Facebook Badge

Selasa, 09 April 2013

"Forever I'm Yours!" #PART2


Tria mengepalkan tangan kanannya kesal, memukul keras tembok didepan.
Alfard telah berlalu setelah perjanjian disepakati.
Kini tinggal Tria yg terus mengutuki kebodohannya.
Bugh..
Sekali lagi, ia menghempaskan tangannya ketembok, sedikit perih dibagian jemari, ia menahannya dan terduduk lemas.
"Gue emang benar-benar bego, bodoh, idiot," cowo dancer itu terus menggerutu, mengacak-acak  kesal rambutnya yang sedikit panjang, beberapa murid yang melewatinya menatapnya aneh, tapi ia tak peduli.
Ia terus menggrutu sambil sesekali mengatur nafasnya.
"Seharusnya gue gak terima pertaruhan maut ini, dari dulu ampe sekarangpun, Karla gak pernah suka ama gue, sementara murid baru itu," Tria mencoba mengingat wajah alfar kemudian ia tertawa kecil.
"Baru pertama kali ngeliat tuh cowo, karla udah langsung jatuh cinta."
Ia kembali tertawa, tapi kali ini sedikit keras, "HaHAHA... Tolol lo Tria, siap-siap ajah lo kalah dan mikirin cara yang asik buat bunuh diri didepan Alfar dan Karla.." Tria terus berbicara sendiri.
Tawanya terhenti menatapi beberapa siswa yang menertawainya.
Ia berdiri dan merapikan bawah baju seragamnya, ia menggelengkan kepalanya cepat, "gak, gue gak boleh putus asa, gue harus percaya bahwa gue bisa dapatin hati Karla, sekalipun kecebong itu tandingannya, lo bisa Tria, Lo bisa," Tria menyemangati dirinya sendiri. Tekatnyapun telah bulat.
"gue harus menang, biar cowo tengil itu yg mati didepan gue dan Karla."

***
Karla memasuki kamarnya, langkahnya langsung tertuju pada meja belajar disamping jendela.
Ia membuka tas pinggangnya dan menaruhnya digantungan khusus tas koleksinya.
Karla mengambil kotak kecil pemberian Tria dari sela saku tasnya.
Ia terduduk diatas ranjang dan menatap tajam kotak persegi itu.
Dibukanya berlahan, bibirnya tiba2 tersenyum tipis mendapati sebuah bandana pink dgn hiasan permata putih dibagian pinggirnya.
Sebuah kenanganpun terliang dibenak cewe AQuarius itu.

Flashback ONN

 Karla mempercepat langkahnya, jam menunjukkan pukul tujuh pagi, lagi-lagi ia terlambat kesekolah.
Karla berlari mencoba mendekati gerbang sekolah yang sebentar lagi akan ditutup.
Nafasnya tak beraturan, sesekali karla memperbaiki letak tas pinggangnya yg mudah bergeser akibat lari, sedikit lagi ia sampai..
Tapi sesuatu terjadi dan membuat karla menunduk lesu.
Pintu gerbang besi itu telah dikunci, itu berarti karla tak akan bisa masuk terkecuali ia tlah menerima hukuman.
karla menatap kesal cowo yg menertawainya geli.
Cowo itu berdiri tak jauh dari karla, ia menyandar pada pohon besar disamping gerbang.
"Cantik, cantik tapi ceroboh, hari gini masih telat.." sindir cowo bertopi itu.
Karla mengepalkan tangannya kesal..
"Awas lo Tria," gumamnya dalam hati.
Cowo itu tak mendengar, ia mendekati karla dan berdiri didepan karla.
Karla masih menatapnya penuh kebencian tapi cowo itu membalasnya dengan senyum, giginya terbaris rapi.
"Karla, karla, dari kita SD ampe sekarang SMA, lo masih ajah sering telat, apa lo gak takut telat punya pacar," sindirnya lagi pada karla yang menepuk keras lengan Tria.
Tria tersenyum tipis, tangan kanannya mengelus pelan lengan kirinya akibat pukulan karla.
“Rese loTri!”
Cowok itu mengangkat sebelah alisnya tenang, "Tapi gue suka lo apa adanya, just the way you are.."
Bisikan Tria yang mampu membuat Karla terdiam tak berkutik.

Flashback Off

Karla kembali tersenyum mengingat kejadian itu.
Ia mengambil bandana pemberian Tria dan mengelusnya berlahan.
"sebenarnya Tria tak terlalu buruk, justru ia cukup memiliki karisma,Tapi kenapa aku belum bisa untuk menerima cintanya??"


***
Keesokan paginya,
Alfar tlah berdiri didepan pintu menunggu karla yang belum juga tiba.
Alfar memainkan PSP ditangannya sambil menyender pada pintu kelas yang terbuka.
Sesekali ia menatap kearah gerbang, berharap menemukan sosok cewe yang mampu menarik perhatiannya.
Ia tak mendapati Karla, justru matanya seketika menatap Tria yang berjalan kearahnya.
Alfar tersenyum saat langkah Tria semakin mendekat, Tria melewatinya begitu saja tanpa berniat membalas senyuman alfar balik.
Senyum Alfar semakin lebar menyaksikan tingkah acuh Tria padanya.
Dimasukkannya Psp kembali kesaku celana abu-
Abunya dan menarik tangan Tria yang melewatinya.
Tria terhenti dan menatap sinis cowo arrogant itu.
Alfar melepaskan tangannya dan menaikkan sebelah alisnya, "Gimana, udah mikirin gimana cara Lo mati mengenaskan didepan gue dan Karla."
Tria hanya menatap alfar diam tanpa berniat membalas, ia cukup mendengarkan kata perkata yg keluar dari bibir saingannya.
"atau lo masih bingung?, apa perlu gue kasih tau?" Alfar berlagak berfikir dgn tangan kanannya yang ia biarkan bermain dibawah dagunya yg terbelah.
"Gimana kalau gue pinjamin lo golok, gergaji atau mungkin cerulit buat matahin leher kurus lo."

Brugh..
Tria mendorong tubuh Alfar hingga cowo itu menempel pada tembok kelas.
Tria tersenyum sinis sementara Alfar tiba-tiba terdiam.
"gak perlu, golok cerurit dan gergaji lo itu lebih baik lo simpan buat bunuh diri lo sendiri, karena gue gak akan kalah,dan gue pastiin Lo yg akan Mati,"
Triapun melangkah menjauh, alfar terdiam, ia tak menyangka Tria berani mengancamnya seperti tadi.
Peluh membasahi keningnya seketika.
"Alfard," sapa Karla yang baru tiba, ditatapnya kening Alfard yg berkeringat.
Karla meraih sapu tangan dari sakunya dan diusapkan pelan pada kening Alfard.
Dari jarak yang tak begitu jauh, Tria menatap resah keduanya yang tlah memasuki kelas.
"gue gak mau mati Kar, please terima cinta gue."



“Lo gila, Tri!” Melvin menggelengkan kepalanya saat mendengar penuturan Tria, sahabatnya, tentang taruhan maut itu.
Tria yang saat itu berada dikantin, hanya terdiam sambil mengaduk-aduk nasi goreng didepannya tak bersemangat.
Melvin lanjut bicara, “Gue gak tau apa yang ada dalam pikiran lo, Karla lo jadiin taruhan, Gila lo!”
Tria hanya mendengus kesal, mendengarkan Melvin yang tak henti-hentinya mengoceh.
                “Lo taukan kalau Karla gak pernah mencintai lo, Kalau lo ditolak, lo bisa Mati, dan murid baru itu akan tertawa senang penuh kemenangan.”
Tria menghentikann aksinya mengaduk nasi goreng yang mulai bercampur, “Udahlah, lo itu udah mirip nenek gue yang keilangan gigi palsunya, ngoceh gak jelas, berisik!”
“Gue peduli sama lo, gue gak mau lo mati, setidaknya, gue lebih mentingin diri lo ketimbang lo, yang gak pernah miirin diri lo sendiri.”
Tria mengacak rambutnya kesal, “udah, udah!”
“Lo sahabat gue, Tri, gue gak mau lo mati!” Melvin menatap Tria yang menunduk, cowok itu kembali mengaduk nasi gorengnya yang mulai dingin.
Melvin meraih sendok yang digunakan Tria untuk mengaduk nasi goreng itu dan menaruhnya kesal diatas meja kantin.
“Udah, sekarang gimana caranya supaya karla terima cinta lo, atau kita mikirin gimana caranya lo mati mengenaskan didepan mereka?”lanjutnya pada Tria yang mengangguk ogah.


***
Aku menatap wajah tampan Alfard yang kurasa ada aura beda pagi ini, “Kamu kenapa?” tanyaku pelan. Aku kembali menyapukan sapu tangan pada wajahnya, cowok itu tersenyum tipis.
                “Tidak apa, hanya sedikit pusing.”
Jawabnya. Ia merebahkan kepalanya menempel pada meja dan menatapku tajam, entah kenapa saat ia menatapku seperti itu, jantungku seketika terhenti berdetak, oh tuhan, perasaan apa ini?

Ia tersenyum lagi, “Lo suka Tria?” pertanyaan Alfard membuat mataku seketika terbelalak.
                “huh?”
Ia mencoba mengembalikan posisi duduknya, “Karla, apa lo suka Tria?” ia mengulang pertanyaan memastikan, membuatku menggeleng cepat.
                “Tidak, Tria adalah sahabatku.” Aku mengalihkan pandanganku darinya, dan mencoba meraih kesibukkan.
Aku membuka tas dan meraih sebuah buku bersampul coklat beserta sebuah bulpoin hitam, aku tak tau apa yang akan aku lakukan sekarang, aku benar-benar dibuat salah tingkah oleh anak baru ini.

Aku mulai mencorat-coret buku didepanku, cowok itu masih saja menatapku, justru ia tak henti-hentinya tersenyum saat mendapati bulpoinku ternyata tak menyala, “sial, tintanya habis!”
Alfard menarik bulpoin yan selalu bergelantung dalam saku seragam putihnya, “Pakai bulpoin gue dulu ajah!”ia menarik pakksa bulpoin ditangan kananku dan menggantinya dengan bulpoin hitam miliknya.
                “Segitu groginya, sampai-sampai tangan lo gemetaran gitu, Gue bukan pangeran william ini!” perkataan Alfard membuatku seketika menundukkan wajahku malu.
“Bodoh, bagaimana bisa aku segrogi ini?”
Aku merasakan pergelangan tanganku yang gemetar dan berkeringat!!


***
Tria berjalan seorang diri mengintari korodir sekolah, langkahnya terhenti ketika ia berhadapan dengan Alfard, cowok tinggi itu tersenyum sambil berjalan kearahnya.
Tria terhenti ketika Alfard telah didepannnya.
                “Gue Cuma mau ngasih tau tentang kesepakatan kita!” Alfard memutar matanya mentap Tria yang asik bergulat dengan permen karet dimulutnya.
                “Apa lagi?”
                “Waktu kita pedekate dengan Karla hanya satu  minggu, setelah itu, dihari dan tempat yang sama dijam yang berbeda, gue dan lo!” Alfard menunjuk Tria yang menatapnya tajam.
Alfard kembali bicara, “harus menyatakan cintanya pada Karla,siapapun nanti yang dipilihnya adalah pemenang!”cowok itu bersandar pada dinding luar perpustakaan, Tria masih menatapnya geram.
                “Dan lo taukan, bagi yang kalah harus..”
                “MATI!” Tria melanjutkan perkataan Alfard dengan senyuman sinisnya. Kini giliran Alfard yang menatapnya geram.
                “Gue tau kok, lo tenang ajah, gue gak akan lupa pertarungan kita,” Tria berjalan maju beberapa langkah mendekati Alfard yang tak lagi bersandar, “Dan gue akan buktiin bahwa gue yang akan menang!” Tria menepuk pundak Alfard pelan menantang dengan cepat Alfard menepisnya.
Cowok tinggi itu tersenyum sinis, Tria menatapnya tajam, “Oh, tapi bukankah Karla gak pernah mencintai lo, TRIA?” cowok itu menekan suaranya saat meyebutkan nama Tria, Tria mendengus pelan.
                “Mungkin emang sekarang Karla gak suka sama gue, ta[pi gue yakin seminggu kedepan, gue bakal buat Karla jatuh cinta!” Tria berkata lantang penuh percaya diri, cowok itu kembali menepuk pundak Alfard, “Lo harus siap-siap termakan umpan lo sendiri,ALFARD!” Ancaman Tria membuat kedua mata alfard terbelalak, dengan santainya Tria menjauh dari Afard yang masih terdiam.

                “Sial, gue yang mengajukan taruhan itu, gue gak boleh kalah dari bebek kurus itu, apapun itu Karla harus milih gue bukan dia!”


***
                “KARLA!!” Tria menghentakkan suaranya, berlari kecil hanya untuk menyamai langkah cepat Karla. Karla yang saat itu mengenakan hadset dikedua telinganya, tak mendengar jelas teriakan ngebash Tria, langkahnya terus melaju hingga tepat didepan pintu.
                “Karla!!” teriak Tria lagi, cowok itu telah berdiri dibelakang karla, ditepuknya pelan pundak Karla, hingga gadis itu bberhenti dan berbalik.
                “Tria?” Karla membuka sebelah hadset ditelinga kanannya, menatap Tria yang mengatur nafas pelan.
Cowok itu mengangguk. “Dari tadi gue panggil juga, sampai suara gue serak gini!” Tria mengelus kerongkongannya yang seketika terasa haus.
Karla tersenyum tipis, “Maaf, tapi dari dulu juga suara lo udah serak Tri!”
                “Iya sih, tapi seraknya sekarang betambah,” Tria mengaruk tengkuknya. Karla tersenyum tipis dan membuka hadset ditelinga kirinya, bersandar sedikit ketembok kelas.
                “Ada apa?” gadis itu menatap Tria yang masih mengunyah permen karet dimulutnya.
Cowok itu menaikkan tangan kanannya, “Sebentar!” kemudian berlalu tepat kearah tong sampah beberapa langkah didepan kelas,dana melepehkan permen karet dimulutnya kedalan tong hitam itu.
Setelah itu ia kembali pada Karla yang masih menunggunya.
                “Ada apa?” tanya Karla ulang ketika cowok itu telah didepannya.
                “oh itu, pulang sekolah gimana kalau gue anter?”Tria bersender tepat disamping Karla yang menggulung kabel hadset dan memasukkannya dalam saku seragam putihnya.
                “Hmm..”
Tria menatap Karla tajam menunggu jawaban, seketika xowok itu tersenyum saat endaapati Karla mengangguk.
                “Baiklah!”
                “Serius Kar?”
Gadis manis itu kembali mengangguk diiringi senyum manisnya. “Iya, kita temuan digerbang pulang sekolah!” Karlapun berlalu masukk setelah mengatakan itu.
Tria yang masih berdiri didepan pintu terdiam sesaat sebelum bersingkrak kecil kegirangan.


***
                Didalam kelas, aku menatap tajam Tria yang terus-terusan berjingkrak-jingkrak senang, memang kuakui, selama ini aku tak pernah bersedia menerima tawaran Tria untuk pulang bareng, tapi entah mengapa kali ini aku sulit untuk menolaknya.
Sesaat aku menatap Tria yang kembali mengunyah permen karet yang baru diambilnya dari saku seragamnya, kemudian cowok itupun berlalu menjauhi kelas.
Senyum kecilpun terurai dibibirku.
                “DOR!” terllu asik memandangi Tria, sampai-sampai aku tak menyadari kehadiran Imah.
                “Ngelamunin sapa hayo???” Imah terduduk disampingku, ditempat duduk Alfard tepatnya, ia berganti menyenggol lenganku pelan, “Hayo, pasti lo ngelamunin pangeran tampan gue.”
Aku mengernitkan keningku, “Pangeran lo siapa?”
                “Alah belagak gak tau, itu si anak baru,” Imah menaik turunkan alisnya genit.
                “Alfard??”
                “Iya siapa lagi,” Cewek ermbut sebahu itu meraih buku alfard yang tergeletak diatas meja dan merangkulnya, “OH Alfard pangeranku!!”
Aku mengelengkn kepalaku risih menatap tingkah aneh Imah.
               
“OH yah, gimana kabar pangeran lo Tria?”ia meletakkan buku alfard kembali keatas meja, beraalih menatapku tajam.
“Tria bukan pangeran gue.”
“Trus apa dong, kekasih?” candanya.
“Tria Cuma sahabat gue, gak lebih,”
“Tapi dia cinta mati loh sama lo!”
Aku menarik nafas panjang dan membuangnya secara berlahan, “Tapi gue gak.”




                                Mencintainya tanpa ingin memilikinya... apa itu aneh??
Mungkin itu yang aku rasakan sekarang, begitu mencitai Alfard tapi sedikitpun aku tak berniat memilikinya.
Aku hanya ingin senyuman manis itu, senyuman yang dapat membuat hatiku berbunga-bunga, bukann jiwa yang suatu saat nanti mungkin hilang dan pergi..THAT ALL.

                “Buat lo!” seseorang menyodorkan coklat kearahku, dengan cepat aku menutup buku Diaryku dan memasukkannya kedalan laci meja.
Aku menatap cowok itu yang tersenyumm,” Alfard!”
                “Serius banget, nulis apaan?” tanynya sembari terduduk disampinku, setelah aku meraih pelan coklat pemberiannya.
                “Rahasia!” jawabku enteng, ia tersenyum lagi... Oh tuhan inilah yang aku inginkan, senyuman itu...
                “Pulang sekolah ada acara?” Alfard membuka buku bersampul diatas meja kemudian menatapku.
                “Yah, pulang sekolah nanti aku ada janji dengan Tria.”
Ia menunduk sembari mengangguk malas, sepertinya ia kecewa dengan jawabanku.. tapi itulah yang terjadi.
                “Emangnya kenapa?”Tnyaku balik, seketika cowok itu memutar matanya dan menjawab.
                “Tidak, tadinya gue mau ngajak lo jalan, tapi berhubung lo ada janji, lain kali okelah!”
Alfard mulai menuliskan sesuatu pad buku putih itu, dalam diam aku menatapnya.

Alfard ingin mengajakku jalan, apa itu sama artinya dengan kencan, jika yah.. aku benar-benar bodoh jika menolaknya L


Berlahan aku membuka coklat ditanganku dan memakannya.. terlihat Imah memasuki kelas sambil tersenyum padaku.


CONTINUE ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Online Now Icons