Facebook Badge

Selasa, 09 April 2013

"A Boy To Remember!" {A}


“Dia dimana?”
Kutatap arloji dipergelangan tangan kiriku, menunggu seseorang yang selalu kutemui setiap pagi.
Biasanya, ia datang lebih awal dariku, tapi mengapa hari ini, aku tak melihatnya??
Apa ia sakit? Atau ia tak akan hadir lagi disini??
Aku terduduk pada kursi yang biasanya menjadi tepatnya menyender saat menunggu bis tiba, entah mengapa rasanya begitu nyaman dan bersahabat.
Aku menutup mataku, mencoba menghirup udara pagi ini yang berhiaskan embun pagi, sisa ujan kemarin malam.
            “Punya sapu tangan atau tissu?”
Pertanyaan seseorang membuatku membuka mata, suaranya serak tapi begitu merdu.
Mataku membesar saat aku menatap siapa yang saat ini berdiri didepanku. Dia yang aku nanti, akhirnya tiba juga.
Aku mendongakkan wajahku memandangnya yang masih berdiri, oh Tuhan, ia begitu berwibawa.
            “Maaf, lo punya sapu tangan?”
Tanyanya lagi.
Bodoh segitu terpesonanya aku dengannya, sampai-sampai aku lupa akan pertanyaannya.
Aku berdiri dan mengangguk cepat, “Ya sebentar!” kataku dengan nada terbata.
Aku mencari saputangan dalam tasku, setelah berberaaapa saat akhirnya ketemu juga.
            “Nih!” segera kuserahkan saputangan pink milikku pada pemuda itu yang langsung meraihnya.
            “Terimakasih!”
Ia tersenyum tipis menatap saputangan pemberianku, jantung inipun seketika berhenti berdetak.
Sedetik kemudian Pemuda itu mulai menyapukan saputangan itu pada wajahnya yangg sedikit berkeringat dibagian keningnya, aku menatapnya lekat.
 Ia terduduk masih dengan mengelapkan saputangan milikk pada wajahnya yang berlanjut ketengkuknya dan belakang telinganya, “Oh yah, aku sering melihatmu!”
Aku mencoba kembali duduk,mengancingkan kembali tasku, “Oh yah?” ada rasa tak percaya sedikit saat itu. Apa dia juga selalu memperhatikanku dari jauh??
            “Yah, tentu saja.” Jawabnya singkat. Ia menatap kedepan, bus yang kami tunggu belum juga nampak.     
            “Oh yah, Gue Rayhan cukup panggil Ian tanpa Kasela!” candanya.
Aku tersenyum tipis. Jadi namanya Rayhan.
Seketika ia mengulurkan tangan kanannya, aku membalasnya cepat.
            “Nama yang bagus!” Aku kembali mencoba mengusir rasa grogiku, melepas pegangan tangannya yang mungkin dapat membuat jantungku terhenti.
            “Terimakasih!” ia tersenyum lagi, tampak lesung pipi di pipi kirinya. “Terus nama Lo?” Tanyanya sembari melipat sapu tanganku dan memasukkannya dalam saku kemejanya.
            “Nama gue Mentari, tapi cukup panggil Tari.”
Ia mengangguk saat aku menyebutkan namaku, “Itu nama asli?” tanyanya dengan ekspresi wajahnya yang seketika berubah kaget.
            “Asli, kenapa emang?, apa karena namanya terdengar sangat aneh?”
                                “Oh tidak, nama lo bagus kok!” Rayhan mengangguk sambil menarik nafasnya berlahan. “Lo lagi nunggu bus juga?” tanyanya bersahabat.

Aku mengangguk,” Iya.”
            “Lo kuliah?” tanyanya lagi, aku kembali mengangguk.
Beberapa saat keheningan menemani kami, Rayhan terlihat sibuk dengan handphone ditangannya sementara aku hanya bisa terdiam sambil sesekali meliriknya.
            “Rayhan!” Suara seseorang mengagetkan kami.
Gadis cantik berseragam SMA, usianya mungkin berkisar antara enam atau tujuhbelasan, berjalan santai mendekati Rayhan yang telah berdiri.
Aku menatapa keduanya yang mulai berbicara, begitu akrab dan terbuka. “siapa dia?”
            “Monika, kamu ngapain disini?” Rayhan mencoba memulai pertanyaan pada gadis SMA itu,
Gadis itu tersenyum. “Kamu lupa, kalau hari ini aku akan ngantar kamu kekampus.”
Seketika Rayhan menepuk jidatnya pelan, “Astaga aku lupa!”
Aku mencoba berdiri dan menatap Rayhan serta gadis yang dipanggilnya Monika itu secara bergantian.
Monika menatapku lekat, “Dia?” tanyanya pada Rayhan.
            “Dia Tary.” Rayhan mencoba mengenalkanku.
Monika tersenyum manis sekali, aku membalasnya pelan. “ Nama yang unik!, dan aku Monika.” ia mengenalkan dirinya.
Gadis ini begitu cantik, apa mungkin ia ada hubungan khusus dengan Rayhan??
            “Kalian pacaran?” akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari bibirku.
Keduanya tersenyum kemudian saling memandang, “Tidak!” Rayhan menjawab pertanyaanku, aku menarik nafas lega.
Syukurlah!”
tapi seketika dadaku sesak, saat Rayhan mencoba merangkul lengan gadis itu, terlebih saat aku mendengar penuturannya, “Tapi kita bertunangan.” Jelasnya yang saat itu juga membuat tubuhku seketika melemas.
Perkenalan singkat itupun membuat segalanya berubah, aku tak lagi mengharapkannya, ternyata ia tak seperti yang kubayangkan. Rayhan, nama yang hari itu aku ketahui dan nama itulah yang mulai besok harus aku lupakan.
Aku akan mencoba menutup kisah ini dan membuka lembaran baru, lembaran yang mungkin akan lebih indah dari ini, bukankah Tuhan itu adil, Patah hati memang sakit, tapi dengan satu senyuman yakinlah hatimu akan terasa tentram.
Tak mengenalnya itu lebih baik daripada aku harus melupakannya.

Aku menatap KTP milikku, Bibir inipun tersenyum saat mendapati apa yang tertera disana.
Nama: Mentari Yoga Siahaan
Tempat/tanggal lahir: jakarta, 25 juni 1994
Jenis kelamin: Pria
            Oke,Gue Yoga atau lebih enjoy dipanggil Tari, cowok manis yang menyukai sesama jenis.
Dan Rayhan bukanlah pemuda pertama yang memasuki hati gue. Ini hidup gue and I’m Free.


THE END **

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Online Now Icons