Planning pertama
*istirahat Dyland and beni.
"apaan nech?" tanya Dyland sambil menatap
coklat pemberian beni ditangannya.
"coklat buat Sasya" jawab beni.
"kenapa loe kasih gue, loe kasih orangnya ajah
langsung"
Dyland berkata sambil mengembalikan coklat pada beni tp
beni menolaknya.
"dasar cumi, gue sengaja kasih coklat itu sama
loe,biar loe yg ngasih coklat itu sama Sasya, anggap ajah coklat itu dari loe
untuk Sasya sebagai ucapan maaf"
Kata2 beni membuat Dyland menatap coklat ditangannya.
"gue kasihnya kapan?" tanya Dyland pada beni yg
berdiri didepannya.
"nanti lebaran gajah" jawab beni asal membuat Dyland
tersenyum tipis.
"ok's nanti kalau lebaran gajah tiba loe sms gue"
Dyland berkata sambil berjalan kedepan meninggalkan beni y tampak kebingungan.
Dyland menghampiri Sasya y senang duduk dipinggir
lapangan, matanya terus menatap ketengah lapangan.
Tampak mario cs yg sedang bermain basket.
Sasya duduk dibangku panjang kayu sambil memegang sebotol
air ditangannya.
"buat loe"
Dyland berkata sambil menyodorkan sebatang coklat kearah Sasya.
Sasya terdiam sambil menatap Dyland yg berdiri.
"ambillah"
Dyland menatap Sasya yg berdiri, coklat itu masih berada
ditangan Dyland karena memang Sasya tak langsung mengambilnya.
"ini buat aku?" pertanyaan Sasya membuat Dyland
mengangguk sambil tersenyum senang.
Sasya mengambil coklat dari tangan Dyland dan menatapnya.
"coklat itu sebagai permintaan maaf gue sama loe,
makanlah"
Kata2 Dyland membuat Sasya mengembalikan kembali coklat
ditangannya pada Dyland.
"terimakasih, tapi aku ga suka coklat"
Sasya berlalu pergi setelah mengatakan itu.
Dyland hanya terdiam tak berkutik hingga sebuah bola
basket mengarah kearahnya.
Bugh..
Planning pertama (coklat) GAGAL
"apa? Sasya nolak coklat pemberian loe karena Sasya
ga suka coklat?" tanya beni tak percaya pada Dyland yg mengelus2 kepalanya
akibat bola keras y mengenai kepalanya dan Dyland hanya mengangguk.
"setau gue cewe itu suka coklat, tapi kenapa Sasya
malah ga suka?"
Tanya beni sambil menatap coklat diatas meja miliknya.
Dyland y duduk disampingnya hanya terdiam sambil
mengambil hp disaku seragamnya.
Dyland berdiri membuat beni menatapnya.
"mau kemana loe dil?"
Tanya beni pada Dyland y masih sibuk dgn hp ditangannya.
"toilet" jawab Dyland singkat dan berlalu
pergi.
Planning kedua
*Dyland and mario*
Mario memasuki toilet cowo setelah mendapat pesan dari Dyland
bahwa Dyland menunggunya ditoilet.
Mariopun memasuki toilet dilihatnya Dyland yg sedang
bercermin.
"loe nyari gue, troublemaker?" tanya mario
sambil berdiri disamping Dyland.
Dyland berhenti bercermin dan menatap mario tajam.
"kenapa dil, loe mau berkelahi sama gue disini
karena tadi gue lempar loe pake bola" kata mario lagi.
"jadi loe y lempar bola kekepala gue?" tanya Dyland
dan mario mengangguk.
"Gimana lemparan gue tepatkan mengenai sasaran"
Mario berkata sambil menarik tissue disamping Dyland lalu
meremas dan membulatkannya menjadi seperti bola dan dilemparkan kearah Dyland
hingga mengenai wajah Dyland.
"loe mau mati?" pertanyaan Dyland membuat mario
tersenyum mengancam.
"tonjok gue" kata Dyland tiba2 membuat mario
terkejut.
"apa??" tanya mario sambil menatap Dyland yg
menatapnya tajam.
"tonjok gue, apa perlu gue teriak"
Perkataan Dyland membuat mario berfikir sejenak sebelum
kembali bicara.
"loe mau jebak gue, Dyland?"
Mario berkata sambil menengok kiri kanan.
"gue serius, gue rasa tonjokan loe cukup keras
walaupun ga berarti apa2 buat gue, yah setidaknya bisa melukai wajah gue"
"maksud loe?"
Tanya mario bingung.
"udah jangan banyak nanya, sekarang tonjok gue"
"loe serius?"
Tanya mario sambil menatap Dyland y mengangguk dan
menunjuk pipi kanannya.
Dan tanpa perlu waktu lama mario segera mengepalkan tangannya
dan sebuah tonjokan mendarat tepat dipipi kanan Dyland.
Bugh..
"aww" rintih Dyland kesakitan.
Membuat mario tersenyum puas walaupun sebenarnya mario
masih belum mengerti mengapa tiba2 Dyland menyuruhnya untuk melukai dirinya
sendiri (Dyland).
Dyland menatap wajahnya y terluka didepan cermin toilet
cowo.
"Sasya pasti khawatir liat gue terluka seperti
ini"
Dyland berkata dalam hati dan berlalu keluar.
Sasya menatap Dyland y berjalan kearahnya hingga Dyland
berdiri didepannya.
"bibir kamu kenapa? Kamu berkelahi lagi?" tanya
Sasya pelan.
"udah biasa" jawab Dyland singkat.
"kamu ga mau obatin luka aku?" tanya Dyland
ragu membuat Sasya menggeleng.
"bukankah sudah biasa, berapakalipun aku obatin luka
kamu, kamu akan tetap seperti ini" kata Sasya sambil melangkahkan kakinya
memasuki kelas.
Dari dalam kelas Sasya menatap Dyland yg menunduk, apakah
Sasya salah jika menolak untuk mengobati luka Dyland?
Planning kedua (Luka) GAGAL.
Planning ketiga--->
*Dyland Beny and wulan*
"trus apa rencana loe dil?" tanya wulan sambil
memakan coklat ditangannya. Pertanyaan wulan membuat Dyland menggeleng.
"kenapa loe ga nyoba ngerayu Sasya?"
Kata2 beni membuat Dyland tersenyum sinis.
"ga akan"
Saat ini mereka berada ditaman belakang sekolah.
"gue udah tau apa y harus gue lakukan" Dyland
berkata sambil menatap beberapa anak yg berlalu dihadapannya.
"apa? Loe bakal rayu Sasya?" perkataan beni
membuat Dyland memukul lengan beny.
"udah berapa kali gue bilang sama loe, sampai
kapanpun gue ga akan pernah ngerayu cewe, ngerti" Dyland berkata keras
membuat beni mengangguk.
"trus rencana loe apa?" tanya wulan sambil
menatap Dyland yg tersenyum.
"rahasia, kalian tunggu ajah pulang sekolah
nanti"
Kata2 Dyland membuat beni dan wulan saling memandang
penuh penasaran.
Akhirnya bel pulang berdering Dyland mempercepat
langkahnya keluar kelas mengejar Sasya yg keluar terlebih dahulu.
"Sasya, tunggu gue" teriakan Dyland membuat Sasya
menghentikan langkahnya sambil menatap Dyland yg berdiri disampingnya.
"ada apa Dyland?"
Tanya Sasya sambil mengalihkan pandangannya dari sorot
mata Dyland.
"sampai kapan loe seperti ini sya, jujur gue rindu Sasya
yg dulu selalu ada buat gue"
Dyland berkata sambil menatap Sasya yg tak berani
menatapnya.
"tatap gue sya, kenapa? Loe takut kalau loe ga bisa
benci gue?"
Tak ada jawaban dari Sasya Dyland menggenggam tangan Sasya
dan membawanya hingga ketengah lapangan.
"lepasin gue dil dan biarin gue pergi" Sasya
berkata sambil melepaskan pegangan tangan Dyland.
"gue minta maaf, apa kata maaf gue ga cukup untuk
loe maafin gue"
"kamu pikir dgn kata maaf, hati aku yg udah kamu
sakiti dgn mudahnya memaafkan, kamu udah terlalu melukai perasaanku dil"
Beberapa anak y lewat menatap keduanya tajam.
"kamu tau gimana sakitnya hati aku saat kamu bilang
aku bukan siapa2 buat kamu, selama ini aku bersabar dgn semua perlakuan kasar
kamu tp kali ini kesabaran aku udah habis"
Sasya menundukkan wajahnya, tidak ia tak boleh menangis, Sasya
harus kuat.
"kamu yg mengajari aku mencintaimu, ajari aku pula
cara melupakanmu"
Kata2 Sasya membuat Dyland mendekati dan menaikkan dagu Sasya
agar menatapnya.
"dasar bodoh, apa kau pikir aku akan mengajarimu
bagaimana cara untuk melupakanku kalaupun aku ajarkan aku yakin itu semua akan
sia2 karena kau tak pernah bisa melupakanku"
"aku memang bodoh,karena terlalu mencintaimu"
Kata Sasya membuat Dyland tersenyum.
"dasar bodoh, apa kau marah padaku karena aku tak
mengakuimu sebagai pacarku, apakah itu penting untukmu?"
Sasya terdiam, Dyland masih memegang dagu Sasya yg
lembut.
"aku tak mengakuimu sebagai pacarku karena kau
memang bukan pacarku tapi kau adalah seseorang yg sangat special untukku
melebihi seorang pacar dan aku tak tau apa namanya"
Kata2 Dyland membuat Sasya tersenyum kecil.
"benarkah?"
"dasar bodoh, aku memang selalu membohongi semua
orang tp apa aku pernah berbohong padamu?"
Pertanyaan Dyland membuat Sasya menggeleng.
Dyland menjauhkan tangannya dari dagu Sasya dan
membalikkan badannya membelakangi Sasya.
"seharusnya aku yg marah padamu, karena kau tak
pernah mempercayaiku"
Perkataan Dyland membuat Sasya berdiri disamping Dyland.
"aku percaya padamu"
"kalau kau percaya padaku, kau tak akan marah saat
aku mengatakan kau bukan pacarku, bukankah sebuah kata tak ada artinya jika kau
percaya padaku seutuhnya"
"aku percaya sama kamu Dyland, maaf"
"aku pikir kamu beda dgn semua manusia didunia ini
yg tak pernah mempercayaiku, tp ternyata kau sama seperti mereka"
"Dyland..."
"kamu ga pernah percaya kalau aku benar2
mencintaimu, benarkan?"
Dyland berkata sambil menatap Sasya yg terdiam.
"ternyata kau tak pernah mempercayaiku" Dyland
berkata sambil berlalu pergi.
"Dyland" teriak Sasya, tapi Dyland trus menjauh
darinya.
Dyland menghentikan kakinya dibelakang tembok dilihatnya
wulan dan beni yg sedang menunggunya.
"gila dil, loe benar2 jenius" kata beni.
"gue bisa ngefans sama loe nech kalau kaya
gini" kini giliran wulan y bicara.
"kalian liat ajah sebentar lagi Sasya y akan minta
maaf ama gue" kata Dyland sambil tersenyum licik.
*planning ketiga (umpan balik) Berhasil.. Berhasil..
Berhasil.. Horre :P
Sementara itu..
*Sasya
"aduh, kenapa sekarang jadi Dyland y marah sama
aku?"
Sasya tlah tiba dikamar favoritenya.
Setelah mengganti pakaiannya Sasya langsung merebahkan
tubuhnya diranjang bermotif bunga..
Sasya menatap langit2 kamarnya..
"apa Dyland benar2 marah padaku?"
Sasya berdiri dan menatap keluar jendela ditatapnya kamar
Dyland yg kosong.
"dimana dia?"tanya Sasya sambil terus menatap
kamar Dyland.
*dhariel
"gimana sekolah kamu?" mama berkata sambil
menatap dhariel yg sedang menuntun tv.
"biasa ajah ga ada yg spesial"
Kata dhariel pada mama y duduk disampingnya.
Dhariel mengambil ipod disakunya dan menatap ipod
ditangannya.
Ingatannya pun kembali 7 tahun yg lalu..
(flashback oN)
"ini buat aku aril?" tanya Dyland kecil sambil
menatap ipod pemberian dhariel dan dhariel mengangguk mengiyakan.
"iya, ipod itu buat kamu, sekalian udah aku isiin
lagu favorite kamu"
"makasih ariel"
Dyland tersenyum senang sambil menatap dhariel yg
membalas senyumnya.
"sama2 ian, tapi kamu harus janji akan ngerawat ipod
itu, jangan sampai hilang dan rusak"
Perkataan dhariel membua Dyland mengangguk.
"aku janji ariel"
(flashback off)
"ternyata kamu menepati janji kamu dil,
terimakasih"
*keesokan harinya.
Sasya berpapasan dgn Dyland didepan pintu kelas.
Dyland menatap Sasya y acuh dan berjalan masuk kedalam
kelas.
"kenapa Sasya ga ngomong apa2, seharusnya dia minta
maaf"
Kata Dyland pelan sambil menatap Sasya yg sedang menulis.
"ian" sapa dhariel membuat Dyland menatapnya.
"nama gue Dyland"
Perkataan Dyland membuat dhariel tersenyum.
"gue cuma mau kembaliin sesuatu sama loe"
Dhariel mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya dan
diberikan pada Dyland.
"ipod"
Dyland menatap ipod y kini berpindah ketangannya.
"kenapa ipod gue bisa sama loe?"
Tanya Dyland sambil menatap dhariel yg saat itu
mengenakan jaket biru.
"loe lupa bawa ipod itu karena terlalu fokus dgn Sasya"
Perkataan dhariel membuat dhyland terdiam.
"ternyata loe masih nyimpen ipod pemberian gue"
"ini bukan ipod dari loe, ipod dari loe udah rusak
dan udah gue buang"
Dyland berkata sambil memasukkan ipod kesaku celananya
dan berlalu masuk.
Dhariel menatap Dyland yg duduk dan pandangan dhariel
beralih pada Sasya yg menatapnya dan tersenyum.
"gimana planning loe, berhasil?" tanya beni
pada Dyland y sibuk dgn ipod ditangannya.
"entahlah" kata Dyland singkat.
Tiba2 mega berjalan kearah meja Dyland dan memberikan Dyland
selembar kartu berwarna pink.
"apaan nech? Jgn bilang loe salah satu pengagum
rahasia gue"
Kata2 Dyland membuat mega tertawa.
"siapa juga y mau ngefans sama troublemaker sekelas Dyland"
Kata mega membuat beni tertawa tertahankan karena tatapan
tajam Dyland.
"trus ini apaan?" tanya Dyland sambil menatap
kartu pink ditangannya.
"itu kartu undangan ultah gue besok, gue harap loe
bisa datang, oh iya loe harus datang bareng pasangan loe"
"pasangan gue?"tanya Dyland bingung.
"yepz, setiap kartu yg gue kasih udah gue tulis
pasangannya masing2, loe bisa liat sendiri pasangan loe disebelah kanan kartu
itu"
Mega pun pergie setelah mengucapkan kata2 itu.
"pasangan gue wulan, pasangan loe sapa? Biar gue
liat"
Beni berkata sambil menarik kartu dari tangan Dyland dan
membukanya.
"Dyland and syasya"
Perkataan beni membuat Dyland menatap beni tak percaya.
"Sasya?" tanya Dyland memastikan sambil menatap
beni yg mengangguk.
"kalau jodoh emang gak kemana" kata beni sambil
menatap Dyland y terus menggaruk telinga kanannya.
*dhariel and viona
"hai ganteng, gimana udah siap kepesta besok bareng gue"viona
berkata sambil duduk disamping dhariel.
"kenapa harus dia?" kata dhariel dalam hati.
"jangan lupa loe pake jas kuning karena kebetulan
gaun gue warnanya kuning"
Perkataan viona membuat dhariel mengangguk dgn sedikit
berat.
Sasya menghampiri Dyland yg menunggunya ditaman belakang.
Dilihatnya Dyland yg terduduk dgn kartu pink ditangannya.
"apa ada?"tanya Sasya setibanya disamping Dyland.
"duduklah" perintah Dyland membuat Sasya duduk
disampingnya.
Dyland memberikan kartu pink ditangannya pada Sasya dan Sasya
segera mengambilnya.
"pergilah kepesta dgnku besok" Dyland berkata
sambil berdiri.
"tidak, aku tak pergi"
Kata2 Sasya membuat Dyland menatapnya tajam.
"mengapa apa karena aku y mengajakmu"
"tidak bukan karena itu"
"lalu?"
"aku tak memiliki gaun untuk pesta besok, semua
gaunku sudah tak bisa kugunakan karena kekecilan"
"dasar bodoh, kalau masalah itu aku bisa
mengantarmu"
"apa kau mau mengantarku memilih gaun untuk pesta
besok?"
Dyland mengangguk menjawab pertanyaan Sasya.
Sasya berdiri dan menatap Dyland y berdiri didepannya.
"apa kau tak marah lagi padaku"
Tanya Sasya pelan sambil memandang Dyland y menggeleng.
"dasar bodoh,sudah berapa kali aku katakan padamu,
aku tak akan pernah marah padamu"
Sasya tersenyum mendengar perkataan Dyland.
"aku harus pergi, kau masuklah sebentar lagi
bel" Dyland berkata sambil membelai halus rambut Sasya membuat Sasya
mengangguk.
"Dyland, aku percaya padamu" kata Sasya keras
membuat Dyland tersenyum lebar..
Bel pulang tlah berbunyi, seperti janjinya pada Sasya
sepulang sekolah Dyland akan mengantar Sasya kemall untuk memilih gaun untuk
pesta mega besok malam.
Dyland menunggu Sasya diparkiran.
Dyland berdiri disamping motor tiger biru miliknya,
tanpak sebuah helm ditangannya.
Dyland menatap Sasya yg menghampirinya sambil tersenyum
manis kearah Dyland.
"pakailah" Dyland menyerahkan helm ditangannya
kearah Sasya tp Sasya menolaknya.
"maaf, tapi apa tidak sebaiknya kita naik taxi
ajah"
Kata Sasya sambil menatap rok abu2 selutut yg ia kenakan.
"dasar bodoh apa kau ingin aku membiarkan motorku
disini? Bagaimana jika dicuri orang? Kau tau aku membeli motor ini dgn
tabunganku sendiri, apa kau mau menggantinya jika hilang?"
Pertanyaan Dyland membuat Sasya terdiam.
"hmm, baiklah kita naik taxi" Dyland berkata
sambil menaruh helm diatas motor dan menggandeng tangan Sasya keluar gerbang..
Dgn senyum senang Sasya terus menatap Dyland y memegang
erat tangannya.
Tangan Dyland memang kekar dan kuat, tangan inilah yg
selalu ia gunakan untuk menghajar seseorang, tapi tangan ini menjadi lembut dan
halus
Ketika Dyland menggenggam tangan mungil Sasya.
Mereka tiba dihalte bis depan sekolah..
Melihat tak ada taxi yg lewat akhirnya mereka memutuskan
untuk naik bis menuju mall.
Dyland menatap sekeliling, dilihatnya beberapa siswa y
sedang menunggu bis sepertinya.
"kau kenapa?" tanya Dyland sambil menatap Sasya
yg terus terusan menggigit bibir bawahnya.
"aku takut" kata Sasya dgn suara pelan khasnya.
"apa? Kau takut naik bis?"
Perkataan Dyland membuat Sasya mengangguk.
"dasar bodoh, selama aku disampingmu kau tak usah
takut, lihatlah"
Dyland berkata sambil menaikkan tangan kanannya y
memenggenggam tangan Sasya keudara.
"apapun yg terjadi, aku akan selalu ada untukmu, dan
tangan inilah yg akan terus menggenggammu"
Kata2 Dyland membuat Sasya tersenyum.
Dyland menurunkan kembali tangan mereka dari udara dan
menatap Sasya y masih tersenyum.
"jadi, apakah kau masih takut?"
Sasya menggeleng.
"aku tak takut lagi karena kau ada bersamaku"
"baguslah"
Dyland berkata sambil terus menggenggam tangan Sasya.
"selama gue masih bisa bernafas, tangan inilah yg
akan selalu menggenggam tangan loe,Sasya"
"jangan pernah lepasan tangan kamu Dyland, aku
mohon"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar