“Bu, Ve jalan2 dulu.”
Ve melangkahkan kakinya menjauhi kantin setelah mendapat anggukan sang bunda.
Setelah membantu sang bunda membenahi kantin, gadis itu memilih untuk berjalan ria sebentar mengitari koridor sekolah.
“Baru jam enam.” ia menatap arlogi dipergelangan tangannya. “Jelas ajah masih sepi.”
Ia terhenti ketika tiba didepan kelas, matanya menatap kedalam ruangan tepat dimana tempat duduk Dava, wajahnya terlihat kecewa saat tak mendapati Dava disana.
“Pasti belum datang.”
Ve kembali melangkah, kakinya lagi2 terhenti ketika menatap Dira yang berjalan mendekat.
“Kenapa harus Dia?” Ve memutar tubuhnya berbalik, mencoba menghindar dari cowok menyebalkan itu.
“Lo! Tunggu!”
Ve mempercepat langkahnya, saat suara serak Dira menggema pendengarannya.
Tapi sial, Langkah seribu Dira mampu menghentikan langkah gadis itu.
Dira mencengkram lengan Ve keras. “Mau kemana Lo?”
Tatapan mata sangarnya membuat hati Ve mengecil karena takut.
“Lo mau kabur, setelah lo buat wajah gue memerah, huh?” Dira membentak sambil mengeras cengkraman tangannya.
Ve mencoba tenang, “Itu karena lo yang cari masalah lebih dulu!” gadis itu menepis cengkraman Dira cepat.
Dira menatapnya semakin geram.
“Gue nyiram dia pake Es, sementara lo!” Dira mendorong tubuh Ve hingga menempel pada dinding. “Nyiram gue pake kuah panas!”
Suara Dira mengeras.
Ve menggigit bibir bawahnya takut. “Trus mau lo apa? Nyiram gue pake kuah panas juga!” tantang Ve pada Dira yang tersenyum sinis.
“Kalau itu mau lo, kita kekantin sekarang, dan lo bisa nyiram gue disana!”
Ve mendorong tubuh tinggi Dira menjauh darinya.
Cowok itu menampakkan espresi datarnya. “Ayo!”
Dira menarik paksa tangan Ve mendekati kantin.
Ve menutup matanya pasrah. “Tuhan, selamatkan Ve!”
Gadis itu memohon sambil membuka matanya, saat ia merasakan langkah Dira yang terhenti.
Matanya membesar saat ia menyadari Dira yang ternyata tak membawanya ke kantin, melainkan UKS?
Dira melepas pegangan tangannya, “Gue bakal balas lo disini!” Dira menaikkan sebelah alisnya penuh ancaman, pandangannya sinis menatap Ve yang menampakkan wajah takutnya.
Cowok itu menghampiri Ve dan menarik tangan gadis itu hingga memasuki ruangan.
“Lo mau ngapain?” Ve mencoba brontak saat Dira mendorongnya kasar hingga terjatuh.
“Bunuh Lo!” Dira melepas tas selempangnya dan membuangnya keatas ranjang UKS.
Dira Membungkukkan badannya, mendekat pada Ve yang masih terduduk.
Gadis itu berusaha menghindar saat Dira mencengram Dagunya.
“Dira!”
Ia bersuara pelan.
Dira tersenyum puas menatap wajah takut Ve.
“Tapi sayangnya gue gak sejahat itu.”
Dira mendekatkan wajahnya pada wajah terkejut Ve.
Gadis itu membelalakan matanya saat bibir Dira menyentuh bibirnya.
Dira menciumnya!!
Ciuman pertamanya direnggut oleh cowok menyebalkan ini!
Bagaimana bisa?
Ve mendorong tubuh Dira menjauh, hingga ciuman kramat itu terhentikan.
Gadis itu berdiri dan menatap geram Dira yang menampakkan wajah puas, telah mengerjai gadis itu.
Ve tak tinggal diam, ia mendekat pada Dira yang berdiri dan
Plak! plak!
Tamparan kiri kanan mendarat tepat pada pipi cowok itu.
Dira hanya tersenyum sinis, tak menampakkan wajah sakit sedikitpun.
Toh cowok itu tlah terbiasa ditampar seperti oleh sang ayah.
Dira mengelus pelan pipi kirinya, tersenyum tipis pada Gadis itu yang berusaha menjauh.
Untuk saat ini, Ve memang tak berselera untuk berdebat, lebih baik menghindar dan memikirkan apa yang akan dilakukannya nanti, untuk membalas perbuatan cowo menyebalkan itu.
Dira meraih tas selempang diatas ranjang UKS, dan memakainya.
“Dira!”
Cowok itu menajamkan penglihatannya, menatap seseorang yang tiba dari balik pintu.
Dava mendekat pada Dira yang masih menatapnya tajam.
“Obat lo, ketinggalan!” Dava mengeluarkan satu botol kecil berisikan kapsul obat dari saku seragamnya.
Menyodorkan pada Dira yang meraihnya enggan.
“Gue gak mau lo pingsan lagi!” Dava menepuk punggung Dira pelan dan berlalu keluar ruangan.
Dira menatap Dava yang semakin menjauh, hingga bayangan cowok tinggi itu hilang dari pandangannya.
Cowok itu terduduk dipinggir ranjang, menatap botol obat ditangannya.
Kejadian kemarinpun, seketika terliang kembali dalam pikirannya.
Sore itu..
“Dir, Dira!”
Suara seseorang memanggil namanya menyadarkan Dira dari pingsannya.
Ia mencoba membuka matanya perlahan, masih ia rasakan sakit pada jantungnya, ia mencoba terduduk.
“Dira, makan siang udah siap!” Dava tiba dari balik pintu, langsung masuk dan berdiri didepan Dira yang bersikap biasa.
Cowok itu tak ingin Dava tau tentang jantung Dira yang kembali kumat karena telat minum obat.
Dira berusaha berdiri, menghindar dari tatapan mencurigakan Dava. “Lo duluan ajah!”
Dira terhenti dimeja belajar, berdiri membelakangi Dava yang menatapnya aneh.
“Obat Lo mana?” Dava mendekat pada Dira, cowok itu memperhatikan dengan seksama ekspresi wajah Dira yang mencoba menahan sakit.
“Jantung Lo kambuh?” Dava semakin yakin akan penyakit jantung Dira yang kambuh, terlebih saat Dira menekan jantungnya keras untuk sekedar menghilangkan rasa sakit.
“Pergi Lo!” Usir Dira, ia mendorong tubuh Dava menjauh.
“Lo gak telat minum obatkan?”
Dava menatap Dira tajam.
Dira kembali mendorongnya hingga keluar kamar.
“Pergi, dan janji pernah sok peduli sama gue!”
Dira menggigit bibir bawahnya saat sakit pada jantungnya semakin menjadi.
“Dira gue..”
Dava menghentikan perkataannya saat mendapati tubuh Dira yang seketika terjatuh.
Dava mendekat, meraih kepala Dira dan menaruhnya dalam pangkuan.. “Dira.. Obat lo mana?”
Dava menatap tajam Dira yang memandangnya samar2..
Bibir Dira seketika bergetar, ia mencoba mengatakan sesuatu.. “Ayah..”
Dava mengerutkan keningnya, ia menuntun Dira berdiri dan berjalan hingga ranjang bermotif AC.Milan itu, kemudian Dava membaringkan tubuh Dira pada Ranjang.
Dira menatap Dava yang sedang berbicara dengan seseorang lewat telpon, Cowok itu menajamkan pendengarannya, mencoba menyimak perbincangan Dava dan suara diseberang telpon.
“Tolong kirim secepatnya.”
“…”
“Terimakasih.”
Davapun menutup sambungan telpon. Dan kembali berdiri didepan Dira yang diam menatapnya.
“Sebentar lagi obat lo datang, gue kebawah dulu, kasih tau Bunda kalau kondisi lo kurang baik.”
Dava berlalu setelah mengatakan itu, tapi sesampainya didepan pintu ia berbalik menatap Dira pelan.
“Kalau obat lo abis, lo bilang sama gue, Ayah banyak kerjaan, dan dia sering lupa, lo bisa percaya sama gue.”
Dira terdiam mendengar perkataan Dava itu.
Cowok itu tersenyum tipis saat Dava berlalu dari hadapannya.
“Rencana apa yang tersimpan dibalik sikap baik lo sama gue Dav?”
***
Dira memasukkan botol kapsul obat pada tas selempangnya , membuyarkan lamunannya tentang kejadian kemarin.
cowok itupun berlalu keluar ruangan.
Langkahnya terhenti saat seseorang memanggil namanya..
“Dira!”
Dira terdiam menatap gadis cantik dengan rambut hitam panjangnya bak seorang model shampoo berjalan kearahnya.
“Hi, Dira!” Sapa gadis itu sesampainya didepan Dira.
Cowok itu tersenyum tipis, “Hi, ada apa?”
“Gue cuma mau nanya, ada hubungan apa antara Dava sama anaknya bu.kantin?” Niky menatap Dira tajam yang menarik nafasnya panjang.
“Cantik!” Dira merangkul bahu gadis itu yang tersenyum senang.
Dira merangkul bahunya, ini seperti mimpi.
Cowok itu lanjut bicara. “Lo salah tanyain itu sama gue,” Dira melepas rangkulannya.
Niky menatapnya tajam, “Bukannya Dava kakak Lo?”
“Kakak tiri!” Ralat Dira cepat.
Niky mengangguk mengerti, “Mereka dekat banget Dir!” Niky menampakkan wajah tak sukanya.
“Guekan cemburu!”
Dira tertawa pelan mendengar penuturan gadis itu. “Nona, kalau lo suka kenapa gak lo tembak?”
Dira mendekat pada Niky yang masih menatapnya, cowok itupun menuntun Niky terduduk dikursi kayu depan UKS.
“Dia itu cuma anaknya bu kantin, dia gak selevel ama Lo, gue yakin lo pasti menang dapatin hati Dava.”
Dira menyakinkan Niky yang seketika tersenyum.
“Benar juga!” Niky berdiri dari duduknya penuh semangat. “Gue gak mungkin kalah dari Cewek kampung itu.”
Dira mengangguk, “Yep, dia bukan saingan Lo!”
“Makasih Dir atas semangat lo, sekarang gue jadi tambah semangat buat dapatin hati Dava!”
Dira berdiri dari duduknya. “Okay, good luck!” Dira mengelus rambut Niky pelan.
Semakin salah tingkah Niky dibuatnya.
**
“Dira nyebelin! Tunggu pembalasan gue!”
Ve terus mencuci mulutnya dengan wastafel toilet.
Mencoba menghilangkan sisa ciuman terkutuk itu.
“Gue harus balas dendam, bisa2nya dia ngambil ciuman pertama gue, Argh!” Ve mengacak rambutnya kesal saat kejadian tak diinginkan tadi kembali diingatnya.
Harapan gadis itu akan ciuman pertama dengan pemuda impiannya ternyata hanya tinggal mimpi.
Dira, cowok yang sangat dibencinya tlah menghancurkan impian gadis itu. Menyedihkan.
Ve melangkah keluar toilet dengan tak bergairah.
Langkahnya terhenti saat matanya menatap Dira dengan seorang gadis sedang berbincang2.
Gadis dengan kepang satu dan wajah lugunya.
Keduanya terlihat terduduk dipinggir lapangan, saling berbagi tawa dan canda.
“Siapa Dia?”
Ve menyipitkan matanya, menatap pemandangan yang jauh didepannya.
“Gak mungkin mereka pacaran! Emang ada yg betah jadi pacar cowok setengil Dira!”
Gadis itu masih menatap tajam Dira dan Mia yang sedang berbincang2.
“Kayaknya ada yang cemburu!”
Ve mengalihkan pandangannya saat bisikan itu menggema ditelinganya.
“Dava, apaan sih!”
Gadis itu memukul lengan Dava pelan yang tersenyum mengejek.
“Kamukan tau, aku benci banget sama Dira.”
“Emangnya kita lagi ngomongin Dira?”
Pertanyaan Dava membuat Ve menutup matanya malu.
Dava tertawa pelan, “Jelaskan sekarang, kalau kamu lagi mikirin Dira!”
Dava mengacak poni Ve asal.
Gadis itu menunduk malu menyadari kebodohannya.
“Diantara banyaknya siswa, kenapa Dira yang kamu sebut?”
Dava menatap tajam Ve bersamaan dengan senyum manisnya.
“Cie yang ada hati sama Dira!”
Canda Dava membuat wajah Ve seketika memerah.
“Dava!”
“Dira!” cowok itu kembali mengacak poni Ve gemas.
Dari balik pintu kelas 12che6 tampak Niky menatap Ve dan Dava tajam.
“Apapun caranya, gue gak mungkin kalah dari lo, Cewek kampung!”
CONTINUE :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar