Facebook Badge

Rabu, 24 Oktober 2012

"The One I Love!" #Part5


Dyland berjalan mendekati ruang Uks, yah Sasya selalu disana saat Dyland terluka, biasanya Sasya selalu mengirimi Dyland sms untuk menemuinya diUKS setiap Dyland selesai berkelahi, tapi hari ini Dyland tak mendapati sms masuk untuknya.

"apa dia disana?"tanya Dyland sambil terus mendekati ruang Uks, senyumnya merekah saat ia mendapati Sasya y sedang merapikan rambut panjangnya.
Sasya menatap Dyland y berdiri didepan pintu.

"kau sudah datang, duduklah" perintah Sasya sambil menyuruh Dyland duduk disampingnya.
Tapi Dyland menolaknya.

"tidak usah, aku kesini ingin berbicara sesuatu padamu"
Dyland mendekati Sasya yg duduk dan berdiri didepannya.
Hati Sasyapun berdetak tak karuan "apa y akan dilakukan Dyland padanya?"

"berdiri" perintah Dyland membuat Sasya menatapnya.

"hah?"

"berdiri,apa loe mau gue berlutut"

"hah"
Sasya tak mengerti apa yg dikatakan Dyland tapi Sasya mencoba berdiri dan kini mereka berhadapan tubuh Sasya y mungil hanya setara dengan dada bidang Dyland.
Kini Dyland mengenggam tangan Sasya, membuat hati Sasya berhenti berdetak, ditatapnya Dyland y menatapnya tajam, Sasyapun baru menyadari bahwa Dyland memiliki bola mata y indah, Dyland bagaikan pangeran untuk Sasya.
 Pegangan tangan Dyland semakin keras.

"loe taukan kalau gue bisa melakukan apapun y gue mau"
Sasya mengangguk.

"dan loe ga maukan gue main kasar sama loe?"
Sasya menggeleng.

"kalau githu jadi pacar gue atau gue akan bikin rambut loe jadi wig"
Kata2 Dyland membuat Sasya terdiam, ia benar2 tak percaya Dyland baru saja meminta Sasya untuk menjadi pacarnya.
Apa aku mimpi?
Melihat tak ada reaksi apa2 dari Sasya Dylandpun melepaskan genggaman tangannya.

"loe, mencintai gue kan sya?"

"loe mencintai gue kan,sya?" tanya dhyland ragu sambil menatap Sasya y terdiam.

Tiba2 terdengar suara seseorang bertepuk tangan dari depan pintu UKS dan ternyata orang itu adalah dhariel


Plok plok plok
Suara tepukan tangan dhariel membuat Dyland dan Sasya menatapnya kaget.

"sejak kapan loe disana?" tanya Dyland kasar pada dhariel y tersenyum.

"dari loe nembak Sasya tadi, hebat juga loe punya keberanian padahal dulu loe takut nyatain perasaan sama cewe"
Dhariel berkata sambil menatap wajah kesal Dyland.

"tapi tunggu nembak Sasya apa ngancem?" ledek dhariel membuat Dyland mengepalkan tangannya.

"dhyland.. Dyland loe beneran ga tau gimana cara nembak cewe secara romantis"
Dhariel menatap Sasya y menunduk.

"apa perlu gue praktekin"
Dhariel berkata sambil memegang kedua tangan Sasya.
Cara dhariel y tiba2 membuat Sasya tersentak kaget dan menatap dhariel yg tersenyum manis padanya.
Sementara itu hanya membuat wajah Dyland memerah karena marah.

"i love you Sasya, maukah kau mengisi kekosongan hatiku dgn cintamu"
Tiba2 dhariel berlutut tangan kirinya terus memegang tangan Sasya sementara tangan kanannya mengambil sebuah kotak kecil dari saku seragamnya dan memberikannya pada Sasya.

"ku tembak kau dgn basmalah" kata2 dhariel membuat Sasya tersenyum.

Dan dhariel kembali berdiri setelah Sasya menerima kotak pemberiannya.

"singkat,bermakna, dan yg pasti tanpa ancaman"
Senyum kepuasan terlihat jelas dari bibir dhariel sementara Dyland menatap Sasya y tersenyum sambil penatap kotak pemberian dhariel.

"ternyata loe lebih tertarik sama cowo romantis daripada cowo pembuat masalah seperti gue"
Dyland berkata sambil berlalu, melihat kepergian Dyland Sasya berusaha mengejarnya.

"Dyland,tunggu"
Dyland tak menghiraukan Sasya y terus memanggil namanya.
Sasya berusaha mengejar tapi dhariel menarik tangan kanan Sasya.

"sorry, kotak itu punya mama aku..."
Dhariel berkata sambil menerima kotak dari tangan Sasya.
Sasyapun berlalu mengejar Dyland dan tak menghiraukan dhariel yg masih berdiri.



Sasya kehilangan jejak Dyland y berjalan cepat Sasya mencoba menghubungi Dyland tp tak ada jawaban hp Dyland tidak aktif.
Sasyapun berusaha mengirimi Dyland sms tp tetap saja tak ada jawaban dari Dyland.

To: B.O.Y (Dyland)

Kamu dimana? :(


Lebih dari 20 sms sudah Sasya kirim untuk Dyland tp tetap saja tak ada jawaban dari cowo leo itu.

To: B.O.Y

Tolong balas sms aku.. Atau telpon aku..

To: B.O.Y

Kamu dimana?
Apa kau marah padaku?

To: B.O.Y

Kamu dimana?

Semua pesan y Sasya kirim tak ada balasan.
Tapi 5 menit kemudian satu sms masuk membuat senyum Sasya mengembang

From: B.O.Y

Dasar bodoh,
Kau hanya menghabiskan banyak uang untuk terus mengirimiku banyak pesan seperti itu,
Apa kau pikir kepalaku tak pusing membaca semua pesan y masuk darimu.

Satu sms masuk lagi.

From: B.O.Y

Dasar bodoh, aku tak marah padamu, dan jangan tanyakan itu lagi padaku, karena jika itu terjadi aku benar2 akan marah padamu.

Satu pesan masuk lagi.

From: B.O.Y

Apa kau mencemaskanku bodoh :P
Jangan khawatir i'm Dyland, everything gonna be ok's.

Tak ada lagi sms dari Dyland, padahal Sasya masih mengharapkan Dyland mengirimin pesan dan mengatakan dimana ia saat ini.
Tapi setengah jam berlalu tak ada pesan masuk untuk Sasya.


Bel pulang telah berbunyi Sasya menatap dhariel y tlah menunggunya didepan kelas.
Sasya menatap kebelakang dilihatnya bangku Dyland y kosong, yah lagi2 Dyland kabur dijam pelajaran.
Sasya kecewa tp ia mencoba menutupinya dari dhariel.

"kita berangkat sekarang?" Sasya mengangguk menjawab pertanyaan dhariel dan merekapun berlalu menjauhi gerbang sekolah.



*Sasya dan dhariel

Akhirnya mereka tiba di sebuah toko buku, Sasya membantu dhariel mencari buku y dicari. Setelah mendapatkannya merekapun pergi kesebuah cafe yg terletak disebelah kiri toko buku.
Dan merekapun duduk bersebelahan.

"maaf, atas kejadian tadi" dhariel berkata memulai pembicaraan.

"tak apa, kau tak perlu minta maaf"
Dhariel tersenyum sambil menatap Sasya y terus memperhatikan hp ditangannya.

"lagi nunggu sms masuk?" pertanyaan dhariel membuat Sasya terkejut dan menaruh hp nokia miliknya diatas meja.

"kenapa kau tak mencoba menelponnya"
Kata dhariel membuat Sasya menatapnya.

"tidak, karena aku yakin dia pasti akan mengirimiku pesan, aku akan menunggunya"

"apa kau mencintai Dyland?"
Pertanyaan dhariel membuat Sasya mengangguk.

"ya aku mencintanya, bahkan terlalu mencintainya"

Dhariel terdiam, ternyata Sasya benar2 mencintai Dyland. Apakah sekarang saatnya dhariel harus mengalah.

Hari tlah menjelang magrib,
Dhariel dan Sasyapun memutuskan untuk pulang.

"aku antar kamu sya" kata dhariel sambil menatap Sasya y tersenyum.

"tidak perlu, kau cukup panggilkan aku taksi"

"Tp aku ingin mengantarmu"

"terimakasih, sepertinya kau lelah, sebaiknya kau istirahat, aku bisa pulang sendiri"
Kata Sasya ketika menatap wajah dhariel y pucat.

"percayalah aku tidak lelah, aku benar2 ingin mengantarmu pulang"
Dhariel merapatkan tangannya seraya memohon membuat Sasya tak bisa menolaknya.

"baiklah"
Perkataan Sasyapun membuat dhariel tersenyum puas.


Dharielpun segera menuju jalan besar mencari taxi, sebenarnya dhariel memiliki satu mobil kijang silver keluaran terbaru dan motor sport yg ia beli di luar negri tp berhubung usia dhariel belum genap 18 thn sang mama tak mengijinkannya mengemudi karena itu dhariel selalu mengunakan taxi untuk berangkat sekolah.
Akhirnya mereka mendapatkan taxi tanpa penumpang dan merekapun langsung melaju kerumah Sasya.



Sasya tlah sampai didepan gerbang rumahnya.
Ditatapnya dhariel yg berdiri didepannya.
Dhariel memiliki tinggi y setara dgn Dyland.

"terimakasih, sekarang kau boleh kembali"
Dhariel menatap Sasya y membuka gerbang dan berusaha masuk.

"kau tak membiarkan aku berkunjung kerumahmu?"

"bukan, aku rasa kau lelah dan ingin pulang" kata Sasya dgn nada bersalah.
Membuat Dhariel tersenyum.

"kau benar benar manis, tak salah Dyland begitu mencintaimu"
Kata2 dhariel membuat Sasya terdiam.

"aku rasa aku mulai menyukaimu, maukah kau menjadi kekasihku?" dhariel bertanya sambil memegang kedua tangan Sasya.
Sasya masih terdiam tak percaya..
Tapi tak ada getaran aneh dalam diri Sasya saat ini, apa itu semua karena Sasya memang tak pernah menyukai dhariel.

"pulanglah, aku sangat lelah" kata
Sasya sambil menepis tangan dhariel membuat dhariel kecewa.

"sorry, gue cuma mau loe tau perasaan gue y sebenarnya buat loe"

"terimakasih tlah menyukaiku, tapi maaf hatiku hanya mencintainya"
Dhariel kecewa mendengar perkataan Sasya tp ia tak dapat melakukan apa2, hanya berharap suatu saat Sasya akan mencintainya seperti Sasya mencintai Dyland.

"tapi kau tetap temanku bukan?"
Sasya mengangguk meng-iyakan.
Dharielpun pamit dan meninggalkan Sasya yg menatap tubuh dhariel hingga menghilang bersama dentuman suara azan maghrib..



Malam telah tiba, Sasya y berada dikamar pink miliknya terus menatap kamar Dyland y sepi,
Tak seperti biasanya kali ini tirai kamar Dyland tertutup sehingga Sasya tak dapat melihat dgn jelas ruangan putih itu.
Sasya menatap jam ditangannya. Jam 10malam tapi ia masih terbangun. Bagaimana bisa ia tidur pulas sementara ia tak tau dimana pangerannya berada.

"apa dia ada rumah?"kata Sasya memastikan sambil menelpon hp Dyland tapi tak ada jawaban.
Sasya merasa putus asa dan membuang hp ke atas ranjang miliknya tp Sasya kembali mengambilnya ketika mendengar ponselnya berdering.

"Dyland?"

"apa ada?"

"apa kau ada di rumah?"

"tidak"

"lalu dimana kau? Mengapa sampai saat ini kau belum kembali?"

"tidurlah, dan jangan menggangguku lagi" bentak Dyland.

"tapi.."

Tett tett sambungan terputus.
Sasya menjatuhkan tubuhnya keranjang dan menutup wajahnya dgn bantal, Sasya tak ingin dunia tau bahwa saat ini ia sedang menangis karena seseorang y sangat dicintainya membenci dirinya.


*dhariel
"belum tidur sayang?"tanya mama sambil menghampiri dhariel y sedang menuntun tv diruang tengah.
Dharielpun menggeleng.

"kamu kenapa lagi, dari pulang sekolah wajahnya cemberut terus, ada masalah?" tanya mama y kali ini mencoba duduk disamping dhariel. Mama mengambil remote ditangan dhariel dan menatap anak semata wayangnya itu.

"ada apa, cerita sama mama, mungkin mama bisa memberi kamu solusi"
Dibelainya rambut dhariel y halus.

"dhariel jatuh cinta" mama tersenyum mendengar perkataan dhariel.

"ini bukan kali pertama kamu jatuh cinta"

"tapi ma, kali ini dhariel benar2 sayang sama dia" kata dhariel memelas.

"kalau kamu benar2 mencintainya, kenapa kamu tidak menembaknya?"

"dhariel sudah melakukannya tapi, dia menolaknya, mama tau kenapa?"
Mama menggeleng

"karena dia mencintai seseorang dan orang y dicintainya itu Dyland"
Dhariel berkata dgn mata berkaca2..
Ia ingin menangis tp air matanya enggan terjatuh.

"dulu Dyland pernah mengalah waktu cewe y kita suka lebih memilih dhariel, apa sekarang dhariel juga harus mengalah karena cewe y kita cintai lebih memilih Dyland"



Jam 12 malam
Dyland melangkahkan kakinya memasuki gerbang rumahnya tapi langkahnya terhenti didepan pintu saat mendapati Sasya sedang terduduk dihalaman rumah Dyland.

"kau belum tidur?" tanya Dyland pada Sasya y berjalan mendekatinya.
Dilihatnya Sasya y mengenakan piyama micky mouse berdiri didepannya.

"piyama itu membuatmu terlihat lebih kurus"
Perkataan Dyland membuat Sasya cemberut.

"dasar bodoh masuk dan tidurlah, bukankah besok kau harus sekolah"

"apa kau tak tau aku menunggumu berjam-jam dgn mudahnya kau menyuruhku masuk dan tidur, bagaimana mungkin aku bisa tertidur pulas jika sampai jam 12 malampun kau belum tiba,kau tak tau betapa aku mencemaskanmu"
Teriak Sasya kesal sambil menggigit bibir bawahnya agar tak menangis.

"dasar bodoh aku tak pernah memintamu untuk menungguku, sebaiknya kau masuk udara malam tak baik untuk kesehatanmu"
Saran Dyland sambil memegang lengan Sasya tp Sasya menepisnya.

"mengapa kau selalu memanggilku bodoh, aku tidak bodoh justru kau yg bodoh"

"aku?" Dyland berkata sambil menunjuk dirinya sendiri.

"iya, kau adalah cowo terbodoh yg pernah aku temui, kau bodoh,bodoh,bodoh, bodoh.." teriak Sasya keras membuat Dyland menarik lengan Sasya dan menciumnya.
Sasya terdiam, Dyland menciumnya tp Sasya tak marah Dyland tlah mencium bibirnya tanpa ijin justru Sasya bahagia karena Dylandlah ciuman pertama Sasya.
Dibawah bintang-bintang malam Dyland dan Sasya berciuman..
Bibir Dyland y merah beradu dgn bibir Sasya y sexy..
TTtteettttTT *sensor yah adik2* :P


*Dyland and Sasya


Bibir mereka masih bersentuhan, hingga beberapa detik berlalu, tak ada respon atau suatu tindakan dari Sasya akhirnya Dyland menjauhkan bibirnya dari Sasya.
Ditatapnya Sasya yg menutup kedua matanya.

"bintang, apa dia benar2 menciumku, atau ini hanya mimpi, jika memang mimpi jangan biarkan aku terbangun"
Sasya berkata dalam hati sambil terus memejamkan matanya.
Dyland y berdiri disampingnya menatap Sasya heran.
Dicubitnya pipi kanan Sasya dgn tangan Dyland dan Sasyapun teriak kesakitan.

"aww"teriak Sasya sambil membuka matanya dan menatap Dyland y menatapnya tajam.

"dasar bodoh, mengapa kau tak melawan atau memukulku saat aku menciummu,huh?"
Sasya terdiam sambil terus menatap Dyland y masih bicara.

"atau jangan2 emang itu yg kau mau" ledek Dyland membuat pipi Sasya memerah.

"apa?"

"kau mau aku melakukannya lagi huh?"
Dyland mendekat wajahnya ke wajah Sasya y semakin memerah, Dyland menaikkan alisnya dan tersenyum evil.
Membuat Sasya semakin salah tingkah.

"kalau kau berani menciumku lagi, aku akan memukulmu"

"haha.. Aku tlah terbiasa dipukul, jadi ada baiknya aku menciummu lagi"
Wajah mereka semakin dekat, Sasya dapat melihat jelas beberapa goresan luka bekas diwajah Dyland dan bibir tipis kemerahan milik Dyland.
Sementara Dyland dpt melihat jelas kecantikan wajah Sasya y natural tanpa make up dan matanya y indah bagaikan mata seorang bidadari.
Seketika keheningan menemani mereka.
Jantung Sasya berdetak tak menentu begitupun Dyland.
Ini adalah kali pertama Dyland merasakan getaran aneh dalam jantungnya.
Ternyata Dyland benar2 jatuh cinta.

"tidak, aku akan membunuhmu jika kau berani menciumku" ancam Sasya sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Dyland dan Dyland hanya tertawa kecil.

"aku serius" kata Sasya kesal. Sasya mendekat kearah Dyland,kini Sasya berdiri disamping Dyland dan sebuah tendangan mendarat tepat dikaki kanan Dyland. Sasya menendang Dyland dan terus memukul pundak Dyland y membungkuk dgn tangan kurusnya.

"hentikan"bentak Dyland berusaha menghentikan pukulan Sasya padanya. Dyland menarik tangan Sasya dan menatapnya.

"apa kau ingin membunuhku,huh?"bentak Dyland pada Sasya y cemberut.

"dasar bodoh, percuma kau memukuliku seperti itu, karena tanganmu terlalu kurus untuk menyakitiku, lain kali bawalah kayu besi dan pukullah aku dgn kayu ditanganmu, itu akan membuat tubuhku terasa sedikit sakit" kata Dyland sambil menatap telapak tangan Sasya y merah.

"dasar bodoh, lihatlah kau ingin membuatku kesakitan tapi justru kau yg terluka"

"aku baik2 ajah, dan jangan memanggilku bodoh lagi, kau dengar itu"
Sasya menepis tangan Dyland dan memasukkan kedua tangannya kesaku celana piyama panjangnya.

"mengapa aku tak boleh memanggilmu bodoh bukankah kau benar2 bodoh"
Kata2 Dyland semakin membuat Sasya kesal.

"aku tak bodoh, justru kau yg bodoh, kau bodoh karena meninggalkan aku begitu saja disekolah setelah kau bilang cinta padaku, apa kau tau betapa sakitnya aku saat kau berlalu begitu saja dan tak menghiraukan aku y terus memanggil namamu"

Dyland terdiam sambil terus mendengarkan setiap kalimat yg diucapkan Sasya.

"kau bodoh, seharusnya kau tetap disana dan menunggu jawaban dariku, kalau memang kau mencintaiku kau tak akan pernah meninggalkanku"
Sasya berkata sambil menunduk dan air matapun jatuh membasahi pipinya.
Dyland mendekatkan wajahnya dan menatap Sasya y menangis.

"loe nangis?"tanya Dyland pelan.

"dasar bodoh apa kau pikir saat ini aku sedang tertawa" kata Sasya sambil menghapus air matanya.
Wajahnya masih menunduk.

"apa karena aku?" tanya Dyland lagi dan Sasya hanya mengangguk.

5detik Dyland terus menatap Sasya y masih menangis, Dyland benar2 tak tau apa y harus ia lakukan.
Tiba2 Sasya memukul lengan Dyland dan menatap Dyland y menatapnya heran.

"kau benar2 bodoh, seharusnya kau minta maaf padaku karena tlah membuatku menangis atau menghapus air mataku y aku yg aku keluarkan karenamu,bukan terus memandangiku seperti itu, aku benci kamu"
Bentak Sasya.
Dyland terdiam dan berlalu masuk kedalam rumah, suara Dyland menutup pintu rumahnya terdengar jelas ditelinga Sasya.
Apa untuk kesekian kalinya Dyland meninggalkan Sasya seorang diri.

Sasya menatap pintu besi rumah Dyland dan air matanya tak henti2nya mengalir.
"tuhan, mengapa kau biarkan aku mencintai dia jika dia terus menyakitiku, aku tau dia marah dan pasti saat ini dia membenciku, apa cintaku selamanya tak akan memilikinya"

Tapi tiba2 Sasya melihat pintu itu terbuka dan pangeran cintanya keluar dan berjalan kearahnya.
Dyland berjalan sambil membawa sapu tangan ditangannya.
Dyland mengusap air mata Sasya dgn sapu tangan miliknya,saat itu pula air mata Sasya berhenti.

"dasar bodoh, kau tak perlu mengeluarkan banyak air matamu untuk menangisiku, tapi aku minta maaf telah kasar padamu" Dyland berkata sambil terus mengusap air mata Sasya.

"aku mencintaimu Dyland"
Kata Sasya pelan membuat Dyland terdiam beberapa detik sebelum sebuah pertanyaan terlontar dari bibirnya.

"apa sya?"

"aku mencintaimu, Dyland"

"apa?" Dyland berlagak tak mendengar dan itu membuat Sasya kesal.

"aku juga mencintaimu, bodoh" Dyland berkata sambil mengelus rambut panjang Sasya membuat Sasya tersenyum senang.
Mungkin inilah akhir kisah cinta Sasya dan sang troublemaker atau justru jalan kisah cinta mereka masih panjang, hanya tuhan dan penulislah y tau *plakAbaikan



continue ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Online Now Icons