Facebook Badge

Selasa, 16 Juli 2013

"Ketika Dira, Jatuh Cinta!" #PART9

Jam pelajaran kedua terlihat kosong, Dira menatap Evan yang sedang asik berbincang-bincang dengan beberapa murid dipojok kelas, sementara Dirinya terlihat rapi duduk dimejanya.
Pandangan cowok itu seketika menatap ujung meja Evan, beberapa waktu yang lalu Evan pernah menuliskan sesuatu pada ujung meja itu dan cowok itu melarang Dira untuk membacanya.

Kalau lo baca, lo bakal jatuh cinta sama Vega!”
Ancaman evan tiba-tiba kembali diingatnya.

Ia bergeser sedikit kekanan, menatap buku tebal yang menutupi tulisan cowok pintar itu.
Dira mendengus pelan. “Kalau gue baca, bakalan jatuh cinta sama Ve??” ia membuang nafasnya perlahan. “Gak apa-apalah, gak terlalu buruk juga cewek kampung itu.”
Iapun meraih buku yang menutupi tulisan itu, memajukan wajahnya hanya untuk membaca tulisan yang terajut dalam meja kayu itu.

“GUE CINTA ...!”

Pluk...!!
Belum sempat pemuda itu membaca isi tulisan itu keseluruhan, Evannn datang dan menempeleng kepalanya dengan buku tebal ditangannya.

“Sakit cincau!” Dengus Dira sambil menggeser kursinya kembali kekiri.

“Gue bilang jangan dibaca.” Evan kembali menutup tulisan itu dengan buku tebalnya. Terduduk disamping Dira yang menatapnya kecewa.

“Kenapa?? Udah main rahasia-rahasiaan sama gue?” Dira menaikkan sebelah alisnya, menatap Evan yang membalasnya sinis.

“Gak semua rahasia gue lo perlu tau.” Cowok itu berdiri dan meninggalkan dira yang masih menatapnya heran.

Pasalnya, ini baru kali pertama sahabatnya itu merahasiakan sesuatu padanya.. terlebih ini tentang gadis yang dicintai Evan.
Dira menatap Evan yang berlalu keluar kelas, entah langkah akan membawa pemuda itu kemana, ketika Dira berdiri dan ingin mengejar Evan, langkahnya terhenti dan ia berbalik duduk saat guru pembimbing telah tiba.

“Gue jadi penasaran , sosok gadis yang dicintai Evan?” Dira menatap kesamping, kursi kayu itu terlihat sepi tanpa Evan disampingnya.

***
Pluk!!
Vega berbalik menatap Dava saat sebuah gumpalan kertas kecil mendarat dikepala gadis itu.
Pemuda itu tersenyum saat ve menaikkan dagunya bertanya. “Ada apa?”

“Istirahat, temui gue dikantin.” Dava mengecilkan suaranya agar tak didengar oleh guru pembimbing mereka.

Kening Ve mengerut seketika. “Setiap hari gue disana Dav.” Begitupun Ve yang juga mengecilkan suaranya.

“Ada yang mau gue omongin sama lo. “ Dava menunjuk Ve cepat yang mengangguk.

Gadis itu menatap kedepan sebentar, menatap guru pembimbing yang terlihat sedang sibuk dengan penilaian, kemudian ia kembali menatap Dava yang terduduk dua baris dibelakangnya. “Baiklah.”

Senyumpun terukir indah dibibir pemuda ramah itu.

***
Teng...teng...
Lonceng istirahat terdengar disekitar gedun pendidikan itu.

Dira menatap bangkun Evan yang masih kosong, sepanjang pelajaran kedua Evan lebih memilih untuk absen, “Apa dia marah sama gue?” Dira berdiri dan menatap keluar kelas.
Hujan kembali ia rasakan.

Pemuda itu memilih untuk keluar, “ Gue harus minta maaf sama Evan.” Ia berjalan cepat mengintari koridor sekolah, matanya menatap kiri-kanan mencari sosok sahabat terdekatnya.
“Lo dimana Van!”

Langkah cowok itu terhenti ketika ia menatap Mia yang sedang berdiri didepan kelas, pemuda itupun berniat menghampirinya.
“Hey!”

Gadis itu sempat terkejut saat Dira menyapanya, “Dira!” Iapun tersenyum malu.

“Lo ngapain disini?” tanya Dira sambil menyenderkan tubuhnya pada dinding disamping gadis manis itu.

“hmm nungguin kamu.” Mia menunduk malu setelah kata-kata itu ia lontarkan.

Dira tersenyum tipis dan mengelus rambut hitam cewek itu. “Lo itu manis banget, lebih manis dari gula.”

Pujian yang dilontarkan Dira membuat jantung gadis itu seketika terhenti, tangan dan kakinyapun seketika bergetar.

“Tatap gue dong manis.” Pemuda itu menaikkan dagu Mia yang terbelah, hingga gadis itu menatapnya.
“Kapan lo mau jadi pacar gue?” Dira menaikkan sebelah alisnya saat mata indah Mia menatapnya.

Gadis itu terdiam, apakah ia sedang bermimpi saat ini?? Benarkah pemuda ini ingin menembaknya atau ini hanya buaian belaka??

“DIVARIO!”
Suara lantang kepala sekolah, kembali didengar cowok tinggi itu.

Dira mendengus pelan, menjauhkan jemarinya dari dagu gadis lugu itu. “Sh*T!”
Ia menatap pak kepala sekolah yang mendekat dan berdiri didepannya.

“Apa lagi yang kamu lakukan pada Siswi itu,DIVARIO?” Tatapan mata kepala sekolah membuat Dira mengkernitkan keningnya.

“Perasaan gue gak ngapa-ngapain nih cewek?” Hati kecilnya berbisik pelan.

“Biasa pak, palingan dipalak, atau gak diancam.”
Ve yang baru tiba langsung menyambung, berdiri disamping Mia yang terlihat resah.
“Liat aja pak, sampai gemetaran gini.” Ve menunjuk kaki Mia yang masih bergetar.

“Betul begitu Divario?”
Pertanyaan pak kepala sekolah membuat Dira tertawa kecil. “Kamu pikir ini Lucu?” Bentakan itu membuat Dira menggeleng cepat.

“Saya gak mungkin melakukan itu pak.” Cowok itu mencoba membela dirinya. “Kalau bapak gak percaya, nanya ajah sama orangnya langsung.” Dira melirik Mia yang menatapnya.
“Gue ngapain lo tadi?”

Gadis itu terdiam beberapa saat sebelum ia berani menjawab. “Kamu nembak aku?”

Mata Ve membesar mendengar jawaban Mia, seketika hatinya bergemuru cepat.

“Tuh kan pak, saya Cuma mengatakan perasaan saya yang sebenarnya, bapak kayak gak pernah muda ajah.” Dira tak sengaja menepuk lengan pak kepala sekolah keras, membuat tatapan sangar seketika menyerangnya.

“Tetap saja, ini sekolah, tempat menuntut ilmu, bukan tempat untuk menyatakan cinta seperti yang baru saja kamu lakukan!”

Dira menarik nafasnya panjang, menatap Ve sejenak yang menampakkan tersenyum puasnya, beralih menatap kepala sekolah yang masih berdiri didepannya.
“Tapi pak..”

“Sekarang kamu ikut saya ke Ruangan.”

“Again.” Dira melirik geram pada Ve yang menyulurkan lidah kearahnya. “Awas lo, cewek kampung!”

“Cowok idiot! Pergi sana! Hush..hush!!” usir Ve sambil mendorong tubuh Dira menjauh.

Mia menatap Dira pelan yang berjalan dibelakang pak kepaala sekolah, menjauh dari hadapannya hingga keduanya berbelok dan menghilang.

“Hey, Gue Ve.”
Sapaan Vega membuat gadis itu mengalihkan pandangannya.

Ia tersenyum membalas senyuman persahabatan Vega. “Mia.”

***
“Sial, gara-gara cewek kampung itu, gue jadi dihukum lagi.” Dira yang kali ini mendapat hukkuman membersihkan toilet cowok itu, menggerutu kesal sambil menatap pantulan wajahnya pada cermin. “Suka banget dia cari masalah sama gue?”

Dira membalikkan badannya, menatap geram beberapa siswa yang memasuki toilet. “Lo-lo pada mau ngapain?” Dira menghampiri ketiga siswa itu yang mengernitkan kening.

“Yah mau buang air kecil lah.” Jawab salahsatu dari mereka.
Siswa dengan tubuh paling kurus mencoba memasuki toilet tapi Dira mencegahnya cepat.

“Gak boleh, toilet ini lagi gue bersihin, mendingan lo-lo pada buang air kecil dibelakang pohon noh!” Dira menunjuk pohon besar dipojok lapangan.

Ketitga siswa itu menggelengkan kepalanya bersamaan. “Gila lo!”

“Udah sana!” Dira mendorong tubuh ketiganya menjauh, dan menutup pintu toilet itu seketika.

“Sialan, belagu banget dia!” siswa dengan tubuh plaing bongsor itu menatap kedua temannya tajam yang mengangguk setuju.
“Gimana kalau kita kasih perhitungan?” Ketiganya tersenyum evi sambil menatap pintu toilet yang tertutup.

“Sekarang kita kunciin dia.. Biar mampus!” Sang ketua tersenyum sinis sambil mendekat pada pintu toilet dan dengan cepat pintu itupun dikuncinya.

Dira yang masih berada didalam tak menyadari perbuatan ketiga siswa itu yang telah mengunci dirinya. Pemuda itu terlihat santai terduduk disamping wastafel dengan kedua kaki yang sengaja ia selonjorkan (?).
“Daripada gue mikirin si cewek kampung itu, mendingan gue mikirin gadis cinderella gue.”
Dira meraih anting milik Ve dari saku seragamnya, tersenyum saat ia mengingat kejadian kemarin malam. “Gue bakal nemuin lo, cinderella.” Dira menyenderkan kepalanya pada dinding toilet, pendangannya tak pernah lepas dari anting bintang itu.
“Lo udah buat gue jatuh cinta,!”


*** 
{I don't know you but I want you all the more for that}

Dira tersenyum ketika membayangkan kembali saat-saat kemarin. Bayangan gadis cinderella itu selalu terliang dalam benak cowok skate itu. Sepanjang malampun ia tak pernah lepas memikirkan gadis yang telah menari perhatiannya itul. Gila memang, tapai itulh cinta!
Walaupun ia tak tau bagaimana wajah gadis itu, tapi hatinya telah terpaut pada gadis bersuara indah itu.

“Gila, lo udah buat gue gila, cinderella.” Ia tersenyum tipis. “Bukan kali pertama gue jatuh cinta, tapi ini kali pertama gue ngerasa benar-benar terjatuh dalam cinta.” Pandangannya tak pernah lepas dari anting bintang itu. Pemuda ini yakin, inilah cinta yang sesungguhnya.
“Siapapun lo, gue pastiin lo jadi milik gue.”

Dira berdiri dan memasukkan kembali anting itu pada saku seragamnya. Ia menatap sekeliling toilet yang berlum sempat ia bersihkan, mendengus pelan bersamaan dengan garukan tenguknya. “Waktunya bersih-bersih.” Ia berjalan menuju sapu disudut toilet, meraihnya dan mulai melakukan pekerjaannya, bersih-bersih!!

***
“Vega!” Dava melambaikan tangan pada Ve yang terlihat berjalan menghampirinya.

“Ada apa?” Gadis itu berdiri disamping Dava yang terduduk dikursi kantin.

“Duduk!” Dava meraih tangan Ve dan membawa gadis itu terduduk disampingnya. “Ada yang mau gue omongin sama lo.” Wajah pemuda itu terlihat serius.

Ve menatapnya tajam. “Apa?”

“Gue mau pulang sekolah, lo temanin gue ke Mall.” Cowok itu meraih es alpukat didepannya dan meneguknya.

“Mall? Emangnya mau ngapain?” gadis itu menatap Dava yang tersenyum sambil menaruh kembali gelas es alpukat diatas meja.

“Gue mau beli sesuatu.”

Ve mengangguk mendengar pernyataan Dava, gadis itu beralih menatap kesamping, mendung kembali ia rasakan. “Kalau gak hujan yah?”

Dava ikut menatap arah pandangan gadis itu. “semoga gak hujan.” Harapan Dava mampu membuat senyuman gadis itu terukir indah.

Beralih Dava kembali menatap tajam Ve yang asik menikmati pemandangan disekitarnya, cowok itu tersenyum tipis. “Inikah yang namanya jatuh cinta? Merasakan satu kenyamanan disamping seseorang, sama seperti saat gue disamping lo gini!”
Hati kecil pemuda itu berseru pelan.

Memang sejak pertama pertemuannya dengan Vega, pemuda itu merasakan sesuatu yang bebrbeda pada hatinya, terlebih saat gadis ini membelanya didepan Dira. Ini kali pertama pemuda yang lebih suka menyendiri itu terlihat dekat dengan seorang gadis, mungkinkah Ve mulai membuka hati Dava yang dulu sempat tertutup karena cinta.

“Hey.” Seruan Ve membuat lamunan pemuda itu menghilang. “Kenapa? Ada yang salah sama wajah aku?” gadis itu meraba pipinya sendiri membuat Dava tertawa kecil.

“Bukan, Lo itu terlalu cantik!”

Degh!
Jantung Ve seketika terhenti saat mendengar penuturan pemuda putih itu. Rasaanya ia ingin berteriak sekeras mungkin untuk mengabarkan pada dunia bahwa ia sedang bahagia.
Seseorang yang sempat membuat hatinya dag-did-dug dan selalu mebuatnya terkesima, mengatakan dirinya cantik, ini seperti mimpi yang sempurna.

“Muka lo merah gitu.” Dava mencubit geas pipi Ve yang seketika memerah.

Gadis itu menunduk malu. “Dava ah!” Ve menyenggol lengan Dava pelan. “Aku bantu ibu dulu yah!” ia berdiri, menatap sekilah pemuda itu yang mengangguk.

“Okay, jangan lupa pulang sekolah!” Dava memastikan Ve akan persetujuan gadis itu.

“Kalau gak hujan.” Ve berlalu setelah kata-kata itu ia ucapkan.

Dava tersenyum menatap gadis itu yang semakin menjauh darinya. Indah! Ternyata, jatuh cinta itu memang indah!

“Dava!” Niky yang baru tiba seketika terduduk disamping Dava.

Dava mengernitkan keningnya cepat, bagaimana ia bisa lupa, ia punya janji dengan gadis ini.
“Hey!”

“Gue nyariin lo daritadi juga.” Niky megkrucutkan bibirnya kesal.

“Sorry, yah udah, lo mau pesan apa? Gue traktir!” Dava meraih menu didepannya dan menyodorkannya pada Niky yang langsung meraihnya.

“Beneran nih!” gadis itu menatap tajam Dava memastikan.

Pemuda itu hanya tersenyum tipis dan mengangguk.

Ve terdiam, menatap Dava yang sedang berbincang-bincang dengan Niky, mereka terlihat begitu dekat, hati gadis itupun seketika terasa sesak. “Gue gak mungkin cemburu.” Ia masih menatap Dava dan Niky tajam. “Tapi Niky cantik, pantaslah buat Dava yang tampan, memreka tampak serasi,” gadis itu menunduk sedih. “Gak seperti gue yang Cuma anak pemilik kantin.”

“Jangan pernah menyalahkan keadaan.”

Suara itu membuat Ve menganggkat wajahnya cepat. Keningnya seketika mengerut mendapati Evan telah berdiri disampingnya. “Evan?”

“Ini takdir, yang harus lo terima dengan lapang dada, bukan lo sesali seperti tadi,” Evan menatap Ve yang menatapnya tajam. “Gak ada yang salah dengan lo Ve, menjadi anak pemilik kantin itu tidak terlalu terhina, justru lo harusnya bangga karena pekerjaan itulah, lo masih bisa bertahan hidup.”

“Lo gak usah ikut campur urusan gue,” Ve berbalik berjalan santai menuju tempat cucian piring-piring kotor. “Urusin ajah diri lo sendiri dan juga sahabat lo itu.”

Evan yang mengekor Vepun tersenyum mendengar pernyataan gadis itu, “Dira?” Pemuda itu menatap Ve yang mulai mencuci piring.
Tak ada jawaban dari bibir gadis itu. “Lo marah sama gue?” Evan menarik piring yang baru saja selesai dicuci Ve dan mengelapnya dengan kain disampingnya.
Pemuda itu mencoba membantu Ve membersihkan beberapa cucian piring kotor.

“Kalau ajah gue bisa, gue udah bunuh lo Van,” Ve berkata kesal pada Evan yang tersenyum. “Tapi sayangnya gue gak sejahat itu.”

“Marah-marah ajah, cantiknya nanti ilang loh!” Evan mengacak poni Ve yang menatapnya geram.

“Apaan sih!” Ve menepisnya cepat, mendorong tubuh Evan menjauh darinya. “Pergi lo, lo itu nyebelin tau gak?”

Evan tertawa kecil, kembali mendekat pada Ve yang masih menatapnya. “ lebih nyebelin mana sama Dira?” Evan menyolek dagu gadis itu yang kembali mendorong tubuhnya.

“Kalian sama-sama nyebelinnya, Pergi sana!” Usir Ve pada Evan yang melemparkan kain ditangannya tepat diwajah manis Ve.

“Lo itu gak berubah yah, tetap ajah marah-marah gak jelas.”

“EVAN!! Awas lo!” Ve menggrutu kesal pada Evan yang berlalu dari hadapannya.
“Kenapa gue harus ketemu lo lagi disini??”

***
“Selesai juga!” Dira menarik nafasnya lega setelah berhasil menyelesaikan hukumannya.
“Waktunya minum obat!” ia menatap arlogi dipergelangan tangan kirinya, menaruh peralatan bersih-bersih kembali ditempatnya semula.

Pemuda itu bercermin sebentar sebelum ia memutuskan keluar toilet..

Dira mencoba membuka pintu toilet itu yang ternyata terkunci. “Sial!! Dikunci lagi!” ia menggaruk tengkuknya, mencoba memikirkan cara untuk keluar dari toilet ini secepatnya.

TENG—TENG—
Suara lonceng tanda istirahat pertama selesai terdengar ditelinga pemuda itu.

Ia mendengus pelan, mencoba mengetuk-ngetuk pintu dari dalam, berharap ada yang mendengarnya.
Ia berhenti mengetuki pintu itu, mengacak rambutnya kesal. “sial, inikan toilet paling ujung, mana ada yang lewat sini coba!” ia terduduk menyender pada pintu toilet. “Sekarang gimana caranya gue keluar dari sini? Mana sekkarang waktunya gue minum obat, telat dikit bisa pingsan lagi gue!” Dira mengelus pelan jantungnya. Semoga sakitnya kali ini bisa diajak kompromi.

***
“Evanco, dimana Divario??” guru pembimbing menatap Evan tajam yang seketika menatap bangku Dira yang kosong. Pelajaran telah dimulai tapi Dira masih terkurung didalam toilet itu.

Pemuda itu menaikkan bahunya cepat. “Kurang tau bu, daritadi saya gak bareng dia.”

Guru pembimbing itu mengangguk mendengar penuturan Evan. “Ya sudah sekarang tolong kamu cari dia!”

Evan berdiri setala mendengar perintah guru psokologi itu. Cowok itu mengangguk dan berlalu keluar kelas.

“Lo dimana Dir?” Evan menatap kiri-kanan berharap ia menemukan sosok yang dicarinya.
Matanya membesar saat ia mendapati Ve berjalan didepannya. “Vega!” teriaknya kencang membuat langkah gadis itu terhenti.

“Ada apa?” tanyanya tak bersemangat ketika Evan telah tiba didepannya.

“Lo liat Dira?”
Gadis itu tertawa kencang saat pertanyaan itu terlontarkan dari bibir Evan..

Evan mengernitkan keningnya. “Ada yang lucu? Lo liat Dira gak?” Evan menjewer telinga kanan Ve gemas.

“Aou, sakit tau gak?” rintih Ve kesakitan sambil menatap Evan geram.

“Lagian gue tanya baik-baik bukannya dijawab malah ketawa. Lo liat Dira gak?”

“Emangnya siapa gue? Lo ajah sahabatnya gak tau dimana dia apalagi gue, musuhnya!” gadis itu mengelus telinganya yang masih ia rasakan sedikit sakit.

Evan terdiam. “”Bener juga, gimana mungkin si Ve tau Dira dimana, merekakan musuhan?” Hati kecil Evan berseru.
“Ya udah, biar gue cari sendiri.” Evan melangkah menjauh.

“Tunggu Van!” Teriak Ve sambil berjalan menghampiri Evan yang terdiam.

“Kenapa? mau nitip salam buat Dira.” Evan menampakkan senyum evilnya saat menatap wajah sinis Ve. “salamnya apaan? Lo kangen dia atau lo cinta dia!”

“Gak penting!”

“Terus?? Mau bilang lo sayang gue!”

Pletak!
Ve menjitak kepala Evan kesal. “Gak lucu tau gak, ya udah pergi sana!gak jadi deh gue ngomongnya!” gadis itu mendorong tubuh Evan menjauh.

Pemuda itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pada Ve yang menatapnya geram.



***
***
“Hello..Hey...Hii...siapapun diluar sana tolong keluarin gue dari sini!”
Dira masih mengetuk pintu toilet dari dalam, Cuma itu satu-stunya cara dengan harapan seseorang mendengar teriakkannya dan mengeluarkan dari ruang pengap itu.

“Hello.. SIAPAPUN!” suaranya semakin ia keraskan, nafasnya terasa sedikit sesak, setengah jam sudah ia telat untuk minum obat, dan itu akan berakibat fatal untuknya. “Gue gak mau pingsan lagi!”

TOKTOKTOK!!

Ve yang kebetulan berjalan disamping toilet itu seketika terhenti ketika ia mendengar sesuatu yang aneh. “Kayak ada yang ngetuk pintu?” Ia mencoba menatap sekeliling,Sepi.
Ia kembali melangkahkan kakinya, tapi lagi-lagi terhenti saat ia mendengar teriakan seseorang.

“SIAPAPUN TOLONGIN GUE!”

Kening gadis itu mengerut, mendengar suara yang sepertinya tak asing ditelinganya. “DIRA??”

TOKTOKTOKK!!

Ia mendekat pada pintu toilet. “Cowokk idiot! Lo didalam??”

“Lo, cepet keluarin gue dari sini!” bentakan Dira kencang.

“Lo ngapain didalam? Mau kabur dijam pelajaran yah? Ketahuan!” Ve tersenyum sinis.

“Lo bego atau bodoh? Jelas-jelas gue dikunciin dari luar!” Dira mengeraskan suaranya. “CEPET KELUARIN GUE DARI SINI!”

“Eh sopan yah, udah minta tolong malah bentak-bentak!” Ve meraih pegangan pintu dan benaar saja terkunci..

“Cepetan!” suara keras itu kembali didengarnya.

Gadis itu mendengus kesal. “Menyebalkan, lo pikir gue mau gitu bukain pintu ini buat lo, Ogah!” Ve berusaha untuk melangkah sebelum sesuatu ditangkap oleh telinganya.

BRAKKK!!
Sesuatu terjatuh didengarnya berasal dari dalam toilet, ia mendekat dan menempelkan telinganya pada pintu kayu itu. “Cowok idiot! Lo baik-baik ajah?” Tak ada sahutan dari dalam.
Gadis itupun mulai menampakkan wajah gelisah. “Cowok idiot, jawab gue!” ve mengeraskan suaranya, tetap saja suara pemuda itu tak didengarnya.
“Jangan-jangan Dia pingsan lagi?”

Rasa khawatir dan peasaranpun membuat gadis itu mngerakkan kunci yang menempel pada lubang kunci dan membukanya.

Grekk!!

“Lo mau ngapain?”
Suara seseorang membuat Ve menjauhkan tangannnya dari gagang pintu cepat.

“Dira terkunci didalam, dan aku berniat menolongnya.”

Pemuda tinggi itu mendekat pada Ve, “Sebaiknya lo kekelas sekarang, atau lo mau gue kunciin bareng dia juga?”
Ve membelakkan matanya. “Jadi lo yang ngunciin Dira?”

Pemuda itu hanya mengangguk pelan diiringi dengan senyuman sinis. “So??”

“Apapun itu, gue tetep akan nolongin Dira,” Ve tetap tekat untuk membuka pintu toilet itu.

“Okay. Kalau itu mau lo!” Pemuda itu menarik tangan Ve hingga gadis itu memasuki toilet cowok.

Brukk!!
Pintupun ditutupnya.

“Keluarin gue dari sini!” Teriakkan ve terdengar disekitar toilet. Ia berusaha membuka pintu yang terkunci, megggerak-gerakkan gagang pintu itu keras, tapi tetap saja sia-sia.
Ia terkunci didalam toilet itu dengan Dira.

“DIRA!” Ve mengalihkan pandangannya cepat, matanya membesar saat menatap Dira yang sedang terduduk santai menyender dengan senyuman diwajah tampannya.

“Cewek aneh!” cowok itu berdiri dan menghampiri Ve yang terdiam didepan pintu toilet.

“Bukannya tadi lo pingsan?” gadis itu menatap tajam Dira yang tertawa kencang. “ada yang lucu, cowok idiot?” ve memukul kesal lengan Dira keras.

Cowok itu menggeleng cepat bersamaan dengan tawanya yang semakin keras. “lo khawatir sama gue?” Dira menaikkan keduaaa alisnya bergantian.

“Gak lucu, siapa juga yang khawatir sama cowok idiot kayak lo?” bantah Ve sambil melipat kedua tangannya didada.

Dira mengangguk mengerti. “Terserahlah,” cowok itu menjauh, medekat pada kaca panjang toilet dan bercermin, memainkan rambutnya dengan jemari-jemari tangannya.

“Cowok idiot..cowok idiot...cowok idiot!!” Ve mengeraskan suaranya, menatap kesal Dira yang tersenyum menatapnya. “Gimana bisa gue terkuci satu ruangan sama cowok idiot macam lo!”

“Udahlah Ve, hari ini gue lagi bahagia, jadi gue harap lo jangan merusak benih-benih cinta dihati gue untuk gadis cinderella yang gue cintai.”

Kening Ve mengerut saat mencoba mencerna maksud perkataan Dira barusan.. Jatuh cinta?? Gadis cinderella??
Apa mungkin Dira menyukainya sebagai gadis cinderella??

“Lo jatuh cinta cowok idiot?” Ve mendekat pada Dira dan berdiri disamping cowok tinggi itu.

“Yep.. karena itu jangan pernah lo ngerusak kebahagian yang lagi gue rasaain sekarang.” Dira mendorong tubuh kurus Ve sedikit kekiri.

“Emangnya cewek itu siapa?”
Entah kenapa, tiba-tiba rasa penasaran pada diri gadis itu membuatnya bertanya, ia menatap Dira tajam menunggu jawaban dari cowok skate itu.

“Gadis cinderella.”

Jawaban singkat Dira itu mampu membuat gadis itu tertawa kencang..

Dira menatapnya risih, “Kenapa lo? Tawa lo alay!” Dira kembali menatap kearah cermin, memainkan kerah seragamnya pelan.

“Lo suka sama seseorang, yang lo temui waktu mati lampu! Dasar idiot!”

Dia menatap Ve geram sambil mengerutkan keningnya. “Dari mana lo tau, kalau gue sama cinderella gue itu ketemunya waktu mati lampu?”

Gadis itu terdiam sambil menggigit bibir bawahnya. “Bodoh, bagaimana bisa ia kesemplosan seperti ini?” hati kecilnya berseru mengetuki kebodohannya.
“hmm itu.. Gue ngasal..!” Ve berusaha mengelak saat tatapan mata hitam itu menyerangnya cepat.
Gadis itu berbalik kekiri, membelakangi dira yang masih menatapnya heran.

“Kebetulan yang tepat!” cowok itu kembali bercermin, kali ini ia membasuh wajahnya dengan air pada wastafel yang baru dibukanya.

Untuk beberapa detik, Ve yang meliriknya, sekilas merasakan jantungnya terhenti. “Tampan!” tanpa sengaja suara hatinya berkata lewat bibir tipisnya.

Dira menutup wastafel dan tersenyum pada Ve yang masih terdiam menatapnya. “Baru sadar lo, kalau gue tampan!” seperti biasa, cowok itu selalu memainkan kedua alisnya ketika kepercayaan dirinya tiba.

Ve tersenyum sinis membalasnya. “Iya, tampan dari pasar loakan!” Gadis itu mendekat pada gagang pintu dan terus berusaha membuka pintu toilet yang masih terkunci.

“Ini bukan kali pertama gue jatuh cinta, tapi ini kali pertama hati gue bener-bener merasakan yang namanya cinta sesungguhnya.” Dira terduduk dipinggir wastafel dengan meluruskn kedua kakinya, ia menyenderkan kepalanya pada dinding toilet, meraih anting bintang milik cinderella dan menatapnya tajam.

Ve terdiam menatap anting miliknya berada ditangan Dira. “Anting gue!” ia mengecilkan suaranya agar Dira tak mendengarnya.
Dengan setia, Gadis itu mendengarkan Dira yang terus bercerita tentang perasaannya pada gadis cinderella.

“Dia satu-satunya gadis yang menyadarkan gue tulusnya cinta, walaupun gue gak tau siapa dia dan bagaimana bentuk wajahnya, tapi gue yakin, hati gue udah terlanjur direbutnya.”
Dira masih menatap anting bintang ditangannya.

Ve mendekat dan berdiri disamping Dira. “Kalau semisal dia itu jelek, terus miskin, apa lo masih mau ngakuin rasa cinta lo sama dia?”

Dira menarik nafasnya panjang bersamaaan denggan senyum tipisnya. “Yah, karena gue mencintai dia apa adanya, gue gak peduli bentuk fisik ataupun latar belakang dia, dengan bersamanya itu adalah hal terindah gue.”

Perkataan Dira mampu membuat hati gadis manis itu tersentuh, ia tak menyangka bahwa apa yang ia lakukan pada Dira malam itu, dapat membuat hati pemuda itu menyukainya.

“Hmm, gimana kalau gadis cinderella lo itu.. gue!” Ve menatap Dira tajam, menunggu reaksi dari pemuda disampingnya.

Dira tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. “Haha elo? Gadis cinderella gue??”

Ve mengangguk cepat, “Iya, kenapa emang?? Kan semisalnya!”

“Oh iya-iya.” Dira mengangguk sambil memasukkan anting itu kembali pada saku seragamnya. “Hmm.. gimananya???” ia berpura-pura berfikir membuat Ve menatapnya penasaran.

“Ah gak mungkin!” Dira menggelengkan kepalanya cepat. “Ngebayangin ajah gue ogah!”

Ve mengempungkan pipinya kesal, menatap geram Dira yang telah berganti posisi menjadi berdiri disampingnya.

“Gadis cinderella gue itu lembut, punya sisi perempuan selayaknya seorang ibu, hatinya itu tulus dan ber-prikemanusiaan, bukan seperti lo!” Dira menunjuk Ve yang langsun penepis telunjuk Dira yang mendarat tepat didepan hidungnya.”galak, gak punya hati, dan bisanya Cuma bikin gue kesal!”

“Rese lo, Cowok idiot!” Ve menendang lutut kiri Dira kencang, membuat pemuda itu merintih kesakitan.

“Aww, sakit cewek kampung!” Dira membungkukkan badannya, meraba pelan lututnya yang seketika ia rasakan ngilu..

“Rasain!! emang enak!”



***
“Hello... tolong kelurin gue dari sini!” Ve mengetuk pintu toilet dari dalam, sama persis dengan apa yang dilakukan Dira tadi.
Tok..tok..tok!!

“Woi, berisik!” Dira menggrutu kencang. “Gue mau tidur, lo diam, bentaran ajah!” cowok itu menyenderkan kepalanya pada dinding toilet sambil memejamkan matanya.

“Cowok idiot, bisa-bisanya lo bersikap santai dalam keadaan seperti ini!” Ve menatap Dira kesal. “Dasar cowok idiot!”

Pemuda itu menggelengkan kelapanya beriringan dengan senyum tipisnya. “Udah, lo itu gak ada kerjaan lain selain ngomel gak jelas gitu.” Dira membuka matanya dan menatap Ve tajam. “Atau jangan-jangan lo titisan nenek lampir yang menjelma menjadi gadis galak!” Dira melebarkan senyumnya sambil menaikkan dagunya.

Gadis itu mendekat dan...
Pletak!!

Jitakanpun mendarat tepat dikepala cowok cool itu.. “Sialan!” Gadis itu menyender pada dinding dan berdiri disamping Dira yang masih terduduk.
“Kenapa juga gue harus terkunci satu ruangan sama cowok nyebelin bin idiot macam Lo!” Ve mengepalkan tangannya dan mendekatkkannya pada wajah Dira yang menantangnya.

“Kenapa?? Mau nonjok gue?? Nih!!” Pemuda itu mendekatkan pipinya pada Ve yang menurunkan kepalan tangannya. “Jangan sok kuat, palingan tangan lo yang memar ntar.”

“Nyebelin!” gadis itu menggeser tubuh Dira kekiri dan terduduk seketika disamping cowok itu yang terlah bergeser sedikit duduknya.

Dira menatap Ve sekilas, keningnya mengerut menatap samar-samar anting ditelinga kanan Ve yang tertutupi rambut panjangnya. “Anting Lo..”

Mata Ve terbelalak, cepat-cepat ia membuka anting miliknya dan menyembunyikannya dari tatapan mencurigakan Dira.

Cowok itu mendekat pada wajah Ve yang seketika terlihat grogi, “Kenapa disembunyiin?” pemuda itu masih menatap tajam Ve yang mengangguk.

“Biarain ajah, terserahh gue, anting-anting gue, masalah buat hidup Lo??” jawab gadis itu asal. Ia mengalihkan pandangannya kekiri menghindar dari tatapan mencurigakan itu.

“Ya udahlah, gak penting juga!” pemuda itu menggaruk keningnya yang ia rasakan gatal, berganti menatap arlogi dipergelangan tangan kanannya. “Ini udah kali kelima gue telat minum obat.”

Ve menatap pemuda itu sekilas yang menatap langit-langit.. mendengar setiaap kalimat yang terlontarkan dari bibir tipis Dira.

“Pasalnya, kalau gue telat minum obat lagi, keadaannya bisa tambah parah dan kemungkinan gue bisa meninggal ditempat.”

“Apa separah itu?” gadis itu mulai menampakkan wajah khawatir, ia tak tau mengapa tiba-tiba rasa khawatir ini menyerangnya, seolah-olah ia tak ingin Dira pergi meninggalkannya.

Dira mengangguk pelan. “Iya, bisa lebih parah lagi kalau gue gak dapatin jantung baru.” Pemuda itu tersenyum perih, menarik nafasnya panjang dan membuangnya secara berlahan. “Tapi harapan gue Cuma satu sebenarnya.”

“Apa?? Dapat pendonor jantung secepatnya?” Tebakkan Ve membuat dira seketika menggeleng cepat.

“Bukan itu, kalau itu gak begitu penting buat gue, toh intinya semua orang juga bakalan meninggal, tapi dengan cara yang berbeda, dan mungkin gue kenanya dijantung.”

“Lalu??”

“gue pingin ngerasain satu hari full bareng Gadis cinderella gue, sebelum hari kematian gue bener-bener tiba.” Dira menatap Ve sekilas, mencoba tersenyum saat mengungkapkan harapannya itu.

“Sesimple itukah?” Gadis itu mengerutkan keningnya saat dira mengangguk yakin.

“Mungkin emang simple, tapi bagi gue itu akan menjadi satu hari yang sangat teramat spesial selama gue bernafas didunia itu.”

Tanpa terasa, senyuman simpul terukir indah dibibir merah Ve, gadis itu tak menyangka bahwa harapan terakhir pemuda ini adala dirinya, walau sebagai gadis cinderella, tapi setidaknya ve merasakan sesuatu kebagiaan saat mendengar penuturan pemuda itu.

Dira merebahkan kepalanya pada pangkuan Ve, seketika jantung gadis itu berhenti berdetak. “Gue mau istirahat bentar, sebelum jantung gue kambuh!” Dira menatap Ve yang mengangguk pelan, pemuda itu tersenyum saat menatap wajah grogi gadis itu.

“Nyanyiin gue lagu!” perkataan pemuda itu yang tiba-tiba kembali membuat gadis itu terdiam tak percaya. Dira meraih jemari tangan kanan Ve dan menaruhnya tepat diatas kepala Dira yang masih terbarig dalam pangkuan gadis itu. “Cepetan, sekalian lo elus-elus rambut gue, biar cepat tidur.”

Ve menunduk menatap Dira yang tersenyum jahil kearahnya. “Gue gak bisa nyanyi!” gadis itu berusaha menjauhkan jemarinya dari rambut hitam Dira, tapi sayang pegangan tangan Dira begitu kuat menahannya.

“Udah cepetan, keburu gue pingsan lagi!” Dira menutup matanya setelah tersenyum mendapati wajah cemberut gadis itu.

Ve menarik nafasnya panjang, sebelum ia benar-benar menuruti permintaan cowok menyebalkan itu.

Dira tersenyum tipis saat suara gadis itu mulai melantunkan sebuah melodi, terlebih saat gadis itu mengelus rambutnya perlahan.
Belaian yang selama ini Dira rindukan, ia rasakan kembali dalam belaian gadis ini.

Embun dipagi buta...
Menebarkan bahu paksa..
Detik demi detik kuhitung.. kinikah saat kupergi..

Oh tuhan ku cinta dia..
Berikankah aku hidup..
Tak akan kusakiti dia... hukum aku bila terjadi..

Aku tak mudah untuk mencintai..
Aku tak mudah mengaku kucinta..
Aku tak mudah mengatakan aku jatuh cinta..


Gadis itu berhenti sebentar.. menatap Dira yang masih memejamkan matanya, ia tersenyum sambil terus mengelus pelan rambut hitam itu.

“Dira!” bisiknya pelan.. tak ada jawaban dari Dira, gadis itu melanjutkan perkataannya.
“Seandainya lo tau gadis cinderella lo itu gue, apa lo masih mau ngasih hati lo buat gue?”
Ve menarik nafasnya pelan. “jujur, gak tau kenapa gue seneng waktu lo bilang, lo jatuh cinta sama gue walaupun sebagai gadis cinderella lo.”


CONTINUE ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Online Now Icons