Facebook Badge

Minggu, 21 Oktober 2012

"The One I Love!" #PART1

“BRENGSEK!” Udah berapa kali gw bilang sama loe, ga usah ikut campur urusan gw, kalau loe masih cinta hidup loe!” cowok tinggi bertopi itu berkata kasar sambil meremas kerah cowok berkaca mata.

“Ta...tapi sumpah, buk..bukan aku yang laporin ka..kamu sama kepala sekolah,” kata cowok cupu itu terbata bata. Tangannya gemetar dan berkeringat.

“Kemarin cuma loe yang lihat gw kabur, jadi siapa lagi yang ngelapor kepala sekolah kalau bukan loe!” cowok bertopi itu berkata sambil menjatuhkan cowok berkacamata itu terjatuh keaspal. Saat ini mereka berada digudang sekolah. Cowok berkacamata bernama aldy itupun merintih kesakitan karena lutut tangannya berdarah.

“Loe lihat kayu itu!” cowok bertopi biru itu berkata sambil mengarahkan tangannya kearah sebuah kayu disamping lemari buku tua membuat aldy menatapnya dan mengangguk.

“Kalau loe masih ikut campur urusan gw, kayu itu yang akan buat loe THE END!!” ancam cowok tinggi itu dan berjalan kearah timur. Diraihnya tas ransel yang tergeletak di aspal dan berlalu pergi meninggalkan aldy yang sibuk dengan luka ditangannya.





Namanya Dyland Alviero Zavantra atau panggil saja Dyland.

Sang troublemaker sekolah yg tak pernah absen dari hukuman. Tinggi,berkulit putih, bermata elang dengan bulu mata lentik dibagian bawah dan bertubuh atletis.

Dyland adalah salah satu siswa yg paling ditakuti disekolah, dan ia lebih sering menyendiri.

Oh iya ada satu rahasia besar, walaupun termasuk cowo liar tapi dyland itu paling takut sama cicak.



***

"Dyland mana,kenapa aku belum melihatnya hari ini?" sasya berkata sambil terus berjalan mengintari kolidor sekolah. Beberapa buku dipegangnya dan didekatkan didadanya.

Matanya terus mengamati setiap murid y berlalu didepannya.

"Apa dia bolos lagi?"tanyanya khawatir.



Melisha veronica anggreani atau sasya adalah siswi cantik berambut panjang kecoklatan yang memiliki mata yang indah,tak begitu tinggi dan selalu ceria. Sasya adalah satu2nya cewe yang bangga bersahabat dgn dyland, banyak gadis menjauhi dyland karena sifatnya tapi tidak dgn sasya, walaupun selalu diacuhkan sasya tak pernah lelah untuk selalu ada disamping dyland.



"Nih!" dyland berkata sambil memberikan sasya sebuah buku bersampul coklat.

"Dyland?"sasya berkata pelan sambil mengambil buku pemberian dyland.

"Buu lo jatuh, makanya jangan kebanyakan ngelamun!"

Dyland menatap sasya yang tersenyum malu "Apa Dyland tau bahwa aku sedang melamunkannya?"

"Jaga diri lo baik2 dan jangan sampai buku itu terjatuh untuk kedua kalinya sehingga mereka membaca apa yg lo tulis dihalaman akhir buku, bukankah itu rahasia lo?" Dyland melangkah menjauh setelah mengatakan kata2 itu sementara sasya cepat2 membuka halaman akhir buku miliknya. Betapa kagetnya ia setelah membaca sebuah tulisan yang ia tulis sewaktu pelajaran sejarah.



Gelap... tak bercahaya, hanya bertemankan hitam dan sepi...

Selalu menyendiri dan tak ingin berbaur dengan yang lainnya..

Menutup hati dan jiwanya, untuk setiap cinta yang mencoba hadir menyapa.

Bukan senyum yang ia berikan, justru cacian dan bentakan yang membuat siapapun menghindar dan menjauh..



Jiwanya memang keras, sekeras baja...

Hatinyapun mungkin lebih keras dari batu..

Tapi dia juga manusia, yang diciptakan sang kuasa

dengan kekurangan dan kelebihan yang berbeda.



Hmm... untuk apa ia hidup???

Entahlah, mungkin dia sendiripun tak tau alasan ia hidup.

Tuhan itu adil dan ia maha mengetahui..

Tuhan tak akan menciptakan mausia dengan Cuma-Cuma

Setiap manusia memiliki tujuan yang telah ditulis olehNya..

Termasuk cowok itu... D.A.Z.



"I LOVE YOU, BOY {D}"



"Hah, apa dia membacanya?"







*Dikelas 12ipaD



"Aku ga boleh mikir apa2, nama cowo dgn awalan D cukup banyak, dan pastinya bukan hanya dyland!"

Sasya duduk dibangkunya barisan dua dari depan kemudian matanya tertuju pada bangku paling belakang dan paling pojok dimana Dyland duduk, tapi ia tak mendapati Dyland disana.

"Kenapa kamu selalu menghilang disaat aku kangen kamu?" kata Sasya sambil membalikkan badannya menghadap kembali kedepan.





Tak mendapati dyland dikelas,Sasyapun langsung keluar kelas. Matanya langsung tertuju pada Dyland yg sedang berjalan keluar gerbang.

"DYLAND!" Teriak Sasya sambil berlari kearah Dyland. Dyland menghentikan langkahnya menatap tajam Sassya yang kini tlah didepannya.

"Ada apa?" tanyanya datar.

"Kamu mau kabur lagi?"pertanyaan Sasya itu membuat Dyland mengangguk.

"Kenapa?" tanya dyland balik. Tak ada jawaban dari bibir merah cewek manis itu.

"Pergi dan masuklah!!" perintah Dyland pada Sasya yg masih terdiam.

Cowok iru melangkahkan kakinya kembali tapi Sasya menarik tangan kanan Dyland membuat Trounlemaker itu tak dapat bergerak.

"Lepasin gue!!" Dyland menepis tangan kanan sasya. Ditatapnya Sasya yang menunduk sedih.

"Apa gue terlalu kasar padanya?" tanya Dyland dalam hati.

"Dyland!"

"Ya."

"Aku ingin ikut dgnmu."

Dyland mengkerutkan keningnya mendengar pernyataan Sassya.

"Dasar bodoh, lo pikir gue bakal bawa lo kabur dan ikut gue?, sekarang masuklah sebelum pelajaran dimulai!"

Sasya menggeleng pelan.

"Kenapa, bukankah kabur dijam pelajaran adalah sesuatu Yang mengasikkan?" tanya Sassya sambil menatap tajam Dyland yang terdiam. Cowok itu mengaruk-garukkan belakang telinganya bingung, sesekali membuang nafasnya berlahan.

Ia benar-benar bingung , apa yang sekarang harus ia lakukan??

"Iya lo benar, kabur dijam pelajaran adalah sesuatu yg sangat mengasikkan, tapi lo gak pantas ngelakuin itu??"

"Kenapa? Bukankah aku juga pelajar sepertimu?"

Dyland menatap tajam sasya yang juga menatapnya, untuk beberapa saat mata mereka saling beradu.

Dyland menaikkan kedua tangannya dan ditaruhnya diatas bahu sasya, ia mencoba mensejajarkan badannya y tinggi dgn tubuh mungil sasya. Dyland membungkukkan sedikit badannya agar sejajar dgn cewek manis itu.

"Ok,lo tau gimana cara memanjat pagar saat seorang guru memergoki lo kabur dijam pelajaran?" Sasya menggeleng.

"Lo tau gimana cara berbohong pada orangtua lo tentang hari menyenangkan yang lo jalani disekolah padahal lo gak pernah tau apa yang tlah terjadi disekolah lo?" Sasya kembali menggeleng.

"Dan lo tau,gimana rasanya mendapatkan sebuah hukuman membersihkan lapangan,lari,terjemur dibawah tiang bendera dalam keadaan matahari tepat diatas kepala kita?"lagi2 sasya menggeleng.

Sasya menundukkan wajahnya tapi Dyland mengangkat dagu sasya hingga sasya menatapnya.

"Masuklah,dan gue akan pergi!"

Dyland menaikkan kembali badannya hingga kembali keposisi awal,menggeser topi yang ia kenakan sedikit kekiri.

"kamu akan baik2 ajah bukan?" Sasya menatap Dyland penuh kekhawatiran. cowok itu mencoba mengangguk dan tersenyum menyakinkan Sassya.

"i'm Dyland,everythin' is gonna be ok!"

Dyland mengelus lemut rambut Sassya yang berhiaskan bandana merah jambu, "Jangan terlalu memikirkanku, itu hanya membuat tubuhmu semakin kurus."

Sassya membelalakan matanya, menatap tajam Dyland yang ulai melangkah menjauhinya, jatungnya seketika berdetk kencang. "Apa Dyland tau, bahwa aku selalu memikirkannya setiap waktu?"





Dyland berjalan keluar gerbang dengan langkah santai sesekali ia menengok kebelakang memastikan sassya telah kembali kekelas tapi ternyata sassya masih berdiri menatapnya. Dyland menghentikan langkahnya dan menatap kebelakang, dilihatnya sassya yg terus menatapnya, dyland mengambil hp disaku seragamnya dan mulai mengetik sesuatu.. tak beberapa lama hp sassya bergetar... sassya mengambil hp disaku seragam putihnya, satu pesan masuk dan sassyapun segera membacanya



From: my B.O.Y (dyland)

Berhenti menatapku seperti itu dan masuklah aku akan kembali dijam ketiga!!



Sassya menutup hp ditangannya dan kembali menatap kedepan, ia mendapati dyland yg berjalan berbelok kekiri menelusuri tembok putih, bayangan dyland pun seketika menghilang. Dengan langkah berat sassya berjalan mendekati kelasnya dilantai bawah. Sassya mengetuk pintu kelas karena miss lisa ternyata telah tiba, sassyapun masuk setelah mendapat senyuman dri guru bhs inggris itu. Sementara tak beberapa lama tampak dyland yang tiba dari balik tembok, pandangannya mengarah pada kelas bertuliskan 12D4.

"Lo benar-benar bodoh, kalau lo jatuh cinta sama gue Sya!"







Tiga jam telah berlalu, bel istirahat telah berbunyi, semua muridpun serentak berhamburan keluar kelas, sebagian memilih pergi kekantin sebagian memilih untuk tetap didalam kelas tak jarang pula yang lebih memilih menghabiskan waktu jeda dengan membaca buku diperpustakaan dan sebagian lagi memilih untuk bermain main dilapangan. Dengan minuman kaleng ditangannya Sassya terus menatap ketengah lapangan dan terduduk dikursi panjang depan kelas, dilihatnya mario sang kapten basket yang sedang bermain basket dengan beberapa temannya, pandangan sassyapun langsung beralih pada dyland yang sedang duduk seorang diri disamping lapangan sambil memperhatikan permainan basket Mario CS. Sassyapun berdiri dan menghampiri dyland.

“Minumlah!” sassya menyodorkan minuman kaleng yang dipegangnya pada dyland. Seketika dyland mendongkakkan wajahnya menatap sassya yang berdiri disamping kirinya.

“Tak perlu,” tolak dyland sambil kembali menatap ketengah lapangan.

Sassya duduk disamping dyland dan membuka minuman kaleng ditangannya.

“Sejak kapan kamu disini?” tanya sassya pada dyland yang asik memperhatikan permainan rio.Tak sedetikpun padangan Dyland beralih dari Mario CS.

“Bukankah gue sudah bilang, gue akan kembali pada jam ketiga.” Dyland berkata tanpa menatap sassya.

“Kenapa gak ikut main sama mereka??” Sassya meneguk minuman ditangannya sambil terus memperhatikan dyland.

“Malas.”

Sassya berhenti minum dan menatap dyland yang berdiri.

“Kamu mau kemana??” pertanyaan sassya membuat dyland menatapnya.

“Toilet, Lo mau ikut??” sassya langsung menggelengkan kepala mendengar perkataan Dyland. Dyland tersenyum tipis dan berlalu pergi.

Ditatapnya Dylad yang semakin menjauh, ia tau tak ada satu orangpun yang ingin menjadi sahabat sang troublemaker sekelas Dyland, tapi Sassya akan buktikan, bahwa troublemaker juga manusia yang memutuhkan orang lain untuk bertahan hidup dan tak semua troublemakers itu menyeramkan.





Waktu telah menjelang sore, bel pulangpun berbunyi. beberapa murid telah keluar kelas dan hanya beberapa murid yang masih tertinggal didalam kelas.

Sassya menatap dyland yang sedang membereskan buku buku dan memasukkannya kedalam tas. Dyland mengenakan topi yang tadi ia lepaskan saat jam pelajaran.

“Gw duluan trob!” Denny berkata sambil menepuk punggung Dylan, Dylandpun mengangguk pelan. Denny telah berlalu dari hadapannya. Dyland menatap sekeliling kelas yg kosong hanya tampak dirinya dan sassya didalamnya.

“Trouby!!” Aldy dari luar kelas menghampiri Dyland dengan surat putih di tangannya. Aldy memberikan surat peringatan itu pada Dyland yang masih terduduk dibangkunya. Dyland menatap surat putih yang kini pindah ketangannya.

“Apaan nech??” tanya Dyland pada aldy yang berdiri disampingnya.

“Surat peringatan.” jawab Aldy singkat sambil menatap Sassya yg berdiri disamping meja.

“Oh yach sya, papa kamu udah datang, dia nunggu kamu digerbang!” perkataan Aldy membuat Sassya mengangguk dan berjalan keluar kelas.

Aldy menatap dyland yang sedang melipat surat peringatan ditangannya dan memasukkannya kekolong meja.

“Surat itu buat ortu kamu bukan buat meja.” kata kata Aldy membuat Dyland menatapnya tajam.

“ Bukan urusan loe, sebaiknya sekarang loe pergi sebelum tangan gw gatal mau mukul seseorang!” mendengar perkataan Dyland Aldypun mundur beberapa langkah.

“Aku Cuma ngasih tau kamu, kepala sekolah akan terus ngasih kamu surat peringatan sebelum orang tua kamu datang kesekolah” Aldy melangkahkan kakinya menjauhi Dyland keluar kelas. Kini hanya dyland didalam ruang besar itu. Dyland kembali mengambil surat yg ia letakkan dilaci meja dan menatapnya.

“kepala sekolah akan terus ngasih kamu surat peringatan sebelum orang tua kamu datang kesekolah” kata kata aldypun terus terliang dipikiran Dyland.







***

Rumah Dyland dan Sasya bersebelahan bahkan jendela kamar merekapun saling berdampingan.

Disanalah awal mula Sasya menyukai Dyland.

Secara diam2 dari balik jendela Sasya selalu memperhatikan Dyland yg sedang menyendiri dan bermain2 dgn kucing peliharaannya. Yah Dyland memiliki seekor kucing yang sangat lucu yang ia beri nama mandy (si manisnya Dyland) ^^.

Mungkin mandylah tempat curhat Dyland selama ini.

Sasya menatap tirai jendela kamar Dyland yang terbuka tapi tak ada seorangpun disana.

"Apa Dyland belum pulang?" ia menatap jam ditangannya

"Jam sepuluh malam,seharusnya dia sudah kembali!" resahnya, Sassya membuka bandana yang menghiasi rambutnya, pandangannya lurus ketirai kamar Dyland.

Tak beberapa lama Sasya melihat Dyland memasuki kamarnya dgn mandy ditangannya.

Cowok tinggi itu masih mengenakan seragam sekolah, diturunkannya mandy kelantai kamar dan Dyland segera melepas tas dipundaknya dan membuangnya keatas tempat tidur.

Dyland tak menyadari bahwa Sasya masih berdiri memperhatikannya.

"Hari ini gue kabur lagi, gue ga tau hukuman apa yang bakal gue terima besok pagi?" Dyland berkata sambil duduk disamping manis yang sedang bermain-main dengan bola kecil pemberian Dyland. Dyland membelai lembut bulu putih kucing kesayangannya itu.

Sasya masih memperhatikan keduanya dalam diam.

Dyland berdiri untuk membuka baju seragamnya dan mengganti dgn kaos biru diatas meja belajar.

Sasya terdiam menatap Dyland membuka baju seragamnya. Tubuhnya yang tegap dan perut sixpacknya terlihat jelas saat ini. Dyland tidak mengenakan kaos dalaman jadi tubuhnya langsung terlihat walaupun ia masih membuka kancing seragam yang ia kenakan.

Dyland mengalihkan pandangannya kedepan jendela kamarnya, betapa terkejutnya ia ketika mendapati Sasya yang menatapnya tanpa berkedip.

Dengan cepat Dyland menutup tirai kamarnya.



"Sejak kapan dia disana?" Dyland meraih baju biru diatas meja belajar dan memakainya.

Sementara, kalian pasti tau apa yang terjadi pada Sasya ^^



Continue ^^





Bagi yang udah terlanjur baca, komentnya jangan lupa yah :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Online Now Icons