“TARA!”
Evan menatap heran meja
tamu rumahnya yang seketika penuh dengan makanan pemberian Dira.
Dira yang masih mengenakan
seragam sekolah terduduk santai disalah satu kursi dengan kaki kanan yang ia
lipat diatas kaki kiri.
“Mertabak telor, mertabak
manis, sate ayam, ama sate kambing.”
Dira mengapsen makanan
didepannya.
Evan mengernitkan
keningnya bingung, “Apaan nih, sogokan?” cowok itu terduduk disamping Dira yang
tersenyum. Diraihnya satu potong
martabak manis dan dilahapnya cepat.
“Bukanlah, ini itu sebagai
ucapan selamat karena lo baru diterima kerja.” Dira meraih satu tusukan sate
ayam dan menggigitnya pelan.
Evan menatap penampilan
Dira yang masih setia mengenakan seragam sekolahnya, “Lo belum pulang?”
Dira mengangguk cepat sambil
asik menikmati sate ditangannya, “Bentaran, dari sini gue langsung balik.”
Cowok itu menaruk tusuk sate yang telah abis disantapna dan meraihnya satu
lagi.
Evan hanya menggeleng
menatap kelakuan sahabatnya itu, ia paling tau, ketidaksukaan Dira berada
dirumah mewah itu karena kehadiran ibu tirinya dan juga Dava.
“Suasana rumah gue gak
seindah dulu,Van.” Itu yang selalu dikatakan Dira tentang suasana rumahnya yang
sekarang. Dan Evan menyadari itu.
“Kak Dila!!” Evi, adik
Evan yang baru tiba langsung terduduk disamping Dira, “Pacal kak Dila sekalang
siapa nih?”
Dira tersenyum gemas
sambil mencubit gemas pipi gadis sepuluh tahun itu. “Kan Kamu, Pacar kak Dila
sekalang. Kak Dila kesinikan mau ngedate sama Evi.” Dira sengaja menyadelkan
suaranya.
Evan menarik Evi jauh-jauh
dari sang playboy, “Masuk sana, kecil-kecil juga.” Evan mendorong tubuh Evi
memasuki rumah.
Evi cemberut kesal menatap
perlakuan sang kakak. “Kakak nyebelin, Evi kan mau maen sama Kak Dila.” Evi
tersenyum manja sambil memeluk tubuh Dira yang terdiam. “Evi sayang kakak.”
Dira menatap Evan sambil
memberikan senyum mengejek.. “Kakak kamu marah tuh!” Dira yang masih terduduk
melepas pelukan Evi pelan, lalu menunjuk Evan yang menatap keduanya tajam.
“Bialin!” Evi menyulurkan
lidahnya kearah Evan yang menatapnya geram. “Kak Evan menyebelin, kalau kak
Dilakan olangnya baik.”
Dira berdiri, kemudian
mengacak gemas poni gadis imut itu. “Kamu lucu banget sih!, cepet gede yah,
nanti kak Dira pacarin!” Dira menaikkan sebelaah alisnya genit.
“EHEM!” Evan kembali
menarik sang adik menjauh dari Dira. “Dia masih kecil, lo lebih pantes jadi
Omnya.” Evan melirik Dira yang masih menampakkan senyum manisnya.
“Gak apa-apalah, Iya kan
Vi?” Dira mengerdipkan sebelah matanya pada Evi yang mengangguk cepat.
“Masuk sana, belajar sono!”
Evan mendorong tubuh sang adik memasuki rumah sederhana itu.
Evi menatap Dira sejenak,
“Kak Dila, Evi belajar dulu yah, nanti kita lanjut lagi, disini ada kakek
sihil!” Evi melirik Evan yang menatapnya geram.
Sementara Dira hanya mampu
tertawa pelan menyaksikan sikap kakak-beradik itu.
“Lucu.” Dira menatap tubuh
Evi yang memasuki rumah dengan pandangan kagum.
Pletak!
Evan menjitak kepala Dira
kesal. “Dia adik gue, Lemper!”
Dira tersenyum tipis.
“Biar besanan kita.”
“Ogah gue, besanan sama
lo. Playboy!” Evan kembali duduk dan kembali asik menikmati martabak manis
kesukaannya.
Dira hanya mengangguk
pelan dan terduduk disamping Evan. “Gue jadi pingin punya adik.”
“Lo kan punya kakak.”
“Kakak tiri.” Dira menarik
nafasnya panjang.
“Iya sih, tapi lo bisa
anggap dia selayaknya kakak kandung lo.” Evan menatap Dira yang terdiam. “Dia
pantas kok jadi kakak lo, kalau bisa gue bilang, justru Davalah yang lebih
ngerti akan keadaan lo ketimbang ayah lo sendiri.”
Dira tersenyum kecil. Yah!
Memang, jika diingat, Davalah yang sepenuhnya mengerti dan pebuli terhadap
dirinya, ketimbang sang ayah yang sibuk dengan bisnis. Tapi tetap saja, bagi
Dira, Dava hanyalah orang asing.
“Dir, buka hati lo, lo gak
akan menemukan kebahagiaan, kalau lo sendiri yang nutup hati lo dari kata
bahagia.” Evan mencoba menerangkan. “Bahagia itu simple, cukup nikmati hidup lo
sekarang, seburuk apapun itu, pasti ada celah kecil untuk buat lo tersenyum
merasakan keindahannya.”
Dira tertawa kencang
mendengar perkataan bijak Evan barusan. “Lo ngomong apaan Van!” cowok itu
menggelengkan kepalanya cepat. “Lucu lo.”
“Gue serius!” Evan
menempeleng kepala Dira kesal. “Dinasehatin juga malah ketawa, sopan lo!”
“Sorry,sorry, tapi makasih
yah.” Dira menepuk lengan Evan kesal. “Lo ajah deh yang jadi kakak tiri gue,
rela deh!”
“Ogah gue punya adik model
lo!”
“Anjritt!!!”
***
"Darimana kamu!"
Dira menghentikan
langkahnya saat suara kasar itu menggema dipendengarannya.
Ia berbalik, menatap sang
ayah yang berdiri disamping ruang kerjanya.
"Rumah Evan."
Jawabnya pelan.
"Sini kamu!"
Pria bertubuh tegap itu
menatap Dira geram yang mencoba mendekat.
Dira terhenti tepat
didepan sang ayah.
Wajahnya menunduk, tak
berani menatap pandangan penuh amarah itu.
"Ayah dapat laporan
dari pengacara kamu, kalau kamu kembali menarik uang tabungan kamu!" Frans
menatap tajam sang anak yg masih menunduk.
"TATAP AYAH!"
Bentakkan keras itu mampu
membuat Dira menaikkan wajahnya takut.
Mungkin saja sang ayah
akan memukulnya sebentar lagi.
"Benar begitu, Divari
Fivandra Redrigo!"
Benar saja, sang ayah tak
akan menyebutkan nama panjangnya seperti ini, jika sang ayah tak benar-benar
marah.
"JAWAB!"
Frans mulai menaikkan dagu
Dira yg kembali menunduk.
Perlahan, Dira mengangguk,
"Cuma sepuluh juta."
Ia menutup matanya pasrah,
setelah mengucapkan jumlah uang yg baru saja ia tarik dari tabungan milik,
pasrah saat sang ayah meremas dagunya keras.
"Apa? cuma?"
Frans menjauhkan tangannya
dari Dagu sang anak, "Kamu tau berapa lama Ayah harus bekerja untuk
menghasilkan semua uang yg ayah simpan dalam tabungan kamu?"
"Nanti Dira
Ganti."
Jawaban enteng Dira
membuat amarah sang Ayah meninggi.
Frans menaikkan sebelah
tangannya hendak menampar Dira, "KAMU!"
Dira menutup matanya, kakinya
tiba-tiba bergetar, jemari tangannyapun seketika berkeringat.
Ia membuka mata ketika
suara seseorang menyelamatkannya dari tamparan sang ayah.
"Frans! Semua bisa
dibicarakan baik-baik." Suara lembut itu membuat Dira tersenyum sinis.
"Basi!"
"DIVARIO!"
Sebelum sang ayah
benar-benar memukulnya, Dira melangkahkan kakinya menjauh.
Bentakan sang ayahpun tak
didengarnya.
"Kembali, atau Ayah
benar-benar akan menghukummu!"
***
Dira terdiam, menatap
selembar potret ditangannya.
Wajah wanita cantik dengan
bayi mungil dalam dekapannya.
Dira tersenyum tipis saat
mendapati senyum wanita itu yang terukir indah.
Satu kerinduanpun
terpancar dari tatapan mata cowok tampan itu.
"Bunda!"
Suaranya terdengar
bergetar saat menyebutkan kata itu.
Kata yang tampak asing
dalam hidupnya.
Didekapnya foto itu dalam
dadanya, terasa nyaman, seolah-olah sang bunda nyata memeluknya.
"Dira rindu
bunda,"
Ia menutup matanya,
mencoba mengingat senyum terakhir sang bunda untuknya.
"Bawa Dira pergi,
biarkan Dira ikut Bunda, Dira menderita disini."
Ia mencoba mencurahkan
segala isi hatinya pada selembar foto itu.
Ia berharap angin ataupun
bintang, bersedia menyampaikan rindunya pada sang bunda yang jauh disana.
"Selamanya, wanita
itu gak akan pernah bisa menggantikan bunda dihati Dira!"
Semakin erat ia mendekap
bingkai poto itu.
TOK—TOK
“Boleh gue masuk?”
Suara Dava dari balik
pintu membuat Dira menatapnya tajam.
“Kalaupun gue bilang kagak
boleh, lo tetap masuk kan!” Dira menaruh kembali poto itu pada meja belajarnya.
Dava tersenyum, dan
menghampiri sang adik. “Lo udah minum obat?”
Pertanyaan Dava padanya
membuat Dira terdiam bersamaan dengan senyum tipisnya. “Seharusnya yang nanya
itu ayah bukan lo.” Cowok itu berjalan menuju jendela kamarnya dan menatap
pemandangan luar. Hawa dingin bekas hujan masih ia rasakan jelas.
“Dira..” Dava mendekat dan
mencoba mengelus pundak sang adik, tapi dengan cepat Dira menepisnya.
“Pergi Dav, sebelum gue makin
benci sama lo!” Pandangannya masih menatap kedepan, enggan menatap Dava yang
menunduk.
“Apa lagi yang bisa gue
lakuin Dir, agar lo bisa nerima kehadiran gue disini?” Hati kecil Dava berkata.
Ia melangkah pelan
menjauhi Dira yang masih menatap keluar jendela kamar.
***
“Aduh, anting gue dimana
yah?”
Ve terlihat sibuk mencari
anting pemberian sang ayahnya yang sempat hilang kemarin.
Saat ini, gadis itu berada
diruang perpustakaan, ia yakin antingnya terjatuh disini.
Sedari subuh gadis itu
menggeladah seisi ruangan sekolah bertingkat itu, tapi tetap asaja ia tak
menemukannya, dan perpustakaan inilah harapan terakhir gadis pemberani itu.
“Pasti disini! Tapi kenapa
gak ada?” wajahnya terlihat sedih saat tak jua ia mendapati apa yang dicarinya.
Seketika ia teringat
peristiwa kemarin malam dengan Dira, saat Ve memeluk pemuda itu tak sengaja..
“Astaga, jangan-jangan anting gue nyangkut
diseragamnya Dira lagi?” Ve mendengus pelan, terduduk disalah satu kursi
panjang perpustakaan.
Bayangan tentang Dira
kembali diingatnya.. saat mereka berdansa, ataupunn saat pemuda itu mencium
pipinya dalam kegepalan.
Wajah gadsi itu seketika
memerah karena malu.. “Gimana bisa, ggue kegeeran gini, dia itukan Dira, cowok
super nyebelin plus idiot.”
“Hmm, kembali gue denger
nama Dira dari mulut lo.”
Suara Dava mengejutkan
gadis itu.
Ve tersenyum sambil
memukul lengan Dava yang terduduk disampingnya. “Dava ah!”
“Dira!” cowok itu kembali
menggodanya.
Ve menunduk malu.
“Lo suka Dira?” Dava
menatap Ve yang seketika menggeleng cepat.
“Tidak.”
“Terus, kenapa namanya
selalu lo sebut?” Dava membuka tasnya dan menaruhnya dalam pangkuan.
“Gue lagi kesel sama dia.”
Jawab Ve asal. “Gue lagi sedihh Dav!” Gadis itu mulai menampakkan wajah
sedihnya.
Dava menatapnya tajam.
“Ada apa? Cerita sama gue?”
“Gue kehilangan sesuatu
yang sangat berharga Dav.”
“Apa? Dira?” Dava
tersenyum saat mendapati wajah Ve yang
menatapnya geram.
“Apaan sih, serius juga.”
“Iya maaf, lo kehilangan
apa? Mungkin gue bisa bantu cari?”
Ve berdiri membelakangi
dava yang amsih terduduk. “Anting pemberian ayah aku.”
Pemuda itu ikut berdiri
disamping Ve. “Bentuknya seperti apa?”
“Ada bintang kecil sebagai
penghiasnya.”
Jawaban Ve membuat Dava
mengangguk mengerti. Cowok itupun seketika mengelus punggung Ve pelan. “Nanti
gue bantu cari.”
***
“Apaan? Lo jatuh cinta
sama gadis yang lo temui waktu mati lampu?” Evan berjalan disamping Dira mengi
ntari koridor pagi itu.
Dira mengangguk pelan
sembari menikmati permen karet dimulutnya.
“Gila lo!” Evan
menggeleng, mendengar cerita yang baru saja diceritakan Dira padanya tentang
gadis cinderella.
“Gue tau cinta itu buta,
tapi gak gini juga kali Dir.” Lanjutnya.
Keduanya memilih terhenti
didepan kelas, menyaksikan beberapa murid berlalu lalang dihadapan keduanya.
“Lo tau wajahnya seperti
apa?”Evan menatap Dira yang menggeleng.
“Mati lampu Van,
samar-samar gue lihatnya.” Dira tersenyum manis menatp beberapa siswi yang
tersenyum kearahnya. Kemudian ia beralih menatap Evan yang setia disampingnya.
“Tapi gue yakin, dia itu
cantik, putih, tinggi dan baik.”
Evan menghela nafas
panjang menatap wajah Dira yang sedang membayangkan sosok gadis cinderella
impiannya itu. “Siapa tau dia gendut, giginya hitam, mata juling, perutnya
buncit terus galak!”
Perkataan Evan membuat
bayangan Dira akan sesosok mahluk cantik seketika hilang berganti menjadi
mahluk super jelek.
“IYYUH!” Dira menggelengkan
kepalanya cepat. “Jangan sampai Van!”
Evan tertawa pelan menatap
wajah jijik Dira. “Makanya jadi orang jangan mudah jatuh cinta.” Cowok itu
menyender pada dinding. “terus sekarang gimana lo tau, kalau cewek itu gadis
cinderella lo? Bukannya lo gak tau wajahnya seperti apa?”
Dira mengangguk sambil
ikut menyender disamping sang sahabat. “Tapi gue punya ini.” Cowok itu segera
meraih anting dari saku seragamnya.
Kening Evan mengerut.
“anting?”
“Yep, gue yakin anting ini
punya cinderella yang Tuhan ciptain buat kejagain gue.” Dira menatap tajam
anting bintang ditangannya. “Dan anting inilah yang akan mempersatukan gue sama
dia.” Dira mengunyah permen karet dimulutnya sumringah.
“Jadi bakal ada kisah
cinderella nih?” Evan membenarkan posisi berdirinya hingga tak lagi menyender,
menggelengkan kepalanya saat menatap Dira yang tersenyum.
“DIRA!!”
Dira memasukkan anting itu
kembali pada saku seragamnya, saat suara cempreng Niky didengarnya.
Gadis cantik itu mendekat
pada Dira yang masih menyender pada dinding. “Lo ingatkan janji lo kemarin?”
Niky segera meraih lengan Dira dan merangkulnya.
Dira menepisnya cepat.
“Janji apa?” Cowok itu tak lagi menyender, menatap Niky yang berdiri
disampingnya.
“Deketin gue sama Dava.”
Gadis itu memainkan ujung rambutnya genit, tersenyum manja pada Dira yang
menatapnya tajam. Begitupun dengan Evan yang tak berkedip menatap gadis tinggi
itu.
“oh!” Dira mengaruk
tengkuknya. Matanya menatap sekeliling mencari-cari seseorang.
Pemuda itu seketika
melambaikan tangannya pada Dava yang tak lagi bbbersama Vega.
“Deavan!” Teriak Dira
Kencang sambil mengisyaratka Dava untuk menemuinya.
Dava menatap Dira tajam
dan berjalan mendekati ketiganya. Dira,Evan,Dan Niky yang berdiri berdampingan.
Niky tersenyum manis saat
Dava tiba didepan mereka.
“Ada apa?” Dava menatap
Dira yang tak menjaawab.
Dira langsung menarik
lengan Niky dan mendekatkan gadis itu hingga berdiri disamping Dava. “Nih, udah
gue deketin.” Dira melepas pegangan tangannya dan menatap Niky yang menampakkan
wajah gembiranya.
“Van, kantin Yuk!” Dira
beralih menaik tangan Evan yang masih terdiam.
Kening Dav mengerut sambil
menatap Dira yang menjauh bersama Evan. “Dia kenapa?”” pemuda itu seketika
menatap Niky yang kembali menggulung rambut bawahnya centil.
“Gak tau.” Dusta Niky
sambil tersenyum manja pada Dava yang membalasnya pelan.
“Gimana kalau kita ke
kantin?” Ajakan niky membuat Dava menggeleng.
“Gak perlu, gue udah
kenyang, kebetulan gue masih ada urusan sama bagian akutansi.” penjelasan Dava
membuat Niky menunduk kecewa.
“Gimana kalau diganti
waktu istirahat.”
Niky menaikkan wajahnya
dan menatap gembira kearah Dava yang tersenyum. “Serius?”
Cowok itu mengangguk
cepat. “Istirahat gue tunggu dikantin.” Dava pun berlalu setelah kata itu ia
ucapkan.
Senyumnya mengembang saat
ia berbalik menyaksikan tingah lucu Niky yang berjingkrak senang akan
ajakannya.
Niky menutup wajahnya
malu, saat memergoki Dava menatapnya. Gadis itupun berjalan cepat berlalu dari
Dava yang menggelengkan kepalanya tak mengerti.
***
“Vega!” Dira yang baru
terduduk dikursi kantin melambaikan tangannya pada Ve yang sibuk melayani
beberapa murid memesan makanan.
“Apa ada?” Ve berdiri
disamping Dira dan Evan.
Evan membuka menu
didepannya, memulai mencari makanan yang akan dipesannya pagi ini. “Gue mau
bihun goreng sama es teh manis yang dingin.” Pemuda itu menutup buku menu dan
menaruhnya kembali diatas meja.
Ve mengangguk sambil
menuliskan pesanan Evan, “Kalau lo, cowok idiot!”.
Dira menatap Ve geram saat
pertanyaan nyelekit itu menggema untuknya. Pemuda itu mencoba tersenyum tenang.
“Gak perlu, terimakasih.” Cowok itupun menjatuhkan kepalanya menyender pada
meja kantin.
Ve tersenyum sinis. “Baguslah,
jadi gue gak perlu susah-susah beli racun tikus buat lo.”
Dira kembali menaikkan
wajahnya saat kalimat tak menyenangkan itu terlontar dari bibir Ve. “Lo jangan
cari gara-gara, gue lagi males kena hukuman.”
“Peduli, cowok idiot!” Ve
menarikk tangan Dira hingga pemuda itu berdiri. “lebih baik lo pergi, kalau
emang Cuma mau numpang duduk!”
Dira mulai memainkan
lidahnya, “Lo cari masalah!” Cowok itupun segaja kembali duduk membuat Ve
manatapnya geram. “Tamu itu raja.”
“Sekarang lo pesan atau lo
gue seret kkeluar!” Ancaman Ve membuat Dira menatap Evan yang tersenyum tipis
menatap keduanya.
“Dia ngancem gue Van,”
pemuda itu beralih menatap Ve. “Lo pikir gue takut!”
Ve mendengus pelan,
mengatur nafasnya sejenak. “Dira.”
Pemuda itu acuh, meraih
android dari saku seragamnya dan mulai fokus memutak-atik android ditangannya.
Evan terdiam, memicingkan
matanya saat menatap telinga kiri Ve yang mengenakan anting yang sama persis
dengan anting yang Dira tunjukan padanya beberapa menit yang lalu, pemuda itupun
beralih menatap telinga kanan Ve yang ternyata tak menganakan anting.
Satu pemikiranpun
terlintas dibenak cowok pintar itu. “Jangan-jangan, Gadis cinderella Dira itu
adalah Ve?”
“Ya udah gue ngalah.” Dira
menatap Ve yang masih berdiri disampingnya. “Gue mesan Bubur ayam.”
Gadis itu tersenyum puas.
“Bagus deh, mau yang spesial atau yang biasa?”
Dira mengerutkan
keningnya. “Emang ada yang special?”
Ve mengangguk cepat.
“Pastinya, dicampur racun tikus.” Ve tersenyum lebar saat mendapati wajah tak
suka Dira.
Sementara Evan mencoba
tertawa tanpa suara. “Berani juga nih cewek!”
“Gimana mau yang special?”
Ve manatap sinis Dira yang menggeleng cepat.
“Gak perlu, terimakasih.”
CONTINUE ^^V

Tidak ada komentar:
Posting Komentar