Alwayz said i would know where to find love
Alwayz thought i'd be ready and strong enough
But sometime i just felt,i could give up
but you came and you changed my whole word now
i'm somewhere i've never been before
now i see, what love means
it's so unbelievable, and i don't wanna let it go
it's something so beautifull,flowing down like a waterfall
I feel you've alwayzz been forever a part of me
and it's so unbelievable to finally be in love
somewhere i never thought i've be
When i think of what i have and this chance i nearly lost
i can't help but break down and cry...
Sassya terus menatap layar hp ditangannya, matanya tak bisa lepas memandangi foto Dyland dlayar sentuh itu.
perasaannya kali ini benar benar suram dan galau, dari kemarin ia tak mendapat kabar tentang keberadaan Dyland, dimana sebenarnya pangerannya berada???
"aku ingin kau menyimpan foto itu baik baik, jika suatu saat aku pergi dan kau merindukanku, maka foto itulah yg nantinya akan menghapus kerinduanmu padaku, karena mungkin saja itu foto pertama dan terakhir kita"
kata kata Dyland selalu terliang ditelinga Sassya. apa mungkin itu benar benar foto terakhir mereka???
Dalam ramainya sekolah Sassya tetap merasa sepi, ia duduk diam dibangku taman sambil terus memadangi Dyland dalam layar hpnya.
Sassyapun berusaha untuk mengirimi Dyland pesan.
to:my B.O.Y
AKU tak tau kau dimana saat ini, tapi jika kau memang membaca pesanku ini, tolong hubungi aku,aku minta maaf jika aku menyakitimu atau apalah, aku hanya ingin kau kembali, itu saja..
Sassya terus menatap pesan yg akan ia kirim untuk Dyland tapi setelah Sassya membacanya berulang kali, ia merasa aneh pada pesannya itu, dan Sassyapun menghapusnya...
Sassya kembali memainkan jemarinya diatas layar hpnya..
to:my B.O.Y
MENGAPA TAK ADA KABAR DARIMU??apa kau benar benar marah padaku?? dimana kau??dan mengapa kau tak menghubungiku???bukankah kau pernah bilang padaku bahwa kau tak akan pernah marah padaku???
Sassya ingin mengirim pesan untuk Dyland tapi uintuk kedua kalinya Sassya menghapusnya, entah mengapa keberanniannya seakan luntur saat ini..
tiba tiba panggilan seseorang membuyarkan lamunannya, Sassya menatap mario yg terduduk disampingnya.
"Rio"sapa Sassya padA Mario yg saat ini mengenakan kaos olahraga.
"apa ada kabar dari Dyland?" mario menatap Sassya yg menggeleng.
"udah coba hubungi Dyland?" untuk kedua kalinya Sassya menggeleng menjawab pertanyaan Mario.
Mario mengambil Hp disaku celana olahraganya dan mulai mengetik sesuatu.
"Apa yg kau lakukan??"tanya Sassya heran.
"jika kau tak mau menghubunginya biar aku yg melakukannya" mario mendekatkan hp kketelinga kanannya menunggu jawaban dari seseorang yg dihubungi sementara Sassya hanya terdiam dan gelisah.
tiba tiba terdengar suara seseorang dari seberang telepon.
"hellow"
"Troublemaker" Sahut mario membuat Sassya menatapnya tajam.
"kutu kuprettttt"
"loe masih idup, gue pikir loe udah K.O" mario tertawa lepas tapi tawanya terhenti ketika ia mendapati Sassya menatapnya heran.
"sorry, ada yg mau ngomong sama loe"mario memberika hp ditangannya pada Sassya tapi Sassya menolaknya,
ia belum siap bicara dengan Dyland.
"hellllloooowww"suara dari seberang telepon akhirnya membuat Sassya memberanikan diri untuk berbicara dengan Dyland.
"kamu dimana?"tanya Sassya lembut.
"apa lo Sassya???"tanyanya membuat Sassya terkejut.
"kamu gak kenal suara aku?"Sassya berkata dengan nada kecewa. mario menatap Sassya yg masih berbicara dengan seseorang ditelpon.
"jawab pertanyaan gue awal, apa benar lo Sassya??"tanyanya lagi membuat Sassya semakin bete.
"iya, aku Sassya, kamu lupa suara aku??"
"suara lo aneh, hahaha!" terdengar tawa dari seberang telepon yg membuat Sassya cemberut, Mariopun tersenyum menatap wajah cemberut Sassya.
mario mengambil kembali hp dari tangan Sassya dan kembali berbicara dengan Dyland ditelepon.
"loe dimana trob??" mario memulai pembicaraan dengan pertanyaan.
"rumah sakit, kutu kupreett ngapain loe potong pembicaan gue sama Sassya??" kata Dyland kesal membuat mario mengembalikan kembali hp pada Sassya.
"nih!"
Sassya mendekatkan kembali hp ketelinga kanannya.
"ada apa?"tanya Sassya pelan.
"sebenarnya apa hubungan lo sama gue, kenapa ada foto lo dihp gue??" pertanyaan Dyland itu membuat Sassya kecewa, apa mungkin Dyland tak mengingatnya??
"kamu pangeranku!"jawab Sassya pelan.
"Lo pasti berbohong bukan??"
"aku gak bohong, kenapa kamu nanya seperti itu, apa kamu benar benar gak ingat Sassya??"
mario menatap Sassya yg matanya mulai berkaca kaca.
"tidak seutuhnya, gue cuma mengingat nama lo, benturan dikepala gue sangat keras, jadi gue gak ingat apa2?"
"lalu apa kamu mengingat suara cowo yg tadi menelponmu??"
"mario si kutu kuprett maksud lo??"jawaban Dyland membuat Sassya terdiam.
Bagaimana bisa Dyland mengingat mario musuhnya dan tak mengingat Sassya kekasihnya. "unbelievable".
"kamu mengingatnya dan kamu gak ingat aku"Sassya mulai menitikkan air matanya, mario ang terduduk disampingnya mentapnya heran.
"jelas saja aku tak mungkin melupakannya, kutu kuprett dan semua curut curutnyalah yg membuatku seperti sekarang!"
Sassya terdiam,Mario mencoba menenangkan Sassya yg masih menitikkan air mata, jujur hatinya saat ini benar benar hancur, pangeran dambaannya tak mengingatnya... bagaimana ini bisa terjadi???
SKIIIPPPPPPSSS
Dhariel terduduk diam diperpustakaan, sudah saatnya ia melupakan Sassya dan mencari penggantinya, Dhariel yakin ia mampu melupakan Sassya dalam waktu sekejab.. dhariel menaatap sekeliling perpustakaan tiba tiba pandangannya tertuju pada viona yg berjalan kearahnya dengan sebuah buku ditangannya.
"Boleh GUE gabung?" tanyanya sambil menatap dhariel yg mengangguk.
viona langsung duduk disamping dhariel dan meletakkan buku diatas meja dan membacanya.
"sorry, kemarin gue ninggalin loe di pesta" dhariel memulai perkataan membuat viona menghentikan bacaannya.
"tak perlu"viona berkata diiringi senyum manisnya.
Dhariel menatap viona tajam yg kembali membaca.
"dia benat benar cantik, mengapa selama ini aku tak pernah menyadarinya, aku rasa viona mampu menggantikan Sassya dihatiku" batin dhariel.
Viona menyadari dirinya ditatap, vionapun menatap dhariel balik..
"ada apa?" tanyanya lembut sambil menggeser poninya sedikit kekiri. tibatiba dharielpun mengingat bulpoin miliknya yg masih ada pada viona.
"kau masih menyimpan bulpoin milikku" kata kata dhariel membuat viona berfikir sejenak.
"oh iya, aku lupa, bulpoinmu ada ditasku, tapi bolehkah bulpoinmu itu untukku?"viona bertanya pada dhariel yg tersenyum.
"tentu saja" jawab dhariel singkat.
"terimakasih dhariel"
"jangankan bulpoin. hatipun aku bersedia memberikannya untukmu"kata kata dhariel itu membuat viona tersenyum lepas.
"apa saat ini kau sedang merayuku?"
"menurutmu??" dhariel mengangkat kedua alisnya genit membuat viona tertawa lepas..
**Sassya dan Mario
Mario menatap Sassya yg masih terdiam disampingnya. Pembicaraan Sassya dan Dyland melalui telpon telah usai dan kini Sassya hanya terdiam tanpa suara.
"apa yg Dyland katakan padamu?" tanya mario pelan sambil menatap Sassya yg menunduk.
"Dyland tak mengingatku, Dyland melupakanku"nada bicara Sassya terdengar kecewa.
Mario menyandarkan kepala Sassya dbahunya dan Mario mengelus lembut Rambut Sassya.
"kau ingat dulu aku selalu melakukan ini padamu disaat kau menangis, dulu kau sering menangis dibahuku saat Dyland membuatmu kesal dan sedih" mario terus saja membelai rambut hitam Sassya. sesaat Sassya terdiam, ia seperti menemukan kedamaian yg dulu pernah hilang.
"kau tau mengapa aku begitu membenci Dyland??" pertayaan mario membuat Sassya menjauhkan kepalanya dari bahu mario, Sassya menatap mario yg kini menatap kedepan.
"because of you" Sassya terdiam mendengarkan perkataan rio.
" jika saja ia tak pernah merebutmu dariku, mungkin semuanya ini tak akan terjadi"
FLASHBACK ONN
Sassya terus menatap Mario kagum yg sedang lincah menggiring bola basket, dengan sebuah botol minuman ditangannya Sassya duduk dipinggir lapangan. tak beberapa lama rio menghampirinya sambil tersenyum manis.
Sassya memberikan minuman ditangannya pada rio dan rio mengambilnya cepat.
" kau sangat cantik hari ini"rayu mario sambil menatap Sassya yg tersenyum malu.
"minumlah sepertinya kau sangat haus" perkataan Sassya membuat mario meneguk minuman ditangannya.
sebotol susu coklat favorite mario buatan Sassya.
"Susu coklat ini sungguh nikmat dan segar, terimakasih cantik" mario berkata sambil mencubit manja pipi Sassya, membuat Sassya berbunga bunga dan tersanjung.
Satu tahun yg lalu, Mario sempat menyatakan cintanya pada Sassya tepat dihari ultah Sassya.. selesai tanding basket Mario menemui Sassya dikelasnya, dengan setangkai bunga mawar Mario mendekati Sassya yg saat itu sedang membaca.
Sassya menatap kaget rio yg berdiri didepannya, semua mata tertuju pada mereka termasuk Dyland yg saat itu sedang berencana kabur.
"Bunga yg manis untuk cewe yg manis didunia yg manis ini" Mario berkata sambil mengulurkan bunga mawar ditangannya kearah Sassya, seketika wajah Sassya berubah merah merona.
Dengan cept Sassya menarik bunga mawar merah itu dari tangan Rio dan mendekapnya senang.
"Terimakasih Rio" Sassya menatap rio yg tersenyum, senyum mautnya inilah yg membuat rio dipuja banyak wanita.
"Tunggu! bukan itu yg kumau, aku tak ingin terimakasih darimu, aku ingin..." rio menggantungkan kata katanya membuat hati Sassya berdetak tak menentu.
Dyland menunda rencana kaburnya dan memilih untuk tetap dikelas menyaksikan semuanya.
"apa yg kau inginkan rio?" tanya Sassya pelan sambil berdiri dari duduknya.
"aku ingin kau menjadi milikku Sassya" kata kata rio membuat Sassya terdiam, Sassya tak menyangka ia akan ditembak oleh kapten basket setampan rio yg menjadi idola cewe satu sekolah.
"maukah kau menjadi kekasihku" rio mendekap kedua tangan Sassya membuat beberapa anak dikelas menyauti mereka.
"terima... terima...." teriak mereka serentak membuat Mario tersenyum. Sassya menatap sekeliling ditatapnya Dyland yg menatapnya sinis, Dyland berdiri dan berlalu kejendela disampingnya dan kebur melalui jendela persegi itu.
"bagaimana apa kau menerimaku?" pertanyaan mario membuat Sassya menatapnya tajam. sudah sejak lama memang Sassya mengagumi rio, dan tidak dapat disangkal riolah cinta pertama Sassya. Sassya menatap mata coklat mario yg menanti jawaban darinya..tatapan mata itu begitu teduh dan tulus membuat Sassya tak mampu menolaknya. dengan keyakinan Sassya mengangguk membuat mario tersenyum senang diiringi dengan tepuk tangan riuh satu kelas.
Sejak saat itulah mereka selalu bersamasama.
Hingga pada akhirnya, sehari sebelum ultah Mario, Sassya menemui mario yg baru nselesai latihan.
"ada sesuatu yg ingin aku katakan padamu"Sassya menatap mario yg duduk disampingnya sambil terus mengelap keringat dikeningnya.
"katakanlah, tapi sebelumnya aku ingin mengatakan sesuatu terlebih dahulu padamu" mario menaruh sapu tangan diatas meja didepannya dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Tas yg sebelumnya ia letakkan disamping tempat duduknya.
"lihatlah, aku ingin kau memilihnya sesuai keinginanmu" mario menaruh sebuah majalah khusus dimana didalamnya terdapat sejumlah perumahan ternama diatas meja, membuat Sassya mengernitkan dahinya.
"ini untuk apa?" tanya Sassya pelan.
"aku ingin kau memilih jenis rumah untuk kita nanti"
"secepat itu??"Sassya menatap mario yg sibuk membolak balikkan majalah didepannya.
"bukankah lebih cepat lebih baik" mario menatap Sassya yg tiba tiba menunduk.
"ada apa?" mario menaikkan dagu Sassya yg menunduk hingga Sassya menatapnya.
"kau sungguh baik rio, tapi maaf aku tak bisa selalu bersamamu" kata kata Sassya membuat Mario terkejut.
"apa aku melakukan kesalahan yg membuatmu membenciku?"
Sassya menggeleng.
"apa kau tak pernah merasa nyaman bila disisiku?"
Sassya menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau selalu membuatku bahagia selama aku disisimu, tapi ada sesuatu yg tak mungkin aku katakan padamu" Sassya menutup majalah perumahan didepannya dan menatap mario yg menunduk.
"apa ada seseorang yg hadir dihatimu saat ini sehingga membuatmu melupakanku?" Sassya terdiam sejenak menjawab pertanyaan Mario.
"terima kasih untuk semuanya Rio, maaf jika aku menyakiti hatimu" Sassya berdiri dan berlalu meninggalkan mario yg masih terdiam, entah kenapa rasanya mario belum rela sepenuhnya kehilangan Sassya.
FLASBACK OFF
"unbelievable"teriak rio dalam hati, bagaimana bisa ia kalah saing dengan Dyland sang troublemaker sekolah.
"Tapi itu semua bukan karena Dyland" Sassya berkata memastikan rio yg masih setia disampingnya.
"hanya Dyland satu satunya yg saat itu dekat denganmu, aku tau dialah yg menyuruhmu untuk menjauhiku" mario menatap kedepan, beberapa siswa berlalu dihadapan mereka.
"tapi Dyland tak pernah melakukan apapun tentangmu, kau tak pantas membencinya Rio" Sassya menundukkan kepalanya sedih. Jadi selama ini Mario begitu membenci Dyland karena dirinya, padahal sebelum Sassya dan Rio putus Dyland salah satu sahabat terdekat Rio.
"Maaf" Sassya berkata pelan dengan wajah masih menunduk.
Mario menatap Sassya yg menunduk dan menaikkan dagu Sassya hingga menatapnya, Sesaat Sassya menatap Mario yg tersenyum, senyuman yg dulu selalu Sassya rindu dan dambakan.
"Tak selamanya cinta itu harus saling memiliki, jika kau bahagia akupun akan ikut bahagia bersamamu"
rio menjauhkan tangannya dari dagu Sassya sambil terus menatap Sassya yg juga menatapnya.
"Tapi kau harus Janji, jika kau bermasalah dengan Dyland orang pertama yg kau hubungi itu aku, bukan dhariel anak baru itu" kata kata Mario membuat Sassya mengangguk sambiil tersenyum tipis.
"tapi, apa hubunganmu dengan anak baru itu, apa dia menyukaimu juga?" pertanyaan rio membuat Sassya mengangguk untuk kedua kalinya.
"benarkah???"
"iya, dia juga sempat menembakku beberapa kali, tapi aku menolaknya, aku pikir dia terlalu baik untukku" Sassya menatap mario yg terus menatapnya.
"lalu bagaimana denganku?"
"menurutku kau terlalu sempurna untukku" mario tertawa lepas mendengar perkataan Sassya, sementara Sassya hanya terdiam bingung... seingatnya tak ada yg lucu dengan perkataannya tadi, tapi mengapa mario tertawa sekencang itu.. sementara Mario sendiri tak tau mengapa saat ini ia tertawa... mario hanya ingin melupakan semuanya dengan menghibur dirinya sendiri dengan tertawa.
***
"apa kau sudah mengingat sesuatu?" David bertanya sambil berdiri disamping Dyland.
"Belum sepenuhnya, apa benturan dikepalaku begitu keras sehingga sebagian memoriku hilang?" Dyland mengelus kepalanya yg diperban sambil menatap david yg tersenyum.
"sewaktu aku melihatmu diruang ICU dengan keadaan yg sangat memprihatinkan, aku pikir kau tak akan selamat, tapi semangatmu sungguh luar biasa" david melangkahkan kakinya menuju bangku disamping ranjang Dyland dan duduk.
"aku tak mungkin lemah," Dyland berkata sambil berjalan kearah ranjangnya dan duduk. dilihatnya David yg tersenyum tipis.
"sepertinya Sassyalah yg membuatmu bertahan hingga saat ini" kata kata david membuat Dyland terdiam.
seberapa besar pengaruh Sassya dalam hidupnya???
Dyland menatap foto dirinya dan Sassya dihp miliknya, dia begitu cantik...
"Apa menurutmu dia ini kekasihku??" Dyland memperlihatkan foto dalam hp ditangannya pada david yg segera memperhatikan foto Dyland dan seorang gadis.
"sepertinya begitu, kau tak mungkin mencium pipi seseorang jika dia bukan kekasihmu, bukan?" david menatap Dyland yg menggeleng.
"tapi dia begitu cantik,langsing dan pintar,dia terlalu sempurna untukku, unbelievable"
Tak beberapa lama tiba seseorang dari balik pintu kamar rumah sakit, membuat Dyland dan david menatapnya tajam...
"Dyland" teriak dhariel sambil berjalan cepat kearah Dyland yg masih terduduk diranjang.
"apa kau baik baik saja"tanya dhariel cemas membuat Dyland mengangguk pelan.
"mengapa kau lama sekali, apa kau tak tau aku menunggumu berjam jam." kata kata Dyland membuat dhariel tersenyum.
"kalian saling mengenal?" tanya david sambil berdiri dari duduknya.
"yah, dia Dhariel sahabatku." Dyland berkata sambil menatap dhariel yg tersenyum tipis...
Dhariel duduk disamping Dyland, saat ini mereka berada ditaman rumah sakit.keduanya tampak sedang berbincang bincang ringan, Dyland yg saat itu mengenakan kemeja rumah sakit dan dhariel yg masih mengenakan seragam putih abu abu berbincang bincang sambil menikmati segelas teh susu ditangan masing masing.
"Kenapa lo manggil gue kesini?" Dhariel memulai pertanyaan pada Dyland yg sibuk memutar mutar gelas ditangannya.
"Ada sesuatu yg ingin gue bicarakan."Dyland menaruh gelas disampingnya dan menatap dhariel tajam.
"Apa lo masih ingin persahabatan kita kembali seperti dulu?" pertanyaan Dyland membuat Dhariel tersenyum.
"tentu, mengapa tidak."
"tapi tak semudah itu, ada syaratnya." Dyland menatap dhariel yg sedang meneguk minuman ditangannya, senyum menghiasi bibirnya setelah dhariel selesai menuguk teh putih itu.
"baiklah!" kata dhariel singkat membuat Dyland mengernitkan dahinya.
"Lo gak mau tau apa syaratnya??"
"Gak, karena gue tau apa syarat yang akan lo ajukan." lagi lagi Dyland dibuat bingung oleh dhariel.
bagaimana mungkin dhariel tau sementara Dyland belum memberitahunya, ahhh tidak itu mustahil..
"Lo ingin gue menjauhi Sassya bukan??" pertanyaan dhariel membuat Dyland yg tadinya berniat meneguk minuman miliknya malah berbalik menatap Dhariel penuh tanda tanya?? bagaimana bisa???
"gimana lo tau, gue belum bilang??"
"hahaha, Dyland,Dyland, gue kenal lo sejak lama, dan gue tau apa yg ada dalam pikiran lo." dhariel menyenggol pelan lengan kanan Dyland.
"jadi???" Dyland menatap dhariel penuh harap.
"baiklah, sahabat lebih penting diatas segalanya." Dylandpun tersenyum senang mendengar perkataan Dhariel.
"WELCOME BACK,ARIEL"
"THANK YOU, IAN"
dan merekapun berpelukan.... jangan berfikir bahwa itu benar benar terjadi... mereka tak mungkin berpelukan dikeramaian rumah sakit seperti ini... mereka menyimpan kerinduan mereka sampai tiba saatnya nanti...
****
Sassya terus berjalan disamping Mario melewati kolidor rumah sakit, sesekali Mario menatap wajah Sassya yg cemas dan khawatir, sepanjang perjalanan mario setia mendengarkan Sassya yg tak henti hentinya mengkhawatirkan Dyland.
"rio, dia akan baik baik saja bukan"
"rio, apa benturan dikepala Dyland begitu keras, apa Dyland akan dirawat diruang ICU"
"Rio, bagaimana jika nanti aku bertemu dengan Dyland, aku masih belum siap melihatnya berbaring lemas tak berdaya dengan beberapa selang disekujur tubuhnya"
Rio...Rio...Rio...
dengan senyum rio mendengarkan semua keluh kesah Sassya yg menurutnya sangat berlebihan.
mereka tiba ditaman rumah sakit, rio menghentikan langkahnya mencari seseorang, sementara Sassya terdiam heran disamping rio.
"Rio, aku tak bisa melihat Dyland lemah tak berdaya, benturan dikepalanya pasti membuatnya sakit, aku..."
"Dyland" teriakkan rio membuat Sassya menghentikan perkataannya dan menatap rio yg melambaikn tangan pada seseorang didepannya.
"Dyland, dhariel" Sassya berkata kaget ketika mendapati Dyland yg tegap berdiri sama sekali tak seperti yg ia pikirkan , Dyland terus menghampiri Sassya dan Rio bersama Dhariel disampingnya.
"he's Dyland everything gonna be ok's" kata Mario pelan membuat Sassya menunduk.
yah... seharusnya Sassya tak perlu mengkhawatirkan Dyland seperti tadi, itu sangatlah berlebihan, bukankah he's Dyland everything gonna be ok's..
Dyland Dan Dhariel telah tiba didepan Sassya dan rio,Dyland menatap tajam Sassya yg menunduk,, entah apa yg ia pikirkan saat ini..
"hebat loe trob, masih bisa berdiri tegak setelah kejadian kemarin malam."rio berkata sambil menatap Dyland yg tersenyum sinis.
"Dasar kutu kuprett, kalian tinggalin aku berdua dengannya disini, ada sesuatu yg mau aku katakan padanya." kata kata Dyland membuat mario dan dhariel seketika menjauh meninggalkan Dyland dan Sassya berdua.
"minumlah"Dyland memberika Sassya segelas teh susu hangat yg baru dibelinya dikantin rumah sakit. Sassya mengambilnya tampa berani menatap Dyland.
"mengapa kau tak ingin menatapku, apa wajahku sangat mengerikan?" pertanyaan Dyland membuat Sassya menggeleng.
"lalu mengapa kau masih tak berani menatapku?" Dyland menatap Sassya yg kini menatapnya berlahan, Dylandpun memberika senyuman manisnya untuk Sassya.
"kau benar benar cantik serasi dengan tubuh langsingmu"kata kata Dyland membuat Sassya terdiam.
"minumlah, apa perlu aku ambilkan kau cake untukmu?" Sassya masih terdiam mendengar Dyland yg terus saja bicara.
"kau sangat cantik dan langsing dan aku rasa kau cukup pintar, mengapa kau mau menjadi pacar troublemaker sepertiku?" pertanyaan Dyland kali ini membuat Sassya menatapnya tajam.
"karena kau pangeranku" jawab Sassya singkat sambil menundukkan kepala.
sebenarnya saat ini Sassya benar benar sedih, apa sedikitpun Dyland tak mengingatnya.
"cantik, kau tak perlu sedih, aku akan tetap menjadi pangeranmu" Dyland menaikkan dagu Sassya pelan membuat mata mereka saling memandang... tatapan mata ini membuat Sassya teringat pada Dyland yg selalu membuatnya kesal dan marah bukan Dyland yg saat ini ada disampingnya.
"mengapa kau memanggilku cantik, langsing dan pintar??" Dyland tersenyum menjawab pertanyaan Sassya.
"karena itu adalah dirimu yang sesungguhnya, apa aku tak pernah mengatakan itu padamu??" Dyland berbalik tanya pada Sassya yg menggeleng.
"dulu kau selalu memanggilku, bodoh, kurus dan jelek"
"benarkah???"
"iya, kau selalu mengatakan itu padaku setiap hari, bahkan kau pernah bilang bahwa aku adalah nenek sihir terjelek yg pernah kau temui"
Dyland tersenyum tipis mendengar Sassya yg bicara disertai wajah cemberutnya.
"mengapa kau sedih, baiklah mulai saat ini dan seterusnya aku akan memanggilmu cantik, langsing dan pintar dan kau adalah bidadari tercantik yg pernah aku temui didunia ini, bagaimana?"
Sassya terdiam sejenak mendengar pertanyaan Dyland,
bukankah ini yg aku inginkan, bukankah aku ingin Dyland memanggilku cantik dan pintar, dan berhenti memanggilku bodoh, tapi mengapa saat semua benar2 terjadi, aku merasa ada sesuatu yg hilang dalam diriku??
mengapa tiba tiba saja, aku rindu dylanD pangeranku, pangeran yg selalu memanggiku jelek, bodoh dan kurus.. aku ingin Dyland yg dulu bukan Dyland yg sekarang ada didepanku.
Sassyapun tak kuasa menahan tetes air matanya.
"mengapa kau menangis apa ada perkataanku yg menyaktimu?" tanya Dyland halus sambil mengusap air mata Sassya dengan jemari kekarnya.
"apa kau baik baik saja, cantik" Dyland menatap Sassya yg meneguk minuman ditangannya dan menaruhnya disamping kursi setelah gelas itu kosong.
"berhenti memanggilku cantik dan pintar!"
"mengapa??"
"karena aku bodoh jelek dan kurus, inget itu" bentak Sassya pada Dyland yg menatapnya tajam.
Sassya berdiri dan membelakangi Dyland yg masih terduduk.
"aku hanya ingin pengeranku kembali, itu saja, apa kau tak mungkin kembali menjadi Dyland yg aku kenal" Dyland menatap Sassya yg membelakanginya yg terus bicara,Dylandpun berdiri dan berjalan kesamping Sassya.
dilihatnya Sassya yg meneteskan air mata.
"aku mohon kembalilah menjadi Dyland yg dulu, Dyland pangeranku yg selalu membuatku kesal dan marah, Dyland pangeranku yg selalu memanggilku jelek, bodoh dan kurus , Dyland pangeranku yg selalu bersikap acuh dan cuek padaku" tanpa sadar Sassya menjatuhkan kepalanya dibaHu Dyland yg terdiam.
"apa sedikitpun kau tak mengingatku, aku Sassya cewe yg selalu mengganggu tidurmu hanya untuk mengucapkan selamat malam, cewe yg selalu membuatmu kesal dengan sifatku yg manja, dan cewe yg sangat kau cintai.."
dengan lembut Dyland mengelus rambut hitam Sassya... tapi tiba tiba Sassya mendengar suara yg sangat ia rindukan menggema ditelinganya.
"dasar bodoh apa lo pkir gue benar benar lupa sama lo?"
deggg Sassya menjauhkan kepalanya dari bahu Dyland dan menatap Dyland yg tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya genit.
"dasar bodoh ternyata lo memang benar benar bodoh!!" kata kata Dyland membuat Sassya cemberut.
"apa??"
"Lo benar benar bodoh, dasar bodoh apa lo pikir gue benar benar lupa sama lo?, gimana bisa gue ingat mario musuh bebuyutan gue dan gue lupa lo kekasih gue,"
Sassya menatap Dyland yang masihh bicara "apa lo gak tau, loe adalah orang pertama yg gue ingat waktu tersadar dari koma."
"jadi kau membohongiku dengan pura pura tak mengingatku?" pertanyaan Sassya membuat Dyland mengangguk.
"bukankah itu yg lo mau sya?"
"maksudmu??"
"bukankah lo ingin gue menjadi cowo romantis yg bisa selalu membuat lo melayang dengan rayuan gombal, atau seseorang yg selalu manggil lo Cantik dan pintar walaupun itu hanya sebuah rayuan?" Sassya terdiam sambil mendengar Dyland yg terus bicara.
"Gue akan melakukan apapun untuk tetap disisi lo, walaupun gue harus mengenakan topeng seperti tadi."
Dyland menundukkan kepalanya tiba tiba membuat Sassya menggenggam jemari tangan Dyland.
"kau tak perlu merubah dirimu agar aku mencintaimu, i love you just the way you are." kata kata Sassya membuat Dyland menatapnya tajam.
"walaupun aku selalu memanggilmu bodoh dan jelek serta kurus?" tanya Dyland dan Sassya mengangguk sambil tersenyum.
"terimakasih, kau telah mencintaiku bodoh." Dyland membalas genggaman tangan Sassya erat membuat Sassya tersenyum tipis.
"cieee.. cieee" seru Dhariel dan mario serentak sambil berdiri didepna Sassya dan Dyland.
"karena kita kalian bersatu, utang budi itu namanya" dhariel berbicara dengan gaya menantang membuat Dyland memukul lengan kirinya.
"sya, sekarang kamu udah jadi milik Dyland apa boleh aku peluk kamu untuk terakhir kalinya??" pertanyaan dhariel membuat Dyland menatapnya tajam sementara Sassya hanya tersenyum tipis.
"mencari kesempatan dalam kesempitan" ledek mario diiringi siulan khas nya.
Sassya menatap Dyland menanti jawaban Dyland dan Dyland hanya mengangguk walau sedikit berat.
seketika dhariel memeluk tubuh mungil Sassya dalam beberapa detik Sassya merasakan kehangatan berada dalam pelukan dhariel sampai akhirnya tangan kekar Dyland memisahkan keduanya.
"sorry keenakkan" dhariel berkata sambil menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal.
"sekarang giliran aku" kini Mario yg angkat bicara.
"Lo juga ingin memeluknya?" tanya dhariel pada mario yg tersenyum.
"tidak, aku masih punya harga diri, tak semudah itu memeluk kekasih orang lain" perkataan mario membuat Sassya Dyland dan dhariel menatapnya penuh rasa penasaran.
tanpa banyak kata Mario mendekatkan wajahnya pada wajah Sassya yg tiba tiba memerah, dengan pelan bibir mario mendarat tepat dikening Sassya membuat Dyland dan dhariel menatapnya tajam sementara Sassya diam tak berkutik.
Dulu ciuman ini selalu Mario berikan untuknya selesai mereka kencan dan Sassya tak pernah menyangka akan merasakan ciuman damai ini lagi.
Dyland tiba tiba mendorong tubuh rio menjauh dari Sassya.
"SHE'S MINE"teriak Dyland sambil merangkul pundak Sassya.
sementara mario hanya tertawa kecil.
"ok's kita pergi, having fun." kata dhariel sambil menarik tangan rio menjauh dari Sassya dan Dyland.
Dyland menatap Sassya yg tiba tiba terdiam, dan Dyland tau ini pasti akibat ciuman mario tadi.
Dyland mengajak Sassya pergi kecafe pinggir jakarta, mereka duduk berdampingan sambil berbincang bincang ringan.
tak beberapa lama pesanan mereka tiba satu mangkok besar ice krim coklat.
"hmmm yummmiiiieee" Sassya langsung melahapnya tanpa memperhatikan Dyland yg menatapnya tajam.
satu sendok dua sendok tiga sendok dan seterusnya dengan semangat Sassya melahapnya.
seketika Dyland mengingat sesuatu.
"tunggu..tunggu..bukannya lo gak suka coklat?" pertanyaan Dyland itu membuat Sassya berhenti menikamti ice krim didepannya dan menatap Dyland diiringi senyum manjanya.
"hehehe waktu itu aku bohong sama kamu" jawab Sassya pelan sambil menggigit sendok ice krim.
"apa, lo bohong sama gue??" Dyland berkata keras membuat beberapa orang disekitrar mereka menatapnya sinis.
"kenapa kau marah, ini hanya masalah kecil, aku tak marah saat kau membohongiku tentang hilang ingatan itu" balas Sassya membuat Dyland terdiam.
"hhhuuuhhh, udahlah lupakan, ini pertama kali lo berbohong, jadi masih bisa gue maafkan."
Dyland mengambil sendok ditangan Sassya dan melahap ice krim didepannya.
"Dyland" Sasya berkata pelan membuat Dyland yg duduk disampingnya menatapnya tajam.
"apa?" tanya Dyland dengan ice krim tersisa dimulutnya.
"i love you!"
Dyland tersenyum mendengar perkataan Sassya. sambil terus menyendook ice krim coklat dimeja.
"hahaha, aku rasa bibirku ini pantas menerimanya!"Dyland mengelus elus pipi kanannya berharap Sassya menciumnya.
"tapi lupakan kau tak akan menciumku, sebelum aku menjadi suamimu, i get it!" Dyland berkata pasrah membuat Sassya tersenyum lebar.
tapi ternyata secara tiba2 Sassya mencium pipi kanan Dyland membuat Dyland membelakkan matanya tak percaya.
"dasar bodoh mengapa kau terkejut seperti itu bukankah ini bukan ciuman pertama kita." Sassya berkata meniru gaya bicara Dyland yg angkuh membuat dyland tersenyum tipis..
THE END :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar