Facebook Badge

Jumat, 01 Februari 2013

"The One,I Love!" #PART8


Mereka pun tiba dimall, satu jam sudah mereka memutari mall tapi tak ada satu gaunpun yang menarik perhatian Sasya, dan itu membuat Dyland sedikit kesal.
Tiba2 Sasya menghentikan langkahnya sambil menatap gaun pink didepannya.

"Dyland gaun ini bagus banget!" kata Sasya sumringah sambil memegang sisi pinggang gaun pink itu.

"akhirnya,ayo bayar!"
Dyland berkata sambil menarik tangan Sasya tp Sasya tak bergerak masih menatap gaun pink didepannya.

"ada apa lagi?" tanya Dyland sambil berdiri disamping Sasya.

"aku beli gaun ini tapi kamu beli jas ini juga."
Kali ini Sasya berkata sambil memegang jas pink disamping gaun pink didepannya.

"tidak, aku tak akan membelinya"
Perkataan Dyland membuat Sasya kecewa.

"kau tau aku tak mungkin mengenakan jas pink itu untuk pesta besok malam, apa kata mereka jika seorang troublemaker sepertiku mengenakan jas berwarna pink, apa kau ingin membuatku malu?"
Dyland berkata sambil menatap Sasya yg terdiam.

"mengapa kau tak mengatakan sesuatu?"
Pertanyaan Dyland membuat Sasya menatapnya.

"ya sudah, kalau memang kau tak mau membelinya, aku tak akan pergi kepesta dgnmu"
Kata Sasya kesal sambil melepas pegangan tangan Dyland.

"baiklah, kalau itu maumu, tak ada pesta besok malam"
Dyland berkata dan berlalu pergi.

"dasar cowo egois, sampai kapan kamu seperti ini padaku?" kata Sasya kesal dalam hati sambil terus menatap gaun pink didepannya.



Dyland menghentikan langkahnya dan menatap tangan kanannya yg ternyata tak lagi menggandeng Sasya, dylanpun membalikkan tubuhnya dan menatap Sasya yg masih berdiri memandang gaun mahal itu.

"apa kau benar2 menginginkannya?" tanya Dyland dalam hati sambil melangkahkan kakinya mendekati Sasya.

"aku lapar, temani aku makan" Dyland berkata sambil meraih tangan Sasya membuat Sasya terkejut...

"tuhan,mengapa saat dia menggenggam tanganku seperti ini, semua kesal dihatiku hilang? Apa itu pertanda bahwa aku tak mampu membencinya?"

Akhirnya mereka tiba disebuah tempat makan didalam mall, Sasya duduk didepan Dyland y lebih dulu duduk.

"mengapa kau duduk, berdiri dan belikan aku sesuatu untuk kumakan"
Kata2 Dyland membuat Sasya cemberut.

"biasanya cowo yg melakukan itu, berdiri dan belikan aku bakso"
Kata Sasya sambil menatap Dyland yg mengeluarkan HP dari saku seragamnya.

"kau menyuruhku?" tanya Dyland sambil menatap Sasya yg mengangguk.
Sasya menatap meja didepannya, dimana seorang cowo membawakan makanan dan minuman untuk pacarnya, dan mereka tampak sangat serasi..
Dyland menatap kearah yg sama dgn Sasya.

"kau ingin aku melakukan itu?"
Sasya mengangguk.

"ga akan pernah" kata Dyland membuat Sasya cemberut..

"Dyland"panggil Sasya pada Dyland yg asik dgn hp ditangannya.

"apa?"

"jadilah pangeran untukku selamanya"
Kata2 Sasya membuat Dyland menatapnya.

"apa kau berkata seperti itu, agar aku berbaik hati dan mau mengambilkan makanan untukmu, tidak akan, kau bi..."
Belum selesai Dyland bicara telunjuk Sasya menyentuh bibirnya seketika itupun Dyland terdiam.

"i love you, Dyland"
Kata Sasya sambil menatap mata elang Dyland.
Dyland menjauhkan tangan Sasya dari bibirnya.

"i love you too, bodoh"
Perkataan Dyland membuat Sasya tersenyum.
Kini Sasya sadar betapa Dyland sangat berarti untuknya walaupun Dyland tak pernah bisa bersikap romantis seperti ingin Sasya.
Tpi bagi Sasya Dyland adalah segalanya.

Akhirnya Dyland dan Sasya tiba didepan rumah Sasya.

"masuklah" perintah Dyland pada Sasya yg berdiri didepannya.
Dan Sasya hanyamengangguk.

"aku akan pergi sebentar"
Perkataan Dyland membuat Sasya menatapnya.

"kemana? Apa kau ingin berkelahi lagi dgn rio"
Kata Sasya dgn wajah sedikit cemas.

"apa kau mencemaskanku, bodoh?"
Tanya Dyland pada Sasya yg menggeleng.

"tidak, aku tak mencemaskanmu, untuk apa? Kau bukan pacarku"
Kata2 Sasya membuat Dyland tersenyum.

"dasar bodoh, aku memang bukan pacarmu, tapi bukankah aku pangeran untukmu"
Sasya terdiam sambil terus menatap Dyland yg masih bicara.
Kini Dyland mencoba membungkukkan sedikit tubuhnya hingga sejajar dgn Sasya.
Dyland mendekatkan wajahnya pada wajah Sasya yg memerah.

"dengarkan aku, sudah berapa kali aku bilang tau usah kau mencemaskanku, karena itu hanya membuat tubuhmu semakin kurus" Dyland berkata sambil menaikkan kembali tubuhnya.

"cepatlah masuk, akan kuhubungi kau jika aku kembali"
Kata Dyland sambil menatap Sasya yg mengangguk.

"Dyland"

"apa?"

"hati-hati"
Kata Sasya pelan membuat Dyland tersenyum.

"i'm Dyland everything is gonna be ok's"
Kini Sasya yg tersenyum mendengar perkataan Dyland.

"tapi tunggu kau tak ingin menciumku, kurasa pipiku ini pantas menerimanya"
Dyland berkata sambil mengelus pipi kanannya.

"apa? Aku tak akan menciummu sebelum kau resmi menjadi suamiku"

"tapi aku pangeranmu bukan?"

"iya kau pangeranku, tp aku tak akan menciummu sekarang"

"lalu kapan?"

"nanti, setelah kau berubah menjadi pawor rangers hahaha"
Sasya berkata sambil tertawa tapi kembali terdiam mendapati Dyland menatapnya aneh sambil menggeleng2kan kepalanya.

"sudah,pergilah aku lelah"
Sasya berkata mencoba menghilangkan kebekuan.

"kau benar2 tak sopan mengusir pangeran setampan aku"
Kata Dyland PD membuat Sasya tertawa lepas.
Tapi tawa Sasya terhenti seketika ketika Dyland mencium pipi kanan Sasya.

"selamat sore permaisuriku"
Dylandpun menjauhkan bibirnya dari pipi mulus Sasya membuat Sasya terdiam.



Sasya menjatuhkan badanNya duduk dibangku panjang diruang keluarga.
Dgn wajah ceria Sasya terus membelai pipi kanannya.
Ciuman Dyland membuat Sasya tersenyum2 sendiri, beruntung tak ada orang dirumahnya kalau tidak ia bisa disangka gila..
Suara tlp rumah membuyarkan lamunan Sasya.

"hallo" sapa Sasya sambil mendekatkan gagang tlp ketelinga kirinya.
Kebetulan letak tlp tepat disamping Sasya.

"hallo, bisa bicara dgn Sasya" tanya seseorang dari balik tlp.

"aku Sasya, kamu.."

"aku dhariel"

"dari mana kau dapatkan no tlp rumahku?"

"itu tak penting, aku hanya ingin memastikan kau datang kepesta besok''

"maaf dhariel sepertinya aku tak bisa datang"

"mengapa apakah ada masalah yg cukup serius sehingga membuatmu tak bisa hadir besok?"

"tidak, ini hanya masalah gaun, aku tak mungkin pergi tanpa gaun pink itu"

"gaun pink?"
Sasyapun menceritakan semuanya pada dhariel, entah mengapa Sasya benar2 menginginkan gaun pink itu??





*dhariel
"kau benar2 bodoh Dyland, apa susahnya berkorban sedikit demi cinta, bukankah kebahagian Sasya adalah segalanya"
Dhariel berkata sambil menatap langit2 kamarnya.

"kalau kau tak mau membelikan gaun itu untuk Sasya aku yg akan membelikanya dan aku akan menjadi pangeran untuk Sasya"
Dhariel berkata sambil meraih jaket disampingnya dan berlalu pergi.



Malam tlah tiba, Sasya yg berada dikamar terus menatap hp ditangannya.

"mengapa Dyland tak menghubungiku, apa dia belum kembali?" Sasya berkata sambil menatap keluar jendela.
Hari tlah menjelang malam tapi mengapa Dyland belum juga kembali?

Suara seseorang mengetuk pintu membuyarkan lamunan Sasya.

"kakak" Sasya berkata sambil menatap kak sisyi y berdiri didepan pintu kamarnya.
Kak sisy membawa sebuah kotak besar ditangannya dan diberikan pada Sasya.

"tadi ada seseorang y memberikan ini, katanya pangeran kamu y mengirimi ini untuk kamu"
Kak sissy berkata sambil menaruh kotak besar itu diatas ranjang milik Sassya dan pergi.

"pangeranku? Apa dia Dyland?" tanya Sasya sambil membuka kotak besar itu.
Betapa terkejutnya ia mendapati sebuah gaun indah pink y ia inginkan didalamnya.

"gauN ini"
Kata Sasya sambil mengambil sebuah kartu disela2 gaun pink itu.
Sasyapun membuka kartu itu dan membacanya.


"datanglah kepesta dgnku besok"

"Pangeranmu *D*"


Sasya terus menatap gaun pink ditangannya... ia bener bener belum percaya bahwa ia akan memiliki gaun seindah itu.

pandangan Sasya langsung beralih pada tirai kamar Dyland yang terbuka tapi Sasya tak mendapati Dyland disana.

ditaruhnya gaun pink di atas ranjang dan Sasya beralih keluar kamar.



"dimana dia, seharusnya Dyland menelponku, apa dia belum kembali??" tanya Sasya dalam hati sambil berjalan keruang tamu dilantai bawah. Sasya menuruni tangga tapi langkahnya terhenti ketika kak sissy memanggilnya dari kamar.

 "sa, ada telpon buat kamu" katanya sambil menampakkan kepala keluar pintu kamar.

 "baiklah, aku akan mengangkatnya di bawah" kata Sasya dan berlalu pergi ke ruang tengah.

Sasya menarik gagang telpon dan mendekatkannya ketelinga kanannya.

 "hallo" kata Sasya sambil menunggu suara sahutan dari seberang telepon.

 "hii"

 "dhariel?"

 "yepz, ini aku, apa kamu udah terima hadiah dari aku??"



pertanyaan dhariel membuat Sasya berpikir sejenak "hadiah??? apa gaun pink itu dari dhariel???"



"hallo, apa hadiah aku telah sampai dirumahmu??"tanyanya lagi.

 "iya, terimakasih"

 "apa kau menyukainya??"

 "tentu"

 "maaf jika ukurannya tak pas dengan kakimu?"

 "kakiku???"

tanya Sasya heran sambil membawa gagang telepon kekamarnya dilantai dua.

 "ya, aku tak tau berapa ukuran kakimu, jd aku hanya mengira ngira, jadi maaf jika kekecilan"

Sasya benar benar tak mengerti apa yang sedang dibicarakan dhariel, apa hubungannya gaun dengan ukuran kaki???

 Sasya telah tiba dikamarnya dengan telepon masih ditangannya.

"kak ada hadiah lagi" kali ini sammy adik Sasya berkata sambil membawa sebuah kotak ditangannya dan ditaruhnya di atas ranjang disamping gaun pink. dan sammy berlalu pergi.

 "sebentar" Sasya berkata sambil menaruh telepon diatas ranjang dan meraih hadiah dan membukanya.

 "sepatu kaca??"

Sasyapun langsung mengangkat kembali gagang telpon dan didekatkan ketelinganya.

 "kau mengirimiku sepatu??" tanya Sasya.

 "iya, apa kau menyukainya??? aku harap sepatu kaca itu akan kau pakai kepesta besok beserta gaun pink favoritemu"

katakata dhariel membuat Sasya menatap sepatu kaca ditangan kirinya. sepatu ini sangat indah, pasti harganya sangat mahal, mengapa dhariel memberiku hadiah semahal ini??



akhirnya Sasya dan dhariel menutup pembicaraan mereka di telepon. Sassya menatap gaun pink ditangan kanannya dan sepatu kaca ditangan kirinya bergantian.



"jika sepatu kaca ini dari dhariel, lalu siapa yang mengirimiku gaun pink ini??"

tibatiba Sasya mendengar ponselnya berdering. dan ternyata Dyland yang menelponnya.



pembicaraan Sassya dan Dyland lewat telepon.



"Dyland??"

 "apa kau sudah menerima gaun yang kukirim untukmu?"

 "jadi gaun ini darimu??"

 "dasar bodoh, apa kau tidak membaca, jelas jelas dikartu itu tertulis dari pangeranmu, apa kau memiliki pangeran selain aku, huh?"

 "tidak, hanya kau pangeranku"

 "lalu mengapa kau menanyakan hal itu padaku?"

 "...."

 "sudahlah, pergilah kepesta denganku besok"

 "tapi.."

 "tenang, aku akan mengenakan jas pink seperti inginmu"

 "tapi..."

tuuuttttt tuuuuttttt tuuuutttt sambungan terputus....





Sasya tersenyum senang sambil terus menatap gaun pink didepannya.. dan ia tak sabar ingin cepat hari berlalu.









* Dyland*



Dyland menutup tirai kamarnya tapi ia terdiam sejenak sambil memperhatikan Sassya yang sedang tersenyum senang sambil memegang gaun pink darinya.



"kau benar2 bodoh, mengapa kau sebahagia itu hanya karena sebuah gaun bagaimana jika aku memberimu sebuah bintang nanti??" Dyland berkata sambil menutup tirai kamarnya.

Dyland merebahkan badannya di ranjang sambil menatap langit langit kamarnya, tiba tiba Dyland teringat sesuatu yang terjadi tadi sore..



flashback onn


"mbak, maaf gaun yang disini mana yach?" tanya Dyland ketika sampai didepan gaun pink yg Sasya inginkan. tapi Dyland tak mendapati gaun dan jas itu disana.

 "maaf dek, gaun sama jasnya baru ajah dibeli orang"  prempuan penjaga toko itu berkata sambil berdiri disamping dylaand.

 "apa tidak ada lagi gaun yang seperti itu??" pertanyaan Dyland membuat penjaga toko itu menggeleng.

 hmmmm sekarang apa yang harus gue lakukan????





 "Dyland" sapa seseorang membuat Dyland mengalihkan pandangannya kearah suara itu. dilihatnya dhariel yang sedang berdiri di depannya sambil memegang gaun pink yang Sassya inginkan.

 "dhariel"

 "gue yakin loe pasti kesini"

 "maksud loe?"

 "nih, kalau gue kurang cepat gaun ini udah dibeli orang " dhariel berkata sambil memberikan Dyland gaun pink yang dipegangnya.

 " gue tau Sasya sangat menginginkan gaun ini, sebenarnya gue mau kasih gaun ini langsung sama Sasya tapi gue sadar Sasya hanya ingin loe yang kasih gaun ini kedia"

dhariel berkata sambil terus mengulurkan gaun pink kearah Dyland yang enggan mengambilnya.

 "ambillah, dan loe kesini rencananya mau membeli gaun ini bukan??"

tanya dhariel pada Dyland yang menatapnya tajam.



"gaun itu udah loe beli, jadi gaun itu sekarang milik loe"

 'kata siapa gue udah membelinya, gue hanya megang gaun ini dan menunggu loe datang untuk membelinya"

dhariel berkata sambil meletakkan gaun pink ditangan kanan Dyland.

 "ambillah, dan bayarlah sebelum aku memberikannya untuk orang lain yang ingin membelinya"

kata kata dhariel membuat Dyland menatap gaun pink ditangannya.

 "kenapa loe melakukan ini untuk gue??" pertanyaan Dyland membuat dhariel tersenyum.

 "gue melakukan semua ini bukan karena loe tapi karena Sassya, gue ga' bisa melihatnya sedih"

kata kata dhariel membuat Dyland terdiam.

 " cepatlah bayar, aku juga ingin membelikan sesuatu  untuk Sassya" dhariel berkata sambil menggeser sedikit tubuhnya karena ada beberapa orang yang melewati mereka.

 "tapi loe harus janji gak akan membuang atau merusak hadiah yang akan gue berikan padanya nanti"

kata kata dhariel membuat Dyland tersenyum sinis.

 "jelas aja gue akan merusak hadiah yg loe kasih, cuma gue yang pantas memberikan Sassya hadiah, bukan loe playboy"

 "jadi loe masih menganggap gue playboy??"

 "bukankah dari dulu loe emang gak pernah serius tentang cinta?"

Dyland berkata pada dhariel yang tersenyum.

 "sudahlah, gue pergi, Sassya nunggu gue menelponnya" Dyland berkata sambil berlalu meninggalkan dhariel yang masih menatapnya.

tak beberapa lama Dyland telah selesai mengantri membayar gaun plus jas pink  dan melangkahkan kakinya mendekakti kios sepatu. dilhatnya dhariel yang sedang mencari sepatu.sepertinya dhariel kesulitan mencari sepatu ukuran Sassya dgn langkah pelan Dyland menggampiri dhariel dan berdiri tepat dibelakang dhariel yg tak menyadari kehadirannya. Dyland mendekatkan wajahnya pada kuping kanan dhariel dan membisikkan sesuatu.

 "38" Dyland pun berlalu pergi setelah ia mengucapkan itu. dhariel tersenyum sambil terus memperhatikan Dyland yang telah hilang dari pandangannya.



flashback OFF


*** 
keesokan paginya.... matahari telah menampakkan sinarnya, cahayanya masuk melalui celah celah kamar Sassya. hari ini adalah hari libur jds Sassya tak perlu khawatir telat berangkat sekolah. Sassya membuka matanya berlahan sambil menatap jam disampingnya...

Sassya segera bangun daN berlalu masuk kamar mandi tak beberapa lama Sassya keluar sambil menyusapkan handuk diwajahnya.



"sebaiknya, aku menelpon Dyland" Sassya berkata sambil berjalan lurus kekamarnya.

diraihnya hp disamping tempat tidurnya dan menekan tombol pada layar sentuh itu.. tak beberapa lama terdengar suara seseorang dari seberang telpon.

 "ada apa? mengapa kau menelponku, apa kau tak tau jam berapa sekarang?" Dyland berkata kesal dari seberang telepon.

 "maaf, apa aku mengganggu tidurmu??" Sassya terduduk disamping jendela kamarnya dilihatnya tirai kamar Dyland yang masih tertutup.

 "jelas saja kau mengganggu tidurku, bodoh"

 "maaf, kalau begitu kembalilah tidur aku tak akan mengganggumu lagi"

 "dasar bodoh, apa kau pikir aku bisa tertidur setelah kau membangunkanku"

 Sassya terdiam, dilihatnya Dyland yang sedang membuka tirai kamarnya, Sassya tersenyum sambil terus memperhatikan Dyland yang berdiri didepan jendela. sesekali Dyland menggaruk garuk kepalanya sambil menatap kearahnya.

 "sejak kapan kau disana?" tanya Dyland sambil duduk disamping jendela.

 "baru saja, bagaimana tidurmu, apa nyenyak?" tanya Sassya masih dengan tlp ditanggannya.

 "nyenyak pada awalnya sebelum seorang nenek sihir membangunkan tidurku"

Dyland berkata sambil menatap Sassya yang cemberut.

 "kau,memanggilku nenek sihir??" tanya Sassya pada Dyland yang berdiri.

 "kau lebih jelek dari seorang nenek sihir yang pernah kutemui"

 "lalu mengapa kau menyukaiku??"

 "entahlah, aku curiga kau menyihirku agar aku menyukaimu"

kata kata Dyland membuat Sassya berdiri, Sassya menatap Dyland yang tersenyum tipis. hatinyapun langsung bertanya2 "tuhan, mengapa aku begitu mencintainya? padahal ia selalu saja menghinaku?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Online Now Icons