Dengan seragam putih abu-abu, Sasya berdiri disamping Pak Bejo yang sedang memperbaiki mesin Mobil mereka yang rusak, jam telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, setengah jam lagi bel masuk akan berbunyi tapi saat ini Sassya masih berada disekitar rumahnya,Udara pagi yang cukup panas menyengat, membuat cewe manis itu kegerahan.
“Apa masih lama pak?”Tanya sassya sesekali menengok pak Bejo yang sedang asik memeperbaiki mesin Mobil.
“Sepertinya masih Non,”Jawabnya tanpa menengok pada Sassya.
“Setengah jam lagi masuk, daripada saya telat lebih baik saya naik bis ajah pak,”Sassya berjalan kearah mobil dan meraih tas pinggangnya yang ia letakkan di jok mobil.
“Wah pak bejo jadi gak enak sama non Sassya,”Pak bejo berusaha mengusap tangannya yang terkena oli sambil menatap sassya yang tersenyum.
“Gak apa2 kok pak, Sassya kan bukan anak kecil lagi,”Sassya memperbaiki letak tas yang ia kenakan dan berlalu pergi meninggalkan pak bejo dengan mobil hitamnya.
Dengan kecepatan diatas rata rata,Dyland mengendarai motor sport biru miliknya,Hari ini ia telah mempersiapkan diri, kalau-kalau sang papa benar benar datang kesekolah, sebenarnya Dyland tak ingin papanya datang kesekolah, karena ia tau akan terjadi kerusuhan nantinya disekolah antara dyland dan papanya.
Dyland mengenakan helm serupa dengan motor birunya, helm yang menutupi wajah handsomenya,ditikungan Dyland memperlambat jalannya ketika ia melihat Sassya sedang berdiri didepan perumahan menunggu bus lewat.
“Bodoh,”dyland menghentikan motornya tepat didepan Sassya yang terkejut menatap kedatangannya.
“Aku tidak bodoh, dan berhenti memanggilku bodoh!”Sassya berlagak marah dan membuang mukanya, membuat dyland yang masih berlindung pada helm itupun tersenyum tipis.
“Mobil mana Mobil?”Dyland menatap sekeliling mencari mobil yang biasa digunakan Sassya kesekolah.
“Mogok.”
“Terus ngapain masih disini,?”Dyland membalikkan tas punggung yang ia kenakan dipunggungnya kedepan dadanya,”menunggu pangeran tampan kayak gue,jemput lo,huh?”
“Tidak, aku tak menunggumu.”
“sudah berapa kali gue bilang sama lo, Lo gak perlu berbohong lagi ama gue, karena...”
Belum selesai Dyland bicara Sassya dengan cepat memotongnya.
“Aku tau apa yang ada dalam pikiranmu,”Sassya meniru cara Dyland berbicara membuat Dyland kembali tersenyum.
Sebenarnya Dyland adalah tipe cowok yang berat dalam senyuman, bisa dibilang senyumnya itu terlalu mahal untuk diberikan untuk semua orang, tapi senyum itu seketika berubah menjadi murah, jika ia berada didekat Sassya seperti saat ini.
“Sudahlah, naik, aku akan mengantarmu,”perintah Dyland sambil menatap Sassya yang terdiam.
“Aku menyuruhmu naik, bukan diam seperti itu, bodoh,”
“Berhenti memanggilku bodoh!!”Teriak Sassya kesal sambil melangkahkan kakinya menjauh dari dyland yang menatapnya tajam.
Dyland melajukan motornya berlahan, beriringan dengan langkah Sassya disampingnya.
“Lo marah?”Dyland masih dalam motornya, mensejajarkan jalan Sassya yang seketika mempercepat.
Tak ada jawaban dari bibir cewe mungil itu, Sassya terus saja berlalu tanpa menghiraukan dyland yang sibuk mengatur kecepatan motornya menyeimbangi jalan Sassya.
“Sya,Naik yuk, gue antar,”Ajak Dyland, tapi langkah sassya semakin cepat, Akhirnya Dyland memutuskan untuk menghentikan motornya.
Dyland menatap Sassya yang semakin menjauh, tak beberapa lama dilihatnya sebuah motor berhenti tepat didepan Sassya, Dyland mempertajam penglihatannya, Orang itu membuka helm yang dikenakannya dan berbincang2 cukup akrab dengan Sassya,sesekali mereka
tertawa bersamaan.Dyland terdiam ketika menatap cowok itu yang berbalik menatapnya.
“Mario??”Dyland tak percaya dengan apa yang dilihatnya, terlebih, saat Sassya bersedia diboncengkan oleh Rio sang kapten sekolah.
Dyland tertunduk lemas, ia merasa kalah jika harus bersaing dengan rio, yah siapa yang tidak mengenal Mario anugrah Malviano, atau rio, sang kapten basket sekolah yang menjadi idola para cewe satu sekolah, dengan mata coklat tua dan alis yang hampir menyatu membuatnya menjadi cowok terfavote disekolahnya,terlebih lagi mario yang jago bermain basket, dan jago dalam semua olahraga itu membuat semua orang terkesima menatapnya, jelas berbanding terbalik dengan Dyland sang troublemaker sekolah yang hanya bisa membuat nama baik sekolah tercemar.
Tapi bukan Dyland jika ia mudah putus asa dan menyerah, Dyland yakin apapun akan ia lakukan untuk mendapatkan cinta gadis manis itu, tak terkecuali jika ia harus bersaing dengan rio yang sempat menarik perhatian Sassya awal masuk sekolah, ataupun mengubah image troublemaker yang melekat didirinya menjadi cowok ramah dan baik hati, tapi bukankah cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang dapat menerima kita apa adanya, dan tanpa perlu perubahan apapun??
“Akan aku lakukan segalanya demi cinta, walaupun harus melukai diriku sendiri,hidupku memang bukan untuk dicintai melainkan untuk mencintainya, demi dia aku rela melakukan segalanya, walau sakit dan luka yang kudapatkan.”
Dyland memarkir motornya disamping motor-motor yang lebih dulu terparkir, dilihatnya motor Mario disebelah kirinya,Dyland tersenyum tipis sambil terus memegang helm yang baru dilepasnya.
“Ternyata MR.Perfect itu telah tiba”
Seperti biasa dengan langkah malas-malasan Dyland menyusuri koridor sekolah, dilihatnya beberapa siswa-siswi menatapnya tajam sambil berbisik-bisik, Dy;and telah terbiasa dengan keadaan itu, setiap hari Ia selalu menjadi bahan gossip disekolahnya, dyland baru ajah, berantem sama anak kelas 12ips2 atau eh itukan cowok yang selalu buat masalah disekolah, yang kemarin baru ajah mendapatkan surat peringatan dan blablablabla....
Dyland hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku teman satu sekolahnya itu, ia tak ingin ambil pusing, masih banyak masalah yang lebih penting dari gossip murahan yang sebenarnya fakta tentang dirinya.
“TROUBY,”teriak Aldy dengan setengah berlari kearah Dyland yang menghentikan langkahnya dan menatap Aldy tajam.
“Ada apa?”
“Orang tuamu, hari ini datangkan kesekolah, bukan apa, berhubung aku ketua kelas, jadi aku bertanggung jawab atas semua yang terjadi,”
Dyland hanya mengangguk angguk mendengar perkataan Aldy barusan, walau bingung tapi Dyland berusaha mengerti.
“Tenang ajah, orang tua gue pasti datang kok.”Kata2 dyland membuat aldy tersenyum lega.
Dyland kembali melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah bersama Aldy disampingnya,sesekali Dyland mengangguk-angguk mendengar ocehan Aldy yang mengiringi perjalanan mereka.
“Terimakasih,”Sassya berkata pelan sambil menatap Mario yang tersenyum.
“Kalau gue hitung, lo udah lebih dari seratus kali mengucapkan terimakasih sepanjang perjalanan hari ini,”Mario mendekatkan wajahnya ke wajah Sassya yang tiba-tiba memerah, membuat Sassya seketika menyender pada tembok putih sekolah,”gak perlu berterimakasih lagi ama gue, karena gue tulus ngantar lo,”Mario menaik turunkan alisnya genit membuat Sassya salah tingkah.
“Aduh, kenapa aku jadi grogi gini sihh,”Sassya memainkan jemari tangannya bingung,sementara Mario hanya tersenyum melihatnya.
“Ternyata lo manis juga, kalau dilihat sedekat ini,”Mario semakin mendekatkan wajahnya pada wajah oval cewe imut itu, Membuat sassya semakin grogi dibuatnya.
“Pulang sekolah ada acara?”Pertanyaan Mario membuat Sassya mengkernitkan dahinya, bingung,,, sebuah pertanyaanpun terlontar dalam fikiran cewe penyuka warna pink itu.
“Apa dia ingin mengajakku ngedate?”Tanya Sassya dalam hati sambil menatap Mario yang tersenyum kearahnya.
“Bagaimana, apa pulang sekolah nanti lo sibuk?”Tanya Mario lagi pada Sassya yang terdiam.
Tiba-tiba datang Dyland dan berdiri didepan keduanya.
“Pulang sekolah nanti,Sassya ada acara sama gue,”Sambung Dyland menjawab pertanyaan yang dilontarkan Mario untuk Sassya.
Sassya menatapnya tajam begitupun Mario, Dyland meraih tangan Sassya dan mengajaknya masuk, membuat Mario menatap Dyland gerang.
“Sudah berapa kali gue bilang sama lo,,Jauhi Mario,”Kata-kata Dyland itu membuat Sassya menatapnya bingung.
Sassya melepas pegangan tangan Dyland dan duduk dikursinya,”kenapa aku harus menjauhi Mario, apa ada larangan untuk tidak boleh dekat dengannya??”Sassya balik tanya pada Dyland yang masih berdiri dengan tas dipundaknya.
“Dasar bodoh, Gue cuma gak mau lo terluka,”Dyland berkata keras dan berlalu keluar kelas.
Sassya hanya mampu terdiam sambil terus menatap Dyland yang berlalu.
Dyland terus menyusuri Koridor sekolah dengan tas masih setia dipundaknya... Sesekali Dyland menatap tajam beberapa anak yang menatapnya aneh,ia melangkahkan kakinya lemas dan tanpa gairah, hingga suara seseorang membuat langkahnya terhenti.
“TROUBLEMAKER,”Teriak Mario, tanpak beberapa siswa berjalan disampingnya.
Dyland menatap mereka tajam sambil tersenyum tipis,”Pertarunganpun dimulai,”Katanya dalam hati.
Akhirnya mario dan beberapa temannya telah berdiri didepan Dyland, Mario mendekatkan wajahnya pada wajah Dyland yang terus menatapnya tajam, dalam beberapa saat mata mereka saling beradu.
“Lo udah ikut campur urusan gue sama Sassya, itu artinya Lo memulai pertarungan ini,”
Mario menatap Dyland sinis dan penuh kebencian.
Dari dulu Mario dan Dyland memang tak pernah akur, selalu saja ada cara untuk mereka memulai pertarungan, entah itu tentang cewe, pelajaran ataupun hobi sekalipun.
Dyland menghela nafas panjang sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Rio,”HMM, kenapa, lo takut kesaing sama gue,huh?”
Kata-kata Dyland itu membuat Mario gerang, ia mengepalkan kedua tangannya dan ingin segera memukul wajah Dyland, tapi teman2 Mario mencegahnya.
“Tenang Yo, kalau lo mau kasih dia pelajaran jangan di sini, lo mau kena hukuman untuk kesekian kalinya,”salah satu teman Mario yang bernama Gilang berkata sambil menarik lengan kanan Mario.Beberapa teman lainnya hanya mengangguk-angguk setuju.
Mario terdiam sebentar sebelum ia kembali bicara, “Oke, gue tunggu Lo, isitrahat nanti digudang belakang sekolah,”Mario berkata pelan sambil menunjuk wajah Dyland yang tersenyum menantang.
“Oke gue datang.”
***
Bughhh....
Mario mendorong tubuh Dyland hingga terjatuh ketanah, saat ini mereka berada digudang sekolah, beberapa jam sebelum istirahat berbunyi Dyland mendapat pesan dari Rio, untuk menemuinya digudang.
Dyland tau apa yang akan dilakukan Rio padanya, karena itu ia tak kaget saat Rio berusaha untuk menghajarnya.
Dyland tersenyum sinis, berusaha berdiri dengan keadaan tenang, membersihkan sedikit noda diseragamnya dan menatap Rio beserta ketiga kawannya yang berdiri melingkarinya.
“Keroyokan nih ceritanya?” Dyland menatap Rio yang telah berpegang pada sebilak kayu ditangannya.Tatapannya begitu tajam dan penuh kebencian.
“Gue jadi takut,” Dyland berlagak ketakutan dengan sengaja menggetarkan jemari-jemari tangannya.
“Berisik Lo,”
Bughh..
Seketika itu pula Mario melayangkan balok ditangannya tepat kekepala Dyland, kejadian yang begitu cepat membuat Dyland tak mampu mengelak.
Untuk kedua kalinya tubuhnya terjatuh ketanah. Mario memerintah beberapa temannya untuk ikut menghajar sang troublemaker itu, Balok kayu itu terus menghantam tubuh kekar sang truoblemaker, dyland menutup kedua matanya, meremas2 jari tangannya, ia mencari tenaga untuk membalas mereka, topi dikepalanyapun terlepas seketika. Hingga akhirnya Dyland mampu menahan kayu ditangan Mario yang hampir mengenai wajahnya, Mario berusaha berontak tapi pegangan tangan Dyland pada kayu itu begitu kuat, berlahan ia berdiri, wajah dan sekujur tubuhnya penuh darah, seketika itupula, mereka berhenti menghajarnya.
Dyland tersenyum sinis, melepas balok kayu kembali pada Rio sebelum sebuah tonjokan melayang tepat pada bibir Rio, hingga terjatuh.
Bugh
Semua terdiam. Gudangpun menjadi sunyi seketiika.
Ia mendekati Mario yg kesakitan, dyland mengambil handphone Mario dari saku seragamnya dan melemparnya kearah Mario yg terduduk lemas.
"telpon bokap lo dan bilang kalau lo gak akan pernah kembali lagi, karena hari ini adalah hari terakhir lo hidup."
Dyland menarik balok kayu ditangan Mario.kini balok kayu itu telah berpindah ketangannya.
Tak ada satupun yg berani melawan dyland, mereka semua terdiam sambil menyaksikan dyland yg memulai aksinya.
Dyland menaikkan balok kayu ditangannya, belum sempat balok itu menghantam kepala Mario, seorang guru memergoki mereka.
"dyland,Mario,dan kalian semua, ikut bapak kekantor,SEKARANG!"
Sassya masih terduduk dikantin, istirahat telah tiba membuat seisi kantin seketika padat.
Seketika ia mempertajam pendegarannya pada beberapa siswi yang baru tiba dan terduduk tepat dibelakangnya, memperbincangkan Dyland, pangerannya.
“tadi gue ngeliat Dyland dikantor kepala sekolah, bisa gue pastiin troublemaker itu pasti buat masalah lagi.”
“Benar dan gue juga liat Mario ikut terlibat pertengkaran dengan Dyland,” suara yang lain menyahuti.
Sassya hanya terdiam sambil terus menyaksikan ketiganya yang sedang asik memperbincangkan pangerannya,hingga suara seseorang memanggilnya.
“Sya, Dyland buat trouble lagi,” Denny berkata sambil terduduk disamping Sassya.
“Aku tau,” jawabnya pelan.
Denny menaruh teh botol yang dibawanya keatas meja, ditatapnya Sassya yang berdiri, “Mau kemana Lo?”
“UKS.”
***
Dyland, Mario dan beberapa murid tampak keluar dari ruang kepala sekolah, Dyland berjalan beririgan dengan Mario, mario menatapnya Geram, tapi ia tak perduli. Keduanya berjalan lurus menuju Toilet pria. Yah, karena perkelahian mereka, akhirnya kedua cowok itu mendapatkan hukuman membersihkan toilet cowok.
“Tunggu pembalasan gue!”Mario menggepalkan tangannya, Dyland tersenyum sinis.
Mario mengelap bibirnya yang masih megeluarkan sedikit darah dengan Tissu, memasuki toilet dan berdiri memandang kaca didepannya. Membuang Tissu ditangannya kearah tepat sampah dipinggir pintu, lalu membasuh wajahnya dengan wastafel,sedikit perih memang tapi ia mencoba menahannya.
Sementara Dyland berdiri dipertengahan pintu, matanya sibuk mencari lap pel atau sapu yang dapat dipakainya untuk bersih-bersih, kepalaya menengok kiri kanan, sesaaat menatap Rio yang masih sibuk dengan lukanya, Dyland tersenyum tipis, menahan nafas sebentar, agar rasa sakit ditubuhnya segera pergi, kemudian berjalan lurus meraih lap pel yang terpampang dibawah jendela.
“Lo sapu dulu, baru lo pel!” perintah Rio saat menatap Dyland meraih alat pembersih lantai itu, Dyland tak perduli ia memasukkan lap itu pada ember yang tersedia didepannya dan langsung menyapukannya pada lantai biru laut. Dyland tak tau bagaimana cara mengepel lantai, terlihat kesulitan diwajah tampannya, Mario yang melihatnyapun tersenyum geli.
“SEKALI LAGI LO SENYUM, gigi lo rontok,” Ancam Dyland saat mendapati Mario menertawakannya. Seketika Mario mengangkat kedua tangannya keatas.
“WUUIIIEESS, Marahh, anak manja kaya lo mana ngerti caranya ngepel, FACT!!” ledek Rio pada Dyland yang menatapnya geram.
Drrrtttt,,,,
Dyland merasakan ponselnya bergetar, ditaruhnya lap itu disampignya, dan ia beralih meraih ponsel disaku celana abu-abunya. Ditatapnya layar sentuh itu, satu pesan masuk dari Sassya.
From: Mine
Temui aku diUKS, sekarang ^^
Dyland tersenyum setelah membaca pesan yang dikirimkan Sassya untuknya. Gadia itu selalu disana, menunggu pagerannya yang terluka untuk segera ia obati, setiap kali ia mendengar Dyland berkelahi, lagkahnya cepat menuju UKS, disana dan akan selalu disana ia menunggu.
Hanya dialah satu-satunya yang khawatir akan keadaan sang troublemaker itu, gadis manis itu berjanji akan selalu menjadi satu-satunya orang yang mengobati luka diwajah tanpan Dyland selamanya.
TO: Mine
Gue lagi dihukum.
From: Mine
Aku tau, aku akan menunggumu.
To : Mine
Tidak perlu, sebaiknya lo pergi, gue gak akan datang.
From : Mine
Aku akan tetap menunggumu ^^
TO: Mine
PERGI DAN JANGAN NUNGGU GUE.
Setelah pesan itu terkirim, Dyland tak medapati lagi pesan balasan dari Sassya,
Ia tau, mungkin saat sekarang, gadis itu marah dan kecewa padanya, ia tak akan lagi menunggu Dyland seperti biasa.
Selintas, Dyland merasa takut, bagaimana jika itu benar-benar terjadi, tak akan ada lagi gadis yang selalu mengiriminya pesan dan menunggunya diUKS sehabis ia berkelahi, mungkin hidupnya akan hancur jika itu benar-benar terjadi.
“Gue harap lo nunggu gue Sya,” harapnya dalam hati. Dyland butuh Sassya dan akan selamanya butuh.
Dyland mempercepat langkahnya setelah selesai menjalani hukuman, kakinya berbelok ke kanan menuju ruang UKS disamping ruang perpustakaan.
“apa dia masih disana?” tanyanya penuh kebimbangan.
Langkahnya terhenti tepat didepan pintu UKS, hatinya seakan luruh mendapati apa yang dilihatnya, cintanya masih menunggunya disana.
Ia tertidur dikursi samping ranjang UKS, berlahan Dyland melagkahkan kakinya mendekati cewe itu.
Ditatapnya Sassya dalam-dalam yang masih memejamkan matanya, mungkin ia kelelahan menunggu Dyland selama berjam-jam dan membuatnya terkantuk dan tertidur.
Dyland tersenyum tipis,dielusnya pelan rambut Sassya, “Bodoh, bukankah gue udah bilang, jangan nunggu gue!” ia berhenti mengelus dan menarik nafasnya panjang.
“Elo benar-benar bodoh,!” nada bicaranya sengaja ia pelankan, ia tak ingin menganggu tidur peri kecilnya. Dyland berusaha menjauh tapi tangannya tak sengaja menyenggol lengan Sassya, seketika itupula gadis itu terbagun.
Wajahnya cukup terkejut mendapati Dyland didepannya, “Dyland!” ia berdiri dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
“Kenapa lo masih disini, bukannya udah gue bilang jangan nunggu gue, dasar bodoh!” Dyland berkata sambil memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa ngilu efek benturan kayu tadi.
Sassya tak banyak bicara, diraihnya kotak P3K dan menggeser bangku satunya sedikit kekiri, Dyland masih menatapnya dalam diam.
“Duduk,”perintah Sassya pada Dyland yang masih berdiri didepannya.
Sassya menarik lengan kanan Dyland dan mendudukkannya dikursi kayu, Dyland tak dapat menolak.
Ditatapnya cewe berbandana itu yang mulai berlahan mengobati luka diwajahnya.
Sassya mengeluarkan betadine serta perban dari kotak P3K, dan diusapkannya pelan pada wajah Dyland yang terluka.
“Berhenti mengkhawatirkan gue, gue...”
“Diamlah,aku sulit mengobatimu kalau kamu terus bicara seperti ini,” bentak Sassya sedikit kencang, membuat cowok tinggi itu seketika terdiam.
Ditatapnya bulu mata sasya y lentik bibirnya yg merah natural, rambutnya y terurai indah bagaikan seorang bidadari dan seketika jantungnya berdetak kencang.
Gadis inilah yang membuat hari-harinya berubah, satu-satunya orang yang mungkin peduli terhadapnya. Seberapa sering Dyland mengusirnya tapi selamanya dia akan tetap disana menunggunya.
Pernah ia tak percaya cinta, tapi kini ia merasakan cinta itu ada dalam diri Sassya. Kedamaian cinta yang tak ingin ia lepaskan, dan ingin selalu disisi gadis itu selamanya.
Ia tak tau, bagaimana nanti hidupnya bisa berjalan normal jika Sassya tak lagi disisinya, Hampa, putus asa dan mungkin bunuh diri.
Gadis didepannya mengelus pelan bibirnya yang berdarah dengan kapas. Sangat hati-hati dan tak ingin melukai Dyland sedikitpun.
“Dyland tau bukan, bahwa kamu memiliki wajah yang sangat tanpan,tapi seketika wajahmu akan berubah jelek, jika kau membiarkan wajahmu penuh luka lebam seperti ini,”
Sassya beralih mengobati luka pada siku kiri Dyland yang darahnya mulai mengering.
Dyland tak menjawab, ia terus menatap Sassya dalam diam.
“Jika kamu terus seperti ini, kamu hanya membuatku cemas, kamu sendiri yang mengatakan padaku untuk tidak selalu mencemaskanmu,bagaimana aku bisa tenang jika pangeranku terluka seperti ini, bagaimana kalau kamu terluka dan mati?”
Sassya berhenti mengobati Dyland, ia menundukkan wajahnya penuh kekhawatiran. Dyland tersenyum tipis, diraihnya dagu Sassya hingga menatapnya.
“I’M Dyland everything’s gonna be oke, percayalah!”
Mata keduanya saling beradu, jantung keduanyapun berdetak begitu kencang..
“Tapi...”Sassya mencoba bicara, tapi Dyland mencegahnya.
“Cukup, jangan bicara apa-apa lagi, Lo percaya gue kan Sya?” Pertanyaan Dyland membuat Sassya mengangguk cepat.
Dyland menjauhkan tangannya dari dagu Sassya dan beralih membuka bandana yang meghiasi rambut hitamnya.
“Bandana ini Cuma buat wajah lo tambah jelek!” Dyland menaruh bandana itu diatas meja UKS, kemudian menatap Sassya yang kembali mengobati lukanya.
"Lo suka gue Sya?" Dyland menatap Sassya tajam yang mulai menampakkan wajah groginya. gadis itu menggulung bawah rambutnya yang sedikit bergelombang, tak dapat ia pungkiri tatapan Dyland yang hampir mirip dengan kecurigaan membuat Sassya salah tingkah.
Gadis itu menggeleng cepat. "Tidak."
"Lalu, kenapa, lo perhatian banget sama gue?" Tanyanya Lagi, Sassya meraih bandana yang diatas meja, memakainya dan berdiri membelakangi Dyland, Sassya menutup matanya, mencari akal untuk menjawab pertanyaan cowok itu.
"Aku,,Aku..Karena aku..!"
Apa yang harus aku katakan sekarang, tak mungkin aku mengatakan, bahwa yah, aku menyukainya, bahkan teramat menyukainya, tapi Dyland tak boleh tau itu. Bagaimana jika dia tak menyukaiku atau bagaimana jikka nantinya aku akan patah hati??
Dyland berdiri sambil terus menatap Sassya yang berdiri membelakanginya, dengan kepala yang terus bergerak kekiri lalu kekanan, ia mengghampiri Sassya dan berdiri disampingnya.
"Kalau kau tak bisa mmemjawab, berarti aku benar,kau menyukaiku!" Cowok itu tersenyum lebar, dan kembali melepas bandana yang berhias indah dikepala Sassya.. cewek itu hanya mampu terdiam.
Sassya meraih sekapsul obat dan diberinya pada Dyland, "minumlah, obat ini akan membuat sakit dikepalamu sedikit hilang!"
"Tak perlu!" Tolak Dyland. ditaruhnya bandana ditangannya diatas meja, menatap tajam Sassya yang berdiri disampingnya. "Jangan terlalu memikirkan dan mencemaskan gue, kalau lo gak pernah suka sama gue, karena gue gak butuh bels kasihan dari lo!" Dylandpun pergi menjauhi Sassya yang menatapnya sedih.
Mungkin sekarang dyland akan marah padanya atau bahkan membencinya, Sassya tau itu.
Tapi seharusnya Dyland sadar, Sassya mengkhawatirkannya bukan karena balas kasihan, tapi karena cinta. Sassya cinta Dyland, That All.
Dyland menghentikan langkahnya dan menatap Sasya dari luar jendela. Dilihatnya wajah Sasya yg menunduk kecewa.
"apa gue bersikap kasar lagi sama Sassya?"
Dyland sadar dirinya memang troublemaker, tak banyak cewek yang akan jatuh hati padanya, ia bukan tipe pria idaman yang selalu dinanti-nanti setiap wanita,ia hanya benda tak berharga yang siapapun tak ingin memilikinya, termasuk Sassya. Bagi Dyland cewek itu sempurna, bahkan terlalu sempurna untuk bersanding dengannya, tapi tak dapat Dyland pungkiri, dialah satu-satunya cewek yang dapat membuat malamnya terasa panjan karena memikirkannya. Tapi ia tau Sassya tak mungkin menyukainya.
Mata Dyland seketika beralih pada seorang siswa bertubuh tinggi dgn rambut poni depan yang meutupi keningnya, berjalan santai memasuki ruang putih itu.
Dilihatnya cowok berseragam sekolah itu menggenggam tangan Sasya.
"siapa dia?"
Continue ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar