Facebook Badge

Sabtu, 06 April 2013

"The One I Love!" #PART11


Dyland membuka matanya berlahan, kepalanya masih pusing dan seluruh organ tubuhnya sulit digerakkan, Dyland menguras semua tenaganya untuk berdiri tapi beberapa kali ia berusaha ia selalu saja terjatuh.. entah mengapa saat ini Dyland benar benar lemah... Tikungan tempat Dyland saat ini terkapar sanagt sepi tak ada seorangpun yg lewat dihadapannya terlebih saat ini jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dyland ingin berteriak minta tolong tapi suara dan bibirnya sulit berucap... "Tuhan kinikah tiba saatnya hamba menghadapmu"

Dyland menutup matanya, saat ini ia tak ingin seorangpun menolongnya, karena Dirinya tau mereka semua pasti akan tertawa dan bahagia melihat Dyland sekarat dan tak berdaya, Dyland tak ingin siapapun, ia membuka matanya dan menatap langit langit, bintang malam ini lebih banyak dari malam sebelumnya.

Dengan upaya yg kuat akhirnya Dyland berhasil berdiri, langkahnya masih teropah apih... tapi ia berusaha berjalan tanpa bantuan siapapun.. Dyland berhasil berjalan hingga ia tiba dijalan besar, beberapa orang menatapnya heran dan takut, seseorang berusaha menolongnya tapi Dyland menepis tangan lelaki yg berusaha menuntunnya..

"gue ga butuh siapapun, gue Dyland everything gonna be ok's"

kata itulah yg selalu menjadi penyemangat Dyland.

Dyland berjalan menuju mobil silver yg terparkir dipinggir jalan raya, tiba tiba pusing dikepalanya semakin menjadi, semua muram dan samar samar seperti awal, troublemakers itu terus berjalan sambil mengurut ngurut kepalanya dengan kedua tangannya... rasa pusing dikepalanyapun membuatnya sulit berjalan, Dyland berjalan menuju jalan besar, ia tak sadar kemana kakinya melangkah, Dyland terus saja berjalan lurus, beberapa orang teriak menyuruhnya minggir dan beberapa mobil berusaha menghindar agar tak menabraknya, Dyland tak menghiraukan semuanya, hingga akhirnya sebuah truk mengarah ke arahnya dengan kecepatan tinggi dan...........

BRUKKKK

truk itu menghantam tubuh kekar Dyland hingga Dyland terkapar ditengah jalan dan kepalanya terbentur sangat keras... darah bercucuran dengan deras dari seluruh tubuh Dyland.. Dyland tak tau apa yg sedang terjadi.. beberapa orang menghampririnya dan menolongnya.. Dyland merasakan beberapa orang menggendong tubuhnya... setelah itu Dyland tak merasakan apa apa... semuanya berubah gelap dan sepii...


***
Malam semakin larut,sepanjang perjalanan dhariel selalu membuat Sassya tersenyum, sejenak Sassya melupakan Dyland yg selalu membuatnya kesal.Dhariel mengajak Sassya menikmati ice krim favoritenya sambil berbincan bincang ditaman,beberapa orang memandang mereka sambil tersenyum iri "mereka sangat serasi" mungkin itu yg mereka bisikkan.

Sassya yg duduk disamping dhariel terus saja mendengarkan dhariel yg terus bicara, sesekali Dhariel membuat lelucon hingga menyebabkan Sassya tertawa lepas, sesekali Dhariel bercerita serius tentang pengalaman hiidupnya yg membuat Sassya terharu dan kagum.Saat ini Sassya benar benar nyaman berada disamping Dhariel.

Akhirnya Dhariel mengantar Sassya hingga depan rumahnya, Sassya membuka pintu rumah yg memang tidak terkunci.

"terimakasih untuk hari ini, Dhariel"kata Sassya pada Dhariel yg mengangguk.

"aku pulang"dhariel melangkahkan kakinya menjauhi Sassya tp kembali balik dan mengelus pelan rambut hitam Sassya.

"Jangan terlalu memikirkan Dyland. aku tak ingin kau jatuh sakit karena memikirkannya, ingatlah, bukankah he's Dyland, everything gonna be ok's"

Sassya terdiam mendengar perkataan Dhariel sambil menatap dhariel yg kembali berlalu hingga bayangan dhariel hilang dari pandangannya.Jas hitam Dhariel masih melekat ditubuhnya, jas itu begitu hangat dan harum.

"kau begitu baik Dhariel, terimakasih untuk semuanya, dan maaf aku tak mampu membalasnya"





Sassya telah tiba dikamar favoritenya, Sassya segera membuka jas hitam yg menutupi gaun pink yg ia kenakan dan menggantinya dengan piyama micky mouse, sesaat Sassya teringat perkataan Dyland.

"piyama itu hanya membuatmu terlihat tambah kurus!"

Sassya mengalihkan pandangannya menatap tirai kamar Dyland yg terbuka, tak ada seorangpun disana, apa dia belum kembali???

Sassya mengambil hp miliknya yg tadi ia letakkan diatas meja dan duduk dipinggir jendela,ingin sekali rasanya ia menelpon Dyland dan mengetahui dimana pangerannya berada tapi Sassya ragu, apa Dyland akan mengangkat telpon darinya??

sesaat Sassya mengingat perkataan Dyland untuknya "janganlah kau selalu memikirkan dan mencemaskan aku itu hanya membuat tubuhmu semakin kurus, ingatlah i'm Dyland everything gonna be ok's"

yahhh Sassya percaya bahwa saat ini Dyland baik baik saja...

Sassya terus mengutak ngatik hp ditangannya, seketika ia menemuka sebuah foto Dyland yg sedang tertidur dikelas, ffoto itu Sassya ambil tampa sepengetahuan Dyland saat Dyland tertidur dikelas, wajah Dyland dalam foto Sassya begitu polos dan damai, mungkin tak akan ada yg menyangka bahwa malaikat dalam foto ini adalah seorang troublemaker. Sassya terus menatap foto dilayar hp pinknya, akankah besok ia akan melihatnya lagi????

Sassya kembali menemukan sebuah foto pada layar ponselnya, tapi kali ini foto dirinya dengan Dyland yg mereka ambil beberapa jam yg lalu sebelum pergi kepesta, dalam foto itu Dyland mencium pipi Sassya.



flashback onn



Sassya mendekatkan HP ke arah Dyland yg sedang membenarkan letak dasi dilehernya.

"apa yg kau lakukan?"tanya Dyland saat mendapati Sassya menyorotnya dengan hp.

"aku ingin mengabadikan moment ini" Sassya terus saja menyorot Dyland dengan hp miliknya dan tak menghiraukan Dyland yg menatapnya tajam.

"kau ingin memotretku??" pertanyaan Dyland membuat Sassya mengangguk.

"jangan sekali kali kali kau memotretku, jika kau masih ingin aku disisimu"Dyland merebut paksa hp pink dari tangan Sassya dan mulai memainkannya.

"apa hubungannya aku memotretmu dengan keberadaanmu disisiku?"tanya Sassya heran sambil menatap Dyland yg masih mengotak ngatik hp Sassya.

 "dasar bodoh aku akan pergi jika kau memotretku, karena aku tak suka bila seseorang memotretku, mengerti?"Dyland berkata sambil menatap Sassya yg mengangguk.

"tapi aku hanya ingin mengabadikannya, apa itu salah?"

"mengabadikannya??,apa kau pikir salah satu diantara kita akn pergi jauh??"pertanyaan Dyland membuat Sassya menggeleng.

Dyland menatap Sassya yg menunduk, Dylandpun berfikir, tak ada salahnya bukan mengabadikan semua ini,bukankah kita tak akan pernah tau apa yg akan terjadi nanti??..jika suatu saat nanti Dyland benar benar pergi dari sisi Sassya, setidaknya Sassya memiliki satu kenangan foto dengan dirinya,Dyland menarik tangan Sassya mendekat,Sassya sempat terkejut, tapi Sassya hanya bisa diam, Dyland mendekatkan wajahnya dengan wajah Sassya yg memerah, Dyland segera mengarahkan camera kewajah mereka berdua.

"setelah kupikir pikir tak ada salahnya mengabadikan semuanya,seharusnya kau berbangga hati karena kau wanita pertama yg berhasil berfoto dengan troublemaker setampan aku, karena itu tersenyumlah yg manis" Sassya tersenyum tipis mendengar perkataan Dyland.

"ternyata kau benar benar tak tau bagaimana cara tersenyum yg manis, senyummu itu sungguh jelek, tersenyumlah semanis mungkin,jika kau tersenyum seperti itu hanya membuat semuanya buram dan jelek"Dyland berkata sambil terus mengarahkan camera kearah keduanya.

Sassya menatap Dyland penuh tanda tanya???

"satu..dua..."hitungan Dyland membuat Sassya mengalihkan pandangannya kearah camera, Sassya pun tersenyum semanis mungkin, supaya Dyland sadar bahwa Sassya tak sejelek yg Dyland katakan. Kini pipi mereka berdekatan.

Awalnya semua baik baik Sassya sebelum pada hitungan kelima Dyland mengalihkan pandangan dari arah camera dan berpindah mencium pipi kanan Sassya.Kejadian spontan itu membuat Sassya tersentak kaget sehingga membelakkan matanya (melotot).



kliiikkkkk suara camera hp Sassya terdengar jelas menandakan camera pink itu telah mengabadikan foto mereka.

Sassya masih tak berkutik karena Dyland masih mencium pipinya, Dyland memang sengaja tak ingin cepat cepat menjauhkan bibirnya dari pipi mulus Sassya,setelah beberapa detik Dyland baru melepas ciumannya.

Dyland menatap Sassya yg masih terdiam, senyumpun mengembang jelas dibibir tipis Dyland.

"dasar bodoh, mengapa kau terkejut seperti itu, itu sangatlah berlebihan, bukankah ini bukan ciuman pertama kita, kau lupa aku pernah mencium bibirmu didepan rumahku, seharusnya kau tak usah terkejut, lihatlah wajamu yg meleotot merusak segalanya"oceh Dyland membuat Sassya menatapnya kesal... Dyland terus saja menatap pada layar sentuh itu..

"mengapa kau mencium pipiku secara tiba tiba, tentu saja aku terkejut" balas Sassya kesal membuat Dyland tersenyum.

"tapi tak apa, semuanya  terlihat lebih baik dengan keberadaaku disampingmu"

Dyland berkata lagi membuat Sassya merebut paksa hp ditangan Dyland dan menatapnya... yah.. Dyland benar wajahnya yg melotot membuatnya terlihat sangat sangat jelek...

Dyland mendekatkan wajahnya pada wajah Sassya yg tiba tiba memerah "apa lagi yg akan Dyland lakukan padaku??"tanya Sassya dalam hati.

Dyland mendekatkan bibirnya kekuping kanan Sassya dan membisikkan sesuatu.

"tapi aku akui kau terlihat sedikit lebih cantik dengan mata besarmu" kata kata Dyland itu membuat Sassya mencoba mengingat perkataan Dyland tadi...

bukankah barusan Dyland mengatakan bahwa Sassya cantik walaupun ada kata "sedikit" didepan kata cantik tapi setidaknya itu sudah membuat Sassya tiba tiba tersenyum mengingatnya.

"aku ingin kau menyimpan foto itu baik baik, jika suatu saat aku pergi dan kau merindukanku, foto itulah yg akan menghapus kerinduanmu padaku dan mungkin itu foto pertama dan terakhir kita"

 Dyland mengelus rambut Sassya penuh cinta.

Sassya sering merasakan dhariel mengelus rambutnya tapi kali ini Dyland yg melakukannya, walaupun bukan kali pertama Dyland mengelus rambut Sassya tapi entah mengapa kali ini begitu lembut dan tulus.

"Kau tak akan meninggalkanku bukan?" tanya Sassya ragu pada Dyland yg berdiri disampingnya.

"Dasar bodoh , kehidupan seseorang tak akan ada yg mengetahuinya, siapa tau aku akan mati besok, tak selamanya aku disisimu dan menjagamu,tapi selama aku masih bisa bernaafas aku akan selalu berusaha ada disisimu"Sassya sedikit lega dengan jawaban Dyland, dan Sassya percaya Dyland akan selalu ada disisnya.

"Dyland seandainya kau meninggal terlebih dahulu, apa kau akan menungguku disurga??" pertanyaan Sassya membuat Dyland menatapnya tajam.

"tentu tidak"jawab Dyland keras membuat Sassya kecewa.

"kenapa?"

"jika aku lebih dulu mati, untuk apa aku menunggumu disurga karena aku yakin disana banyak bidadari cantik yg lebih segalanya darimu"kata kata Dyland membuat Sassya menunduk.

"tapi Dyland, aku ingin selalu bersamamu"

"Dasar bodoh, apa kau pikir dengan semua perbuatan yg aku lakukan didunia ini, surga akan menerimaku, jika kau benar2 ingin selalu bersamaku, baiklah.."Dyland menghentikan perkataannya dan menatap wajah Sassya yg tiba2 ceria.

"aku akan menunggumu dineraka" seketika wajah Sassya berubah takut mendengar perkataan Dyland itu. sementara Dyland tersenyum puas sambil menatap Sassya yg terdiam.

"tapi aku rasa neraka akan mengusir bidadari sejelek kau" Dyland mengelus kembali rambut Sassya dan berlalu menuju mobil silver miliknya.



FLASHBACK OFF



Suara rem mobil membuyarkan lamunan Sassya, Sassya menatap kebawah berharap Dyland kembali, tapi ternyata bukan, Dyland masih belum kembali dan Sassya tak tau dimana pangerannya berada.

"bintang, pangeranku akan baik baik saja bukan?" Sassya berkata sambil menatap kelangit yg penuh dengan bintang, seketika sekumpulan bintang itu membentuk satu wajah, wajah Dyland yg tersenyum begitu manis...

"yah, he's Dyland everything gonna be ok's"









Pagi ini udara sangat bersahabat, tapi kicauan burung burung tidaklah dapat menghapus kegalauan hati Sassya. Hari ini Sassya memutuskan untuk berangkat sekolah tanpa supir, Sassya ingin sedikit jalan pagi hingga depan jalan besar dan memilih taxi untuk mengantarnya sampai sekolah. Sassya membuka pintu rumahnya, tiba tiba Sassya teringat Dyland, Dyland selalu mengantarnya hingga depan rumah dan dua kali Dyland mencium Sassya didepan rumahnya..

"apa kau tak ingin menciumku, aku rasa pipiku ini pantas menerimanya"

Sassya mengalihkan pandangannya dan mempercepat langkahnya, tapi Sassya berhenti sejenak ketika tiba didepan rumah Dyland, ditatapnya halaman rumah Dyland yg kosong, Sassya tak mendapati mobil Dyland disana, apa Dyland belum kembali???









 ******

"Sassyaaaaa....." teriak Dyland yg baru terbangun dari koma.

Dyland mendapati seseorang berdiri disampingnya sambil memegang sebuah buku ditangannya. seorang cowo bertubuh tinggi berkacamata tipis dengan sedikit jenggot tipis menghiasi wajahnya.

lelaki itu tersenyum pada Dyland yg menatapnya kegat.

"sudah sadar kau rupanya"katanya ramah sambil duduk dibangku samping ranjang Dyland.

Dyland menatap sekeliling, ruangan putih bersih yg cukup luas dengan harum yg sedikit membuat kepala Dyland tambah pusing... harum yg sangat dibenci oleh Dyland... harum rumah sakit...!!

"Rumah sakit??" tanya Dyland memastikan sambil menatap cowo gagah itu yg mengangguk.

"kenapa aku ada disini, aku benci aroma rumah sakit" Dyland berkata keras membuat cowo itu menatapnya tajam.

"kau tak ingat apa apa??"tanyanya sambil mengambil obat dan memberikannya pada Dyland.

Dyland menggeleng pelan sambil mengambil obat dari tangan cowo itu.

"Minumlah, obat itu akan membuat sakitmu sedikit hilang"

deggg... kata kata cowo itu membuat Dyland menginggatkannya pada Sassya.. Dyland mencoba duduk diranjang  rumah sakit.

"siapa kamu??" Dyland berkata dengan obat masih ditangannya.

"aku adalah salah satu calon doctor rumah sakit ini, namaku david" cowo itu mengenalkan dirinya pada Dyland yg mencoba meminum obat pemberiannya.

"siapa, namamu??" david bertanya pada Dyland yg terdiam sejenak..

namaku???? siapa namaku????

Dyland mencoba mengingat namanya tp itu hanya membuat kepalanya semakin sakit dan pusing...


Continue ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Online Now Icons