Facebook Badge

Jumat, 24 Mei 2013

“Ketika Dira, Jatuh Cinta!” #PART3

***

“Itukan Dava, Kakak Lo Dir!” Evan menunjuk tepat kedepan perpustakaan, dimana terlihat Dava dan Vega yang sedang berbincang2.

Dira menghentikan langkahnya ditengah lapangan, bersamaan dengan Evan disampingnya.
“Kakak Tiri!” ralat Dira dengan ekspresi datar.
Pandangannya tertuju pada dua remaja itu.

“Mereka udah saling kenal?”
Evan mengalihkan pandangannya menatap Dira yang mengangkat kedua bahunya.

“Kelihatan dekat banget mereka.”
Lanjut Evan.

“Peduli!” Dira menarik nafasnya panjang, ia kembali melangkahkan kedua kakinya menjauh dari pemandangan tak mengasikkan itu, yang disusul Evan dibelakangnya.

Buk!
Dira mendudukkan badannya tak bersemangat pada kursi besi kelas.

Evan menatap bingung wajah Dira yang tak seperti biasa, “Kenapa Lo?”
Cowok itu duduk disamping Dira yang merebahkan kepalanya menempel pada meja.

Tak ada jawaban dari bibir Dira, kening cowok itu seketika berkeringat.

“Dir, lo sakit!” Evan menampakkan wajah khawatirnya.

Dira tersenyum tipis, “Jantung gue kumat.” Suaranya terdengar pelan.

“Obat Lo!” Evan segera meraih tas selempang Dira dan mulai mencari obat yang selalu setia dibawa cowok playboy itu.

Evan menatap Dira kesal saat tak mendapati satupun obat dibawanya.
“Obat Lo mana?”

Dira menaikkan wajahnya pelan, menelus jantungnya yang seketika ia rasakan sakit. “Habis.” Jawabnya enteng.

Evan menggeleng menatap Dira yang mencoba bersikap tegar, padahal hati pemuda itu rapuh.

“Dir.” Evan menepuk punggung Dira pelan, menyemangati.

Dira tersenyum perih.”Gue udah bilang ayah kemarin, tapi sepertinya dia lupa, terlalu sibuk dengan pekerjaan, istri baru dan juga Dava.”

Evan terdiam, mendengar curahan hati sahabatnya, ia tau betul perasaan Dira yang rapuh tapi cowok itu masih tegar tersenyum.
Dira kehilangan kasih sayang sang ayah setelah pria itu menikah dengan ibunda Dava.
Kepada Evanlah, Dira selalu mencurahkan semua isi hatinya.

“Kenapa lo gak telpon gue, biar gue yg beliin obatnya buat lo.”

Dira menggeleng. “Gue masih punya ayah, gue pikir dia masih peduli sama gue, tapi ternyata wanita itu dan Dava adalah segalanya saat ini.”

Evan menepuk punggung Dira untuk kedua kalinya. “Gue tau lo kuat, Dir!”

Dira tersenyum lebar mendengar semangat Evan untuknya.
Memang Evanlah yang mengerti dirinya melebihi sang ayah.
“udahlah, Kenapa jadi mellow gini, berasa sinetron.” Dira menjitak kepala Evan kesan.
“Cincaw!”

“Elo Lemper!” Balas Evan tak mau kalah.

***
“Nama saya Vega Ramona Evelyn, kalian cukup panggil saya Ve atau Vega.!

Begitulah kiranya bunyi perkenalan gadis manis itu.
Tangan dan kakinya bergetar, saat semua mata tertuju padanya.

“Baiklah Vega, Kamu silahkan duduk disamping Niky!” Bu Dona sang wali kelas menunjuk Niky yang menatap tak suka pada Vega.

Vega melangkahkan kakinya mendekati Niky dan terduduk disamping cewek putih itu.
“Hey gue Ve!”
Ve mencoba memperkenalkan dirinya pada Niky yang menatapnya sinis.

“Gue gak Nanya!”

Ve mengkrucutkan bibirnya kesal, saat perkenalannya diacuhkan gadis itu.
“Sombong!”

Ternyata sekolah disini bukan sesuatu yang mengasikkan, pertama ia harus berhadapan dengan cowok menyebalkan bernama Dira, kedua, ia harus pasrah saat bu Dona menyuruhnya duduk sebangku dgn gadis sombong ini.
Dan ketiga mungkin akan lebih parah lagi dari keduanya.

Pluk!
Ve mendengus kesal saat seseorang melemparkan segumpal kertas kecil kearahnya.
“Siapa lagi sekarang?”
Ia mencoba berbalik menatap siapa yang telah berani melemparkan kertas padanya.
Matanya membesar saat ia menatap, siswa itu tersenyum manis kearahnya.
“Dava?”

Ve tak pernah menyangka, bahwa ia akan sekelas dengan pemuda yg mulai menarik perhatiannya beberapa jam yg lalu.
Gadis itu membalas senyum Dava kagok, ini seperti mimpi.

Ve berbalik kembali menghadap kedepan, kemudian meraih kertas yang dilempar Dava dan membaca tulisan yang tertera disana.

(Welcome, Gue Deavan Blake Redrigo)

Ve tersenyum tipis setelah membacanya, ia menengok kebelakang menatap Dava yang tak lagi memperhatikannya.
Cowok itu terlihat sibuk menyalin.
Hati ve seketika terhenti, saat cowok itu menatapnya balik dengan tatapan mautnya dan senyum manisnya.
Seketika ve mengembalikan badannya menghadap ke depan,Ve menutup matanya malu, Tuhan! Inikah yang namanya cinta?

“Jangan berharap lo bisa dapatin dia!”

Ve membuka matanya saat suara Niky menggema pendengarannya.
“Lo?”

“Dava ama Dira, mereka milik gue, jadi, anak baru kayak lo gak usah sok kecentilan!”
Niky berbicara dengan sedikit membentak, pandangan lurus kedepan.
“Inget, lo akan berurusan sama gue, kalau lo masih berani deketin mereka!”
Lanjut Niky.

Ve mendengus kesal, entah kenapa, ia tak suka dengan perkataan gadis itu yang melarangnya dekat dengan Dava, kalau Dira, ia tak terlalu peduli, karena Ve sendiri malas berhadapan dengan cowok menyebalkan itu.
Tapi Dava?
Ia tak mungkin bisa, senyuman manis cowok itu tlah meluluhkan hati Ve.

TengTeng!
Bel istirahatpun berbunyi, Vega menarik nafasnya panjang bersamaan senyum lebarnya.
Akhirnya, ia bisa menjauh dari nenek sihir disampingnya ini, walaupun hanya limabelas menit.

Dava mendekat pada Ve yang sibuk memasukkan buku dalam tas merahnya.
“Hai!” sapa lembut Dava sesampainya didepan Ve.

Ve tersenyum tipis, “Hai!” wajahnya seketika memerah.

Niky yang masih terduduk disamping Ve, menatap keduanya tak senang.

“Ve, gimana kalau kita ke kantin?” Dava menatap Ve yang selesai berbenah. “Gue lapar.”

Ve tersenyum mendengar perkataan polos Dava, gadis itu berdiri dan mengangguk. “Baiklah!”

Dava tersenyum senang, keduanyapun berlalu keluar kelas.
Sementara itu, Niky menatap tajam Ve yang menjauh. “Lo gak akan bisa dapatin dia!” tatapan gadis itu penuh kebencian.
Sepertinya, ia sungguh2 dengan perkataannya.

***
“Mana uangnya?” Evan menatap tajam Dira yang baru saja mendudukkan badannya pada kursi kantin.

Kening Dira mengkerut. “Uang apaan?” Tanyanya balik sambil membuka menu makanan kantin bu Ira.

“Buat beliin obat lo,” Evan terduduk didepan Dira. “kalau gue kaya udah gue talangin dulu pake duit gue.”
Iapun melakukan hal yang sama, membuka menu dan mulai memilih.

“Gue udah pesan ama ayah.”

“Kalau dia lupa lagi?”

“Palingan gue mati.”

Evan menatap Dira tajam sambil menggelengkan kepalanya. “Perkedel.”
Evan meraih bulpoin dan secarik kertas menu didepannya, setelah ia menutup daftar menu. “Lo mau mesan apaan?”

“Cewek sexy ada gak?” Dira menutup buku menu dan memainkan matanya genit pada Evan yang siap melayangkan jitakkan dikepalanya.

Pletak!
“Makanan dodol, bukan cewek!”

Dira tertawa pelan menatap wajah lugu sahabatnya.
“Iya, iya,” Dira meraih Mp3 pada saku seragamnya dan mendekatkan hadseat pada kedua telinganya.
“Biasa, Nasi kuning sama minumnya susu coklat manis.”

Dengan cepat, Evan menuliskan pesanan Dira pada kertas menu bersatu dengan pesanannya.

***
“Jadi kamu anaknya bu kantin?”

Ve mengangguk menjawab pertanyaan Dava. “Kenapa? Kamu malu temenan sama aku?”
Ve menunduk membuat Dava menatapnya pelan.
Keduanya mengintari koridor menuju kantin.

“Ve!” Dava menghentikan langkahnya tepat saat keduanya berada didepan kantin sekolah.
Cowok itupun meraih dagu Ve hingga gadis itu menatapnya. “Apa gue termasuk cowok seperti itu?”
Dava menatap Ve yang menggeleng.

“Aku tau kamu baik Dav.”

Dava tersenyum dan berganti mengacak2 poni Ve gemas. “Jadi kita temenan?”

“Hmm.. Gimana yah?” Ve pura2 berfikir, “Nanti pacar kamu marah!”

Kening Dava menyatu, “Pacar gue? Siapa?”

“Entahlah!” Ve menaikkan kedua bahunya bersamaan.

“Gue belum punya pacar, Manis!”

Vega terdiam saat pemuda itu mencubit kedua pipinya dan memanggilnya ‘manis’.

Entah kenapa, seketika hati Ve lega dan senang, saat pemuda itu terang2an mengatakan belum punya pacar.
Setidaknya itu berarti masih ada kesempatan untuk Ve lebih dekat dengan pemuda impiannya ini.

Dari salah satu meja, sepasang mata menatap tajam keduanya yang tengah memilih tempat untuk duduk.

Dira, pandangan cowok itu tak pernah lepas menatap Dava dan Ve yg kembali berbincang2, dadanya seakan sesak saat mendapati Dava yg tak henti-hentinya tertawa disamping Vega.

“Dira!”
Panggilan Evan tak didengarnya, cowok itu masih mendengarkan musik pada Mp3nya yg menyatu pada hadseat dikedua telinganya.

“Menyebalkan!” Dira menggebrak meja kencang, membuat seisi kantin menatapnya heran, tak terlebih Evan yang sedang menyantap pesanannya seketika tersendak.

“Dir, Dira!”Evan menatap Dira yang berdiri.
Tatapan Mata Dira memancarkan api kemarahan.

Saat Dira hendak melangkah, Evan menahannya.
“Lo mau kemana?” Evan berdiri didepan Dira.
Cowok itu menatap geram Dava yang berjalan menghampirinya.

“Lo baik-baik ajah?” Dava mencoba menepuk lengan Dira, tapi Dira menepisnya cepat.

“Apa?” Dira membuka hadseat ditelinga kanannya, tersenyum sinis pada Dava yang menatapnya khawatir.

“Lo gak apa-apa?” Dava mengulang pertanyaannya.

Dira tersenyum sinis, “Kenapa? Lo berharap gue cepat mati!”

Dava menarik nafasnya pelan. “Gue gak pernah benci lo Dir,” Dava meraih lengan Dira pelan. “Elo udah gue anggap seperti adik kandung gue sendiri, walaupun gue tau lo gak pernah menginginkan kehadiran gue.”

“Basi!” Dira meraih jus alpukat pesanan Evan dan..

Byurr!

Dava menutup matanya pasrah saat Dira menyiram kepalanya dengan jus hijau itu.

“Dira!”
Dira berbalik saat suara seseorang memanggil namanya.
Ia tersenyum sinis saat mendapati Ve berjalan kearahnya dengan semangkok bakso dalam genggamannya.

Sesampainya didepan Dira..

Byur!
Ve segera menyiramkan bakso ditangannya tepat diatas Kepala Dira, persis yang Dira lakukan pada Dava, pujaan hatinya.

“Sekali lagi Lo nyakitim Dava, gue yg akan ngebalas lo, NGERTI?”
Ve menaruh mangkok kosong diatas meja Dira, mendorong tubuh Dira hingga menjauh dan menuntun Dava menjauh dari seisi kantin yang menatap tajam mereka.

Evan mendekat pada Dira, “Lo gak apa-apa Dir? Muka lo merah gitu!”
Cowok itu menatap wajah Dira yg seketika memerah.

“PANAS!” Teriak Dira kencang.

CONTINUE :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Online Now Icons