Facebook Badge

Selasa, 16 Juli 2013

"Ketika Dira, Jatuh Cinta!" #PART10

***
Hujan masih membasahi bumi, jam pulangpun telang terdengar.. beberapa murid nampak berhamburan keluar gerbang dengan hujan-hujanan, ada yang setia menunggu hingga hujan reda, ada pula yang menerobos hujan dengan payung yang dibawanya.

"Ve mana?" Dava menatap atap langit yang masih menguyurkan hujan. pemuda itu memilih untuk singgah sebentar sebelum memutuskan untuk pulang.
ia masih menunggu Ve yang belum juga ditemuinya sejak jam pelajaran ketiga.

"DAVA!" Evan berteriak sambil mendekat pada Dava yang menatapnya cepat. "Lo liat Dira?" Tanyanya pada Dava yang mengernitkan keningnya.

"Dia kabur lagi?"

Evan mengangguk cepat. "Dari pelajaran ketiga, bangkunya kosong."

penjelasan Evan mmembuat Dava memutar otaknya. Kebetulan.. Dira dan Ve sama-sama absen diam ketiga... tidakkah ada yang tidaak beres.

"Gue takut Dira pingsan lagi," Evan mulai menampakkan wajah gelisahnya. memang pemuda ini begiut khawatir akan kesehatan Dira sang sahabat.

Dava mengangguk mengerti, kembali menikmati hujan yang dirasakan semakin reda.

"Hujannya awet dari kemarin!" Evan ikut menikmati pemandangan hujan disamping Dava yang mengangguk pelan.

Tak beberapa lama, tiba Keanes, pemuda yang mengurung Dira dan Ve dalam toilet. pemuda itu menyolek punggung Dava, hingga Dava berbalik menatapnya.
"Lo ngapain disini??" pertanyaan pemuda itu membuat Dava dan Evan mengernitkan keningnya bersamaan.

pemuda itu lanjut bicara. "Noh adik lo, gue kunciin ditoilet ujung, mending lo selamatin dia sebelum K.O!" Kean menaikkan sebelah alisnya dengan senyuman menantang.
penepuk punggung Dava sebelum ia kembali melangkah.

Dava dan Evan saling pandang, sebelum keduanya tersadar dengan apa yang baru saja dikatakan troublemaker itu.
"DIRA!!"

Keduanya bergegas menuju toilet ujung, Dava memutar kunci yang menempel pada lubang kunci cepat, membuka pintu itu setelah memastikan kunci itu telah terbuka.

Grekk!!
Dava dan Evan terdiam saat mendapati pemandangan tak biasa didepan mata keduanya. Dira yang masih tertidur dalam pangkuan paha Ve, dan Ve yang ikut tertidur dengan menyenderkan kepalanya pada dinding.
Tampak serasi.

"Cocok banget mereka!" Evan berbisik pada Dava yang tersenyum tipis. "Gue gak tau kalau ternyata Dira terkuncinya berdua bareng Ve." lanjut pemuda sederhana itu.

"Lo mau kemana?" Dava menarik lengan Evan saat hendak mendekat pada dua sajoli yang masih memejamkan mata itu.

"Bangunin mereka."

"Jangan sekarang." Dava meraih ponsel pada saku seragamnya cepat.

"Lo mau ngapain?"

"Motret mereka." jawab Dava dengan senyuman lebarnya.

Evan mengangguk mengerti. "Boleh juga, nanti upload diFacebook, terus jangan lupa tag ke gue."

Dava tertawa kecil mendengar penuturan Evan, "Sip!"

Dava mulai mengarahkan camer ponselnya pada kedua remaja itu..
hingga

Klikk!!
kamera tersimpan.

Evan ikut mendekat, menatap potret yang seketika nampak diponsel Dava. "Cute sumpah!"

Pemuda itu kembali memasukkan ponsel pada saku seragamnya. "Lo pulang naik apa?" menatap pada Evan seketika.

"Angkot, biasa."

"Gue anter yah!" pemuda itu menepuk lengan Evan yang mengernitkan keningnya.

"Yang bener?"

"Iya, serius." pemuda itu membenarkan letak tas dipunggungnya. Ayo cepetan!"

"Lalu mereka?" Evan menunjuk Dira dan Ve bergantian.

"Udah, nanti mereka juga bangun sendiri, ayo!"

Evan hanya mengangguk sambil menuruti Dava yang menjauh dari toilet. "Lumayanlah, irit ongkos!"

***
"SH*T!"
Pemuda itu membuka matanya dan merubah posisinya menjadi duduk. ia menatap arlogi dipergelangan tangannya. "Jam setengah lima."

mata pemuda itu bersinar saat mendapati pintu toilet yang terbuka.
"Ve, pintunya terbu..." perktaan pemuda itu terpotong, saat ia mentap Ve yan masih tertidur disampingnya.
terlebih saat gadis itu menjatuhkan kepalanya kekiri, sehingga menempel pada bahu Dira.

Dub!!
jantung pemuda itupun seketika terhenti..

"SH*t! Kenapa jadi deg-degan gini gue!" Dira menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir hatinya yang tiba-tiba dag-dig-dug.
"Gak, gue gak mungkin jatuh cinta sama gadis galak ini!" ia kembali menggeleng.

Pemuda itu seketika mendekati wajahnya pada wajah Ve yang masih menyendern pada bahunya, ia tersenyum tipis saat menatap gadis itu yang masih tertidur. "Cantik juga, sayang galaknya mirip ayah!" Dira tertawa kecil mendengar perkataannya sendiri.

perlahan pemuda itu mengelus pipi merah gadis itu, tangannyapun seketika bergetar, walau bukan kali pertama ia mengelus pipi seorang gadis, tapi saat ini semuanya terasa beda.
hanya Vegalah yang mampu membuat hati heartbreaker ini tak karuan.

"Sebagai ucapan terimakasih gue, karena lo udah nyanyi tadi," pemuda itu masih mengelus pipi lembur Vega, "Sekarang giliran gue yang nyanyi buat lo!" berganti pemuda itu membelai rambut hitam ve pelan, agar gadis itu tak terbangun.

Dirapun mulai melantunkan sebait lagu untuk gadis disampingnya.

Cinta adalah misteri dalam hidupku
Yang tak pernah ku tahu akhirnya
Namun tak seperti cintaku pada dirimu
Yang harus tergenapi dalam kisah hidupku

Reff:
Ku ingin slamanya mencintai dirimu
Sampai saat ku akan menutup mata dan hidupku
Ku ingin slamanya ada di sampingmu
Menyayangi dirimu sampai waktu kan memanggilku

Ku berharap abadi dalam hidupku
Mencintamu bahagia untukku
Karena kasihku hanya untuk dirimu
Selamanya kan tetap milikmu

Di relung sukmaku
Ku labuhkan s’luruh cintaku
Di hembus nafasku
Ku abadikan s’luruh kasih dan sayangku


Dira tertawa kecil saat selesai melantunkan lagu milik ungu itu.
kembali ia merasakan jantungnya kembali kambuh.
"Gue harus minum obat!" ia mengangkat pelan kepala Ve, menjauh dari bahunya.
kemudian pemuda itu bergeser sedikit kekiri, memberi tempat untuk ia sandarkan tubuh gadis itu terbaring disamping wastafel.

Dira berdiri dan berlari cepat keluar toilet, meninggalkan gadis itu yang masih asik dalam lautan mimpi.

***
glek!!
pemuda itu meneguk airminerala dalam botol cepat, untuk membantunya mendorong obat pait yang baru saja diteguknya.
"Iyuhh!"
ia mengeluh pelan.

meraih tas selempangnya dan memakainya, ia keluar ruangan putih itu sambil menatap hujan yang masih terus mengguyur kota jakarta.
"Hujan lagi!" ia terus mengintari loridor sekolah yang mulai sepi. terhenti langkahnya saat ia berada didepan kelas Vega.

pemuda itu melangkah masuk dan mendekat pada satu tas berwarna merah yang masih tergeletak diatas meja. "Pasti punya Vega!" ia meraihnya dan menggelantungkannya pada depan dadanya. "Berat amat, isinya apaan sih?"

"Isinya Bom!"
Suara cempreng itu membuat Dira langsung mengalihkan pandangannya.

Dira menataap Ve yang telah berdiri didepan pintu. "Lo?"

"Kenapa kaget gitu?" Ve mendekat dan sesampainya didepan Dira, gadis itu memukul dada dira yang tertutupi tas milik ve kesal. "Lo mau kabur, terus tinggalin gue sendirian disini, iya kan?"

Alis tebal pemuda itu menyatu. "Siapa juga yang mau ninggalin lo, gadis galak!" Dira membuka tas ve yang tergelantung didadanya, dan membuangnya cepat kelantai kelas. "Gak penting!"
pemuda itupun melangkahkan kakinya menjauh dari Ve yang menatapnya kesal.

"Tunggu lo!" Ve berteriak pada Dira yang mengacuhkannya,

pemuda itu terus saja melangkah, menjauh dari gadis itu yang terus berteriak.

"Cowok IDIOT!" Ve mengertakan kakinya kelantai kelas, menatap kesal Dira yang tersenyu tipis dari depan jendela.

"Gadis Aneh!"


***
***
"Dasar gadis aneh!" Dira melangkahkan kakinya menjauh dari kelas Ve, sebelum suara sesuatu menggema telinganya.

Brakk!
Langkah pemuda itu terhenti, ketika ia mendengar sesuatu terjatuh dari dalam kelas Vega.
Ia mempercepat langkahnya kembali, menuju kelas Vega..
Matanya membesar saat ia mendapati gadis itu terduduk lemas dengan goresan kecil, yang mengeluarkan darah segar pada lututnya.
"Vega!"
Ia melangkah cepat, mendekat pada gadis itu yang merintih kesakitan.
"Lo gak apa-apa?" pemuda itu membantu Ve berdiri setelah menerima anggukan dari gadis itu.

"Gue gak apa-apa kok!" Ve mencoba berdiri sendiri, menepis pegangan tangan Dira yang merangkul lengannya.

"Lutut lo berdarah!" Dira menatap lutut Ve sejenak yang masih mengeluarkan cairan darah.

"Cuma dikit!" gadis itu mencoba melangkah, tapi lutut dikakinya seketika terasa sakit, "Aow!" Gadis itu merintih pelan, dan mencoba menghentikan langkahnya sejenak.

"Sakit? Ya udah sini gue gendong!"

Mata Ve membesar saat menatap Dira yang berlutut membelakanginya.

Cowok itu menepuk punggungnya cepat. "Naik ke punggung gue! Cepetan!"

"Lo becanda! berdiri cepetan!" Ve meraih lengan Dira dan memaksa pemuda itu berdiri.
"Jangan harap, lo bisa nyentuh2 gue seenak Lo!" Ve meluapkan amarah, membuat Dira seketika mengernitkan keningnya.

"Maksud Lo?" Pemuda itu menatap Ve tajam yang tersenyum sinis.

"Jangan lo pikir, kalau gue ini cewek yang gampang lo bego-begoin, dengan semua sikap sok baik lo itu!"

Dira tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. "Siapa juga yang nafsu sama lo!" pemuda itu menunjuk Ve dengan dagunya. "Cewek galak, songong, Miskin pula!"

Pletak!
Gadis itu menjitak kepala Dira kesal. "Lo pikir, gue nafsu sama lo?"
Tantangan balik Ve membuat Dira mengangguk pelan.

"Ya udah! Gimana, kalau kita taruhan?"
Dira menaikkan sebelah alisnya, sambil menyender pada salahsatu meja disampingnya.

"Maksud lo?"
Ve masih belum mengerti dengan perkataan Dira barusan, sebelum pemuda itu kembali menjelaskan.

"Jadi begini..."

***
"Wah! Makasih banyak Dav, buat tumpangannya!"
Evan berjalan disamping Dava yang mengangguk.
Keduanya terlihat berjalan dipekarangan rumah Evan setelah keluar dari Mobil Sport Dava.

"Ur welcome!"
Dava terhenti ketika keduanya tiba diteras rumah Evan.

"Duduk dulu Dav!" Evan mempersilahkan Dava terduduk disalah satu kursi diteras rumahnya. "Hujannya masih awet, lo disini ajah dulu bentaran."

Dava tersenyum kecil, dan terduduk dibangku kayu itu. "Iya nih, dari kemarin hujannya awet!"

"Gue kedalam dulu, Lo mau minum apa?" Evan menatap Dava yang sedang membuka tas ranselnya dan menaruhnya dimeja samping.

"Cukup air putih."

Evan mengangguk mengerti mendengar jawaban Dava, pemuda itupun berlalu memasuki rumahnya, meninggalkan Dava seorang Diri yang terlihat sibuk memainkan rambutnya yang sedikit basah oleh percikan air hujan.


Selang beberapa menit, tiba Evi dari dalam rumah sederhana itu, menghampiri Dava dan terduduk disaamping pemuda ramah itu.

"Kakak, kak Dava yah? kakaknya ka Dila!" Evi menatap manja pada Dava yang tersenyum.

"Kok Tau?" Tanya Dava balik sambil kembali menampakkan senyum manisnya.

"Iya dong, Kak Dira seling celita banyak tentang kak Dapa loh!" Suara manja itu membuat Dava mengerutkan keningnya.

"Yang Bener?? cerita yang baik-baik atau yang buruk-buruk nih?"
Dava mengacak rambut hitam Evi yang saat itu terkuncir rapi.

"Hmm.." Evi berpura-pura berfikir, memainkan kedua jemari tangannya didagunya. "Yang baik pastinya, kata kak Dila, Kak Dava satu-satunya Olang yang selalu ingetin kak Dila minum obat, dan Kak Dila bilang kalau Kak Dapa sayang banget sama Kak Dila."

Dava tersenyum tipis mendengar penuturan polos gadis itu. "Oh yah, terus kak Dira sayang gak sama Kak Dava?"

"Pasti sayanglah kak, kan kalian saudara."

Dava kembali mengacak rambut Evi gemas, seketika pemuda itu terdiam, ia tak menyangka bahwa dira akan menceritakan tentang dirinya pada gadis kecil ini, dan Davapun tak mengira bahwa Dira menceritakan sesuatu yang baik bukan yang buruk tentang dirinya.
Sekarang ia sedikit lega, karena ia tau, Dira masih menganggapnya ada.

"Nih anak kecil ngapain disini?" Evan yang baru tiba dengan segelas air putih ditangannya menghampiri Dava dan Evi yang sedang asik mengobrol.

"Kakak mau tau ajah." Evi menatap Evan yang menaruh gelas berisikan air dimeja samping Dava.

"Tidur sana! kecil-kecil juga!" Evan menarik tangan Evi hingga gadis kecil itu terbangun dari duduknya.
Gadis kecil itu kembali menampakkan wajah cemberutnya, Dava hanya tersenyum tipis menatap tingkah kedua saudaraa itu.

"Kelualga kak Dava ama Kak Dila ganteng-ganteng yah, gak kayak keluarga Evi, punya kakak tapi jelek!" Evi melirik singkat Evan sambil menyulurkan lidahnya.

Dengan cepat Evan mencubit pipi sang adik keras.

“Aww kakak sakit!” rintih Evi pada Evan yang menatapnya geram.

“Kalau bukan inget orangtua kita sekandung, udh gue cincang lo jadi perkedel!” Evan terduduk dikursi samping Dava, kursi yang tadi diduduki Evi tepatnya.
Evi hanya menatapnya pelan sambil melirik Dava yang tertawa kecil.

“Oh iya, kak, nama aku Evi!” gadis cilik itu mengulurkan tangan kanannya pada Dava yan langsung menyambutnya.

“Davean!” balas Dava lembut.

***
Ve yang saat ini berada di UKS, terlihat sibuk dengan luka dilututnya. Gadis itu berusaha sendiri untuk tiba diruangan putih itu, tanpa bantuan Dira.

“Gimana? Lo terima gak taruhan gue!” Dira yang berdiri didepan pintu UKS sempat membuat gadis itu terkejut.

“Tidak akan,, tidak akan!”Gadis itu berkata kasar sambil mengolesi betadine pada luka dilututnya.

Dira tersenyum evil. “Bilang aja, lo takut jatuh cinta sama gue lebih dulu, iya kan?”

Vega menarik nafasnya panjang, berdiri dan kembali menaruh kotak P3K Pada tempatnya semula, kembali mendekat pada ranjang UKS dan meraih tas miliknya.

“Iya kan, gue bener?” Dira menyandar pada ujung pintu, menatap tajam Ve yang masih memelih untuk terdiam.
“VE!” pemuda itu meraih lengan gadis itu ketika Ve berusaha melewatinya. Tapi dengan cepat Ve menepisnya.

“APA?”

“Gimana, tentang taruhan gue? Lo terima apa gak?”

“Sekali gue bilang enggak, berarti enggak, Dasar IDIOT!” Gadis itupun berlalu meninggalkan Dira yang menatapnya tajam.
Dengan langgkah pincang Vve terus mengintari koridor sekolah, perih dan sakit memang, tapi apa boleh buat.

“Ve, punggung gue masih bersedia buat gendong lo!” Teriakan Dira mampu membuat langkah gadis itu terhenti.

Ve berbalik dan menatap geram Dira yang berjalan mendekat.
“Gimana, apa perlu gue gendong?” Dira melepas tas selempangnya dan menaruhnya pada telapak tangan gadis itu yang terdiam. “Kalau dipaksain bisa infeksi!” lanjut pemuda itu sambil membungkukkan badannya membelakani Ve yang masih terdiam.

Tuhan! Apa yang harus aku lakukan sekarang?? Apa aku harus rela, pemuda menyebalkn ini menggendong tubuhku??

“Ayo cepetan! Keburu hujannya deras lagi!” Bentakkan pemuda itu membuat Ve megalihkan pikirannya.

“Tidak, gue bisa jalan sendiri!” tolak gadis itu kekeh.

Dira menarik nafasnya panjang dan berdiri. “Ternyata gak semudah itu!” hati kecilnya berbisik. “Gadis ini memang benar-benar punya pendirian!”

Ve mengembalikan kembali tas selempang Dira, “Gue balik!” Gadis itupun kembali berjalan meninggalkan pemuda itu yang menggelengkan kepalanya gemas.

Dengan cepat Dira berlari mengejar Ve yang kebetulan terhenti diujung koridor, gadis
Itu mendongakkan wajahnya menatap rerintikan air yang turun dari langit itu.

“Rintih-rintik!” gumannya pelan.

“Gue gendong!” Dira yang baru tiba langsung meraih lengan gadis itu, pemud itu berjongkok sedikit dan menempelkan tubuh putih itu hingga mendekat paada punggungnya.
Ve terdiam saat Dira benar-benar mengendongnya.

“Dira, turunkan gue, cowok idiot!”

Dira tersenyum tipis mendengar terikan Ve, pemuda itu terlihat asik menggendong gadis itu pada punggung tegapnya, walau berulang kali gadis itu berusaha menepisnya.

Dibawah rerintikan hujan, Dira menggendong tubuh kurus itu melintasi hari yang semakin gelap. Rambut pemuda itu terlihat sedikit nbasah oleh rintikan air hujan, begitupun rambut panjang Ve, sesekali Dira menaikkan tubuh Ve sedikit keatas dengan kedua lengannya yang menyanggah tubuh kurus itu. Dirapun seketika kembali merasakan detakan hebat pada dadanya.
Sementara Ve, seketika gadis itu dapat mencium jelas aroma parum yang melekat pada jaket hitam yang dikenakan Dira.

“Dira, turunin gue, lo mau nyulik gue kan,?? Gue bisa laporin lo kepolisi atas tuduhan pelecehan!” Ve terus saja mengoceh dalam gendongan pemuda itu.

“Diam, gue akan turunin lo, setelah sampai didepan motor gue, ngerti??”

Ve mendengus kesal mendengar perkataan santai pemuda itu, berulang kali gadis itu menepis ataau menempeleng kepala dira kesal, “Cowok idiot, cowok idiot!” Teriakan Ve semakin kencang mengema ditelinga cowok cool itu.

“Berisik Ve, diamlah! bentar lagi juga sampai!” Dira menghentikan langkahnya tepat didepan sebuah motor mesar berwaarna merah, dengan cepat pemuda itupun menurunkan Ve dalam gendongannya.

“Cowok idiot! Setelah ini lo gak akan pernah selamat!” Ve menendang kencang motor besar Dira, “SH*t!” Keluh Ve saat menjadari kebodohannya barusan.

“Sakit?” Dira tersenyum tipis saat mendapati gadis itu yang kesakitan setelah menedang motor besar miliknya. “Ini mahal loh, emang lo bisa gantiin kalau rusak?” Dira menaikkn sebelah alisnya mengejek pada Ve yang menatapnya geram.

“Peduli!” ve berlalu setelah sebelumnya sempat mendoron tubuh pemuda itu hingga sedikit mundur kebelakang.

“Eh tunggu!” Dira menarik lengan Ve dan mendekat pada gadis cantik itu.

“Apa?”

“Gue antar!” Dira menaikkan sebelah alisnya dan menuntun Ve berdiri disamping motor besarnya, beberapa kali gadis itu berusaha melepas pegangan tangan Dira, tapi sayang pegangan itu begitu kuat hingga gadis itu kewalahan untuk menghindar.

Dira membenarkan letak tas selempangnnya dan melepas pegangan tangannya, berganti pemuda itu melepas jaket hitam yang melekat pada seragam sekolahnya. “Lo pake jaket gue buat nutupin kepala lo dari air hujan!” Pemuda itu menyodorkan jaket yang baru dilepasnya pada Ve yang terdiam.

Gadis itu tak mau menerima jaket pemberian Dira, Dira tersenyum sambil menggelengkan kepalanya gemas. “Dasar keras kepala!” dengan cepat Dira meletakkan jaket itu tepat diatas kepala Ve. “cepetan naik!” perintahnya sambil terduduk diatas motor miliknya dan memasangkan helm untuk menutupi wajah tampannya.

Ve masih terdiam, perlakuan Dira kali ini membuatnya seakan berfikir hidup dalam sebuah skenario, sejadian dimana pemuda ini menggendongnya ataupun memberikannya jaket hanya untuk sekedar menutupi kepalanya dari air hujan, seperti kisah film yang sering ditontonnya.
Hati gadis itupun seketika tersenyum, ia tak menyangka pemuda seidiot Dira mampu melakukan hal romantis seperti itu.

“Cepetan Naik!” Teriakan Dira membuat lamunan gadis itu hilang, ve mengangguk cepat dan entah angin apa yang membuat gadis itu tak menolak untuk diantar oleh pemuda menyebalkan itu.

Motor itu melaju dengan kencang, melintasi sudut kota jakarta yang masih diguyur dengan rintikan air hujan.
Ve yang terduduk dibelakang boncengan motor Dira, sesekali menutup matanya takut, ini kali pertama gadis itu menaiki motor besar setelah kepergian sang ayah beberapa tahun yang lalu.

“Bisa gak usah ngebut!” Bisik gadis itu tepat dibelakang telinga kanan Dira yang tersenyum.

“Makanya pegangan yang kuat!” Dira melirik Ve lewat kaca spions disampingnya, pemuda itu tersenyum lebar saat mendapati wajah takut gadis itu. Ve masih setia dengan jaket Dira yang melindungi kepal gadis itu dari rintikan air hujan, sesekali gdis itu mengeratkan jaket itu agar tak jatuh dari kepalanya.

SUUTTT!!!
Dira sengaja mengerem mendadak, hingga refleks gadis itu memeluk pinggangnya erat karena takut.
“Nah gini, baru pas!” ia kembali menjalankan motornya perlahan sembari tersenyum evil.


***
"Udah sampai!" Ve terlihat turun dari motor besar miliK Dira, menatap tajam pemuda itu yang terlihat asik membuka helm dikepalanya. "Gue gak perlu berterimakasih kan?," Gadis itupun segera menjauhi jaket Dira dari kepalanya dan mengembalikannya cepat pada pemuda itu yang tersenyum.

"Ya usahlah, ikhlas gue!" Dira kembali memakai jaket yang sedari tadi digunakan Ve untuk menutupi kepala dari air hujan. pemuda itupun berdiri mensejajarkan gadis manis itu. "Disuruh masuk ajah udah cukup!"

"Enak banget, siapa juga yang nyuruh lo masuk!" Ve menataap Dira geram yang mengerutkan kening, gadis itu kembali bicara. "Asal lo tau, pintu rumah gue selalu tertutup buat cowok idiot macam lo, ngerti!"

"Ya ilah, lebay banget," Tanpa sadar pemuda itu menyentuh dagu Ve gemas. "Lo itu emang bener-bener titisan nenek sihir yah! Galak amat!"

Ve menepis lengan Dira kencang. "Udah sana pulang, gue mau masuk!"

Dira menatap tajam gadis itu yang berusaha memasuki rumah, seketika pemuda itu tersenyum kecil. "Aneh, kenapa akhir-akhir ini, gue ngerasa ada sesuatu yangg beda dalam hati gue, sama seperti saat gue disamaping gadis cinderella gue." ia mencoba kembali menaiki motor besarnya, tapi niatnya terhenti ketika ia menyadari kakinya menginja sesuatu hingga mengeluarkan suara 'grekk'.
peuda itu menunduk dan keningnya mengerut saat mendapati apa yang dilihatnya. anting bintang??

ia berjongkok sebentar untuk meraihnya. "Inikan anting cinderella gue?" Dira menatap tajam anting bintang ditangannya, ia berusaha memasukkan kalung itu pada saku seragamnya tapi lagi-lagi keningnya mengerut saat ia menyadari anting cinderella miliknya masih setia disaku seragamnya. "KALAU Ini anting cinderella gue, trus ini anting siapa??" ia menatap kedua annting ditangannya bergantian, mimik wajahnyapun seketika berubah bingung.

ia berdiri, padangannya seketika menatap pintu rumah Ve yang tertutup, "Jangan.. jangan... ini kalung punya ve dan itu berarti gadis cinderella gue itu..." ia tak mampu melanjutkan perkataannya, kerongkongannya pun seketika terasa sulit untuk bersuara.
"SH*t!"

***
"Ve, ada teman kamu diluar!" suara bunda membuat Ve yang saat itu telah berganti baju dann sedikit membasuh kepalanya dengan airpun seketika berlalu menuju teras rumahnya. "Teman??"

langkahnya terhenti ketika ia menatap Dira yang terduduk dilantai teras rumahnya, pemmuda itu terlihat asik memainkan rintikan air hujan dengaan kedua telapak tangannya.

"Cowok idiot!" Ve berusaha mendekat pada Dira yang menyambutnya dengan senyuman manis. "Lo ngapain masih disini, bukannya tadi udah gue usir?"

pertanyaan gadis itupun membuat Dira berdiri. "Masih hujan, tunggu hujannya reda baru gue balik."

"Lo pikir rumah gue ini tempat berteduh apa? medingan sekrang lo berteduh dihalte depan, sono!" Ve mendorong tubuh Dira hingga pemuda itu hampir saja terjatuh, tapi untung saja Dira mampu menyanggah dengan kakinya.

"Ya ilah, pelit amat, bentaran juga!" Dira memilih kembali terduduk disalahsatu kursi kayu yang tersedia diteras rumag Ve. "Minum dong, haus nih!"

Ve menatap Dira kesal yang sibuk membuka sepatu bertalinya. "Cowok idiot, udah numpang neduh malah nyuruh!"

"Tamu adalah raja Ve," Dira tersenyum tipis sambil membuka sepatu satunya, dan menaruhnya menyender pada kaki meja disampingnya.
"Haus nih Gue!" lanjut pemuda itu pada Ve yang mengkrucutkan bibirnya geram.

"Lo minum ajah noh air hujan!"
Ve berlalu setelah mengatakan kalimat itu, sementara Dira hanya tertawa kecil membalasnya.

"Gadis galak kayak gitu, mana mungkin jadi cinderella gue!"

TOK-TOK-TOK!!
Diraa terus mengetuk pintu rumah Ve dari luar, beberapa saat kemudian gadis yang ditunggunyapun terlihat membukakan pintu untuknya.

"Apalagi? apa perlu gue pakai kekerasan buat ngusir lo dari sini?" ancaman gadis itu membuat Dira menggeleng cepat.

"Gak perlu, ini gue mau pamit balik!"

"Baguslah, daripada terus disini tapi gak diterima!" ve menekan suaranya keras.

"Ya udah gue balik, salam buat Bunda!" ia berlalu setelah melebarkan senyumnya pada Ve yang menatapnya jutek.

gadis itu terdiam menatap Dira yang mendekat pada motor miliknya dan terduduk diatas jok motornya sambil menjalankan mesin, kemudian pemuda itupun berlalu dari hadapannya.

Ve tersenyum kecil saat kembali membayangkan kejadian beberapa jam yang lalu, hujan bebrsama Dira?? mungkin akan menjadi sesuatu yang akan selalu diingatnya.

ia kembali melangkah, hendak memasuki rumah, tapi langkahnya terhenti ketika ia menatap kertas putih terpampang diatas meja.
ia mendekat dan meraihnya pelan, matanya membesar saat ia mendapati kedua anting bintang miliknya terselip diantara kertas putih itu, perlahan ia membaca tulisan yang tertera disana.

"Terimakasih untuk tempat berteduhnya dan juga minuman peredam haus gue,air hujannya"

Gadis itu tertawa kecil membaca tulisan tangann milik Dira itu, tapi senyumnya seketika memudar dan berganti menjadi sebuah espresi terkejut saat ia membaca tulisan terakhir yang terpampang disana.

"Gadis Cinderella Gue!"


CONTINUE ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Online Now Icons