**
“Baiklah, bisa dijelaskan apa yang sebenarnya terjadi, DIVARIO!” Pak kepala sekolah menatap geram Dira yang menyenderkan tubuhnya pada salahsatu kursi didepannya.
Cowok dengan alis tebalnya yang hampir menyatu itu, menampakkan gaya santainya saat pertanyaan itu terlontar untuknya.
“Jadi begini pak,” Dira membenarkan posisi berdirinya, “Sebenarnya tadi kita lagi latihan buat pementasan teater sekolah.” Dira menaikkan sebelah alisnya sambil menatap wajah tak suka Vega.
“Dasar pembohong!” Kesal Ve pelan. Ia terus menatap Dira yang kembali menjelaskan.
“Kebetulan, saya sama dia itu yang menjadi romeo and julietnya, jadi tadi kita mencoba untuk memperagakan satu adegan dimana keduanya ingin melakukan..” Dira sengaja menggatungkan perkataannya bersamaan dengan jemari tangannya yang membentukk tanda tanya (??).
Pak Irwan dan Ve menatap tajam Dira yang lanjut bicara.
“Tapi bapak tenang, kita gak benar-benaar melakukan itu kok.” lanjutnya masih dengan gaya santai khas Dira.
“Benar begitu.. Vega??” Pak kepala sekolah berganti menatap Vega tajam, menunggu jawaban dari bibir gadis manis itu.
Vega menunduk setelah menatap tatapan sangar Dira yang penuh ancaman, sepertinya cowok itu tak segan-segan membunuhnya jika membocorkan apa yang sebenarnya terjadi.
Dengan sangat terpaksa Vepun mengangguk pelan. “Benar pak.”
Dira tersenyum lepas, hatinya seakan lega, itu berarti ia terbebas dari hukuman kali ini.
Pak Irwan, kepala sekolah mengangguk pelan sambil membenarkan letak kacamata tipisnya, “Baiklah, kalau begitu kamu boleh keluar, Divario.”
Dira mengangguk, tersenyum sinis pada Vega yang menatapnya kesal. “Baikk Pak.” Dira kembali melangkah tapi langkahnya terhenti ketika suara pak Irwan kembali menggema.
“Tunggu!, ini peringatan untuk kamu,” Pak Irwan menatap Dira yang berbalik. “Sekali kamu buat masalah, bapak tidak akan segan-segan untuk memangil orangtua kamu kesini, MENGERTI!”
Dira mengangguk malas sambil berlalu meninggalkan ruangan putih itu. “Menyebalkan!” Grutunya pelan.
***
Dira menyender didinding di samping Evan yang setia menunggunya didepan kantor kepala sekolah.
“Lo dusta apa lagi, biar terbebas dari hukuman?” Evan menggeleng, ia tau, pasti baru saja sahabatnya ini berbohong untuk sekedar lari dari hukuman yang setia menantinya.
Dira tersenyum tipis, terlihat lesung pipi kecil dipipi kirinya. “Apa ajah, yang penting ayah gue gak dipanggil ke sekolah.” Cowok itu meregangkan otot lehernya.. terdengar bunyi “Krek!” seketika dari bagian tubuhnya itu.
“Makanya, udah tau Ayah lo tentara, lo gak kapok digebukin tiap hari karena kenakalan lo itu?”
Dira menggeleng diiringi dengan senyum Khasnya, menjawab pertanyaan Evan yang menurutnya gak penting.
“Udah biasa gue,” Suaranya terdengar tak berirama… Dira tak lagi menyender saat mendapati seorang siswi imut melambaikan tangan kearahnya dengan sebuah cake ditangannya.
“Ini buat kak Dira.” gadis imut itu menyodorkan cake itu pada Dira yang langsung menerimanya.
“Terimakasih.” Suara imut dan senyuman maut Dira mampu membuat gadis itu salah tingkah.
“Dimakan yah Kak!” Gadis itu berkata dengan ekspresi malu-malu, tersenyum senang saat Dira mengelus lembut rambut panjangnya yang terkepang rapi.
“Terimakasih…” Dira terdiam sejenak memikirkan nama gadis didepannya ini. Ia memang kesulitan jika harus disuruh mengingat nama seseorang, terlebih seorang cewek.
Evan menghampiri dira dan berbisik ditelinga kanan playbboy itu. “Mia.” Katanya pelan.
Dira mengangguk cepat, “Makasih Mia,” semakin lembut Dira mengelus rambut hitamnya.
Evan menggeleng menyaksikan tingkah malu-malu Mia saat ini, mungkin semua cewek akan salah tingkah bila sudah didekat Dira, sahabatnya seperti sekarang.
Gadis yang manis, tapi Evan merasa kasihan jika gadis ini nantinya akan terluka karena Dira, sang Playboy, seperti gadis-gadis sebelumnya.
“Aku pergi.” Miapunn berlalu dengan wajah yang seketika penuh merona, sepanjang koridorpun ia tak pernah lepas tersenyum senang.
Evan mengintip Cake stawberry ditangan Dira, “Sepertinya enak!” Pikirnya.
tapi sayang saat jemarinya hendak mencicipi sedikit krim dipinggir cake itu, Dira keburu memukul punggung tangannya. “AOW!Pelit Lo,” Evan menatap Dira kesal yang melarangnya untuk mencicipi cake itu sedikit saja.
“Gak boleh!” Dira segera menjauhkan Cake itu dari pandangan Evan. “Kue ini, mau gue kasih sama Vega!”
“Vega?” Evan membelakkan matanya tak percaya. Apa ia salah dengar????
Atau sudah dapat Evan pastikan ini hanyalah akal-akalan Dira untuk mengerjai Cewekk itu.
“Lo masih disini?” Ve yang baru keluuar dari kantor kepala sekolah menatap risih Dira, yang tersenyum ke arahnya.
Cowok itu mengangguk, “Iya,” ia menyodorkan cake itu pada Evan untuk dipegangnya. Evan menurut, untung-untungan ia bisa mencicipi sedikit krim cake itu yang sedari tadi menggoda imannya.
“Gue mau minta maaf!” Dira berdiri didepan Vega yang menatapnya penuh keterkejutan..
“Gimana, lo maafin guekan, daripada kita musuhan dihari pertama lo sekolah, lebih baik kita temenan, bagaiman nona Vega?”
Kening Vega mengerut, “Darimana lo tau nama gue?”
Dira tersenyum lebar, memainkan lidahnya dibalik bibir tipisnya. “Lo anaknya bu kantin kan?”
“Iya.”
“Gue tau semuanya tentang lo,!” Dira mendekat, Ve berusaha menghindar, gadis itu mundur hingga tak menyadari bahwa dirinya telah menempel pada dinding putih itu untuk kedua kalinya.
Dira melentangkan tangannya menempel pada dinding tepat disamping wajah gadis itu, tak membiarkan ruang sedikitpun untuk gadis itu menghindar. “Jadi gimana?? Temenan??”
Ve merasakan dadanya yang seketika sesak, ia menutup matanya saat sebuah angin berhembus indah kearahnya, sejuk, harum parfum Dirapun seketika jelas tercium olehnya.
“Nona!”
Suara bentakan Dira sempat mengejutkan Vega.
Gadis itu membukamatanya dan mengangguk cepat. “Okay.”
“Okay apa?” Dira menatapnya tajam, semakin mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu yang memerah.
“Kita temenan.” walau terpaksa akhirnya kalimat itu terlontar juga dari bibir merah Vega.
Dira tersenyum puas, melentangkan tangannya kembali tapi kali ini untuk memberi ruang untuk Vega berlalu. Dira menggeleng mendapati Evan yang sibuk mencicipi cake ditangannya. “Dasar Cincaw.”
Vega cepat-cepat berlalu, menjauh dari manusia menyebalkan ini, tapi sayang, saat ia tepat didepan Evan, ia merasakan seseorang mendorong tubuhnya kedepan, hingga tepat.. wajahnya seketika menempel pada Cake ditangan cowok tinggi itu.
Vega menjauhkan wajahnya yang telah penuh dengan cake stawberry itu, berbalik menatap geram Dira yang tertawa puas.
Benar saja, ia baru dikerjai oleh cowok menyebalkan ini.
Ve menutup matanya saat sekeliling sekolah menertawakannya, memalukan, dengan cepat gadis itupun berlalu dari kerumunan manusia yang terus menertawakan kebodohannnya.
“Tunggu pembalasan gue!”
Evan menatap sayu cake yang tak lagi berbentuk ditangannya. “Udah gue duga, untung sebelumnya udah sempat gue cicipin dikit.” pandangan Evan beralih pada Dira yang masih tertawa penuh kemenangan, “Dir!” Teriaknya.
Dira menaikkan dagunya, “APA?”
“Tega lo, anak orang lo buat malu kayak gitu.” Evan mengembalikan cake itu pada Dira yang tersenyum.
“Impaslah, tadi pagi dia juga buat gue malu.” Dira tak mau kalah membela dirinya sendiri.
Kalau sudah seperti ini, Evan hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah. “Terserahlah!”
***
”Dasar cowok nyebelin, liat ajah, gue gak akan tinggaal Diam!” Ve membersihkan wajahnya yang penuh dengan krim cake pada wastafel toilet wanita. ia masih tak terima akan perlakuan Dira padanya.
Bagaimana bisa, dihari pertamanya sekolah disini, ia sudah dipermalukan seperti ini??
Tapi bukan Vega, jika ia diam saja dan tak membalas perlakuann tak mennyenangkan Dira padanya.
Ve membersihkan seragamnya yang sedikit terkena krim, dan berlalu ketika mendaapati wajahnya sudah kembali normal.
Gadis itu sibuk dengan seragamnya, mengintari koridor sekolah tanpa menatap kedepan, Hingga ia tak menyadari seorang siswa berjalan keaarahnyaa dengan membaca sebuah buku ditangannya.
Persis seperti Vega, siswa itupun pandangannya menunduk pada buku yang dibacanya…
Hingga akhirnya… terjadi tubrukan diantara kedua remaja itu.
“Aow!” Vega merintih sakit sambil terduduk dilantai koridor. “Sial!” ia mengelus lutut kakinya yang seketika ia rasakan ngilu.
“Sorry!” Siswa dengan topi kainnya, berdiri setelah bersamaan terjatuh dengan Vega, seketika siswa berkacatama tipis itu mengulurkan tangannya pada Vega yang masih terduduk.
“Gue bantu.”
Ve mendongakkan wajahnya, matanya membesar, jantungnya berdetak tak menentu, hawapun seketika ia rasakan dingin dan sejuk, saat matanya mengarah pada Cowok didepannya.
Tampan dan Berwibawa… itulah kesan yang mungkin Ve ungkapkan saat ini.
“Gue bantu!” Dava masih menyulurkan tangannya pada Ve yang masih menatapnya takjub..
“Malaikat darimana ini?” Mungkin itu yang ditanyakan oleh hhati gadis itu.
Dava tersenyum, mendapati espresi aneh diwajah manis Ve, “Hey, Lo gak apa-apa?” Cowok itu menyenggol lengan Ve pelan, membuat lamunan gadis itu seketika bbbar.
“Eh iya.” suara Ve terdengar gugup,saking groginya ia tak membalas uluran tangan Dava dan lebih memilih untuk berdiri sendiri.
“Sorry!” Dava membungkukkan badannya sebentar, meraih bukunya yang terjatuh dan kembali berdiri sambil menatap Ve yang tersenyum.
“Gak apa-apa, ini juga salah gue, jalan gak liat-liat.”
“Bukan itu,” Dava menggeleng cepat, mencoba sedikit kekiri memberi jalan beberapa anak yang melewati mereka.
Kening Ve mengerut, “Terus?”
“Atas perlakuan Dira Ke Lo tadi!”
Semakin bingung Ve dibuatnya… Dira… siapa dia???
“Dira siapa yah?” Ve menatap bingung pada Dava yang merangkul buku dalam dekapannya.
“Cowok yang tadi ngerjain lo.”
Penjelasan Dava membuat Ve mengangguk mengerti. “Oh jadi namanya Dira, kaya cewek, pantesan nama ama kkelakuan gak jau beda, Banci.”
Dava tersenyum tipis mendengar penuturan polos Ve, ternyata ada juga cewek yang membenci adik tirinya itu, padahal selama ini ia pikir, Dira cukup beruntung karena dikagumi oleh seluruh gadis disekolah ini, tapi ternyata ia salah. cewek yang saat ini didepannya, justru sangat membenci sang adik.
“Eh tapi, kenapa lo yang minta maaf?” Ve menatap tajam pada Dava yang masih tersenyum, “seharusnyakan si Dira itu, bukan lo.”
“Dia adik gue.”
Degg!!
Ve seketika menunduk malu, kembali ia melakukan kecerobohan, tak harusnya ia terang-terangan mengatakan itu didepan sang kakak cowok yang dibencinya.
“Maaf, tapi beneran dia adik lo?” Ve menunjuk Dava yang mengangguk.
“Iya, kenapa beda?”
Kini giliran Ve yang mengangguk.
gadis ini tak habis fikir, bagaimana bisa cowok sempurna ini ternyata kakak dari cowok nyebelin yang begitu dibencinya.
Keduaya tak memiliki kesamaan, baik wajah ataupun sifat.
“Udah, gue tau Dira emang seperti yang lo bilang tadi,” Dava mengacak poni Ve membuat jantung gadis itu terhenti. “Lo lucu.”
Terlebih saat kata itu terlontar dari bibir tipis Dava. bisa dipastikan wajah Ve yang seketika memerah Karena malu.
“Gue Dava.”
Dava mengulurkan tangannya. “Dibalas dong, jangan dicuekin lagi.”
Perkataan Dava membuat Ve tertawa kecil, dengan cepat gadis itu membalas uluran tangan hangat itu. “Gue Ve.”
Keduanya sling berbagi senyum dan saling menatap kagum ..
Mungkin setelahh ini mereka akan saling menyimpan rasa..
entahlah!!!
CONTINUE :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar