Facebook Badge

Jumat, 24 Mei 2013

“Ketika Dira, Jatuh Cinta!” #PART6

“Ini buat aku?”
Dira meraih kotak makan pemberian Mia, sambil menatap gadis itu yang mengangguk.

Cowok itu tersenyum senang mendapati perhatian gadis manis itu. Dira menaruh kotak makan disampingnya, kembali menatap Mia yang masih setia terduduk disampingnya.
“Kamu manis banget sih!”
Dira mencubit pipi Mia gemas.

Gadis itu tersenyum malu. “Dira ah!”

“Eh tadi nama kamu siapa?”
Dira menatap Mia tajam sembari meraih kotak makan pink disampingnya.

“Mia.” sahut Mia pelan pada Dira yang mengangguk.

Cowok itu membuka kotak makan ditangannya, ia tersenyum menatap beberapa potongan brownies didalamnya.
“Gimana kalau kita makan bareng?”
Dira meraih potongan brownies itu dan menyodorkannya tepat pada mulut Mia.

Gadis itu terdiam tak percaya, Benarkah Dira ingin menyuapinya?

“Aa!” Dira membuka mulutnya, memperagakan agar Mia melakukan hal yang sama.

Dengan perasaan tak percaya, Mia membuka mulutnya pelan.
Dira tersenyum saat gadis itu menggigit ujung brownies ditangannya dan mengunyahnya pelan.

Setelah itu, Dira menyantap sisa brownies ditahannya lahap.
Mia tersenyum lega, saat menyaksikan Dira melahap brownies buatannya.

“Terimakasih yah!”
Dira berkata setelah brownies dalam mulutnya habis, menatap Mia yang membalasnya dengan senyuman.

“Kalau kamu baik gini, kita jadian yuk?”

Mata Mia terbelak saat mendengar penuturan cowok itu.
Apakah ia baru saja bermimpi?

Dira menutup kotak makan milik Mia, dan berdiri, beralih pemuda itu mengelus lembut rambut terkepang Mia.
“Tunggu saatnya, gue nembak lo nanti!”
Dira tersenyum tipis menangkap espresi wajah lugu Mia, kemudian ia melangkah menjauh setelah berhasil membuat sekujur tubuh gadis melemas, dan mungkin sebentar lagi akan pingsan, karena terkejut.

***
“Dava, aku tak pernah menyukai Dira!” bantah Ve kesal saat Dava terus saja mengkaitkan Dira pada perbincangan mereka.

Dava tersenyum tipis, “Kata nenek gue, cinta yang paling sejati itu adalah cinta yang berawal dari benci.”
Pandangan Dava mengarah pada Ve yang terduduk didepannya.
Saat ini, mereka sedang berada dikantin, mencoba menikmati santapan pagi mereka, atau santapan pagi Dava tepatnya, karena sebenarnya Ve hanya menemani cowok tampan itu.

“Permusuhan yang berawal Cinta, seperti kamu sama Dira.”
Cowok itu menyendok nasi goreng didepannya dan menyantapnya perlahan.

Ve terdiam, mencoba menerka perkataan Dava barusan.
Cinta yang berawal dari benci?
Seperti kisah2 dalam beberapa film yang ditontonnya.
Tapi apakah itu juga berlaku dalam hidupnya?
Mungkinkah rasa bencinya pada Dira, suatu saat berbuah Cinta?

“Hey, kok diam?”
Dava menepuk pelan punggung Ve, membuat gadis itu membuyarkan lamunannya tentang Dira.
“Aku tak mungkin menyukainya!”
Bisik hati Ve.

Gadis itu tersenyum pada Dava yang kembali asik dengan nasi goreng di piring putih itu.
“Karena yang aku sukai itu kamu, Dava, bukan Dira!”
Hatinya kembali berbisik dengan harapan sang angin dapat menyampaikan rasa kagumnya pada pemuda didepannya.

***
“Divario!”
Evan berteriak keras membuat seisi kelas menatapnya tajam.
Tak terkecuali Dira yang saat itu sedang asik menyalin PR yang didapat dari malak sang ketua kelas.

Evan mendekat dan terduduk disamping Dira yang mengacuhkannya.
Cowok itu masih sibuk dengan contekannya.

Evan menatap Dira kesal yang tak memperdulikan kehadirannya. “Sahabat lo datang Dir, Evanco!”
Evan mengiku Dira gemas saat Dira tetap terdiam.

Dalam hatinya, Dira tertawa senang dapat menyerjai sahabatnya itu.
Pasalnya Evan paling anti sama yang namanya dicuekin, terlebih oleh orang dekatnya.

Dira melirik Evan pelan, ia mengernitkan keningnya menatap Evan yang sedang asik mencoret-coret pinggir meja dengan spidol yang baru direbutnya dari Cindy.

“Nulis apaan?” Dira mendekat pada Evan untuk membaca tulisan yang sedang diselesaikan Evan.

Evan menutupnya cepat dgn kedua tangannya, sebelum Dira benar2 membacanya.

“Pelit amat Van, ama gue juga!” Dira menatap Evan geram.

Evan tak menjawab, cowok itu berdiri dan berganti menutup tulisan itu dengan buku tebalnya.
“Lo baca, lo bakal jatuh cinta ama Vega!”

Ancaman Evan membuat Dira ogah membaca tulisan itu, karena ia tak ingin jatuh cinta dengan cewek menyebalkan itu.

“Lebih baik gue jadi homo daripada harus jadian sama si Ve cewek makan hati itu!”
Tegas Dira kesal sambil menatap Evan yang tersenyum.

“Baguslah!”

***

“Apa? lo nyium Dia? trus Lo ditampar?” Evan terliat antusias bertanya pada Dira, setelah cowok skate itu menceritakan tentang kejadian tadi pagi antara dirinya dan Ve.

Dira mengangguk pelan, sambil berjalan disamping Evan menuju kantin.

“Asli, nyesel gue kagak liat waktu Ve nampar Lo!” Evan berkata sumringah sambil mengelak kekiri, saat Dira akan menoyor kepala Evan kesal.

“Cincau!”

“Tapi serius, gue penasaran rencana apalagi yang akan dilakukan Ve buat ngebalas ciuman Lo itu.”
Keduanya terhenti tepat didepan kantin, Dira sibuk dengan android ditangannya, sementara Evan sibuk mencari tempat kosong untuk mereka duduk.

“Disana!” Evan menepuk punggung Dira sambil mengarahkan telunjuknya pada dua kursi kosong dipojokan kantin.

Dira hanya menurut, berjalan dibelakang Evan yang sibuk tersenyum sok manis pada setiap gadis yang ditatapnya.
Sang gadis acuh, malah sibuk histeris saat pangeran Dira melewati mereka.
Evan menarik nafasnya pelan, menyalah artikan pandangan gadis genit itu yang ternyata bukan untuknya melainkan Dira sahabatnya.

Keduanya telah sampai didepan kursi, Dira mencoba terduduk pada kursi didepannya, tapi dengan cepat Evan mencegahnya.

“Tunggu!”
Evan menampakkan wajah khawatir, menatap Dira tajam yang mengernitkan kening.

“Kenapa emangnya? Lo mau duduk disini?”
Dira menggeser kursinya sedikit kekiri, Evan menggeleng cepat.

“Bukan, siapa tau Ve udah siapin jebakan buat Lo!”
Evan mulai menampakkan wajah serius sambil menatap Dira yang menyender pada kepala kursi.
“Dia sengaja gergaji kaki kursi ini, jadi waktu lo duduk trus lo jatuh!”

Perkataan serius Evan membuat Dira tertawa lepas.
Dira menempeleng kepala Evan gemas. “Cincau!”

“Ye, siapa tau Dir!”
Evan mengelus kepalanya pelan, menatap Dira yang masih tertawa kencang.

Dira mencoba terduduk disela-sela tawanya. “Liat nih, sekarang gue duduk, dan gue gak akan..”

Bugh!
Baru ajah Dira mendudukkan tubuhnya pada kursi itu, seketika itupula Ia terjatuh.

Dira menutup matanya pasrah mendengar seisi kantin menertawakannya, termasuk Evan yang tertawa sampai memukul2 perutnya sendiri.

Dira merasakan sesuatu yang aneh pada belakang celana abu2nya..
Ia membuka matanya dan berdiri, memiringkan badannya untuk menengok belakang celananya.
Matanya membesar saat mendapati satu masalah kembali datang.

Sobek??

Dira segera menutup belakang celananya yang robek dengan menu makanan.

Menyenggol lengan Evan yg masih tertawa.
“Gue minjam celana Lo, Van!”

Evan menghentikan tawanya sejenak dan menggeleng. “OGAH!”

***
“Vega!Vega!”
Teriak Dira keras sambil mengejar Ve yang berusaha menghindar.

Gadis itu mempercepat jalannya, ia tau apa yang akan terjadi sekarang, Dira murka karena Ve berhasil mengerjainya.

“Vega! berenti Lo!” Dira yang saat itu menutupi celananya dgn jaket yang ia ikat pada pinggangnya, cowok itu terlihat kewalahan mengejar Ve yang semakin menjauh.

“Sh*t!”
Dira terhenti saat ia merasakan Jantungnya kambuh.
Ia baru ingat, hari ini ia belum sempat minum obat.

Dira menatap Ve yang berbelok, memasuki kelas Dira.

Cowok itu mencoba mengatur nafasnya pelan agar jantungnya tak kembali kumat, berbelok untuk memasuki kelas yang ternyata sepi.

Ia tersenyum saat menyadari hanya dirinya dan Ve dalam ruangan putih itu.

Bruk!
Dira menutup pintu itu dan menguncinya dari dalam.

Ve membelakkan matanya saat Dira berusaha mendekat.
“Lo mendekat, gue teriak!”

Cowok itu tersenyum tipis menantang, “Silahkan!”

Dira semakin mendekat, ve menutup matanya menyadari Dirinya telah menempel pada dinding.
“Dira!”
Ve menutup matanya pasrah saat tangan cowok itu menyanggah badan kurusnya.

Dira tersenyum puas menatap wajah gelisah dan ketakutan Ve.
“Lo yang mulai Ve!”
Cowok itu menaikkan Dagu Ve yang menunduk.
“Gue cuma mengakhiri!”

Dira tersenyum evil, semakin takut Ve dibuatnya.

“Pergi Lo!” Ve mendorong tubuh Dira kencang hingga cowok itu terjatuh.
“Jauhi gue atau hidup lo akan menderita!”
Ancam Ve keras.
Cewek itupun menjauh setelah sempat menendang lutut Dira yang masih terduduk.

Dira mencoba berdiri, berbalik dan meraih lengan Ve. “Gue yang akan buat lo menderita!”
Dira memutar tubuh Ve hingga berhadapan dengannya.

“Lepasin gue!”
Ve berusaha mengelak tapi semakin kencang Dira mencengram lengannya.

“Dira buka pintunya dan hentikan semuanya!”
Suara guru Pembimbing dari luar membuat Dira tersenyum tipis.

“Divario!”
Kini suara kepala sekolah yang didengarnya.
Tetap saja cowok itu masih mencengkram lengan Ve keras, hingga gadis itu terlihat sangat kesakitan.

Jendela luar terlihat penuh dgn murid2 yang berdesakan untuk menyaksikan pertunjukan sang pangeran Dira.

“Dira lepasin gue!”
Ve mengelak untuk kesekian kalinya agar Dira melepas cengkramannya.

Gadis itu terdiam, saat tangan pemuda itu sedikit demi sedikit terlepas dari Lengannya.

Jantungnya kembali ia rasakan sakit, pemuda itu seketika berlutut didepan Ve yang menatapnya kaget.

“Ve, buka pintunya!”
Perintah kepala sekolah membuat Ve melangkahkan kakinya menjauh dari Dira.
Gadis itupun segera membuka pintu dan menatap wajah Dava yang menghampirinya.

“Ve, lo gak apa2?” dava menatap khawatir Ve yg mengangguk.

Pandangan Ve kembali mengarah pada Dira yang masih berlutut, pemuda itu masih merasakan sakit pada jantungnya.
hati Ve seketika tersentuh saat menatap Pemuda itu jatuh pingsan.

“Dira bangun!” Evan menghampiri Dira yg tak sadarkan diri.
Bersama beberapa siswa, Dira dibawa menuju ruang UKS.

***

Sore terasa panjang bagi cowok bertubuh tinggi itu, Dira.
Tubuhnyapun seketika terlihat sedikit kurus, Ia menatap keluar jendela. Hujan!

Ia mencoba duduk diranjang UKS ketika menatap Evan berjalan menghampiri.

Evan berdiri disamping Dira, membuka botol kapsul milik Dira dan menyodorkannya pada Dira. “Obat Lo!”

Dira meraihnya enggan, meneguknya perlahan dan mendorongnya dengan air mineral pemberian Evan.

“Thanks!” Dira mengembalikan gelas kosong pada Evan yang mengangguk.

Cowok itu menaruh gelas itu disamping ranjang, menatap Dira pelan dengan pandangan Iba.
“Kalau gue bisa ngasih jantung gue buat Lo, gue rela Dir, asal gue gak harus liat lo pingsan setiap hari.” Batin Evan berbisik.

Pandangan Dira mengarah keluar jendela, Hujan dan dingin..
Kenangan masa kecilpun seketika teringat dalam benaknya.
Saat dimana ia dan sang ayah, bermain hujan sepanjang hari.
Dira kecil yang lucu dengan pipi chubynya terlihat bahagia saat itu.
Dira kecil begitu menyukai hujan, karena ia tau, ketika hujan ayahnya akan selalu menemaninya bermain.
Tapi kini..
Baginya hujan tak seindah dulu..
Justru bisa dikatakan saat ini ia begitu membenci hujan.
Saat hujanlah sang bunda meninggalkannya dan saat hujan pulalah sang ayah mengenalkannya dengan Dava dan bundanya.
Perih!

Cowok itu menatap langit2 ruangan, mencoba menepis airmata yang mungkin sebentar lagi akan terjatuh.

“Hujannya awet!” Evan menatap teduh Dira yang mengangguk pelan.
Cowok itu menatap Dira lekat, sahabatnya tak seceria dulu, hidup dengan obat2 dan rumahsakit telah membuat wajah dan tubuh pemuda itu mengecil dan mengurus.
Sahabatnya tak sekuat dulu.

Evan menarik nafas panjang, tersenyum saat Dira menatapnya pelan.
“Ada apa?”
Kening Evan mengerut saat mendapati Dira berdiri.

“Gue pingin hujan-hujanan!”
Katanya bersemangat sambil berlalu keluar ruangan.

Evan mengejarnya.
Berdiri disamping Dira yang sedang asik menikmati percikan air dari langit itu dengan kedua tangannya.

“Lo gila! Lagi sakit gini malah mau hujan2an!”

Dira tersenyum pelan mendengar perkataan sahabatnya.
“Semenjak ayah kawin sama Bundanya Dava, gue gak pernah hujan2an lagi.” cowok itu berjalan ketengah lapangan, membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhnya.

Sekolah terlihat sepi, hanya tinggal beberapa murid yang masih tinggal.
Mereka menatap Dira iba, seisi sekolah tau tentang penyakit jantung cowok energic itu, terkecuali Ve.

Cowok itu tersenyum kecil, menutup matanya mencoba menikmati suasana rintikan hujan yang terus membasahi kepalanya.
Ia melentangkan tangannya seolah2 pemuda itu ingin terbang dan melupakan semua masalahnya.
“Kalau gue mati besok, setidaknya hari ini gue bisa ngerasain rintikan air hujan untuk terakhir kalinya!”
Dira menatap Evan yang memandangnya teduh.

Evan terdiam tanpa suara, ia menunduk tak sanggup lebih lama lagi menatap mata teduh itu.

“Lo gak akan mati! Cowo idiot!”

Dira menengok ke kiri saat suara cempreng itu mengema pendengarannya.
Ia tersenyum tipis menatap seorang gadis berjalan kearahnya dengan menggenggam payung putih.
Vega!

Vd mendekatkan payung itu tepat diatas kepala Dira.
Seketika cowo itu tak lagi merasakan rintikan hujan.

“Udah tau kondisi lo lemah, kenapa malah hujan-hujanan, Idiot!”
Ve menuntun Dira menepi, keduanya berjalan pelan dengan satu payung yang melindungi tubuh kedua remaja itu.

Evan tersenyum saat mendapati kedua remaja itu yang sedang berbincang2. “Cocok juga!”

Keduanya berdiri diujung lapangan.
Dira menatap Ve geram yang menjauhkan payung dari atas kepalanya dan menutupnya cepat.

“Tadi, lo manggil gue apa?” Dira menatap Ve geram yang menantangnya.

“Idiot.. Idiot.. Idiot!” Gadis itupun berlalu sambil menenteng payung putihnya.

“Eh tunggu!” Dira kembali geram, mengejar gadis itu dan meraih lengannya.
“Trus tadi ngapain Lo nolongin gue?”

Ve menepis pegangan Dira cepat, “Siapa juga yang mau nolongin lo,” Ve menggelengkan kepalanya bersamaan dengan sinisnya.
“Gue gak tau, kalau cowok gila yang lagi hujan-hujanan ditengah lapangan, itu Lo!”
Ve mengarahkan telunjuknya tepat pada wajah Dira yang menatapnya Geram.
“Idiot!” Lanjut Ve.

Dira menepis telunjuk Ve yang hampir menyentuh hidung mancungnya. “Lo..”

“Gak mungkinkah setelah udah ditengah lapangan gue balik arah, so, gue terusin ajah, relain payung gue ngelindungin tubuh kurus Lo!”
kali ini Ve mendorong lengan Dira dengan ujung payung yg dipegangnya membuat Dira bergeser sedikit kekiri.

“Lo cari masalah, Nona!”
Dira menampakkan senyum sinisnya, matanya seketika menampakkan api amarah.

Ve menatapnya tenang, “Gue masih banyak kerjaan,” Ve mencoba melangkah menjauh dari pemuda itu. “Bye, idiot!” gadis itupun melambaikan tangannya seiring dengan senyum mengejek pada Dira yang menatapnya geram.

“Dasar cewek kampung!”

Ve menghentikan langkahnya saat kalimat tak enak mengema telinganya.
Ia berbalik dan menghampiri Dira yang menyambutnya dengan senyuman sinis.
“APA?”

“Cewek Kampung!”

“Cowok idiot!” Ve mengeraskan suaranya.

Dira membalasnya lebih Kencang. “Cewek.. kam-pung!”
Dira sengaja mengeja membuat telinga Ve seketika memerah karena panas.

Ve melayangkan payungnya tepat pada perut sixpack Dira. “Lo idiot!”

Dira tersenyum senang saat Ve mencoba menjauh darinya.
“Lo yang memulai, Nona!”

“Divario!”
Pak kepala sekolah yang baru tiba dari balik tikungan menatap Dira geram yang memandangnya enggan.
“sekarang, kamu ikut saya ke Ruangan!”

Dira mengangguk malas. “Baik pak!”

CONTINUE :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Online Now Icons