"Hmm, Yummie!"
Dira terdiam, menatap Ve yang begitu lahap menyantap ice krim dalam piringan bundar itu.
"Perasaan yang kepingin ice krim itu gue, tapi kenapa malah Lo yang paling semangat gini?"
Ia menggelengkan kepalanya sembari menyendok ice krim vanila miliknya dan menyantapnya perlahan.
"Ini tuh, ice Krim paling enak yang pernah gue makan, Dir!" ve menyendok ice krim miliknya yang telah tersisa sedikit. "Satu lagi pak!" Gadis itu berseru pada pelayan yg melayani mereka. Pelayan pria itu mengangguk dan mulai meracik ice krim pesanan gadis berparas cantik itu.
"Dasar rakus!" Dira menatap meja didepannya, tiga mangkok ice krim yang tak tersisa terlihat jelas menghiasi meja keduanya.
"Udah tiga mangkok juga, apa perut lo gak kembung makan ice krim sebanyak ini?"
Pemuda itu kembali menggelengkan kepalanya, menatap pada gadis SMU itu yang kembali menikmati suapan ice krimnya.
"Udah makan, jangan cerewet!" Ve menyendok ice krim miliknya dan menyuapinya pada Dira yang langsung membelakkan matanya.
Ve tersenyum mendapati wajah terkejut dira, perlahan pemuda tinggi itupun menikmati suapan ice krim dari sang kekasih.
"Sering-sering ajah teraktir gue ice krim kayak gini!" Ve menaikkan sebelah alisnya pada Dira yang tersenyum simpul.
"Selama lo jadi pacar gue, apapun keinginan lo bakal gue kabulin!"
"Serius? cowok idiot!" Ve memajukan wajahnya mendekat pada Dira yang mengangguk.
"Yep! Ketika Dira, jatuh Cinta, apapun akan ia lakukan untuk kebahagiaan gadis yang dicintainya!"
Dira berkata dengan nada berlebihan sambil mengacak rambut Ve gemas, "Makanya, lo bakalan rugi kalau nolak gue!"
"Apaan sih, norak!"
Ve kembali menikmati suapan ice krimnya yang tertunda, walau ada perasaan grogi saat ini, tapi gadis tangguh itu mencoba tetap bersikap biasa. Ia tak ingin Dira tau bahwa saat ini hatinya sedang berdetak tak menentu karena cowok idiot ini.
Dira tersenyum menatap wajah gadis didepannya yang seketika memerah. "Gak usah grogi gitu, biasa ajah lagi sama gue!" ia menaikkan sebelah alisnya bergantian, tersenyum jahil pada Ve yang menatapnya geras.
"Siapa juga yg grogi!" jurus jitakan sendok ice krimpun seketika mendarat tepat dikepala cowok energic itu.
"Setelah ini, gue antar lo balik!"
Ve mengangguk pelan saat kata itu dilontarkan Dira.
"Tapi gue mau ke toko buku dulu, ada satu buku yang lagi gue cari!"
Kini giliran Dira yang mengangguk, pemuda itu berdiri sambil meraih dompet kulit dalam saku celana putih abu-abunya. "Ya udah, biar gue bayar semua ice krim yang udah lo makan!" Dira sengaja menekan suaranya saat mengatakan kalimat terakhirnya membuat gadis itu menatapnya kesal.
"Jadi gak iklas udah traktir gue?" Ve menantang Dira untuk menjawab.
Pemuda itu tersenyum tipis. "Lo ikhlas gak, pacaran sama gue?" tanya Dira balik pada gadis itu yang masih terduduk.
"Gak akan!" Ve berdiri mensejajarkan tubuh pemuda tinggi itu.
Dira mengangguk mengerti, ia menengok kekiri, tangannya seketika menunjuk sesuatu yang dilihatnya. "Afgan tuh!"
Refleks, Ve yang kebetulan berdiri disamping kiri Dira, menengok cepat saat pemuda itu menyebutkan nama penyanyi idolanya ini. "Mana? Mana?" mata gadis itu terus mengarah pada arah telunjuk Dira.
Dira tertawa kecil menatap espresi Ve saat ini, gadis itu masih menengok kekiri, Dira menarik nafasnya panjang sebelum ia melakukan sesuatu yang mulai berputar dalam benaknya.
CUP!
Mata gadis itu terbelak, jantungnyapun seketika berdegub kencang saat pemuda itu mencium pipinya sekilas.
Bagaimana bisa?
Dira mendekatkan bibirnya pada telinga kanan Ve, berbisik. " Tapi gue ikhlas jadi pacar Lo!"
Pemuda itupun berlalu setelah berhasil membuat gadis itu kehilangan kendali.
"Cowok Idiot!" Hati kecil gadis itupun menjerit keras.
***
"Lo nyari buku apaan Ve?" Dira mendekat pada Ve yang sibuk mencari buku incarannya.
Keduanya terlihat tiba ditoko buku itu sekitar satujam yang lalu, tapi tetap saja gadis itu masih belum menemukan buku yang dicarinya.
Dira mendengus pelan saat gadis itu benar2 mengacuhkannya. " Udah satu jam kita disini Ve, gue pegal ngikutin lo nyari buku gini!"
"Ya udah, siapa suruh juga, lo kan bisa duduk!" Ve menunjuk kursi panjang yang terletak tepat disamping jendala. "Lo bisa duduk disana dulu, selama gue masih nyari!"
Gadis itu kembali fokus pada ribuan judul buku yang memenuhi rak didepannya.
"Okay, gue tunggu lo disana!" Pemuda itu melangkah pelan menjauh dari Ve yang tersenyum menatapnya.
Dira.. Dira.. Dan Dira..
Gadis ini tak akan pernah menyangka bahwa ia akan berhubungan lebih jauh dengan pemuda menyebalkan ini, Be his GirlFriend! DAMN!.
Dira.. Nama yang awalnya enggan untuk ia sebutkan tapi sekarang terasa begitu berarti untuknya.
Dira.. Pemuda yang awalnya begitu ia benci tapi kini begitu ia rindukan kehadirannya.
Dira.. pemuda yang mungkin memang tercipta hanya untuk dirinya seorang, sekarang dan selamanya.
Dira.. Dira.. Oh Dira!
***
Hari ini tak seperti biasa, kedua remaja yang awalnya selalu terlibat pertengkaran itu, seketika terlihhat bersama.
Beberapa jam, gadis itu lalui bersama Dira, dan sesaat ia merasakan hidupnya berubah, ternyata pemuda ini tak seburuk dan semenyebalkan yang dipikirkannya selama ini.
Dira kembali membonceng Ve, gadis yang baru saja menjadi kekasihnya itu, walau Ve menerimanya dengan terpaksa. Motor sport itu melaju kencang diantara ribuan kendaraan di jalan raya, sesekali terlihat gadis itu yang memeluk erat pinggang Dira karena takut. Pemuda itu tersenyum dalam balik helm yang dikenakannya.
suutt!!
Motor terhenti tepat didepan rumah sederhana, bergegas gadis itu turun. "Hmm!" ia menatap Dira yang sedang membuka helm dikepalanya, Ketampanan pemuda itupun seketika terlihhat jelas dalam sorotan mata Vega.
"Ur, Welcome!" Tampaknya Dira tau apa yangg ingin diutarakan gadis itu, ia tersenyum saat mendapati wajah bingung Ve.
"Emangnya gue mau bilang makasih!" Ve menepis lengan Dira yang masih terduduk dalam motor besar itu. "Sok tau!"
"Ya udah, kalau gitu gue balik deh!" Dira mencoba kembali memasangkan Helm, tapi dengan cepat gadis itu meraih paksa helm ditangan Dira.
"Lo gak mau masuk dulu?"
Dira sempat terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan gadis didepannya itu. "Serius?" tanyanya memastikan pada Ve yang mengangguk cepat. "Nanti lo bakal nawarin gue air hujan gak?"
Ve tertawa kecil mendengar pertanyaan pemuda itu, gadis itu menatap langit-langit sekilas, dan kembali menatap Dira yang masih menatapnya tajam. "Gak, lagian gak hujan."
Dira menarikk nafas lega, "Syukurlah!"
"Tapikan ada air got!" Ve berkata dengan nada menggoda membuat wajah Dira seketika ilfeel.
"Iyuhh!!"
Ve kembali tertawa kecil, sungguh wajah pemuda ini begitu lucu saat ia merasa ilfeel seperti sekarang. "Gimana? mau gak?" canda Ve sambil mengembalikan helm ditangannya pada Dira.
"Ogah!" Dira menatap helm yang telah berpindah ditangannya dan menaruhnya didepan. "Gue balik ajah!"
"Ya udah kalau itu mau lo, gue juga mau istirahat!" Ve menatap Dira yang mengangguk.
"Makasih!" Suaranya terdengar pelan, tapi dengan jelas Ve dapat mendengarnya.
"Untuk??"
"Gue yang udah traktir lo minum ice krim, gue yang udah nungguin lo nyari buku sampai dua jam lebih, dan gue yang udah mengantar lo pulang!"
Ve memukul lengan dira pelan. "Norak! segitu pinginnya lo dapat ucapan terimakasih dari gue!" gadis itu menatap Dira yang mengangguk cepat. "Berarti lo gak ikhlas."
"Becanda, Ve!" cowok itu mulai menjalankan mesin motornya. "Lo masuk dulu, baru gue balik!"
Ve mengangguk setuju, perlahan gadis itu mencoba menjauh dari Dira yang terus menatapnya.
"Ve!"
Gadis itu terhenti dan berbalik. "Yah!"
"Bye!" Dira melambaikan tangannya pada Ve yang mengangguk.
Gadis itupun kembali melangkah.
"Ve!"
Tapi untuk kali kedua, suara Dira memanggilnya membuat langkah gadis itu terhenti dan kembali berbalik. "Iya Dira?"
"See you Soon!" pemuda itu mulai mencoba memakai helm.
Ve tersenyum kecil. "See you soon!" Ia kembali melangkah, tapi lagi-lagi...
"Gadis Cinderella!"
Ia berbalikk menatap Dira yang telah siap mengenakan Helm. "Apa lagi, cowok idiot?"
"Gue Cinta Lo!"
BREEEMM!!!
Pemuda itupun berlalu begitu saja setelah mengatakan itu, Ve terdiam tak berkutik, tangan dan kakinya bergetar, jantungnyapun kembali berdegup kencang, seketika senyuman kecilpun terukir jelas dibibir merahnya.
"I love you Too, Cowok idiot!"
***
Divario... cowok itu berjalan pelan memasuki rumah megah itu, langkahnya terus menginjakk lapisan kramik putihh itu, hingga ia tiba di ruangmakan. Ia menatap Bi Mina yang sedang membenahi meja makan.
"Ayah mana?" pemuda itu menatap meja makan yg telah ditata, ia rasakan kepalanya yang sedikit pusing. pemuda itu meraih gelas dan mulai menuangkan air putih.
"Ayah kamu, masih harus mengurus beberapa surat rumah sakit."
Suara itu menjawab pertanyaan Dira, bukan dari mulut Bi Mina melainkan Sovia.
Wanita itu mendekat pada Dira yang terlihat meneguk air dalam gelas kaca itu, "Sebentar lagi juga kembali!"
Dira menghentikan minumnya, dan menatap tajam Sovia yang mencoba tersenyum tulus.
senyuman tulus itu, hanya membuat Dira semakin muak, ia tak suka dengan semua kelembutan yang dimiliki wanita ini, bagaimana bisa, bunda Dava, istri kedua ayahnya masih bersikap lembut dan penuh kasih dengan semua perlakuan kasar Dira selama ini.
Apa Wanita ini benar-benar malaikat yang tak ada rasa dendam sedikitpun? Mustahil!!
Dira menarik nafasnya pelan, ia tak tau apa lagi yang harus ia katakaan sekarang, ia mengalihkan pandangannyya saat wanita itu mencoba mengelus pundaknya.
"Kamu sudah Makan?" Sovia meraih gelas yang masih dipegang Dira, menaruhnya diatas meja dan kembali bicara. "Tante, buatin kamu bubur ketan!" Katanya ramah.
Espresi pemuda itu masih datar, dan mungkin akan selamanya datar bila berhadapan dengan wanita dihadapannya.
"Gak lapar!" Hanya jawaban itu yang mampu ia ucapkan.
Ia berusaha melangkah tanpa berniat menatap wajah Sovia yang menunduk sedih. Apakah ia terlalu kasar??
"Dira!" Wanita itu bersuara pelan, mendekat pada Dira yang seketika menghentikan langkahnya.
pemuda itu setengah menengok.
"Terimakasih!" suara wanita itu masih terdengar pelan, tapi terasa begitu tulus. Wanita itu tersenyum saat mendapati wajah bingung Dira.
"Terimakasih untuk apa?? Untuk penolakan gue akan bubur ketan itu atau tentang perlakuan kasar gue selama ini?" Suara hati pemuda tinggi itu bertanya.
"Tante tau, kamulah yang sudah menyumbangkan darah kamu untuk Dava, sekali lagi terimakasih!"
Deg!
Dira terdiam... bagaimana bisa wanita ini tau segalanya??
Ia menutup matanya saat senyuman tulus itu kembali dilihatnya, detik kemudian ia membuka matanya, ia tak lagi mendapati Sovia disampingnya, wanita itu berlalu mencoba memasuki ruang kerja sang ayah disamping tangga.
"Bagaimana keadaan Dava?"
entah apa yang merasukinya saat ini, seketika dengan begitu saja pertanyaan itu terlontar dari bibir tipis Dira.
Selama ini, ia tak peduli dan tak akan mau peduli bagaimanapun nasib saudara tirinya itu, tapi hari ini, ia merasa ada sedikit rasa khawatir yang merasukinya.. aneh dan sangat aneh!! Pemuda itupun menyadarinya.
Langkah Sovia terhenti, ia tersenyum tipis dan memutar tubuhnya, menatap anak tirinya itu yang menunduk dan menutup mata. "Berkat kamu, Dava akan baik-baik saja."
***
"Ve.. bangun Ve!"
Gadis itu membuka matanya perlahan, saat suara seseorang mengganggu tidurnya..
ia menyipitkan matanya, mencoba menerka pemuda yang saat ini berada tepat berdiri disamping ranjangnya. Pemuda itu tersenyum manis padanya.
"AAAA!"
Gadis itu meloncat kekiri, dan BUKK!!
Ia terjatuh dari ranjang seketika. "Lo ngapain di kamar gue?? Gimana bisa lo masuk??" Dua pertanyaan itupunn terlontar begitu saja dari bibir Ve.
"Evan!!" Gadis itu berteriak, meraih bantal didepannya dan melemparnya tepat kewajah pemuda itu yang tersenyum.
"Siapa suruh pintu gak lo kunci!" Evan terduduk dipinggir ranjang Ve, menatap sekeliling kamar gadis itu yang tertata sangat rapi.
"Oh yah, gue kesini mau ngajak lo jalan!" Evan beralih menatap Ve yang telah berdiri, gadis itu mengerutkan keningnya bingung. "Dava udah sadar, dan gue.."
"Dava sadar? lo serius?" Tanya gadis itu penuh semangat, memotong kalimat yang belum selesai Evan sampaikan.
Evan mengangguk cepat dan menarik nafasnya pelan. "Ya ilah semangat bener!"
Ve menggaruk tengkuknya salah tingkah. "Wajarlah, diakan sahabat gue."
"Ya udah sekarang lo mandi!" Evan melirik peln gadis itu yang mengenakan piyama tidur, seketika pemuda sederhana itupun menyunggingkan senyumnya.
"Kenapa lo?" tanya Ve penuh curiga dengan senyuman Evan yang menurutnya aneh.
"Gue kangen tidur bareng lo!" canda Evan mampu mmebuat Ve kembali meraih bantal didepannya dan dilemparnya cepat pada wajah mesum itu.
"EVAN!!!"
Evan dan Vega, keduanya terlihat mengintari koridor rumah sakit,ranjang buah-buahan tampak jelas tergelantung dijemari tangan Vega.
Semakin mendekat, hingga keduanya benar-benar tiba didepan kamar bertuliskan 23D.
"Dava!" Ve mengetuk pintu yang terbuka, matanya langsung menuju pada Dava yang terlihat duduk menyender pada ranjang rumah sakit.
Dengan senyum ramah Pemuda itu menyambut kedatangan keduanya. "Vega, Evan!" Pemuda itu menatap keduanya yang mendekat.
"Aku senang kamu udah sadar." Ve menaruh keranjang buah ditangannya diatas meja tepat disamping Ranjang Dava.
Dava tersenyum tipis mendengarnya.
"Gimana keadaan lo?" Evan mencoba memecah keheningan pagi ini.
Dava mengangguk pelan. "Udah mendingan."
"Gue tau Dav, lo kuat." Semangat yang dilontarkan Evan mampu membuat Dava tersenyum lebar.
Ia menatap sekeliling, matanya sibuk mencari satu sosok yang ia harapkan hadir menyapanya. Dira! Yah, sang adik!
"Dira mana?" Davaa menatap Evan yang masi berdiri disampinnya, sementara Vega telah terduduk dikursi samping Dava.
"Gak tau, dari pagi gue teleponin Handphonenya gak aktif!" Evan menatap keluar jendela, tapi seketika ia menatapa Vega saat gadis itu menanyakan sesuatu.
"Tapi Dira baik-baik ajah kan?" wajah Ve terlihat sedikit cemas, jujur gadis ini masih mengkhawatirkan Dira setelah kejadian kemarin.
Evan mengangguk pelan, Dava menatapnya tajam. "Apa jantungnya kumat lagi?" pertanyaan Dava membuat Ve dan Evan saling pandang, seketika keduanya menggeleng serentak.
"Enggak, tapi lo tau sendiri adik lo itu, suka telat minum obat." Evan mencoba menjawab pertanyaan Dava, ia tau Dava masih belum menyadari bahwa Dira telah menyumbangkan darahnya untuk Dava. Karena itu ia tak ingin Dava cemas akan keadaan Dira yang sebenarnya.
Malam kemarin, tepat jam duabelas malam, Dira sempat menelponnya, keduanyapun sempat berbicara cukup lama dalam jaringan komunikasi itu.
Evan: "Gimana keadaan lo?"
Dira:" Lumayan, cuma pusing dikit!"
Evan: "Obat udah lo minum?"
Dira: "Udah, tinggal matinya ajah belum."
Evan: (Tanpa suara.. hening)
Dira: "Becanda, terimakasih untuk semuanya."
Evan: "Lo kenapa?"
Dira:"Lo adalah sahabat terbaikk gue Van, sorrry kalau selama ini gue sering banget buat lo kesal dengan sikap egois dan manja gue."
Evan: (Diam... masih mendengarkan Dira yang masih bicara)
Dira:"Cuma lo yang peduli sama gue, yang care sama gue, padahal bokap gue[un gak seperhatian itu, lo emang the best."
Evan:" Lo kenapa?"
Dira: "Gue baik-baik ajah, sekarangpun gue lagi tersenyum, sayangnya lo gak bisa liat senyuman manis gue."
Evan: "Dira!"
Dira: "Disini gue ngerasa sendiri Van, gue ngerasa asing.. hati gue sakit setiap kali gue ngeliat mereka tertawa, sementara gue tersiksa, Ayah, bunda Dava dan Dava, mereka selalu ngumpul tiap malam diruang keluar tanpa gue, mereka tertawa, berbagi dan semua mereka lakukan tanpa gue."
Evan: "Dira!"
Dira: "Mungkin gue pergi itu lebih baik, toh mereka gak pernah anggap gue ada, Ayah, segitu susahnyakah gue minta tanda tangan dia buat operasi gue, dua bulan surat oeprasi gue diatas mejanya, tapi apa?? Ayah, sama sekali gak nyentuh surat itu sedetikpun,"
Evan: "Dira!"
Dira: "Tapi surat persetujuan dava ke Cipanas, cuma butuh waktu satu detik untuk bisa dapatin tanda tangan ayah, Seharang gue sadar bahwa Davalah segalanya, dan gue serta penyakit jantung gue gak ada arti apa-apa buat AYAH!"
Evan: "Dira dengerin gue!"
Dira:" Van, kalau gue pergi dan gak kembali, lo jangan pernah lupain gue yah!"
Evan: "Lo gak akan pergi, kalaupun lo pergi, gue yakin lo pasti akan kembali."
Dira (hening)
Evan: "Dira, lo bisa ceritain semuanya sama gue, kalau emang lo tersiksa tinggal satu atap sama mereka, pintu rumah gue selalu terbuka buat lo."
Dira: "Terimakasih. Gue sayang lo, CINCAU"
Evan: "Dira!!"
tutututu... sambungan terputus.
"Evan!" Sapaan Ve membuat Evan seketika membuyarkan lamunannya.
"Gue harus pergi!" Pemuda itu bergegas, membuat Ve dan Dava menatapnya tajam dan bingung.
"Lo mau kemana?" Pertanyaan Dava membuat langkah Evan terhenti, pemuda itu memutar badannya hingga berhadapan dengan Dava yang menatapnya tajam. "Dira, gue mau nyari dia!"
***
Evan terduduk lemas didepan pintu rumah Dira, baru saja pemuda itu mendapat kabar dari bi.Mina, bahwa Dira keluar rumah dari subuh tadi, itu berarti pemuda itu benar-benar pergi setelah menelponnya.
Evan mendongakkan wajahnya, menatap langit-langit, awan tampak berkumpul jadi satu, "Dira, lo dimana?" ia menutup matanya, mencoba mencari cara agar ia tau dimana keberadaan sang sahabat.
Ia merai handpone ditangannya, ia tersenyum saat mengingat handphone itu adalah hadiah Dira untuknya, Yah! sejak awal persahabatan mereka, Dira selalu saja menghujani Evan, yang mulanya hidup sederhana dengan barang-barang mahal. dan handphone ini adalah salah satunya.
"Buat GUE Dir?" Evan menatap tak percaya Dira yang mengangguk.
"Biar gue bisa hubungin lo tiap saat, tenang pulsa gue isiin tiap hari."
kenangan itu kembali diingatnya, satu yang paling membuat Evan betah berlama-lama bersahabat dengan Dira, bukan karena harta yang dimiliki pemuda itu, tapi kesetiakkawanan Dira yang mungkin tidak dapat dibeli dengan apapun.
Pernah atau bahkan sering, Evan mencoba menjauh dan berteman dengan siswa lain, tapi Dira, pemuda itu tetap menunggunya untuk kembali, Dira, pemuda yang sering gonta-ganti pacar tapi untuk sahabat,tetap satu.. EVAN!
"Gue emang sering gonta-ganti pacar, gadis yang jalan sama gue bukan cuma satu atau dua, tapi ribuan, setiap hari gue selalu kepikiran buat ganti pacar, tapi asal lo tau Van, dalam hati gue, sedetikpun, gue gak pernah kepikiran untuk ganti sahabat, pacar gue banyak, teman gue banyak, musuh gue APALAGI, tapi.. sahabat gue satu dan akan tetap satu.. yaitu Elo.. Evan, Cincau!" DIRA.
Evan menutup matanya pelan, dadanya sesak saat kenangann bersama Dira terliang dalam benaknya. "Kembali Dira, Gue mohon!"
***
Dava dan Vega.. kedua terlihat asik berbincang-bincang ditaman rumah sakit. Dava terduduk dikursi roda sementaara Ve terduduk dikursi pnjang taman tepat disamping pemuda itu.sambil menikmati segelas teh susu, keduanya memulai pembicaraan.
"Dava!" Sapaan lembut gadis itu, membuat Dava seketika menengok kekiri. "Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu!"
"Tentang perasaanmu pada Dira."
Ve terdiam, mendengar tebakan pemudaa itu yang begitu tepat. "Bagaimana bisa??"
Dava tersenyum tipis, ia beralih menatap kedepan, memutar gelas ditangannya perlahan. "Aku tau, kau menyukainya!, bukankah begitu?"
Ve terdiam sejenak, sebelum akhirnya sebuah anggukan pelan menyertai. "YAH, ternyata kau benar, terlalu membenci seseorang adalah satu kesalahan, karena itu akan berakibat kau akan mencintai orang itu."
"Benci dan cinta itu hanya beda tipis."
Ve menatap Dava, pandangan pemuda itu masih lurus kedepan. ia menaarik nafasnya panjang, menaruh gelas disampingnya dan berusaha berucap. "Maaf!"
Dava menatap Ve cepat. "Untuk cintaku yang tak kau balas?" pemuda itu berusahaa tersenyum, walau sebenarnya hatinya sedikit merasa getaran berbeda.
Ve kembali terdiam, menatap pelan Dava yang kini membelai rambutnya lembut. Pemuda ini begitu tulus menyayanginya, ia yakin hidupnya akan bahagia bila bersanding dengan oemuda sebaik Dava.tapi ia sadar, hatinya telah memilih, dan ia pun tak pernah menyangka bahwa hatinya justru berlabuh pada pemuda menyebalkan bernama Dira.cinta memang terkadang sulit untuk dimengerti.
"Cinta itu tak harus saling memiliki bukan?"
Ve mengangguk.
"Asal kau tetap disampingku, itu sudah lebih dari cukup." Dava kembali tersenyum. "Kau tetap sahabatku?"
"Yah!, Selamanya!"
Dava tak bisa melakukan banyak hal, ingin rasanya ia mempertahankan cintanya untuk Ve, berusaha mempertahankannya dari Dira yang mulai berusaha merebutnya.membuktikan pada gadis ini bahwa cintanya benar-benar tulus dan suci.Tapi ia sadar, tak ada cinta yang mampu dipaksakan.hatinya menciut saat ia menyadari bahwa cinta gadis itu bukan untuknya.Hatinya gelisah saat mengetahui rindu gadis itu bukan miliknya.tapi Dira.. adik tirinyalah yang telah menguasai seluruh pikiran gadis itu.cintanyapun telah memilih. dann pilihan itu jatuh bukan pada dirinya melainkan Dira, Adiknya.Ketika cinta benar-benar harus mengalah.. mungkin itulah yang dilakukan Dava sekarang.mengalah demi kedua orang yang dicintainya.. Dira sang adik dan juga Ve cintanya.
***
Evan....pemuda itu terlihat lemas mendekati rumah sederhana peninggalan sang ayah.. Sudah seharian ini ia mencari keberadaan Dira, tapi tetap saja hasilnya nihil.berulangkali pemuda itu menghubungi ponsel Dira, tapi tetap saja tak ada jawaban.
Ia putus asa, dan memutuskan kembali pulang, menjatuhkan tubuhnya terduduk dilantai teras rumahnya tak bersemangat."Lo dimana Dir?"
Tak beberapa lama muncul sang adik dari balik pintu, menghampiri sang kakak dan berdiri disampingnya."Kakak ngapain duduk disini?, kak Dila udah nungguin kakak Dali tadi?"
Suara sang adik membuatnya berdiri, matanya membesar seketika. "APA?? DIRA??"
Evi mengangguk pelan. "Ia,, kak Dila ada dikamal kakak sekalang!"
Tanpa banyak kata, pemuda itu berlalu cepat memasuki rumah,, langkahnya terhenti ketika ia tiba didepan pintu kamarnya.Matanya membesar saat mendapati apa yang dilihatnya sekarang.Dira, terlihat asik menyender pada ranjang Evan, dengan senyum Dira menyambut kedatangannya.
"Lama amat, gue udah nungguin lo dari tadi, Cincau!" Dira mengubah posisinya menjadi terduduk diujung ranjang milik Evan.
Evan menatapnya tajam. "Lo darimana?"
"Sini duduk! gue bawain makanan kesukaan lo plus buahh segar buat tubuh lo biar makin segar dan berisi."
"Lo Darimana?" Tanya Evan ulang.
"Ada apel sama Jeruk!" Dira mengangkat dua buah beda warna itu sambil menyodorkannya pada Evan yang mendekat. "Ada martabak sama soto ayam, Pizza, hamburger, sate, batagor!" pemuda itupun mulai mengabsen makanan yang telah memenuhi ruangan sempit itu. "Es alpukat, sama es campur, trus..."
"LO DARIMANA?" Suara keras dan bentakan Evan mampu membuat pemuda itu terkejut.
Diraa menatap pelan Evan yang tajam menatapnya, kemudian ia tersenyum tipis. "Jalan-jalan cari angin." jawabnya enteng.
"Kenapa telepon gue gak lo angkat?"
"Ketinggalan dikamar."
Evan menarik nafasnya pelan, berbicara dengan dira memang butuh estra kesabaran. Ia terduduk disamping Dira yang sedang asik dengan buah apel ditangannya.Seketika pandangannya tertuju pada sebuah goresan dikening sahabatnya, dengan darah yang telah membeku. "Kening lo kenapa?"
Dira hanya menjawabnya dengan senyuman.
"Dira! lo habis berkelahi?" Tanya Evan tegas. ia meraih apel dari tangan pemuda itu dan menaruhnya bergabung dengan buah-buahan lainnya. "Jawab gue!"
"Cukup Van!" Dira berdiri dan menatap tajam Evan yang masih terduduk. "Gue muak dengan siap baik lo!, Lo cuma sahabat gue, kalaupun gue mati, kita gak ada ikatan darah!"
Evan terdiam menatap pelan Dira yang membelakanginya.
Dira kembali bicara. "Lo cuma sahabat gue, lo bukan ayah gue ataupun keluarga gue Van." Dira menarik nafasnya pelan. "Mereka ajah gak peduli sama gue, seharian ini gue diluar rumah, tapi apa? gakk ada satupun yang hubungin atau nyari gue" Dira meraih ponsel dari saku celananya, pemuda itu berbalik dan menyodorkan pnsel itu pada Evan yang langsung meraihnya.
"Lo liat, panggilan tak terjawab disana!"
Perintah Dira membuat Evan menatap panggilan tak terjawab dalam ponsel milik Dira. "Tigapuluhtujuh?"
Dira tertawa kecil. "Dan sekarang lo liat nama yang tertera disana!"
Evanpun segera membaca nama yang tertera disana. "Cincau?" Evan menatap Dira tak mengerti.
Dira kembali terduduk disampingnya. "Mungkin kalau ada yang lihat panggilan tak terjawab dihandphone gue yang lebih dari tigapuluhh, mereka akan berfikir kalau banyak orang yang khawatir sama gue, tigapuluhtujuh Van, itu gak dikit, setiap detik ponnsel gue berbunyi, cukup sempurna bukan?. Tapi mereka salah, mereka justru akan tertawa dan mencemooh gue kalau mereka tau ternyata dari tigapuluhtujuh panggilan tak terjawab itu,cuma datang dari satu nama. ELO!"
Evan menatap teduh Dira yang mencoba tersenyum, keduamata sahabatnya itu mulai berkaca-kaca.
"Cuma lo Van yang peduli sama gue, Ayah guepun gak pernah khawatir akan kesehatan gue, gue mati mungkin itu lebih baik."
"Dira! lo gak bole bicara seperti itu." Evan mencoba menenangkan. "Orangtua mana yang gak sayang sama anaknya?"
"Ayahh!" Jawaban Dira membuat Evan menggeleng.
"Dia sayang sama lo Dir, tapi mungkin dengan cara yang salah."
Dira terdiam, tak ada kata yang akelura dari bibirnya, diraihnya apel didepanya dan digigitnya cepat.
"Sekarang cerita sama gue, Lo darimana?? dan apa yang terjadi sama kening lo?" Evan menatap tajam Dira yang asik mengunyah apel dalam mulutnya.
Pemuda itupun tersenyum tipis dan menjawab. "Ngebunuh Curut sok suci itu!"
"Keanes??"
Tigajamsebelumnya...tepatnya dikediaman Keanes...
"Kean... keluar LO, JANGAN JADI PENGECUT!" Teriakan Dira mampu membuat seisi rumah itu keluar seketika, tak terkeculi Keanes.
Musuh bebuyutan Dira sejak awal masuk Sma itupun tersenyum pelan sambil berjalan mendekati Dira yang geram menatapnya."Welcome to my House, Divario!"
Dira menatap geram Kean yang telah berdiri didepannya,ia mengepalkan tangannya penuh emosi.
"Masuk! Pintu rumah gue selalu terbuka buat lo!" Kean kembali menampakkan senyum sinisnya dan berusaha merangkul lengan Dira.
dengan cepat Dira menepisnya dan...Bughh!!!
Dira menonjok tepat wajah Kean, Hingga pemuda itu terjatuh seketika. "B*NGS*T!! MASALAH LO SAMA GUE, BUKAN DAVA!"Ia membungkukkan badannya dan mencengram paksa kerah kemeja Kean yang tersenyum tipis.Kembali Dira menonjok wajah Kean berulang kali.. lagi..lagi dan lagi..
"Hentikan Dia!" Terdengar suara ayah Kean yang menyuruh beberapa penjaga untuk menghentikan aksi Dira yang mungkin dapat mencelakai anak lelakinya.
Tiga penjaga bertubuh besar seketika menghampiri Dira dan menarik paksa kedua lengan Dira menjauh dari Kean yang terduduk lemas. darah dalam bibir dan beberapa bagian wajahnya mengalir cepat.
Dira berusaha melepas cengkraman dua penjaga yang masing-masing mencengram lengannya keras. "Lepasin gue!" Erangnya berulang kali..
Dira berusaha mengelak kedua lengannya keras, tapi sayang cengkraman dua penjaga itu begitu keras.
Satu penjaga dengan tubuh tinggi dan otot yang cukup besar berdiri didepan Dira, dengan cepat penjaga itupun melayangkan hantaman pada tubuh pemuda itu.
Satu, dua Tiga, ia tak mampu berontak, kedua lengannya masih dalam cengkraman penjaga suruhan ayah Kean, ia merasa letih dan tak lagi kuat untuk menahan sakit, terlebih saat penjaga itu meghantam teoat jantungnya.
Lemas... seketika tubuh pemuda itu melemas, melihat keadaan itupun Kean langsung berseru.
"Lepaskan Dia!" Kean berusaha berdiri, "LEPASKAN DIA!" Teriaknya lagi saat mereka masih memukuli tubuh Dira.
Penjaga bertubuh paling besar itu segera menghentikan pukulannya, diikuti oleh dua penjaga lainnya yang melepas cengraman lengannya.
Bugh!!
seketika itupula.. Dira terjatuh dan pingsan!!!
***
"Udah gitu doang!" Evan meraih jeruk didepannya dan mengupasnya, menatap tajam Dira yang menggeleng.
"Belum cincau, masih ada lanjutannya!"
Evan mengangguk pelan sambil kembali mendengarkan Dira yang kembali bercerita.
***
Duajamsebelumnya...
Dira membuka matanya perlahan, dirasakan kepala dan seluruh badannya yang seakan terasa retak.
Ia yang saat itu sedang terbaring, seakan terkejut saat mendapati sedang dimana ia sekarang.
Kamar Kean???
Ia hafal betul suasana kamar Kean yang sama sekali tak pernah berubah, masih berantakan dan tak terurus.
Ia mengurut keningnya pelan dan mengubah posisinya menjadi duduk, senyuman tipis terukir diwajahnya saat sebuah figura foto Kean kecil dipandangnya. "Tolol!" ia berseru pelan.
"Kamu udah sadar?"
Suara lembut seseorang membuyarkan lamunannya.
Dira menengok kekanan, matanya menangkap cepat sosok gadis manis yang berdiri diujung pintu, "Nhia??"
Gadis itu tersenyum dan melangkah mendekat pada Dira yang menatapnya tak percaya, "Mia." Ralatnya sambil terduduk disamping Dira.
Dira tersenyum tipis, ia baru ingat gadis ini, gadis yang selalu membekali Dira sarapan tak lain adalah adiik kadung Kean, musuhnya.
"Aku buatin kamu bubur," Gadis itu menaruh mangkok bubur yang dibawanyaa dalam pangkuan, Dira tersenyum tipis (lagi) saat gadis itu mencoba menyuapinya.
"Maaf atas perlakuan kak Kean sama kamu!" Gadis itu berkata pelan sembari terus menyuapi Dira yang mengangguk.
"Seharusnya gue yang minta maaf, udah buat suasana rumah lo kacau!" Dira menelan bubur dalam mulutnya sembari tertawa kecil. "Tapi emang dari dulu gue sama kakak lo gak pernah akur."
"Aku tau." Mia berhenti menyuapi Dira dan berganti menyodorkannya segelas airputih yang tersedia diatas meja.
Dira meraihnya cepat dan meneguknya. "Thanks!" Ia mengembalikan gelas itu pada Mia yang langsung meraih dan kembali menaruhnya diatas meja.
"Kalau lo udah sadar, lo bisa pulang sekarang!"
Suara Kean seketika menggema dalam pendengaran pemuda itu.
"Kakak!" Mia berdiri setelah menaruh mangkuk diatas meja, matanya menatap tajam Kean yang berdiri didepan pintu.
"Mendingan sekarang lo pulang, sebelum bokap gue ngelaporin lo sama polisi?" Ancam Kean serius.
Dira tersenyum tanpa takut sedikitpun, pemuda itu kemudian bangun dan berdiri disamping Mia, Ia kemudian berbisik pelan pada gadis disampingnya. "Boleh! gue bunuh kakak lo?"
Bolamata Mia membesar saat mendengar perkataan Dira itu, ia menatap Dira pelan dan beralih menatap sang kakak yang geram menatap wajah Dira.
"Becanda!" Dira mengelus pelan rambut hitam Mia dan tersenyum. "Makasih untuk semuanya!" Ia melangkahkan kakinya setelah Mia mengangguk pelan, berjalan mendekat pada Kean yang masih menatapnya penuh dendam.
Langkah Dira terhenti ketika tiba disamping Kean yang berseru pelan. "Pertarungan kita belum berakhir Dira, gue akan buat perhitungan lebih sama lo!"
Dira hanya mengangguk pelan mendengarnya, "Gue terima!" tantangnya balik sambil menampakkan senyum sinisnya. pemuda itupun kembali melangkah menjauhi rumah Kean dan Mia.
***
"NAH Begitu ceritanya!" Dira berdiri dan menatap keluar jendela.. mendung.
Evan menarik nafas lega. "Untunglah! jadi intinya lo gak bener-bener bunuh Kean!"
"Enggak sekarang, tapi nanti." Dira berbalik menatap Evan yang menggeleng.
"Lo jangan gila! lo mau masuk penjara?"
Dira membungkukkan sedikit badannya, meraih sebuah kotak yang ditarunya disela-sela ranjang Evan. "Udahlah, ganti topik, Muak gue ngomongin Kean!" Dira menyodorkan kotak bersegi itu pada Evan yang seketikaa mengerutkan kening bingung. "Buat lo!" Ia menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum.
"Apaan nih? Bom?"
"Bukan nuklir." Jawab Dira asal. "Gue pergi dulu, masih ada urusan bentar!"
"Lo mau kemana?" Evan menaruh kotak itu disampingnya sambil menatap Dira yang meraih jaket disudut pintu dan memakainya. "Jangan buat ulah yang macam-macam Lo!"
Dira mengangguk cepat. "Gak akan, tenang ajah, gue mau ngedate sama Gadis cinderella!"
CONTINUE ^^
"Ve?" Evan menatap Dira yang kembali menampakkan wajah evilnya.
"Yeps! Gue udah nyiapin sesuatu yang spesial buat Dia!"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar