Mereka pun tiba dimall, satu jam sudah mereka memutari
mall tapi tak ada satu gaunpun yang menarik perhatian Sasya, dan itu membuat Dyland
sedikit kesal.
Tiba2 Sasya menghentikan langkahnya sambil menatap gaun
pink didepannya.
"Dyland gaun ini bagus banget!" kata Sasya
sumringah sambil memegang sisi pinggang gaun pink itu.
"akhirnya,ayo bayar!"
Dyland berkata sambil menarik tangan Sasya tp Sasya tak
bergerak masih menatap gaun pink didepannya.
"ada apa lagi?" tanya Dyland sambil berdiri
disamping Sasya.
"aku beli gaun ini tapi kamu beli jas ini juga."
Kali ini Sasya berkata sambil memegang jas pink disamping
gaun pink didepannya.
"tidak, aku tak akan membelinya"
Perkataan Dyland membuat Sasya kecewa.
"kau tau aku tak mungkin mengenakan jas pink itu
untuk pesta besok malam, apa kata mereka jika seorang troublemaker sepertiku
mengenakan jas berwarna pink, apa kau ingin membuatku malu?"
Dyland berkata sambil menatap Sasya yg terdiam.
"mengapa kau tak mengatakan sesuatu?"
Pertanyaan Dyland membuat Sasya menatapnya.
"ya sudah, kalau memang kau tak mau membelinya, aku
tak akan pergi kepesta dgnmu"
Kata Sasya kesal sambil melepas pegangan tangan Dyland.
"baiklah, kalau itu maumu, tak ada pesta besok
malam"
Dyland berkata dan berlalu pergi.
"dasar cowo egois, sampai kapan kamu seperti ini
padaku?" kata Sasya kesal dalam hati sambil terus menatap gaun pink
didepannya.
Dyland menghentikan langkahnya dan menatap tangan
kanannya yg ternyata tak lagi menggandeng Sasya, dylanpun membalikkan tubuhnya
dan menatap Sasya yg masih berdiri memandang gaun mahal itu.
"apa kau benar2 menginginkannya?" tanya Dyland
dalam hati sambil melangkahkan kakinya mendekati Sasya.
"aku lapar, temani aku makan" Dyland berkata
sambil meraih tangan Sasya membuat Sasya terkejut...
"tuhan,mengapa saat dia menggenggam tanganku seperti
ini, semua kesal dihatiku hilang? Apa itu pertanda bahwa aku tak mampu
membencinya?"
Akhirnya mereka tiba disebuah tempat makan didalam mall, Sasya
duduk didepan Dyland y lebih dulu duduk.
"mengapa kau duduk, berdiri dan belikan aku sesuatu
untuk kumakan"
Kata2 Dyland membuat Sasya cemberut.
"biasanya cowo yg melakukan itu, berdiri dan belikan
aku bakso"
Kata Sasya sambil menatap Dyland yg mengeluarkan HP dari
saku seragamnya.
"kau menyuruhku?" tanya Dyland sambil menatap Sasya
yg mengangguk.
Sasya menatap meja didepannya, dimana seorang cowo
membawakan makanan dan minuman untuk pacarnya, dan mereka tampak sangat
serasi..
Dyland menatap kearah yg sama dgn Sasya.
"kau ingin aku melakukan itu?"
Sasya mengangguk.
"ga akan pernah" kata Dyland membuat Sasya
cemberut..
"Dyland"panggil Sasya pada Dyland yg asik dgn
hp ditangannya.
"apa?"
"jadilah pangeran untukku selamanya"
Kata2 Sasya membuat Dyland menatapnya.
"apa kau berkata seperti itu, agar aku berbaik hati
dan mau mengambilkan makanan untukmu, tidak akan, kau bi..."
Belum selesai Dyland bicara telunjuk Sasya menyentuh
bibirnya seketika itupun Dyland terdiam.
"i love you, Dyland"
Kata Sasya sambil menatap mata elang Dyland.
Dyland menjauhkan tangan Sasya dari bibirnya.
"i love you too, bodoh"
Perkataan Dyland membuat Sasya tersenyum.
Kini Sasya sadar betapa Dyland sangat berarti untuknya
walaupun Dyland tak pernah bisa bersikap romantis seperti ingin Sasya.
Tpi bagi Sasya Dyland adalah segalanya.
Akhirnya Dyland dan Sasya tiba didepan rumah Sasya.
"masuklah" perintah Dyland pada Sasya yg
berdiri didepannya.
Dan Sasya hanyamengangguk.
"aku akan pergi sebentar"
Perkataan Dyland membuat Sasya menatapnya.
"kemana? Apa kau ingin berkelahi lagi dgn rio"
Kata Sasya dgn wajah sedikit cemas.
"apa kau mencemaskanku, bodoh?"
Tanya Dyland pada Sasya yg menggeleng.
"tidak, aku tak mencemaskanmu, untuk apa? Kau bukan
pacarku"
Kata2 Sasya membuat Dyland tersenyum.
"dasar bodoh, aku memang bukan pacarmu, tapi
bukankah aku pangeran untukmu"
Sasya terdiam sambil terus menatap Dyland yg masih
bicara.
Kini Dyland mencoba membungkukkan sedikit tubuhnya hingga
sejajar dgn Sasya.
Dyland mendekatkan wajahnya pada wajah Sasya yg memerah.
"dengarkan aku, sudah berapa kali aku bilang tau
usah kau mencemaskanku, karena itu hanya membuat tubuhmu semakin kurus" Dyland
berkata sambil menaikkan kembali tubuhnya.
"cepatlah masuk, akan kuhubungi kau jika aku
kembali"
Kata Dyland sambil menatap Sasya yg mengangguk.
"Dyland"
"apa?"
"hati-hati"
Kata Sasya pelan membuat Dyland tersenyum.
"i'm Dyland everything is gonna be ok's"
Kini Sasya yg tersenyum mendengar perkataan Dyland.
"tapi tunggu kau tak ingin menciumku, kurasa pipiku
ini pantas menerimanya"
Dyland berkata sambil mengelus pipi kanannya.
"apa? Aku tak akan menciummu sebelum kau resmi
menjadi suamiku"
"tapi aku pangeranmu bukan?"
"iya kau pangeranku, tp aku tak akan menciummu
sekarang"
"lalu kapan?"
"nanti, setelah kau berubah menjadi pawor rangers
hahaha"
Sasya berkata sambil tertawa tapi kembali terdiam
mendapati Dyland menatapnya aneh sambil menggeleng2kan kepalanya.
"sudah,pergilah aku lelah"
Sasya berkata mencoba menghilangkan kebekuan.
"kau benar2 tak sopan mengusir pangeran setampan
aku"
Kata Dyland PD membuat Sasya tertawa lepas.
Tapi tawa Sasya terhenti seketika ketika Dyland mencium
pipi kanan Sasya.
"selamat sore permaisuriku"
Dylandpun menjauhkan bibirnya dari pipi mulus Sasya
membuat Sasya terdiam.
Sasya menjatuhkan badanNya duduk dibangku panjang diruang
keluarga.
Dgn wajah ceria Sasya terus membelai pipi kanannya.
Ciuman Dyland membuat Sasya tersenyum2 sendiri, beruntung
tak ada orang dirumahnya kalau tidak ia bisa disangka gila..
Suara tlp rumah membuyarkan lamunan Sasya.
"hallo" sapa Sasya sambil mendekatkan gagang
tlp ketelinga kirinya.
Kebetulan letak tlp tepat disamping Sasya.
"hallo, bisa bicara dgn Sasya" tanya seseorang
dari balik tlp.
"aku Sasya, kamu.."
"aku dhariel"
"dari mana kau dapatkan no tlp rumahku?"
"itu tak penting, aku hanya ingin memastikan kau
datang kepesta besok''
"maaf dhariel sepertinya aku tak bisa datang"
"mengapa apakah ada masalah yg cukup serius sehingga
membuatmu tak bisa hadir besok?"
"tidak, ini hanya masalah gaun, aku tak mungkin
pergi tanpa gaun pink itu"
"gaun pink?"
Sasyapun menceritakan semuanya pada dhariel, entah
mengapa Sasya benar2 menginginkan gaun pink itu??
*dhariel
"kau benar2 bodoh Dyland, apa susahnya berkorban
sedikit demi cinta, bukankah kebahagian Sasya adalah segalanya"
Dhariel berkata sambil menatap langit2 kamarnya.
"kalau kau tak mau membelikan gaun itu untuk Sasya
aku yg akan membelikanya dan aku akan menjadi pangeran untuk Sasya"
Dhariel berkata sambil meraih jaket disampingnya dan
berlalu pergi.
Malam tlah tiba, Sasya yg berada dikamar terus menatap hp
ditangannya.
"mengapa Dyland tak menghubungiku, apa dia belum
kembali?" Sasya berkata sambil menatap keluar jendela.
Hari tlah menjelang malam tapi mengapa Dyland belum juga
kembali?
Suara seseorang mengetuk pintu membuyarkan lamunan Sasya.
"kakak" Sasya berkata sambil menatap kak sisyi
y berdiri didepan pintu kamarnya.
Kak sisy membawa sebuah kotak besar ditangannya dan
diberikan pada Sasya.
"tadi ada seseorang y memberikan ini, katanya
pangeran kamu y mengirimi ini untuk kamu"
Kak sissy berkata sambil menaruh kotak besar itu diatas
ranjang milik Sassya dan pergi.
"pangeranku? Apa dia Dyland?" tanya Sasya
sambil membuka kotak besar itu.
Betapa terkejutnya ia mendapati sebuah gaun indah pink y
ia inginkan didalamnya.
"gauN ini"
Kata Sasya sambil mengambil sebuah kartu disela2 gaun
pink itu.
Sasyapun membuka kartu itu dan membacanya.
"datanglah kepesta dgnku besok"
"Pangeranmu *D*"
Sasya terus menatap gaun pink ditangannya... ia bener
bener belum percaya bahwa ia akan memiliki gaun seindah itu.
pandangan Sasya langsung beralih pada tirai kamar Dyland
yang terbuka tapi Sasya tak mendapati Dyland disana.
ditaruhnya gaun pink di atas ranjang dan Sasya beralih
keluar kamar.
"dimana dia, seharusnya Dyland menelponku, apa dia
belum kembali??" tanya Sasya dalam hati sambil berjalan keruang tamu
dilantai bawah. Sasya menuruni tangga tapi langkahnya terhenti ketika kak sissy
memanggilnya dari kamar.
"sa, ada
telpon buat kamu" katanya sambil menampakkan kepala keluar pintu kamar.
"baiklah, aku
akan mengangkatnya di bawah" kata Sasya dan berlalu pergi ke ruang tengah.
Sasya menarik gagang telpon dan mendekatkannya ketelinga
kanannya.
"hallo"
kata Sasya sambil menunggu suara sahutan dari seberang telepon.
"hii"
"dhariel?"
"yepz, ini
aku, apa kamu udah terima hadiah dari aku??"
pertanyaan dhariel membuat Sasya berpikir sejenak
"hadiah??? apa gaun pink itu dari dhariel???"
"hallo, apa hadiah aku telah sampai
dirumahmu??"tanyanya lagi.
"iya,
terimakasih"
"apa kau
menyukainya??"
"tentu"
"maaf jika
ukurannya tak pas dengan kakimu?"
"kakiku???"
tanya Sasya heran sambil membawa gagang telepon
kekamarnya dilantai dua.
"ya, aku tak
tau berapa ukuran kakimu, jd aku hanya mengira ngira, jadi maaf jika
kekecilan"
Sasya benar benar tak mengerti apa yang sedang
dibicarakan dhariel, apa hubungannya gaun dengan ukuran kaki???
Sasya telah tiba
dikamarnya dengan telepon masih ditangannya.
"kak ada hadiah lagi" kali ini sammy adik Sasya
berkata sambil membawa sebuah kotak ditangannya dan ditaruhnya di atas ranjang
disamping gaun pink. dan sammy berlalu pergi.
"sebentar" Sasya berkata sambil
menaruh telepon diatas ranjang dan meraih hadiah dan membukanya.
"sepatu
kaca??"
Sasyapun langsung mengangkat kembali gagang telpon dan
didekatkan ketelinganya.
"kau
mengirimiku sepatu??" tanya Sasya.
"iya, apa kau
menyukainya??? aku harap sepatu kaca itu akan kau pakai kepesta besok beserta
gaun pink favoritemu"
katakata dhariel membuat Sasya menatap sepatu kaca
ditangan kirinya. sepatu ini sangat indah, pasti harganya sangat mahal, mengapa
dhariel memberiku hadiah semahal ini??
akhirnya Sasya dan dhariel menutup pembicaraan mereka di
telepon. Sassya menatap gaun pink ditangan kanannya dan sepatu kaca ditangan
kirinya bergantian.
"jika sepatu kaca ini dari dhariel, lalu siapa yang
mengirimiku gaun pink ini??"
tibatiba Sasya mendengar ponselnya berdering. dan
ternyata Dyland yang menelponnya.
pembicaraan Sassya dan Dyland lewat telepon.
"Dyland??"
"apa kau
sudah menerima gaun yang kukirim untukmu?"
"jadi gaun
ini darimu??"
"dasar bodoh,
apa kau tidak membaca, jelas jelas dikartu itu tertulis dari pangeranmu, apa
kau memiliki pangeran selain aku, huh?"
"tidak, hanya
kau pangeranku"
"lalu mengapa
kau menanyakan hal itu padaku?"
"...."
"sudahlah,
pergilah kepesta denganku besok"
"tapi.."
"tenang, aku
akan mengenakan jas pink seperti inginmu"
"tapi..."
tuuuttttt tuuuuttttt tuuuutttt sambungan terputus....
Sasya tersenyum senang sambil terus menatap gaun pink
didepannya.. dan ia tak sabar ingin cepat hari berlalu.
* Dyland*
Dyland menutup tirai kamarnya tapi ia terdiam sejenak
sambil memperhatikan Sassya yang sedang tersenyum senang sambil memegang gaun
pink darinya.
"kau benar2 bodoh, mengapa kau sebahagia itu hanya
karena sebuah gaun bagaimana jika aku memberimu sebuah bintang nanti??" Dyland
berkata sambil menutup tirai kamarnya.
Dyland merebahkan badannya di ranjang sambil menatap
langit langit kamarnya, tiba tiba Dyland teringat sesuatu yang terjadi tadi
sore..
flashback onn
"mbak, maaf gaun yang disini mana yach?"
tanya Dyland ketika sampai didepan gaun pink yg Sasya inginkan. tapi Dyland tak
mendapati gaun dan jas itu disana.
"maaf dek,
gaun sama jasnya baru ajah dibeli orang"
prempuan penjaga toko itu berkata sambil berdiri disamping dylaand.
"apa tidak
ada lagi gaun yang seperti itu??" pertanyaan Dyland membuat penjaga toko itu
menggeleng.
hmmmm sekarang
apa yang harus gue lakukan????
"Dyland"
sapa seseorang membuat Dyland mengalihkan pandangannya kearah suara itu.
dilihatnya dhariel yang sedang berdiri di depannya sambil memegang gaun pink
yang Sassya inginkan.
"dhariel"
"gue yakin
loe pasti kesini"
"maksud
loe?"
"nih,
kalau gue kurang cepat gaun ini udah dibeli orang " dhariel berkata sambil
memberikan Dyland gaun pink yang dipegangnya.
" gue tau Sasya
sangat menginginkan gaun ini, sebenarnya gue mau kasih gaun ini langsung sama Sasya
tapi gue sadar Sasya hanya ingin loe yang kasih gaun ini kedia"
dhariel berkata sambil terus mengulurkan gaun pink
kearah Dyland yang enggan mengambilnya.
"ambillah,
dan loe kesini rencananya mau membeli gaun ini bukan??"
tanya dhariel pada Dyland yang menatapnya tajam.
"gaun itu udah loe beli, jadi gaun itu sekarang
milik loe"
'kata siapa gue
udah membelinya, gue hanya megang gaun ini dan menunggu loe datang untuk
membelinya"
dhariel berkata sambil meletakkan gaun pink ditangan
kanan Dyland.
"ambillah,
dan bayarlah sebelum aku memberikannya untuk orang lain yang ingin
membelinya"
kata kata dhariel membuat Dyland menatap gaun pink
ditangannya.
"kenapa
loe melakukan ini untuk gue??" pertanyaan Dyland membuat dhariel
tersenyum.
"gue
melakukan semua ini bukan karena loe tapi karena Sassya, gue ga' bisa
melihatnya sedih"
kata kata dhariel membuat Dyland terdiam.
" cepatlah
bayar, aku juga ingin membelikan sesuatu
untuk Sassya" dhariel berkata sambil menggeser sedikit tubuhnya
karena ada beberapa orang yang melewati mereka.
"tapi loe
harus janji gak akan membuang atau merusak hadiah yang akan gue berikan padanya
nanti"
kata kata dhariel membuat Dyland tersenyum sinis.
"jelas aja
gue akan merusak hadiah yg loe kasih, cuma gue yang pantas memberikan Sassya
hadiah, bukan loe playboy"
"jadi loe
masih menganggap gue playboy??"
"bukankah
dari dulu loe emang gak pernah serius tentang cinta?"
Dyland berkata pada dhariel yang tersenyum.
"sudahlah,
gue pergi, Sassya nunggu gue menelponnya" Dyland berkata sambil berlalu
meninggalkan dhariel yang masih menatapnya.
tak beberapa lama Dyland telah selesai mengantri
membayar gaun plus jas pink dan
melangkahkan kakinya mendekakti kios sepatu. dilhatnya dhariel yang sedang
mencari sepatu.sepertinya dhariel kesulitan mencari sepatu ukuran Sassya dgn
langkah pelan Dyland menggampiri dhariel dan berdiri tepat dibelakang dhariel
yg tak menyadari kehadirannya. Dyland mendekatkan wajahnya pada kuping kanan
dhariel dan membisikkan sesuatu.
"38" Dyland
pun berlalu pergi setelah ia mengucapkan itu. dhariel tersenyum sambil terus
memperhatikan Dyland yang telah hilang dari pandangannya.
flashback OFF
***
keesokan paginya.... matahari telah menampakkan sinarnya,
cahayanya masuk melalui celah celah kamar Sassya. hari ini adalah hari libur
jds Sassya tak perlu khawatir telat berangkat sekolah. Sassya membuka matanya
berlahan sambil menatap jam disampingnya...
Sassya segera bangun daN berlalu masuk kamar mandi tak
beberapa lama Sassya keluar sambil menyusapkan handuk diwajahnya.
"sebaiknya, aku menelpon Dyland" Sassya berkata
sambil berjalan lurus kekamarnya.
diraihnya hp disamping tempat tidurnya dan menekan tombol
pada layar sentuh itu.. tak beberapa lama terdengar suara seseorang dari
seberang telpon.
"ada apa?
mengapa kau menelponku, apa kau tak tau jam berapa sekarang?" Dyland
berkata kesal dari seberang telepon.
"maaf, apa
aku mengganggu tidurmu??" Sassya terduduk disamping jendela kamarnya
dilihatnya tirai kamar Dyland yang masih tertutup.
"jelas saja
kau mengganggu tidurku, bodoh"
"maaf, kalau
begitu kembalilah tidur aku tak akan mengganggumu lagi"
"dasar bodoh,
apa kau pikir aku bisa tertidur setelah kau membangunkanku"
Sassya terdiam,
dilihatnya Dyland yang sedang membuka tirai kamarnya, Sassya tersenyum sambil
terus memperhatikan Dyland yang berdiri didepan jendela. sesekali Dyland
menggaruk garuk kepalanya sambil menatap kearahnya.
"sejak kapan
kau disana?" tanya Dyland sambil duduk disamping jendela.
"baru saja,
bagaimana tidurmu, apa nyenyak?" tanya Sassya masih dengan tlp
ditanggannya.
"nyenyak pada
awalnya sebelum seorang nenek sihir membangunkan tidurku"
Dyland berkata sambil menatap Sassya yang cemberut.
"kau,memanggilku nenek sihir??"
tanya Sassya pada Dyland yang berdiri.
"kau lebih
jelek dari seorang nenek sihir yang pernah kutemui"
"lalu mengapa
kau menyukaiku??"
"entahlah,
aku curiga kau menyihirku agar aku menyukaimu"
kata kata Dyland membuat Sassya berdiri, Sassya menatap Dyland
yang tersenyum tipis. hatinyapun langsung bertanya2 "tuhan, mengapa aku
begitu mencintainya? padahal ia selalu saja menghinaku?"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar