***
Langit terlihat bersahabat, berbanding terbalik dengan pagi-pagi sebelumnya yang terlihat mendung dan berawan.
Pagi ini, seperti biasa, Ve membantu sang bunda berbenah kantin, gadis itu terlihat sibuk menata meja dan kursi, tapi entah kenapa tetap saja gadis itu tak pernah lepas membayangkan sosok Dira.
Ia terduduk disalah satu kursi yang baru ditatanya, eraih sebuah kerts putih kecil dari saku seragamnya, ia tersenyum tipis saat tulisan tangan Dira kembali dibacanya.
'Terimakasih untuk tempat berteduhnya dan minuman peredam haus gue, air hujan."
Gadis itu tertawa kecil sambil melipat kertas putih itu, seketika hati kecilnyapun bertanya, apa yang selanjutnya akan dilakukan pemuda itu setelah mengetahui status ve sevagai gadis cinderellanya??
sejujurnya, ada rasaa sedikit takut pada diri Ve, ia takut Dira akan menjauh darinya setelah mengetahui semua rahasia itu.
Atau pemuda itu akan marah dan semakin membencinya.
gadis itu cukup nyaman berada disampin Dira seperti sekarang, walau pertengkaran selalu mewarnai pertemuan mereka, tapi gadis itu tak ingin Cowok idiot itu menjauhinya.
"Hii, ngelamun ajah!" Suara Evan seketika mengagetkan gadis itu.
Ve menatap kesal Evan yang terduduk disampingnya,mendengarkan pemuda itu yang kembali bicara.
"Lo tega Ve, masa sahabat gue lo usir," Evan menaikkan sebelah alisnya, "bukannya lo suruh masuk atau lo sediain minuman gitu, ini malah lo nguruh minum air hujan." pemuda itu tertawa kecil saat kembali membayangkan bagaimana espresi Dira saat bercerita padanya kemarin.
"Emang gue pikirin." jawaban tak peduli sang sepupu, membuat Evan menggelengkan kepalanya.
"Lo tau, akibat perbuatan lo itu, sekarang Dira sakit, badanya panas dan jantungnya kembali kambuh."
Deg!
jantung gadis itu terhenti mendengar penuturan sang sepupu, tangannya seketika bergetar tak menentu. "Benarkah itu?"
"Dira itu cepat lemah kalau terkenaa air hujan, tubuhnya gak sekuaat kitaa-kita para cowok, dia itu termasuk cowok lemah yang gampang terserang penyakit." Evan mencoba menyelaskan, dengan setia gadis itu mendengarkannya.
"Waktu SD dia sering banget absen karena sakit,pernah Dira hampir gak naik kelas karena sering absen, tapi untungnya dia punya otaak yang cerdas untuk tetap dapat menguasai pelajaran."
"Itu beneran?" gadis itu mulai menampakkan wajah khawatir. apa iya, ia baru saja membuat pemuda itu terserang penyakit.
"Gue gak mungkin bohong Ve, kalau lo gak percaya lo bis temui dia di UKS, sekarang dia ada disana!" Evan mengelus pelan pundak Ve yang terdiam.
gadis itu masih ragu, apaa yang harus ia lakukan sekarang, karena keegoisannya Dira terserang penyakit, sungguh tegga bukan??
Evan mendongakkan wajahnya menatap Vega yang bberdiri. "Kalau lo mau kesana, sekalian lo bawain makanan, Dira belum sarapan."
***
Gadis itu mempercepat langkahnya mengitari koridor sekolah, sebuah kotakk makan kecil tampak jelas dipegangnya, hatinya dag-dig-dug saat membayangkan jika pemuda itu benar-benar sakit karenanya.
beberapa kali ia mmenarik nafasnya pelan, mencoba megusir rasa khawatir dalam dirinya. entah,. sejaka kapan gadis itu terlalu perduli dengan Dira, cowokk idiot itu..
mungkin kini hatinya mulai penyimpan satu rasa pada pemuda tegar itu.
langkahnya semakin dekat dengan ruangan UKS, semakin kencang pula jatung gadis itu berdetak, ia mulai memutar otaknya, memikirkan apa yang akkan ia katakan sesampainya didepan pemuda itu nanti. apa sudah saatnya gadis itu jujur, tentang rasa khawatirnya yang dalam pada pemuda itu.
Langkah gadis itu terhenti ketika tiba didepan ruang bercat putih, pandangannya langsung tertuju pada sosok pemuda yang terbaring disana. DIRA!!
Kakinya melangkah pelan, mendekati pemuda itu, ia terhennti ketika benar-benar tiba disampingg Dira yang tertidur.
Ditaruhnya bekal yang dibawanya disamping ranjang, kemudian gadis itu terduduk pelan disamping Dira yang masih memejamkan matanya.
perlahan gadis itu tampa sadar mengelus lembut rambut hitam pemuda yang beberapa haarai terkhir ini mulai menarik perhatiannya.
"Dira itu cepat lemah kalau terkenaa air hujan, tubuhnya gak sekuaat kitaa-kita para cowok, dia itu termasuk cowok lemah yang gampang terserang penyakit."
perkataan Evanpun kembali terliang dalam pemikiran gadis itu.
"Apa segitu lemahnya lo, cowok idiot!" gadis itu masih mengelus pelan rambut hitam Dira, ia terdiam sesaat, memandangi wajah polos pemuda itu perlahan. "Ganteng juga!" hati kecilnya bersuara. tak dapat dipungkiri memang ketampanan wajah Dira yang dapat menarik perhatian para gadis,termasuk ve pastinya.
"Apa mungkin cowok senyebelin lo, sebenarnya memiliki hati yang rapuh, tapi gue bangga dan salut sama lo, karena lo gak pernah nunjukin kelemahan lo didepan orang lain." gadis itu tersenyum pelan. "Sorry untuk yang kemarin!" gadis itu akhirnya memilih berdiri ketika ia mendengar suara bel kelas.
Langkahnya terhenti saat ia menyadari tangan seseorang meriah jemari lengannya cepat. "tetep disini, gue mohon!"
Suara Dira menggema ditelinganya, gadis itu berbalik, terkejut saat mendapati Dira yang menggenggam erat jemari kurusnya. "Dira, lo udah sadar?"
Gadis itu mencoba mendekat, menepis pegangan tangan Dira cepat.
Pemuda itu tersenyum tipis. "Emangnya lo pikir gue pingsan tadi?"
"Maksudnya??" Ve menampakkan wajah tak mengerti, Dira kembali meraih lengan gadis itu dan membawanyaa duduk disampingnya.
pemuda itupun mengubah posisi terbaringnya menjadi duduk. "Tadi gue cuma mejamin mata doang, lo ajah yang terlalu khawatir!" Dira menaikkan kedua alisnya bergantian sambil menampakkan senyum menggodanya.
Ve terlihat salah tingkah, "jadi pemuda idiot ini mendengar semua perkataannya tadi, menyebalkan!" Hati kecil Ve bergumam.
"Lo khawatir sama gue?" senyum nakal itu kembali terukir dari bibir tipis dIRA, Ve mengelak cepat.
"Tidak, emangnya tadi ada omongan gue yang nunjukin kalau gue khawatir sama lo, IDIOT!"
Ve berusaha berdiri dari duduknya, tapi untuk kesekian kali Dira menarik lengannya, gadis itu tak dapat menahan keseimbangan, sehingga tubuhnya seketika menindih badan tegap Dira yang terduduk. wajah keduanya begitu dekat, jantung keduanyapun berdetak tak menentu...
"Sorry!" gadis itu segera menghindar, menjauh dari Dira yang tersenyum snang. Ve berdiri membelakangi Dira. "Bodoh!"
Dira menggelengkan kepala cepat, menatap Ve yang sibuk mengacak-acak rambutnya sendiri. pemuda itu berdiri mendekat pada Ve, meraih kedua lengan Gadis itu dan memutar tubuh gadis itu agar berhadapa dengannya.
Ve terdiam menatap tatapan penuh arti yang tersirat dalam sorot maata Dira.
Dira mendekatkan bibirnyaa pada telinga kanan Ve yang menahan nafasnya, kemudian pemuda itu berbisik pelan. "Karena lo udah khawatir sama Gue, gimana kalau kita jadian??"
pertanyaan yang dilontarkan Dira seketika membuat kaki dan sekujur tubuh gadis itu melemas. "Dira, cowok idiot ini nembak gue?? apa gue sedang bermimpi??" Batinnya masih tak percaya, tapi hatinya seketika berjingkrak senang.
Dira tersenyum menatap reaksi terkeut gadis itu, perlahan dicubitnya keras pipi Ve hingga gadis itu merintih sakit.
"AOW!!" Rintihnya sambil menatap Dira geram.
"Gimana, lo maukann jadi pacar gue, Gadis Cinderella?"
Dira menggenggam erat jemari kurus itu, mendekatkannya seketika pada jantungnya yang masih berdetak. "Gue mencintai lo Ve, sejak awal lo nyamar jadi gadis cinderella, setelah kejadian2 taak terduga yang selalu mempertemukan kita, gue jadi yakin kalau gue benar-benar mencintai lo, sampai detakan jatung gue ini benar-benar berhenti berdetak. Gue cinta Lo!"
Ve terdiam mendengar setiap kata yang dilontarkan pemudaa itu, kejujuran dapat dibaca gadis itu dari sorot mata pemuda didepannya. Ia tak mampu menolak, tapi ia juga belum siap untuk menerima cowok idiot ini untuk singgah dan menetap dihatinya.
"Gue...!"
Dira menatap lekat Ve yang terlihat sulit menjawab pertanyaannyaa.
Sialnya sebelum gadis itu benar-benar menjawab, Evan menghampiri keduanya dengan tergesa-gesa.
"Dira, gawat, Dava Dir, Dava!" Evan menghentikan langkahnya tepat didepan Dira dan Ve.
Dira mengernitkan keningnya sambil melepas pegangan tangannya pada jemari Ve. "Ada apaan?" tanyanya tak bersemangat.
Ve menatap tajam Evan yang menjawab. "Itu.. Dava dikeroyok ama gank Keanes!" perkataan Evan membuat Dira tertawa keras.
"Haha, terus apa hubungannya sama gue?"
Ve menatap Dira tajam. "Dia kakak Lo,Dira!"
"Kakak tiri tepatnya." ralat Dira cepat.
"Lo tega, gue gak nyangka ternyata lo tipe cowok tak berhati!" Ve menepis lengan Dira keras. "Sekarang Dava dimana??" gadis itu beralih menatap Evan resah.
Dava adalah sahabatnya, justru ia khawatir saat mendengar sahabat terbaiknya dalam masalah seperti saat ini.
"Di Gudang belakang kantin."
Penjelasan Evanpun membuat gadis itu berlalu cepat menuju tempat yang baru saja disebutkan oleh sang sepupu.
Dira menaarik nafasnya pelan, wajahnya terliht tak suka. "Lo gak tau, gue ini lagi nembakk Ve, gadis cinderella gue, dan apa?? lo ngerusak semuanya dengan kabar murahan lo itu!" Dira terduduk diranjang dengan wajah kusutnya.
Evan tersenyum tipis. "Dia kakak lo Dir, gue tau dia cuma kakak tiri lo, tapi apa gak ada sedikitpunn rasa khawatir lo sama dia." pemuda itu mendekat pada Dira yang menatapnya tajam. "Dia sayang sama lo Dir, dan asal lo tau, Dia dikeroyok sama Kean and the gank karena dia nyelamatin nyawa lo!"
Dira berdiri, "menyelamatin gue?? gue gak butuh penyelamat sok perhatian seperti dia." pemuda itu mulai mengeluarkan amarahnya. "Dia yang uda buat hidup gue menderita, dia yang udah buat perhatia ayah gue berkurang karena nilai-nilai plus yangg di dapatin jauh diatas gue, diaa yag udah buat nyokap gue ninggalin gue selamanya!" Ia berteriak mengeluarkan semuaa unek-uneknya selama ini.
"Selamanya bagi gue, dia adalah penghancur!"
"Dira, semua itu takdir dan lo gak baisa nyalahin orang lain atas apa yang menimpa diri lo!"
Dira terdiam, ia menunduk dan menahan sesak didadanya.
Evan mendekat dan mencoba menenangkan sang sahabat.
"Gue tau semua masalah lo Dir, tapi please jangan nyiksa diri lo seperti ini!" ditepuknya pelan pundak Dira. "Gue selalu disisi lo selamanya!"
***
"DAVA!!"
Ve berteriak keras, mendekat pada pemuda itu yang telah berbaring tak berdaya.
gudang telah sepi, sepertinya, kean dan teman-temannya telah puas menghajar Dava, tubuh dan wajah pemuda itu penuh darah.
perlahan Ve meraih kepala pemuda itu dan menaruhnya dalam pangkuan.
"Dava, aku disini!! katakan sesuatu, aku mohon!" mata gadis itu mulai berkaca-kaca, dielusnya pelan bibir bawah pemuda itu yang meggeluarkan drah segar.
"Dava.." rintihnya pelan, pemuda itu membuka matanya perlahan tersenyum saat mendapati wajah khawatir Ve.
"Katakan sesuatu Dava, aku mohon!" tanpa terasa airmta gadis itu menetes, terjatuh tepat mengenai pipi pemmuda itu yang masih terbaring dalam pangkuannya.
Perlahan, Dava menoba menaikkan tangan kananya, mencoba menghapus air mata gadis itu. "Jangan.. menangis.. Ve.." ia bersuara dengan nada terbata.
"Dava.."
"Ve.." pemuda itu mencoba menahan sakit disekujur tubuhnya, tulang-tulangnya terasa retak, mungkin setelah ini ia tak akan pernah lagi menatap senyuman manis gadis didekatnya ini.
ia menarik nafasnya panjang, mencoba menyusun kata yang mungkin akan menjadi kalimat terakhirnya. "Gue Cinta Lo!"
Blukk!!
tangan pemuda itu melemas dan terjatuh... seketika.
Tak kuasa gadis itu menahan tangisnya, ia mendekap erat pemuda yang pernah singgah dihatinya itu.
Dira dan Dava nembak Ve dihari yang sama.. lalu siapakah yang nantinya akan dipilih Ve, mengingat Dava adalah cinta pertama gadis itu?
lalu apakah Dava akan selamat setelah ini???
***
Ve terduduk lemas didepan ruang ICU, airmatanya tak henti-hentinya keluar saat perktaan terakhir Dava kembali diingatnya.
"Gue cinta lo!"
Gadis ini tak pernah menyangka bahwa pemuda yang selalu bersamanya dan menjadi sahabat terbaiknya, ternyata menyimpan rasa suka padanya, bagaimana bisa ia tak menyadari itu??Dihapusnya airmata yang terjatuh untuk kesekian kalinya, dadanya seketika terasa sesak..
ia menatap kesamping kiri, ibunda Dava telah tiba dirumah sakit ketika mendapatkan kacar dari sepal sekolah, seperti dirinya, wanita separuh baya itu tak henti-hentinya menangisi sang anak.
Dava dibawa kerumah sakit, karena kondisinya yang sudah teramat parah, dan kini pemuda tampann itu telah berada diruang ICU.
Pintu ruangan itu seketika terbuka, tampak seorang doktor pria keluar dengan raut wajah sendunya. "Keluarga pasien!"
Sang bunda segera berdiri dan berjlan mendekati sang doktor ketika suara dokter itu menggema, begitupula Ve yang berdiri tepat disamping Sovia (bunda Dava).
"Bagaimana keadaaan putra saya Dok?" Tanya Sovia pelan, wanita itu menatap tajam doktor menunggu jawaban.
"Kondisi putra ibu cukup memprihatinkan, darah yang keluar dari tubuhnya sangatlah banyak, karena itu secepatnya kita membutuhkan pendonor."
Kaki Sovia seakan melemas, mendengar pernyataan sang Doktor, Lemah?? memprihatinkan??putranya tidak mungkin lemah!!
"Kalau begitu ambil saja darah saya dok!"Suara Ve membuat Sovia dan dokter menatap gadis itu seketika.
"Golongan darah anda?"
"B."Ve menjawab pertanyaan doktor yang ditujukan padanya.
Doktor tinggi itu seketika menggeleng cepat. "Maaf kita membutuhkan pendonor yang memiliki golongan darah O, sama seperti pasien."
Ve menunduk lemas mendengar penolakan doktor itu, usahanya untuk menyumbangkan sedikit darahnyaa untukk Dava ternyata gagal.
Begitupun Sovia, ia terduduk lemas dikursi samping ruang ICU, ia ingin meandonorkan darahnya untuk Dava, tapi ia sadar golongan darahnya bukanlah O.
"Tante tenang yah, semuanya pasti baik-baik saja." Ve mencoba menenangkan Sovia, gadis itu terduduk disamping Sovia sambil mengelus lembut pundak wanita paruhbaya itu.
Sovia menaikkan wajahnya, menatap Ve tajam yang terdiam. "Hanya ada satu orang yang bisa menyelamatkan nyawa Dava!"
"Maksud Tante?"
"Dira, dia juga memiliki golongan darah O." Wanita itu menarik nafasnya pelan dan kembali menunduk.
"Kalau begitu kita bisa meminta Dira untuk menyumbangkan darahnya buat Dava."
"Itu tidak mungkin, Dira begitu membenci Dava, dan tante sadar Dira gak akan pernah mau melakukan itu."
"Tante percaya sama Ve, Ve akan membawa Dira kesini dan menyumbangkan darahnya untuk Dava."
***
Dira, pemuda itu terlihat terduduk dipojokan kantin, matanya menatap tajam seisi kantin, mencari sosok gadis yang masih membuat hatinya merasa digantungkan.
Istirahat pertama tela tiba, Evan memilih untuk menghabiskan waktu senggangnya diruang perpustakaan, sementara Dira terlihat duduk sendiri dalam kantin yang mulai ramai itu.
pemuda itu beralih, menatap kotak makan yang ia temukan tergeletak diatas meja ruang UKS. kotak makan yang rencananya Ve persiapkan untuk Dira.
Ia tersenyum, membuka kotak itu perlahan, nasi kuning tampak indah menghiasi isi kotak persegi itu.
"Dira!"
Suara seseorang yang sedari tadi ditunggunya akhirnya menggema juga.
Ia menatap penuh semangat pada Ve yang berdiri disampingnya.
"Gue mau bicara sesuatu sama Lo!" gadis itu menggeser sedikit kursi didepan Dira dan terduduk.
"Lo mau jadi pacar gue!" Pemuda itu menebak sambil menutup kembali kotak makan yang belum dilahapnya.
Dengan cepat gadis itu menggeleng, "Gue gakk punya waktu untuk bicarain itu sekarang, ada yang lebih penting dari itu Dir!"
"Apa?" Dira mengernitkan keningnya, sebenarnya ia bisa menebak, hal apa yang akan dibicarakan gadis didepannya ini, wajah khawatir itu, pasti tentang Dava. "Dava kenapa?" Akhirnya, pertanyaan yang sebenarnya sulit untuk ia lontarkan, tersampaikan juga.
Ve menarik nafasnya perlahan, sebelum gadis itu benar-benar menjawab pertanyaan Dira. "Dava membutuhkan pendonor."
"Lalu apa hubungannya dengan gue?" Dira menatap kekiri saat mendapati Evan yang baru tiba menghampiri keduanya. Sahabatnya itu terlihat duduk disampingnya.
"Golongan darah Dava itu O, itu bearti dia hanya bisa menerima darah dari seseorang dengan golongan darah yang sama." Ve mencoba menjelaskan.
Dira mencoba menerka perkataan Ve barusan, sementara Evan yang memang memiliki otak cerdas, menangkap lebih cepat perkataan Ve tadi. "Dan Dava butuh daraah Dira yang bergolongan O."
Ve mengangguk cepat membenarkan pernuturan Evan, berganti gadis itu menatap Dira yang tersenyum sinis. "Please!" mohon Gadis itu pelan.
Dira tertawa kecil. "Lo minta gue donorin darah gue buat Dava, itu artinya sama ajah lo mau gue mati," pemuda itu meraih gelas didepannya dengan senyuman sinisnya. "Gak sekalian lo minta gue bunuh diri, setelah itu mereka bisa ngambil darah gue!" Ia meneguk cepat minuman ditangannya.
Ve menatap iba Dira, jujur, sebenarnya gadis itu tak mampu menatap Pemuda yang dicintainya ini terluka, ia tau dengan dirinya meminta Dira untuk berkorban demi Dava, itu sama dengan, Dirinya melukai perasaan Dira.
Tapi Dava adalah sahabatnya, satu-satunya teman yang bisa menerimanya apa adanya, walaupun ia hanyalah seorang anak pemilik kantin, tapi Dava tak pernah mempermasalahkan itu. Bagaimana bisa, ia kehilangan cowok sebaik Dava??
Evan menatap Dira iba, perasaan yang dirasakan Vepun sebenarnya dirasakan pula oleh Evan, ia tau Dira akan terluka hatinya, jika seseorang memohon pada sahabatnya untuk berkorban demi Dava, seseorang yang sangat dibencinya. "Gue tau Dia kakak tiri lo Dir, Tapi dia butuh darah lo untuk tetap bertahan hidup." Evan mencoba menenangkan. "Donorin darah lo untuk seseorang, gak akan bikin lo meninggal, justru itu akan buat tubuh dan jiwa lo semakin kuat."
Dira mengehntikan minumnya, menaruh kembali gelas kaca itu pada tempat semula. "Gak semudah itu Van,"
"Gue mohon Dir, apapun akan gue lakuin, asalkan lo mau donorin darah lo buat Dava." lagi-lagi gadis itu memohon, kali ini dengan wajah penuh kecemasan.
Dira menggeleng cepat. "Segitu pedulinya lo sama dia Ve." Dira menatap tajam kedua mata Ve yang mulai berkaca-kaca, gadis itu mengangguk pelan, Dira kembali bicara. "Kenapa waktu lo tau tentang penyakit jantung gue, dan gue juga butuh pendonor, lo gak pernah secemas ini, apa dia yang sebenarnya lo cintai?"
Gadis itu terdiam mendengar pertanyaan Dira, ia menunduk, tak mampu menatap tatapan tajam itu yang terus menyerangnya. "Gue.." ia tak mampu berkata, airmatanya seketika terjatuh membasahi pipi putihnya.
"Seandainya lo dikasih satu kesempatan untuk memilih, Antara Dava yang butuh Darah gue, dan gue yang butuh jantung Dava, mana yang bakal lo pilih?" Dira masih menatap Ve tajam yang menunduk.
Ve menggeleng cepat. "Gue gak tau!"
"Jawab gue Ve!" Pemuda itu berdiri dan menghampiri gadis itu yang masih menunduk dan menangis.
Ia kemudian berlutut tepat didepan gadis itu yang terduduk, diraihnya pelana adagu Ve hingga mata keduanya saling bertatapan. "Lo bakal milih Dava dan memohon sama gue untuk donorin darah gue seperti sekarang, benerkan?"
Ve masih terdiam tanpa suara hanya suara isakan tangisnya yang mampu ia keluarkan.
"Dira!" Evan berseru, ia tak sanggup menatap sahabatnya terluka seperti sekarang.
"Kalau emang itu mau lo, gue bersedia donorin darah gue buat Dia."
Mata Ve dan Evan terbelak tak percaya, benarkah Dira berniat mendonorkan darahnya untuk Dava, kakak tirinya.
"Lo serius Dir?" Mata gadis itu seketika terlihat bersinar dan bercahaya saat menatap Dira yang mengangguk pelan. "Terimakasih, tante Sovia pasti senang dengar ini." tak disangka, gadis itupun seketika memeluk erat tubuh Dira. Pemuda itu yang masih dalam posisi berlutut itupun hanya mampu terdiam, merasakan pelukan ve yang bergitu erat menyerangnya.
"Tunggu dulu!" Dira melepas pelukan itu perlahan, Ve menatap tajam Dira yang berdiri. Pemudaa itupun kembali bicara. "Gue emang mau nyumbangin darah gue buat Dava, tapi dengan satu syarat!" ia menatap Ve yang menampakkan espresi bingung, kemudian pemuda itupun tersenyum evil.
"Apa Saratnya?"
Dira mendekat, membungkukkan badannya mendekat pada Ve yang masih terduduk, gadis itu memundurkan wajahnya saat wajah Dira mendekat pada wajah ovalnya, kembali senyuman evil Dira dilihatnya.
"Lo harus jadi pacar gue!"
UHUK!UHUK..UHUK!!
Dira dan Ve seketika menatap Evan cepat yang tersendak.
"Sorry, keselek!" Evan tersenyum kecil pada kedua remaja itu.
Dira mengernitkan keningnya sambil mengembalikan ppsisi berdirinya, menatap bingung Evan yang tiba-tiba tersendak, sementara sahabatnya itu tidakla sedang makan atau minum. "Aneh!"
"Lo becanda kan!" Ve berdiri menatap tajam Dira yang berdiri tepat didepannya.
"Gue serius!" Dira menyakinkan. "yah kalau lo gak mau, Gue juga gak akan mau nyumbangin darah gue buat Dava, Gimana??" ia menaikkan sebelah alisnya menandang.
Ve terdiam, memikirkan jawaban apa yang harus dijawabnya sekarang.
"Udah terima aja Ve, Dira gak terlalu buruk kok!" celetuk Evan dengan tawa jahilnya.
Dira menatapnya geram, dan berganti ia menatap Ve tajam yang masih terdiam. "Gimana?, semua ada ditangan lo, Gdis cinderella!" Dira mengacak-acak rambut Ve gemas.
Tak ada jawaban lain, selain sebuah anggukan yang dapat dijawab oleh gadis manis itu. Demi Dava sang sahabat, takk ada salahnya ia berkorban, kencan dengan cowok idiot ini!"
"Nah gitu dong, seharusnya lo beruntung bisa kencan sama gue." Dira mencubit pelan pipi Ve yang seketika memerah, entah karena kesal atau marah. "Kitakan serasi, iya nggak Van?" Dira melirik Evan yang mengangkat jempolnya cepat. Pemuda itupun segera merangkul lengan Ve tapi sayang gadis itu segera menepisnya.
"Sangat serasi!"
***
Cowok tinggi itu melangkahkan kakinya menyusuri kolidor rumah sakit. Kedua tanganya ia biarkan menari-nari disela-sela saku celana abu-abunya. Wajahnya terlihat sedikit grogi atau ketakutan, menarik nafasnya pelan berulang kali dan membuangnya. Merapikan sedikit baju seragamya dan kembali fokus menatap sekeliling mencari kamar pasien yang dituju.
Langkahnya terhenti ketika mendapati sepasang suami istri terduduk lemas didepan kamar yang dicarinya, sepasang suami istri yang tak lain adalah ayahnya dan bunda Dava.
Ia berdiri dibalik tembok, menghentikan langkahnya sejenak, mencoba mendengarkan berbincangan kedua orangtuanya itu.
"Mama takut Pa!" Sovia menangis, wajahnya begitu takut kehilangan anak semata wayangnya itu. Dengan setia sang suami mencoba menenangkan.
"Mama gak perlu khawatir, percaya pasti semuanya akan baik-baik saja."
Tak beberapa lama, tiba Dokter dengan beberapa suster turut dibelakangnya, siter-suster itu masuk ruangan ICU terlebih dahulu, sementara sang doktor mencoba berbincang sedikit dengan kedua orangtua pasien.
"Kalian tak usah khawatir," doktor itu menatap sepasang suami-istri itu bergantian yang telah berdiri didepannya. "Kita baru saja menemukan pendonor untuk pasien."
"Benerkah Dok?" Sovia menatap doktor bernama David itu yang mengangguk.
"Siapa orang itu?"
Pertanyaan yang diajukan Frans, membuat dokter muda itu tersenyum kecil.
"Maaf, pendonor meminta saya untuk tidak memberitahukan indentitasnya, jadi saya tidak dapat memberitahu anda, tentang Dia." Jelas David sambil menatap arlogi pada pergelangan tangannya. "Sudahh waktunya saya melakukann oprasi."
"Doktor, Tolong selamatkan putra saya!" Permohonan Sovia membuat David mengangguk pelan.
"Saya akan berusaha, tapi Tuhan yang menentukan!" Davidpun berlalu memasuki ruangan, seketika lampu merah yang terletak diatas pintu itupun menyala, menandakan operasi segera dimulai.
Frans menuntun Sovia terduduk, dirangkulnya erat lengan sang istri yang masih terlihat khawatir.
Sovia menatap Frans pelan. "Siapapun mendonor itu, mama akan selalu mendoakan yang terbaik untuk dia."
Dira yang masih berdiri tak jauh dari keduanya, tersenyum tipis saat mendengar penuturan Sovia. Pemuda itu tak pernah menyangka, ia rela melakukan semua itu hanya karena seorang gadis yang memohon padanya.
Ia menatap pergelangan tangannya yang berbaut perban, baru beberapa menit yang lalu doktor mengambil darah pemuda itu, seharusnya saat ini ia beristirahat dan berbaring, tapi ia lebih memilih untuk melihat reaksi ayah dan bunda tirinya saat menerima kabar bahwa Dava akan segera terselamatkan.
Tubuhnya memang terasa sakit, kepalanyapun terasa sangat ngilu dan pusing, tapi ia adalah pemuda yang kuat, ia tak mungkin lemah hanya karena menyumbangkan darahnya pada Dava.
Dan Dira memang sengaja meminta doktor David untuk merahasiakan identitasnya, karena ia tak ingin Dava dan bundanya meresa hutang budi padanya, dan dengan merekaa atau yang sebenarnya, Dira yakin keduanya akan makin menyayanginya. dan pemuda itu tak ingin itu terjadi.
"Dira!" Sapaan lembut Ve membuat pemuda itu menengok kekiri sekilas, ia kembali fokus pada sang ayah dan bunda tirinya.
Ve mendekat. "Kenapa lo ada disini, bukannya lo harus istirahat? kita kembali keruangan lo sekarang!" Gadis itu berusaha menuntun Dira, tapi selangkahpun kaki Dira tak bergerak.
"Dira!" ia menatap kemana tatapan pemuda itu mengarah.
"Mereka begitu khawatir akan keadaan Dava," pemuda itu tersenyum perih. "Selama ini gue selalu bolak-balik untuk chek-up, gue sering pingsan tiba-tiba saat telat minum obat,, guepun udah ribuan kali masuk ruang ICU," Pemuda itu menghentikan perkataannya sekilas, menatap pelan Ve yang seketika menatapnya penuh iba. "Tapi mereka gak pernah sekhawatir itu sama gue."
Ve menepuk pelan pundak Dira, mendengarkan pemuda itu yang masih bicara. "Tapi Dava, ini kali pertama dia masukk ruang ICU, dan mereka udah khawatir berat seperti itu, gimana kalau Dava yang terkena peyakit jantung, mungkin gue bakalan dibuang atau mungkin dibunuh biar cepat-cepat musnah!"
"Dira, lo gak boleh bicara seperti itu. Mereka pasti sangat khawatir sama lo, selayaknya Dava, lo gak boleh negative thinkin' Dira!" Ve mencoba menenangkan. dituntunnya kembali Dira yang menatapnya pelan. "Sekarang kita keruangan, kamu butuh istirahat!"
"Gak usah, gue bukan cowok lemah!" Tolak Dira pada Vega yang menatapnya geram. "Gimana kalau kita makan ice krim ajah? kebetulan gue haus."
"Makan ice krim, dalam keadaan lo seperti ini?"
Dira mengangguk cepat, "Yeps! Ayo cepetan!!" Cowok itupun menuntun Ve berlalu.
Ve menepisnya cepat. "Cowok idiot!" Gadis itu berhenti dengan tatapan sangarnya pada sosok pemuda didepannya.
"Lo nolak, gue gendong!" Dira mendekat pada Ve sambil menampakkan senyum jahilnya. "Kalau gue beneran gendong lo, jangan nyesel kalau akhirnya gue nyasar malah bawa lo ketempat sepi, buat..."
"Dira!" Ve memukul lengan Dira kesal sebelum pemuda itu benar-benar melanjutkan perkataannya.
"So??"
"Ya udah, kita makan ice krim." Jawaban terpaksa Ve mampu membuat pemuda itu tersenyum lepas.
entah kenapa saat disamping gadis cantik ini, seketika semuaa resah, gundah dan masalah pada diri pemuda itu seaka lenyap dan berganti bahagia.
Mungkin memang Ve-lah yang diciptakan Tuhan, untuk membuat pemuda itu merasa nyaman.
Keduanya terlihat mengintari koridor rumahsakit, menjauh dari ruang ICU tempat dimana Dava sedang melakukan operasi.
"Ve!" Dira bersuara pelan dengan nada manjanya.
Ve yang berjalan disamping Dira menatap pemuda itu enggan. "Apa?"
"Gendong!!" Dira kembali menyuarakan suara manjanya sambil mernaagkul lengan Ve mesrah.
Gadis itu menepisnya cepat. "Idiot!"
"Gue kan lagi sakit Ve."
"Siapa suruh jalan-jalan!"
"Guekan haus."
"Minum airputih kan bisa."
"Ve.." Dira menghentikan langkahnya, membuat Ve terpaksa ikut menghentikan langkahnya juga.
Pemuda tinggi itu tersenyum dan berjalan mendekati punggung Ve, dengan cepat Dira mengelantungkan tubuhnya pada punggung Ve yang tampak kewalahan menahannya. "Gendong!"
"Berat Dira, cowok idiot!" Ve menjauhkan Dira dari punggungnya, berganti memukul lengan pemuda itu kencang. "Idiot!"
Dira hanya tersenyum kecil menatap wajah kesal Ve, memang itu yang ia sukai dari gadis ini, wajah saat ve cemberut dan kesal. "Ya udah kalau gitu biar gue yang gendong lo!" Dengan sigap dan tanpa memperdulikan jawaban ve, pemuda itupun langsung meraih tubuhh langsing itu dan menggendongnya.
"Dira, lepasin gue, cowok idiot!" Gadis itu terus mengelak, tapi pemuda itu takk peduli.
Dira setia menggendong Ve dengan kedua lengannya, berjalan melewati taman rumahsakit yang mulai sepi. "Diam, atau gue bener-bener bakal bawa lo ketempat sepi!" Ancaman Dira mampu membuat ve takut dan terdiam.
ia tersenyum tipis saat kepala gadis itu menyender pada dada bidangnya dan kedua tangan Ve bergelantung dibelakang lehernya. "Gini lebih enak, gak berat gue!"
CONTINUE ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar