"Perkenalkan,nama
saya Melodi Alfard Raditya,"
Perkenalan singkat itulah yang membuat hatiku mulai
merasakan getaran aneh.
Mata ini tak pernah lepas menatap cowo tinggi, putih, dgn
alis y hampir menyatu dan bermata elang, y sedang berdiri didepan kelas.
Murid baru? Yah Alfar atau Melody adalah murid baru
dikelasku, ia masuk ditengah semester seperti sekarang.
Oh tuhan, ia begitu tampan dan wibawa.
"Ka..karla," Imah y duduk dibelakangku menarik
rambutku pelan, aku menengok kebelakang menatapnya.
"ganteng yah, i'm falling love nich," imah
berkata alay membuatku menjitak kepalanya gemas.
"Alay," aku kembali fokus kedepan, imel tlah
menganggu kosentrasi untuk cowo tinggi itu.
Ia tak lagi disana, didepan kelas tak ada siapapun
terkecuali bu. Dina y mulai menerangkan pelajaran.
Dimana cowo tampan nan Rupawan itu?
"Apa kau y bernama Karla?" pertanyaan seseorang
membuatku menatap kearah suara ngebash itu berasal.
Astaga Dia Alfar, Alfar berbicara padaku, tuhan jangan
katakan kalau ini hanya Mimpi..
"Kar.. Karla," Imah kembali menarik Rambutku,
tapi kali ini tarikannya cukup kencang.
"apa?" tanyaku kesal pada imah y memainkan
matanya menunjuk Alfar y berdiri disamping mejaku.
Aku menatap Alfar y tersenyum, "manis banget nich
cowo," kataku dalam hati.
"Lo Karla?" tanyanya memastikan, aku mengangguk
cepat.
"Wanita itu," Alfar menunjuk bu.Dina dan
melanjutkan perkataannya. "nyuruh gue duduk bareng Lo, maksud gue duduk
satu bangku sama Lo, bukan bukan maksud gue duduk disamping Lo," ia
terlihat kesulitan merangkai kata y ingin diucapkan, aku hanya tertawa kecil
mendengarnya.
Aku meraih tasku y slalu aku letakkan dibangku sampingku
yg memang kosong "Duduk Mel," suruhku sambil meletakkan tasku
dibelakang bangku.
Ia mengkerutkan keningnya dan duduk, "cukup panggil
gue Alfar," katanya Ramah.
Itulah awal pertemuan dan perkenalanku dgn Alfar, cowo y
mungkin mulai aku cintai.
**
Sepanjang pelajaran,tak byk yg kami obrolkan, sesekali ia
bertanya padaku tentang sesuatu yang belum ia mengerti, walau grogi aku
berusaha menjawabnya dgn tenang.
Hingga bel istirahatpun, berbunyi.
Beberapa murid keluar kelas.
Alfar berdiri sambil merentangkan tangannya, "hufh,
akhirnya."
Imah berjalan kearahku dan mengulurkan tangannya pada
Alfar, "gue Imah, salam kenal,"
"gue Alfar," balasnya ramah dgn senyum khasnya.
Imah tak lepas menatap Alfar y tersenyum pada beberapa
siswi y menyapanya.
"KARLAA.." teriak seseorang dari balik pintu.
Aku menarik nafas panjang, aku sangat mengenali suara
serak itu.
Tria Kharisma , salah satu cowo populer dikelasku,
tubuhnya tak begitu tinggi, tapi ia begitu jago ngedance, dan wajahnya cukup imut
dgn barisan gigi putihnya.
Aku menatapnya enggan y berjalan kearahku, imah kembali
ketempat duduknya beralih dgn Tria berdiri disampingku.
"Tria, ada apa?"
Tanyaku padanya y mulai menampakkan wajah genitnya.
"Ini buat Lo," ia memberikan sebuah kotak kecil
yg baru diraihnya dari saku seragam putihnya.
Aku meraihnya enggan.
Tria mendekatkan bibirnya pada telinga kananku, dgn pelan
ia membisikkan sesuatu " I Love You."
Aku menatap Alfar y menatap tajam Tria, Tria menjauhkan
wajahnya dan menatap tajam Alfar balik.
"murid baru?" tanyanya pada alfar y mengangguk.
Triapun mulai mengenalkan dirinya, "gue Tria,
pacarnya Karla."
Aku menarik tangan Tria, menjauh dari Alfard keluar
kelas.
Bagaimana bisa, Tria berkata bahwa aku adalah pacarnya,
terlebih didepan Alfard, cowo y aku sukai.
Aku tau Tria memang menyukaiku dari dulu, tapi aku tak
ada rasa sedikitpun padanya, terkecuali hanya sebagai sahabat, tidak lebih.
Kami berdiri didepan pintu kelas. Tangan kananku masih
menggenggam tangannya, sementara tangan kiriku mendekap erat kotak kecil
pemberiannya.
"Tria, kenapa lo bilang, gue ini pacar lo," aku
melepas pegangan tanganku, menatapnya kesal yg tersenyum. "Gue bukan pacar
lo, Tria."
"kenapa lo marah?" tanyanya sambil menyenderkan
tubuhnya pada jendela kelas.
Aku terdiam menatapnya y tak henti2nya tersenyum.
Tria memasukkan kedua tangannya pada saku celana abu2nya.
Aku hanya memainkan kesal kotak kecil ditanganku.
Sesaat aku menatap Alfar y keluar kelas bersama beberapa
anak futsall, aku menatapnya pelan.
Tria menekuk kaki kanannya menempel pada tembok, "Lo
suka dia?" tanyanya membuat gue menatapnya tajam.
"tentu saja, gue suka dia, dia itu tampan, tinggi,
atletis, cewe mana y ga suka sama dia," jawabku penuh semangat, Tria
menurunkan kaki kanan'a dan mendekatiku.
"Bagaimana dgn gue, gue juga ganteng, tinggi atletis
lagi," ucapan Tria itu membuatku tertawa lepas.
"haha, are you kidding me, Tria Kharisma ?"
Tria mengkernitkan keningnya bingung, aku lanjut bicara,
"ganteng,tinggi, atletis darimana coba,lo gak punya kaca huh," tawaku
masih terdengar, Tria mulai menampakkan wajah kesalnya.
"teruslah tertawa, sebelum tertawa itu
dilarang," bentaknya dan berlalu pergi.
Aku hanya tersenyum tipis menatap punggung cowok dancer
itu yg semakin menjauh.
***
Aku terus mencorat_coret belakang buku catatanku. Itulah
yg selalu lakukan saat aku sedang merasa bosan.
"Buat lo," seseorang menyodorkanku sebuah
coklat mini, aku menatapnya tak percaya.
"Alfar," senyumpun terurai dari bibirku
untuknya.
Aku meraihnya pelan, ia tersenyum tipis dan terduduk. Aku
menutup buku catatanku dan menatap coklat pemberiannya.
"Waktu gue beli makanan dikantin, kembaliannya
kurang, dan coklat itu sebagai gantinya,berhubung gue gak suka coklat, jadi gue
kasih lo," jelasnya panjang lebar, aku hanya mengangguk pelan.
"terimakasih," aku menatapnya y kembali
tersenyum.
Alfar mengambil sebuah buku dari tasnya dan mulai
menyalin soal dipapan tulis.
Aku menarik nafasku pelan, dan membuangnya berlahan,
"Tria bukan pacarku," tuturku pelan dgn bibir y tiba2 bergetar.
Alfar menghentikan tulisannya, menatapku pelan dan
tersenyum, "gue tau."
**
Pulang sekolah semua murid berhamburan keluar kelas.
Tampak Alfar berjalan santai melewati ruang perpustakaan.
Langkahnya begitu ringan dgn hadset dikedua telinganya, tangannya ia biarkan
bermain2 disaku celananya, sesekali kepalanya ia goyangkan mengikuti irama
musik y sedang didengarkannya.
Tanpa ia sadari, sedari tadi seseorang mengikutinya dari
belakang.
Cowo tinggi itu berbelok, tapi seseorang menarik
tangannya paksa dan mendorongnya hingga menempel pada dinding.
Alfar menatap tajam Tria y tlah berdiri didepannya,
senyumpun tercipta dari bibir merah muda Alfar,berlahan ia membuka hadseat
ditelinganya, dan ia biarkan bergelantung dilehernya.
"Lo Triakan?" Tanyanya berpura2, sebenarnya ia
hafal betul wajah seseorang y tlah mengaku sebagai kekasih Karla.
Tria tersenyum tipis, tangannya mengusap kerah seragam
putih Alfar, "Lo cuma anak baru, gue gak mau lo dekat2 Karla,"
Kata2 Tria membuat Alfar menaikkan kedua alisnya menantang.
"kenapa, bukankah Lo bukan pacar Karla."
Tria mengepalkan tangannya kesal.
Cowo ini benar2 membuat kesabarannya habis, tapi ia
mencoba menahannya.
Alfar kembali bicara, berganti ia y kini berpura2
menghapus noda pada kerah putih Tria, "gue rasa Karla ga pernah suka sama
lo, justru rasanya dia mulai menyukai gue," ujarnya dgn senyum kemenangan.
Kepalan tangan Tria semakin keras, urat tangannyapun
mulai terliat, "udah lama gue gak bunuh orang," bisiknya dalam hati
dgn pandangan penuh kebencian.
Alfar tak henti2nya tersenyum penuh kemenangan,
"sebaiknya lo mengalah, Karla cuma milik gue seorang," Tekan Alfar
sambil menepuk punggung Tria.
Tria tersenyum sinis, "Yakin cuma lo yg ada dihati
dia, jangan munafik lo," Triapun melangkah setelah kata itu ia ucapkan,
tapi langkahnya terhenti ketika sebuah pernyataan keluar dari bibir Alfard.
"Gimana kalau kita taruhan, yg bisa dapatin hati
Karla, dialah pemenangnya."
Tria membalikkan badannya menatap tajam Alfar y berdiri
tak jauh darinya.
Tak ada jawaban dari bibir cowo itu.
"kalau lo gak mau, berarti lo takut,
Bekbekbek," Alfar menirukan gaya suara bebek membuat Tria semakin emosi.
Tria mendekati Alfar y mencoba memasang hadseat ditelinga
kanannya, "cinta bukan sebuah taruhan." Tria menyakinkan membuat
alfar tersenyum.
"Bek..bek..bek," cowo itu kembali menyerukan
suara bebek.
Tria mengepalkan tangannya kesal, matanya mulai memerah
penuh amarah.
"Oke gue terima tantangan lo," Tria berkata dgn
suara seraknya.
Alfar menampakkan wajah tenangnya, ia tak merasa takut
sedikitpun dgn taruhan y ia ajukan, karena ia yakin karla pasti akan
memilihnya.
Tria menarik paksa hadseat ditelinga kanan Alfar,
"Trus taruhannya apa, y kalah harus menjadi budak selama satu bulan
penuh," Alfar menggeleng mendengar tawaran Tria.
"itu Biasa,"
Alfar meraih iPhone y baru diraihnya disaku seragamnya
dan mematikan musik y masih menyala.
Tria menatap Alfar tajam y terlihat begitu santai, Triapun
terdiam tak percaya mendengar tantangan balik Alfar padanya.
" Yang kalah harus bunuh diri didepan yang menang
dan juga didepan karla, intinya Yang kalah harus M.A.T.I."
CONTINUE **

Tidak ada komentar:
Posting Komentar