Facebook Badge

Jumat, 24 Mei 2013

"Ketika Dira, Jatuh Cinta!"

“Berapa?”



“Dua juta, Murahlah!”



Evan mengkernitkan keningnya, saat Dira menyebutkan harga jaket kulit yang baru saja dipesannya disalahsatu OnlineShop.

“Kekayaan ayah lo berapa sih Bro?”Evan menggeleng menatap Dira yang tersenyum tipis.”Dua juta cuma untuk sebuah jaket lo bilang murah, Anjr*t!”Evan meraih sebuah bulpoin disakunya dan menjitaknya pada kepala Dira.



Dira hanya tersenyum merasakan kepalanya yang sedikit ngilu akibat jitakan bulpoin Evan.”Haha, jangan sok susah Van, Jajan lo sehari berapa emang?”Dira meneguk just didepannya, matanya menatap tajam Evan yang mulai berhitung dengan jemari-jemarinya.



“Lima ribu, itu juga ditambah gue ngamen.”Evan menunduk, meratapi nasibnya.Keduanya memang jauh berbeda, Dira terlahir dari keluarga kaya raya, sementara Evan hanya keluarga biasa atau bisa dibilang kekurangan.Tapi perbedaan itu tak menghalangi persahabatan mereka.



Dira menjauhkan bibirnya dari gelas kaca itu, mengangguk mengerti akan perasaan sang sahabat.”Lo mau kerjaan Van?”



Evan menatap bingung kearah Dira yang menggeser kursinya sedikit kekiri.”Apaan emang? Nguli?”



“Bukanlah, Ayah gue lagi butuh sopir,”Dira menaikkan sebelah alisnya menatap pada Evan yang masih menatapnya tak mengerti.Dira lanjut bicara.”Lo bisa jadi supir Ayah gue.”



Evan menggeleng, kembali menjitak kepala Dira dengan bulpoin yang masih dipegangnya.”Gue gak bisa nyetir, PERKEDEL!”



“Ohya?” Dira menggaruk tengkuknya, “Gue lupe!”





***



Keduanyaa berjalan menusuri koridor sekolah.. Evan terlihat sibuk dengan permen karet yang terus berputar dalam mulutnya, sementara Dira, entahlh apa yang sedang dilakukan cowok penyuka voli itu.



Evan menatap gerah Diraa yang sibuk dengan celana panjang abu-abu yang dikenakan, “Kkebesaran?”



Dira mengangguk cepat, “Yoa, mana gue lupa pake iket pinggang lagi.” Ia menaikkan sedikit celananya yang memang kebesaran.



“Boxer lo apa?”Dira mengkernitkan keningnya saat Evan menanyakan sesuatu yang menjadi privasinya.



“Kenapa emang, Naksir?” Dira berbalas sambil menaikkan sebelah alisnya.



Evan menggeleng ogah, “Najis tralala.” Ia menatap ketengah lapangan, terlihat beberapa siswa bermain basket disana.pandangannya kembali pada Dira yang masih berjalan disampingnya.”Denger-denger anaknya bu kantin mau sekolah disini!” lanjut Evan sambil menggelengkan kepalanya menatap Dira yg masih sibuk dengan celananya.



“Katanya anaknya cewek, manis!” Dira mulai membayangkan sesosok bidadari berambut panjang tersenyum manis kearahnya.”Dan dia naksir gue, DIRA!”



Pletak!!

Evan menjitak kepala Dira cepat membuat pemikiran cowok playboy itu seketika menghilang. “Ngarep!”





“AWAASSS!!”Keduanya serentak menengok kebelakang.mata Dira membesar ketika seorang gadis mengarah cepat kearahnya… “Tangkep Dir, tangkep..!” bisikan hatinya berseru.Saat Dira mencoba meraih tubuh mungil itu, tapi sayang ia terlambat..



Dira menutup matanya pasrah, saat gadis itu terjatuh tepat didepannya, dengan keduatangannya yang menarik celana panjang Dira, hingga celana abu-abu yang Dira kenakan seketika melorot (?).

Gadis itu terdiam begitupun Evan dan beberapa anak yang menatap melongo kearah Dira yang hanya terlihat mengenakan boxer berwarna hitam itu.



“Uopsh Sorry!” gadis manis itu berusaha berdiri, menaikkan kembali celana panjang Dira yang sempat melorot karenanya.Gadis itu hanya mampu tersenyum saat tatapan mata sangar Dira menyerangnya.



“ELO!!”

Sebelum Dira melakukan sesuatu padanya, dengan langkah seribu gadis itu seketika menjauh.



Evan dan beberapa anak seketika tertawa serentak menatap wajah Dira yang menunduk malu.”Tunggu pembalasan guel!”





***



“Sialan, kalau sampai gue ketemu sama tuh cewek, bakalan gue bejek-bejek jadi sate!” Dira menampakkan emosinya didepan cermin toilet.



Evan yang berdiri disampingnya masih saja tertawa saat membayangkan kejadian naas dan memalukan yang baru saja dialami sahabatnya.”Elo juga Dir, udah tau celana kebesaran masih ajah lo pake, mana lupa pakai ikat pinggang lagi.” Evan meraih tissu disampingnya dan mengusapkan pada keningnya yang sedikit berkeringat.”Cowok kok ceroboh.”



“Dia siapa? perasaan gue baru pertama liat,” Evan menyender pada pintu toilet, menatap Evan yang mengangkat kedua bahunya tak mengerti.



“Anak baru kali.” Evan membuang tissu pada tempat sampah disampingnya, kemudian ikut menyandar disamping Dira.”Atau jangan-jangan Dia anaknya bu kantin?” Evan mulai menebak-nebak diiringi dengan anggukan Dira.



“Bisa jadi.” Dira menegakkan posisinya hingga tak lagi menyender, “Siapapun dia, gue harus balas dendam, seenaknya bikin gue malu didepan anak-anak.”



“Yoa Bro, Lo Dira, reputasi lo sebagai cowok tercool dan terpesona akan hancur seketika karena kejadian memalukan itu, prihatin!”



“Gak sampai segitunya Ayam!” Dira meneloyor kepala Evan gemas.





***



Gadis putih itu berjalan santai mengintasi koridor sekolah,ia menggulung bawah seragamnya yang sengaja tak ia msukkan cemas.pikirannya tentang kejadian tadi selalu membuat rasa bersalahnya bertambah.



“Aduh, mudah-mudahan aku gak ketemu sama cowok itu lagi.” ia menutup matanya penuh harap, tapi seketika ia tersenyum dan tertawa kecil saat kembali membayangkan wajah tegang Dira.



“Tapi lucu juga.”Ia terhenti didepan kantor kepala sekolah, memang tujuannya ingin mengunjungi bapak kapsek sekolah ini.tok-tok ia mengetuk pintu.tapi seketika Ia menegang, saat seseorang memanggilnya.



“Vega!”



Matanya membesar saat mendapati Dira dan Evan berjalan kearahnya.



“Lo pikir lo bisa kabur dari Gue, Nona!” suara Dira mengeras saat ada didepan gadis itu yang terdiam.



Tangan dan kakinya seketika bergetar, “Ibu, selamatkan Ve!” Gadis itu seketika tersenyum saat matanya mengarah pada celana abu-abu Dira. “Kebesaran yah?” gadis itu mencoba mengusir rasa takut dengan mengingat kejadian tadi.”Butuh Ikat pinggang?”



Perkataan Vega membuat Evan tertawa tertahankan, sementara Dira tetap bersikap cool padahal hatinya sudah menggebu-gebu.



Dira kembali menaikkan celananya yang msih dirasakan kebesaran, “Lo pikir ini lucu!” Dira mendekat hingga Vega menempel pada dinding putih itu. “Lo tau siapa gue?” Dira menaikkan alisnya, semakin mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu yang seketika memerah.



“Lo cowok yang tadi celananya gue plorotin (?) kan?” Vega menggigit bibir bawahnya pelan.



Evan kembali tertawa tanpa suara, “Boleh juga nih cewek!”



Dira menarik nafasnya panjang, “Elo emang bener-bener cari masalah nona!” Wajah keduanya semakin mendekat.



“Lo mau ngapain?” Suara Ve bergetar seketika.



Dira tersenyum sinis. “Nyium lo,!” Pemuda itu mulai beraksi, mendekatkan bibirnya pada bibir merah Vega yang menutup matanya pasrah.





“Divario Kivandra Redrigo!”

Suara lantang kepala sekolah yang baru tiba dari balikk pintu itu berhasil menggagalkan aksi playboy itu.



“Sh*T!” Dira mengepalkan tangannya kesal, sementara Vega tersenyum lega karena ciuman pertamanya tak harus terjadi dengan cowok menyebalkan ini.



“Ikut Saya, dan kamu juga!” Pak Andro sang kepala sekolah menunjuk Dira dan Vega bergantian.



“Ini baru permulaan!” Dira menunjuk wajah Vega yang tak takut menantangnya dan berjalan memasuki ruang kepala sekolah yang diikuti oleh Vega.







Continue :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Online Now Icons