Malampun tiba,
dengan gaun pink pemberian Dyland Sassya terus menatap dirinya dicermin panjang
dikamarnya.ia tak sabar menunggu Dyland menjemputnya.
"Dyland pasti terlihat sangat tanpan dengan jas pink
itu!" Sassya mengambil bandana pink diatas meja dan memakaianya, saat ini Sassya
membiarkan rambutnya terurai dengan bandana pink menghiasinya, Sassya juga
mengenakan beberapa aksessoris gelang dan kalung untuk menghiasi tangan dan
lehernya, semua seolah serasi dengan gaun pink panjang tanpa lengan dengan
berapa ukuran dan hiasan kecil dibagian pinggang.
"wahhh kamu cantik banget sya" dari luar kamar
kak sissy menghampiri Sassya sambil menatap Sassya yang tersenyum.
"terimakasih"
"Dyland pasti akan mengatakan hal yang sama dengan
kakak"
Sassya tersenyum, Sassya tak sabar ingin segera bertemu Dyland
dan mendengar Dyland mengatakan cantik padanya bukan bodoh seperti selama ini,
tapi melihat sifat Dyland Sassya tak yakin Dyland akan mengatakan itu.
"oh yach, Dyland udah nunggu kamu dibawah" kak
sissy merapikan sedikit poni Sassya.
"kenapa Dyland tak menelponku?" tanya Sassya
binggung sambil menatap kak sissy yang mengangkat bahunya.
"udah, cepat kamu temui dia, sebelum dia lelah
menunggumu" kak sissy mengambil tas pink dihadapannya dan memberikannya
pada Sassya dan Sassya pun segera berlalu.
Dyland menunggu Sassya disamping pintu pagar rumah Sassya.
saat ini Dyland mengenakan jas pink dengan dalaman kemeja berwarna krem dengan
dasi hitam bergaris krem y menghiasi lehernya yang serasi dengan celana
hitamnya. Dengan cukup gerah Dyland menunggu Sassya yang tak kunjung tiba.
beberapa orang yang lewat memandang Dyland tajam dan ada beberapa orang yang
tersenyum padanya.
Dyland tak begitu suka memakai kemeja ataupun jas, ia
lebih suka memakai pakaian santai seperti kaos dengan celana jins dan jaket
yang menutupi tubuh kekarnya, tapi hari ini Dyland rela mengenakan jas yang
selama ini tak pernah ia kenakan hanya demi Sassya seorang..
"Sassya harus ngebayar semua yang udah gue lakuin
buat dia,ahhhhh jas pink ini udah buat image gue sebagai troublemaker hancur,
liat ajah selesai pesta jas ini bakalan gue bakar!"Dyland melonggarkan
dasinya dengan wajah penuh kekesalan.
tak beberapa lama dengan septu kaca pemberian dhariel Sassya
keluar dari pintu rumahnya, pandangannya langsung tertuju pada Dyland yang
berdiri membelakanginya menghadap jalan. Sassya terus mendekatkan langkahnya
pada Dyland yang sepertinya tak menyadari kedatangannya. Terbesit sebuah
kejailanpun dibenak Sassya saat ini...
"DORRRR" Sassya berkata keras tepat dibelakang
telinga kanan Dyland membuat Dyland terkejut.
Dyland melompat dari tempatnya berdiri kesebelah kanan, Dyland
menatap tajam Sassya yang tertawa lebar.
"apa kau
ingin membunuhku?"Dyland berkata sambil mengelus dadanya, wajahnya tampak
sedikit pucat.
"maaf" Sassya berkata sambil mecoba
menghentikan tawanya tapi ia tak bisa, Sassya terus saja tertawa dihadapan Dyland
yang menatapnya sinis.
"teruslah tertawa dan aku akan menciummu," kata
kata Dyland membuat Sassya seketika menghentikan tawanya. Sassya menatap Dyland
yang berdiri disampingnya.
"mengapa berhenti, aku belum menciummu," Dyland
berkata pada Sassya y menyenggol lengan Dyland membuat Dyland menggeser
tubuhnya sedikit kekiri.
"aku akan membunuhmu jika kau mencoba menciumku!"
Dyland tersenyum mendengar perkataan Sassya.
Dyland menatap Sassya dari bawah hingga atas, untuk
beberapa saat Dyland terhanyut, rambut Sassya yang terurai indah dan make up
tipis yang menghiasi wajahnya membuat hati Dyland benar benar berhenti, ini
kali pertama ia merasakan getaran getaran aneh dalam dirinya... dia benar benar....????
menyadari dirinya ditatap, Sassyapun menjadi salah
tingkah..
"mengapa kau menatapku seperti itu? apa kau juga
ingin mengatakan bahwa aku sangat cantik?" Sassya berkata dengan nada pede
membuat Dyland tertawa lepas.
"mengapa kau tertawa??" tanya Sassya heran
sambil terus menatap Dyland yang tertawa sambil memegangi perutnya.
Sassya yang kesal dengan tawa Dyland yang menurut Sassya
sangat berlebihan mencubit pelan pinggang Dyland membuat tawa Dyland seketika
berhenti.
Dyland menatap Sassya yang cemberut dengan senyum
mengejek.
"siapa yang mengatakan kau cantik??? mereka semua
bohong padamu" Dyland berkata sambil
membenarkan letak jas yang ia kenakan.
"mama, kakak dan adikku yang mengatakan semua itu,
tak mungkin mereka bohong padaku"
"sudah kuduga, kau terlihat sangat jelek dengan gaun
pink ini, tubuh kurusmu semakin terlihat jelas"
Sassya terdiam sambil terus mendengarkan Dyland yang
masih bicara.
"apa keluargamu tak pernah memberimu makan, sehingga
tubuhmu begitu kurus, atau jangan jangan kau menjadi kurus karena memikirkan
ketampananku"
"aku tak terlalu kurus, aku hanya ingin menjaga
tubuhku agar tak gendut" bantah Sassya dengan wajah cemberutnya,Dyland
mendekatkan wajahnya pada wajah Sassya yang tiba tiba memerah.
"walaupun kau kurus, jelek dan bodoh, aku tetap
mecintaimu" Dyland berkata sambil menjauhkan wajahnya dan membelai rambut
hitam Sassya.
seandainya Sassya dapat terbang mungkin saat ini ia
sedang menari nari diudara tapi sayang Sassya membiarkan sayapnya tertinggal
dikamar :P
mereka telah tiba disebuah rumah yang cukup besar. mega
adalah salah satu anak pemilik perusahaan terbesar dijakarta jadi wajar jika
pesta yang diadakanpun cukup meriah..suasana megahnya terlihat jelas dari luar
rumah.... dengan alunan music dan beberapa lilin yang menghiasinya beserta
lampu warna warni yang menggantikan posisi bintang malam ini.
mobil silver Dyland berhenti disudut kanan rumah mega,
beberapa mobil tlah terpakir penuh menghiasi jalan.
"turunlah" Dyland berkata pada Sassya yang mengangguk.
Sassya membuka pintu mobil dan berlalu turun, langkahnya
langsung berjalan ke arah kanan dimana posisi dyand duduk menyetir. Sassya
mengetuk pelan kaca mobil Dyland membuat Dyland segera menurunkan kaca
mobilnya.
"kau tak turun?" tanya Sassya pada Dyland yang
masih terduduk didalam mobil.
"tidak, aku sangat membenci pesta" kata Dyland
dengan nada sedikit pelan.
"masuklah dan akan kujemput kau nanti" kata Dyland
lagi membuat Sassya menunduk.
tanpa banyak kata dan perbuatan ataupun tindakan Dyland
kembali menjalankan mobilnya menjauhi Sassya yang masih berdiri mematung. Sassya
menatap beberapa pasangan berlalu lalang dihadapannya, bergandengan tangan dan
saling bercengkrama terlihat jelas diwajah mereka senyum bahagia.
"kapan Dyland akan bersikap manis dan bersikap
romantis seperti mereka??" batin Sassya.
"Sassya" suara seseorang membuat Sassya
mengalihkan pandangannya kearah suara itu berasal.
"dhariel" kata Sassya mendapati dhariel telah
berdiri dibelakangnya.
Sassya membalikkan badannya agar berpapasan dengan Dyland
ditatapnya viona yg berdiri disamping dhariel.
"mengapa kau tak masuk?"tanya dhariel pada Sassya
yg terdiam. dhariel tersenyum senang mendapati Sassya mengenakan sepatu kaca
pemberiannya.
saat ini dhariel terlihat sangat tampan dengan kemeja
kuning dan jas hitam yg ia kenakan sangatlah serasi dengan viona yg cantik
dengan gaun kuningnya.
viona menatap dhariel yg menatap Sassya penuh arti,
"apa dhariel menyukainya??" batin vionapun bertanya tanya.
"hari ini kau benar benar cantik" kata kata
dhariel membuat Sassya salah tingkah.
dhariel benar benar mengerti apa yang Sassya inginkan,
sebuah rayuan yg akan membuat Sassya terbang bukan seperti Dyland yang selalu
membuatnya kesal. :D
"terima kasih, kau juga sangat tampan dhariel"
balas Sassya membuat dhariel tersenyum riang.
viona menatap tajam keduanya yg saling pandang.
"dhariel sebaiknya kita masuk" viona memulai
bicara membuat dhariel mengangguk.
dhariel menatap Sassya yg tersenyum.
"sebaiknya kau masuk, aku menunggu Dyland
kembali" Sassya berkata menyakinkan dhariel.
walaupun Sassya sendiri tak yakin apakah Dyland akan
kembali padanya??
"baiklah" viona berkata sambil mengandeng
lengan dhariel dan membawa dhariel pergi dari hadapan Sassya.
sesaat dhariel menengok kebelakang menatap Sassya yang
tersenyum sambil mengatakan sesuatu.
"aku akan baik baik saja, percayalah" kata Sassya
sambil menatap dhariel yg kembali menatap kedepan.
Dyland melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi,
beberapa klakson mobil memperingatinya membuatnya menurunkan kecepatan. lampu
merah membuatnya berhenti, Dyland menatap beberapa anak kecil yg sedang
mengamen dipinggir lampu merah,Dyland menyalakan ipod yg ia letakkan sampingnya
dan sebuah lagupun mengiringi perjalanannya.
baby i'm a troublemaker, i heard that you are
heartbereaker 3x
baby i'm a troublemaker..
see i'm that type of guy you won't love
i'm that type of guy you won't cuff
i'm that type of guy you daddy won't let go out
cause he think
i sell drugs
i'm that type of guy that will save yah
i'm that type guy that will call you later
wont be
around to give you that time
gotta get on the grind and
get to that paper that i can do
Dyland kembali menjalankan laju mobilnya yg terhenti
karena lampu merah.. dan kembali ngebut...!!!
dhariel menatap sekeliling pesta, mengapa ia tak melihat Sassya???
apa dia masih diluar???
dhariel melanglkahkan kakinya keluar dilihatnya Sassya
yang masih berdiri ditempat semula. tanpa pikir panjang dharielpun langsung
menghampirinya.
Sassya menghadap kearah jalan sehingga tak menyadari
dhariel dibelakangnya.
"tak seharusnya kau menunggu sesuatu yang kau tau
tak akan kembali" kata kata dhariel yg tiba tiba membuat Sassya terkejut. Sassya
membalikkan badannya dan mendapati dhariel berdiri didepannya.
"dhariel, mengapa kau disini, apa pestanya telah
usai??" Sassya bertanya, yg sebenarnya ia tanyakan untuk mengalihkan
pembicaraan.
"mengapa kau masih disini, masuklah" perintah
dhariel tapi Sassya menggeleng.
"kau saja yang masuk aku akan tetap disini"
"masuklah denganku, Dyland tak akan datang dan kau
tau itu" kata kata dhariel membuat Sassya terdiam.
yah, sebenarnya Sassya tau dan sangat sadar bahwa Dyland
tak akan kembali untuk menemaninya masuk, tapi tak ada salahnya Sassya
berharap.
"masuklah, dan gue yang akan jadi pasangan loe untuk
malam ini" dhariel berkata sambil mengandeng tangan Sassya.
"tapi bagaimana dengan viona?"
"tenanglah, viona cantik bahkan terlalu cantik,
banyak cowo yg bersedia menjadi pasangannya, jadi tenang saja"
Sassya terdiam sejenak sambil menatap wajah tampan
dhariel.
"apa aku harus ikut dengannya??? bagaimana jika
nanti Dyland datang???? tidak!! Dyland tak akan datang, bukankah dia benci
dengan pesta"
"bagaimana??" pertanyaan dhariel membuyarkan
lamunan Sassya.
"baiklah" kata Sassya sambil menatap dhariel
yang tersenyum senang.
dhariel mengandeng Sassya hingga mereka tiba didepan
gerbang, tapi tanpa diduga Dyland datang menghampiri mereka.
"tunggu" teriak Dyland membuat Sassya dan
dhariel menghentikan langkahnya. mereka menatap Dyland y kini telah berada
didepan keduanya.
"selama gue hidup, hanya gue yang pantas menjadi
pasangan Sassya" Dyland berkata sambil melepaskan tangan dhariel yg
memegang tangan Sassya. dhariel menggenggam erat tangan Sassya membuat Dyland
kewalahan memisahkannya.
Dyland terus berusaha menjauhkan tangan dhariel dari
tangan mungil Sassya tapi tetap saja ia tak bisa.
Sassyapun menatap dhariel heran.
"Lepasin tangan loe kalau loe masih ingin
hidup" ancam Dyland berharap dhariel melepas pegangan tangannya pada Sassya
tapi ternyata dhariel malah membawa Sassya pergi dari hadapan Dyland.
"apa kamu mau aku lepasin tangan aku dari kamu
sya??" pertanyaan dhariel membuat Sassya menatapnya yg terus berjalan.
beberapa pengunjung pesta menatap Sassya dan dhariel heran termasuk viona.
Dyland yg saat itu hanya mengenakan kemeja tanpa jas pink yg ia lepaskan saat perjalan
tadi terus menatap Sassya dan dhariel yg semakin menjauh.
"dasar bego, kenapa loe diam ajah Sassya dibawah
pergi dhariel dan membiarkan dhariel menggenggam tangan Sassya, apa loe mau Sassya
jatuh cinta sama dhariel dan berpalih dari loe??. sekarang rebut Sassya dan
bawa dia menjauh dari dhariel sebelum semuanya terlambat" batin Dyland
terus berkata membuat Dyland terdiam.
"kalau loe keberatan, gue bisa anterin loe balik
sama Dyland" dhariel berkata sambil melepaskan pegangan tangannya.
Sassya terdiam untuk beberapa saat, ia benar benar
bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang??? apa ia harus kembali pada Dyland
ataukah tetap bersama dhariel???
"loe ikut gue sya" Dyland berkata sambil
menarik tangan Sassya dan membawanya menjauh dari dhariel yg terdiam.
Dyland menghentikan langkahnya ketika mereka tiba
disamping mobil Dyland.
"dasar bodoh, mengapa kau diam saja saat dhariel
membawamu pergi dariku, bukankah pangeranmu itu aku" Sassya terdiam dan
menunduk sementara Dyland masih saja bicara.
"seharusnya kau menjauhkan tanganmu darinya bukan
hanya diam seperti itu, kau benar benar bodoh"
Sassya masih saja terdiam tak ada satu katapun yg terucap
dari bibir merah mudanya.
Dyland yg masih memegang tangan Sassya menuntun Sassya
masuk kedalam mobil, Dyland membukakan pintu untuk Sassya dan menyuruh Sassya
masuk.
"masuklah" perintah Dyland dan Sassyapun masuk.
Dyland membuka pintu mobil dan duduk disamping Sassya yg masih terdiam,
terdengar suara Dyland menutup pintu mobil. dan merekapun segera berlalu..
sepanjang perjalanan mereka hanya diam diaman... sebelum
sebuah kalimat terlontar dari bibir Dyland.
"sudah berapa kali aku katakan, jauhi dhariel jika
kau masih ingin aku bersamamu,tapi jika kau tak ingin lagi disisiku katakanlah
aku akan pergi dari hidupmu" Dyland berkata tanpa menoleh keSassya yg
menatapnya tajam.
Dyland terus saja fokus pada setir didepannya.
"aku dan dhariel hanya bersahabat tidak lebih, apa
itu salah??"
"tidak, tapi kau tau bukan bahwa dia
menyukaimu??"
"aku tau, tapi aku tak pernah mencintainya"
kata kata Sassya membuat dylan meminggirkan mobilnya dan berhenti.
"kau egois Dyland"kata Sassya pelan membuat Dyland
menatapnya tajam.
"apa?"
"kau egois jika kau menyuruhku untuk menjauhi
dhariel, kau tau mengapa??"
Dyland menggeleng.
"karena dengan bersama dhariel aku menemukan
kebahagiaan, kau egois jika kau tak membiarkan aku bahagia"
" jadi selama bersamaku, kau tak pernah
bahagia??" tanya Dyland kesal.
"kau tau bukan, kau selalu saja membuatku kesal, kau
selalu memanggilku bodoh, jelek dan kurus apa kau pikir aku akan bahagia dengan
semua itu??" Dyland terdiam mendengar setiap kata yg Sassya ucapkan.
"tapi dhariel, entah mengapa saat aku disisinya aku
menemukan sebuahkedamaian, dhariel selalu mengatakan padaku bahwa aku
cantik,aku tau itu hanya sebuah rayuan tp setidaknya itu dapat membuatku
tersenyum"
"KALAU BEGITU MENIKAHLAH DENGANNYA!" teriak Dyland
keras sambil membuka pintu mobil dan berlalu keluar.
Sassya yg masih terduduk didalam mobil hanya bisa terdiam
dan terdiam...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar