LIHAT AKU DISINI, KAU LUKAI HATI DAN PERASAAN INI
TAPI ENTAH MENGAPA, KUBISA MEMBERIKAN MAAF PADAMU
MUNGKIN KARENA..AKU.... BERHARAP KAU DAPAT MENGERTI
CINTAKU
MUNGKIN KARENA..CINTA....PADAMU TULUS DARI DASAR HATIKU
MESKI KAU TERUS SAKITI AKU...CINTA INI AKAN SELALU
MEMEAAFKAN
DAN AKU PERCAYA NANTI ENGKAU... MENGERTI BILA CINTAKU TAK
AKAN MATI..
"KALAU BEGITU, MENIKAHLAH DENGANYA"
kata kata Dyland selalu terliang dipikiran Sassya. jika
saja Sassya bisa ia pasti akan bahagia bila menikah dengan dhariel tp
kenyataannya ia tak bisa berpaling dari Dyland.hanya Dyland, Dyland dan selalu
saja Dyland yg Sassya inginkan.
Sassya membuka pintu mobil silver itu dan berlalu keluar,
Sassya terus saja berjalan tanpa arah menjauhi mobil silver itu. tak beberapa
lama Dyland tiba, dilihatnya Sassya yg tak ada didalam mobil, Dylandpun menatap
sekeliling, ia tak mendapati Sassya diantara beberapa manusia yg berlalu lalang
didepannya.
"dimana dia???" tanya Dyland bingung.
Dyland mengambil hp disaku kemejanya dan segera menelpon Sassya,
tapi beberapa kali ia mencobanya tetap saja tak ada jawaban dari Sassya. ini
kali pertama Sassya tak mengangkat panggilan dari Dyland. apa dia benar benar
marah???
"Gue benci loe Dyland"Sassya berkata pelan
sambil terduduk disebuah cafe dipinggir jakarta. Saaya terus saja menggigit bibir
bawahnya agar ia tak menangis.
"kalau loe ngomongnya pelan, gimana Dyland bisa
dengar, jangankan Dyland angin ajah ga akan bisa dengar apa yg loe katakan
tadi" kata dhariel yg tiba tiba membuat Sassya terkejut.
"kamu tau dari mana aku disini??" dhariel
tersenyum sambil menarik bangku didepan Sassya dan duduk.
"kamu ga sadar kalau dari tadi aku ikutin kamu, aku
tau kamu pasti bertengkar dengan Dyland"
dhariel mengelus rambut hitam Sassya penuh cinta,
ditatapnya Sassya yg kedinginan, dhariel membuka jas hitam yg ia kenakan dan ia
pakaian pada Sassya untuk menutupi gaun pink yg Sassya kenakan. Sassya
tersenyum pada dhariel yg duduk didepannya.
"terimakasih untuk semuanya, kau sangat baik
padaku" dhariel tersenyum mendengar perkataan Sassya.
"tak perlu, aku akan melakukan apapun untuk
kebahagianmu" kata kata dhariel membuat Sassya terharu.
"ikutlah denganku" dhariel berdiri dari
duduknya dan menarik tangan kanan Sassya.
"kemana?"tanya Sassya bingung sambil berdiri
disamping dhariel.
"nanti juga kau akan tau"
dharielpun mengandeng tangan sassa berlalu menjauhi
cafe...
Ternyata dhariel membawa Sassya keatas gedung tertinggi
dijakarta.. dhariel berdiri diatas gedung sambil menatap kebawah, mobil mobil
dan segalanya dibawah sana terlihat bagaikan semut... sangat kecil dan banyak.
Dhariel menatap Sassya yg berdiri disampingnya dengan
wajah sedikit takut membuat dhariel tersenyum tipis.
"kenapa?takut?" tanya dhariel pada Sassya yg
menatapnya.
"ti...tidak" kata Sassya sedikit terbata
membuat dhariel mencubit pelan pipi kanan Sassya.
"kenapa kau mengajakku kesini??"tanya Sassya
pada dhariel y merentangkan kedua tangannya.
"karena aku ingin mengajakmu kesurga" Sassya
tersentak mendengar perkataan dhariel.
"apa??" Sassya menatap dhariel penuh tanda
tanya??
dhariel masih merentangkan tangannya seolah olah ia ingin
terbang.
"ikut gue terjun sya, biar kita mati bareng"
kata dhariel pelan membuat Sassya semakin bingung.
Sassya terus menatap dhariel yg kini menatapnya tajam..
mata coklat itu seolah olah menyimpan sebuah mistery membuat Sassya menundukkan
wajahnya.
dhariel tiba tiba tersenyum tipis sambil mengusap pelan
rambut Sassya.
"kamu benar benar manis jika kebingungan seperti
ini" kata kata dhariel membuat pipi Sassya seketika memerah.
"kamu pikir aku beneran ngajak kamu terjun?, ya
enggaklah sya, aku cuma becanda kenapa kamu anggap serius,
sekarang loe teriak dan bilang kalau loe benci Dyland"
Sassya menatap tak mengerti apa yg dhariel bicarakan.
"bukankah loe ingin Dyland dengar kalau loe benci
dia?" pertanyaan dhariel membuat Sassya mengangguk.
"kalau begitu teriaklah" perintah dhariel
sambil melonggarkan dasi yg ia kenakan.
"apa Dyland akan mendengarnya??" dhariel
mengangguk pengiyakan.
satu dua tiga detik berlalu suara nyaring teriakan Sassyapun
terdengar jelas ditelinga dhariel..
"GUE BENCI LOE, DYLAND, GUE BENCI LOE"
Sassyapun terduduk setelah meneriakkan kata kata itu
diikuti dengan dhariel yg duduk disampingnya.
"much better" kata dhariel sambil kembali
mencubit pipi kanan Sassya membuat Sassya tersenyum lepas.
" gimana, apa sekarang lebih baik?"tanya
dhariel sambil menatap Sassya yg sedang menggenggam hp ditangannya. dan Sassyapun
mengangguk pelan.
"terimakasih, untuk semuanya dhariel"
"mengapa kau mengulangi kata kata itu lagi, aku tak
mau mendengarnya lagi" dhariel berkata sambil menatap keatas langit
langit, tampak beberapa bintang berhampuran indah diatas sana...
Sassya menatap dhariel y asik menatap bintang sesekali
dhariel mengulurkan tangannya keatas untuk sekedar mencoba menggapainya.
"seandainya bintang itu dekat, gue udah ambilin
seratus bintang buat menemani hari hari sepi loe, dan menyuruh mereka untuk
menjadi bodyguard loe jadi kalau Dyland macam macam sama loe, bintang itu yg
akan menyerbu Dyland" kata kata dhariel membuat Sassya tertawa lepas.
"nah gitu dung ketawa, kan cantiknya tambah
kelihatan" kata kata Dyland membuat Sassya salah tingkah.
"dhariel kau sangat baik padaku, seandainya aku
memiliki dua hati aku janji kau yg akan menempati hatiku yg satu lagi" Sassya
berkata pelan pada dhariel yg menatap lurus kedepan.
"tapi sayang hati loe cuma satu dan itu hanya untuk Dyland
seorang" dhariel berkata tanpa menatap Sassya yg mengangguk.
tiba tiba Sassya berdiri dari duduknya" dhariel, aku
ingin ke toilet sebentar, kau akan tetap menungguku disini bukan??"
pertanyaan Sassya membuat dhariel mengangguk.
"apa perlu aku antar??" dhariel menatap Sassya
yg berdiri, dilihatnya Sassya yg menggeleng.
"tak usah, kau tetap saja disini" Sassyapun
berlalu pergi setelah mengucapkan kata kata itu.
Dhariel menatap kesamping, tempat dimana Sassya duduk,
dilihatnya hp Sassya yg tertinggal atau mungkin memang Sassya sengaja
meninggalkan hp itu disana.
Tiba tiba hp Sassya berbunyi, ternyata seseorang
menelponnya, Dhariel mengambil hp disampingnya danmencoba membaca tulisan pada
layar sentuh itu..
"MY B.O.Y, apa dia Dyland??" tanya dhariel
dalam hati..
dhariel menekan tombol hijau yg berarti ia menggangkat
telepon dari Dyland terdengar jelas suara Dyland diseberang telepon.
"Dasar bodoh, mengapa kau meninggalkanku sendiri dan
tak mengangkat telepon dariku, apa kau benar benar marah padaku" dharile
terus saja mendengarkan Dyland yg masih bicara.Dyland tak tau bahwa yg
mengangkat tlp adalah dhariel bukan Sassya.
"sekarang katakan kau dimana, biar aku
menyemputmu?"
"gue dhariel,
Sassya bersama gue sekarang, loe tenang ajah" dharielpun segera menutup
pembicaraan. dhariel menaruh kembali hp Sassya disampingnya, Dhariel menatap Sassya
yg tersenyum sambil berjalan kearahnya.
kini cewe manis itu telah duduk disampingnya dengan dua
botol minuman ditangannya.
"minumlah"Sassya menyodorkan Dhariel minuman
kaleng ditangan kanannya membuat Dhariel tersenyum meraihnya.
"terimakasih" dhariel membuka minuman
ditangannya dan meminumnya tp dhariel berhenti minum dan menatap Sassya yg
kesulitan membuka minuman miliknya. Dhariel menaruh minuman miliknya
disampingnya dan mengambil minuman dari tangan Sassya dan membukanya.
"terimakasih" kata Sassya pada dhariel yg
mengembalikan minuman dalan keadaan terbuka pd Sassya dan dhariel tersenyum
tipis.
"suatu saat nanti akan ada seseorang yg mencintai gue
dengan tulus kan, sya??" pertanyaan dhariel membuat Sassya menatapnya.
"iya, percayalah suatu saat nanti kamu pasti akan
bertemu dengan jodoh kamu, kamu baik dhariel banyak wanita disana yg ingin
menjadi pendampingmu" dhariel tersenyum mendengar perkataan Sassya.
dhariel meraih minuman kaleng disampingnya dan meminumnya.
"apa dia cantik?"tanya Dhariel pada Sassya.
"sangat cantik"
"apa dia pintar??"
Sassya mengangguk.
"apa dia kaya?" kata kata Dhariel membuat Sassya
tersenyum sejenak sebelum kembali menjawab.
"pastinya, yg terpenting dia sangat mencintai kamu
dhariel"
tampak senyum senang diwajah dhariel.. walau hatinya
masih belum bisa menerima prempuan lain selain Sassya... ia mencoba untuk mulai
membuka hatinya.
Dyland terduduk lesu dipinggir mobil silver
miliknya,perasaannya saat ini benar benar hancur.
ia tak menyangka Sassya
meninggalkannya hanya untuk bersama dhariel.. Dyland membuka dasi yg sedaritadi
melekat dilehernya dan membuangnya dengan kesal ke aspal. Dyland menggaruk
garukkan belakang telinga kanannya menandakan ia bingung.. "apa yang harus
gue lakuin sekarang???" pertanyaan itulah yg selalu terliang dipikirannya.
ini kali pertama ia merasakan hatinya benar benar
sakit... sakit ini begitu menusuk hingga ingin sekali rasanya Dyland pergi dari
dunia ini, melupakan segalanya yg telah terjadi
yg hanya membuatnya terluka.
gue kenapa??? bukankah gue Dyland... everything gonna be
ok's???
gue ga boleh lemah hanya karena seorang cewe.. gue hidup
bukan untuk mikirin cewe gue hidup untuk bersenang senang dan menjauh dari yg
namanya patah hati...
gue pasti bisa dan harus bisa ngelupain Sassya, dia bukan
satu satunya alasan gue hidup karena gue hidup, tanpa diapun gue masih bisa
berjalan berlari dan bernafas..
Gue bukan patah hati gue cuma belum bisa nerima Sassya jauh
dari gue, gue bukan lemah gue cuma perlu waktu untuk tegar menghadapi
semuanya...!
hahahaha gue emang bego benar benar bego... gue selalu
ngatain Sassya bodoh padahal gue lebih ga punya otak, sadarlah Dyland, lupakan
segalanya dan kembali pada diri loe yg sesungguhnya, Dyland yg ga pernah peduli
tentang perasaan seseorang, Dyland yg lebih mengutamakan dirinya sendiri, Dyland
yang tak pernah percaya akan cinta dan kasih sayang yg semuanya bullshit....
itu dunia loe yg sesungguhnya bukan yg sekarang loe jalanin... sekarang adalah
lembaran yg dapat dengan mudahnya sobek dan hilang..
bughhhh...
lamunan Dyland bubar saat sebuah mobil hitam menabrak
belakang mobilnya. Dylandpun berdiri dan berjalan kearah mobil yg menabraknya.
"keluar loe, sebelum gue main kekerasan" ancam Dyland
kesal membuat sang pemilik mobil keluar. betapa terkejutnya Dyland mendapati
Mario turun dari mobil hitam itu.
"loe mau mati" ancam Dyland lagi membuat Mario
tersenyum mengejek.
"gue nyariin loe dipesta ternyata loe disini!"
mario berkata sambil menatap Dyland yg menatapnya kesal.
Dyland menatap beberapa anak keluar dari dalam mobil yg
sama dengan Mario.
"urusan kita belum selesai man" mario berkata
lagi pada Dyland yg tersenyum sinis.
"sorry, hari ini gue lagi gak minat bunuh
orang"Dyland menatap plat belakang mobilnya yg sedikit tergores..
tergores????
tiba tiba tampak
sepengetahuan Dyland,Mario mendorong tubuh Dyland hingga terjatuh..
Dyland menatap KESAL mario yg tersenyum sinis dan mencoba
berdiri.
"gimana apa loe masih ga minat bunuh
orang??"pancing rio pada Dyland yg sedang membersihkan noda pada
kemejanya.
"kalu loe mau ribut jangan disini rame,banyak orang,
ikut gue" Dyland berkata sambil melangkahkan kakinya menjauhi jalan besar
yg diikuti mario CS.
Ternyata Dyland menghentikan langkahnya disebuah gang
kecil.. mario dan ketiga temannya menatap sekekliling, tak ada seorangpun
melewati gang sempit itu. Dyland berdiri tepat didepan Mario sementara ketiga
teman mario berdiri melingkari Dyland, membuat Dyland berada ditengah tengah
mereka.
"sekarang lo dan semua curut curut loe boleh mukulin
gue" Dyland berkata sambil membuka kancing kemeja yg ia kenakan.
tanpa perlu waktu lama, Mario dan ketiga temannya
memukuli Dyland..
satu detik, dua detik, tiga detik.... Dyland masih bisa
berdiri, Dyland masih kuat seperti biasanya,tapi dalam hitungan ke delapan Dyland
terjatuh, tubuhnya melemas dan semua organ tubuhnya sulit ia gerakan. Dyland
menutup kedua matanya dan mengepalkan jari jari tangannya mencari tenaga,
biasanya cara itu ampuh untuk melawan saingannya, tapi enath mengapa saat ini
semuanya sia sia, Dyland berusaha dengan kuat mengumpulkan tenaga tapi tetap
saja ia tak mampu.. "Dyland tak mungkin lemah"
seketika Dyland teringat Sassya yg selalu tersenyum
padanya, senyuman manis itu akankah ia temukan lagi setelah ini, kata kata Sassyapun
membuatnya berusaha bertahan.
*suara Sassya dalam pikiran Dyland*
"kau tau bukan kalau
wajahmu sangatlah tampan, tapi seketika
wajahmu akan menjadi sangat jelek jika kau membiarkan wajahmu terluka"
"jika kau terus
seperti ini kau hanya membuat seseorang yg mencintaimu cemas"
"apa kau tak tau aku
menunggumu berjam jam dengan mudahnya kau menyuruhku masuk dan tidur,bagaimana
mungkin aku bisa tertidur pulas jika sampai jam12 malampun kau belum
kembali,kau tak tau betapa aku mencemaskanmu"
"mengapa kau selalu
memanggilku bodoh, aku tidak bodoh justru kau yg bodoh, kau adalah cowo
terbodoh yg pernah aku temui, kau bodoh, bodoh,bodoh,bodoh"
"kau bodoh karena
meninggalkan aku begitu saja disekolah setelah kau bilang cinta padaku,apa kau
tak tau betapa sakitnya aku saat kau berlalu begitu saja dan tak menghiraukan
aku yg terus memanggilmu"
"kau bdodoh
seharusnya kau tetap disana dan menunggu jawaban dariku, jika kau mencintaiku
kau tak akan pernah meninggalkanku"
"kau egois jika kau
menyuruhku untuk menjauhi dhariel,karena dengan bersama dhariel aku menemukan
sebuah kebahagiaan, kau egois jika kau tak memboiarkan aku bahagia"
"kau tau bukan kau
selalu saja mekmbuatku kesal, kau selalu saja memanggilku bodoh, jelek dan
kurus, apa kau pikir aku akan bahagia dengan semua itu"
"tapi dhariel, entah
mengapa saat disisinya aku menemukan sebuah kedamaian, dhariel selalu
mengatakan padaku bahwa aku cantik,aku tau itu hanya sebuah rayuan tapi
setidaknya itu dapat membuatku tersenyum"
Semua kata kata Sassya itu membuat Dyland tak mampu
melawan mario CS Yg terus menghajarnya.
Dyland terdiam lemah seolah kekuatan dalam dirinya hiland
bersama perginya Sassya dari sisinya.
Mario memerintah temannya untuk berhenti memukuli Dyland
karena menurut mario itu telah cukup.
mario beserta ketiga temannya berlalu meninggalkan Dyland
yg terpapar lemah diaspal jalanan.
ini kali pertama seorang troublemaker sekelas Dyland lemah
dan kalah.. sekujur tubuhnya berdarah tapi ia tak peduli, ia mencoba bangun
tapi tak bisa, seluruh organ tubuhnya seolah olah tak lagi bernyawa..
"GUE DYLAND, EVERYTHING GONNA BE OK'S!" kata Dyland
tegar sambil mencoba berdiri, tapi saat ia mampu berdiri kepalanya terasa
sangat pusing, semua yg dilihatnya menjadi kabur dan tiba tiba semuany menjadi
gelap...
Dyland kembali terjatuh, tubuhnya lemas dan tak berdaya..
"G..W...cin..ta...lo..e...bo...doh"
itu kata terakhir yg sempat terucap dari bibir Dyland
sebelum semuanya benar benar gelap.
batin Dyland, setidaknya jika ia benar benar berakhir
hari ini setidaknya kata terakhir yg ia ucapkan adalah Dyland mencintai Sassya,
bukankah itu sudah cukup untuk membuktikan betapa besar cinta Dyland untuk Sassya???
tak akan selamanya tanganku mendekapmu
tak akan selamanya raga ini menjagamu
seperti alunan
detak jantungku tak bertahan melawan waktu
dan semua keindahan yg memudar atau cinta yang telah
hilang...
tak ada yg abadi...tak ada yg abadi...tak ada yg abadi..
biarkan aku bernafas sejenak...
sebelum...hilaaaang.....
tak akan selamanya tanganku mendekapmu
tak akan selamanya raga ini menjagamu
jiwa yg lama segera pergi... bersiaplah para
pengganti...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar