Facebook Badge

Jumat, 01 Februari 2013

"The One I Love!" #PART9



 Malampun tiba, dengan gaun pink pemberian Dyland Sassya terus menatap dirinya dicermin panjang dikamarnya.ia tak sabar menunggu Dyland menjemputnya.

"Dyland pasti terlihat sangat tanpan dengan jas pink itu!" Sassya mengambil bandana pink diatas meja dan memakaianya, saat ini Sassya membiarkan rambutnya terurai dengan bandana pink menghiasinya, Sassya juga mengenakan beberapa aksessoris gelang dan kalung untuk menghiasi tangan dan lehernya, semua seolah serasi dengan gaun pink panjang tanpa lengan dengan berapa ukuran dan hiasan kecil dibagian pinggang.

"wahhh kamu cantik banget sya" dari luar kamar kak sissy menghampiri Sassya sambil menatap Sassya yang tersenyum.

"terimakasih"

"Dyland pasti akan mengatakan hal yang sama dengan kakak"

Sassya tersenyum, Sassya tak sabar ingin segera bertemu Dyland dan mendengar Dyland mengatakan cantik padanya bukan bodoh seperti selama ini, tapi melihat sifat Dyland Sassya tak yakin Dyland akan mengatakan itu.

"oh yach, Dyland udah nunggu kamu dibawah" kak sissy merapikan sedikit poni Sassya.

"kenapa Dyland tak menelponku?" tanya Sassya binggung sambil menatap kak sissy yang mengangkat bahunya.

"udah, cepat kamu temui dia, sebelum dia lelah menunggumu" kak sissy mengambil tas pink dihadapannya dan memberikannya pada Sassya dan Sassya pun segera berlalu.









Dyland menunggu Sassya disamping pintu pagar rumah Sassya. saat ini Dyland mengenakan jas pink dengan dalaman kemeja berwarna krem dengan dasi hitam bergaris krem y menghiasi lehernya yang serasi dengan celana hitamnya. Dengan cukup gerah Dyland menunggu Sassya yang tak kunjung tiba. beberapa orang yang lewat memandang Dyland tajam dan ada beberapa orang yang tersenyum padanya.

Dyland tak begitu suka memakai kemeja ataupun jas, ia lebih suka memakai pakaian santai seperti kaos dengan celana jins dan jaket yang menutupi tubuh kekarnya, tapi hari ini Dyland rela mengenakan jas yang selama ini tak pernah ia kenakan hanya demi Sassya seorang..

"Sassya harus ngebayar semua yang udah gue lakuin buat dia,ahhhhh jas pink ini udah buat image gue sebagai troublemaker hancur, liat ajah selesai pesta jas ini bakalan gue bakar!"Dyland melonggarkan dasinya dengan wajah penuh kekesalan.

tak beberapa lama dengan septu kaca pemberian dhariel Sassya keluar dari pintu rumahnya, pandangannya langsung tertuju pada Dyland yang berdiri membelakanginya menghadap jalan. Sassya terus mendekatkan langkahnya pada Dyland yang sepertinya tak menyadari kedatangannya. Terbesit sebuah kejailanpun dibenak Sassya saat ini...

"DORRRR" Sassya berkata keras tepat dibelakang telinga kanan Dyland membuat Dyland terkejut.

Dyland melompat dari tempatnya berdiri kesebelah kanan, Dyland menatap tajam Sassya yang tertawa lebar.

 "apa kau ingin membunuhku?"Dyland berkata sambil mengelus dadanya, wajahnya tampak sedikit pucat.

"maaf" Sassya berkata sambil mecoba menghentikan tawanya tapi ia tak bisa, Sassya terus saja tertawa dihadapan Dyland yang menatapnya sinis.

"teruslah tertawa dan aku akan menciummu," kata kata Dyland membuat Sassya seketika menghentikan tawanya. Sassya menatap Dyland yang berdiri disampingnya.

"mengapa berhenti, aku belum menciummu," Dyland berkata pada Sassya y menyenggol lengan Dyland membuat Dyland menggeser tubuhnya sedikit kekiri.

"aku akan membunuhmu jika kau mencoba menciumku!" Dyland tersenyum mendengar perkataan Sassya.

Dyland menatap Sassya dari bawah hingga atas, untuk beberapa saat Dyland terhanyut, rambut Sassya yang terurai indah dan make up tipis yang menghiasi wajahnya membuat hati Dyland benar benar berhenti, ini kali pertama ia merasakan getaran getaran aneh dalam dirinya... dia  benar benar....????

menyadari dirinya ditatap, Sassyapun menjadi salah tingkah..

"mengapa kau menatapku seperti itu? apa kau juga ingin mengatakan bahwa aku sangat cantik?" Sassya berkata dengan nada pede membuat Dyland tertawa lepas.

"mengapa kau tertawa??" tanya Sassya heran sambil terus menatap Dyland yang tertawa sambil memegangi perutnya.

Sassya yang kesal dengan tawa Dyland yang menurut Sassya sangat berlebihan mencubit pelan pinggang Dyland membuat tawa Dyland seketika berhenti.

Dyland menatap Sassya yang cemberut dengan senyum mengejek.

"siapa yang mengatakan kau cantik??? mereka semua bohong padamu" Dyland berkata sambil  membenarkan letak jas yang ia kenakan.

"mama, kakak dan adikku yang mengatakan semua itu, tak mungkin mereka bohong padaku"

"sudah kuduga, kau terlihat sangat jelek dengan gaun pink ini, tubuh kurusmu semakin terlihat jelas"

Sassya terdiam sambil terus mendengarkan Dyland yang masih bicara.

"apa keluargamu tak pernah memberimu makan, sehingga tubuhmu begitu kurus, atau jangan jangan kau menjadi kurus karena memikirkan ketampananku"

"aku tak terlalu kurus, aku hanya ingin menjaga tubuhku agar tak gendut" bantah Sassya dengan wajah cemberutnya,Dyland mendekatkan wajahnya pada wajah Sassya yang tiba tiba memerah.

"walaupun kau kurus, jelek dan bodoh, aku tetap mecintaimu" Dyland berkata sambil menjauhkan wajahnya dan membelai rambut hitam Sassya.

seandainya Sassya dapat terbang mungkin saat ini ia sedang menari nari diudara tapi sayang Sassya membiarkan sayapnya tertinggal dikamar :P




mereka telah tiba disebuah rumah yang cukup besar. mega adalah salah satu anak pemilik perusahaan terbesar dijakarta jadi wajar jika pesta yang diadakanpun cukup meriah..suasana megahnya terlihat jelas dari luar rumah.... dengan alunan music dan beberapa lilin yang menghiasinya beserta lampu warna warni yang menggantikan posisi bintang malam ini.

mobil silver Dyland berhenti disudut kanan rumah mega, beberapa mobil tlah terpakir penuh menghiasi jalan.

"turunlah" Dyland berkata pada Sassya yang mengangguk.

Sassya membuka pintu mobil dan berlalu turun, langkahnya langsung berjalan ke arah kanan dimana posisi dyand duduk menyetir. Sassya mengetuk pelan kaca mobil Dyland membuat Dyland segera menurunkan kaca mobilnya.

"kau tak turun?" tanya Sassya pada Dyland yang masih terduduk didalam mobil.

"tidak, aku sangat membenci pesta" kata Dyland dengan nada sedikit pelan.

"masuklah dan akan kujemput kau nanti" kata Dyland lagi membuat Sassya menunduk.

tanpa banyak kata dan perbuatan ataupun tindakan Dyland kembali menjalankan mobilnya menjauhi Sassya yang masih berdiri mematung. Sassya menatap beberapa pasangan berlalu lalang dihadapannya, bergandengan tangan dan saling bercengkrama terlihat jelas diwajah mereka senyum bahagia.

"kapan Dyland akan bersikap manis dan bersikap romantis seperti mereka??" batin Sassya.



"Sassya" suara seseorang membuat Sassya mengalihkan pandangannya kearah suara itu berasal.

"dhariel" kata Sassya mendapati dhariel telah berdiri dibelakangnya.

Sassya membalikkan badannya agar berpapasan dengan Dyland ditatapnya viona yg berdiri disamping dhariel.

"mengapa kau tak masuk?"tanya dhariel pada Sassya yg terdiam. dhariel tersenyum senang mendapati Sassya mengenakan sepatu kaca pemberiannya.

saat ini dhariel terlihat sangat tampan dengan kemeja kuning dan jas hitam yg ia kenakan sangatlah serasi dengan viona yg cantik dengan gaun kuningnya.

viona menatap dhariel yg menatap Sassya penuh arti, "apa dhariel menyukainya??" batin vionapun bertanya tanya.

"hari ini kau benar benar cantik" kata kata dhariel membuat Sassya salah tingkah.

dhariel benar benar mengerti apa yang Sassya inginkan, sebuah rayuan yg akan membuat Sassya terbang bukan seperti Dyland yang selalu membuatnya kesal. :D

"terima kasih, kau juga sangat tampan dhariel" balas Sassya membuat dhariel tersenyum riang.

viona menatap tajam keduanya yg saling pandang.

"dhariel sebaiknya kita masuk" viona memulai bicara membuat dhariel mengangguk.

dhariel menatap Sassya yg tersenyum.

"sebaiknya kau masuk, aku menunggu Dyland kembali" Sassya berkata menyakinkan dhariel.

walaupun Sassya sendiri tak yakin apakah Dyland akan kembali padanya??

"baiklah" viona berkata sambil mengandeng lengan dhariel dan membawa dhariel pergi dari hadapan Sassya.

sesaat dhariel menengok kebelakang menatap Sassya yang tersenyum sambil mengatakan sesuatu.

"aku akan baik baik saja, percayalah" kata Sassya sambil menatap dhariel yg kembali menatap kedepan.







Dyland melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, beberapa klakson mobil memperingatinya membuatnya menurunkan kecepatan. lampu merah membuatnya berhenti, Dyland menatap beberapa anak kecil yg sedang mengamen dipinggir lampu merah,Dyland menyalakan ipod yg ia letakkan sampingnya dan sebuah lagupun mengiringi perjalanannya.






 baby i'm a troublemaker, i heard that you are heartbereaker 3x
 baby i'm a troublemaker..

see i'm that type of guy you won't love
 i'm that type of guy you won't cuff
  i'm that type of guy you daddy won't let go out

 cause he think  i sell drugs

 i'm that type of guy that will save yah

i'm that type guy  that will call you later

 wont be  around  to give you that time

gotta get on the grind and get  to that paper  that i can do





Dyland kembali menjalankan laju mobilnya yg terhenti karena lampu merah.. dan kembali ngebut...!!!










dhariel menatap sekeliling pesta, mengapa ia tak melihat Sassya??? apa dia masih diluar???

dhariel melanglkahkan kakinya keluar dilihatnya Sassya yang masih berdiri ditempat semula. tanpa pikir panjang dharielpun langsung menghampirinya.

Sassya menghadap kearah jalan sehingga tak menyadari dhariel dibelakangnya.

"tak seharusnya kau menunggu sesuatu yang kau tau tak akan kembali" kata kata dhariel yg tiba tiba membuat Sassya terkejut. Sassya membalikkan badannya dan mendapati dhariel berdiri didepannya.

"dhariel, mengapa kau disini, apa pestanya telah usai??" Sassya bertanya, yg sebenarnya ia tanyakan untuk mengalihkan pembicaraan.

"mengapa kau masih disini, masuklah" perintah dhariel tapi Sassya menggeleng.

"kau saja yang masuk aku akan tetap disini"

"masuklah denganku, Dyland tak akan datang dan kau tau itu" kata kata dhariel membuat Sassya terdiam.

yah, sebenarnya Sassya tau dan sangat sadar bahwa Dyland tak akan kembali untuk menemaninya masuk, tapi tak ada salahnya Sassya berharap.

"masuklah, dan gue yang akan jadi pasangan loe untuk malam ini" dhariel berkata sambil mengandeng tangan Sassya.

"tapi bagaimana dengan viona?"

"tenanglah, viona cantik bahkan terlalu cantik, banyak cowo yg bersedia menjadi pasangannya, jadi  tenang saja"

Sassya terdiam sejenak sambil menatap wajah tampan dhariel.

"apa aku harus ikut dengannya??? bagaimana jika nanti Dyland datang???? tidak!! Dyland tak akan datang, bukankah dia benci dengan pesta"

"bagaimana??" pertanyaan dhariel membuyarkan lamunan Sassya.

"baiklah" kata Sassya sambil menatap dhariel yang tersenyum senang.

dhariel mengandeng Sassya hingga mereka tiba didepan gerbang, tapi tanpa diduga Dyland datang menghampiri mereka.

"tunggu" teriak Dyland membuat Sassya dan dhariel menghentikan langkahnya. mereka menatap Dyland y kini telah berada didepan keduanya.

"selama gue hidup, hanya gue yang pantas menjadi pasangan Sassya" Dyland berkata sambil melepaskan tangan dhariel yg memegang tangan Sassya. dhariel menggenggam erat tangan Sassya membuat Dyland kewalahan memisahkannya.

Dyland terus berusaha menjauhkan tangan dhariel dari tangan mungil Sassya tapi tetap saja ia tak bisa.

Sassyapun menatap dhariel heran.

"Lepasin tangan loe kalau loe masih ingin hidup" ancam Dyland berharap dhariel melepas pegangan tangannya pada Sassya tapi ternyata dhariel malah membawa Sassya pergi dari hadapan Dyland.

"apa kamu mau aku lepasin tangan aku dari kamu sya??" pertanyaan dhariel membuat Sassya menatapnya yg terus berjalan. beberapa pengunjung pesta menatap Sassya dan dhariel heran termasuk viona.

Dyland yg saat itu hanya mengenakan kemeja  tanpa jas pink yg ia lepaskan saat perjalan tadi terus menatap Sassya dan dhariel yg semakin menjauh.

"dasar bego, kenapa loe diam ajah Sassya dibawah pergi dhariel dan membiarkan dhariel menggenggam tangan Sassya, apa loe mau Sassya jatuh cinta sama dhariel dan berpalih dari loe??. sekarang rebut Sassya dan bawa dia menjauh dari dhariel sebelum semuanya terlambat" batin Dyland terus berkata membuat Dyland terdiam.



"kalau loe keberatan, gue bisa anterin loe balik sama Dyland" dhariel berkata sambil melepaskan pegangan tangannya.

Sassya terdiam untuk beberapa saat, ia benar benar bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang??? apa ia harus kembali pada Dyland ataukah tetap bersama dhariel???





"loe ikut gue sya" Dyland berkata sambil menarik tangan Sassya dan membawanya menjauh dari dhariel yg terdiam.

Dyland menghentikan langkahnya ketika mereka tiba disamping mobil Dyland.

"dasar bodoh, mengapa kau diam saja saat dhariel membawamu pergi dariku, bukankah pangeranmu itu aku" Sassya terdiam dan menunduk sementara Dyland masih saja bicara.

"seharusnya kau menjauhkan tanganmu darinya bukan hanya diam seperti itu, kau benar benar bodoh"

Sassya masih saja terdiam tak ada satu katapun yg terucap dari bibir merah mudanya.

Dyland yg masih memegang tangan Sassya menuntun Sassya masuk kedalam mobil, Dyland membukakan pintu untuk Sassya dan menyuruh Sassya masuk.

"masuklah" perintah Dyland dan Sassyapun masuk. Dyland membuka pintu mobil dan duduk disamping Sassya yg masih terdiam, terdengar suara Dyland menutup pintu mobil. dan merekapun segera berlalu..





sepanjang perjalanan mereka hanya diam diaman... sebelum sebuah kalimat terlontar dari bibir Dyland.

"sudah berapa kali aku katakan, jauhi dhariel jika kau masih ingin aku bersamamu,tapi jika kau tak ingin lagi disisiku katakanlah aku akan pergi dari hidupmu" Dyland berkata tanpa menoleh keSassya yg menatapnya tajam.

Dyland terus saja fokus pada setir didepannya.

"aku dan dhariel hanya bersahabat tidak lebih, apa itu salah??"

"tidak, tapi kau tau bukan bahwa dia menyukaimu??"

"aku tau, tapi aku tak pernah mencintainya" kata kata Sassya membuat dylan meminggirkan mobilnya dan berhenti.

"kau egois Dyland"kata Sassya pelan membuat Dyland menatapnya tajam.

"apa?"

"kau egois jika kau menyuruhku untuk menjauhi dhariel, kau tau mengapa??"

Dyland menggeleng.

"karena dengan bersama dhariel aku menemukan kebahagiaan, kau egois jika kau tak membiarkan aku bahagia"

" jadi selama bersamaku, kau tak pernah bahagia??" tanya Dyland kesal.

"kau tau bukan, kau selalu saja membuatku kesal, kau selalu memanggilku bodoh, jelek dan kurus apa kau pikir aku akan bahagia dengan semua itu??" Dyland terdiam mendengar setiap kata yg Sassya ucapkan.

"tapi dhariel, entah mengapa saat aku disisinya aku menemukan sebuahkedamaian, dhariel selalu mengatakan padaku bahwa aku cantik,aku tau itu hanya sebuah rayuan tp setidaknya itu dapat membuatku tersenyum"

"KALAU BEGITU MENIKAHLAH DENGANNYA!" teriak Dyland keras sambil membuka pintu mobil dan berlalu keluar.

Sassya yg masih terduduk didalam mobil hanya bisa terdiam dan terdiam...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Online Now Icons