Facebook Badge

Selasa, 09 April 2013

"Forever, I''M Yours!" #PART1


                "Perkenalkan,nama saya Melodi Alfard Raditya,"
Perkenalan singkat itulah yang membuat hatiku mulai merasakan getaran aneh.
Mata ini tak pernah lepas menatap cowo tinggi, putih, dgn alis y hampir menyatu dan bermata elang, y sedang berdiri didepan kelas.
Murid baru? Yah Alfar atau Melody adalah murid baru dikelasku, ia masuk ditengah semester seperti sekarang.
Oh tuhan, ia begitu tampan dan wibawa.

"Ka..karla," Imah y duduk dibelakangku menarik rambutku pelan, aku menengok kebelakang menatapnya.
"ganteng yah, i'm falling love nich," imah berkata alay membuatku menjitak kepalanya gemas.
"Alay," aku kembali fokus kedepan, imel tlah menganggu kosentrasi untuk cowo tinggi itu.
Ia tak lagi disana, didepan kelas tak ada siapapun terkecuali bu. Dina y mulai menerangkan pelajaran.
Dimana cowo tampan nan Rupawan itu?

"Apa kau y bernama Karla?" pertanyaan seseorang membuatku menatap kearah suara ngebash itu berasal.
Astaga Dia Alfar, Alfar berbicara padaku, tuhan jangan katakan kalau ini hanya Mimpi..

"Kar.. Karla," Imah kembali menarik Rambutku, tapi kali ini tarikannya cukup kencang.
"apa?" tanyaku kesal pada imah y memainkan matanya menunjuk Alfar y berdiri disamping mejaku.
Aku menatap Alfar y tersenyum, "manis banget nich cowo," kataku dalam hati.
"Lo Karla?" tanyanya memastikan, aku mengangguk cepat.
"Wanita itu," Alfar menunjuk bu.Dina dan melanjutkan perkataannya. "nyuruh gue duduk bareng Lo, maksud gue duduk satu bangku sama Lo, bukan bukan maksud gue duduk disamping Lo," ia terlihat kesulitan merangkai kata y ingin diucapkan, aku hanya tertawa kecil mendengarnya.
Aku meraih tasku y slalu aku letakkan dibangku sampingku yg memang kosong "Duduk Mel," suruhku sambil meletakkan tasku dibelakang bangku.
Ia mengkerutkan keningnya dan duduk, "cukup panggil gue Alfar," katanya Ramah.
Itulah awal pertemuan dan perkenalanku dgn Alfar, cowo y mungkin mulai aku cintai.

**
Sepanjang pelajaran,tak byk yg kami obrolkan, sesekali ia bertanya padaku tentang sesuatu yang belum ia mengerti, walau grogi aku berusaha menjawabnya dgn tenang.
Hingga bel istirahatpun, berbunyi.
Beberapa murid keluar kelas.
Alfar berdiri sambil merentangkan tangannya, "hufh, akhirnya."

Imah berjalan kearahku dan mengulurkan tangannya pada Alfar, "gue Imah, salam kenal,"
"gue Alfar," balasnya ramah dgn senyum khasnya.
Imah tak lepas menatap Alfar y tersenyum pada beberapa siswi y menyapanya.

"KARLAA.." teriak seseorang dari balik pintu.
Aku menarik nafas panjang, aku sangat mengenali suara serak itu.
Tria Kharisma , salah satu cowo populer dikelasku, tubuhnya tak begitu tinggi, tapi ia begitu jago ngedance, dan wajahnya cukup imut dgn barisan gigi putihnya.

Aku menatapnya enggan y berjalan kearahku, imah kembali ketempat duduknya beralih dgn Tria berdiri disampingku.
"Tria, ada apa?"
Tanyaku padanya y mulai menampakkan wajah genitnya.
"Ini buat Lo," ia memberikan sebuah kotak kecil yg baru diraihnya dari saku seragam putihnya.
Aku meraihnya enggan.
Tria mendekatkan bibirnya pada telinga kananku, dgn pelan ia membisikkan sesuatu " I Love You."
Aku menatap Alfar y menatap tajam Tria, Tria menjauhkan wajahnya dan menatap tajam Alfar balik.
"murid baru?" tanyanya pada alfar y mengangguk.
Triapun mulai mengenalkan dirinya, "gue Tria, pacarnya Karla."

Aku menarik tangan Tria, menjauh dari Alfard keluar kelas.
Bagaimana bisa, Tria berkata bahwa aku adalah pacarnya, terlebih didepan Alfard, cowo y aku sukai.
Aku tau Tria memang menyukaiku dari dulu, tapi aku tak ada rasa sedikitpun padanya, terkecuali hanya sebagai sahabat, tidak lebih.
Kami berdiri didepan pintu kelas. Tangan kananku masih menggenggam tangannya, sementara tangan kiriku mendekap erat kotak kecil pemberiannya.
"Tria, kenapa lo bilang, gue ini pacar lo," aku melepas pegangan tanganku, menatapnya kesal yg tersenyum. "Gue bukan pacar lo, Tria."
"kenapa lo marah?" tanyanya sambil menyenderkan tubuhnya pada jendela kelas.
Aku terdiam menatapnya y tak henti2nya tersenyum.
Tria memasukkan kedua tangannya pada saku celana abu2nya.
Aku hanya memainkan kesal kotak kecil ditanganku.
Sesaat aku menatap Alfar y keluar kelas bersama beberapa anak futsall, aku menatapnya pelan.
Tria menekuk kaki kanannya menempel pada tembok, "Lo suka dia?" tanyanya membuat gue menatapnya tajam.
"tentu saja, gue suka dia, dia itu tampan, tinggi, atletis, cewe mana y ga suka sama dia," jawabku penuh semangat, Tria menurunkan kaki kanan'a dan mendekatiku.
"Bagaimana dgn gue, gue juga ganteng, tinggi atletis lagi," ucapan Tria itu membuatku tertawa lepas.
"haha, are you kidding me, Tria Kharisma ?"
Tria mengkernitkan keningnya bingung, aku lanjut bicara, "ganteng,tinggi, atletis darimana coba,lo gak punya kaca huh," tawaku masih terdengar, Tria mulai menampakkan wajah kesalnya.
"teruslah tertawa, sebelum tertawa itu dilarang," bentaknya dan berlalu pergi.
Aku hanya tersenyum tipis menatap punggung cowok dancer itu yg semakin menjauh.

***
Aku terus mencorat_coret belakang buku catatanku. Itulah yg selalu lakukan saat aku sedang merasa bosan.
"Buat lo," seseorang menyodorkanku sebuah coklat mini, aku menatapnya tak percaya.
"Alfar," senyumpun terurai dari bibirku untuknya.
Aku meraihnya pelan, ia tersenyum tipis dan terduduk. Aku menutup buku catatanku dan menatap coklat pemberiannya.
"Waktu gue beli makanan dikantin, kembaliannya kurang, dan coklat itu sebagai gantinya,berhubung gue gak suka coklat, jadi gue kasih lo," jelasnya panjang lebar, aku hanya mengangguk pelan.
"terimakasih," aku menatapnya y kembali tersenyum.
Alfar mengambil sebuah buku dari tasnya dan mulai menyalin soal dipapan tulis.
Aku menarik nafasku pelan, dan membuangnya berlahan, "Tria bukan pacarku," tuturku pelan dgn bibir y tiba2 bergetar.
Alfar menghentikan tulisannya, menatapku pelan dan tersenyum, "gue tau."

**
Pulang sekolah semua murid berhamburan keluar kelas.
Tampak Alfar berjalan santai melewati ruang perpustakaan. Langkahnya begitu ringan dgn hadset dikedua telinganya, tangannya ia biarkan bermain2 disaku celananya, sesekali kepalanya ia goyangkan mengikuti irama musik y sedang didengarkannya.
Tanpa ia sadari, sedari tadi seseorang mengikutinya dari belakang.
Cowo tinggi itu berbelok, tapi seseorang menarik tangannya paksa dan mendorongnya hingga menempel pada dinding.
Alfar menatap tajam Tria y tlah berdiri didepannya, senyumpun tercipta dari bibir merah muda Alfar,berlahan ia membuka hadseat ditelinganya, dan ia biarkan bergelantung dilehernya.
"Lo Triakan?" Tanyanya berpura2, sebenarnya ia hafal betul wajah seseorang y tlah mengaku sebagai kekasih Karla.
Tria tersenyum tipis, tangannya mengusap kerah seragam putih Alfar, "Lo cuma anak baru, gue gak mau lo dekat2 Karla,"
Kata2 Tria membuat Alfar menaikkan kedua alisnya menantang.
"kenapa, bukankah Lo bukan pacar Karla."
Tria mengepalkan tangannya kesal.
Cowo ini benar2 membuat kesabarannya habis, tapi ia mencoba menahannya.
Alfar kembali bicara, berganti ia y kini berpura2 menghapus noda pada kerah putih Tria, "gue rasa Karla ga pernah suka sama lo, justru rasanya dia mulai menyukai gue," ujarnya dgn senyum kemenangan.
Kepalan tangan Tria semakin keras, urat tangannyapun mulai terliat, "udah lama gue gak bunuh orang," bisiknya dalam hati dgn pandangan penuh kebencian.
Alfar tak henti2nya tersenyum penuh kemenangan, "sebaiknya lo mengalah, Karla cuma milik gue seorang," Tekan Alfar sambil menepuk punggung Tria.
Tria tersenyum sinis, "Yakin cuma lo yg ada dihati dia, jangan munafik lo," Triapun melangkah setelah kata itu ia ucapkan, tapi langkahnya terhenti ketika sebuah pernyataan keluar dari bibir Alfard.
"Gimana kalau kita taruhan, yg bisa dapatin hati Karla, dialah pemenangnya."
Tria membalikkan badannya menatap tajam Alfar y berdiri tak jauh darinya.
Tak ada jawaban dari bibir cowo itu.
"kalau lo gak mau, berarti lo takut, Bekbekbek," Alfar menirukan gaya suara bebek membuat Tria semakin emosi.
Tria mendekati Alfar y mencoba memasang hadseat ditelinga kanannya, "cinta bukan sebuah taruhan." Tria menyakinkan membuat alfar tersenyum.
"Bek..bek..bek," cowo itu kembali menyerukan suara bebek.
Tria mengepalkan tangannya kesal, matanya mulai memerah penuh amarah.
"Oke gue terima tantangan lo," Tria berkata dgn suara seraknya.
Alfar menampakkan wajah tenangnya, ia tak merasa takut sedikitpun dgn taruhan y ia ajukan, karena ia yakin karla pasti akan memilihnya.
Tria menarik paksa hadseat ditelinga kanan Alfar, "Trus taruhannya apa, y kalah harus menjadi budak selama satu bulan penuh," Alfar menggeleng mendengar tawaran Tria.
"itu Biasa,"
Alfar meraih iPhone y baru diraihnya disaku seragamnya dan mematikan musik y masih menyala.
Tria menatap Alfar tajam y terlihat begitu santai, Triapun terdiam tak percaya mendengar tantangan balik Alfar padanya.

" Yang kalah harus bunuh diri didepan yang menang dan juga didepan karla, intinya Yang kalah harus M.A.T.I."


CONTINUE **

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Online Now Icons