Facebook Badge

Jumat, 01 Februari 2013

"The One I Love!" #PART10


LIHAT AKU DISINI, KAU LUKAI HATI DAN PERASAAN INI

TAPI ENTAH MENGAPA, KUBISA MEMBERIKAN MAAF PADAMU

MUNGKIN KARENA..AKU.... BERHARAP KAU DAPAT MENGERTI CINTAKU

MUNGKIN KARENA..CINTA....PADAMU TULUS DARI DASAR HATIKU



MESKI KAU TERUS SAKITI AKU...CINTA INI AKAN SELALU MEMEAAFKAN

DAN AKU PERCAYA NANTI ENGKAU... MENGERTI BILA CINTAKU TAK AKAN MATI..





"KALAU BEGITU, MENIKAHLAH DENGANYA"

kata kata Dyland selalu terliang dipikiran Sassya. jika saja Sassya bisa ia pasti akan bahagia bila menikah dengan dhariel tp kenyataannya ia tak bisa berpaling dari Dyland.hanya Dyland, Dyland dan selalu saja Dyland yg Sassya inginkan.

Sassya membuka pintu mobil silver itu dan berlalu keluar, Sassya terus saja berjalan tanpa arah menjauhi mobil silver itu. tak beberapa lama Dyland tiba, dilihatnya Sassya yg tak ada didalam mobil, Dylandpun menatap sekeliling, ia tak mendapati Sassya diantara beberapa manusia yg berlalu lalang didepannya.

"dimana dia???" tanya Dyland bingung.

Dyland mengambil hp disaku kemejanya dan segera menelpon Sassya, tapi beberapa kali ia mencobanya tetap saja tak ada jawaban dari Sassya. ini kali pertama Sassya tak mengangkat panggilan dari Dyland. apa dia benar benar marah???











"Gue benci loe Dyland"Sassya berkata pelan sambil terduduk disebuah cafe dipinggir jakarta. Saaya terus saja menggigit bibir bawahnya agar ia tak menangis.

"kalau loe ngomongnya pelan, gimana Dyland bisa dengar, jangankan Dyland angin ajah ga akan bisa dengar apa yg loe katakan tadi" kata dhariel yg tiba tiba membuat Sassya terkejut.

"kamu tau dari mana aku disini??" dhariel tersenyum sambil menarik bangku didepan Sassya dan duduk.

"kamu ga sadar kalau dari tadi aku ikutin kamu, aku tau kamu pasti bertengkar dengan Dyland"

dhariel mengelus rambut hitam Sassya penuh cinta, ditatapnya Sassya yg kedinginan, dhariel membuka jas hitam yg ia kenakan dan ia pakaian pada Sassya untuk menutupi gaun pink yg Sassya kenakan. Sassya tersenyum pada dhariel yg duduk didepannya.

"terimakasih untuk semuanya, kau sangat baik padaku" dhariel tersenyum mendengar perkataan Sassya.

"tak perlu, aku akan melakukan apapun untuk kebahagianmu" kata kata dhariel membuat Sassya terharu.

"ikutlah denganku" dhariel berdiri dari duduknya dan menarik tangan kanan Sassya.

"kemana?"tanya Sassya bingung sambil berdiri disamping dhariel.

"nanti juga kau akan tau"

dharielpun mengandeng tangan sassa berlalu menjauhi cafe...





Ternyata dhariel membawa Sassya keatas gedung tertinggi dijakarta.. dhariel berdiri diatas gedung sambil menatap kebawah, mobil mobil dan segalanya dibawah sana terlihat bagaikan semut... sangat kecil dan banyak.

Dhariel menatap Sassya yg berdiri disampingnya dengan wajah sedikit takut membuat dhariel tersenyum tipis.

"kenapa?takut?" tanya dhariel pada Sassya yg menatapnya.

"ti...tidak" kata Sassya sedikit terbata membuat dhariel mencubit pelan pipi kanan Sassya.

"kenapa kau mengajakku kesini??"tanya Sassya pada dhariel y merentangkan kedua tangannya.

"karena aku ingin mengajakmu kesurga" Sassya tersentak mendengar perkataan dhariel.

"apa??" Sassya menatap dhariel penuh tanda tanya??

dhariel masih merentangkan tangannya seolah olah ia ingin terbang.

"ikut gue terjun sya, biar kita mati bareng" kata dhariel pelan membuat Sassya semakin bingung.

Sassya terus menatap dhariel yg kini menatapnya tajam.. mata coklat itu seolah olah menyimpan sebuah mistery membuat Sassya menundukkan wajahnya.

dhariel tiba tiba tersenyum tipis sambil mengusap pelan rambut Sassya.

"kamu benar benar manis jika kebingungan seperti ini" kata kata dhariel membuat pipi Sassya seketika memerah.

"kamu pikir aku beneran ngajak kamu terjun?, ya enggaklah sya, aku cuma becanda kenapa kamu anggap serius,

sekarang loe teriak dan bilang kalau loe benci Dyland"

Sassya menatap tak mengerti apa yg dhariel bicarakan.

"bukankah loe ingin Dyland dengar kalau loe benci dia?" pertanyaan dhariel membuat Sassya mengangguk.

"kalau begitu teriaklah" perintah dhariel sambil melonggarkan dasi yg ia kenakan.

"apa Dyland akan mendengarnya??" dhariel mengangguk pengiyakan.



satu dua tiga detik berlalu suara nyaring teriakan Sassyapun terdengar jelas ditelinga dhariel..

"GUE BENCI LOE, DYLAND, GUE BENCI LOE"



Sassyapun terduduk setelah meneriakkan kata kata itu diikuti dengan dhariel yg duduk disampingnya.

"much better" kata dhariel sambil kembali mencubit pipi kanan Sassya membuat Sassya tersenyum lepas.

" gimana, apa sekarang lebih baik?"tanya dhariel sambil menatap Sassya yg sedang menggenggam hp ditangannya. dan Sassyapun mengangguk pelan.

"terimakasih, untuk semuanya dhariel"

"mengapa kau mengulangi kata kata itu lagi, aku tak mau mendengarnya lagi" dhariel berkata sambil menatap keatas langit langit, tampak beberapa bintang berhampuran indah diatas sana...

Sassya menatap dhariel y asik menatap bintang sesekali dhariel mengulurkan tangannya keatas untuk sekedar mencoba menggapainya.

"seandainya bintang itu dekat, gue udah ambilin seratus bintang buat menemani hari hari sepi loe, dan menyuruh mereka untuk menjadi bodyguard loe jadi kalau Dyland macam macam sama loe, bintang itu yg akan menyerbu Dyland" kata kata dhariel membuat Sassya tertawa lepas.

"nah gitu dung ketawa, kan cantiknya tambah kelihatan" kata kata Dyland membuat Sassya salah tingkah.

"dhariel kau sangat baik padaku, seandainya aku memiliki dua hati aku janji kau yg akan menempati hatiku yg satu lagi" Sassya berkata pelan pada dhariel yg menatap lurus kedepan.

"tapi sayang hati loe cuma satu dan itu hanya untuk Dyland seorang" dhariel berkata tanpa menatap Sassya yg mengangguk.

tiba tiba Sassya berdiri dari duduknya" dhariel, aku ingin ke toilet sebentar, kau akan tetap menungguku disini bukan??" pertanyaan Sassya membuat dhariel mengangguk.

"apa perlu aku antar??" dhariel menatap Sassya yg berdiri, dilihatnya Sassya yg menggeleng.

"tak usah, kau tetap saja disini" Sassyapun berlalu pergi setelah mengucapkan kata kata itu.

Dhariel menatap kesamping, tempat dimana Sassya duduk, dilihatnya hp Sassya yg tertinggal atau mungkin memang Sassya sengaja meninggalkan hp itu disana.

Tiba tiba hp Sassya berbunyi, ternyata seseorang menelponnya, Dhariel mengambil hp disampingnya danmencoba membaca tulisan pada layar sentuh itu..

"MY B.O.Y, apa dia Dyland??" tanya dhariel dalam hati..

dhariel menekan tombol hijau yg berarti ia menggangkat telepon dari Dyland terdengar jelas suara Dyland diseberang telepon.



"Dasar bodoh, mengapa kau meninggalkanku sendiri dan tak mengangkat telepon dariku, apa kau benar benar marah padaku" dharile terus saja mendengarkan Dyland yg masih bicara.Dyland tak tau bahwa yg mengangkat tlp adalah dhariel bukan Sassya.



"sekarang katakan kau dimana, biar aku menyemputmu?"

 "gue dhariel, Sassya bersama gue sekarang, loe tenang ajah" dharielpun segera menutup pembicaraan. dhariel menaruh kembali hp Sassya disampingnya, Dhariel menatap Sassya yg tersenyum sambil berjalan kearahnya.

kini cewe manis itu telah duduk disampingnya dengan dua botol minuman ditangannya.

"minumlah"Sassya menyodorkan Dhariel minuman kaleng ditangan kanannya membuat Dhariel tersenyum meraihnya.

"terimakasih" dhariel membuka minuman ditangannya dan meminumnya tp dhariel berhenti minum dan menatap Sassya yg kesulitan membuka minuman miliknya. Dhariel menaruh minuman miliknya disampingnya dan mengambil minuman dari tangan Sassya dan membukanya.

"terimakasih" kata Sassya pada dhariel yg mengembalikan minuman dalan keadaan terbuka pd Sassya dan dhariel tersenyum tipis.

"suatu saat nanti akan ada seseorang yg mencintai gue dengan tulus kan, sya??" pertanyaan dhariel membuat Sassya menatapnya.

"iya, percayalah suatu saat nanti kamu pasti akan bertemu dengan jodoh kamu, kamu baik dhariel banyak wanita disana yg ingin menjadi pendampingmu" dhariel tersenyum mendengar perkataan Sassya. dhariel meraih minuman kaleng disampingnya dan meminumnya.

"apa dia cantik?"tanya Dhariel pada Sassya.

"sangat cantik"

"apa dia pintar??"

Sassya mengangguk.

"apa dia kaya?" kata kata Dhariel membuat Sassya tersenyum sejenak sebelum kembali menjawab.

"pastinya, yg terpenting dia sangat mencintai kamu dhariel"

tampak senyum senang diwajah dhariel.. walau hatinya masih belum bisa menerima prempuan lain selain Sassya... ia mencoba untuk mulai membuka hatinya.











Dyland terduduk lesu dipinggir mobil silver miliknya,perasaannya saat ini benar benar hancur.

 ia tak menyangka Sassya meninggalkannya hanya untuk bersama dhariel.. Dyland membuka dasi yg sedaritadi melekat dilehernya dan membuangnya dengan kesal ke aspal. Dyland menggaruk garukkan belakang telinga kanannya menandakan ia bingung.. "apa yang harus gue lakuin sekarang???" pertanyaan itulah yg selalu terliang dipikirannya.

ini kali pertama ia merasakan hatinya benar benar sakit... sakit ini begitu menusuk hingga ingin sekali rasanya Dyland pergi dari dunia ini, melupakan segalanya yg telah terjadi  yg hanya membuatnya terluka.



gue kenapa??? bukankah gue Dyland... everything gonna be ok's???
gue ga boleh lemah hanya karena seorang cewe.. gue hidup bukan untuk mikirin cewe gue hidup untuk bersenang senang dan menjauh dari yg namanya patah hati...
gue pasti bisa dan harus bisa ngelupain Sassya, dia bukan satu satunya alasan gue hidup karena gue hidup, tanpa diapun gue masih bisa berjalan berlari dan bernafas..
Gue bukan patah hati gue cuma belum bisa nerima Sassya jauh dari gue, gue bukan lemah gue cuma perlu waktu untuk tegar menghadapi semuanya...!
hahahaha gue emang bego benar benar bego... gue selalu ngatain Sassya bodoh padahal gue lebih ga punya otak, sadarlah Dyland, lupakan segalanya dan kembali pada diri loe yg sesungguhnya, Dyland yg ga pernah peduli tentang perasaan seseorang, Dyland yg lebih mengutamakan dirinya sendiri, Dyland yang tak pernah percaya akan cinta dan kasih sayang yg semuanya bullshit.... itu dunia loe yg sesungguhnya bukan yg sekarang loe jalanin... sekarang adalah lembaran yg dapat dengan mudahnya sobek dan hilang.. 



  bughhhh...

lamunan Dyland bubar saat sebuah mobil hitam menabrak belakang mobilnya. Dylandpun berdiri dan berjalan kearah mobil yg menabraknya.

"keluar loe, sebelum gue main kekerasan" ancam Dyland kesal membuat sang pemilik mobil keluar. betapa terkejutnya Dyland mendapati Mario turun dari mobil hitam itu.

"loe mau mati" ancam Dyland lagi membuat Mario tersenyum mengejek.

"gue nyariin loe dipesta ternyata loe disini!" mario berkata sambil menatap Dyland yg menatapnya kesal.

Dyland menatap beberapa anak keluar dari dalam mobil yg sama dengan Mario.

"urusan kita belum selesai man" mario berkata lagi pada Dyland yg tersenyum sinis.

"sorry, hari ini gue lagi gak minat bunuh orang"Dyland menatap plat belakang mobilnya yg sedikit tergores.. tergores????

 tiba tiba tampak sepengetahuan Dyland,Mario mendorong tubuh Dyland hingga terjatuh..

Dyland menatap KESAL mario yg tersenyum sinis dan mencoba berdiri.

"gimana apa loe masih ga minat bunuh orang??"pancing rio pada Dyland yg sedang membersihkan noda pada kemejanya.

"kalu loe mau ribut jangan disini rame,banyak orang, ikut gue" Dyland berkata sambil melangkahkan kakinya menjauhi jalan besar yg diikuti mario CS.





Ternyata Dyland menghentikan langkahnya disebuah gang kecil.. mario dan ketiga temannya menatap sekekliling, tak ada seorangpun melewati gang sempit itu. Dyland berdiri tepat didepan Mario sementara ketiga teman mario berdiri melingkari Dyland, membuat Dyland berada ditengah tengah mereka.

"sekarang lo dan semua curut curut loe boleh mukulin gue" Dyland berkata sambil membuka kancing kemeja yg ia kenakan.

tanpa perlu waktu lama, Mario dan ketiga temannya memukuli Dyland..

satu detik, dua detik, tiga detik.... Dyland masih bisa berdiri, Dyland masih kuat seperti biasanya,tapi dalam hitungan ke delapan Dyland terjatuh, tubuhnya melemas dan semua organ tubuhnya sulit ia gerakan. Dyland menutup kedua matanya dan mengepalkan jari jari tangannya mencari tenaga, biasanya cara itu ampuh untuk melawan saingannya, tapi enath mengapa saat ini semuanya sia sia, Dyland berusaha dengan kuat mengumpulkan tenaga tapi tetap saja ia tak mampu.. "Dyland tak mungkin lemah"

seketika Dyland teringat Sassya yg selalu tersenyum padanya, senyuman manis itu akankah ia temukan lagi setelah ini, kata kata Sassyapun membuatnya berusaha bertahan.





*suara Sassya dalam pikiran Dyland*

"kau tau bukan kalau wajahmu  sangatlah tampan, tapi seketika wajahmu akan menjadi sangat jelek jika kau membiarkan wajahmu terluka"

"jika kau terus seperti ini kau hanya membuat seseorang yg mencintaimu cemas"

"apa kau tak tau aku menunggumu berjam jam dengan mudahnya kau menyuruhku masuk dan tidur,bagaimana mungkin aku bisa tertidur pulas jika sampai jam12 malampun kau belum kembali,kau tak tau betapa aku mencemaskanmu"

"mengapa kau selalu memanggilku bodoh, aku tidak bodoh justru kau yg bodoh, kau adalah cowo terbodoh yg pernah aku temui, kau bodoh, bodoh,bodoh,bodoh"

"kau bodoh karena meninggalkan aku begitu saja disekolah setelah kau bilang cinta padaku,apa kau tak tau betapa sakitnya aku saat kau berlalu begitu saja dan tak menghiraukan aku yg terus memanggilmu"

"kau bdodoh seharusnya kau tetap disana dan menunggu jawaban dariku, jika kau mencintaiku kau tak akan pernah meninggalkanku"

"kau egois jika kau menyuruhku untuk menjauhi dhariel,karena dengan bersama dhariel aku menemukan sebuah kebahagiaan, kau egois jika kau tak memboiarkan aku bahagia"

"kau tau bukan kau selalu saja mekmbuatku kesal, kau selalu saja memanggilku bodoh, jelek dan kurus, apa kau pikir aku akan bahagia dengan semua itu"

"tapi dhariel, entah mengapa saat disisinya aku menemukan sebuah kedamaian, dhariel selalu mengatakan padaku bahwa aku cantik,aku tau itu hanya sebuah rayuan tapi setidaknya itu dapat membuatku tersenyum"



Semua kata kata Sassya itu membuat Dyland tak mampu melawan mario CS Yg terus menghajarnya.

Dyland terdiam lemah seolah kekuatan dalam dirinya hiland bersama perginya Sassya dari sisinya.

Mario memerintah temannya untuk berhenti memukuli Dyland karena menurut mario itu telah cukup.

mario beserta ketiga temannya berlalu meninggalkan Dyland yg terpapar lemah diaspal jalanan.

ini kali pertama seorang troublemaker sekelas Dyland lemah dan kalah.. sekujur tubuhnya berdarah tapi ia tak peduli, ia mencoba bangun tapi tak bisa, seluruh organ tubuhnya seolah olah tak lagi bernyawa..

"GUE DYLAND, EVERYTHING GONNA BE OK'S!" kata Dyland tegar sambil mencoba berdiri, tapi saat ia mampu berdiri kepalanya terasa sangat pusing, semua yg dilihatnya menjadi kabur dan tiba tiba semuany menjadi gelap...

Dyland kembali terjatuh, tubuhnya lemas dan tak berdaya..

"G..W...cin..ta...lo..e...bo...doh"

itu kata terakhir yg sempat terucap dari bibir Dyland sebelum semuanya benar benar gelap.

batin Dyland, setidaknya jika ia benar benar berakhir hari ini setidaknya kata terakhir yg ia ucapkan adalah Dyland mencintai Sassya, bukankah itu sudah cukup untuk membuktikan betapa besar cinta Dyland untuk Sassya???





tak akan selamanya tanganku mendekapmu

tak akan selamanya raga ini menjagamu

 seperti alunan detak jantungku tak bertahan melawan waktu

dan semua keindahan yg memudar atau cinta yang telah hilang...



tak ada yg abadi...tak ada yg abadi...tak ada yg abadi..



biarkan aku bernafas sejenak...

sebelum...hilaaaang.....





tak akan selamanya tanganku mendekapmu

tak akan selamanya raga ini menjagamu

jiwa yg lama segera pergi... bersiaplah para pengganti...  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Online Now Icons