Dyland terus mengeluarkan isi laci mejanya mencari
sesuatu.
Aldy y baru tiba langsung duduk didepan Dyland.
"loe nyari apaan Troub?" tanya aldy sambil
membalikkan badannya kebelakang menghadap Dyland.
"ipod" jawab Dyland singkat tanpa menatap aldy
dan terus mencari.
Kertas2 bercoret memenuhi meja Dyland.
Aldy mengambil salah satu kertas dari meja Dyland dan
membaca tulisan yg tertera di sana.
Sementara Dyland masih sibuk mencari.
"i love you girl"
Kata aldy sambil terus membaca tulisan y ternyata adalah
tulisan tangan Dyland.
"loe lanjutin baca, tangan loe patah" ancam Dyland.
Aldy tak menghiraukan dan terus membaca.
"so i decided to write u this song and just to let
you know exactly the way i feel, ajiibb"
"loe lanjutin baca, kaki loe ilang" ancam Dyland
lagi tp tetap tak dihiraukan oleh aldy. Aldy malah berdiri dan berjalan kedepan
kelas.
"perhatian semua, gue mau bacain surat cinta dari Dyland
sang troublemaker sekolah" teriak aldy. Semua matapun kini tertuju pada
ketua kelas itu.
Hanya Sasya y baru tiba y menatap Dyland y menatap tajam
aldy.
"to let you know my love is for real, because i love
you and i'll do anything, if you should feel that i don't really care and that
you're starting to lose ground,
Girl wont you please come on in"
Aldy menatap Dyland sambil menunjukkan evil smilenya.
"loe lanjutin baca, kepala loe putus" ancam Dyland
untuk ketiga kalinya y masih tak dihiraukan aldy.
"i love you, Sasya"
"Sasya!" Teriak anak satu kelas sambil
mengalihkan pandangannya kearah Sasya y terdiam.
"benaran dil loe cinta Sasya?" tanya beni y
duduk disamping Dyland.
Tak ada jwban dr mulut Dyland.
"Dyland cinta gue, apa ini mimpi"
"beneran dil, loe cinta Sasya?" tanya beni lagi
berharap ada jawaban dari bibir Dyland.
Tapi nyatanya Dyland masih terdiam.
"eh tunggu masih ada lanjutannya nech"
perkataan aldy membuat semua siswa berbalik menatapnya.
"gue ga tau kenapa, setiap kali loe disisi gue, hati
gue bahagia dan senang dan saat loe jauh hati gue sedih dan kehilangan, karena
loe gue masih ada disekolah ini khususnya dikelas ini, karena loe gue sempetin
hadir saat pelajaran matematika pelajaran y paling gue benci hanya untuk
melihat senyum loe.
Karena loe gue berusaha cari masalah sama anak2 agar
mereka marah dan menghajar gue hingga terluka hanya untuk melihat loe mengobati
luka gue"
Sasya terus menatap Dyland y menunduk sambil terus
mendengarkan aldy y masih membaca.
"ahh,percuma gue nulis semua ini toh slamanya loe ga
akan pernah tau perasaan gue y sebenarnya, selesai"
Aldy berkata sambil melipat kertas ditangannya dan
menatap Dyland.
"Dyland, bisa dijelaskan apa y sebenarnya
terjadi?"aldy berkata sambil mengikuti gaya bicara bapak kepala sekolah y
lancang sambil bertolak pinggang.
Kini semua mata tertuju pada Dyland.
Mira mendekati Dyland dan menatap Dyland tajam.
"hah, loe beneran suka sama Sasya, ga salah
tuh?"
"Dyland suka Sasya, sang troublemaker sekolah jatuh
cinta sama siswi berprestasi disekolah, seharusnya loe sadar siapa loe dan
siapa dia" kini giliran kiki y angkat bicara.
Sasya tak dapat bicara apa2 bibirnya seolah2 membeku.
"ternyata loe hebat juga dyl bisa jatuh cinta gue
pikir loe cuma bisa buat masalah" kata beni sambil melakukan high5 dgn
teman sebangkunya.
Kiki berjalan kearah Sasya dan berdiri disamping Sasya
"trus sya, apa jawaban loe, kalau gue jadi loe gue
akan nolak Dyland karena gue yakin masih banyak cowo y baik,ganteng pengertian
buat gue, troublemaker itu cuma merepotkan dan gue ga mau cari mas.."
"CUKUP" teriak Dyland keras memotong perkataan
kiki membuat sekeliling kelas hening.
Dyland berdiri dari duduknya.
"yg jatuh cinta gue kenapa kalian rame, gue ga
pernah minta pendapat kalian dan gue ga butuh"
Sasya menatap Dyland yg terus bicara.
"emang salah kalau gue jatuh cinta, cinta itu halal
untuk siapa saja termasuk gue sang troublemaker, jangan melihat sesuatu dari
covernya tp lihatlah isinya dan apa salahnya jika gue mencintainya bukankah
perbedaan y membuat kita satu"
Seisi kelas terpanah mendengar perkataan Dyland.
"ga biasanya Dyland berfikir dewasa"pikir
mereka.
"ngomong apa gue barusan" Dyland berkata
bingung sambil menampar2 pipinya.
"idiot.. Idiot"
Dyland menatap sekeliling semua mata tertuju padanya.
Dyland menatap mario diluar jendela y mengancungkan jari
tengahnya kearah Dyland sambil tersenyum mengancam.
"dasar gay, kalau berani sini loe masuk" teriak
Dyland pada mario yg mengancamnya keluar kelas.
"Gue tunggu loe di gudang troublemaker" kata
mario dan pergi.
"hah cari mati tuch orang" Dyland berkata tanpa
menyadari seisi kelas yg terus menatapnya.
Dyland berjalan kedepan mendekati aldy yg tersenyum tak
berdosa.
"loe the end" ancam Dyland pada aldy dan
berlalu pergi.
Bel telah berbunyi pelajaranpun kembali dimulai.
*dhariel
Seperti yg tlah disepakati dhariel melangkahkan kakinya
mendekati kantin sekolah.
Matanyapun langsung mencari viona disetiap sudut kantin.
Suara seseorang mengagetkannya.
"dorR.. Nyariin gue yah,kenapa kangen" kata
viona membuat dhariel menatapnya.
"pulpoin gue mana, balikin"
"oh iya lupa ada dikelas" kata viona diiringi
dgn senyum manjanya.
Viona adalah cewe berkulit putih bertubuh tinggi dgn
rambut sebahu kecoklatan keturunan amerika dan viona merupakan siswa tercantik
di sma ini.
Dhariel menatap Sasya y berjalan seorang diri sambil
menundukkan wajahnya dan dharielpun berinisiatif mengejar Sasya.
"dhariel loe mau kemana?"tanya viona sambil
menatap dhariel y menjauh.
"Sasya"teriakan dhariel membuat Sasya
menghentikan langkahnya.
"dhariel" sapa Sasya dan dhariel tersenyum
sambil berdiri disampingnya.
Kini dhariel menggenggam tangan kanan Sasya membuat Sasya
menatapnya tajam.
"gue lapar, temenin gue kekantin"kata dhariel
sambil menarik tangan Sasya. Entah kenapa saat ini Sasya tak bisa menolaknya.
Langkah mereka terhenti ketika berpapasan dgn dhyland y
br keluar dari kantor kepala sekolah.
Dyland menatap tangan dhariel y menggenggam tangan Sasya
dan dhylanpun segera menjauhkan tangan keduanya.
Sasya menatap wajah Dyland yg penuh dgn luka akibat
perkelahiannya dgn mario.
Sasya membelai pipi Dyland y terluka tampak kecemasan
diwajah Sasya saat ini.
"kamu ga apa2?"
Dyland menepis tangan Sasya.
"gue Dyland, everything is gonna be ok's"
Dan Dylandpun berlalu.
"dia siapa?" tanya dhariel pada Sasya y terus
menatap Dyland.
"dia Dyland"
Jawab Sasya singkat.
"bukan itu, maksud aku dia siapa kamu?"
"dia teman sekaligus sahabat aku"
"hanya sebatas itu?"
Sasya mengangguk.
"tapi kenapa dia ga suka aku dekat sama kamu, apa
dia menyukaimu?" pertanyaan dhariel membuat Sasya terdiam.
Sasya bingung harus menjawab apa karena ia sendiri tak
tau jawaban y sesungguhnya.
"apakah Dyland menyukaiku?"
Dyland tiba dikelas. Semua mata tak pernah lepas darinya.
Tatapan mereka yg aneh membuat Dyland risih.
"gue bukan terpidana y baru bunuh orang tadi
pagi" kata Dyland kesal sambil duduk dibangkunya.
Beni menghampiri Dyland dan duduk disampingnya.
"loe beneran suka sama Sasya?"
Tanya beni sambil menunggu jawaban dari Dyland.
"kalau iya kenapa, dosa?" tanya Dyland balik
membuat beni berfikir sejenak sambil memain2kan pulpoin didepannya kemudian
menggeleng.
"benar kata loe, cinta itu halal untuk siapa saja
termasuk loe sang troublemaker"
"kapan gue ngomong kaya githu?" tanya dhyland
bingung.
"lah tadikan loe y ngomong"
Beni menggaruk2kan rambutnya y gimbal.
"trus kapan rencananya loe bakal nembak Sasya?"
tanya beni sambil menaik2kan alisnya.
"tadi bukannya gue udah nembak dia?"
"tadi?kapan?"
"bukankah surat itu udah mewakili perasaan gue?"
"Dyland Sasya itu cewe bukan curut"
"maksud loe apa?"
"surat itu ga ada arti apa2 tanpa kata 'i love u'
dari bibir loe"
"aah, kalau itu ga akan pernah gue lakukan"
Dyland berkata sambil menatap Sasya y baru tiba diantar
dhariel.
Sasya tersenyum pada dhariel y pergi dan Sasyapun
melangkahkan kakinya mendekati bangku miliknya dan duduk.
"Sasya, ada y mau dhylan bicarain sama loe"
kata beni sambil menarik Dyland berdiri.
Sasya menatap beni y terus mendorong pudak Dyland
mendekati meja Sasya tiga bangku didepan Dyland.
"apaan sech, loe mau mata loe ilang sebelah"
ancam Dyland pada beni y tersenyum.
"oks, loe boleh cabut mata gue sebelah gue rela asal
loe bilang 'i love you' sama Sasya" perkataan beni membuat Dyland
menatapnya sinis.
"udah sana, Sasya udah nungguin loe"
Dyland berjalan kearah Sasya dan menatap Sasya y
menatapnya.
"ada apa?"tanya Sasya lembut.
Tak ada jawaban dari bibir Dyland, Dyland menatap
kebelakang dilihatnya beni y sedang mengisyaratkan sesuatu.
"i love you" beni berkata tampa suara hanya
bibirnya y bergerak.
"Dyland" suara Sasya membuat Dyland kembali
menatap mata indah Sasya.
"aku..."
Sasya menatap Dyland penuh arti.
"aku..." Dyland masih sulit melanjutkan
perkataannya.
Sasya mengalihkan pandangannya keluar jendela y ternyata
kembali hujan.
"oh hujan, padahal aku lupa bawa payung" kecewa
Sasya sambil terus menatap keluar jendela.
"i love you"
Dyland berkata pelan sambil berlalu keluar kelas.
Sementara Sasya yg mendengar perkataan Dyland menjadi
diam tak bersuara.
Benarkah, Dyland baru mengatakan 'i love you' padanya
atau Sasya hanya bermimpi.
Dyland terus melangkahkan kakinya menjauh dari kelas,
pikirannya benar2 kacau, ini kali pertama Dyland mengatakan cinta pada seorang
cewe.
Dyland mempercepat langkahnya tapi seseorang menarik
tangannya dan membawanya kebelakang sekolah.
"dhariel?"
Ternyata dhariel y tlah menarik tangan Dyland dan
membawanya kebelakang sekolah.
"apa kabar Dyland?" tanya dhariel sambil
menatap Dyland y menunduk.
"tatap mata gue dil, dan bilang kalau loe kangen
sama gue"
Dhyland terus menunduk. Tak ada jawaban dari bibir Dyland.
*dhyland and dhariel
"gue kangen loe, ian" dhariel berkata pada
dhyland y menunduk.
"gue tau loe marah karena gue ninggalin loe dan
lebih milih mereka, gue lakuin semua itu karena gue tau itu y terbaik buat loe,
gue ga akan pernah buat loe celaka ian"
(flashback onN)
dhiland and dhariel adalah dua sahabat sejati sewaktu
SD.
Dhariel memanggil Dyland dgn sebutan "ian"
sedangkan Dyland memanggil dhariel dgn sebutan ariel.
Dulu Dyland kecil sangatlah pemalu, manja, dan cengeng
sedangkan dhariel sejak kecil tlah terlihat playboy dan tanpan.
Dhariellah y selalu menolong Dyland saat ia diejek
disekolah.
Dyland y lemah berkelahi selalu mendapat pertolongan
dr dhariel.
Suatu hari saat kelulusan SD.
Ian terdiam disamping aril sambil memegang rapot
ditangannya.
Terlihat jelas wajah Dyland y sedih tp dhariel
berusaha menghiburnya.
"kita pasti ketemu lagi ian, aku janji liburan
nanti aku pasti nemuin kamu disini" hibur dhariel kecil pd Dyland y
menunduk.
"kalau kamu pergi, mereka akan terus mengganggu
aku, aku lemah berkelahi ariel, nanti siapa y akan menolongku kalau kau
pergi"
Kata Dyland pada dhariel y saat itu mengenakan topi
sekolah.
Bibir Dhariel tersenyum tapi hatinya terluka,
Ia tak ingin meninggalkan diland seorang diri dikota
besar ini, tp ia tak mungkin membiarkan mamanya pergi seorang diri.
"ian, kamu sama seperti aku, aku cowo kamu juga
cowo, aku makan nasi kamu juga kan?"
Dyland mengangguk.
"aku bisa berkelahi dan kamu juga harus yakin
bisa melakukan itu"
"tapi aril mereka sangat banyak, aku takut"
"tak usah takut Dyland mereka hanya lima orang,
aku yakin nanti kalau kamu dewasa, kamu akan mengalahkan lebih dari
mereka"
"tapi apa aku bisa melakukannya?" tanya Dyland
membuat dhariel berdiri dari duduk.
"bukankah aku sudah mengajarimu bagaimana cara
melawan mereka?"
Dyland mengangguk.
"saat mereka mendekat tendang kaki mereka hingga
mereka terjatuh"
Dhariel memperagakan sambil menendangkan kakinya
keudara.
"lalu kau pegang wajah mereka dan berikan pukulan
y kuat pada bibir mereka hingga berdarah"
Dhariel terus memperagakan apa y ia katakan.
Kali ini ia mengarahkan sebuah tonjokan keudara.
"setelah itu tendang mereka berulang kali sampai
mereka lemah, dan setelah itu kau akan menang ian"
"wah kau hebat aril aku ingin menjadi kuat
sepertimu"
Dhyland berkata sambil berdiri dan berjalan kearah
dhariel.
Sejak saat itu Dyland berusaha menjadi kuat tanpa
dhariel dan kini semuanya tlah nyata Dyland kecil y lemah telah berubah menjadi
Dyland remaja y kuat dan selalu membuat masalah.
(flashback off)
"gue dgr loe selalu buat masalah disekolah ini, byk
siswa y jadi korban pukulan maut loe, ternyata loe hebat juga"
Dyland tersenyum sinis.
"gue bangga jadi sahabat loe" dhariel berkata
sambil memeluk tubuh kekar Dyland untuk beberapa saat Dyland terdiam,
Dyland ingin melepas pelukan itu tapi ia merindukan saat2
seperti ini.
Akhirnya Dyland melepas pelukan dhariel dan mendorong
dhariel hingga terjatuh.
"gue bukan sahabat loe, dan sekali lagi loe meluk gue
hidung loe gue sita"
Kata Dyland dan berlalu pergi.
"Sasya cantik juga, sepertinya gue suka sama
dia" kata2 dhariel membuat Dyland berhenti dan berbalik kearah dhariel y
mencoba berdiri. Dyland mendorong dhariel untuk kedua kalinya hingga dhariel
terjatuh.
Didekatkannya wajahnya kewajah dhariel y terduduk
"jauhi Sasya atau, jari tangan loe gue kilo"
Dyland berlalu pergi meninggalkan dhariel y tersenyum.
Dhariel mengambil ipod hitam milik Dyland dari saku
seragamnya dan menatapnya.
"gue senang loe masih nyimpen i-pod pemberian gue
dil"
continue ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar