Tiba2 Dyland menarik tangan Sasya memasuki rumahnya...
Apa y akan dilakukan Dyland pada Sasya selanjutnya..
Sasya tak dapat melakukan apa2 saat Dyland menarik
tangannya masuk kedalam rumah Dyland.
"Apa y ingin Dyland lakukan padaku, mengapa ia
menarikku masuk kedalam"
"lepaskan aku, atau aku akan berteriak hingga
keluargamu terbangun"
Teriak Sasya tapi Dyland terus saja menarik tangannya.
Mereka melewati ruang tamu y cukup besar, Dyland terus
saja melangkah tak menghiraukan Sasya y terus berteriak.
"apa kau benar2 ingin aku membunuhmu?"
pertanyaan Sasya itu membuat Dyland tersenyum menampakkan gigi putihnya yg
terbaris rapi.
Dyland menghentikan langkahnya dan melepas pegangan
tangannya ketika mereka sampai didapur.
Dyland membuka bajunya membuat Sasya melotot, untuk kedua
kalinya Sasya melihat tubuh sixpack Dyland tp kali ini Sasya melihat dgn jelas
bagian dada bidang Dyland.
Tidak aku tak boleh tergoda..
Sasya berkata dalam hati sambil mengambil pisau y
tergeletak diatas meja dapur.
"awas jika kau berani mendekat atau menyentuhku
pisau ini y akan melukaimu" ancam Sasya berkata sambil mengarahkan pisau
ditangannya kearah Dyland y tersenyum.
"apa y kau pikirkan huh?" Dyland berkata sambil
menatap Sasya y masih mengarahkan pisau kearah Dyland.
Tak ada jawaban dari bibir Sasya.
"aku ingin mandi dan masaklah sesuatu untukku" Dyland
berkata sambil mengambil pelan pisau ditangan Sasya dan menaruhnya ditempat
semula.
"tenang aku memang troublemaker tp aku tak akan
melakukan apapun sebelum kau resmi menjadi istriku"
"lalu bagaimana dgn ciuman tadi?" tanya Sasya
sambil menunduk.
"oh itu, kau yg memaksaku untuk melakukan itu,
seandainya kau tak memanggilku bodoh mungkin aku tak akan menciummu, karena itu
jgn pernah sekali2 memanggilku bodoh atau aku akan menciummu" Dyland
berkata sambil mendekatkan wajahnya dgn wajah Sasya y berdiri didepannya.
"ok's aku lapar, masaklah untukku"
Sebuah belaian lembut Dyland berikan pada Sasya setelah
kata2 itu ia katakan.
"kenapa harus aku, bukanlah ada pelayan y dapat
melakukannya untukmu"
"tapi aku ingin kau y memasak untukku"
"kenapa aku, aku bukan pelayanmu?"
"dasar bodoh, kau memang bukan pelayanku tp kau akan
menjadi istriku, cepatlah masak atau kau ingin aku mati kelaparan karena
menunggu masakanmu"
Kata2 Dyland membuat Sasya terdiam.
Sasya menatap Dyland y menjauh dan menaiki tangga menuju
kamarnya y terletak dilantai dua itu. Dilihatnya Dyland y tlah berada dilantai
atas hingga bayangan Dyland menghilang.
"apa y harus aku lakukan sekarang, aku tak tau
bagaimana caranya memasak"
15 menit kemudian, Sasya tlah selesai memasak spaghetti
untuk Sasya pernah membantu kak shinta memasak spaghetti jd Sasya masih bisa
mengingat sedikit bagaimana cara membuatnya.
Spaghetti ala Sasya tlah tersaji rapi dimeja makan dan
tak beberapa lama Dyland turun dan menghampiri Sasya diruang makan.
Sasya menatap Dyland y rambutny sedikit basah karena
mandi dan Dyland y mengenakan kaos biru laut dgn gambar tengkorak ditengahnya.
"duduk" kata Sasya sambil menyuruh Dyland duduk
ditempat y tlah Sasya sediakan.
"bagaimana kau tau makanan favoriteku"
Dyland berkata sambil duduk dan menatap sepiring
spaghetti y tlah disajikan Sasya.
"apa yg tak aku tau tentangmu" Sasya berkata
pelan berharap Dyland tak mendengarnya.
Sasya berlalu menuju meja dapur dan membersihkan beberapa
pralatan y ia gunakan.
Dyland tersenyum sambil memulai menyantap spaghetti di
depannya, kini Dyland mengunyah spaghetti itu berlahan tp Dyland memuntahkan
kembali spaghetti dari mulutnya kelantai.
"apaan nech, loe mau bunuh gue?" pertanyaan Dyland
membuat Sasya kaget dan menghampiri Dyland.
"kenapa, apa rasanya kurang pas?"
Tanya Sasya pada Dyland y masih terduduk.
"bagaimana bisa kau menjadi istriku jika kau tak
dapat membedakan mana gula dan mana garam, kau tau ini adalah makanan terburuk
yg pernah kumakan" kata Dyland kasar sambil berdiri.
"kalau begitu mengapa kau menyuruhku memasak makanan
untukmu, aku bukan istrimu dan kau tau bahwa aku benci memasak, tapi mengapa
kau menyuruhku dan setelah itu kau membentakku, aku sangat membencimu"
Sasya berlalu pergi setelah kata2 itu ia ucapkan.
Sementara Dyland terdiam sambil menatap Sasya y menjauh.
"dasar bodoh seharusnya kau mengejarku dan meminta
maaf, apa terlalu susah untukmu melakukan itu"
Sasya berkata kesal sambil melangkah mendekati pintu.
Tapi saat Sasya hendak keluar ia mendengar seseorang berteriak cukup keras dari
dalam rumah Dyland.
"AAAAAAA..." teriakan seseorang mengagetkan Sasya
dan sepertinya Sasya mengenali suara itu.
"Dyland!"
Apa y sebenarnya terjadi dgn Dyland??
"Dyland" Sasya berteriak kaget sambil menatap
kebelakang.
"apa terjadi sesuatu dgn Dyland?" tanyanya
resah.
Sasya melangkahkan kakinya kembali kedapur, tp langkahnya
terhenti ketika ia tiba diruang tengah, dilihatnya Dyland y berdiri tepat
disamping televisi sambil menunjuk sesuatu didinding.
"kamu kenapa Dyland?" tanya Sasya sambil terus
menatap Dyland.
"itu ada cicak" Dyland berkata sambil
mengarahkan telunjuknya ketembok.
Sasya menatap cicak kecil yg merayap didinding.
"jadi, kamu teriak2 ga jelas cuma karena cicak kecil
itu?"
Dyland mengangguk.
"loe taukan gue benci cicak"
"takut" ledek Sasya.
"bukan takut cuma benci ajah, bodoh"
Kata Dyland sambil mengusap keningnya y penuh keringat
dgn tangan.
"aku ga nyangka ternyata sang troublemaker sekelas Dyland
takut dgn cicak" ledek Sasya lagi membuat Dyland mengeraskan suaranya.
"GUE BUKAN TAKUT TAPI BENCI''
Kata2 Dyland itu membuat Sasya tersenyum.
"kenapa diam, cepat usir cicak itu dari hadapan gue"
"maaf, aku sibuk" kata Sasya dan berlalu pergi
tak menghiraukan Dyland y terus meneriaki namanya.
"dasar bodoh, seharusnya kau membantuku mengusir cicak
ini, apa kau benar2 marah padaku?" kata Dyland sambil berjalan kedapur dan
mengambil sapu y tergeletak dipinggir pintu lalu Dyland kembali keruang Tv dgn
sapu ditangannya.
"dasar cicak bodoh, pergilah atau akan aku cincang
ekormu, hush..hush" Dyland berkata sambil mengusir sang cicak dgn sapu
ditangannya dan itu membuat Sasya y menatap Dyland dari belakang tembok
tersenyum.
Kini Sasya selihat sisi lain Dyland sang troublemaker, Dyland
y biasanya cuek,kasar dan lebih cenderung angkuh kini menjadi lemah dan
ketakutan hanya karena seekor cicak.
Sasya terus menatap Dyland y tak henti2nya mengusap
keringat dikeningnya.
Yah.. Dyland akan berkeringat cukup banyak ketika ia
ketakutan seperti ini.
"bukankah loe Dyland, everyting is gonna be
ok's"
Sasya berkata sambil menatap Dyland y kewalahan mengusir
cicak yang tak kunjung pergi..
**keesokan harinya**
Sasya mendapati Dyland y sedang berjalan seorang diri
menuju sekolah dan Sasyapun langsung berlari dan menyimbangi langkah Dyland y
cukup cepat.
"wajah kamu kenapa?" tanya Sasya ketika
mendapati kening Dyland terluka.
"apa peduli loe" jawab Dyland kasar.
"apa semua ini karena cicak kecil itu?"
Sasya terus berjalan disamping Dyland y mengenakan topi.
"semua ini tak mungkin terjadi jika kau menolongku,apa
kau membiarkan calon suamimu ketakutan seperti itu"
"maaf" kata Sasya bersalah sambil menghentikan
langkahnya.
Menyadari Sasya tak disampingnya Dylandpun berhenti dan
menatap kebelakang, dilihatnya Sasya y menunduk terdiam.
Dyland kembali mundur dan berdiri disamping Sasya.
"sudah lupakan, ayo kita berangkat"
Tak ada jawaban dari Sasya membuat Dyland menarik tangan Sasya
dan menggandengnya hingga mereka tiba disekolah.
Beberapa anak menatap Dyland dan Sasya tajam sambil
mengatakan sesuatu pada temannya.
Dyland merasa risih dgn tatapan aneh semua murid pagi
ini.
"kenapa mereka semua natap gue seolah olah gue baru
aja jadi narapidana?" Dyland berkata pelan sambil terus menggandeng tangan
Sasya hingga sampai didepan kelas.
"cie..cie y baru jadian, makan2 dunk dil" aldy
berkata sambil menatap Dyland y berdiri didepan kelas.
"selamat sob, akhirnya loe punya pacar
juga"timbal beni sambil merangkul pundak Dyland tapi Dyland menepisnya.
Sasya y berdiri disamping Dyland hanya terdiam melihat
ketiganya y berbicara.
"kalian mau kuping kalian gue kukus" ancam Dyland
yg dibalas dgn senyuman oleh aldy dan beni.
"kapan jadiannya, cerita2 dunk sama kita" beni
berkata sambil menaikkan alisnya membuat Dyland kesal dan aldy hanya mengangguk.
"wah yg baru jadian mesrah banget" kata wulan
yg baru tiba sambil duduk dibangkunya.
"kalian ngomong apa gue ga ngerti?"Dyland
berkata keras membuat kelas hening.
"kalian pacarankan?" tanya beni sambil menatap Sasya
dan Dyland bergantian.
"siapa juga y pacaran?" kata Dyland kesal.
"nah kalau ga pacaran ngapain pegang2 tangan segala,
udah ngaku ajah" kata2 aldy membuat Dyland menatap tangannya y masih
mengandeng tangan Sasya begitupun dgn Sasya.
Dyland menjauhkan tangannya dari tangan Sasya.
"pantesan semua org natap aneh gue, ternyata ini
sebabnya" kata Dyland dalam hati sambil menatap Sasya y terdiam.
"Sasya bukan pacar gue" kata2 Dyland membuat Sasya
menatapnya.
Terlihat kekecewaan diwajah Sasya saat ini.
Sasyapun langsung berlari keluar kelas dan menjauh dgn
rasa kecewa y mendalam.
"apa maksudnya semua itu, bukankah kemarin kita baru
saja resmi jadian, atau hanya perasaanku saja y terlalu berlebihan, bukankah ia
tak pernah memintaku dgn tulus untuk menjadi pacarnya"
Sasya terduduk ditaman belakang sekolah seorang diri, ia
benar2 tak mengerti sosok Dyland terkadang ia membuat Sasya tersenyum tapi tak
jarang ia membuat Sasya menangis.
"cinta itu memang sulit dimengerti" kata
dhariel tiba2 sambil duduk disamping Sasya. Dgn cepat Sasya menghapus air
matanya.
"sejak kapan kamu disini?" tanya Sasya pada
dhariel yg mencoba menghapus air matanya.
Sasya menatap dhariel tajam, ternyata dhariel lebih
mengerti dirinya dibandingkan Dyland y slalu membuatnya sedih.
"minumlah"
Dhariel memberikan Sasya minuman kaleng yg baru dibukanya
dan Sasya mengambilnya.
"terimakasih" Sasya berkata sambil meneguk
minuman ditangannya.
"aku dengar kamu dan Dyland resmi berpacaran,
selamat semoga hubungan kalian awet"
Kata2 dhariel membuat Sasya berhenti minum dan menunduk.
"Dyland tak pernah menganggapku sebagai
pacarnya"
Dhariel terdiam mendengar perkataan Sasya.
Dhariel menatap wajah sedih Sasya yg menunduk.
"kau benar2 bodoh Dyland, mengapa kau membiarkan
gadis semanis ini sedih karena ulahmu, seandainya aku adalah kau, aku tak akan
membiarkan dia menangis" dhariel berkata dalam hati.
Dhariel menggenggam tangan Sasya dan menatapnya.
"apa dia selalu membuatmu kesal?"
Sasya mengangguk.
"apa dia selalu membuatmu sedih dan menangis"
Lagi2 Sasya mengangguk.
"kalau begitu lupakan dia" kata dhariel membuat
Sasya menatapnya tajam.
Tiba2 Dyland menghampiri mereka dan menarik kerah baju
dhariel dan
BUGH
sebuah tonjokan mendarat tepat dibibir kanan dhariel
hingga dhariel terjatuh.
"jauhi Sasya atau nyawa loe melayang" ancam Dyland
keras pada dhariel y terduduk sambil mengelus bibirnya y berdarah.
Dhariel tersenyum tipis.
"kenapa dhariel harus jauhi aku, bukankah aku bukan
siapa2 buat kamu, kamu ga berhak mengatur hidupku" Sasya berkata kesal
sambil berdiri dari duduknya.
Membuat Dyland menatapnya.
"sya!" seru Dyland sambil memegang lengan Sasya
tp Sasya menepisnya.
"aku udah terlalu menderita karena kamu, dan terlalu
berharap dapat menjadi sesuatu yg spesial dihatimu, tp sepertinya aku ga akan
pernah berada disana, hatimu benar2 tertutup untukku"
"sya"
"cukup dil, aku ga mau berharap lagi karena aku tau
semuanya akan sia2"
Sasyapun berlalu pergi setelah kata2 itu ia ucapkan dan Dyland
terus menatap Sasya y menjauh.
Dhariel mencoba bangun dan berdiri disamping Dyland.
Dilihatnya Dyland y terus menatap Sasya hingga bayangan cewe manis itu hilang.
Dhariel menyolek lengan Dyland membuat Dyland menatapnya.
"apa?" tanya Dyland kesal.
Tak ada jawaban dari bibir dhariel, dhariel mengepalkan
tangannya dan menonjok wajah Dyland.
"APA APAAN INI?" Teriak Dyland sambil menatap
dhariel y tersenyum tipis.
"itu balasan karena loe nonjok gue tadi, dan.."
Bugh... Untuk kedua kalinya tonjokan dhariel mendarat
tepat dipipi Dyland.
"dan itu karena loe udah buat Sasya kecewa"
Dhariel berkata sambil menatap Dyland y terdiam.
"Sasya sangat mencintai loe dil, apa loe akan terus
sakiti dia"
Dhariel kembali duduk dibangku panjang taman, sementara Dyland
masih berdiri membelakanginya menghadap parkiran.
Telinganya masih mendengarkan setiap kata y diucapkan
dhariel.
"udah dua kali gue nembak Sasya, gue jujur tentang
perasaan gue y sayang bgd sama dia, tapi Sasya menolak"
Dyland membalikkan badannya dan ditatapnya dhariel y
menunduk.
"gue ga tau kenapa Sasya nolak, apa yg kurang dari
diri gue, gue tampan, gagah, ramah, dan romantis tp kenapa Sasya ga pernah
tertarik sama gue, dan sekarang gue tau jawabannya, semua itu karena loe"
Dhariel berkata sambil berdiri dan menatap Dyland
didepannya.
"karena Sasya mencintai loe, dan cuma loe dihatinya
dan gue juga tau kalau loe sangat mencintai Sasya"
Kata2 dhariel membuat Dyland terdiam.
"gue kasih loe waktu sehari untuk merubah sifat
angkuh loe, kalau besok gue masih liat Sasya sedih karena loe. Gue yg akan
rebut Sasya dari loe"
Dharielpun pergi setelah mengucapkan kata2 itu.
Dyland terduduk direrumputan dan menarik nafas panjang..
"apa Sasya sangat mencintaiku?"
*Dikelas Dyland dan Sasya.
Dyland melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas yg tlah
ramai, pandangannya langsung tertuju pada Sasya y duduk sambil menyoret2 buku
didepannya dan Dylandpun segera menghampirinya.
Dyland duduk disebelah Sasya y kebetulan kosong
ditatapnya Sasya y acuh.
"sya, loe marah sama gue?" pertanyaan Dyland
tak dihiraukan Sasya, Sasya masih sibuk dgn buku dan pulpoin ditangannya.
"sya, gue mau ngomong sesuatu sama loe"
"ga ada yg perlu diomongin, semuanya udah
berakhir"
"sya gue ga mau loe marah sama gue, karena loe
satu2nya sahabat gue"
Perkataan Dyland membuat Sasya menatapnya.
Apa Sasya harus benar2 melupakannya.
"aku ada urusan" Sasya berkata sambil berdiri.
Dyland menarik tgn Sasya dan Sasya menepisnya.
Ia berlalu meninggalkan Dyland.
Beberapa siswi menatap mereka tajam sedangkan beberapa
siswa sibuk menyalin PR.
Dyland berdiri dan mengejar Sasya hingga keluar kelas, Dyland
menahan tangan Sasya membuat Sasya berhenti, Sasya berusaha menepisnya tp
pegangan tangan Dyland kali ini benar2 kuat.
"lepasin aku" Sasya berusaha menepis tangan
kekar Dyland.
"dengerin aku dulu, aku mau bicara sesuatu sama
kamu"
"lepasin aku Dyland"
Sasya berkata sambil terus menatap Dyland y memegang
tangannya. Hingga akhirnya..
"Dyland lepaskan tangan kamu dari siswi itu"
seorang guru berkata lantang sambil berdiri didepan Dyland dan Sasya.
Dgn seketika Dyland melepaskan genggaman tangannya,
dilihatnya Sasya berlalu masuk kekelas.
"Dyland, kamu ikut bapak keruangan sekarang"
guru lelaki berkacamata dan berkumis itu berlalu diikuti Dyland dibelakangnya.
*jam istirahat*
Sasya menatap Dyland yg masuk, dilihatnya wajah Dyland y
memerah kecapean plus kepanasan akibat dihukum keliling lapangan, Sasya trus
menatap Dyland hingga tiba Dyland terduduk dikursinya. Dyland mengambil buku
miliknya diatas meja dan mengipas2 kewajah handsomenya.
Dyland menatap Sasya y menatapnya tp Sasya mengalihkan
pandangannya kedepan.
Sasya menatap sebotol es jeruk dimejanya.
"Dyland pasti haus, es jeruk ini adalah minuman
kesukaan Dyland"
*Dyland Beni*
Beni y baru tiba langsung menghampiri Dyland dan duduk
disampingnya.
"loe dihukum lagi" tanya beni pada Dyland yg
sedang menggaruk belakang lehernya.
"gatal, ada kutunya kali" ledek beni sambil
tersenyum pada Dyland y menghentikan garukannya.
Dyland mengambil buku didepannya dan dipukulnya kearah
kepala beni.
"sial, loe mau alis loe gue panggang" ancam Dyland
sambil menatap beni y tersenyum.
"sorry sorry kan becanda, ngomong2 loe tadi
kenapa?"
"loe kan tau kalau tadi gue dihukum"
"bukan itu maksud gue, kejadian tadi didepan
kelas"
"oh itu"
Beni mengangguk, tanpak aldy yg baru tiba dan duduk
didepan keduanya.
"Sasya marah sama gue"
Kata Dyland singkat.
"kok bisa kenapa?"
Dyland terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan beni.
"karena gue ga ngakuin dia sebagai pacar gue"
kata Dyland pelan.
"Apa? jadi beneran loe sama Sasya jadian?"
tanya beni dgn suara sedikit pelan membuat Dyland mengangguk.
"trus sekarang gue harus ngapain?" tanya Dyland
polos sambil menatap Sasya y keluar kelas.
"loe rayu dia, biasanya cewe paling senang
digombalin"
"gue ngegombal, sorry yee"
Pelajaran bhs inggris tlah dimulai,Dyland trus menatap Sasya
y duduk didepannya. Tak biasanya Sasya tak menengok kebelakang untuk melihat
dirinya.
"Apa Sasya benar2 marah sama gue??" Dyland
berkata bingung sambil menggaruk telinga kanannya y tak gatal.
Dyland memiliki kebiasan slalu menggaruk telinganya saat
iya merasa kebingungan.
"apa yg harus gue lakukan sekarang?" Dyland
berkata pelan sambil menatap beni yg pura2 serius mendengarkan penjelasa miss.
Elisa.
Dyland pun mengingat perkataan beni tadi pagi.
"biasanya cewe itu suka dirayu, kalau loe benar2 mau
Sasya maafin loe, rayu dia, gue yakin Sasya langsung maafin loe"
"ahh apa gue benar2 harus ngegombal didepan Sasya,
apa kata ortu gue kalau tau anaknya ngegombal demi seorang cewe, gak akan, gak
akan, gak akan"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar