***
“Sepertinya Dira benci banget sama kamu?” Ve mengunggu Dava diruang ganti operasi, ia terduduk disalahh satu kursi disamping pintu.
Tak beberapa tiba Dava dari balik pintu, cowok itu telah mengganti seragamnya dengan seragam pinjaman sekolah.
“Dira benci gue semenjak gue dan bunda tinggal dirumahnya.” Dava berdiri disamping Ve yang masih terduduk.
“Loh, bukannya kalian adik-kakak?” Ve berdiri menatap Dava yang menggeleng.
“Bukan, nyokap gue nikah sama bokapnya Dira, jadi kita saudara tiri.”
penjelasan Dava membuat ve bebrdiri mensejajarkan owok tinggi itu.
“Dira berfikiran nyokap dan gue udah ngerebut bokapnya dari dia, mungkin karena itu dia gak pernah bisa nerima gue dan bunda dalam keluarga.” Lanjut Dava sambil tersenyum perih. “Sebenernya gue kasihann sama Dira, dia kehilangan kasihh sayang dari kecil, terlebbih skasih sayang seorang ibu, padahal gue berhharap kehadirann bunda dapat membuat Dira sedikit merasakan rindunya akan pelukan dan belaian sang bunda, tapi ternyata, Bunda akan tetap menjadi seseorang yang dibenci Dira, selamanya.”
Ve mencoba mengelus lembut punggung cowok itu. “Percaya, semua butuh waktu, suatu saat nanti, pasti Dira akan menerima kehadian kamu dan bunda.”
Dava tersenyum saat gadis itu menyemangatinya. “Terimakasih.”
“”Panas cincaw!”
Suara itu membuat Dava dan Ve menatap dua remaja yang memasuki ruang koprasi…Dira dan Evan!!
Dira menghentikan langkahnya saat matanya menatap pada dua remaja itu. “Kita kekelas.” Dira mencoba berbalik tapi Evan mencegahnya.
“Lo perlu ganti baju dulu Dir,” Evan menarik paksa Dira memasuki Koprasi, “Baju lo bau bakso gitu, enek gue!” Evan meraih salah satu seragam dari almari koprasi dan melemparnya pada Dira yang berdiri tak jauh darinya.
“Lo ganti baju lo dulu, baru kita ke kelas!”
Dengan malas Dira memasuki ruang ganti yang sebelumnya digunakan Dava, menutup pintu itu keras hingga membuat seisi koprasi terkkejut.
Evan mendekat pada Dava dan Ve yang masih berdiri disana. “Lo gak apa-apa?”” Evan menatap Dava yang mengangguk.
“Terimakasih.”
Kening evan mengerut saat kata itu terlontar dari bibir Dava. “Untuk just alpukat??” tanya Evan dengan wajahh tak mengerti.
Dava tertawa pelan, “Bukan, karena lo udah mau sahabatan sama Dira.”
Perkaataan Dava membuat Evaann dan Ve saling pandang tak mengerti.
“Gue tau cuma lo saat ini yang dia harapin Van, gue mohon lo mau jagain Dira buat gue.” Dava menatap Evan yanng tersenyum tipis.
“Lo tenang ajah, gue akan pernah buat Dira terluka, gue janji.” Evan menepuk lengan Dava menyyakinkan.
Ve tersenyum tipis menatapnya.
pujaan hatinya benar-benar malaikkat.. sudah jelas Dira bersikap kasar padanya tapi dia masih memikirkan cowok nyebelin itu. Dava memang malaikat.
Tak lama, keluar Dira dari balik pintu, cowok itu telah mengganti seragamnya. “Ini kebesaran Van!” Keluh Dira saat merasakan seragam yang ia kenakan kebesaran.
sekektika Ve teringat kejadian dimana awal mula perseturuan keduanya terjadi.. saat celana Dira melosot karena dirinya.
Vepun tersenyum kecil mengingatnya.
Evan mendekat padaa Dira, “Baju gak akan merosot kaya celana lo Dir,walaupun kbesaran juga.” Evan merangkul lengan Dira yang langsung menepisnya.
“Cincau, kenapa lo ingetin gue sama kejadian itu lagi!” Dirapun segera menitak kepala Evan kesal.
“Sorry, tapi lucu juga, iyakan Ve?” Evan melirik keaarah Ve sambil menaikkan sebelah alisnya.
Dava yang tak tau apa yang terjadi hanya diam tak mengerti, “Ada apaan?” Ia berbisik sedikit pada Ve yang masih menahan tawa.
“Nanti gue ceritain.” Ve meraih lengan Dava dan membawanya keluar ruang koprasi.
“Mereka kelihatan dekat?” Evan terduduk dikursi samping pintu, menatap Dira yang seketika risih dengan seragam yang dikenakan.
cowok itu tak peduli akan perkataan Evan, yang menurutnya tak penting.
“Gue gak biasa pake seragam orang!” Dira mencoba bercermin menatap aneh dirinya dengan seragam yang dipakainya.
Evan berdiri dan mengeleng, “Jantung lo masih sakit?”
“Lumayan, sehari gak minum obat.” Jawab dira enteng.
“Harga obat lo berapa emang?” Evan menatap wajah Dira yang terpantul pada cermin.
Dira tersenyum tipis, mengerti Akan pertanyaan sang sahabat. “Lima juta.”
“apa??” Evan membelakkan matanya penuh keterkejutan.
“Lo mau talangin dulu?” canda dira sambil merangkul bundak sahabatnya Evan yang seketika menggeleng.
“Haha becanda Van.” Dira menonjok lengan sahabatnya kencang, membuat Evan sedikit kesakitan.
“Sakit lemper!”
***
Dira melangkahkan kakinya memasuki rumah bertingkat dengan nuansa minimalis, wajahnya terlihat tak bersemangat setiap kali ia tiba dirumah besar itu.
Ia melangkah pelan, hingga tiba di ruang tengah.
Ia mendengus pelan saat mendapati wanita cantik yang sedang asik membaca majalah diruang tengah.
“Dira pulang!”
Ia kembali melangkah setelah mengeluarkan kata2 itu.
“Dira, Tunggu!” wanita itu menutup majalah yang dibacanya, menaruhnya di atas meja, kemudian mendekat pada Dira yang terdiam menatapnya.
Sovia menatap Dira lekat, “Wajah kamu kenapa?” Tanyanya cemas saat mendapati bintik merah diwajah anak tirinya itu.
Sovia mendekatkan jemari tangannya menyentuh wajah Dira yang masih sedikit memerah akibat tumpahan kuah panas, tapi dengan cepat Dira mengelaknya.
Dira menepis jemari tangann Sovia yantg mendarat dipipi merahnya, “Kepanasan.” Jawab Dira dengan espresi datarnya.
Ia kembali melangkah meninggalkan Sovia yang terdiam menatapnya.
Wanita itu telah terbiasa dengan sikap acuh Dira padanya seperti tadi.
“Bunda!”
Dari belakang Dava memeluk tubuh sang bunda pelan.
Sovia tersenyum, melepas pelukan sang anakk dan menatap Davaa yang tersenyum. “Kamu udah pulang?”
Dava mengangguk, “Dava lapar bun, bunda masak apa hari ini??” Dava memeluk lengann sang bunda manja.
Sovia mengelus lembut rambut hitam Dava, “Balado kentang sama sayur asam, sesukaan kamu.”
“Wah, Ayo kita makan!” Ajah Dava sambil menuntun tangan sang bunda mendekati ruang makan.
Sovia mengehntikan langkahnya, “Manja, kamu ganti baju dulu, sekalian panggilin Dira, biar kita makan bareng.”
Dava mengangguk mendengar perintah sang bunda. Dengan cepat cowok tinggi itu berlalu dari ruangmakan menuju kamarnya dilantai Dua.
***
Dira melepas tas selempangnya dan membuangnya asal, wajahnya terlihat tak suka atas perlakuan baik Sovia padanya.
apapun yang dilakukan wanita itu, selamanya akan tetap buruk dimata Dira.
karena baginya, tak ada satu wanitapun yang dapat menggantikan posisi sang bunda dihatinya. tidak wanita itu ataaupun siapapun.
“ARRGGHH!!” ia berteriak, mencurahkan perasaan kesalnyya hari ini.
terlebih saat ia menatap wajahnya pada cermin disamping pintu ikamarmandi kkamarnya, wajahnya terlihat memerah dan terdapat bintik-bbintik kecil menghiaisi wajah imutnya.
“Sialan, liat ajah, besok gue akan balas lo lebih dari ini!” ia mengepalkan tangannya, mentap tajam pantulan wajahnya pada cermin persegi itu.
“Lo jual gue beli.”
Dira menutup matanya saat ia kembali merasakan jantungnya kambuh, “Sial.” ia mendekat pada ranjang dan…
Bugh!!
menjatuhkan tubuhnya terbaring disana.
jantungnya kembali kumat, wajah dan keningnya seketika berkeringat saat mencocba menahan sakit. “Gue gak mau mati sekarang tuhan.”
Dira menutup matanya saat ia merasakan bayang-bayang hitam menghampirinya.
“Dira butuh obat..” Suaranya bergetar. “Ayah!”
Sakit… dan…
Cowok itupun pingsan.
***
“Bagaimana hari pertama kamu sekolah?” Lia, sang bunda mendekat pada VE yang sedang menyalin pekerjaan sekolahnya.
“Biasa bun, menyenangkan dan juga sedikit menyebalkan.” Ve berhenti menulis , menatap sang bunda yang terduduk disampingnya.
Ve menatap bintang malam yang bertaburan dilangit malam ini, iapun menutup matanya penuh harap..
“Semoga besok, ia tak bertemu dengan cowok menyebalkan itu, hingga tak akan terjadi perseturuan antara keduanya. tapi ia berharap ia bbisa berlama-lama disamping Dava, pemuda impiannya.”
Ve tersenyum saat wajah Dava nampak dalam taburan bintang malam ini, tapi senyumnya seketika pudar saat senyum Dira yang tampak berganti…
Ve mengacak rambutnya kesal. “Aduh, kenapa harus Dia!!” Ve kembali fokus pada buku didepannya mencoba menghilangkan senyuman sinis Dira yang terliang dalam pikirannya.
CONTINUE ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar