Facebook Badge

Senin, 01 Juli 2013

"Ketika Dira, Jatuh Cinta!" #PART8

“TARA!”

Evan menatap heran meja tamu rumahnya yang seketika penuh dengan makanan pemberian Dira.
Dira yang masih mengenakan seragam sekolah terduduk santai disalah satu kursi dengan kaki kanan yang ia lipat diatas kaki kiri.

“Mertabak telor, mertabak manis, sate ayam, ama sate kambing.”
Dira mengapsen makanan didepannya.

Evan mengernitkan keningnya bingung, “Apaan nih, sogokan?” cowok itu terduduk disamping Dira yang tersenyum. Diraihnya  satu potong martabak manis dan dilahapnya cepat.

“Bukanlah, ini itu sebagai ucapan selamat karena lo baru diterima kerja.” Dira meraih satu tusukan sate ayam dan menggigitnya pelan.

Evan menatap penampilan Dira yang masih setia mengenakan seragam sekolahnya, “Lo belum pulang?”

Dira mengangguk cepat sambil asik menikmati sate ditangannya, “Bentaran, dari sini gue langsung balik.” Cowok itu menaruk tusuk sate yang telah abis disantapna dan meraihnya satu lagi.

Evan hanya menggeleng menatap kelakuan sahabatnya itu, ia paling tau, ketidaksukaan Dira berada dirumah mewah itu karena kehadiran ibu tirinya dan juga Dava.

“Suasana rumah gue gak seindah dulu,Van.” Itu yang selalu dikatakan Dira tentang suasana rumahnya yang sekarang. Dan Evan menyadari itu.

“Kak Dila!!” Evi, adik Evan yang baru tiba langsung terduduk disamping Dira, “Pacal kak Dila sekalang siapa nih?”

Dira tersenyum gemas sambil mencubit gemas pipi gadis sepuluh tahun itu. “Kan Kamu, Pacar kak Dila sekalang. Kak Dila kesinikan mau ngedate sama Evi.” Dira sengaja menyadelkan suaranya.

Evan menarik Evi jauh-jauh dari sang playboy, “Masuk sana, kecil-kecil juga.” Evan mendorong tubuh Evi memasuki rumah.

Evi cemberut kesal menatap perlakuan sang kakak. “Kakak nyebelin, Evi kan mau maen sama Kak Dila.” Evi tersenyum manja sambil memeluk tubuh Dira yang terdiam. “Evi sayang kakak.”

Dira menatap Evan sambil memberikan senyum mengejek.. “Kakak kamu marah tuh!” Dira yang masih terduduk melepas pelukan Evi pelan, lalu menunjuk Evan yang menatap keduanya tajam.

“Bialin!” Evi menyulurkan lidahnya kearah Evan yang menatapnya geram. “Kak Evan menyebelin, kalau kak Dilakan olangnya baik.”


Dira berdiri, kemudian mengacak gemas poni gadis imut itu. “Kamu lucu banget sih!, cepet gede yah, nanti kak Dira pacarin!” Dira menaikkan sebelaah alisnya genit.

“EHEM!” Evan kembali menarik sang adik menjauh dari Dira. “Dia masih kecil, lo lebih pantes jadi Omnya.” Evan melirik Dira yang masih menampakkan senyum manisnya.

“Gak apa-apalah, Iya kan Vi?” Dira mengerdipkan sebelah matanya pada Evi yang mengangguk cepat.

“Masuk sana, belajar sono!” Evan mendorong tubuh sang adik memasuki rumah sederhana itu.

Evi menatap Dira sejenak, “Kak Dila, Evi belajar dulu yah, nanti kita lanjut lagi, disini ada kakek sihil!” Evi melirik Evan yang menatapnya geram.
Sementara Dira hanya mampu tertawa pelan menyaksikan sikap kakak-beradik itu.

“Lucu.” Dira menatap tubuh Evi yang memasuki rumah dengan pandangan kagum.

Pletak!
Evan menjitak kepala Dira kesal. “Dia adik  gue, Lemper!”

Dira tersenyum tipis. “Biar besanan kita.”

“Ogah gue, besanan sama lo. Playboy!” Evan kembali duduk dan kembali asik menikmati martabak manis kesukaannya.

Dira hanya mengangguk pelan dan terduduk disamping Evan. “Gue jadi pingin punya adik.”

“Lo kan punya kakak.”

“Kakak tiri.” Dira menarik nafasnya panjang.

“Iya sih, tapi lo bisa anggap dia selayaknya kakak kandung lo.” Evan menatap Dira yang terdiam. “Dia pantas kok jadi kakak lo, kalau bisa gue bilang, justru Davalah yang lebih ngerti akan keadaan lo ketimbang ayah lo sendiri.”

Dira tersenyum kecil. Yah! Memang, jika diingat, Davalah yang sepenuhnya mengerti dan pebuli terhadap dirinya, ketimbang sang ayah yang sibuk dengan bisnis. Tapi tetap saja, bagi Dira, Dava hanyalah orang asing.

“Dir, buka hati lo, lo gak akan menemukan kebahagiaan, kalau lo sendiri yang nutup hati lo dari kata bahagia.” Evan mencoba menerangkan. “Bahagia itu simple, cukup nikmati hidup lo sekarang, seburuk apapun itu, pasti ada celah kecil untuk buat lo tersenyum merasakan keindahannya.”

Dira tertawa kencang mendengar perkataan bijak Evan barusan. “Lo ngomong apaan Van!” cowok itu menggelengkan kepalanya cepat. “Lucu lo.”

“Gue serius!” Evan menempeleng kepala Dira kesal. “Dinasehatin juga malah ketawa, sopan lo!”

“Sorry,sorry, tapi makasih yah.” Dira menepuk lengan Evan kesal. “Lo ajah deh yang jadi kakak tiri gue, rela deh!”

“Ogah gue punya adik model lo!”

“Anjritt!!!”


***
"Darimana kamu!"

Dira menghentikan langkahnya saat suara kasar itu menggema dipendengarannya.

Ia berbalik, menatap sang ayah yang berdiri disamping ruang kerjanya.

"Rumah Evan."

Jawabnya pelan.

"Sini kamu!"

Pria bertubuh tegap itu menatap Dira geram yang mencoba mendekat.

Dira terhenti tepat didepan sang ayah.

Wajahnya menunduk, tak berani menatap pandangan penuh amarah itu.

"Ayah dapat laporan dari pengacara kamu, kalau kamu kembali menarik uang tabungan kamu!" Frans menatap tajam sang anak yg masih menunduk.

"TATAP AYAH!"


Bentakkan keras itu mampu membuat Dira menaikkan wajahnya takut.

Mungkin saja sang ayah akan memukulnya sebentar lagi.


"Benar begitu, Divari Fivandra Redrigo!"


Benar saja, sang ayah tak akan menyebutkan nama panjangnya seperti ini, jika sang ayah tak benar-benar marah.


"JAWAB!"

Frans mulai menaikkan dagu Dira yg kembali menunduk.


Perlahan, Dira mengangguk, "Cuma sepuluh juta."

Ia menutup matanya pasrah, setelah mengucapkan jumlah uang yg baru saja ia tarik dari tabungan milik, pasrah saat sang ayah meremas dagunya keras.


"Apa? cuma?"

Frans menjauhkan tangannya dari Dagu sang anak, "Kamu tau berapa lama Ayah harus bekerja untuk menghasilkan semua uang yg ayah simpan dalam tabungan kamu?"


"Nanti Dira Ganti."

Jawaban enteng Dira membuat amarah sang Ayah meninggi.


Frans menaikkan sebelah tangannya hendak menampar Dira, "KAMU!"


Dira menutup matanya, kakinya tiba-tiba bergetar, jemari tangannyapun seketika berkeringat.


Ia membuka mata ketika suara seseorang menyelamatkannya dari tamparan sang ayah.


"Frans! Semua bisa dibicarakan baik-baik." Suara lembut itu membuat Dira tersenyum sinis.


"Basi!"


"DIVARIO!"


Sebelum sang ayah benar-benar memukulnya, Dira melangkahkan kakinya menjauh.

Bentakan sang ayahpun tak didengarnya.


"Kembali, atau Ayah benar-benar akan menghukummu!"

***
Dira terdiam, menatap selembar potret ditangannya.

Wajah wanita cantik dengan bayi mungil dalam dekapannya.


Dira tersenyum tipis saat mendapati senyum wanita itu yang terukir indah.

Satu kerinduanpun terpancar dari tatapan mata cowok tampan itu.


"Bunda!"

Suaranya terdengar bergetar saat menyebutkan kata itu.

Kata yang tampak asing dalam hidupnya.


Didekapnya foto itu dalam dadanya, terasa nyaman, seolah-olah sang bunda nyata memeluknya.

"Dira rindu bunda,"

Ia menutup matanya, mencoba mengingat senyum terakhir sang bunda untuknya.

"Bawa Dira pergi, biarkan Dira ikut Bunda, Dira menderita disini."

Ia mencoba mencurahkan segala isi hatinya pada selembar foto itu.

Ia berharap angin ataupun bintang, bersedia menyampaikan rindunya pada sang bunda yang jauh disana.


"Selamanya, wanita itu gak akan pernah bisa menggantikan bunda dihati Dira!"
Semakin erat ia mendekap bingkai poto itu.

TOK—TOK
“Boleh gue masuk?”
Suara Dava dari balik pintu membuat Dira menatapnya tajam.

“Kalaupun gue bilang kagak boleh, lo tetap masuk kan!” Dira menaruh kembali poto itu pada meja belajarnya.

Dava tersenyum, dan menghampiri sang adik. “Lo udah minum obat?”

Pertanyaan Dava padanya membuat Dira terdiam bersamaan dengan senyum tipisnya. “Seharusnya yang nanya itu ayah bukan lo.” Cowok itu berjalan menuju jendela kamarnya dan menatap pemandangan luar. Hawa dingin bekas hujan masih ia rasakan jelas.

“Dira..” Dava mendekat dan mencoba mengelus pundak sang adik, tapi dengan cepat Dira menepisnya.

“Pergi Dav, sebelum gue makin benci sama lo!” Pandangannya masih menatap kedepan, enggan menatap Dava yang menunduk.

“Apa lagi yang bisa gue lakuin Dir, agar lo bisa nerima kehadiran gue disini?” Hati kecil Dava berkata.
Ia melangkah pelan menjauhi Dira yang masih menatap keluar jendela kamar.




***
“Aduh, anting gue dimana yah?”
Ve terlihat sibuk mencari anting pemberian sang ayahnya yang sempat hilang kemarin.
Saat ini, gadis itu berada diruang perpustakaan, ia yakin antingnya terjatuh disini.
Sedari subuh gadis itu menggeladah seisi ruangan sekolah bertingkat itu, tapi tetap asaja ia tak menemukannya, dan perpustakaan inilah harapan terakhir gadis pemberani itu.

“Pasti disini! Tapi kenapa gak ada?” wajahnya terlihat sedih saat tak jua ia mendapati apa yang dicarinya.

Seketika ia teringat peristiwa kemarin malam dengan Dira, saat Ve memeluk pemuda itu tak sengaja.. “Astaga, jangan-jangan anting gue nyangkut  diseragamnya Dira lagi?” Ve mendengus pelan, terduduk disalah satu kursi panjang perpustakaan.

Bayangan tentang Dira kembali diingatnya.. saat mereka berdansa, ataupunn saat pemuda itu mencium pipinya dalam kegepalan.
Wajah gadsi itu seketika memerah karena malu.. “Gimana bisa, ggue kegeeran gini, dia itukan Dira, cowok super nyebelin plus idiot.”

“Hmm, kembali gue denger nama Dira dari mulut lo.”

Suara Dava mengejutkan gadis itu.
Ve tersenyum sambil memukul lengan Dava yang terduduk disampingnya. “Dava ah!”

“Dira!” cowok itu kembali menggodanya.

Ve menunduk malu.

“Lo suka Dira?” Dava menatap Ve yang seketika menggeleng cepat.

“Tidak.”

“Terus, kenapa namanya selalu lo sebut?” Dava membuka tasnya dan menaruhnya dalam pangkuan.

“Gue lagi kesel sama dia.” Jawab Ve asal. “Gue lagi sedihh Dav!” Gadis itu mulai menampakkan wajah sedihnya.

Dava menatapnya tajam. “Ada apa? Cerita sama gue?”

“Gue kehilangan sesuatu yang sangat berharga Dav.”

“Apa? Dira?” Dava tersenyum  saat mendapati wajah Ve yang menatapnya geram.

“Apaan sih, serius juga.”

“Iya maaf, lo kehilangan apa? Mungkin gue bisa bantu cari?”

Ve berdiri membelakangi dava yang amsih terduduk. “Anting pemberian ayah aku.”

Pemuda itu ikut berdiri disamping Ve. “Bentuknya seperti apa?”

“Ada bintang kecil sebagai penghiasnya.”

Jawaban Ve membuat Dava mengangguk mengerti. Cowok itupun seketika mengelus punggung Ve pelan. “Nanti gue bantu cari.”



***
“Apaan? Lo jatuh cinta sama gadis yang lo temui waktu mati lampu?” Evan berjalan disamping Dira mengi ntari koridor pagi itu.

Dira mengangguk pelan sembari menikmati permen karet dimulutnya.

“Gila lo!” Evan menggeleng, mendengar cerita yang baru saja diceritakan Dira padanya tentang gadis cinderella.
“Gue tau cinta itu buta, tapi gak gini juga kali Dir.” Lanjutnya.

Keduanya memilih terhenti didepan kelas, menyaksikan beberapa murid berlalu lalang dihadapan keduanya.

“Lo tau wajahnya seperti apa?”Evan menatap Dira yang menggeleng.

“Mati lampu Van, samar-samar gue lihatnya.” Dira tersenyum manis menatp beberapa siswi yang tersenyum kearahnya. Kemudian ia beralih menatap Evan yang setia disampingnya.
“Tapi gue yakin, dia itu cantik, putih, tinggi dan baik.”

Evan menghela nafas panjang menatap wajah Dira yang sedang membayangkan sosok gadis cinderella impiannya itu. “Siapa tau dia gendut, giginya hitam, mata juling, perutnya buncit terus galak!”

Perkataan Evan membuat bayangan Dira akan sesosok mahluk cantik seketika hilang berganti menjadi mahluk super jelek.
“IYYUH!” Dira menggelengkan kepalanya cepat. “Jangan sampai Van!”

Evan tertawa pelan menatap wajah jijik Dira. “Makanya jadi orang jangan mudah jatuh cinta.” Cowok itu menyender pada dinding. “terus sekarang gimana lo tau, kalau cewek itu gadis cinderella lo? Bukannya lo gak tau wajahnya seperti apa?”

Dira mengangguk sambil ikut menyender disamping sang sahabat. “Tapi gue punya ini.” Cowok itu segera meraih anting dari saku seragamnya.

Kening Evan mengerut. “anting?”

“Yep, gue yakin anting ini punya cinderella yang Tuhan ciptain buat kejagain gue.” Dira menatap tajam anting bintang ditangannya. “Dan anting inilah yang akan mempersatukan gue sama dia.” Dira mengunyah permen karet dimulutnya sumringah.

“Jadi bakal ada kisah cinderella nih?” Evan membenarkan posisi berdirinya hingga tak lagi menyender, menggelengkan kepalanya saat menatap Dira yang tersenyum.


“DIRA!!”

Dira memasukkan anting itu kembali pada saku seragamnya, saat suara cempreng Niky didengarnya.

Gadis cantik itu mendekat pada Dira yang masih menyender pada dinding. “Lo ingatkan janji lo kemarin?” Niky segera meraih lengan Dira dan merangkulnya.

Dira menepisnya cepat. “Janji apa?” Cowok itu tak lagi menyender, menatap Niky yang berdiri disampingnya.

“Deketin gue sama Dava.” Gadis itu memainkan ujung rambutnya genit, tersenyum manja pada Dira yang menatapnya tajam. Begitupun dengan Evan yang tak berkedip menatap gadis tinggi itu.

“oh!” Dira mengaruk tengkuknya. Matanya menatap sekeliling mencari-cari seseorang.
Pemuda itu seketika melambaikan tangannya pada Dava yang tak lagi bbbersama Vega.
“Deavan!” Teriak Dira Kencang sambil mengisyaratka Dava untuk menemuinya.

Dava menatap Dira tajam dan berjalan mendekati ketiganya. Dira,Evan,Dan Niky yang berdiri berdampingan.

Niky tersenyum manis saat Dava tiba didepan mereka.

“Ada apa?” Dava menatap Dira yang tak menjaawab.

Dira langsung menarik lengan Niky dan mendekatkan gadis itu hingga berdiri disamping Dava. “Nih, udah gue deketin.” Dira melepas pegangan tangannya dan menatap Niky yang menampakkan wajah gembiranya.

“Van, kantin Yuk!” Dira beralih menaik tangan Evan yang masih terdiam.

Kening Dav mengerut sambil menatap Dira yang menjauh bersama Evan. “Dia kenapa?”” pemuda itu seketika menatap Niky yang kembali menggulung rambut bawahnya centil.

“Gak tau.” Dusta Niky sambil tersenyum manja pada Dava yang membalasnya pelan.
“Gimana kalau kita ke kantin?” Ajakan niky membuat Dava menggeleng.

“Gak perlu, gue udah kenyang, kebetulan gue masih ada urusan sama bagian akutansi.” penjelasan Dava membuat Niky menunduk kecewa.

“Gimana kalau diganti waktu istirahat.”

Niky menaikkan wajahnya dan menatap gembira kearah Dava yang tersenyum. “Serius?”

Cowok itu mengangguk cepat. “Istirahat gue tunggu dikantin.” Dava pun berlalu setelah kata itu ia ucapkan.

Senyumnya mengembang saat ia berbalik menyaksikan tingah lucu Niky yang berjingkrak senang akan ajakannya.


Niky menutup wajahnya malu, saat memergoki Dava menatapnya. Gadis itupun berjalan cepat berlalu dari Dava yang menggelengkan kepalanya tak mengerti.


***
“Vega!” Dira yang baru terduduk dikursi kantin melambaikan tangannya pada Ve yang sibuk melayani beberapa murid memesan makanan.

“Apa ada?” Ve berdiri disamping Dira dan Evan.

Evan membuka menu didepannya, memulai mencari makanan yang akan dipesannya pagi ini. “Gue mau bihun goreng sama es teh manis yang dingin.” Pemuda itu menutup buku menu dan menaruhnya kembali diatas meja.

Ve mengangguk sambil menuliskan pesanan Evan, “Kalau lo, cowok idiot!”.

Dira menatap Ve geram saat pertanyaan nyelekit itu menggema untuknya. Pemuda itu mencoba tersenyum tenang. “Gak perlu, terimakasih.” Cowok itupun menjatuhkan kepalanya menyender pada meja kantin.

Ve tersenyum sinis. “Baguslah, jadi gue gak perlu susah-susah beli racun tikus buat lo.”

Dira kembali menaikkan wajahnya saat kalimat tak menyenangkan itu terlontar dari bibir Ve. “Lo jangan cari gara-gara, gue lagi males kena hukuman.”

“Peduli, cowok idiot!” Ve menarikk tangan Dira hingga pemuda itu berdiri. “lebih baik lo pergi, kalau emang Cuma mau numpang duduk!”

Dira mulai memainkan lidahnya, “Lo cari masalah!” Cowok itupun segaja kembali duduk membuat Ve manatapnya geram. “Tamu itu raja.”

“Sekarang lo pesan atau lo gue seret kkeluar!” Ancaman Ve membuat Dira menatap Evan yang tersenyum tipis menatap keduanya.

“Dia ngancem gue Van,” pemuda itu beralih menatap Ve. “Lo pikir gue takut!”

Ve mendengus pelan, mengatur nafasnya sejenak. “Dira.”

Pemuda itu acuh, meraih android dari saku seragamnya dan mulai fokus memutak-atik android ditangannya.

Evan terdiam, memicingkan matanya saat menatap telinga kiri Ve yang mengenakan anting yang sama persis dengan anting yang Dira tunjukan padanya beberapa menit yang lalu, pemuda itupun beralih menatap telinga kanan Ve yang ternyata tak menganakan anting.

Satu pemikiranpun terlintas dibenak cowok pintar itu. “Jangan-jangan, Gadis cinderella Dira itu adalah Ve?”

“Ya udah gue ngalah.” Dira menatap Ve yang masih berdiri disampingnya. “Gue mesan Bubur ayam.”

Gadis itu tersenyum puas. “Bagus deh, mau yang spesial atau yang biasa?”

Dira mengerutkan keningnya. “Emang ada yang special?”

Ve mengangguk cepat. “Pastinya, dicampur racun tikus.” Ve tersenyum lebar saat mendapati wajah tak suka Dira.

Sementara Evan mencoba tertawa tanpa suara. “Berani juga nih cewek!”

“Gimana mau yang special?” Ve manatap sinis Dira yang menggeleng cepat.

“Gak perlu, terimakasih.”


CONTINUE ^^V

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Online Now Icons