Facebook Badge

Jumat, 24 Mei 2013

“Ketika Dira, Jatuh Cinta!” #PART7

Dira menatap sekeliling perpustakaan, tangan kanannya terlihat memegang sapu. Ia medengus pelan menatap banyaknya buku yang harus ia bersihkan sebagai hukuman kenakalannya.
Dira mendengus pelan, ia merasakan letih setelah membersihkan hampir dari seluruh ruangan sekolah, hanya tinggal perpustakaan ini yang tersisa.

Ia menatap keluar jendela, Hujan masih setia menemaninya..

“Dira!”
Dari balik pintu tiba Niky menghampirinya.
Kening cowok itu mengerut saat mendapati Gadis itu meraih sapu ditangannya.

“Gue bantu yah!” Gadis itu membuka tasnya dan menaruhnya dimeja samping, “Bisa dimulai darimana?” Lanjutnya sambil memulai beraksi.

Dira tertawa pelan, “Elo mau bantuin gue?”
Ve mengangguk Yakin.

“Serius?” Dira masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Gadis ini, yang dikenalnya sebagai gadis yang tak pernah kerja, manja dan terlalu menomorsatukan perawatan untuk kecantikan tubuhnya… akan membantu dirinya bekerja??
Tidakkah ia sedang bermimpi.

“Kenapa?? Gue serius!” Niky menyakinkan Dira.

Dira mengangguk pelan, “Kapan terakhir lo nyapu, ngepel, sama beres-beres??”

Pertnyaan Dira membuat gadis itu berfikir sejenak. “Enambelas tahun yang lalu.”

Dira menggelengkan kepalanya dan kembali meraih sapu dari tangan mulus gadis itu.
“Berarti lo gak pernah kerja!”

Nikyy mengangguk, meraih lengan Dira dan merangkulnya. “Tapi demi pangeran Dira, Niky rela kok!” suaranya sengaja ia buat manja.

Dira menepisnya pelan. “Ya udah kalau lo maksa!” Cowok itu mengembalikan sapu pada tangan Niky yang tersenyum. “Kebetulan gue udah capek banget!” Dira medekat pada meja dipojokkan dan membaringkan badannya disana.

Niky berjalan mendekat.. menuntun Dira hingga terduduk. “Tunggu, tapi semuanya gak gratis, pangeran.”

“Udah gue duga! Apaan?” Dira menatap tajam Niky yang tersenyum malu-malu. “Lo mau ciuman dari gue?” cowok itu menaikkan satu alisnya genit.

Niky menenpis lengan Dira kencang. “Apaan sih, itu mah nanti ajah,”

“Trus??”

“Gue mau.” Niky mendekat pada Dira, memcoba membisikkan sesuatu pada telinga cowok itu. “Lo deketin gue sama Dava.”

Alis Dira menyatu saat mendengar penuturan gadis itu. “Maksud lo, gue nyomblangin lo sama Dava?” Tanyanya dengan espresi datar.

“Betul, gimana?” Gadis itu menatap Dira yang terdiam. “Kalau lo mau, pokoknya lo tinggal terima ruangan ini bersih.”

Dira menatap ruangan cukup luas itu, ditambah dengan ratusan buku-buku tebal yang menunggu dibersihkan. Tak ada cara lain, cowok itupun mengangguk setuju.
“Daripada gue mati kecapean!” Pikirnya.

“Baiklah.”

Niky terlihat bahagia akan jawaban Dira barusan. “TERIMAKASIH!” Nikypun memeluk tubuh Dira yang tersenyum terpaksa.

“Udah, sekarang selesaiin tugas lo,” Dira melepas rangkulan Niky dan kembali membaringkan badannya tertidur diatas meja panjang itu. “Gue mau tiduran dulu.”

“Siap pangeran!!”

***
“Dira terkena penyakit jantung bawaan sejak kecil.” Kata-kata Dava seketika terliang dikepala Vega.
Gadis itu baru menyadari seberapa sulitnya hidup Dira setelah Dava menceritakan semuanya tadi.
Dira yang dilihatnya selalu cuek, menyebalkan plus egois, ternyata memiliki sisi lain dari dirinya.

Gadis itu berjalan pelan disepanjang koridor sekolah, waktu menunjukkan pukul lima sore, tak ada seorangpun dilihatnya disana.

Seketika terbayang sosok Dira dalam ingatannya. “Dirakan lagi dihukum, apa mungkin dia masih disini?” Gadis itu terus berjalan lurus, sesekali ia menatap kesamping, tersenyum saat mendapati air hujan yang masih setia menemani.

***
Niky terlihat kesulitan dengan sapu ditangannya, gadis itu benar-benar tak tau bagaiman cara menggunakan alat itu.
“Menyebalkan! Kalau bukan karena cinta ogah gue susah-susah gini” grutunya dalam hati.

Gadis itu melengkungkan bibirnya kesal. “Apa yang harus ia lakukan sekarang?” ia menatap keluar ruangan.
Senyumpun terukir saat ia menatap Ve berjalan didepan pandangannya.

“Vega!” Teriaknya kencang.
Ia berjalan cepat menghampiri Ve yang berdiri diam menatapnya heran.

“Niky? Lo ngapain masih disini?” Ve menatap Niky tajam yang tak langsung menjawab pertanyaannya.

Niky justru menyodorkan Ve sapu yang masih dipegangnya. “Sekarang lo bersihin ruangan perpustakaan!” perintahnya.

Ve mengernitkan keningnya, pandangannya langsung mengarah pada sosok seseorang yang terbaring dipojok ruangan. Dira!

“Cepetan!” betakan Niky membuat Ve mengalihkan pandangannya.

“Kenapa gue, yang dihukum ajah tenang-tenang tuh!”

“Lo mau ngebantah gue!” Niky menndorong tubuh Ve hingga menempel pada tembok.
“Gue bisa ngelapor sama bokap gue buat ngeluarin lo dari sekolah ini, kalau lo berani nolak permintaan gue!”

Ve terdiam mendengar ancaman Niky… ia tau Niky adalah anak pemilik sekolah ini.. gadis ini dapat melakukan apapun yang ia inginkan, termasuk mengeluarkan Ve dari sekolah.

“Gimana? Kalau lo nolak, siap-siap say Good Bye sama sekolah ini!” Niky menampakkan senyum sinisnya.

Ve hanya mampu menarik nafasnya perlahan, “Baiklah!” Jawab yang tak ingin ia utarakanpun terpaksa diucapkan.

Niky tersenyum puas, “Bagus, sekarang lo beresin ruangan ini sampai bersih, dan jangan sampai Dira tau kalau gue, yang maksa lo, NGERTI?”

Ve mengangguk pelan terpaksa.
***
Dira terbangun dari tidurnya…
“Setengah tujuh.. SH*T!” ia melonpat setelah menyadari ia terlambat untuk pulang.

Ia menatap keluar ruangan… masih Hujan, justru semakin deras bersamaan dengan suara sambungan petir.
Pandangannya beralih menatap sekeliling ruangan.. “Bersih!” iapun tersenyum puas.

“Bisa juga Putri manja itu kerja, not bad lah!” Dira mencoba meraih tas selempangnya yang tergantung disalahsatu tumbukan buku. “Hujannya awet, gimana gue bisa pulang?”

Bugh…!!
Dira mengalihkan pandangannya saat suara sesuatu terjatuh didengarnya. Cowok itu mempertajam penglihatannya, saat ia merasakan bayangan seseorang dibbali slahsatu rak buku.

Ve menutup matanya, gadis itu yang belum sempat keluar mencoba bersembunyi dibalik rak perpustakaan. Gadis itu tak ingin Dira menyadari keberadaannya.

“Siapa disitu?” Dira berteriak, mencoba mendekat pada Ve yang menggigit bibir bawahnya.

“Dira gak boleh tau gue disini!” gadis itu perlahan menghindar tanpa sepengetahuan Dira, berbelok kekiri hingga ia menempel pada dinding perpustakaan.
Ia berdiri dan menatap tombol lampu disampingnya, menarik nafasnya panjang sebelum ia melakukan sesuatu yang terliang diotaknya.

Plink!!!
Lampupun seketika padam……

“Sh*t, mati lampu lagi!”
Dira menepi dan mencoba menyender pada ujung kursi.. cowok itu segera meraih android disaku seragamnya dan membaca beberapa pesan masuk untuknya.

From: AYAH
Kamu dimana? Pulang sekarang juga!!

From: Deavan
Lo dimana?? Ayah nyariin lo, kalau hukuman lo udah selesai langsung pulang.

From: Cincau
Gue udah dapat kerjaan Dir, jdi utang gue sama lo bentar lagi lunas.




Terakhir..
From: Putri Manja
Dir, sorry gue harus buru-buru pulang, gue ada pemotretan, jangan lupa janji lo yah. See yah pangeran


Dira mengggaruk tengkuknya bingung… kata-kata apa yang harus ia balas sekarang.

TO: AYAH
Di sini hujan..sebentar lagi Dira pulang.

TO: Evan
Haha good luck… bearti lo bisa talangin gue buat beli obat.
Kerja apaan? nyopet?

TO: Putri manja
SIPOKEH… makan tuh Dava!


Ia memasukkan kembali android pada sakunya, setelah membalas semua pesan masuk terkecuali dari Dava, cowok itu selalu malas berhubungan dengan kakak tirinya itu.

Pikiran Dira langsung tertuju pada seseorang yang masih bersembunyi dibalik Rak buku…
Jika Niky telah kembali, lalu siapa Dia???

Ve menatap Dira dari kejauhan… kegelapan masih menemani mereka…
Seketika, Ve teringat akan setengah jam yang lalu saat ia sedang bersih-bersih…
Entah kenapa saat memandang Dira yang sedang tertidur, membuat hati gadis itu seketika damai.. mungkin perasaan bencinya pada cowok menyebalkan itu mulai sedikit berkurang saat ini.
Sepanjang pekerjaanpun pandangan Ve tak pernah lepas dari sosok Dira.
Benarkahh cowok setengil Dira memiliki derita yang disimpannya sendiri??

Ve membuyarkan lamunannya… tidak.. ia tak mungkin menyukai Dira!!

“Lebih baik gue pergi!”
Gadis itu mencoba melangkah keluar, tapi sial, Dira memergokinya.

“Tunggu!” Dira mendekat.. cowok itu menghampiri ve dalam kegelapan.
Ia memicingkan matanya saat tiba didepan Ve, gelap membuat pemuda itu sulit mengenalinya. “Lo siapa?”

Pertanyaan Dira tak dijawabnya, Ve yakin, jika ia berbicara dengan cepat Dira mengenali suaranya. Diam lebih baik.

“Jawab gue? Lo siapa? Kenapa lo masih ada disini?” Dira meraih lengan Ve tapi dengan cepat gadis itu mengelaknya.
Ve berusaha menghindar,tapi langkahnya lagi-lagi terhenti saat Suara kencang halilintar memecah pendengarannya.

Refleck Vepun segera memeluk Dira ketakutan.

Tiba-tiba.. pemuda itu merasakan sesuatu yang beda dalam hatinya, getaran yang sebelumnya belum pernah ia rasakan, ia menutup matanya pelan merasakan harum bunga yang bertaburan disekeliling mereka… Jatuh cinta?? Mungkinkah Dira jatuh cinta???

Begitupun dengan Ve, pelukan ketidak sengajaan ini, membuat hatinya seketika berdetak kencang… lebih kencan dari awal pertemuannya dengan Dava dulu.
Tidak, aku tak mungkin mencintainya!!

Ve melepas pelukannya, menunduk malu menatap senyuman Dira yang bersinar dikegelapan.

“Lo takut petir?” Dira menatap gadis itu yang mengangguk pelan, pemuda itu tersenyum tipis.

“Maaf!” Ve mengecilkan suaranya berharap Dira tak mengenalinya.

Cowok itu tersenyum tipis, mencoba menerka wajah gadis didepannya… cantik, dengan rambut panjangnya yang terkuncir, dann suaranya cukup merdu.
“Gak masalah, gue justru senang dipeluk cewek secantik lo!” Dira menolek dagu Ve pelan.

Ve tersenyum kecil, apa cowok ini akan mengatakan hal yang sama, saat menyyadari siapa cewek didepannya saat ini.
“Aku harus pergi!” Ve mencoba melangkah tapi Dira menggenggam jemarinya erat…

“TUNGGU!”

Gadis itu merasakan hatinya kembali berdegup kencang… tidak… jangan seperti ini lagi!

“Jantung gue kumat, sepertinya gue telat minum obat!” Dira melepas pegangannya dan berganti meremas jantungnya yang kembali sakit.

“Obat lo dimana?? Di tas?? Apa perlu gue ambilin??atau…?”

Dira mengernitkan keningnya menatap Ve yang mulai menampakkan wajah khawatirnya.

“Gue bantu lo duduk!” Ve menuntun Dira terduduk disalah satu kursi perpus, Dira menurut pelan.

Siapakah gadis ini sebenarnya?? Kenapa rasanya ia telah mengenalnya sebelum ini??

Dira masih menerka-nerka wajah gadis didepannya.. aneh.. siapa dia??

“Obat lo?” Ve terduduk disampin Dira yang terus menatapnya tajam.

“Di tas.” Jawab Dira tanpa espresi dengan tatapan tak beralih sedikitpun dari gadis itu.

Ve membuka tas Dira dan mencari botol kapsul obat jantung milik Dira, setelah ketemu gadis itu langsung meraihnya satu dan menyodorkannya pada Dira.
“Gue ambilin nimun!” Ve berusaha berdiri tapi Dira mencegahnya.

“Gak perlu, di tas gue selalu sedia air mineral.”

Ve kembali terduduk, menatap Dira yang meraih air mineral dalam salah satu sisi tas slempangnya.
Gadis itu tertegun, menatap Dira yang santai meneguk obat.
“Apa hidup lo selalu tergantung pada obat seperti ini?” Batin Ve berbisik.
Seketika ia tersenyum saat mendapati Dira telah selesai dengan kegiatan rutin itu.

“Terimakasih! Kalau gak ada lo, mungkin gue udah pingsan lagi.”

Hatinya terenyuh, saat mendengar penuturan dari pemuda disampingnya.. ini kali pertama cowok menyebalkan ini bersikap ramah padanya.

“Kembali kasih.”

Bersamaan dengan hujan yang telah berganti rintik-rintik kedua remaja itu terdiam dalam gelapnya ruangan. Hati keduanya berbisik, mencoba menerka perasaan baru yang hadir diantara keduanya…
Inikah namanya cinta yang sesungguhnya…???

“Gue harus pulang, Sorry!’ gadis itu berdiri, ia tak ingin lebih lama terlarut dalam suasana yang mungkin dapat membuatnya jatuh cinta pada pemuda disampingnya.

Dira ikut berdiri, “Tunggu!” Pemuda itu meraih MP3 Dalam tas yang masih bergelantung dipinggangnya. “Wanna Dance?”

Ve terdiam, apakah ia mimpi??
Ini kali pertama seorang pemuda mengajaknya berdansa, setelah ciuman pertamanya berhasil diambil cowok ini, dan sebentar lagi first Dance gadis itu juga diambil oleh pemuda yang sama. DIVARIO??

Dira mulai menyalakan salahsatu lagu dalam playlistnya,menaruh MP3 itu pada meja disampingnya, kemudian, tanpa menunggu jawaban Ve, pemuda itu meraih punggung Ve hingga tubuh keduanya berdekatan.

Ve menutup matanya, terdiam mengikuti Dira yang menuntunnya berdansa.
Walau awalnya terlihat kaku tapi lama kelamaan Ve justru merasa senang, dan terlihat cukup menikmati.
Tuhan…. Perasaan apakah ini??? Kenapa harus pemuda ini??

Dibawah hujan dan backsound lagu justin bieber, First Dance.. keduanya terhanyut dalam satu jalinan perasaann baru…
Perasaan Saling mengagumi..

When I close my eyes
I see me and you at the prom
We’ve both been waiting so long
For this day to come
Now that it’s here
Let’s make it special (I’m here tonight)

So many thoughts in my mind
The DJ is playing my favorite song (favorite song)
Ain’t no chaperons (chaperons)
This could be the night of your dreams



Ve menempelkan telinganya pada daada tegaap Dira, seketika, ia merasakan detakan jantung cowok angkuh itu..

Sementara Dira seketika mencium aroma halus rambur panjang Ve, seperti bidadari, aroma sederhana gadis itu berhasil menyihirnya.

Only if you give, give your first dance to me
Girl, I promise I’ll be gentle
I know we gotta do it slowly
If you give (give it), give the first dance to me (give it)
I’m gon’ cherish every moment
‘cause it only happens once, once in a lifetime


Ve menjauhkan kepalanya dari Dada bidang itu, Diraa masih menuntunnya berdansa…
Tangan pemuda itu dibiarkan berlabu pada pinggang kurusnya, tersa aneh memang, Tapi terkesan cukup romantis.

Glegar!!
Suara halilintas kembali memecah pendengaran.

Gadis itu kembali terkejut, memeluk tubuh Dira erat dan lebih erat. “Gue takut Dir.” Ia berbisik.

Pemuda itu tersenyum tipis, “Lo tenang yah, selama ada gue, lo gak perlu takut!” Dira melepas pelukan Ve.
Mencoba mentapa wajah Ve yang begitu dekat dengannnya.

Sebelum Pemuda itu menyadari lebih jauh, Ve mengalihkan pandangannya kekiri. “Gue pergi ajah!”

Kening Dira mengerut. “Tapi..”

“Sorry!” Ve berusaha pergi, lagi dan lagi pemuda itu mencegahnya. “Not again!” dengus Ve pelan.
Ia menatap Dira yang kini berdiri didepannya. Mata gadis itu membesar saat mendapati Dira mencium pipi kanannya.

“Sebagai ucapan terimakasih gue, karena lo udah mau nemenin gue dance.”
Cowok itu berkata setelah menjauhkan bibirnya dari pipi gadis itu yang seketika memerah.

Ve terdiam, entah kenapa, saat Dira mencium pipinya, ia tak berniat marah ataupun kesal.. gadis itu hanya melangkah pelan menjauhi Dira sambil memegangi pipi kanannya tak percaya.

“Hey, gue Dira!” Pemuda itu berteriak. “nama Lo??”

Ve menghentikan langkahnya dan berbalik. “Cinderella.”

Alis tebalnya seketika menyatu mendengar nama yang diutaran Ve padanya. “Cinderella?”
Dira menatap tajam gadis itu yang berbelok dan seketika hilang dari pandangannya.

Everybody says we look cute together
Let’s make this a night the two of us remember
No teachers around to see us dancing close
I’m telling you our parents will never know
Before the lights go up and the music turns off
That’s the perfect time for me to taste your lip gloss
Your glass slippers in my hand right here
We’ll make it before the clock strikes nine

(First Dance-Justin Bieber)



Dira mematikan musik pada MP3nya yang masih mendengdangkan sebuah lagu.. memasukkanny kembali kedalam tas dan berusaha mengejar gadis cinderella itu.
Langkah pemuda itu terhenti, saat ia menyadari lampu disekeliling koridir yang menyala..
“Aneh, bukannya mati lampu?” Ia menatap kedalam ruang perpustakaan.. Masih gelap..
Beralih menatap ruang UKS.. Beberapa kelas dan ruang guru diseberangnya… semua terlihat terang menderang.

Dira melangkahkan kakinya memasuki ruang.. menatap tombol lampu disampingnya.

KLIK!!
Lampu seketika kembali menyala.

“Kirain mati lampu tadi, ternyata ada yang sengaja matiin lampunya!” Dira mengaruk tengkuknya bingung… “Tapi siapa?? Apa gadis cinderella itu?” Semakin bingung ia dibuatnya.

Seketika dira merasa sesuatu yang menusuk dadanya… sakit… ia menoleh dan mendapati sebuah anting tersanggkut dalam seragam putihnya.
“Anting??” Ia menatap tajam anting bermotifkan bintang kecil ditangannya.. “ini paasti punya cewek itu!” senyumpun terurai indah dalam bibir tipisnya.

“Bener-bener Cinderella.”

***
Tidak… menyebalkan!!!
Bagaimana bisa aku tak memukul atau menendangnya saat dia berhasil mencium pipiku tadi.
Tapi jujur, entah kenapa ada perasaan berbeda yang kurasakan saat ia menciumku ataupun mengajakku berdansa..
Seolah-olah pemuda itu bukanlah Dira, seseorang yang beitu kubenci.. melainkan pangeran yang tuhan ciptakan hanya untukku seorang..

Tuhan, apa mungkin aku mulai menyukainya??

Ve terhenti tepat disamping sang Bunda yang siap-siap kembali pulang. Gadis itu mengacak rambutnya kesal.. “Dira, lo nyebelin!!”

“Kamu dari mana?” sang bunda mendekat dan menatap putri tunggalnya bersamaan dengan senyum.

“Perpus.” Jawab Ve tak bersemangat.

Sang bunda menatap heran telinga Ve yang hanya mengenakan satu anting.. “Anting kamu mana Ve?”

DEGH!
Jantung Ve seketika terhenti mendengar pertanyaan sang bunda.. dengan cepat ia meraba kedua telinganya, ia menggigit bibir bawahnya pelan saat mendapati telinga kanannya yang tak lagi mengenakan anting pemberian sang ayah.
“Aduh, pasti jatuh, tapi dimana??” ia terlihat panik.. hanya anting itu satu-satunya hasil peninggalan sang ayah yang dimiliki Ve, jika hilang… Ia bisa nangis berbulan-bulan mungkin??

CONTINUE :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Online Now Icons