Sasya masih
mengharapkan Dyland mengirimin pesan dan mengatakan dimana ia saat ini.
Tapi setengah jam berlalu tak ada pesan masuk untuk Sasya.
Bel pulang telah berbunyi Sasya menatap dhariel y tlah
menunggunya didepan kelas.
Sasya menatap kebelakang dilihatnya bangku Dyland y
kosong, yah lagi2 Dyland kabur dijam pelajaran.
Sasya kecewa tp ia mencoba menutupinya dari dhariel.
"kita berangkat sekarang?" Sasya mengangguk
menjawab pertanyaan dhariel dan merekapun berlalu menjauhi gerbang sekolah.
*Sasya dan dhariel
Akhirnya mereka tiba di sebuah toko buku, Sasya membantu
dhariel mencari buku y dicari. Setelah mendapatkannya merekapun pergi kesebuah
cafe yg terletak disebelah kiri toko buku.
Dan merekapun duduk bersebelahan.
"maaf, atas kejadian tadi" dhariel berkata
memulai pembicaraan.
"tak apa, kau tak perlu minta maaf"
Dhariel tersenyum sambil menatap Sasya y terus
memperhatikan hp ditangannya.
"lagi nunggu sms masuk?" pertanyaan dhariel
membuat Sasya terkejut dan menaruh hp nokia miliknya diatas meja.
"kenapa kau tak mencoba menelponnya"
Kata dhariel membuat Sasya menatapnya.
"tidak, karena aku yakin dia pasti akan mengirimiku
pesan, aku akan menunggunya"
"apa kau mencintai Dyland?"
Pertanyaan dhariel membuat Sasya mengangguk.
"ya aku mencintanya, bahkan terlalu
mencintainya"
Dhariel terdiam, ternyata Sasya benar2 mencintai Dyland.
Apakah sekarang saatnya dhariel harus mengalah.
Hari tlah menjelang magrib,
Dhariel dan Sasyapun memutuskan untuk pulang.
"aku antar kamu sya" kata dhariel sambil
menatap Sasya y tersenyum.
"tidak perlu, kau cukup panggilkan aku taksi"
"Tp aku ingin mengantarmu"
"terimakasih, sepertinya kau lelah, sebaiknya kau
istirahat, aku bisa pulang sendiri"
Kata Sasya ketika menatap wajah dhariel y pucat.
"percayalah aku tidak lelah, aku benar2 ingin
mengantarmu pulang"
Dhariel merapatkan tangannya seraya memohon membuat Sasya
tak bisa menolaknya.
"baiklah"
Perkataan Sasyapun membuat dhariel tersenyum puas.
Dharielpun segera menuju jalan besar mencari taxi,
sebenarnya dhariel memiliki satu mobil kijang silver keluaran terbaru dan motor
sport yg ia beli di luar negri tp berhubung usia dhariel belum genap 18 thn
sang mama tak mengijinkannya mengemudi karena itu dhariel selalu mengunakan
taxi untuk berangkat sekolah.
Akhirnya mereka mendapatkan taxi tanpa penumpang dan
merekapun langsung melaju kerumah Sasya.
Sasya tlah sampai didepan gerbang rumahnya.
Ditatapnya dhariel yg berdiri didepannya.
Dhariel memiliki tinggi y setara dgn Dyland.
"terimakasih, sekarang kau boleh kembali"
Dhariel menatap Sasya y membuka gerbang dan berusaha
masuk.
"kau tak membiarkan aku berkunjung kerumahmu?"
"bukan, aku rasa kau lelah dan ingin pulang"
kata Sasya dgn nada bersalah.
Membuat Dhariel tersenyum.
"kau benar benar manis, tak salah Dyland begitu
mencintaimu"
Kata2 dhariel membuat Sasya terdiam.
"aku rasa aku mulai menyukaimu, maukah kau menjadi
kekasihku?" dhariel bertanya sambil memegang kedua tangan Sasya.
Sasya masih terdiam tak percaya..
Tapi tak ada getaran aneh dalam diri Sasya saat ini, apa
itu semua karena Sasya memang tak pernah menyukai dhariel.
"pulanglah, aku sangat lelah" kata
Sasya sambil menepis tangan dhariel membuat dhariel
kecewa.
"sorry, gue cuma mau loe tau perasaan gue y
sebenarnya buat loe"
"terimakasih tlah menyukaiku, tapi maaf hatiku hanya
mencintainya"
Dhariel kecewa mendengar perkataan Sasya tp ia tak dapat
melakukan apa2, hanya berharap suatu saat Sasya akan mencintainya seperti Sasya
mencintai Dyland.
"tapi kau tetap temanku bukan?"
Sasya mengangguk meng-iyakan.
Dharielpun pamit dan meninggalkan Sasya yg menatap tubuh
dhariel hingga menghilang bersama dentuman suara azan maghrib..
Malam telah tiba, Sasya y berada dikamar pink miliknya
terus menatap kamar Dyland y sepi,
Tak seperti biasanya kali ini tirai kamar Dyland tertutup
sehingga Sasya tak dapat melihat dgn jelas ruangan putih itu.
Sasya menatap jam ditangannya. Jam 10malam tapi ia masih
terbangun. Bagaimana bisa ia tidur pulas sementara ia tak tau dimana
pangerannya berada.
"apa dia ada rumah?"kata Sasya memastikan
sambil menelpon hp Dyland tapi tak ada jawaban.
Sasya merasa putus asa dan membuang hp ke atas ranjang
miliknya tp Sasya kembali mengambilnya ketika mendengar ponselnya berdering.
"Dyland?"
"apa ada?"
"apa kau ada di rumah?"
"tidak"
"lalu dimana kau? Mengapa sampai saat ini kau belum
kembali?"
"tidurlah, dan jangan menggangguku lagi" bentak
Dyland.
"tapi.."
Tett tett sambungan terputus.
Sasya menjatuhkan tubuhnya keranjang dan menutup wajahnya
dgn bantal, Sasya tak ingin dunia tau bahwa saat ini ia sedang menangis karena
seseorang y sangat dicintainya membenci dirinya.
*dhariel
"belum tidur sayang?"tanya mama sambil
menghampiri dhariel y sedang menuntun tv diruang tengah.
Dharielpun menggeleng.
"kamu kenapa lagi, dari pulang sekolah wajahnya
cemberut terus, ada masalah?" tanya mama y kali ini mencoba duduk
disamping dhariel. Mama mengambil remote ditangan dhariel dan menatap anak
semata wayangnya itu.
"ada apa, cerita sama mama, mungkin mama bisa
memberi kamu solusi"
Dibelainya rambut dhariel y halus.
"dhariel jatuh cinta" mama tersenyum mendengar
perkataan dhariel.
"ini bukan kali pertama kamu jatuh cinta"
"tapi ma, kali ini dhariel benar2 sayang sama
dia" kata dhariel memelas.
"kalau kamu benar2 mencintainya, kenapa kamu tidak
menembaknya?"
"dhariel sudah melakukannya tapi, dia menolaknya,
mama tau kenapa?"
Mama menggeleng
"karena dia mencintai seseorang dan orang y
dicintainya itu Dyland"
Dhariel berkata dgn mata berkaca2..
Ia ingin menangis tp air matanya enggan terjatuh.
"dulu Dyland pernah mengalah waktu cewe y kita suka
lebih memilih dhariel, apa sekarang dhariel juga harus mengalah karena cewe y
kita cintai lebih memilih Dyland"
Jam 12 malam
Dyland melangkahkan kakinya memasuki gerbang rumahnya
tapi langkahnya terhenti didepan pintu saat mendapati Sasya sedang terduduk
dihalaman rumah Dyland.
"kau belum tidur?" tanya Dyland pada Sasya y
berjalan mendekatinya.
Dilihatnya Sasya y mengenakan piyama micky mouse berdiri
didepannya.
"piyama itu membuatmu terlihat lebih kurus"
Perkataan Dyland membuat Sasya cemberut.
"dasar bodoh masuk dan tidurlah, bukankah besok kau
harus sekolah"
"apa kau tak tau aku menunggumu berjam-jam dgn
mudahnya kau menyuruhku masuk dan tidur, bagaimana mungkin aku bisa tertidur
pulas jika sampai jam 12 malampun kau belum tiba,kau tak tau betapa aku
mencemaskanmu"
Teriak Sasya kesal sambil menggigit bibir bawahnya agar
tak menangis.
"dasar bodoh aku tak pernah memintamu untuk
menungguku, sebaiknya kau masuk udara malam tak baik untuk kesehatanmu"
Saran Dyland sambil memegang lengan Sasya tp Sasya
menepisnya.
"mengapa kau selalu memanggilku bodoh, aku tidak
bodoh justru kau yg bodoh"
"aku?" Dyland berkata sambil menunjuk dirinya
sendiri.
"iya, kau adalah cowo terbodoh yg pernah aku temui,
kau bodoh,bodoh,bodoh, bodoh.." teriak Sasya keras membuat Dyland menarik
lengan Sasya dan menciumnya.
Sasya terdiam, Dyland menciumnya tp Sasya tak marah Dyland
tlah mencium bibirnya tanpa ijin justru Sasya bahagia karena Dylandlah ciuman
pertama Sasya.
Dibawah bintang-bintang malam Dyland dan Sasya
berciuman..
Bibir Dyland y merah beradu dgn bibir Sasya y sexy..
TTtteettttTT *sensor yah adik2* :P
*Dyland and Sasya
Bibir mereka masih bersentuhan, hingga beberapa detik
berlalu, tak ada respon atau suatu tindakan dari Sasya akhirnya Dyland
menjauhkan bibirnya dari Sasya.
Ditatapnya Sasya yg menutup kedua matanya.
"bintang, apa dia benar2 menciumku, atau ini hanya
mimpi, jika memang mimpi jangan biarkan aku terbangun"
Sasya berkata dalam hati sambil terus memejamkan matanya.
Dyland y berdiri disampingnya menatap Sasya heran.
Dicubitnya pipi kanan Sasya dgn tangan Dyland dan Sasyapun
teriak kesakitan.
"aww"teriak Sasya sambil membuka matanya dan
menatap Dyland y menatapnya tajam.
"dasar bodoh, mengapa kau tak melawan atau memukulku
saat aku menciummu,huh?"
Sasya terdiam sambil terus menatap Dyland y masih bicara.
"atau jangan2 emang itu yg kau mau" ledek Dyland
membuat pipi Sasya memerah.
"apa?"
"kau mau aku melakukannya lagi huh?"
Dyland mendekat wajahnya ke wajah Sasya y semakin
memerah, Dyland menaikkan alisnya dan tersenyum evil.
Membuat Sasya semakin salah tingkah.
"kalau kau berani menciumku lagi, aku akan
memukulmu"
"haha.. Aku tlah terbiasa dipukul, jadi ada baiknya
aku menciummu lagi"
Wajah mereka semakin dekat, Sasya dapat melihat jelas
beberapa goresan luka bekas diwajah Dyland dan bibir tipis kemerahan milik Dyland.
Sementara Dyland dpt melihat jelas kecantikan wajah Sasya
y natural tanpa make up dan matanya y indah bagaikan mata seorang bidadari.
Seketika keheningan menemani mereka.
Jantung Sasya berdetak tak menentu begitupun Dyland.
Ini adalah kali pertama Dyland merasakan getaran aneh
dalam jantungnya.
Ternyata Dyland benar2 jatuh cinta.
"tidak, aku akan membunuhmu jika kau berani
menciumku" ancam Sasya sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Dyland dan Dyland
hanya tertawa kecil.
"aku serius" kata Sasya kesal. Sasya mendekat
kearah Dyland,kini Sasya berdiri disamping Dyland dan sebuah tendangan mendarat
tepat dikaki kanan Dyland. Sasya menendang Dyland dan terus memukul pundak Dyland
y membungkuk dgn tangan kurusnya.
"hentikan"bentak Dyland berusaha menghentikan
pukulan Sasya padanya. Dyland menarik tangan Sasya dan menatapnya.
"apa kau ingin membunuhku,huh?"bentak Dyland
pada Sasya y cemberut.
"dasar bodoh, percuma kau memukuliku seperti itu,
karena tanganmu terlalu kurus untuk menyakitiku, lain kali bawalah kayu besi
dan pukullah aku dgn kayu ditanganmu, itu akan membuat tubuhku terasa sedikit
sakit" kata Dyland sambil menatap telapak tangan Sasya y merah.
"dasar bodoh, lihatlah kau ingin membuatku kesakitan
tapi justru kau yg terluka"
"aku baik2 ajah, dan jangan memanggilku bodoh lagi,
kau dengar itu"
Sasya menepis tangan Dyland dan memasukkan kedua
tangannya kesaku celana piyama panjangnya.
"mengapa aku tak boleh memanggilmu bodoh bukankah
kau benar2 bodoh"
Kata2 Dyland semakin membuat Sasya kesal.
"aku tak bodoh, justru kau yg bodoh, kau bodoh
karena meninggalkan aku begitu saja disekolah setelah kau bilang cinta padaku,
apa kau tau betapa sakitnya aku saat kau berlalu begitu saja dan tak
menghiraukan aku y terus memanggil namamu"
Dyland terdiam sambil terus mendengarkan setiap kalimat
yg diucapkan Sasya.
"kau bodoh, seharusnya kau tetap disana dan menunggu
jawaban dariku, kalau memang kau mencintaiku kau tak akan pernah
meninggalkanku"
Sasya berkata sambil menunduk dan air matapun jatuh
membasahi pipinya.
Dyland mendekatkan wajahnya dan menatap Sasya y menangis.
"loe nangis?"tanya Dyland pelan.
"dasar bodoh apa kau pikir saat ini aku sedang
tertawa" kata Sasya sambil menghapus air matanya.
Wajahnya masih menunduk.
"apa karena aku?" tanya Dyland lagi dan Sasya
hanya mengangguk.
5detik Dyland terus menatap Sasya y masih menangis, Dyland
benar2 tak tau apa y harus ia lakukan.
Tiba2 Sasya memukul lengan Dyland dan menatap Dyland y
menatapnya heran.
"kau benar2 bodoh, seharusnya kau minta maaf padaku
karena tlah membuatku menangis atau menghapus air mataku y aku yg aku keluarkan
karenamu,bukan terus memandangiku seperti itu, aku benci kamu"
Bentak Sasya.
Dyland terdiam dan berlalu masuk kedalam rumah, suara Dyland
menutup pintu rumahnya terdengar jelas ditelinga Sasya.
Apa untuk kesekian kalinya Dyland meninggalkan Sasya
seorang diri.
Sasya menatap pintu besi rumah Dyland dan air matanya tak
henti2nya mengalir.
"tuhan, mengapa kau biarkan aku mencintai dia jika
dia terus menyakitiku, aku tau dia marah dan pasti saat ini dia membenciku, apa
cintaku selamanya tak akan memilikinya"
Tapi tiba2 Sasya melihat pintu itu terbuka dan pangeran
cintanya keluar dan berjalan kearahnya.
Dyland berjalan sambil membawa sapu tangan ditangannya.
Dyland mengusap air mata Sasya dgn sapu tangan
miliknya,saat itu pula air mata Sasya berhenti.
"dasar bodoh, kau tak perlu mengeluarkan banyak air
matamu untuk menangisiku, tapi aku minta maaf telah kasar padamu" Dyland
berkata sambil terus mengusap air mata Sasya.
"aku mencintaimu Dyland"
Kata Sasya pelan membuat Dyland terdiam beberapa detik
sebelum sebuah pertanyaan terlontar dari bibirnya.
"apa sya?"
"aku mencintaimu, Dyland"
"apa?" Dyland berlagak tak mendengar dan itu
membuat Sasya kesal.
"aku juga mencintaimu, bodoh" Dyland berkata
sambil mengelus rambut panjang Sasya membuat Sasya tersenyum senang.
Mungkin inilah akhir kisah cinta Sasya dan sang
troublemaker atau justru jalan kisah cinta mereka masih panjang, hanya tuhan
dan penulislah y tau *plakAbaikan
continue ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar