Tria mengepalkan tangan kanannya kesal, memukul keras
tembok didepan.
Alfard telah berlalu setelah perjanjian disepakati.
Kini tinggal Tria yg terus mengutuki kebodohannya.
Bugh..
Sekali lagi, ia menghempaskan tangannya ketembok, sedikit
perih dibagian jemari, ia menahannya dan terduduk lemas.
"Gue emang benar-benar bego, bodoh, idiot,"
cowo dancer itu terus menggerutu, mengacak-acak kesal rambutnya yang sedikit panjang, beberapa
murid yang melewatinya menatapnya aneh, tapi ia tak peduli.
Ia terus menggrutu sambil sesekali mengatur nafasnya.
"Seharusnya gue gak terima pertaruhan maut ini, dari
dulu ampe sekarangpun, Karla gak pernah suka ama gue, sementara murid baru
itu," Tria mencoba mengingat wajah alfar kemudian ia tertawa kecil.
"Baru pertama kali ngeliat tuh cowo, karla udah
langsung jatuh cinta."
Ia kembali tertawa, tapi kali ini sedikit keras,
"HaHAHA... Tolol lo Tria, siap-siap ajah lo kalah dan mikirin cara yang
asik buat bunuh diri didepan Alfar dan Karla.." Tria terus berbicara
sendiri.
Tawanya terhenti menatapi beberapa siswa yang
menertawainya.
Ia berdiri dan merapikan bawah baju seragamnya, ia
menggelengkan kepalanya cepat, "gak, gue gak boleh putus asa, gue harus
percaya bahwa gue bisa dapatin hati Karla, sekalipun kecebong itu tandingannya,
lo bisa Tria, Lo bisa," Tria menyemangati dirinya sendiri. Tekatnyapun
telah bulat.
"gue harus menang, biar cowo tengil itu yg mati
didepan gue dan Karla."
***
Karla memasuki kamarnya, langkahnya langsung tertuju pada
meja belajar disamping jendela.
Ia membuka tas pinggangnya dan menaruhnya digantungan
khusus tas koleksinya.
Karla mengambil kotak kecil pemberian Tria dari sela saku
tasnya.
Ia terduduk diatas ranjang dan menatap tajam kotak
persegi itu.
Dibukanya berlahan, bibirnya tiba2 tersenyum tipis
mendapati sebuah bandana pink dgn hiasan permata putih dibagian pinggirnya.
Sebuah kenanganpun terliang dibenak cewe AQuarius itu.
Flashback ONN
Karla
mempercepat langkahnya, jam menunjukkan pukul tujuh pagi, lagi-lagi ia
terlambat kesekolah.
Karla berlari mencoba mendekati gerbang sekolah yang
sebentar lagi akan ditutup.
Nafasnya tak beraturan, sesekali karla memperbaiki
letak tas pinggangnya yg mudah bergeser akibat lari, sedikit lagi ia sampai..
Tapi sesuatu terjadi dan membuat karla menunduk lesu.
Pintu gerbang besi itu telah dikunci, itu berarti
karla tak akan bisa masuk terkecuali ia tlah menerima hukuman.
karla menatap kesal cowo yg menertawainya geli.
Cowo itu berdiri tak jauh dari karla, ia menyandar
pada pohon besar disamping gerbang.
"Cantik, cantik tapi ceroboh, hari gini masih
telat.." sindir cowo bertopi itu.
Karla mengepalkan tangannya kesal..
"Awas lo Tria," gumamnya dalam hati.
Cowo itu tak mendengar, ia mendekati karla dan berdiri
didepan karla.
Karla masih menatapnya penuh kebencian tapi cowo itu
membalasnya dengan senyum, giginya terbaris rapi.
"Karla, karla, dari kita SD ampe sekarang SMA, lo
masih ajah sering telat, apa lo gak takut telat punya pacar," sindirnya
lagi pada karla yang menepuk keras lengan Tria.
Tria tersenyum tipis, tangan kanannya mengelus pelan
lengan kirinya akibat pukulan karla.
“Rese loTri!”
Cowok itu mengangkat sebelah alisnya tenang, "Tapi
gue suka lo apa adanya, just the way you are.."
Bisikan Tria yang mampu membuat Karla terdiam tak
berkutik.
Flashback Off
Karla kembali tersenyum mengingat kejadian itu.
Ia mengambil bandana pemberian Tria dan mengelusnya
berlahan.
"sebenarnya Tria tak terlalu buruk, justru ia cukup
memiliki karisma,Tapi kenapa aku belum bisa untuk menerima cintanya??"
***
Keesokan paginya,
Alfar tlah berdiri didepan pintu menunggu karla yang
belum juga tiba.
Alfar memainkan PSP ditangannya sambil menyender pada
pintu kelas yang terbuka.
Sesekali ia menatap kearah gerbang, berharap menemukan
sosok cewe yang mampu menarik perhatiannya.
Ia tak mendapati Karla, justru matanya seketika menatap Tria
yang berjalan kearahnya.
Alfar tersenyum saat langkah Tria semakin mendekat, Tria
melewatinya begitu saja tanpa berniat membalas senyuman alfar balik.
Senyum Alfar semakin lebar menyaksikan tingkah acuh Tria
padanya.
Dimasukkannya Psp kembali kesaku celana abu-
Abunya dan menarik tangan Tria yang melewatinya.
Tria terhenti dan menatap sinis cowo arrogant itu.
Alfar melepaskan tangannya dan menaikkan sebelah alisnya,
"Gimana, udah mikirin gimana cara Lo mati mengenaskan didepan gue dan
Karla."
Tria hanya menatap alfar diam tanpa berniat membalas, ia
cukup mendengarkan kata perkata yg keluar dari bibir saingannya.
"atau lo masih bingung?, apa perlu gue kasih
tau?" Alfar berlagak berfikir dgn tangan kanannya yang ia biarkan bermain
dibawah dagunya yg terbelah.
"Gimana kalau gue pinjamin lo golok, gergaji atau
mungkin cerulit buat matahin leher kurus lo."
Brugh..
Tria mendorong tubuh Alfar hingga cowo itu menempel pada
tembok kelas.
Tria tersenyum sinis sementara Alfar tiba-tiba terdiam.
"gak perlu, golok cerurit dan gergaji lo itu lebih
baik lo simpan buat bunuh diri lo sendiri, karena gue gak akan kalah,dan gue
pastiin Lo yg akan Mati,"
Triapun melangkah menjauh, alfar terdiam, ia tak
menyangka Tria berani mengancamnya seperti tadi.
Peluh membasahi keningnya seketika.
"Alfard," sapa Karla yang baru tiba, ditatapnya
kening Alfard yg berkeringat.
Karla meraih sapu tangan dari sakunya dan diusapkan pelan
pada kening Alfard.
Dari jarak yang tak begitu jauh, Tria menatap resah
keduanya yang tlah memasuki kelas.
"gue gak mau mati Kar, please terima cinta
gue."
“Lo gila, Tri!” Melvin
menggelengkan kepalanya saat mendengar penuturan Tria, sahabatnya, tentang
taruhan maut itu.
Tria yang saat itu berada dikantin, hanya terdiam sambil
mengaduk-aduk nasi goreng didepannya tak bersemangat.
Melvin lanjut bicara, “Gue gak tau apa yang ada dalam
pikiran lo, Karla lo jadiin taruhan, Gila lo!”
Tria hanya mendengus kesal, mendengarkan Melvin yang tak
henti-hentinya mengoceh.
“Lo
taukan kalau Karla gak pernah mencintai lo, Kalau lo ditolak, lo bisa Mati, dan
murid baru itu akan tertawa senang penuh kemenangan.”
Tria menghentikann aksinya mengaduk nasi goreng yang
mulai bercampur, “Udahlah, lo itu udah mirip nenek gue yang keilangan gigi
palsunya, ngoceh gak jelas, berisik!”
“Gue peduli sama lo, gue gak mau lo mati, setidaknya, gue
lebih mentingin diri lo ketimbang lo, yang gak pernah miirin diri lo sendiri.”
Tria mengacak rambutnya kesal, “udah, udah!”
“Lo sahabat gue, Tri, gue gak mau lo mati!” Melvin menatap
Tria yang menunduk, cowok itu kembali mengaduk nasi gorengnya yang mulai
dingin.
Melvin meraih sendok yang digunakan Tria untuk mengaduk
nasi goreng itu dan menaruhnya kesal diatas meja kantin.
“Udah, sekarang gimana caranya supaya karla terima cinta
lo, atau kita mikirin gimana caranya lo mati mengenaskan didepan mereka?”lanjutnya
pada Tria yang mengangguk ogah.
***
Aku menatap wajah tampan Alfard yang kurasa ada aura beda
pagi ini, “Kamu kenapa?” tanyaku pelan. Aku kembali menyapukan sapu tangan pada
wajahnya, cowok itu tersenyum tipis.
“Tidak
apa, hanya sedikit pusing.”
Jawabnya. Ia merebahkan kepalanya menempel pada meja dan menatapku
tajam, entah kenapa saat ia menatapku seperti itu, jantungku seketika terhenti
berdetak, oh tuhan, perasaan apa ini?
Ia tersenyum lagi, “Lo suka Tria?” pertanyaan Alfard
membuat mataku seketika terbelalak.
“huh?”
Ia mencoba mengembalikan posisi duduknya, “Karla, apa lo
suka Tria?” ia mengulang pertanyaan memastikan, membuatku menggeleng cepat.
“Tidak,
Tria adalah sahabatku.” Aku mengalihkan pandanganku darinya, dan mencoba meraih
kesibukkan.
Aku membuka tas dan meraih sebuah buku bersampul coklat
beserta sebuah bulpoin hitam, aku tak tau apa yang akan aku lakukan
sekarang, aku benar-benar dibuat salah tingkah oleh anak baru ini.
Aku mulai mencorat-coret buku didepanku, cowok itu masih
saja menatapku, justru ia tak henti-hentinya tersenyum saat mendapati bulpoinku
ternyata tak menyala, “sial, tintanya habis!”
Alfard menarik bulpoin yan selalu bergelantung dalam saku
seragam putihnya, “Pakai bulpoin gue dulu ajah!”ia menarik pakksa bulpoin
ditangan kananku dan menggantinya dengan bulpoin hitam miliknya.
“Segitu
groginya, sampai-sampai tangan lo gemetaran gitu, Gue bukan pangeran william
ini!” perkataan Alfard membuatku seketika menundukkan wajahku malu.
“Bodoh, bagaimana bisa aku segrogi ini?”
Aku merasakan pergelangan tanganku yang gemetar dan
berkeringat!!
***
Tria berjalan seorang diri mengintari korodir sekolah,
langkahnya terhenti ketika ia berhadapan dengan Alfard, cowok tinggi itu
tersenyum sambil berjalan kearahnya.
Tria terhenti ketika Alfard telah didepannnya.
“Gue
Cuma mau ngasih tau tentang kesepakatan kita!” Alfard memutar matanya mentap
Tria yang asik bergulat dengan permen karet dimulutnya.
“Apa
lagi?”
“Waktu
kita pedekate dengan Karla hanya satu
minggu, setelah itu, dihari dan tempat yang sama dijam yang berbeda, gue
dan lo!” Alfard menunjuk Tria yang menatapnya tajam.
Alfard kembali bicara, “harus menyatakan cintanya pada
Karla,siapapun nanti yang dipilihnya adalah pemenang!”cowok itu bersandar pada
dinding luar perpustakaan, Tria masih menatapnya geram.
“Dan
lo taukan, bagi yang kalah harus..”
“MATI!”
Tria melanjutkan perkataan Alfard dengan senyuman sinisnya. Kini giliran Alfard
yang menatapnya geram.
“Gue
tau kok, lo tenang ajah, gue gak akan lupa pertarungan kita,” Tria berjalan
maju beberapa langkah mendekati Alfard yang tak lagi bersandar, “Dan gue akan
buktiin bahwa gue yang akan menang!” Tria menepuk pundak Alfard pelan menantang
dengan cepat Alfard menepisnya.
Cowok tinggi itu tersenyum sinis, Tria menatapnya tajam,
“Oh, tapi bukankah Karla gak pernah mencintai lo, TRIA?” cowok itu menekan
suaranya saat meyebutkan nama Tria, Tria mendengus pelan.
“Mungkin
emang sekarang Karla gak suka sama gue, ta[pi gue yakin seminggu kedepan, gue
bakal buat Karla jatuh cinta!” Tria berkata lantang penuh percaya diri, cowok
itu kembali menepuk pundak Alfard, “Lo harus siap-siap termakan umpan lo
sendiri,ALFARD!” Ancaman Tria membuat kedua mata alfard terbelalak, dengan
santainya Tria menjauh dari Afard yang masih terdiam.
“Sial,
gue yang mengajukan taruhan itu, gue gak boleh kalah dari bebek kurus itu,
apapun itu Karla harus milih gue bukan dia!”
***
“KARLA!!”
Tria menghentakkan suaranya, berlari kecil hanya untuk menyamai langkah cepat
Karla. Karla yang saat itu mengenakan hadset dikedua telinganya, tak mendengar
jelas teriakan ngebash Tria, langkahnya terus melaju hingga tepat didepan pintu.
“Karla!!”
teriak Tria lagi, cowok itu telah berdiri dibelakang karla, ditepuknya pelan
pundak Karla, hingga gadis itu bberhenti dan berbalik.
“Tria?”
Karla membuka sebelah hadset ditelinga kanannya, menatap Tria yang mengatur
nafas pelan.
Cowok itu mengangguk. “Dari tadi gue panggil juga, sampai
suara gue serak gini!” Tria mengelus kerongkongannya yang seketika terasa haus.
Karla tersenyum tipis, “Maaf, tapi dari dulu juga suara
lo udah serak Tri!”
“Iya
sih, tapi seraknya sekarang betambah,” Tria mengaruk tengkuknya. Karla tersenyum
tipis dan membuka hadset ditelinga kirinya, bersandar sedikit ketembok kelas.
“Ada
apa?” gadis itu menatap Tria yang masih mengunyah permen karet dimulutnya.
Cowok itu menaikkan tangan kanannya, “Sebentar!” kemudian
berlalu tepat kearah tong sampah beberapa langkah didepan kelas,dana melepehkan
permen karet dimulutnya kedalan tong hitam itu.
Setelah itu ia kembali pada Karla yang masih menunggunya.
“Ada
apa?” tanya Karla ulang ketika cowok itu telah didepannya.
“oh
itu, pulang sekolah gimana kalau gue anter?”Tria bersender tepat disamping Karla
yang menggulung kabel hadset dan memasukkannya dalam saku seragam putihnya.
“Hmm..”
Tria menatap Karla tajam menunggu jawaban, seketika xowok
itu tersenyum saat endaapati Karla mengangguk.
“Baiklah!”
“Serius
Kar?”
Gadis manis itu kembali mengangguk diiringi senyum
manisnya. “Iya, kita temuan digerbang pulang sekolah!” Karlapun berlalu masukk
setelah mengatakan itu.
Tria yang masih berdiri didepan pintu terdiam sesaat
sebelum bersingkrak kecil kegirangan.
***
Didalam
kelas, aku menatap tajam Tria yang terus-terusan berjingkrak-jingkrak senang,
memang kuakui, selama ini aku tak pernah bersedia menerima tawaran Tria untuk
pulang bareng, tapi entah mengapa kali ini aku sulit untuk menolaknya.
Sesaat aku menatap Tria yang kembali mengunyah permen karet
yang baru diambilnya dari saku seragamnya, kemudian cowok itupun berlalu
menjauhi kelas.
Senyum kecilpun terurai dibibirku.
“DOR!”
terllu asik memandangi Tria, sampai-sampai aku tak menyadari kehadiran Imah.
“Ngelamunin
sapa hayo???” Imah terduduk disampingku, ditempat duduk Alfard tepatnya, ia
berganti menyenggol lenganku pelan, “Hayo, pasti lo ngelamunin pangeran tampan
gue.”
Aku mengernitkan keningku, “Pangeran lo siapa?”
“Alah
belagak gak tau, itu si anak baru,” Imah menaik turunkan alisnya genit.
“Alfard??”
“Iya
siapa lagi,” Cewek ermbut sebahu itu meraih buku alfard yang tergeletak diatas
meja dan merangkulnya, “OH Alfard pangeranku!!”
Aku mengelengkn kepalaku risih menatap tingkah aneh Imah.
“OH yah, gimana kabar pangeran
lo Tria?”ia meletakkan buku alfard kembali keatas meja, beraalih menatapku
tajam.
“Tria bukan pangeran gue.”
“Trus apa dong, kekasih?”
candanya.
“Tria Cuma sahabat gue, gak
lebih,”
“Tapi dia cinta mati loh sama
lo!”
Aku menarik nafas panjang dan membuangnya secara
berlahan, “Tapi gue gak.”
Mencintainya
tanpa ingin memilikinya... apa itu aneh??
Mungkin itu yang aku rasakan sekarang, begitu mencitai
Alfard tapi sedikitpun aku tak berniat memilikinya.
Aku hanya ingin senyuman manis itu, senyuman yang
dapat membuat hatiku berbunga-bunga, bukann jiwa yang suatu saat nanti mungkin
hilang dan pergi..THAT ALL.
“Buat
lo!” seseorang menyodorkan coklat kearahku, dengan cepat aku menutup buku
Diaryku dan memasukkannya kedalan laci meja.
Aku menatap cowok itu yang tersenyumm,” Alfard!”
“Serius
banget, nulis apaan?” tanynya sembari terduduk disampinku, setelah aku meraih
pelan coklat pemberiannya.
“Rahasia!”
jawabku enteng, ia tersenyum lagi... Oh tuhan inilah yang aku inginkan,
senyuman itu...
“Pulang
sekolah ada acara?” Alfard membuka buku bersampul diatas meja kemudian
menatapku.
“Yah,
pulang sekolah nanti aku ada janji dengan Tria.”
Ia menunduk sembari mengangguk malas, sepertinya ia
kecewa dengan jawabanku.. tapi itulah yang terjadi.
“Emangnya
kenapa?”Tnyaku balik, seketika cowok itu memutar matanya dan menjawab.
“Tidak,
tadinya gue mau ngajak lo jalan, tapi berhubung lo ada janji, lain kali
okelah!”
Alfard mulai menuliskan sesuatu pad buku putih itu, dalam
diam aku menatapnya.
Alfard ingin mengajakku jalan, apa itu sama artinya
dengan kencan, jika yah.. aku benar-benar bodoh jika menolaknya L
Berlahan aku membuka coklat ditanganku dan memakannya..
terlihat Imah memasuki kelas sambil tersenyum padaku.
CONTINUE ^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar