“Dia dimana?”
Kutatap
arloji dipergelangan tangan kiriku, menunggu seseorang yang selalu kutemui
setiap pagi.
Biasanya,
ia datang lebih awal dariku, tapi mengapa hari ini, aku tak melihatnya??
Apa
ia sakit? Atau ia tak akan hadir lagi disini??
Aku
terduduk pada kursi yang biasanya menjadi tepatnya menyender saat menunggu bis
tiba, entah mengapa rasanya begitu nyaman dan bersahabat.
Aku
menutup mataku, mencoba menghirup udara pagi ini yang berhiaskan embun pagi,
sisa ujan kemarin malam.
“Punya sapu tangan atau tissu?”
Pertanyaan
seseorang membuatku membuka mata, suaranya serak tapi begitu merdu.
Mataku
membesar saat aku menatap siapa yang saat ini berdiri didepanku. Dia yang aku
nanti, akhirnya tiba juga.
Aku
mendongakkan wajahku memandangnya yang masih berdiri, oh Tuhan, ia begitu
berwibawa.
“Maaf, lo punya
sapu tangan?”
Tanyanya lagi.
Bodoh segitu terpesonanya aku dengannya, sampai-sampai aku lupa
akan pertanyaannya.
Aku berdiri dan mengangguk cepat, “Ya sebentar!” kataku dengan nada
terbata.
Aku mencari saputangan dalam tasku, setelah berberaaapa saat
akhirnya ketemu juga.
“Nih!” segera
kuserahkan saputangan pink milikku pada pemuda itu yang langsung meraihnya.
“Terimakasih!”
Ia tersenyum tipis menatap saputangan pemberianku, jantung inipun
seketika berhenti berdetak.
Sedetik kemudian Pemuda itu mulai menyapukan saputangan itu pada
wajahnya yangg sedikit berkeringat dibagian keningnya, aku menatapnya lekat.
Ia terduduk masih dengan
mengelapkan saputangan milikk pada wajahnya yang berlanjut ketengkuknya dan
belakang telinganya, “Oh yah, aku sering melihatmu!”
Aku mencoba kembali duduk,mengancingkan kembali tasku, “Oh yah?”
ada rasa tak percaya sedikit saat itu. Apa dia juga selalu memperhatikanku dari
jauh??
“Yah, tentu saja.”
Jawabnya singkat. Ia menatap kedepan, bus yang kami tunggu belum juga nampak.
“Oh yah, Gue
Rayhan cukup panggil Ian tanpa Kasela!” candanya.
Aku tersenyum tipis. Jadi namanya Rayhan.
Seketika ia mengulurkan tangan kanannya, aku membalasnya cepat.
“Nama yang bagus!”
Aku kembali mencoba mengusir rasa grogiku, melepas pegangan tangannya yang
mungkin dapat membuat jantungku terhenti.
“Terimakasih!” ia
tersenyum lagi, tampak lesung pipi di pipi kirinya. “Terus nama Lo?” Tanyanya
sembari melipat sapu tanganku dan memasukkannya dalam saku kemejanya.
“Nama gue Mentari,
tapi cukup panggil Tari.”
Ia mengangguk saat aku menyebutkan namaku, “Itu nama asli?”
tanyanya dengan ekspresi wajahnya yang seketika berubah kaget.
“Asli, kenapa
emang?, apa karena namanya terdengar sangat aneh?”
“Oh tidak, nama
lo bagus kok!” Rayhan mengangguk sambil menarik nafasnya berlahan. “Lo lagi
nunggu bus juga?” tanyanya bersahabat.
Aku mengangguk,” Iya.”
“Lo kuliah?”
tanyanya lagi, aku kembali mengangguk.
Beberapa saat keheningan menemani kami, Rayhan terlihat sibuk
dengan handphone ditangannya sementara aku hanya bisa terdiam sambil sesekali
meliriknya.
“Rayhan!” Suara
seseorang mengagetkan kami.
Gadis cantik berseragam SMA, usianya mungkin berkisar antara enam atau
tujuhbelasan, berjalan santai mendekati Rayhan yang telah berdiri.
Aku menatapa keduanya yang mulai berbicara, begitu akrab dan
terbuka. “siapa dia?”
“Monika, kamu
ngapain disini?” Rayhan mencoba memulai pertanyaan pada gadis SMA itu,
Gadis itu tersenyum. “Kamu lupa, kalau hari ini aku akan ngantar
kamu kekampus.”
Seketika Rayhan menepuk jidatnya pelan, “Astaga aku lupa!”
Aku mencoba berdiri dan menatap Rayhan serta gadis yang dipanggilnya
Monika itu secara bergantian.
Monika menatapku lekat, “Dia?” tanyanya pada Rayhan.
“Dia Tary.” Rayhan
mencoba mengenalkanku.
Monika tersenyum manis sekali, aku membalasnya pelan. “ Nama yang
unik!, dan aku Monika.” ia mengenalkan dirinya.
Gadis ini begitu cantik, apa mungkin ia ada hubungan khusus dengan
Rayhan??
“Kalian pacaran?”
akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari bibirku.
Keduanya tersenyum kemudian saling memandang, “Tidak!” Rayhan
menjawab pertanyaanku, aku menarik nafas lega.
“Syukurlah!”
tapi seketika dadaku sesak, saat Rayhan mencoba merangkul lengan
gadis itu, terlebih saat aku mendengar penuturannya, “Tapi kita bertunangan.”
Jelasnya yang saat itu juga membuat tubuhku seketika melemas.
Perkenalan singkat itupun membuat segalanya berubah, aku tak lagi
mengharapkannya, ternyata ia tak seperti yang kubayangkan. Rayhan, nama yang
hari itu aku ketahui dan nama itulah yang mulai besok harus aku lupakan.
Aku akan mencoba menutup kisah ini dan membuka lembaran baru,
lembaran yang mungkin akan lebih indah dari ini, bukankah Tuhan itu adil, Patah
hati memang sakit, tapi dengan satu senyuman yakinlah hatimu akan terasa
tentram.
Tak mengenalnya itu lebih baik daripada aku harus melupakannya.
Aku menatap KTP milikku, Bibir inipun tersenyum saat mendapati apa
yang tertera disana.
Nama: Mentari Yoga Siahaan
Tempat/tanggal lahir: jakarta, 25 juni 1994
Jenis kelamin: Pria
Oke,Gue Yoga atau lebih enjoy
dipanggil Tari, cowok manis yang menyukai sesama jenis.
Dan
Rayhan bukanlah pemuda pertama yang memasuki hati gue. Ini hidup gue and I’m
Free.
THE END **

Tidak ada komentar:
Posting Komentar